Mungkin Nanti Akan Kurus Lagi

Pernah ada satu masa dimana saya sangat senang dengan desain eklektik, dan senang dengan tembok penuh hiasan maupun foto. Rasanya ada yang kurang kalo tembok belum rame. ๐Ÿ™‚

Lalu, entah yang mana duluan, apakah karena sering melihat gambar-gambar desain minimalis ala Skandinavia dengan warna-warna teduh, atau karena kunjungan ke airbnb Jakarta yang menyenangkan itu, yang tempatnya didominasi warna terang dan warna natural, saya pun makin tertarik dengan minimalisme.

Dalam buku Mengajar Seperti Finlandia, penulisnya mengatakan bahwa tempat tinggal di Finlandia dibuat sesederhana mungkin agar nyaman. Seperti gaya IKEA: minimalis, fungsional, dan tetap memerhatikan estetika. Dan orang-orang Finlandia secara aktif ikut serta dalam bermacam kegiatan diluar pekerjaan dan sekolah mereka. Sehingga, rumah berantakan dipenuhi barang bukanlah kebiasaan mereka.

Seperti yang pernah saya tuliskan, airbnb di Jakarta itu sederhana saja. Satu dapur, living room, kursi dan meja makan, semua terekspos tanpa sekat, membuat ruangan yang sebetulnya kecil terlihat luas. Hanya kamar tidur yang tertutup, karena ini area pribadi.

Walau hanya menumpang beberapa hari saja di sana, itu sudah cukup buat saya. Saya lalu berpikir, jika hanya untuk tinggal beberapa hari saja cukup dengan barang-barang yang tersedia di sana, mestinya itu pun sudah cukup untuk jangka waktu yang lama.

Satu pertanyaan penting muncul: jika barang-barang fungsional yang paling sering digunakan untuk sehari-hari sudah cukup, lantas untuk apa menjejali rumah dengan barang-barang yang bahkan mungkin tidak akan dipakai atau tidak akan dilihat lebih dari dua kali?

Apa yang sering kita lihat, dengar, maupun baca, kita akan semakin sering terpapar olehnya, dan akan semakin mirip dengannya. Mungkin karena semakin sering saya melihat gambar-gambar minimalis tadi, saya bertekad mewujudkan visi minimalis ini. Saya pun mulai introspeksi dan memilah mana barang-barang yang bener-bener masih dipakai dan mana yang tidak dibutuhkan lagi.

Ternyata barang-barang yang tak dibutuhkan itu banyak saya simpan di lemari. Seperti pakaian, misalnya. Saya simpan karena saya pikir suatu hari nanti akan kurus lagi. Ternyata, setelah bertahun-tahun, tubuh saya bukannya makin kurus, dan saya jadi lupa bahwasanya mereka ada di lemari selama ini.

Dua tahun lalu saya pernah nonton satu film dimana tokoh utamanya senang memakai pakaian dari era jadul. Rupanya, sewaktu ibunya meninggal, ayahnya menjadi sangat sedih sehingga mendonasikan semua pakaian ibunya. Jadi, dia pikir, apabila ia terus memakai pakaian-pakaian dengan gaya jadul dari era ibunya itu, suatu saat nanti ia akan boleh mengenakan pakaian-pakaian ibunya tadi. Padahal tidak mungkin. Pakaian-pakaian ibunya tidak akan pernah kembali lagi. Pada akhirnya ia tersadar bahwasanya perbuatannya selama ini sia-sia belaka, dan mulai mengenakan pakaian dari era sekarang.

Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Artinya, sepatutnya kita bertindak bijaksana dan tepat dalam menggunakan harta benda atau berkat yang diterima. Prioritaskan kebutuhan hidup dan nomorduakan keinginan mata.

Tuhan Yesus dalam Doa Bapa Kami mengajarkan, โ€œBerilah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya.โ€ Secukupnya menunjuk pada kecukupan seseorang dalam hal yang dibutuhkan, dan pengawasan terhadap keinginan. Kecukupan juga menandakan keyakinan yang positif bahwa Tuhan telah mencukupi keperluan kita. Tuhan akan mencukupkan setiap kebutuhan kita, bukan keinginan kita.

Mungkin kita pikir dengan membeli lebih banyak barang, menonton lebih banyak film, membaca lebih banyak buku, mendengar lebih banyak lagu, memakan lebih banyak makanan, atau mengkritik sebanyak mungkin, dlst, akan mampu mengisi kekosongan jiwa. Tapi sebetulnya tidak. Hanya Tuhan Yesus yang mampu mengisi celah kosong tersebut, jika kita minta dengan rendah hati.

Biarkan Tuhan mengisinya, karena hanya di dalam Tuhanlah kita mampu berbahagia. ๐Ÿ™‚

 

 

 

 

Advertisements