Sebulan Belakangan Ini…

… aku banyak merenungkan tindakan-tindakanku yang kurang bijaksana pada periode hidupku beberapa tahun belakangan. Kalau boleh kutarik garis awal episode kekacauan itu, kurasa semua bermula dari begitu seringnya aku mendapat pertanyaan-pertanyaan, “mengapa tak kunjung mendapat keturunan?”

Sejak saat itu, seperti yang pernah kupaparkan secuil dalam postingan Catatan 17 Agustus, aku memang menarik diri dari berbagai komunitas. Karena saat itu, kupikir, aku tidak memenuhi standar sosial masyarakat Indonesia umumnya: lahir, besar, sekolah, kerja, kawin, punya anak, besarin anak, dlst.

Tapi sekarang, tentu aku sudah sadar bahwasanya pikirankulah yang menghakimiku, bukan mereka.

Kegiatan perenungan itu sering membuatku menangis. Apalagi sewaktu pertengahan Oktober lalu, saat Tuhan Yesus tak disangka-sangka mempertemukanku kembali dengan kawan-kawan seperjuangan yang pernah mengisi hari-hariku (dan yang kukecewakan hatinya), aku tak kuasa menahan tangis. Tuhan begitu baik memberi yang kuperlukan, memerhatikanku hingga sekarang.

Pada masa-masa kekacauan itu aku mencari penghiburan melalui hal-hal semu. Membaca buku-buku, mendengar musik, maupun melihat film-film yang tak memuji kebesaran Tuhan, serta kritik sana-sini. Di satu sisi aku pergi beribadah ke gereja hampir setiap hari Minggu, tapi di sisi lain aku tetap melakukan hal-hal yang mendukakan hati Tuhan. Perlahan tapi pasti, hal-hal tersebut memengaruhiku.

Dari awal, tujuan Tuhan Yesus menciptakan manusia cuma satu, yaitu:

Takutlah kepada Allah dan taatilah segala perintahNya, sebab hanya untuk itulah manusia diciptakanNya (Pengkhotbah 12:13, alkitab BIS)

Tuhan mau agar kita hidup di dalam Dia, melakukan hal-hal yang menyenangkan hatiNya dengan rendah hati berfokus pada sesama, bukan lagi fokus pada pemenuhan diri sendiri.

Namun karena terlalu sering menangis (sekalipun tangis haru yang mengingat kebaikan Tuhan), apalagi ditambah terlalu sering makan pedas dan asam, membuat sistem pencernaan menderita yang terpaksa membuatku mendekam di rumah sakit selama lima malam.

Tapi aku sangat senang karena kawan-kawan dari gereja, persekutuan, dan kolega suami datang menjenguk. 😊 Bahkan tak disangka-sangka pak pendeta bersama tim diakoni gereja pun datang melawat. 😊

Tuhan begitu baik. Ia tetap memerhatikanku sampai sekarang, dan memberi yang kuperlukan.

Mudah-mudahan kita semua tetap sehat di manapun berada. Perbanyak makan sayur dan buah, olahraga, dan tetap minta tuntunan Tuhan dalam melakukan apa pun. Karena diluar Tuhan, kita bukan apa-apa.

 

 

 

 

Advertisements