Lumpia Malioboro

Karena satu dan lain hal, rencana semula mampir ke Mirota, yang ternyata udah sekitar dua tahun berganti nama menjadi Hamzah Batik, terpaksa berganti.

Hari mendung, agak gerimis. Saya berjalan kaki menyusuri jalanan Malioboro yang terkenal itu. Melewati pasar Beringharjo, kuda, becak, penjual batik dan oleh-oleh tumpah ruah.

Di dekat hotel Mutiara langkah terhenti gara-gara harumnya aroma yang cukup tajam (yang saya yakini adalah aroma gorengan), menggoda penciuman.

Ternyata benar.

Tak jauh dari tempat saya berhenti terdapat gerobak kaki lima menjajakan lumpia dengan dua pilihan, yakni ayam atau spesial. Yang ayam berisi sayur dan ayam, sedangkan yang spesial berisi sayur, ayam, plus telur puyuh.

“Harum amat lumpia gorengnya….” saya menyapa mas-mas yang sedang sibuk menggoreng lumpia di dalam kuali lebar.

“Iya… minyaknya baru terus makanya harum… Ini ada lima jirigen minyak baru….” jelasnya sukarela sambil menatap ke arah minyak-minyak dalam jirigen di dekat kakinya.

Berhubung cuma nambah lima ratus perak buat dapetin yang spesial, pilihan saya pun jatuh kepada yang spesial. Saya pesen satu. Pengen nyoba dulu. Kalo misalnya gak cocok di lidah biar gak mubazir. Ntar kalo cocok bisa nambah lagi.

 

“Makan sini atau bungkus?” tanya si abang sembari tangannya sibuk mengaduk penggorengan.

“Makan sini….”

“Duduk dulu ya….”

Saya melihat sekeliling dan memilih duduk di dekat si abang agar leluasa menyaksikan dia beraksi, sekaligus agar lebih dekat dengan aroma gorengan yang harum banget itu.

Enggak nunggu lama, ia menyerahkan piring kecil berisi lumpia, acar timun (kalo gak salah), rawit tiga biji, dan di atas lumpia ada semacam sambal putih yang juga harum, yang ternyata adalah campuran dari bawang putih dan bengkoang mentah.

Garamnya gak banyak, sayurannya seger, bumbunya mantep, kriuknya pas. Sedap! Cocok banget dikunyah pas dingin-dingin gerimis.

Dua perempuan berjalan melewati gerobak sambil memerhatikan kami para pengunjung yang duduk menikmati lumpia hangat.

Setelah ngobrol sejenak, mereka akhirnya memutuskan membeli beberapa biji lumpia ayam untuk dibungkus.

 

Rasa emang berbicara. Makin lama, antrean yang beli makin rame. Enak, seger, terjangkau, pasti dicari orang.

 

 

Advertisements

Mengelilingi Ha Long Bay

Sejarah adalah milik mereka yang mencatatnya. Demikian kata pepatah. Dengan peradaban yang telah berusia lebih dari 5000 tahun, dan yang sering mengklaim bahwa mereka adalah permulaan dari berbagai hal, Tiongkok atau Cina adalah salah satu yang memiliki catatan atau dokumentasi terbaik di dunia. Mulai dari cara mengawetkan makanan, bercocok tanam, hingga resep masakan yang akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Dan karena sekitar delapan puluh persen barang-barang yang saya jumpai sehari-hari di Indonesia adalah MADE in CHINA, wajar kalau saya penasaran bagaimana keseharian mereka, kan? Bisa sih dibaca lewat buku atau film. Banyak malah. Tapi tentu lebih afdol kalau bisa merasakan dan melihat langsung dengan mata kepala.

Pernah singgah di Hongkong dan Makau, tapi tetap saja saya masih penasaran pengen menginjakkan kaki di mainland. 😀 Dan lagi, ada pula pepatah terkenal lain berbunyi, “Kejarlah ilmu hingga ke negeri Cina.” Apa nggak bikin orang makin penasaran tuh? Kenapa mesti jauh-jauh ke negeri Cina?

Itulah sebabnya saya refleks membelalak sewaktu pemandu wisata kami dari Hanoi berkata bahwa dari Ha Long Bay kami bisa menuju Cina. Serius nih?

Tapi tak sampai lima menit, pemandu laki-laki yang mengaku pulang ke rumah tiap dua minggu sekali itu langsung menambahkan kalimat, “…. tapi kita mesti berenang… dan berisiko ditembaki penjaga perbatasan karena memasuki daerah mereka dengan ilegal….” Lenyap sudah impian menginjakkan kaki di daratan Cina. 😀 Ternyata dia cuma bercanda atau otaknya korslet sejenak. Barangkali gara-gara haus belaian istri yang mungkin udah lebih dari seminggu tak ditemuinya…

Dari pelabuhan (yang memang cuma sepelemparan kolor kalau mau ke daratan Cina jika dilihat dari googlemap), perahu kecil yang mengantarkan rombongan kami yang berasal dari berbagai negara itu tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di kapal induk (kalau boleh saya menyebutnya 😀 ), yakni kapal bertingkat yang akan kami gunakan untuk berkeliling sekaligus bermalam di teluk Ha Long atau teluk naga nyungsep (meminjam istilah ponakan saya). 😀

Persinggahan pertama adalah Hang Sung Sot, salah satu gua yang berada di bukit-bukit kapur. Tapi sebelum memulai petualangan, lagi-lagi pemandu kami si Bang Toyib itu bikin kami cengengesan. Dia mewanti-wanti agar nantinya kami tak kaget apabila menjumpai banyak batuan yang bentuknya menyerupai alat kelamin pria…. Dimulai dari bukit yang menjulang gagah ini…

mirip gak menurut kamu?

Saya enggak begitu mendengarkan penjelasan pemandu kami tentang detil gua yang keindahannya bikin saya tercengang ini. Saya sempat bertanya kapan guanya ditemukan dan sejak kapan dibuka kepada umum. Dia memberi jawaban, tapi saya lupa jawabannya. 😀 😀 😀 Maapkanlah. Saya betul-betul lupa saking terpesonanya, ditambah efek pencahayaan spektakuler membuat saya tak bisa konsentrasi dengan penjelasannya. Rasanya seperti melihat mahakarya di galeri seni. 😀

Tempat lain yang kami singgahi adalah peternakan mutiara. Ternyata sebuah mutiara itu bisa diperoleh setelah bertahun-tahun dierami tiram sodara-sodara. 😀 Pengunjung diminta memilih salah satu tiram dan menyerahkannya kepada petugas untuk dibedah. Beruntung, tiram yang saya pilih memiliki mutiara cantik di dalamnya.

mutiaranya yang bulat kecil putih di tengah

Saya pikir karena berhasil menemukan tiram yang ada mutiaranya, maka itu mutiara bisa dibawa pulang dengan cuma-cuma buat kenang-kenangan. Eh, taunya enggak. Mesti beli coy. Mihil pulak. Berjuta-juta kakak. Hahahhh…. Mending beli saus tiram deh biar bisa dipake buat masak nasi goreng. Hahahahahahah….

Setelah matahari terbenam, kapal kami merapat pada salah satu ceruk di balik salah satu bukit kapur. Mungkin dimaksudkan agar kapal kami tak terlampau terpapar angin malam yang dingin menggigit.

Malamnya saya tidur pulas di pelukan sang naga, dan bermimpi mengunyah baklava di Beijing.

Kebun Bunga Matahari di Changi

Menunggu bisa menjadi salah satu kegiatan paling membosankan bagi mereka yang enggak ada ide mau ngapain.

Jika kamu kebetulan berada di bandara Changi, mungkin sedang menunggu pacar yang enggak jelas entah kapan akan melamar, atau mungkin sedang menunggu gajian yang juga enggak jelas entah kapan akan dibayar, kebun bunga matahari adalah jawabannya. 😁

Pergilah ke rooftop terminal 2, persis di dekat movie theater, dan kamu akan dikelilingi warna kuning ceria yang seketika bisa mencerahkan harimu. 😁

 

Satu lantai sebelum kebun bunga matahari juga terdapat kebun anggrek dan kolam ikan yang penampakannya enggak kalah cakep kayak lukisan.

 

Gimana? Saking cantiknya kamu akhirnya lupa sama urusan pacar dan gajian, kan? 😆😆

Dolok Sanggul 1.0

Pagi jam lima, saya terbangun di kamar yang dingin. Meski telah mengenakan kaos kaki dan berbalut selimut tebal, tetap saja dingin menerobos. Continue reading

Sendiri ke Wonogiri

Di sinilah saya. Dalam kereta Argo Dwipangga di stasiun Gambir, Jakarta Pusat, yang sebentar lagi akan berangkat menuju Solo Balapan, memenuhi undangan teman saya untuk berlibur di kampung halamannya Wonogiri, Jawa Tengah. Tadinya seorang teman saya yang lain ingin ikut. Namun di menit-menit terakhir ia membatalkan. Ada urusan dengan calon mertua katanya. Tadinya pun saya pikir teman saya si Tuan Rumah akan datang ke Jakarta, sehingga bersama-sama kami akan berangkat ke Wonogiri. Ternyata tidak.

“Aku akan memandumu lewat sms,” katanya dalam pesan pendek yang ia kirim beberapa hari yang lalu. Great. Saya akan bepergian seorang diri ke daerah yang sama sekali belum pernah saya datangi. Wajib banyak berdoa, nih. Batin saya.

Untuk menghemat ongkos, sesuai panduan teman saya si Tuan Rumah, mestinya saya berangkat naik bis kemarin sore. Tapi begitu tiba di terminal Kampung Rambutan, bis tujuan Wonogiri sudah berangkat. Tidak jelas entah kapan bis selanjutnya akan berangkat, saya pun putar haluan ke Gambir. Berhubung hari sudah malam, saya putuskan menginap di kediaman seorang teman tak jauh dari stasiun kereta Gambir.

Bersama ransel hitam bulukan yang selalu setia menemani bertualang, keesokan harinya pagi-pagi sekali, saya bertolak ke stasiun kereta. Suasana agak lengang ketika saya tiba di sana. Namun di depan loket penjualan tiket, telah mengantri beberapa calon penumpang. Dalam hati saya memohon kepada Tuhan agar kedatangan saya tak sia-sia. Anda tahu sendirilah, menjelang akhir tahun atau hari-hari besar seperti Idul Fitri atau Natal, agak sulit mendapatkan tiket jika tidak dibeli dari jauh hari.

Hampir tiba giliran saya dilayani petugas, seorang calon penumpang yang tak sabaran, memotong antrian dari sisi kanan agar ia dilayani terlebih dahulu. Inilah penyakit kronis bangsa kita yang sampai sekarang belum juga sembuh. Tentu saya tidak terima. Bagaimana jika tujuan perjalanan kami sama-sama ke Solo Balapan, dan tiket hanya tersedia untuk satu orang? Apa saya mau berbagi tempat duduk dengannya atau duduk di pangkuannya? Atau apa saya rela menunggu satu hari lagi ke Wonogiri? Tentu tidak. Memikirkan kemungkinannya seperti itu, tanpa basa-basi saya langsung berkata, “Ke Solo Balapan, satu orang, mas!”

Permohonan saya dijawab. Tiket ke Solo Balapan masih tersedia. Wonogiri pun segera terbayang di pelupuk mata. Selama beberapa jam berikutnya, saya menghabiskan waktu dengan mengabadikan momen-momen menarik seperti indahnya sawah dan bebukitan hijau di bawah langit biru, pria yang tampak amat serius mengamati henponnya di belakang jendela kaca yang retak, remaja-remaja tanggung di gerbong E37, nama-nama stasiun yang menjadi tempat perhentian sesaat sebelum kereta kembali melesat menuju stasiun berikutnya, dan yang membuat saya bertanya-tanya apakah suatu hari nanti saya bisa kembali mengunjungi mereka. Walaupun mungkin saya tak pernah kembali lagi, yang jelas saya telah menorehkan jejak di sana, meski hanya berupa persinggahan sesaat di stasiun keretanya. 😀

 

Sore sekitar jam empat, kereta tiba di Solo Balapan. “Dari stasiun, pergilah ke terminal bis dengan salah satu becak yang berseliweran di situ,” instruksi teman saya lengkap dengan info ongkos becak yang biasa ia bayarkan dari stasiun ke terminal. Setelah memilih becak dengan raut wajah abang becak yang ramah dan nampaknya bisa dipercaya, saya pun diantar ke terminal bis antar kota yang dimaksud teman saya si Tuan Rumah. Saat membayar ongkos becak, saya terkesima dengan cara si abang yang membuka kedua telapak tangannya saat menerima uang yang saya serahkan. Sopan sekali…

Usai berterima kasih, saya melanjutkan petualangan mencari bis yang bermuara di salah satu tempat di Jawa Timur seperti yang diinstruksikan teman saya Nona Wonogiri itu. Setelah ketemu, ternyata bisnya berangkat tak lama lagi. Ah, syukurlah saya tak perlu menunggu lama.

Kemudian teman saya memberitahu satu nama perempatan di mana saya harus turun. “Jangan lupa kamu bilangin ke kernetnya. Kalau nggak, bisa-bisa kamu nyasar sampai Jawa Timur,” pesannya.

Hari sudah mulai gelap ketika bis menurunkan saya di perempatan yang menjadi tujuan akhir petualangan saya hari itu. Setelah menemukan posisi berdiri yang aman di dekat warung, saya pun langsung menghubungi teman saya si Nona Wonogiri, memberitahu bahwa saya sudah tiba dengan selamat di kampungnya. Tak lama, seorang perempuan cantik berambut pendek berkulit sawo matang datang bersama motornya.

Ia memekikkan nama kecil saya. “Akhirnya kamu nyampe juga di kampungku!” sambutnya bersemangat. Kami berpelukan. Terbayar sudah perjalanan panjang yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Selagi berada di boncengan, saat motor kami melewati rumah-rumah penduduk yang bentuknya sederhana, saya bertanya-tanya, petualangan macam apa yang akan diberikan daerah yang secara harfiah berarti ‘hutan di pegunungan’ ini kepada saya. Tapi itu besok. Sekarang saya hanya ingin beristirahat dan bertemu keluarga besar teman saya itu.

 

 

Jim Thompson House & Museum

Bisa dibilang, tempat ini adalah oase di tengah hiruk pikuk serta panasnya Bangkok. Serius, Bangkok panas banget. Balikpapan yang menurut saya udah panas banget, ternyata lewat pemirsa….

Menuju Jim Thompson House & Museum (JTHM) bisa dengan menggunakan BTS Skytrain dan turun di stasiun National Stadium, ambil pintu keluar Exit 1. Berhubung tempat kami menginap tidak jauh dari JTHM, maka kami cukup berjalan kaki beberapa meter saja kesana.

Tiket masuk 100Baht per orang. Dengan kurs 1 Baht sekitar Rp 300, maka harganya sekitar Rp 30.000. Harga segitu sudah termasuk dengan pemandu wisata yang akan memandu kita selama perjalanan mengelilingi rumah. Turnya sendiri berlangsung sekitar 35 menit.

Lalu siapa, sih, Jim Thompson yang katanya pionir kerajinan sutra Thailand itu? Menurut pamflet resminya yang dibagikan di pintu masuk, ia adalah:

“An American who was born in Greenville, Delaware, in 1906. A practicing architect prior to World War II. He volunteered for the service in the U.S. Army, campaigned in Europe and was later sent to Asia. He was sent to Bangkok a short time later as a military officer and fell in love with Thailand. After leaving the service, he decided to return and live here permanently.

The hand weaving of silk, a long-neglected cottage industry, captured Jim’s attention and he devoted himself to reviving the craft. Highly gifted as a designer and textile colorist, he contributed substantially to the industry’s growth and to the worldwide recognition accorded to Thai Silk.

On March 26th 1967, Jim Thompson disappeared while on a visit to the Cameron Highlands in Malaysia. Not a single valid clue has turned up in the ensuing years as to what might have happened to him. His famous Thai house, however, remains as a lasting reminder of his creative ability and his deep love of Thailand.”

***

Sebelum beliau hilang, dulunya rumah ini juga sudah dibuka untuk umum selama dua hari dalam seminggu. Setelah hilang, keponakannya memberikan rumah ini ke pemerintah Thailand untuk dikelola.

Pengunjung dilarang mengambil foto di bagian dalam rumah. Sedangkan bagian luarnya boleh-boleh saja di abadikan. Rumahnya sendiri adalah rumah tradisional Thai yang dibangun dengan mempertimbangkan aspek-aspek keamanan serta mengikuti kepercayaan Thai. Contohnya penempatan tempat pemujaan di sudut sebelah kanan rumah, kemudian penempatan balok-balok pemisah dari satu ruang ke ruang yang lain yang dipercayai bisa menangkal roh jahat, dlsb.

tempat pemujaan di sudut kanan depan rumah

Tempat Pemujaan di Sudut Kanan Depan Rumah

Saya sempat bertanya ke pemandunya apakah beliau punya anak. Soale saya penasaran dengan adanya pispot untuk anak perempuan dan laki-laki yang menyiratkan kalau dirumah itu ada anak kecil. Ternyata tidak ada, kata sang pemandu. Lantas untuk siapa pispot-pispot itu? Untuk keponakan-keponakan yang tinggal bersamanya.

Terakhir saya tanya juga tentang keberadaan istrinya. “Sudah meninggal,” jawab si pemandu pendek seolah tidak ingin diganggu lagi oleh pertanyaan-pertanyaan saya 😀 .


Jangan kuatir kelaparan sehabis mengelilingi rumah. Ada resto di situ. Makanannya enak dengan harga terjangkau. Ada toko suvenirnya juga.

Dan sebelum keluar dari JTHM, saya mampir sebentar ke toiletnya. Pas mau pergi naik shuttle-nya yang gratis antar jemput dari dan ke jalan raya, petugas tiketnya teriak-teriak ke arah saya sambil memegang henpon, “Henpooon.. Henpooon…” Awalnya saya nggak ngeh. Setelah beberapa detik, barulah saya sadar bahwa itu adalah henpon saya. Rupanya henpon saya tinggal di toilet dan penjaga kamar mandinya yang nemuin. Ya, ampun. Nyaris saya kehilangan henpon lagi gara-gara keteledoran saya. Kan, nggak lucu kalau henpon saya hilang dua kali dalam satu semester… Ternyata oh ternyata, masih ada orang jujur di Bangkok….

Di hari kepulangan kami, di bandara Don Mueang, pas lagi nunggu pesawat terbang kelas kambing berangkat 😀 , saya lihat ada gerainya JT disana. Iseng-iseng, saya dan suami ngecek harga barang-barangnya yang ternyata rata-rata lebih murah 200Baht sodara-sodara. Huahahaaa…  Tahu gitu, mending saya beli di bandara aja daripada di gerai utamanya 😀 . Tapi 200Baht kalau dikurskan ke rupiah nggak terlalu signifikanlah, ya. “Cuma” sekitar 60 ribu rupiah. Kecuali bedanya 200 ribu… Teteeeeup… Bu-ibu hobinya itung-itungan huahhahahaaaaaa… Makanya saya mohon kepada siapapun presiden yang terpilih nanti supaya nilai tukar rupiah harap diperkuat. Jangan melempem melulu kayak sekarang 😀 . Supaya kalau beli ini-itu pas jalan-jalan, otak bu-ibu nggak itung-itungan melulu hahahahaaaa….

Dua Jam di Siantar

Siantar

Siantar

Pematangsiantar atau Siantar sering dijadikan sebagai tempat persinggahan jika hendak menuju Samosir dari Medan, via jalan raya lintas Sumatera.

13 sutomo siantar

Nah, jika kebetulan Anda hanya punya dua jam saja di Siantar, lakukan hal-hal berikut:

1. Beli kue di toko kue Ganda

Siantar hampir selalu diasosiasikan dengan toko kue Ganda. Dari saya masih kecil banget sampai sekarang, tokonya masih saja ramai diserbu pembeli. Apalagi kalau pas hari raya seperti bulan Desember yang lalu, masuk ke tokonya sampe harus berdesakan.

Kadang saya kasihan sama toko kue yang berada persis di sebelah Ganda ini. Si Ganda ramai, toko sebelahnya sepi pengunjung. Memang sih, alasan sebagian besar pengunjung datang ke Ganda adalah untuk bernostalgia. Saran saya, belilah roti isi selai srikaya serta roti kelapa.

2. Makan mi pangsit di Mie Pansit Parapat

Belum sah ke Siantar kalau Anda belum makan pangsit Siantar. Ada begitu banyak penjual mi pangsit yang enak-enak di Siantar ini, tapi langganan kami adalah Mie Pansit Parapat yang terletak di Jalan Sutomo. Mi pangsitnya tak pernah mengecewakan. Iya, nama tokonya memang mengandung kata “Parapat”, padahal ia berada di Siantar. 😀

3. Reparasi Jam

Reparasi Jam

Reparasi Jam

Tiba-tiba jam tangan Anda mati di Siantar? Ganti saja baterainya di tukang reparasi jam yang beberapa berada di sepanjang jalan Sutomo.

4. Belanja ke Pajak Horas

Pajak atau pasar Horas adalah pasar terbesar di Siantar. Semuanya ada di sini. Dari mulai sayuran hingga racun untuk tanaman pun ada di pajak ini. Masuklah ke dalam pasar yang berada di Jalan Merdeka ini dan rasakan sensasi berbelanja di dalamnya. 🙂

5. Makan sate dan es krim di Coca Cola Ice Cream Bar

Setelah mutar-mutar di Pajak Horas, haus dan lapar pasti melanda lagi dong kan? 😀 Kenapa? Anda nggak lapar lagi? Ah, itu perasaan Anda saja 😀 . Tapi, lapar nggak lapar, cobalah menikmati es krim dan sate maknyus di toko es krim yang sudah lama berdiri di Jalan Cipto Siantar ini. Lupakan diet kalau sedang berada di Siantar. 😀

6. Last but certainly not least, naik Becak Siantar

6 becak siantar

Becak Siantar

Satu lagi yang sebaiknya dilakukan, agar Anda disebut sah ke Siantar adalah: naik becak Siantar. Konon becak Siantar ini diusulkan agar menjadi benda cagar budaya.

