Menikmati Queenstown dari Puncak si Bob

Saya nggak tahu kenapa disebut Bob’s Peak atau Puncak si Bob. Mungkin orang yang menemukan puncak ini bernama Bob, makanya ia dinamakan Bob’s Peak.

Yang jelas, daripada ribut mempersoalkan tingkat pendidikan salah satu menteri yang dipilih Presiden Jokowi dalam Kabinet Kerja-nya, mending menikmati penampakan Queenstown dari Puncak si Bob.

Tak selamanya manusia yang berpendidikan tinggi piawai memecahkan masalah. Juga tak selamanya manusia yang berpendidikan rendah tak mampu memecahkan masalah. Bisa jadi seseorang tak sanggup melanjutkan sekolah karena terhalang biaya. Dan bisa jadi, alasan pak presiden menjatuhkan pilihannya kepada ibu menteri yang kabarnya juga memiliki tato itu, adalah karena beliau tak menemukan kandidat yang kompeten (dari mereka-mereka yang berpendidikan tinggi), yang mampu mengurai benang kusut kelautan dan perikanan.

Kecuali ada peraturan yang mewajibkan tingkat pendidikan menteri minimal S1/S2/S3, kalau memang beliau yang tamatan SMP itu mampu memberi solusi atas persoalan kelautan, mengapa tidak? Berpendidikan setinggi langit tak ada gunanya jika tak memberi manfaat kepada masyarakat.

Enjoy the pictures!

 

bob's peak 1

bob's peak 2

bob's peak 4

bob's peak 5

bob's peak 7

bob's peak 9

bob's peak 10

bob's peak 11

bob's peak 12

 

Advertisements

Milford Sound

Dapat dicapai sekitar empat jam perjalanan darat dari Queenstown. Milford Sound adalah salah satu fiord atau teluk sempit di antara tebing curam, yang terletak di taman nasional Fiordland, Selandia Baru. Kalau tak salah, ia menjadi satu-satunya fiord yang dapat diakses melalui jalan darat Milford Road dari Te Anau, dengan pemandangan spektakuler di sepanjang jalan.

Perasaan, nggak ada deh pemandangan yang nggak spektakuler di sepanjang jalan darat yang saya lalui di Selandia Baru. Semuanya bikin ngences pengen balik. Nggak percaya? Buktikan saja sendiri. 😀

Enjoy the pictures and happy Sunday. 🙂

Mirror Lake

Mirror Lake

14

13

1 welcome kia ora

Siap untuk berlayar selama kurang lebih 1,5 jam.

Siap untuk berlayar selama kurang lebih 1,5 jam.

NV. Sinbad

NV. Sinbad

Berlayar

Berlayar

Anjing Laut Lagi Berjemur :D

Seal Rock, Tempat Anjing Laut Berjemur 😀

Pengen Nyebur, nggak? :D

Pengen Nyebur, nggak? 😀

Bukan Air Terjun Pengantin :D

Bukan Air Terjun Pengantin 😀

Mulut Fiord Berbatasan dengan Laut Tasman

Mulut Fiord Berbatasan dengan Laut Tasman

 

 

The Road to Queenstown

Dari Christchurch menuju Queenstown, kami singgah di Mount Cook yang terkenal dengan salju abadinya, Church of Good Shepherd yang terletak di tepi Danau Tekapo yang cantik, serta Danau Pukaki yang saking beningnya bisa ngaca disana.

Sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan alam yang sangat-sangat indah. Awan putih panjang, domba yang sedang merumput, langit biru, padang rumput hijau, danau berwarna turquoise…. Ahh, nggak berlebihan memang kalau Selandia Baru dicap sebagai surganya tukang foto/penghobi fotografi. Khususnya fotografi alam.

Makanya nih, kalau Anda punya duit (kalau nggak punya, nabung dulu dong 😀 ) dan senang jalan-jalan, masukkanlah Selandia Baru ke dalam daftar tempat yang harus Anda kunjungi. You won’t regret it.

Lucunya, disinilah saya baru sadar bahwa ternyata nggak semua orang senang jalan-jalan. Di rombongan kami itu ada seorang pria yang sudah beristri, membawa serta kedua orangtuanya. Tapi justru istrinya tidak ikut dibawa. Katanya istrinya tak suka jalan-jalan. Sukanya shopping makanya ditinggal 😀 . Well, beda manusia beda pula kesukaannya, kan? 😀

Enjoy the pictures and enjoy your weekend dear friends!

 

 

 

Untuk info lebih lanjut mengenai Selandia Baru, Anda bisa mengunjungi situs Pure New Zealand.

 

 

Christchurch

Adalah perhentian terakhir sekaligus perhentian pertama kami di New Zealand atau Selandia Baru. Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh jam dari Jakarta transit di Sydney, kami tiba sekitar jam dua sore di kota yang terletak di Pulau Selatan Selandia Baru itu.

Begitu turun dari pesawat, udara dingin langsung menyergap tubuh. Tidak ada kehebohan ataupun hiruk pikuk seperti yang sering saya jumpai di bandara Soekarno Hatta. Kesannya sederhana, teratur, bersih dan udik 😀 . Iya, udik sodara-sodara 😀 . Saya tidak menyangka bandara internasional bisa membuat pengunjungnya merasa seperti di kampung halaman sendiri, lho 😀 . Rupanya suami saya pun merasakannya juga. Beliau nyeletuk, “Macam di kampung kita Samosir saja pun kurasa ini…” Hahahaha…. Saya setuju dengannya. Adem rasanya berada di bandara Christchurch ini.

Saat menunggu penjemput datang, dari balik jendela kaca bandara yang tembus pandang, kehadiran satu mobil pick up yang sudah tua menarik perhatian saya. Mobil bersahaja itu ditumpangi oleh sepasang pria dan wanita yang juga sudah tua. Gaya berpakaian mereka yang tidak umum seperti pengunjung lainnya, seolah menegaskan suasana sederhana yang sudah saya rasakan sebelumnya. Mereka berpakaian ala petani seperti dalam film-film Barat yang pernah saya tonton.

Dari gerak-gerik serta bahasa tubuhnya, nampaknya mereka pasangan suami istri yang sedang menanti kedatangan sanak saudaranya. Setidaknya seperti itulah menurut perkiraan saya 😀 . Hingga jemputan kami tiba dan kami beranjak dari bandara, mereka berdua masih menanti disana.

Sepanjang jalan dari bandara menuju hotel, suasananya juga sederhana serta sepi. Sederhana karena tidak ada saya jumpai barang sebiji pun gedung pencakar langit. Sepi karena memang sepanjang jalan jarang terlihat manusia lalu lalang. Dimanakah mereka? Menurut pemandu wisata kami, karena saat itu menjelang Natal, penduduk kota ini biasanya berlibur ke luar kota atau ke luar negeri seperti ke negara tetangganya Australia. Atau bisa jadi karena gempa bumi berkekuatan hampir 6 skala Richter yang melanda Christchurch sehari sebelumnya (23/12/2011), membuat penduduk minggat dari sana.

Setelah menyimpan barang di hotel, kami berjalan kaki menyusuri kota. Mencari tahu apa yang dilakukan oleh penduduk Christchurch di malam Natal, serta mencari tahu bagaimana rasanya merayakan Natal di negara yang memiliki perbedaan waktu +6 jam dengan Indonesia bagian Barat.

Waktu sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam. Namun matahari belum juga tenggelam. Dingin pun semakin menusuk tulang. Segerombolan orang kami lihat berjalan menuju Hagley Park yang berada tak jauh dari hotel kami. Rupanya akan ada acara malam Natal disana. Kami pun mengikuti mereka. Beberapa tenda tampak sudah didirikan di arena utama dekat pohon Natal. Bukan pohon natal sungguhan, melainkan lampu-lampu yang dibentuk menyerupai pohon Natal.

Sepertinya acaranya akan berlangsung semalam suntuk. Tapi berhubung baju hangat yang kami gunakan belum mampu menangkis dinginnya udara yang semakin malam semakin dingin itu, kami pun terpaksa angkat kaki. Suami saya, sih, sebenarnya masih sanggup melawan dingin. Kalau saya sudah pasti akan membeku jika disitu terus sepanjang malam 😀 . Sayang memang melewatkan pengalaman malam Natal di sana. Tapi setidaknya saya masih merasakan jejak kesederhanaan Kristus yang tertinggal di kota yang secara harfiah bermakna “Gereja Kristus” itu.

 

 

 

 

Tips: