Doa

Saya pernah bertanya kepada ibu saya apa yang membuatnya selalu terlihat bersemangat dalam menjalani hari demi hari.

Beliau menjawab, “Setiap pagi sebangun tidur, mama berdoa. Doa mama adalah siap menerima hari yang baru dengan tuntunan Tuhan. Mama minta diberi waktu dan kesehatan. Nah, karena Tuhan sudah memberi kesehatan dan waktu, itulah yang mama pakai untuk melakukan berbagai kegiatan positif sepanjang hari.”

Jadi, kuncinya adalah, ibu saya menghidupi/menjalani doanya. Ora et labora. Berdoa dan bekerja/berusaha. Ungkapan ini menegaskan bahwa berdoa dan bekerja mesti dikerjakan berbarengan. Jika kita bekerja saja tanpa berdoa, itu artinya kita hidup mengandalkan kekuatan sendiri dan mengesampingkan Tuhan sebagai Pemberi berkat.

Agar doa menjadi kenyataan, mestilah disertai tindakan atau usaha. Jika kita minta didoakan agar semakin ramah, maka belajarlah untuk ramah agar doa tersebut menjadi nyata. Jika kita minta didoakan agar sehat jasmani dan rohani, maka kita lakukanlah kegiatan-kegiatan yang bertujuan menyehatkan roh dan tubuh kita. Misalnya: aktiflah dalam kegiatan kerohanian, ikut ibadah, bertemu kawan-kawan, berdoa, pikirkan hal-hal yang luhur, rencanakan hal-hal yang mendatangkan kebaikan/luhur, rutin olah tubuh, makan makanan yang menyehatkan tubuh, tinggalkan hal-hal yang melemahkan jiwa serta tubuh, dan perhatikan ucapan (sebab ucapan kita akan menentukan jalan hidup kita).

Tuhan memberi satu mulut dan dua telinga dengan maksud agar kita berpikir dulu sebelum bicara. Ketika kita mengucapkan sesuatu karena didorong oleh rasa takut, kemarahan, ketidakpedulian, atau keangkuhan diri (sekalipun yang kita katakan itu benar), orang yang menyimak perkataan kita akan menangkap lebih dari sekadar kata-kata yang kita ucapkan. Mereka mendengar emosi kita. Namun mereka tidak tau apakah emosi itu didasari oleh sikap perhatian atau kasih, atau oleh niat untuk menghina dan merendahkan. Sehingga bisa saja orang salah paham terhadap kita.

Jika kita memerhatikan ucapan kita, kata-kata kita dapat membantu untuk menuntun orang lain kepada Tuhan. Oleh karenanya, serahkanlah ucapan kita kepada Tuhan, agar banyak jiwa diberkati oleh perkataan kita.

Setiap orang harus cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berbicara dan lambat untuk marah. Sebab orang yang marah tidak dapat melakukan yang baik, yang menyenangkan hati Allah. (bacalah Yakobus 1:19-20)

Doa yang dinaikkan dengan tekun dan penuh iman akan didengar Tuhan. Salah satu contohnya saat Petrus dipenjara, jemaat gereja mula-mula tekun berdoa untuk keselamatan Petrus. Dengan cara Tuhan yang ajaib, Tuhan mengutus malaikatNya membebaskan Petrus. (bacalah Kisah Para Rasul 12:1-19)

Kadang kita tak pernah tau siapa yang sedang berdoa untuk kita atau seberapa banyak doa mengisi udara. Tapi, Tuhan tau. Masalah apa pun yang kita hadapi, sekalipun itu kekacauan emosi dan rohani yang membuat kita merasa terbelenggu, semua mampu Tuhan pulihkan asalkan kita hidup menurut kehendakNya.

Tetaplah berdoa dan jauhi fitnah serta pertengkaran, selalu ramah dan bersikap lemah lembut kepada setiap orang. Lemah lembut bukan berarti tak pernah marah ya, melainkan mampu menahan amarah dan marah pada waktunya.

Bukan banyaknya kata yang membuat suatu doa itu berarti. Tuhan senang jika doa kita adalah doa yang muncul apa adanya dari hati kita. Contohnya seperti doa Bapa Kami yang pendek. Walaupun singkat, doa tersebut memberi pertolongan dan pemulihan karena mengingatkan kita bahwa Allah adalah Bapa surgawi kita yang berkuasa di bumi sebagaimana di surga. Ia menyediakan makanan, pengampunan, dan ketabahan bagi kita setiap hari. Tuhan berhak menerima segala hormat dan kemuliaan.

 

 

 

 

Advertisements