Dosroha

Disclaimer: Dosroha bukan sodaranya Dormammu. Dosroha adalah nama kapal motor yang berlayar di Danau Toba, melayani trayek Tomok-Ajibata dan sebaliknya.

Selebgram: Gile…. kapalnya bagus banget… serasa kayak di kabin pesawat terbang…. ada pelampungnya pulak… kamar mandinya pun bersih… jadi pengen mandi…

Petani Cokelat: Ini kapal yang dipakai Jokowi pas berkunjung ke Samosir kemaren…

Selebgram: Hah? Masa sih? Wah… peristiwa bersejarah ini… Beneran mesti mandi nih kalo gini… Bentar ya, gue mandi dulu… Jarang-jarang bisa naik kapal dan mandi di kapal yang pernah digunakan presiden… hihihii…

Seorang penjaja makanan yang wara-wiri di kapal menawarkan jajanan kepada Petani Coklat.

Penjaja Makanan: Mi gorengnya, bang?… Aqua..? Telor…?

Petani Cokelat: Enggak, kak. Saya baru makan. Ngomong-ngomong, berapa lama kemarin Jokowi di Samosir?

Penjaja Makanan: Sekitar dua jam….

Petani Cokelat: Hebat ya… sepanjang sejarah, baru kali ini presiden Republik Indonesia menjejakkan kaki di Samosir…

Penjaja Makanan: Oya? Soekarno?

Petani Cokelat: Enggak pernah

Penjaja Makanan: Tapi beliau punya rumah peristirahatan di Parapat…

Petani Cokelat: Pokoknya enggak pernah…

Penjaja Makanan: Soeharto?

Petani Cokelat: Enggak

Penjaja Makanan: Habibie?

Petani Cokelat: Enggak

Penjaja Makanan: Gus Dur?

Petani Cokelat: Enggak

Penjaja Makanan: Megawati? SBY?

Petani Cokelat: Enggak pernah

Penjaja Makanan: Emang apa hebatnya sih presiden mengunjungi daerah yang dipimpinnya? Tetap aja Samosir mati lampu tiga kali sehari kayak minum obat.

Petani Cokelat: Kalau misalnya kakak dikunjungi orangtua kakak, kakak senang atau tidak?

Penjaja Makanan: Tidak… kepala saya pusing kalau mereka datang… apalagi kalau pakai acara menginap… makin pusinglah saya…

Petani Cokelat: Oh, ya udah kalo gitu. Sebenarnya tadi saya mau jelasin kalo dikunjungi presiden itu rasanya lebih kurang sama kayak dikunjungi orangtua. Tapi karena kakak bilang tidak senang, saya jelaskan panjang lebar pun, kakak enggak bakalan ngerti, karena kita tidak berangkat dari pemahaman yang sama…

Penjaja Makanan: Ya iyalah, saya tadi pagi berangkat jam lima dari rumah…

Petani Cokelat: …………..

Si selebgram kembali bergabung dengan wajah berbinar.

Petani Cokelat: Udah mandinya?

Selebgram: Udah dong kak… Nih, gue sekalian selfie tadi pas mandi… (menyodorkan henponnya yang dipenuhi foto selfie berbagai pose)

Petani Cokelat: Masa kamu foto-foto cuma pake handuk doang? Gue laporin mama nanti!

Selebgram: Duh, itu masih mendingan kak… di medsos banyak yang pose selfie-nya lebih menantang daripada pose gue…

Petani Cokelat: Emang apa pentingnya sih pajang-pajang foto di medsos?

Selebgram: Makanya kak, elu mainannya jangan cuma sama pohon coklat dan baca buku doang… Punya smartphone tapi enggak dimanfaatin… gimana, sih? Dengerin ya kak, dengan jumlah penduduk 260 juta dan jumlah gadget sebanyak 320 juta, Indonesia merupakan pasar gadget terbesar nomor 4 di dunia. Lebih banyak jumlah gadgetnya daripada penduduknya, kan? Nah, dengan 80 juta pengguna medsos alias media sosial, tak bisa ditampik, media sosial sudah menjadi kebutuhan. Pertanyaan besarnya adalah, apakah kita mau jadi pemain atau cuma jadi penonton?

Petani Cokelat: Trus kamu udah jadi pemain gitu? Makanya pajang foto-foto pake handuk kek gini?

Selebgram: Oh, jelas. Walapun belum setenar Awkarin, tapi follower gue udah nyaris satu juta kayak dia.

Petani Cokelat: Awkarin? Apa itu? Temannya awkward?

Selebgram: Gue jelasin pun kakak enggak bakalan ngerti. We’re not on the same page, kak…

Petani Cokelat: Okelah…. tapi kamu kan enggak mesti foto-foto buka baju, buka rok, buka kolor, buka beha dan cuma pake handuk kayak begini….

Selebgram: Duh, cerewet banget sih. Kayak yang gue bilang tadi, itu masih sopan, kakak. Masih banyak yang posenya lebih heboh dari pose gue. Lagian orang Indonesia itu paling suka sama postingan-postingan yang menampilkan kulit atau buka-bukaan kek beginih… Nih, liat buktinya. Dalam dua puluh menit foto gue pake handuk tadi udah dilike alias disukai sebanyak dua puluh ribu. Fantastis, kan?

Petani Cokelat: Trus manfaatnya apa?

Selebgram: Pundi-pundi gue terisi dong, ah. Duit mengalir deras kayak air terjun Sipiso-Piso, kak.

Petani Cokelat: Cuma gara-gara pajang foto?

Selebgram: Iya! Kalo akun medsos kita keren, ntar bakalan ngantri yang nawarin kerjasama.

Petani Cokelat: Cara mencari duit yang aneh…

Selebgram: Sekarang mungkin buat kakak masih aneh. Tapi begitu kakak mulai, pasti bakal ketagihan. Misalnya pas panen coklat kayak sekarang, kakak cobalah foto selfie dengan coklat-coklatmu itu dan unggah ke medsos. Kakak tau enggak, kemaren dulu, enggak berapa lama abis gue unggah foto bareng coklat ini, gue langsung ditawarin kerjasama oleh produsen es krim premium dari Belgia. Keren, kan?

cokelat

Petani Cokelat: Kerjasama seperti apa?

Selebgram: Gue diminta berpose dengan salah satu varian baru es krim coklat mereka.

Petani Cokelat: Trus? Abis itu pundi-pundi kamu langsung terisi?

Selebgram: Iya dong! Duh, pokoknya seru banget deh eksis sekaligus bisnis di medsos. Kayak bulan lalu pas gue abis pulang dari Kisaran, gue kan mampir tuh di warung bandrek di Perbaungan. Nah, di situ gue foto-foto juga dan bikin cerita sedikit di fotonya sebelum gue unggah ke medsos.

Petani Cokelat: Cerita kayak apa?

Selebgram: Ceritanya gue ngobrollah dengan si ibu penjual bandrek, sekalian tanya-tanya kenapa bandreknya bisa super pedes gitu. Di medsos gue ceritain resepnya adalah gula putih, garam, jahe, sereh, merica, kayu manis, gula merah dan cengkeh. Trus gue kasi tau juga harga per gelasnya. Ternyata banyak yang suka ceritanya, kak. Kabar terakhir, gue denger warung si ibu rame dikunjungi setiap malam. Keren banget, kan? Kita bisa bantu orang juga buat bikin laris usahanya.

bandrek

Petani Cokelat: Trus penghasilan kamu dalam sebulan berapa?

Selebgram: Enggak tentu, kak… Tapi sebagai gambaran, gue pernah denger si Awkarin tadi dalam seminggu bisa menghasilkan tiga puluh dua juta. Kakak bisa enggak dengan nanam coklat dapet tiga puluh dua juta dalam seminggu?

Petani Cokelat: ……………..

Selebgram: Makanya, bikin deh akun medsos lo, kak. Dunia kita udah berubah. Semua bisa diselesaikan oleh medsos dan gadget di tangan. Apa coba masalah dunia yang enggak bisa diselesaikan? Membesarkan payudara? Bisa. Membesarkan kelamin? Bisa. Susah punya anak? Juga bisa. Menumbuhkan janggut? Bisa banget….

Petani Cokelat: Perang Aleppo? Gempa Aceh? Emang bisa diselesaikan sama medsos?

Selebgram: Kemaren gue udah ngasih komentar dan ngasih like atau jempol virtual di salah satu foto di Aleppo dan gempa di Aceh, yang diunggah di medsos…

Petani Cokelat: Trus dengan ngasih jempol masalah selesai?

Selebgram: Ya pokoknya gue udah berbuat sesuatu. Emang kakak udah berbuat apa untuk Aleppo dan Aceh?

Petani Cokelat: ………………

Selebgram: Oiya, gue denger Samosir ini mau dikembangkan pemerintah jadi daerah wisata kelas dunia. Kalo emang bener, bentar lagi harga tanah pasti melambung, kan? Jual aja kebun coklat lo, kak. Mari kita jelajahi bersama dunia medsos. Percaya deh, kakak bisa sukses dengan medsos.

Petani Cokelat: Lah, trus gue makan pake apa nanti?

Selebgram: Ya pake nasi dong. Kan kalo kebunnya udah dijual, kakak bakalan dapet duit, trus dapet duit lagi dari medsos… trus beli nasinya pake duit. Kakak senang, yang jual nasi pun senang. Bener, kan?

Petani Cokelat: …………………

Tiba-tiba si penjaja makanan muncul kembali.

Merasa pusing mendengar cerita adiknya, Petani Cokelat bertanya lagi.

Petani Cokelat: Ini beneran kapal yang dipakai Jokowi pas datang kemaren, kan? (ia merasa perlu mengonfirmasi ke penjaja makanan di kapal, karena dianggap paling tahu fakta sebenarnya di lapangan)

Penjaja Makanan: Bukan…. Kapal yang dipakainya waktu itu adalah Dosroha 2. Kalau kapal ini Dosroha 5. Kapal Dosroha 2 lebih besar daripada kapal ini….

Selebgram: Waduh… berarti salah dong? Padahal tadi di keterangan foto pas selfie udah gue bilangin bahwa kapal ini yang dipakai pak Jokowi… Duuuuh…gimana dong nih…?

Petani Cokelat: Makanya kalo dapet informasi itu jangan langsung percaya mentah-mentah… Kalo besok gue ngaku gue adalah Tuhan, kamu percaya dan langsung unggah di medsos?

Selebgram: Percayalah, kak, begitu besok kakak ngaku bahwa kakak adalah Tuhan, gue yakin, bahkan SiEnEn pun akan langsung terbang ke sini bersama para kru terbaiknya untuk meliput pengakuan kakak….

Petani Cokelat: ………………..

 

 

Advertisements

Lower Your Expectations

…… So that you’ll have a great experience.

Itulah respon saya mengenai topik tips traveling di ASEAN dalam salah satu episode Indonesia Travel Chat (#idtc) di linimasa twitter sekitar dua tahun lalu. Tujuan saya mengatakan itu adalah, agar Anda tidak terlampau kecewa ketika harapan maupun impian yang Anda harapkan ketika berjalan-jalan ternyata tidak sepenuhnya bisa terwujud. Tapi percayalah, melakukannya tidak semudah mengucapkannya. 😀

12

Samosir, Desember 2013

Pagi itu kami telah menyusun rencana kepergian kami ke Pangururan dengan matang. Namun siangnya, datanglah dua pria bertubuh tinggi. Ternyata ibu mereka meninggal dunia. Dan maksud kedatangan mereka adalah untuk mengundang pihak keluarga dari ibu mereka (hula-hula istilahnya dalam bahasa Batak), agar dapat hadir dalam acara adatnya di Onan Runggu.

Keluarga saya sebetulnya tidak begitu mengenal keluarga pria bertubuh tinggi ini. Oleh sebab itu kami memberikan beberapa nama yang menurut kami bisa dibilang masih keluarga dekat mereka. Tapi rupanya mereka telah mendatangi nama-nama yang kami sebutkan itu. Dan semuanya mengatakan bahwa keluarga sayalah yang lebih layak/seharusnya datang ke acara adat ibu mereka yang meninggal tersebut.

Karena kami masih menghargai adat Batak, kami pun tak kuasa menolak undangan mereka. Bahwasanya lebih penting menghadiri acara adat orang meninggal daripada jalan-jalan. Perubahan rencana kami godok malamnya. Setelah acara adat selesai, kami akan menempuh jalan darat melalui perbukitan agar dapat melihat Danau Toba dari ketinggian. Lalu malamnya kami tiba di Pangururan dan menginap di sana.

Esok paginya, disambut udara dingin sekitar 19 derajat Celcius, kami bersiap berangkat. Berjalan kaki menuju dermaga, kami melewati jalanan berbatu dan sebagian beraspal beton. Di dermaga kami menunggu kapal yang telah dipesan oleh pihak yang telah mengundang kami sehari sebelumnya, yang akan membawa kami ke Onan Runggu.

2

Cuaca cerah membuat pelayaran kami menyenangkan. Berada di antara langit biru, danau yang gemerlapan dihujani sinar mentari, pegunungan Bukit Barisan di sebelah kiri, Pulau Samosir di sebelah kanan, mengingatkan saya akan Milford Sound di Selandia Baru.

Danau Toba dengan Pulau Samosirnya sebetulnya tak kalah cantik. Hanya saja (mungkin) kemampuan kita dalam mengelolanya belum mencapai tingkat untuk menjadikannya objek wisata berkelas internasional macam Milford Sound.

4

Tapi pernah ada teman yang sewot gara-gara mendengar impian saya yang menginginkan pariwisata Samosir bangkit. Menurutnya, jika satu daerah sudah diekspos habis-habisan sebagai objek wisata, biasanya pelacuran pun akan tumbuh subur di daerah itu. Jadi dia kurang setuju jika pariwisata Samosir bangkit. Teman saya itu lebih senang dengan keadaan Samosir yang seperti sekarang, yang tidak terlalu terkenal seperti saudara sepupunya, Bali.

Lamunan saya buyar ketika suami mengajak berfoto. Saya pun mengiyakannya. Kapan lagi bisa berfoto berduaan dengan kekasih hati di tengah Danau Toba yang indah? 🙂

10

Sorenya, setelah menuntaskan misi kami sebagai hula-hula di acara adat orang meninggal itu, kami pun pamit kepada seluruh rombongan yang tadinya satu kapal bersama kami. Kami menjelaskan rencana kami yang hendak melanjutkan perjalanan melalui darat menuju Pangururan dan tidak ikut pulang naik kapal bersama mereka.

Lantas dengan apa kami menuju Pangururan? Di sela-sela acara adat, kami mencari informasi tentang kendaraan yang tersedia sampai sore, yang bisa kami sewa ke Pangururan. Tapi kami lupa bahwa kami sedang bepergian di Samosir. Tempat di mana ‘berangkat’ belum tentu berarti ‘berangkat’ dan ‘ada’ belum tentu berarti ‘ada’. Intinya, tempat di mana tidak mudah mendapatkan kendaraan yang bisa digunakan sewaktu-waktu.

Maka alangkah dongkolnya saya, ketika kami diberitahu bahwa kendaraan yang akan kami sewa tidak bisa membawa kami ke Pangururan. Padahal hari itu saya sudah sangat yakin bahwa impian jalan-jalan akan terwujud. Tapi rupanya, yakin saja belum cukup.

Kini tak ada pilihan lain, kami harus pulang. Dan satu-satunya cara untuk pulang adalah dengan kapal yang kami tumpangi pagi tadi. Yang mana menurut perhitungan saya, saat ini pasti sedang bersiap pulang. Kalau kami tak cepat bergerak, kami akan ketinggalan. Dan kalau kami ketinggalan, masak iya kami harus berenang?

Dengan setengah berlari ke arah kapal, saya mendapatinya tengah bergerak mundur. Saya pun berteriak memanggilnya kembali. Untunglah si kapal mendengar teriakan kami dan ia pun mendekat ke arah kami.

lower your expectations

Grand Plan

Di dalam kapal saya duduk bermuram durja memejamkan mata, merenungi harapan serta rencana perjalanan yang berantakan. Sementara bebukitan yang kami lewati di seberang danau sana, berkejaran sambil seolah tertawa terpingkal-pingkal mengejek saya,

“Pulang nih, ye… Kecian, deh, lo. Makanya jadi orang jangan kelewat pede….”

Jika detik itu ada orang yang mengatakan kepada saya bahwa semua itu terjadi karena Tuhan berkehendak lain, dan bahwasanya itu adalah grand plan-Nya, karena Tuhan tidak memberi apa yang kami inginkan melainkan apa yang kami butuhkan, kemungkinan besar orang tersebut akan langsung saya ceburkan ke danau!

Sekarang, tentu saya sudah bisa tertawa terbahak-bahak bila mengingat kejadian itu. Bahwasanya apapun yang terjadi dalam hidup ini, pastilah atas sepengetahuan dan seizin Tuhan. Dan bisa jadi tahun lalu kami gagal jalan-jalan, agar tahun depan ketika kami sekeluarga berkumpul, kami bisa mengelilingi Samosir dalam formasi lengkap.

Tentunya akan sangat bijaksana jika kami menggunakan kendaraan sendiri agar lebih fleksibel berjalan-jalan di Samosir. Entah itu dengan kapal sendiri, mobil sendiri, atau motor sendiri. Maksud saya disewa, bukan beli. 😀 Mana tahan kalau beli kapal. 😛

***

Oiya, kejadian ini mengilhami tulisan 32 My Age yang saya ikut sertakan dalam giveaway ulang tahun Jo, di awal tahun 2014 ini. Dan karena kejadian ini juga, kami batal menghabiskan Natal dengan orangtua. Orangtua jadinya merayakan Natal dengan saudara dari pihak ibu yang membutuhkan kehadiran mereka. Sedangkan kami merayakan Natal dengan sanak saudara yang membutuhkan kehadiran kami.

 

9

11

13

14

15

 

Karena kami telah belajar untuk menurunkan harapan, serta mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi dan tak tunduk pada ego kami, sesungguhnya pada Natal tahun lalu kami sudah ‘naik kelas’. Akankah Natal tahun ini kami kembali ‘naik kelas’ ? 😉

Untuk yang mau liburan ke Samosir, jangan ragu datang ke sana. Saran saya, jika tak mau repot mikirin transportasi, penginapan dan tetek bengeknya, lebih baik Anda ikut tur yang segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh agen perjalanan Anda dengan baik. Tapi kalau Anda ingin mengalami segala kerepotan itu, maka coba tengok-tengok atau intip-intip ke blog mbak Noni di sini. Ulasan doi cukup banyak mengenai Samosir. Semoga bisa membantu. 🙂

Happy traveling and don’t forget to lower your expectations! 😀

 

 

 

 

 

 

Jejak Peradaban di Pagar Batu, Samosir

Sekitar sembilan kilometer dari Tomok, Samosir, ada satu situs bersejarah yang bernama Pagar Batu. Dikatakan Pagar Batu, karena keseluruhan tempatnya dikelilingi oleh batu. Diperkirakan, dari bukti-bukti peninggalan megalitik yang terdapat di tempat ini, sekitar 100 atau mungkin hingga 300 tahun yang lalu, manusia pernah berdiam di sini.

Ini merupakan kunjungan kedua saya ke Pagar Batu. Tujuh tahun lalu, ketika pertama kali menjejakkan kaki di sini, tempatnya tidak sebersih dan tidak seterang benderang bulan Juli yang silam. Well, sebenarnya tidak terang benderang banget, sih. Tapi yang pasti, jalan menuju ke sana sudah tidak rambaon lagi seperti dulu. Rambaon bahasa Batak yang artinya penuh semak.

Apa pasal? Rupanya selain karena situs Pagar Batu sudah resmi menjadi salah satu objek wisata Samosir, saat itu ada serombongan peneliti datang dari balai arkeologi Medan. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk memetakan serta mencari tahu seberapa tua persisnya usia situs ini.

Hariara

Jalan masuknya berada di seberang Sekolah Dasar Negeri (SDN). Saya lupa entah SDN nomor berapa sekolah tersebut. Yang jelas, ia satu-satunya SDN di daerah itu. Menyusuri jalan setapak, lapo atau kedai adalah bangunan pertama yang saya jumpai. Kemudian disusul kuburan besar bercat hijau. Semakin ke dalam, saya berjumpa dengan beberapa hariara atau pohon beringin raksasa yang berumur sekitar 200 tahun, menjulang angkuh seolah menantang alam.

Pemandangan di sekitar jalan masuk ke Pagar Batu.

Pemandangan di sekitar jalan masuk ke Pagar Batu.

Melewati kuburan besar bercat hijau.

Melewati kuburan besar bercat hijau.

Hariara

Bandingkan kecilnya manusia dengan tingginya hariara di belakang mereka.

7 hariara lagi jadi teringat tarzan

Hariara. Jadi pengen bergelantungan kayak Tarzan. Auoooooo 😀

 

Pohon Enau

Pohon enau banyak saya jumpai di daerah ini. Enau adalah bahan utama tuak atau minuman beralkohol hasil fermentasi khas Batak. Tuak dari sini terkenal enak. Saya pernah mencobanya sedikit. Rasanya campuran antara pahit, asam dan manis. Lagi-lagi, saya meminumnya karena penasaran seperti apa rasanya :D. Dan karena saya bukan ahli minuman beralkohol, saya tak begitu paham entah bagaimana kriteria tuak yang enak, kurang enak, enak banget, atau kurang nggak enak banget :D.

Pohon Enau

Pohon enau.

 

Pokki

Selain itu ada tanaman pokki. Kayunya yang kuat, bisa digunakan sebagai bahan bangunan dan perabotan.

Pohon pokki.

Daun pokki.

 

Punden Berundak

Oya, situs ini sendiri merupakan kompleks punden berundak dengan empat undakan yang semuanya disusun dari batu.

Batu disusun bertingkat tingkat.

Batu disusun bertingkat-tingkat.

 

Setelah melalui tiga undakan, tibalah saya di bagian puncaknya.

12 puncaknya

Bagian puncak setelah dibersihkan.

 

Sarkofagus

Di puncak ini terdapat sarkofagus atau kubur pahat batu. Zaman dahulu, jenazah dimasukkan ke dalam batu ini. Tapi bukan sembarang jenazah. Biasanya hanya jenazah pemimpin atau raja.

Sarkofagus.

Sarkofagus. Tempat jenazah.

Sarkofagus terbuka.

Sarkofagus yang terbuka.

 

Si Boru Nagojong

Selain itu ada batu Si Boru Nagojong yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sarkofagus. Gojong artinya perut gembung. Kesinilah zaman dulu dibawa para tersangka yang tidak mau mengaku berbuat salah entah mencuri, berbohong serta tindakan-tindakan tidak jujur lainnya.

Ada “wajah” dipahat pada batu. Bisakah Anda melihatnya? 🙂

Si Boru Nagojong.

Batu Si Boru Nagojong.

Si tersangka nantinya meletakkan tangannya pada batu seperti foto di bawah ini. Jika memang ia bersalah, maka perutnya akan gembung.

Si Boru Nagojong.

Batu Si Boru Nagojong.

Kemudian di dekat batu Si Boru Nagojong, ada batu yang berbentuk seperti foto di bawah ini. Kegunaannya adalah sebagai tempat mencuci kaki. Namun ada juga yang berpendapat bahwa batu ini berfungsi sebagai tempat makanan babi.

Tempat mencuci kaki.

Tempat mencuci kaki atau tempat makan babi.

 

Batu Pahat “Wajah”

Selanjutnya, lagi-lagi terdapat batu besar dengan pahatan “wajah” seperti di foto berikut ini. Kali ini bisakah Anda temukan wajahnya? 🙂

Penjaga huta/kampung.

Penjaga huta atau kampung.

Supaya jelas, silahkan lihat foto di bawah ini. Ada lubang hidungnya, lho :).

“Wajah” ini dipahat pada tiga sisi batu. Zaman dahulu, mereka dipercaya sebagai penjaga huta atau kampung. Nantinya mereka diberi makan beras oleh penduduk. Berasnya dimasukkan melalui lubang kecil yang terdapat di bawah pahatan “wajah”, seperti yang tertera dalam foto di atas. Bisakah Anda melihat lubangnya? 🙂

"wajah" penjaga huta/kampung di pahat pada batu.

“Wajah” penjaga huta/kampung dipahat pada batu.

 

Losung

Di atas sudah saya singgung mengenai beras. Masyarakat zaman dahulu percaya bahwa beras memiliki roh. Oleh karena itu tidak boleh sembarangan menumbuknya. Terletak menyebelah dengan batu pahatan “wajah”, terdapat batu losung atau tempat menumbuk padi berjumlah lima. Di tempat inilah padi-padi pada zaman itu ditumbuk.

Lima losung.

Lima losung.

 

Pamelean

Masyarakat pada zaman itu belum mengenal Tuhan. Namun mereka jelas mengakui bahwa ada kekuatan lain yang bukan manusia, yang lebih besar, lebih tinggi, lebih kuat serta lebih berkuasa dari mereka.

Foto di bawah ini, dulunya adalah tempat pemujaan atau pamelean kepada pribadi yang dianggap lebih tinggi, lebih kuat atau lebih berkuasa tadi.

Tempat mamele atau pemujaan

Tempat pamelean atau pemujaan.

 

Gua

Kemudian terdapat gua di sini. Gua yang katanya tembus hingga ke Tanjungan. Ceritanya pernah ada lima ekor anjing dilepas masuk ke gua. Sebagian kembali, sebagian lagi tidak. Yang tak kembali katanya dimakan oleh naga yang berada di dalam gua. Padahal kemungkinan besar mereka mati di dalam karena kehabisan oksigen.

Gua katanya tembus sampai ke Tanjungan.

Pintu gua yang katanya tembus sampai ke Tanjungan. Pintunya semakin lama semakin sempit akibat gempa.

 

Parik Debata

Akhirnya tibalah saya di Parik Debata. Batu tunggal raksasa, yang menurut saya magnetnya Pagar Batu. Parik artinya dinding yang terbuat dari tanah atau batu. Debata artinya Tuhan. Jika diterjemahkan, Parik Debata adalah: dinding Tuhan. Sebab hanya Tuhan yang bisa membuat dinding semacam ini.

Saya merinding ketika pertama kali melihat batu ini. Dan ternyata, di kali ke dua saya menyaksikannya, saya masih merinding juga. Takjub rasanya. Betapa kecilnya saya ketika berdiri di hadapan batu yang berukuran panjang sekitar 16 meter dan bertinggi sekitar 9 meter ini.

Menurut teori orang setempat, batu raksasa ini berasal dari muntahan gunung Toba yang meletus ribuan tahun lalu. Jadi ketika meletus, batu ini terlempar ke Pagar Batu.

Parik Debata.

Parik Debata.

Tak jauh dari Parik Debata, saya bertemu dengan rombongan peneliti yang siang itu sedang melakukan ekskavasi.

Tim arkeolog medan sedang menggali.

Tim arkeolog Medan sedang menggali.

Tim arkeolog Medan.

Tim arkeolog Medan.

Beberapa hasil galian

Beberapa hasil galian.

Kerbau di balik semak.

Kerbau di balik semak. Kalau yang ini bukan hasil galian, lho ya 😀

 

Bontean

Setelah mengobrol sebentar, saya melanjutkan perjalanan ke tempat bontean. Dulunya tempat ini merupakan pelabuhan kuno. Sedangkan bontean adalah tiang silinder setinggi dua meter yang berfungsi sebagai tempat untuk mengikat tali kapal yang merapat di sini.

Sekarang, bontean-bontean yang tersisa ini berada sekitar 10 meter di atas permukaan danau. Dari situ dapat ditarik kesimpulan, bahwa dalam kurun waktu sekitar 300 tahun, air Danau Toba surut sebanyak 10 hingga 11 meter.

Bontean.

Bontean.

Bontean berceceran.

Puing bontean.

30 tempat mengikat tali kapal

Puncak bontean. Di situlah tali kapal diikat pada zaman dulu.

Jalan.

Jalan.

33 desa di sekitar parik debata

Seorang penduduk memberi makan ayam.

34 desa di sekitar parik debata

Rumah penduduk.

Seperti umumnya tempat yang dianggap keramat, di sini tidak diperbolehkan menggunakan bahasa kasar. Pernah kejadian seorang pengunjung yang kebetulan pergi seorang diri, mengeluarkan kata-kata kasar. Orang ini “dihukum” nggak bisa keluar dari situs. Alhasil dia cuma keliling-keliling di dalam. Bayangkan, dulu sebelum dibersihkan, gelapnya seperti apa tempat ini. Syukur akhirnya ia ditemukan oleh penduduk setempat. Kalau nggak, mungkin namanya sudah tinggal kenangan.

***

Tips jalan-jalan ke Pagar Batu:

  • Menuju ke sana bisa dengan feri atau dengan kapal penumpang menuju Tomok yang berangkat tiap 15 menit dari pelabuhan Ajibata. Disambung naik angkot ke Lontung, Pardomuan, yang tersedia hanya sampai jam 4 sore. Atau bisa juga menggunakan ojek Tomok-Pardomuan dengan ongkos per orang Rp 20.000-Rp 30.000/tergantung hasil tawar menawar. Harap diingat, kondisi jalan tidak mulus serta belum diaspal.

  • Mengantisipasi tidak adanya penjual makanan dan minuman, lebih baik siapkan bekal dari Tomok atau Ajibata.

 

Aek Natonang

Libur Natal tahun 2003, saat pulang kampung ke Lontung, Samosir, saya mengajak Bapak beserta adik dan sepupu mendaki gunung menuju Aek Natonang yang berada di Tanjungan. Saya penasaran, bagaimana sih rasanya naik gunung? Soale selama ini saya belum pernah naik gunung. Dan selama ini, kalau pulang kampung, saya hanya bisa melihat gunung itu beserta jalan zig-zagnya dari jauh, dari jendela rumah Ompung (bahasa Batak, artinya kakek/nenek, orangtua dari orangtua saya).

Mendaki

Jumat pagi (26 Desember) sekitar jam sembilan, kami pun memulai pendakian bersejarah itu :D. Awalnya, semangat saya masih berkobar-kobar, seperti kain yang dilumuri minyak tanah lalu dibakar. Eh, nggak tahunya, setelah sekitar setengah jam mendaki, capek sekali rasanya! Jantung saya sepertinya mau meledak. Berat banget!

Melihat keadaan saya, adik-adik dan sepupu meledek saya, kata mereka, “Gimana, Kak? Apakah sudah mulai ada penyesalan?” 😀 . Saya jawab, “Yaelah, enak aja lo pada. Aku nggak nyesal naik gunung ini. Aku kan memang pengen tahu gimana rasanya yang memanjat gunung ini. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Belum tentu tahun depan aku bisa pulang ke bona pasogit (kampung halaman). Jadi, yaaa, nggak ada penyesalan. Cuma memang capeeeek banget.” Saya harus berhenti bolak-balik untuk menenangkan jantung ini. Bisa jadi, kalau tidak ada saya, mereka pasti bisa lebih cepat mendaki.

Sewaktu hampir sampai di puncak, kaki saya masuk ke lumpur. Dari jarak yang tidak begitu jauh, tanahnya kelihatan keras. Tahu-tahu, setelah dijalani, alamak, tanahnya lembek sekali alias lumpur 😦 . Tapi dari tempat kaki saya kemasukan lumpur itu, pemandangannya baguuuuuuuus banget! Pemandangan Pulau Samosir dengan Danau Toba-nya tanpa kabut, sungguh amat cantik! Saking cantiknya, kami menyebut momen itu dengan “Swiss-nya Samosir” 🙂 .

Ingin rasanya momen itu saya abadikan. Tapi sayang, berhubung waktu itu kami tak punya alat dokumentasi (baca: kamera atau henpon berkamera), maka momennya lenyap begitu saja. Saya belum tertarik dengan fotografi saat itu. Tahun 2005 saya baru mulai jepret menjepret. But one thing for sure, pemandangan Samosir yang sangat indah waktu itu masih terekam jelas di memori saya.

Sesampainya di puncak, kami semua bersalaman 😀 . Seperti pendaki gunung profesional saja, pakai acara salam-salaman segala hahaha 😀 . Syukur kami tidak bawa bendera merah putih. Kalau dibawa, pasti sudah kami tancapkanlah itu bendera di atas sana hahahah 😀 .

Setelah istirahat dan menghirup udara segar di warung minuman yang terletak di pinggir jalan raya Desa Tanjungan, kami pun melanjutkan perjalanan ke Aek Natonang. Artinya dalam Bahasa Indonesia: Air yang Tenang. Jarak tempuh dari lokasi puncak ke Aek Natonang sekitar 500 meter.

Belo

Oya, hampir lupa. Ada satu anggota lagi yang ikut mendaki dengan kami. Yaitu si Belo. Anjing Ompung saya yang setia banget 😀 . Memasuki areal Aek Natonang, terdapat sebuah ranch atau peternakan. Menurut Bapak saya, dulu Bapak dari Ompung saya memelihara banyak kuda, lembu dan kerbau di peternakan ini.

Saat kami tiba, ada beberapa kuda yang berkulit hitam sedang wara-wiri di padang rumput. Waktu kuda-kudanya berlarian, si Belo pun ikut-ikutan lari. Mungkin gara-gara kulit si Belo juga hitam, dipikirnya dirinya adalah kuda. Makanya dia ikutan lari. Hahahahaa 😀 .

Arboretum Aek Natonang

Keletihan selama perjalanan terbayar sudah, ketika akhirnya kami melihat Aek Natonang di depan mata. Wuiiihh.. Airnya memang benar-benar tenang. Lokasinya cocok sekali menurut saya untuk syuting film India. Bisa bebas lari kesana-kemari sambil menari di atas hamparan padang rumput :D. Film India, kan, begitu toh? Lari dan nari melulu 😀 .

Menurut Bapak saya, Aek Natonang ini sejatinya adalah bendungan atau waduk yang dibangun oleh leluhur kami (sekitar 8 generasi diatas saya), untuk mengairi sawah di Lontung yang terletak di bawah gunung. Jadi mulanya, leluhur kami bertempat tinggal di Desa Tanjungan ini. Namun karena di dataran tinggi tidak cocok bertanam padi (cocoknya menanam kopi), akhirnya mereka pindah ke tempat yang lebih rendah dan lebih hangat, yaitu ke bawah gunung, ke Lontung. Untuk mengairi sawahnya, dibangunlah Aek Natonang ini.

Tahun-tahun berlalu. Aek Natonang pun seolah terlupakan oleh keluarga besar kami. Orangtua saya pernah berusaha menyatukan semua keluarga untuk bekerja sama mempertahankan Aek Natonang agar tidak jatuh ke tangan negara. Tapi gayung tidak bersambut. Usaha mereka dimentahkan. Semua keluarga nampaknya sibuk dengan urusannya masing-masing. Apa daya, Aek Natonang akhirnya kini telah berada di tangan negara. Namanya sekarang adalah: Arboretum Aek Natonang.

“Apa arti arboretum?”, tanya saya ke diri sendiri ketika melihat papan namanya di pinggir jalan raya Tanjungan, bulan Juli lalu. Saya tanya juga ke pemilik angkot yang saya sewa dari Lontung, serta ke pemilik warung di dekat situ. Tidak satu pun dari mereka mengetahui arti arboretum. Sayang sekali. Mengapa pemerintah membuat nama dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh penduduk sekitar? Untuk gengsi-gengsian saja kah? Supaya keren saja kedengarannya, begitu? 😦 .

Arboretum Aek Natonang

Setelah saya cari di google.com, ternyata arti arboretum adalah: botanical garden atau semacamnya. Amangoi (ungkapan takjub dalam bahasa Batak), koq jauh banget lah pemerintah kita ini bikin nama, ya? Bahkan di Singapura sana saja yang notabene botanical garden-nya banyak dan canggih, tidak disebut dengan arboretum 😦 .

Skylift

Kembali ke Desember 2003.

Di Aek Natonang, kami berenam piknik, leyeh-leyeh. Di bawah pohon dap-dap, sambil menikmati pemandangan hamparan pinus di seberang sana, kami makan-minum ala kadarnya dengan bekal yang kami bawa dari Lontung.

Dalam pikiran saya, sempat terbayang:

“Suatu hari nanti, tempat ini akan diramaikan oleh skylift yang akan menghubungkan Lontung dengan Aek Natonang, serta skylift yang akan menghubungkan Sigapiton (di seberang danau) dengan Aek Natonang. Resor atau hotel pun akan dibangun juga di sini. Aek Natonang akan dibuat cantik sedemikian rupa menjadi botanical garden atau winery (seperti di Eropa sana), sehingga baik turis nasional maupun internasional tertarik datang kesana. Pada akhirnya, pariwisata Samosir pun bangkit.”

Pulang

Masih ingin berlama-lama sebenarnya di sana. Tapi keadaan langit dengan awan hitam yang menggelantung, tidak mengizinkan kami berlama-lama di Aek Natonang. Kami harus kembali turun melalui jalan yang tadi. Kalau hujan, tanah akan basah dan licin, sehingga sulit untuk turun gunung.

Kami pun beberes dan kembali ke puncak gunung. Ternyata turun gunung lebih “hebat” alias lebih gawat lagi saudara-saudara… Lutut saya lemas banget. Gemetaran. Pengennya sih ada pilihan naik perosotan saja di situ. Jadi bagi yang tidak sanggup menuruni bukit, ya turun pakai perosotan, gitu… Kan, enak tinggal meluncur saja…

Setelah selesai menuruni bukit, ‘ujian’ belum kelar juga. Masih ada jalan setapak sejauh 500 meter yang harus ditempuh untuk sampai ke rumah Ompung. Saat pulang memang terasa lebih berat, ya? Padahal kan, jalan yang ditempuh sama saja sebenarnya. Hahaha. Hebat bangetlah pokoknya perjalanan kami itu. Untungnya saya punya tongkat sakti alias tongkat penolong yang diberikan Bapak di awal pendakian tadi. Sangat menolong saya sepanjang perjalanan.

Saya jadi teringat dengan ucapan adik sewaktu hampir sampai di puncak (setelah tragedi kaki saya masuk lumpur). Katanya kepada Bapak, “Pak, pulangnya kita naik bus sajalah, ya…” Huahahaha kami tertawa terbahak-bahak mendengar permintaannya itu.

Agak tergoda juga saya dengan permintaannya itu. Membayangkan beratnya medan yang harus ditempuh lagi saat pulang, ya mendingan naik bus saja deh 😀 . Tapi kalau naik bus, pengalamannya nggak ‘cantik’ dong, kan? Seolah mengamini agar pengalaman kami ‘cantik’, jawab Bapak, “Bus tidak menentu adanya dari Tanjungan menuju Tomok.” 😀 (Harus naik bus dari Tanjungan menuju Tomok. Lalu dari Tomok naik angkot lagi ke Lontung). Hahahah.. Pupus sudah harapan pulang naik bus 😀 .

*****

Di bawah ini sebagian foto yang berhasil saya abadikan dari perjalanan Juli 2013 kemarin, dengan iphone. Enjoy!

 

******

Tips jalan-jalan ke Aek Natonang.
  • Sewa mobil dari Lontung-Aek Natonang setengah hari (+/- 6jam) = Rp 150.000. Dari Tomok ada juga yang menyewakan mobil atau motor.
  • Siapkan mental untuk melewati jalan raya Tomok-Tanjungan yang tidak mulus. Seperti yang pernah saya singgung disini.
  • Jarak tempuh Tomok-Aek Natonang +/- 1 jam.
  • Tidak dipungut biaya masuk ke Aek Natonang. Gratis.
  • Jika piknik disana, mohon jaga kebersihan. Bawalah pulang sampah Anda. Disana tidak ada tempat sampah. Kecuali kalau Anda makan-minum di warung dekat pintu masuk Aek Natonang.
  • Siapkan baju hangat, disana dingin.