Becak ini paling ramai nongkrong di Pajak Horas. Saya dan suami pernah naik becak ini dari Siantar menuju Tiga Balata. Dengan membayar sebesar tujuh puluh ribu rupiah, tukang becaknya senang, kami pun senang. Nostalgia terbayar. 😀 Tapi Anda nggak perlu mengambil rute sejauh ke Tiga Balata, karena waktu Anda kan hanya dua jam. 😀 Cukup naik becak di dalam kota. Misalnya dari Pajak Horas ke Coca Cola Ice Cream Bar. 🙂

 

Kota Tua

Kalau ditanya kawasan mana yang paling saya suka di Jakarta, dengan lantang dan pasti saya akan menjawab: Kota Tua. Mengapa? Mungkin karena saya penggemar sejarah dan bangunan-bangunan tempo doeloe :D. Bangunan-bangunan di Kota Tua ini kan rata-rata bangunan bersejarah yang merupakan peninggalan kolonial Belanda. Ada beberapa bangunan yang masih digunakan sampai sekarang, namun ada juga yang masih berdiri namun tidak digunakan lagi.

Berhubung saya kurang suka wisata ke mall/plaza, maka semasa di Jakarta, tiap kali ada teman atau saudara datang dari Sumatra Utara (Sumut), selalu saya bawa berwisata ke Kota Tua :D. Dan semua orang yang pernah saya bawa kesana, rata-rata senang dengan pengalaman itu :D. Ya iya dong, soale kalau jawabnya nggak senang, nggak boleh datang ke Jakarta lagi hahahaha :D.

***

Ada satu gedung kosong di Kota Tua yang merupakan tempat favorit saya (dan tempat favorit sejuta umat pencinta fotografi) untuk memotret :D. Gedung ini juga sering digunakan untuk tempat syuting film, video klip, dlsb. Saya juga pernah mengabadikan momen pranikah/prewedding teman saya di gedung tersebut.

Suatu kali, saya mengajak Ibu saya yang datang dari Sumut untuk berwisata ke Kota Tua. Seperti yang biasanya saya lakukan kalau ada “turis” datang, saya pun mengajak beliau masuk ke gedung tersebut untuk foto-foto. Tapi tidak seperti biasanya, hari itu sang penjaga gedung tidak mengizinkan kami masuk. Alasannya karena di dalam sedang dilakukan syuting video klip.

Tidak menyerah, saya pun menggunakan “jurus sakti”, yang sebenarnya belum pernah saya lakukan hingga saat itu (soale selama ini izin-perizinan selalu mulus, meskipun di dalam ada kegiatan syuting atau pemotretan). Dengan wajah memelas, saya bilang kepada sang penjaga, “Pak, tolonglah, Ibu saya datang jauh-jauh dari Medan ke Jakarta hanya untuk foto-foto di gedung ini. Dan besok beliau akan pulang. Masak iya, Bapak nggak ngasih kami masuk ke dalam? Tolonglah Pak… Untuk kenang-kenangan.” Beliau terdiam sebentar dan melihat kami dari atas sampai bawah. Entah apa yang dipikirkannya hahahahha :D.

Namanya juga usaha, minta tolong, tangan berada di bawah. Di kasih syukur, nggak dikasih apa boleh buat. Sudah siap untuk jawaban terburuk alias penolakan, eh, tahu-tahu si Bapak membolehkan kami masuk sodara-sodaraa. Hahahah :D.

“Makasih banyak, Bapak” :D. Beliau berpesan supaya kami tidak ribut dan tak berlama-lama di dalam :D. Kami pun masuk dan saya mengabadikan Ibu saya disitu :D.

***

Well, berikut ini beberapa foto dari Kota Tua yang pernah saya abadikan. Enjoy!

siluet dia

Siluet Dia

kerta niaga

Kerta Niaga

Sepeda di Bawah Pohon

Sepeda di Bawah Pohon

Pranikah

Prewedding

Jendela

Jendela

Dia

Dia

Tangga

Tangga

Si Cantik

Si Cantik

Jendela-jendela

Jendela-jendela

cafe batavia

Cafe Batavia

***

Kalau Anda senang Jakarta kawasan mana, kawans? Pernah punya pengalaman menarik di Kota Tua? 🙂

***

Tulisan lain tentang Jakarta: