Dolok Sanggul 1.0

Pagi jam lima, saya terbangun di kamar yang dingin. Meski telah mengenakan kaos kaki dan berbalut selimut tebal, tetap saja dingin menerobos. Continue reading

Advertisements

Mengembara ke Bakkara

Begitu memasukkan kata kunci ‘hotel di Bakkara’ di mesin pencari, dalam sekejap muncul nama penginapan yang berada di Kiev, Ukraina, pasar di Mogadishu, dan satu daerah di Maroko. Continue reading

Jejak Peradaban di Pagar Batu, Samosir

Sekitar sembilan kilometer dari Tomok, Samosir, ada satu situs bersejarah yang bernama Pagar Batu. Dikatakan Pagar Batu, karena keseluruhan tempatnya dikelilingi oleh batu. Diperkirakan, dari bukti-bukti peninggalan megalitik yang terdapat di tempat ini, sekitar 100 atau mungkin hingga 300 tahun yang lalu, manusia pernah berdiam di sini.

Ini merupakan kunjungan kedua saya ke Pagar Batu. Tujuh tahun lalu, ketika pertama kali menjejakkan kaki di sini, tempatnya tidak sebersih dan tidak seterang benderang bulan Juli yang silam. Well, sebenarnya tidak terang benderang banget, sih. Tapi yang pasti, jalan menuju ke sana sudah tidak rambaon lagi seperti dulu. Rambaon bahasa Batak yang artinya penuh semak.

Apa pasal? Rupanya selain karena situs Pagar Batu sudah resmi menjadi salah satu objek wisata Samosir, saat itu ada serombongan peneliti datang dari balai arkeologi Medan. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk memetakan serta mencari tahu seberapa tua persisnya usia situs ini.

Hariara

Jalan masuknya berada di seberang Sekolah Dasar Negeri (SDN). Saya lupa entah SDN nomor berapa sekolah tersebut. Yang jelas, ia satu-satunya SDN di daerah itu. Menyusuri jalan setapak, lapoΒ atau kedai adalah bangunan pertama yang saya jumpai. Kemudian disusul kuburan besar bercat hijau. Semakin ke dalam, saya berjumpa dengan beberapa hariara atau pohon beringin raksasa yang berumur sekitar 200 tahun, menjulang angkuh seolah menantang alam.

Pemandangan di sekitar jalan masuk ke Pagar Batu.

Pemandangan di sekitar jalan masuk ke Pagar Batu.

Melewati kuburan besar bercat hijau.

Melewati kuburan besar bercat hijau.

Hariara

Bandingkan kecilnya manusia dengan tingginya hariara di belakang mereka.

7 hariara lagi jadi teringat tarzan

Hariara. Jadi pengen bergelantungan kayak Tarzan. Auoooooo πŸ˜€

 

Pohon Enau

Pohon enau banyak saya jumpai di daerah ini. Enau adalah bahan utama tuak atau minuman beralkohol hasil fermentasi khas Batak. Tuak dari sini terkenal enak. Saya pernah mencobanya sedikit. Rasanya campuran antara pahit, asam dan manis. Lagi-lagi, saya meminumnya karena penasaran seperti apa rasanya :D. Dan karena saya bukan ahli minuman beralkohol, saya tak begitu paham entah bagaimana kriteria tuak yang enak, kurang enak, enak banget, atau kurang nggak enak banget :D.

Pohon Enau

Pohon enau.

 

Pokki

Selain itu ada tanaman pokki. Kayunya yang kuat, bisa digunakan sebagai bahan bangunan dan perabotan.

Pohon pokki.

Daun pokki.

 

Punden Berundak

Oya, situs ini sendiri merupakan kompleksΒ punden berundak dengan empat undakan yang semuanya disusun dari batu.

Batu disusun bertingkat tingkat.

Batu disusun bertingkat-tingkat.

 

Setelah melalui tiga undakan, tibalah saya di bagian puncaknya.

12 puncaknya

Bagian puncak setelah dibersihkan.

 

Sarkofagus

Di puncak ini terdapat sarkofagus atau kubur pahat batu. Zaman dahulu, jenazah dimasukkan ke dalam batu ini. Tapi bukan sembarang jenazah. Biasanya hanya jenazah pemimpin atau raja.

Sarkofagus.

Sarkofagus. Tempat jenazah.

Sarkofagus terbuka.

Sarkofagus yang terbuka.

 

Si Boru Nagojong

Selain itu ada batu Si Boru Nagojong yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sarkofagus. Gojong artinya perut gembung. Kesinilah zaman dulu dibawa para tersangka yang tidak mau mengaku berbuat salah entah mencuri, berbohong serta tindakan-tindakan tidak jujur lainnya.

Ada “wajah” dipahat pada batu. Bisakah Anda melihatnya? πŸ™‚

Si Boru Nagojong.

Batu Si Boru Nagojong.

Si tersangka nantinya meletakkan tangannya pada batu seperti foto di bawah ini. Jika memang ia bersalah, maka perutnya akan gembung.

Si Boru Nagojong.

Batu Si Boru Nagojong.

Kemudian di dekat batu Si Boru Nagojong, ada batu yang berbentuk seperti foto di bawah ini. Kegunaannya adalah sebagai tempat mencuci kaki. Namun ada juga yang berpendapat bahwa batu ini berfungsi sebagai tempat makanan babi.

Tempat mencuci kaki.

Tempat mencuci kaki atau tempat makan babi.

 

Batu Pahat “Wajah”

Selanjutnya, lagi-lagi terdapat batu besar dengan pahatan “wajah” seperti di foto berikut ini. Kali ini bisakah Anda temukan wajahnya? πŸ™‚

Penjaga huta/kampung.

Penjaga huta atau kampung.

Supaya jelas, silahkan lihat foto di bawah ini. Ada lubang hidungnya, lho :).

“Wajah” ini dipahat pada tiga sisi batu. Zaman dahulu, mereka dipercaya sebagai penjaga huta atau kampung. Nantinya mereka diberi makan beras oleh penduduk. Berasnya dimasukkan melalui lubang kecil yang terdapat di bawah pahatan “wajah”, seperti yang tertera dalam foto di atas. Bisakah Anda melihat lubangnya? πŸ™‚

"wajah" penjaga huta/kampung di pahat pada batu.

“Wajah” penjaga huta/kampung dipahat pada batu.

 

Losung

Di atas sudah saya singgung mengenai beras. Masyarakat zaman dahulu percaya bahwa beras memiliki roh. Oleh karena itu tidak boleh sembarangan menumbuknya. Terletak menyebelah dengan batu pahatan “wajah”, terdapat batu losung atau tempat menumbuk padi berjumlah lima. Di tempat inilah padi-padi pada zaman itu ditumbuk.

Lima losung.

Lima losung.

 

Pamelean

Masyarakat pada zaman itu belum mengenal Tuhan. Namun mereka jelas mengakui bahwa ada kekuatan lain yang bukan manusia, yang lebih besar, lebih tinggi, lebih kuat serta lebih berkuasa dari mereka.

Foto di bawah ini, dulunya adalah tempat pemujaan atau pamelean kepada pribadi yang dianggap lebih tinggi, lebih kuat atau lebih berkuasa tadi.

Tempat mamele atau pemujaan

Tempat pamelean atau pemujaan.

 

Gua

Kemudian terdapat gua di sini. Gua yang katanya tembus hingga ke Tanjungan. Ceritanya pernah ada lima ekor anjing dilepas masuk ke gua. Sebagian kembali, sebagian lagi tidak. Yang tak kembali katanya dimakan oleh naga yang berada di dalam gua. Padahal kemungkinan besar mereka mati di dalam karena kehabisan oksigen.

Gua katanya tembus sampai ke Tanjungan.

Pintu gua yang katanya tembus sampai ke Tanjungan. Pintunya semakin lama semakin sempit akibat gempa.

 

Parik Debata

Akhirnya tibalah saya di Parik Debata. Batu tunggal raksasa, yang menurut saya magnetnya Pagar Batu. Parik artinya dinding yang terbuat dari tanah atau batu. Debata artinya Tuhan. Jika diterjemahkan, Parik Debata adalah: dinding Tuhan. Sebab hanya Tuhan yang bisa membuat dinding semacam ini.

Saya merinding ketika pertama kali melihat batu ini. Dan ternyata, di kali ke dua saya menyaksikannya, saya masih merinding juga. Takjub rasanya. Betapa kecilnya saya ketika berdiri di hadapan batu yang berukuran panjang sekitar 16 meter dan bertinggi sekitar 9 meter ini.

Menurut teori orang setempat, batu raksasa ini berasal dari muntahan gunung Toba yang meletus ribuan tahun lalu. Jadi ketika meletus, batu ini terlempar ke Pagar Batu.

Parik Debata.

Parik Debata.

Tak jauh dari Parik Debata, saya bertemu dengan rombongan peneliti yang siang itu sedang melakukan ekskavasi.

Tim arkeolog medan sedang menggali.

Tim arkeolog Medan sedang menggali.

Tim arkeolog Medan.

Tim arkeolog Medan.

Beberapa hasil galian

Beberapa hasil galian.

Kerbau di balik semak.

Kerbau di balik semak. Kalau yang ini bukan hasil galian, lho ya πŸ˜€

 

Bontean

Setelah mengobrol sebentar, saya melanjutkan perjalanan ke tempat bontean. Dulunya tempat ini merupakan pelabuhan kuno. Sedangkan bontean adalah tiang silinder setinggi dua meter yang berfungsi sebagai tempat untuk mengikat tali kapal yang merapat di sini.

Sekarang, bontean-bontean yang tersisa ini berada sekitar 10 meter di atas permukaan danau. Dari situ dapat ditarik kesimpulan, bahwa dalam kurun waktu sekitar 300 tahun, air Danau Toba surut sebanyak 10 hingga 11 meter.

Bontean.

Bontean.

Bontean berceceran.

Puing bontean.

30 tempat mengikat tali kapal

Puncak bontean. Di situlah tali kapal diikat pada zaman dulu.

Jalan.

Jalan.

33 desa di sekitar parik debata

Seorang penduduk memberi makan ayam.

34 desa di sekitar parik debata

Rumah penduduk.

Seperti umumnya tempat yang dianggap keramat, di sini tidak diperbolehkan menggunakan bahasa kasar. Pernah kejadian seorang pengunjung yang kebetulan pergi seorang diri, mengeluarkan kata-kata kasar. Orang ini “dihukum” nggak bisa keluar dari situs. Alhasil dia cuma keliling-keliling di dalam. Bayangkan, dulu sebelum dibersihkan, gelapnya seperti apa tempat ini. Syukur akhirnya ia ditemukan oleh penduduk setempat. Kalau nggak, mungkin namanya sudah tinggal kenangan.

***

Tips jalan-jalan ke Pagar Batu:

  • Menuju ke sana bisa dengan feri atau dengan kapal penumpang menuju Tomok yang berangkat tiap 15 menit dari pelabuhan Ajibata. Disambung naik angkot ke Lontung, Pardomuan, yang tersedia hanya sampai jam 4 sore. Atau bisa juga menggunakan ojek Tomok-Pardomuan dengan ongkos per orang Rp 20.000-Rp 30.000/tergantung hasil tawar menawar. Harap diingat, kondisi jalan tidak mulus serta belum diaspal.

  • Mengantisipasi tidak adanya penjual makanan dan minuman, lebih baik siapkan bekal dari Tomok atau Ajibata.

 

Aek Natonang

Libur Natal tahun 2003, saat pulang kampung ke Lontung, Samosir, saya mengajak Bapak beserta adik dan sepupu mendaki gunung menuju Aek Natonang yang berada di Tanjungan. Saya penasaran, bagaimana sih rasanya naik gunung? Soale selama ini saya belum pernah naik gunung. Dan selama ini, kalau pulang kampung, saya hanya bisa melihat gunung itu beserta jalan zig-zagnya dari jauh, dari jendela rumah Ompung (bahasa Batak, artinya kakek/nenek, orangtua dari orangtua saya).

Mendaki

Jumat pagi (26 Desember) sekitar jam sembilan, kami pun memulai pendakian bersejarah itu :D. Awalnya, semangat saya masih berkobar-kobar, seperti kain yang dilumuri minyak tanah lalu dibakar. Eh, nggak tahunya, setelah sekitar setengah jam mendaki, capek sekali rasanya! Jantung saya sepertinya mau meledak. Berat banget!

Melihat keadaan saya, adik-adik dan sepupu meledek saya, kata mereka, “Gimana, Kak? Apakah sudah mulai ada penyesalan?” πŸ˜€ . Saya jawab, “Yaelah, enak aja lo pada. Aku nggak nyesal naik gunung ini. Aku kan memang pengen tahu gimana rasanya yang memanjat gunung ini. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Belum tentu tahun depan aku bisa pulang ke bona pasogit (kampung halaman). Jadi, yaaa, nggak ada penyesalan. Cuma memang capeeeek banget.” Saya harus berhenti bolak-balik untuk menenangkan jantung ini. Bisa jadi, kalau tidak ada saya, mereka pasti bisa lebih cepat mendaki.

Sewaktu hampir sampai di puncak, kaki saya masuk ke lumpur. Dari jarak yang tidak begitu jauh, tanahnya kelihatan keras. Tahu-tahu, setelah dijalani, alamak, tanahnya lembek sekali alias lumpur 😦 . Tapi dari tempat kaki saya kemasukan lumpur itu, pemandangannya baguuuuuuuus banget! Pemandangan Pulau Samosir dengan Danau Toba-nya tanpa kabut, sungguh amat cantik! Saking cantiknya, kami menyebut momen itu dengan “Swiss-nya Samosir” πŸ™‚ .

Ingin rasanya momen itu saya abadikan. Tapi sayang, berhubung waktu itu kami tak punya alat dokumentasi (baca: kamera atau henpon berkamera), maka momennya lenyap begitu saja. Saya belum tertarik dengan fotografi saat itu. Tahun 2005 saya baru mulai jepret menjepret. But one thing for sure, pemandangan Samosir yang sangat indah waktu itu masih terekam jelas di memori saya.

Sesampainya di puncak, kami semua bersalaman πŸ˜€ . Seperti pendaki gunung profesional saja, pakai acara salam-salaman segala hahaha πŸ˜€ . Syukur kami tidak bawa bendera merah putih. Kalau dibawa, pasti sudah kami tancapkanlah itu bendera di atas sana hahahah πŸ˜€ .

Setelah istirahat dan menghirup udara segar di warung minuman yang terletak di pinggir jalan raya Desa Tanjungan, kami pun melanjutkan perjalanan ke Aek Natonang. Artinya dalam Bahasa Indonesia: Air yang Tenang. Jarak tempuh dari lokasi puncak ke Aek Natonang sekitar 500 meter.

Belo

Oya, hampir lupa. Ada satu anggota lagi yang ikut mendaki dengan kami. Yaitu si Belo. Anjing Ompung saya yang setia banget πŸ˜€ . Memasuki areal Aek Natonang, terdapat sebuah ranch atau peternakan. Menurut Bapak saya, dulu Bapak dari Ompung saya memelihara banyak kuda, lembu dan kerbau di peternakan ini.

Saat kami tiba, ada beberapa kuda yang berkulit hitam sedang wara-wiri di padang rumput. Waktu kuda-kudanya berlarian, si Belo pun ikut-ikutan lari. Mungkin gara-gara kulit si Belo juga hitam, dipikirnya dirinya adalah kuda. Makanya dia ikutan lari. Hahahahaa πŸ˜€ .

Arboretum Aek Natonang

Keletihan selama perjalanan terbayar sudah, ketika akhirnya kami melihat Aek Natonang di depan mata. Wuiiihh.. Airnya memang benar-benar tenang. Lokasinya cocok sekali menurut saya untuk syuting film India. Bisa bebas lari kesana-kemari sambil menari di atas hamparan padang rumput :D. Film India, kan, begitu toh? Lari dan nari melulu πŸ˜€ .

Menurut Bapak saya, Aek Natonang ini sejatinya adalah bendungan atau waduk yang dibangun oleh leluhur kami (sekitar 8 generasi diatas saya), untuk mengairi sawah di Lontung yang terletak di bawah gunung. Jadi mulanya, leluhur kami bertempat tinggal di Desa Tanjungan ini. Namun karena di dataran tinggi tidak cocok bertanam padi (cocoknya menanam kopi), akhirnya mereka pindah ke tempat yang lebih rendah dan lebih hangat, yaitu ke bawah gunung, ke Lontung. Untuk mengairi sawahnya, dibangunlah Aek Natonang ini.

Tahun-tahun berlalu. Aek Natonang pun seolah terlupakan oleh keluarga besar kami. Orangtua saya pernah berusaha menyatukan semua keluarga untuk bekerja sama mempertahankan Aek Natonang agar tidak jatuh ke tangan negara. Tapi gayung tidak bersambut. Usaha mereka dimentahkan. Semua keluarga nampaknya sibuk dengan urusannya masing-masing. Apa daya, Aek Natonang akhirnya kini telah berada di tangan negara. Namanya sekarang adalah: Arboretum Aek Natonang.

“Apa arti arboretum?”, tanya saya ke diri sendiri ketika melihat papan namanya di pinggir jalan raya Tanjungan, bulan Juli lalu. Saya tanya juga ke pemilik angkot yang saya sewa dari Lontung, serta ke pemilik warung di dekat situ. Tidak satu pun dari mereka mengetahui arti arboretum. Sayang sekali. Mengapa pemerintah membuat nama dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh penduduk sekitar? Untuk gengsi-gengsian saja kah? Supaya keren saja kedengarannya, begitu? 😦 .

Arboretum Aek Natonang

Setelah saya cari di google.com, ternyata arti arboretum adalah: botanical garden atau semacamnya. Amangoi (ungkapan takjub dalam bahasa Batak), koq jauh banget lah pemerintah kita ini bikin nama, ya? Bahkan di Singapura sana saja yang notabene botanical garden-nya banyak dan canggih, tidak disebut dengan arboretum 😦 .

Skylift

Kembali ke Desember 2003.

Di Aek Natonang, kami berenam piknik, leyeh-leyeh. Di bawah pohon dap-dap,Β sambil menikmati pemandangan hamparan pinus di seberang sana, kami makan-minum ala kadarnya dengan bekal yang kami bawa dari Lontung.

Dalam pikiran saya, sempat terbayang:

“Suatu hari nanti, tempat ini akan diramaikan oleh skylift yang akan menghubungkan Lontung dengan Aek Natonang, serta skylift yang akan menghubungkan Sigapiton (di seberang danau) dengan Aek Natonang. Resor atau hotel pun akan dibangun juga di sini. Aek Natonang akan dibuat cantik sedemikian rupa menjadi botanical garden atau winery (seperti di Eropa sana), sehingga baik turis nasional maupun internasional tertarik datang kesana. Pada akhirnya, pariwisata Samosir pun bangkit.”

Pulang

Masih ingin berlama-lama sebenarnya di sana. Tapi keadaan langit dengan awan hitam yang menggelantung, tidak mengizinkan kami berlama-lama di Aek Natonang. Kami harus kembali turun melalui jalan yang tadi. Kalau hujan, tanah akan basah dan licin, sehingga sulit untuk turun gunung.

Kami pun beberes dan kembali ke puncak gunung. Ternyata turun gunung lebih “hebat” alias lebih gawat lagi saudara-saudara… Lutut saya lemas banget. Gemetaran. Pengennya sih ada pilihan naik perosotan saja di situ. Jadi bagi yang tidak sanggup menuruni bukit, ya turun pakai perosotan, gitu… Kan, enak tinggal meluncur saja…

Setelah selesai menuruni bukit, ‘ujian’ belum kelar juga. Masih ada jalan setapak sejauh 500 meter yang harus ditempuh untuk sampai ke rumah Ompung. Saat pulang memang terasa lebih berat, ya? Padahal kan, jalan yang ditempuh sama saja sebenarnya. Hahaha. Hebat bangetlah pokoknya perjalanan kami itu. Untungnya saya punya tongkat sakti alias tongkat penolong yang diberikan Bapak di awal pendakian tadi. Sangat menolong saya sepanjang perjalanan.

Saya jadi teringat dengan ucapan adik sewaktu hampir sampai di puncak (setelah tragedi kaki saya masuk lumpur). Katanya kepada Bapak, “Pak, pulangnya kita naik bus sajalah, ya…” Huahahaha kami tertawa terbahak-bahak mendengar permintaannya itu.

Agak tergoda juga saya dengan permintaannya itu. Membayangkan beratnya medan yang harus ditempuh lagi saat pulang, ya mendingan naik bus saja deh πŸ˜€ . Tapi kalau naik bus, pengalamannya nggak ‘cantik’ dong, kan? Seolah mengamini agar pengalaman kami ‘cantik’, jawab Bapak, “Bus tidak menentu adanya dari Tanjungan menuju Tomok.” πŸ˜€ (Harus naik bus dari Tanjungan menuju Tomok. Lalu dari Tomok naik angkot lagi ke Lontung). Hahahah.. Pupus sudah harapan pulang naik bus πŸ˜€ .

*****

Di bawah ini sebagian foto yang berhasil saya abadikan dari perjalanan Juli 2013 kemarin, dengan iphone. Enjoy!

 

******

Tips jalan-jalan ke Aek Natonang.
  • Sewa mobil dari Lontung-Aek Natonang setengah hari (+/- 6jam) = Rp 150.000. Dari Tomok ada juga yang menyewakan mobil atau motor.
  • Siapkan mental untuk melewati jalan raya Tomok-Tanjungan yang tidak mulus. Seperti yang pernah saya singgung disini.
  • Jarak tempuh Tomok-Aek Natonang +/- 1 jam.
  • Tidak dipungut biaya masuk ke Aek Natonang. Gratis.
  • Jika piknik disana, mohon jaga kebersihan. Bawalah pulang sampah Anda. Disana tidak ada tempat sampah. Kecuali kalau Anda makan-minum di warung dekat pintu masuk Aek Natonang.
  • Siapkan baju hangat, disana dingin.

Always in My Heart

Hampir setiap minggu, seorang gadis kecil bersama Sang Bapak naik mobil menjemput Sang Ibu ke tempat kursus menjahit di daerah Kampung Keling, Medan. Sembari menunggu Sang Ibu selesai, kadang mereka beli rujak yang sangat enak yang tempatnya tak jauh dari kursus menjahit. Kadang mereka juga beli roti atau camilan yang enak di Sumatera Jaya (SJ). Dan kadang juga, mereka menyambangi toko kue India yang berada tak jauh dari SJ, kalau Sang Bapak lagi pengen makan kue kering kelapa ala India yang maknyus.

***

Bisingnya kendaraan yang lalu lalang, serta merta membuyarkan lamunan saya. Saya tidak sedang berada di Kampung Keling yang saya kenal dua puluh tahun yang lalu. SJ yang sekarang pun sudah ada steak house-nya.

20130824-190928.jpg

Tidak, ini pun bukan Medan yang saya kenal dulu. Di sore yang saat itu hanya tinggal beberapa saat lagi berbuka puasa, Medan terlihat dan terasa begitu hiruk pikuk, begitu hidup, begitu ramai, begitu sibuk, begitu macet, begitu kota.

Ya, begitu kota adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Medan yang sekarang. Begitu rupa ia bersolek, hingga saya nyaris tak mengenalinya lagi. Pengemudi membawa kendaraan seenak udelnya. Lampu merah artinya jalan terus, bukan berhenti. Lampu hijau, ya, jalan terus juga :D. Cuma ada di Medan.

20130824-185032.jpg

20130825-194153.jpg

Agak berat mengakuinya, tapi kini Medan sudah asing di mata saya. Namun bagaimanapun, tetap saja kota ini adalah kampung halaman saya. Tempat lahir beta. Tempat Ayah Bunda membesarkan saya. Tak mungkin lepas dari ingatan. Ah, jadi terharu saya menulisnya. Bentar ya, ambil kain lap dulu untuk melap air mata yang jatuh sedikit di pelupuk mata :D.

Oke, mari kita lanjutkan. Airmata sudah kering :D.

Berkat seorang saudara yang baik hati, saya dibawa keliling Medan. Makan pangsit, beli andaliman, beli bolu Meranti (wajib hukumnya :D), melihat Mesjid Raya, Pasar Sambas, dst. Meski cuma dua malam, sudah cukuplah bagi saya untuk melepas rindu. Kalau ada umur serta rezeki yang panjang, bolehlah kita berjumpa lagi hihihiii :D.

Mesjid Raya Medan.

20130825-192734.jpg

Yuki Simpang Raya.

20130825-194425.jpg

Penjual kue kering di Pasar Sambas.

20130825-194501.jpg

Sudako atau angkutan kota (angkot) Medan, khas dengan warna kuning ngejrengnya :D.

20130825-194401.jpg

Becak motor (betor) populer dengan nama ‘becak mesin’.

20130825-194330.jpg

Pasar Sambas.

20130825-194249.jpg

Solo Photo, Kampung Keling.

20130824-185052.jpg

Pasar Central.

20130824-184936.jpg

Penjual andaliman di Pasar Central.

20130824-185020.jpg

Toko pakaian di pasar Central.

20130824-184907.jpg

Penjual lapchiong di Pasar Sambas. Lucunya, saya justru tahu kalau namanya ‘lapchiong’, dari seorang teman di Balikpapan, baru-baru ini :D. Jadi, selama hampir 30 tahun saya makan si lapchiong ini, saya nggak tahu namanya apa. Yang pasti, rasanya enak :D.

20130824-184820.jpg

Penjual kain di Pasar Sambas.

20130824-184805.jpg

Penjual daging di Pasar Sambas. Ambooooi.. harumnya… :D.

20130824-181739.jpg

Pertokoan di Jalan Sisingamangaraja.

20130824-181625.jpg

Mari Photo Studio.

20130824-181454.jpg

Pangsit Medan. Rasanya tiada duanya :D.

20130825-194511.jpg

Kota Medan dilihat dari atas.

20130825-192150.jpg

20130825-192217.jpg

Medan, kau selalu di hatiku. Always in my heart.

(photos are taken with iphone)

***

Tips jalan-jalan di Medan:

  • Hati-hati jambret/copet/perampok.

  • Kalau waktu Anda banyak, cobalah naik becak mesin/betor. Ongkosnya kalau jarak tempuh 3-4 km = Rp 10.000

  • Penginapan banyak terdapat di Jalan Sisingamangaraja.

  • Tempat makan tersebar dimana-mana. Dari mulai yang halal hingga tak halal. Kaki lima hingga restoran bintang lima, semuanya ada. Dan yang pasti semuanya enak :D. Kuliner Medan nggak ada yang nggak enak. Hahaha.

  • Kawasan Kesawan adalah Kota Tua-nya Medan. Wajib dikunjungi.

  • Sebaiknya gunakan pakaian yang tidak tebal, karena Medan panas.

Kualanamu Int’l Airport at A Glance

Tanggal 25 Juli 2013 yang lalu, Bandara Kualanamu resmi menggantikan Bandara Polonia yang telah beroperasi sekitar 80 tahun di Sumatra Utara (Sumut). Kebetulan, hari ini Sabtu (27 Juli 2013) kepulangan saya ke Balikpapan (Kalimantan Timur), setelah beberapa hari ‘mendadak mudik’ ke Sumut.

Berhubung saya belum tahu seluk beluk di bandara yang baru ini, saya sengaja pergi pagi-pagi supaya tidak kena macet, tidak terlambat dan tentunya bisa foto-foto dong untuk dokumentasi.

Menurut pengamatan saya, untuk mencapai Kualanamu Int’l Airport (KNIA), calon penumpang bisa menggunakan kereta api dari stasiun kereta api besar atau regional Medan yang terletak di Kesawan (Lapangan Merdeka), dengan membayar ongkos sebesar Rp 80.000. Bisa juga menggunakan Damri bandara yang berangkat tiap 30 menit dari terminal bis Amplas (ongkos Rp 10.000) dan Carrefour Gatot Subroto (ongkos Rp 15.000).

Kalau tidak mau naik kereta maupun Damri, calon penumpang bisa menggunakan mobil pribadi atau merental mobil atau naik taksi. Saya sendiri merental mobil karena barang bawaan saya banyak :D.

Well, demikianlah sekilas tentang KNIA. Dibawah ini beberapa foto yang berhasil saya abadikan dari KNIA. Enjoy and happy weekend dear friends!

Oya, grand opening KNIA rencananya September 2013.

 

20130727-130126.jpg

20130727-130635.jpg

20130727-130855.jpg

20130727-130958.jpg

20130727-131524.jpg