Add More Chili, Please…

Ngomongin makanan selalu bikin saya semangat. Mungkin karena sejak kecil udah dijejali dengan berbagai jenis makanan di Medan. Mulai dari susu horbo atau susu kerbau yang menurut saya adalah keju mozzarella-nya Batak, yang sering dibawa sanak saudara kami dari Samosir ke Medan jika mereka berkunjung.

Sangsang atau biasa disebut saksang (daging babi atau sapi dipotong kecil-kecil, dimasak menggunakan andaliman dan darah) yang biasa ditemukan pada pesta-pesta Batak. Roti canai kuah kari khas India atau tabur gula yang sering kami beli malam hari dari gerobak jajanan yang masuk ke komplek perumahan. Rendang khas Padang, lontong kuah tauco, lupis yang kemungkinan besar dibawa ke Sumatera oleh para perantau asal Jawa, hingga sirip hiu di food market jalan Semarang yang buka tiap malam, serta seribu satu jenis makanan lainnya yang notabene adalah makanan khas tiap etnis atau suku bangsa yang mendiami kota Medan.

Dan sewaktu mudik ke Medan akhir November lalu, saya bela-belain ke Kampung Keling untuk menikmati mi pangsit langganan di salah satu resto khusus menyediakan chinese food. Tapi sayang, pas saya datang si resto masih tutup. Enggak mungkinlah saya tungguin sampai buka sementara saya punya agenda lain yang mesti dikejar.

Dasar rezeki anak soleh, ketika satu pintu (resto) tertutup maka pintu (resto) yang lain akan terbuka, hari itu saya beruntung ketemu kwetiau belacan super sedap di salah satu resto yang saya pilih secara acak, tak jauh dari resto yang tutup tadi.

Bayangkan, kwetiau yang saya pilih dari resto secara acak saja rasanya tetap enak. Seperti itulah gambaran makanan di Medan, susah ketemu yang enggak enak. 😁

Makanya seringkali pas kumpul sama teman-teman dan nyicip ini-itu, mereka bilang makanannya enak, tapi bagi saya biasa aja, karena saya sudah pernah nyicipin versi luar biasanya. 😁😁😁

Namun semangat saya untuk mencoba berbagai macam makanan itu tidak berbanding lurus dengan semangat memasak. 😁 Mungkin karena saya emang tak punya ‘roh’ memasak. 😁 Tapi untuk sehari-hari saya tetap masak dong. Masak seadanya. Yang penting bisa dimakan. 😁 Bisa bangkrut kalo tiap hari beli makanan siap saji dari luar. 😁

Sehingga karena semangat memasak saya begitu rendahnya, waktu liburan ke luar kota amat saya nanti. 😆 Karena pada saat liburan inilah saya tak perlu repot memasak serta melakukan serangkaian kegiatan yang menunjang masak-memasak seperti mengupas bawang, merajang cabai, atau memotong daging hingga berjam-jam. 😁😁

Saya pernah lho memasak nonstop selama lebih kurang 7 jam. Entah untuk memasak apa saya lupa. 😁 Coba kalo 7 jam dipakai buat baca buku, mungkin udah kelar 3 atau 4 buku dengan ketebalan sedang. 😆😆😆

And speaking of traveling, wherever we go we need to eat, right? Khususnya sarapan. Karena setelah dibiarkan kosong sepanjang malam, adalah wajar jika perut minta diisi di pagi hari.

Dan menurut saya sayang sekali jika sewaktu jalan-jalan kita tidak mencicipi cita rasa lokal. Jauh-jauh ke Selandia Baru, misalnya, masak tiga kali sehari makannya Mc Donald doang? The food talks a lot about the nation or the place you are visiting.

Tina Toon, dalam wawancara di salah satu televisi lokal menjelaskan mengapa jeruk (bukannya pepaya, pisang atau durian), dan kue keranjang (bukannya nastar) harus ada dalam perayaan Tahun Baru Cina. Dia bilang jeruk adalah simbol rezeki dan manisnya hidup. Sedangkan kue keranjang yang teksturnya padat lengket itu menyimbolkan ikatan keluarga. Sehingga jika diartikan secara keseluruhan, Tahun Baru membawa harapan agar keluarga tetap bersatu serta rezeki tetap manis.

Di Wonogiri ibunya teman saya memasak sayur berkuah gurih yang kalo enggak salah berisi kikil sapi. Entah berapa macam sayuran yang beliau campur di dalamnya. Yang jelas, dinikmati bersama nasi panas dan tempe goreng tepung yang juga gurih, dua piring sanggup saya habiskan! 😆😆

Di Oman, saya nyicipin nasi briyani yang aneh serta dan sawarma debu yang tiap kali mengingatnya, sedapnya langsung terbayang. Tiap kali kertas pembungkus si sawarma dibuka, wangi rempah yang kaya menyeruak ke hidung, menggambarkan uniknya rasa kehidupan di Oman.

Di Singapura kami mencoba sarapan di Tolido’s Espresso Nook yang terletak di dekat MRT Lavender. Meski mungil, tempatnya nyaman serta hangat. Maksud saya hangat bukan karena tempatnya pake pemanas ya 😁 mereka tak butuh pemanas di negeri sepanas Singapura. 😁 Melainkan kehangatan pelayannya yang menyapa kami dengan senyum tulus dan mau menolong pengunjung memilihkan minuman hangat yang cocok dikonsumsi pagi-pagi.

Bagi kita orang Indonesia yang terbiasa mengonsumsi garam berlebih (kalo belum pake penyedap belum afdol, padahal udah pake garam), makanan di Singapura itu bisa jadi terasa agak anyep di lidah karena pemerintah Singapura memang membatasi penggunaan garam. Tujuannya supaya rakyat sehat dan enggak perlu sakit darah tinggi serta jantung, serta enggak perlu menjadi korban ‘eksploitasi ketidaktahuan’ oleh para dokter yang menjadikan praktik kedokteran sebagai bisnis belaka. Namun agak anyep bukan berarti enggak enak. Kalo enggak enak enggak mungkin dong saya samperin si Tolido ini bolak-balik. 😁😁

Diiringi lagu-lagu jazz lembut sambil menikmati truffle scrambled egg plus secangkir kopi latte atau hojicha latte, saya rela sepanjang hari sarapan di sini. 😆 Untuk petualang rasa yang mencari sarapan di luar selain nasi goreng, soto ayam, lontong sayur, bubur manado, nasi uduk, kwetiau atau bihun, tempat ini pasti sukses menghibur lidah serta perut kamu.

toast-box

Di jam-jam sibuk 7-9 pagi, Toast Box yang adalah jaringan kedai kopi lokal di Singapura itu ramai dikunjungi oleh para pencari sarapan. Sebagian besar memesan roti bakar entah itu didampingi keju selai kacang atau srikaya. And mostly for takeaway. Kemungkinan mereka akan mengunyahnya saat berjalan kaki ke kantor, sambil mendengarkan musik melalui earphone yang menggelantung di telinga.

Sepertinya hanya saya yang memesan sarapan agak berat. Mee rebus kuah santan, berisi potongan tahu goreng, udang, telur rebus serta irisan cabai hijau.

add-more-chili-please

Oh, sebentar. Hampir lupa. “Add more chili please….” pinta saya kepada mas-mas pelayan yang wajahnya mirip aktor Korea.

“Green chili? It’s already there…” jawabnya.

“No, the red chili… the red sambal…..” tunjuk saya ke tabung bening berisi sambal berwarna merah persis di dekat hidungnya. Ia menaikkan alis sekejap dan mengambil mangkok saya untuk memasukkan sambal berwarna merah sebanyak dua sendok.

Mungkin untuk sesaat tadi ia takjub melihat ada pelanggan pagi-pagi makan cabai porsi bagong. XD Pardon my Indonesian stomach. 😆😆 Tapi kami memang pencinta cabai. XD Belum tau dia kalau di Indonesia sarapan nasi tumpeng lengkap dengan lauk plus sambel mah biasa… 😆😆

nasi-tumpeng
Btw, pagi ini sarapan apa? Ada yang sarapan pizza? Quesadillas? Atau salad barangkali?

 

 

 

Advertisements

Kebun Bunga Matahari di Changi

Menunggu bisa menjadi salah satu kegiatan paling membosankan bagi mereka yang enggak ada ide mau ngapain.

Jika kamu kebetulan berada di bandara Changi, mungkin sedang menunggu pacar yang enggak jelas entah kapan akan melamar, atau mungkin sedang menunggu gajian yang juga enggak jelas entah kapan akan dibayar, kebun bunga matahari adalah jawabannya. 😁

Pergilah ke rooftop terminal 2, persis di dekat movie theater, dan kamu akan dikelilingi warna kuning ceria yang seketika bisa mencerahkan harimu. 😁

 

Satu lantai sebelum kebun bunga matahari juga terdapat kebun anggrek dan kolam ikan yang penampakannya enggak kalah cakep kayak lukisan.

 

Gimana? Saking cantiknya kamu akhirnya lupa sama urusan pacar dan gajian, kan? 😆😆

Mahalnya Singapura

T-rex lewat

T-rex lewat

Ketika mengantri untuk masuk wahana Boat Ride di Jurassic Park (Universal Studio), saya memerhatikan orang-orang pada menenteng jaket hujan dari plastik. Bahkan sebagian besar pengunjung sudah memakainya selama mengantri. Buat apa jaket hujan? Tanya saya dalam hati. Setelah semakin dekat ke ujung antrian mau naik ke Boat, barulah saya ngerti. Saya lihat hampir semua pengunjung yang telah selesai ber-Boat Ride-ria, keluar dari Boat dalam keadaan basah kuyup. Dari atas sampai bawah. Rupanya memang sudah diperingatkan bahwa kalau menaiki Boat Ride kemungkinan akan basah kuyup. Saya aja yang nggak ngeh baca peringatannya dari awal, dari mulai pintu masuk.

peringatan

peringatan

Bawaan saya semakin nggak santai dong. Gimana mau santai, wong nggak bawa baju ganti/baju cadangan, mau beli jaket nggak ada duit soale nggak bawa dompet (tas dan tetek bengeknya dititipkan di luar, di anggota keluarga yang tidak ikut ber-Boat Ride). Melihat ketidaksantaian saya, suami menyarankan supaya saya membeli jaket hujan di mesin penjual survival gear yang tersedia di dalam wahana tersebut. Untung suami membawa dompetnya!

mesin penjual survival gear

mesin penjual survival gear

Di depan mesin survival gear, saya masukkan 4 SGD dan pencet tombol sesuai instruksi. Namun jaket hujan tak kunjung keluar. Saya tunggu lagi, tapi tetap tidak terjadi apa-apa. Saya pencetin lagi tombolnya, tapi si jaket tetap tidak keluar.

Kali itu saya benar-benar dongkol. Astaga Singapuraaa. Duitku sudah kau makan 4 dollar, tapi jaket hujan kenapa nggak keluar? Teriak saya dalam hati.

Dengan lunglai, saya pun kembali ke antrian kami yang sebentar lagi akan naik ke dalam Boat. Saya pasrah. Mau basah keq, mau kuyup keq, terserahlah. Dan memang, sekeluarnya dari Boat Ride, dari rombongan kami tersebut, sayalah yang paling basah. Apes.

***

Inti tulisan saya bukan si basah-basahan, melainkan si empat dollar Singapura itu :D. Ketika membeli jaket hujan itu, saya sadar, bahwa segala sesuatu mahal di Singapura. Harga jaket hujan plastik adalah 4SGD. Kalau di rupiahkan dengan kurs Rp 9700-an, maka harganya (bulatkan sajalah) sekitar empat puluh ribu (Rp 40.000). Itu pun, jaketnya tidak saya terima :(.

wahana Madagascar

wahana Madagascar

Pas singgah ke toko suvenir di wahana Madagascar (Universal Studio) pun demikian juga. Saya pengen beli beberapa kartu posnya yang keren-keren dan lucu :D. Rencananya tadinya pengen saya bagikan ke pembaca blog ini :D. Tapi begitu melihat harganya, ampun dah. 1 kartu pos = 3SGD (sekitar Rp 30.000). Alamaaak. Kalau gitu sih, lebih mahal kartu posnya daripada ongkos kirimnya :D. Alhasil, kartu pos pun batal dibeli.

suvenir boneka Madagascar

suvenir boneka Madagascar

***

Untuk urusan makan pun begitu. Saya beli corn dog (seperti sate sosis) yang harganya juga 4SGD. Jadi, 1 sate sosis = 1 jaket hujan plastik. Kalau mau makan yang agak berat serta bikin kenyang, minimal harus merogoh kocek sekitar 910 SGD/orang (Rp 100.000).

Rombongan kami kemarin jumlahnya 18 orang. Jadi kalau kami makan di foodcourt, untuk satu kali makan, harus mengeluarkan uang sekitar Rp 1.800.000. Kalau satu hari makannya tiga kali, maka kalau tiga hari jumlah total pengeluaran untuk makan adalah…. (silahkan hitung sendiri) :D.

***

Internet pun begitu juga. Kami menyewa beberapa kamar di apartemen. Namun biayanya belum termasuk biaya wifi untuk internetan. (Selain mahal, Singapura pelit juga 😀). Maka kami pun harus merogoh kocek lagi untuk biaya wifi sebesar 3SGD/kamar/hari (Rp 30.000).

***

Naik Taksi pun demikian. Apalagi kalau kita nggak mau menunggu lama di antrian taksi, maka taksinya bisa ditelepon. Namun untuk itu kita harus membayar biaya “on call”-nya yang rata-rata diatas 3SGD/taksi (Rp 30.000). Anda mau cepat, maka harus ada pengorbanan katanya :D.

***

Well, kalau semuanya dipikirin, bisa-bisa liburannya nggak enjoy dong, ya? :D. Emang iya :D. Makanya kemarin saya enjoy aja lah. Toh liburan kan nggak datang tiap hari :D. Lagipula namanya juga negara turis yang super keren dan canggih, sudah pasti semuanya mahal :D. Soale sudah pasti biaya pemeliharaannya super mahal dong :D.

Hmm, kalau gitu liburan selanjutnya kita ke Kamboja aja kali ya? Seperti cerita supir taksi yang membawa kami di malam tahun baru itu.. “I live in Cambodia for twenty years. In Cambodia, everything is cheap. The hotel is cheap, the food is cheap. Everything…”

Tapi kalau rupiah tetap melempem seperti sekarang, mau liburan kemana pun agak ngeri-ngeri sedap juga kali, ya? :D.

Singapore Flyer

Penasaran ingin melihat Singapura dari ketinggian 165 meter? Maka Anda harus menaiki Singapore Flyer atau roda putar raksasa ini. Untuk dewasa, kemarin kami membayar tiket seharga 33SGD/orang.

tiket masuk untuk dewasa

tiket masuk untuk dewasa

Lumayan mahal memang. Tapi apa sih yang nggak mahal di Singapura? :D. Namanya juga negara turis :D. Apalagi dengan kurs yang nyaris menyentuh Rp 10.000/SGD, makin berat saja rasanya mengeluarkan uang di negara Merlion itu :D. Nasib jadi orang Indonesia :(.

Ok, back to Singapore Flyer. Wahana yang dibuka tahun 2008 ini beroperasi dari jam 8.30-22.30. Saran saya, datanglah di malam hari. Karena menurut saya, pemandangan Singapura di malam hari lebih mewah dan indah daripada siang hari. Apalagi kalau langitnya cerah :).

Untuk keterangan lebih lanjut mengenai Singapore Flyer, silahkan kunjungi lamannya di sini.

 

 

 

 

 

 

 

Satu Hari di Universal Studio

Ini adalah kali ke tiga saya ke Singapura dan kali ke dua di tahun 2013 😀 . Demen banget, ya, pergi ke negeri yang dulunya adalah negeri nelayan ini 😀 . Selama kunjungan yang tiga kali itu, sekalipun kami tak pernah memasukkan Universal Studio yang terletak di Sentosa Island itu ke dalam daftar tempat yang harus dikunjungi di Singapura. Soale belum punya anak 😀 . Berhubung kami datang bersama keluarga besar yang notabene juga membawa anak-anak, maka kami pun mengunjungi amusement park yang dibuka pada tahun 2010 itu.

Kami mengunjungi wahana Hollywod, Far-Far Away, Jurassic Park, Waterworld, Ancient Egypt, Sci-Fi, dan terakhir, New York. Yang paling menarik menurut saya adalah wahana Ancient Egypt dengan atraksi utamanya yaitu Revenge of The Mummy. Saya tidak ikut masuk ke dalam menikmati atraksi Mummy tersebut, karena saya nggak suka dengan mummy-mummy-an :D. Maka saya beserta anggota keluarga yang tidak ikutan, menunggu diluar. Ketika menunggu itulah saya meng-explore wahana Ancient Egypt ini dan memutuskan bahwa wahana tersebutlah yang paling menarik di seantero Universal Studio.

Sepanjang waktu, mereka memutar lagu-lagu bernuansa Arab yang membuat tubuh bergoyang. Saya sangat menyukainya! 🙂 . Patung Anubis-nya pun menurut suami saya dibuat persis seperti yang ada di Mesir sana. Anubis yang berkepala anjing adalah dewa kematian bangsa Mesir kuno. Selain itu ada obelisk juga. Setelah selesai menjelajah, saya kembali ke tempat penantian 😀 .

Ketika menanti keluarga saya kelar dari atraksi Revenge of the Mummy, saya melihat ‘objek’ yang tak kalah menarik dari patung Anubis. Seorang bocah lelaki. Karena tak bisa ikut menikmati the Mummy (sepertinya ada batasan umur untuk bisa menikmati The Mummy itu), ia dan ayahnya menunggu diluar. Ayahnya berdiri tak jauh darinya. Si bocah duduk persis di depan saya. Disitulah ia dengan wajah polosnya ‘berpose’ menunggu dengan manisnya dan sabarnya 🙂 .

20140103-085909.jpg

 

Ah little boy, thanks for sitting there and making me smile :).

Dibawah ini beberapa foto yang saya rangkum dari Universal Studio kemarin:

 

Wahana New York yang warna-warni:

 

***

Sesuai judul, kami menghabiskan satu harian di Universal Studio ini. Dari mulai jam 9 pagi hingga jam 9 malam. Pokoknya untuk yang punya anak, saya sangat merekomendasi tempat ini untuk dikunjungi. Jika lapar ataupun haus, jangan khawatir, tersedia banyak tempat makan minum di tempat ini.

Oya, untuk yang memerlukan kereta bayi, kursi roda atau kendaraan listrik, bisa menyewanya di kios yang terletak di dekat pintu masuk, sebelah kanan.

20140103-105640.jpg

20140107-064739.jpg

tempat penyewaan kursi roda, kereta bayi dan kendaraan elektrik di universal studio

 

Untuk lebih jelasnya mengenai Universal Studio Singapura, silahkan klik di sini.

 

Singapore Getaway: Chinese Garden and Goodbye

Gallery

This gallery contains 27 photos.

Hari terakhir petualangan kami disini ditutup dengan mutar-mutar ke Chinese Garden dan sekitaran Suntec City. Kami naik MRT green line atau east west line menuju Chinese Garden. Tidak dipungut ongkos masuk ke taman ini. Namun saat kemarin kami kesana, taman … Continue reading

Singapore Getaway: Mari ke Marina Bay

Gallery

This gallery contains 25 photos.

Kali ini kami melanjutkan petualangan ke Marina Bay Sands. Untunglah ada MRT yang canggih yang bisa membawa kami ke berbagai tujuan dengan cepat dan ongkosnya pun terjangkau. Awan mendung yang tebal menyambut kami setibanya disana. Syukurlah hujan deras akhirnya turun … Continue reading

Singapore Getaway: Orchard, I’m Coming

Gallery

This gallery contains 20 photos.

Asap sudah berkurang pada hari kedua kami di Singapura. Apalagi siang harinya hujan turun lumayan deras, membuat atmosfir sejuk. Kali ini kami melanjutkan petualangan ke Orchard Road. Konon, belum sah katanya ke Singapura kalau belum ke Orchard ini :D. Jangan … Continue reading

Singapore Getaway: Haze, I’m Coming

Gallery

This gallery contains 15 photos.

Photos are taken by iphone. Enjoy and happy holiday dear friends! Pada liburan kemana? Kemana destinasi favoritmu? 🙂