Cara Menemukan Tempat Makan Enak (Kalo Kamu Lagi Traveling)

Baca review atau ulasan di mesin pencari dengan kata kunci, ‘tempat makan enak di Samosir’, ‘tempat makan enak di Jogja’, atau ‘tempat makan enak di Bandung’, misalnya, sah-sah aja sih sebenernya, tapi saya enggak pernah melakukan opsi ini.

Ngintip akun media sosial food curator atau kurator makanan pernah saya lakukan beberapa kali sampai akhirnya satu waktu saya keracunan makanan dari salah satu tempat makan yang dipromosikan oleh sang kurator di akun medsosnya. Mungkin waktu itu saya lagi apes aja makanya sampe mesti nginap satu malam di rumah sakit. Tapi setelah kejadian itu saya kapok dan enggak pernah mau dengar lagi apa pun yang dipromosikan si kurator di akun medsosnya. 😀 (ho oh, selain gak tegaan, daku anaknya kapokan juga 😀 😀 😀 ) #lemparpisangkapok #kalogakadapisangkapokpisangkepokpunjadi 😀 😀

Jadi yang paling efektif menurut pengalaman saya…

  • Dengerin rekomendasi orang lokal. Entah itu supir, pemandu, temen, atau sodara kamu yang tinggal di kota destinasi. Tambah afdol kalo mereka yang kamu tanyain itu emang suka nyobain makanan juga.

  • Yang tempatnya rame. Biasanya makanannya enak juga. Tapi tempat sepi belum tentu enggak enak lho. Saya dan suami pernah masuk ke satu resto yang sepi di Tangerang. Awalnya kami ragu saking sepinya. Tapi setelah melihat daftar menu yang koq keknya oke, kami pun masuk dan memesan salad jamur serta pancake coklatnya yang olalaa… enak banget! Jadi jangan terkecoh kalo sepi. You might find a gem. 🙂

  • Yang berasap. Ini paling cocok kalo dipraktekin di daerah dingin macam Samosir dan sekitarnya. 😀

Jadi gini ceritanya… (para pembaca dimohon gelar tikar ama nyiapin krupuk buat ngemil karena ceritanya panjang… 😀 😀 )

Rasanya baru sekejap berkeliling di Bakkara, tau-tau hari udah gelap dan perut kami udah keroncongan. Terakhir kali kami ketemu makanan berat adalah sewaktu rehat siang di Pangururan sekitar jam satu. Apalagi jika berada di daerah dingin perut cepat sekali rasanya lapar. Energi habis untuk menjaga tubuh tetap hangat. Pertanyaan ‘makan di mana kita’ akhirnya muncul. Kami pun berdebat apakah hendak mencari makan di Dolok Sanggul, atau cari tempat makan lokal di Bakkara.

Tapi masalahnya adalah, itu kali pertama kami ke Bakkara dan tiada saudara maupun keluarga yang bisa dimintai pendapat ‘di mana tempat makan paling rekomended di Bakkara’. Supir kami pun bukan orang lokal. 😀 Mau nyari di gugel, duh, plis deh, masa apa-apa pake gugel? Manja amat. 😀 😀 😀 Trus gimana dong?

Bapak saya, yang juga pencinta makanan itu, punya jawaban canggih:

“Tadi sewaktu kita melewati jalanan… ada kulihat satu warung namartimus… aku yakin masakan mereka enak…” ujar beliau.

Warung namartimus adalah warung sangat sederhana yang cara masaknya menggunakan kayu sehingga berasap.

Kalo orangtua ngasih pendapat, biasanya jarang meleset. Paling-paling kalau pun keliru, itu kemungkinan karena salah ucap istilah, seperti yang terjadi di insiden es cendol. 😀 Atau barangkali cara penyampaiannya yang enggak cocok ke kita anak-anak muda, tapi biasanya pesennya bener. 😀 Apalagi orangtua sudah lebih lama mengecap asam garam di dunia persilatan ini. 😀 Jadi tentu pengalaman mereka udah lebih banyak dari kita sehingga layak didengarkan. 😀

Maka sewaktu hari benar-benar udah gelap pekat, kami pun menepi di dekat warung yang dimaksud bapak. Setelah masuk, kami memesan satu-satunya menu yang tersedia, yakni ikan nila bakar yang kalau menurut kakak yang menyatat pesanan kami malam itu, “Ikannya kecil-kecil…..”

Bagi kami yang udah kelaparan, ukuran ikan bukan lagi masalah. Kami akan menyantap entah sebesar apa pun ukuran ikan yang akan disuguhkan. 😀 Dan benar saja, begitu ikannya muncul (yang mana kalau menurut kami ikannya bukanlah kecil-kecil, melainkan besar-besar 😀 ), air liur saya langsung terbit melihat betapa seksinya ia dengan jejak kehitaman berkat proses pemanggangan, serta sambal tombur yang dibalur di atasnya. Saya pun serta merta mengambil irisan jeruk nipis yang disediakan dan meneteskannya di seluruh ikan, dan segera menyantapnya. Maknyus! 😀

(foto ikan nila bakar tombur di atas cuma ilustrasi. berhubung malam itu pencahayaan di warung tidak mendukung kamera henpon untuk mengabadikan si ikan, maka kamera yang saya gunakan untuk menangkap gambar adalah mata saya, sehingga tak ada foto ikan bakar yang bisa diaplot di sini. 😀 )

Jadi bapak saya benar, ikannya enak. Bahkan enak banget kalo menurut saya. 😀 Sangat beda dengan makanan yang kami santap di Pangururan beberapa jam sebelumnya yang disajikan dingin. Manalah hari pun dingin, disuguhi makanan dingin pula, jadinya dingin kuadrat. 😀 😀

Karena kami terkesan dengan warung namartimus pilihan bapak di malam sebelumnya, maka keesokannya ketika tiba di Samosir, kami pun mencari warung namartimus lainnya untuk makan siang. Eh ketemu, dan masakannya enak pula!! 😀 😀 Tapi siang itu di Samosir saya tidak memesan ikan bakar, melainkan babi panggang yang rasanya enak banget! 😀

  • Yang beraroma harum. Seperti lumpia Malioboro di Jogja.
  • Resto penginapan. Kalo penginapan kamu ada restonya, cobalah makan di sana. Beberapa kali saya pernah makan siang atau malam di penginapan dan masakan mereka selalu menyenangkan saat disantap. Karena biasanya juru masak penginapan memang adalah orang-orang yang handal memasak. Kadang orang ragu atau langsung berasumsi jika makanan di penginapan itu mahal. Padahal belum tentu. Dan kalau mau itung-itungan, biaya transport yang dikeluarin untuk makan di luar penginapan malah bisa jadi sama dengan biaya makan di penginapan.

  • Rumah sendiri. Buat saya yang anak perantauan, pulang kampung ke rumah orangtua judulnya adalah traveling. 😀 Dan apa pun yang dimasak oleh ibu, buat saya selalu enak. 😀

Beberapa tahun lalu keluarga besar kami berlibur dan berkumpul merayakan akhir tahun bersama orangtua kami. Satu waktu, adik saya yang paling jangkung menyadari bahwa sejak pagi sampe malem, ibu selalu ia jumpai sedang sibuk ‘berkarya’ di dapur.

So my brother asked why she always looked so busy in the kitchen from early in the morning sampe malem.

Ibu bilang, “Kalo mama enggak masak, kita mau makan apa, nak? Kita mesti makan tiga kali dalam sehari. Pagi siang malam.”

At that time, i don’t really know how my mum manage it (perhaps becoz at that time i don’t really love cooking so i didn’t pay much attention on how she did it), but ibu saya cepat sekali memasak. Macam sim salabim. Dalam waktu kira-kira satu jam, tau-tau udah kelar aja tuh masak lauk, sayur, ama nasi. Kami anak-anaknya ya palingan cuma bantu ngerecokin dan bantu ngabisin makanan. 😁😁😁😁

Kalo kamu pernah lihat Jamie Oliver’s 15 Minute Meals, yakni acara memasak dari yang tadinya nihil or mentah, trus sim salabim lima belas menit kemudian udah kelar aja tuh makanan buat disantap oleh dia dan kru-krunya dia, nah kira-kira kek gitulah ibu saya masak. 😁😁 (tapi beliau gak pake acara ngobrol-ngobrol or jelasin ini ina inu ke kamera macam si Jamie ya) 😁😁

Pokoknya ibu kalo masak udah kayak enggak pake mikir lagi gitu. Tangannya udah otomatis ngeracik ini, bikin itu, tambahkan anu, potong cabe, masukin kecap, bla bla bla, dan voila, hasilnya seringkali enak serius. 😁😁😁

 

 

 

 

 

Advertisements

Kritis Kebablasan

Didasari kesadaran bahwasanya jagat raya maha luas ini tidak berputar di sekitar saya, maka saya mengucapkan selamat tinggal kepada kritik. Well, enggak 100% persen sih, karena dalam darah Batak sendiri keknya emang udah ada bibit-bibit kritis dari sononya. 😁😁😁

Keknya semua berawal dari medsos yang pernah saya tulis bulan April lalu. Sekali lagi, seperti yang pernah saya tulis di medsoswalking, saya yakin banyak orang yang hatinya terluka pas baca-baca beberapa (atau mungkin semua 😁) tulisan di blog ini yang bernada kritis (kebablasan). Karena sekarang saya sendiri yang geleng kepala bacanya. And i’m not proud of it.

Sampe akhirnya saya baca satu buku yang membahas tentang ‘dealing with people’ yang mengatakan bahwa orang-orang kritis adalah orang yang paling tak bahagia.

I was like: 😲😲😲

Seriously?

Nama Najwa Shihab pun melintas di kepala.

Satu waktu Najwa pernah diundang ke acara Teka-teki Sulit Waktu Indonesia Bercanda di NET TV. Sewaktu jawaban yang muncul di layar tak sesuai dengan yang dia sebut, Najwa kurang lebih berkomentar, “Keknya udah dituker nih jawabannya……”

Penonton tertawa, saya juga.

Nabila, co-host Cak Lontong, menanggapi komentar Najwa, “Orang kritis bawaannya curiga dan negatif thinking melulu ya?”

Bam! Saya tertampar sodara. 😭

Setelahnya, saya coba membaca beberapa media online yang terkenal kritis yang dulu sering saya sambangi. Mau ngetes apakah saya masih antusias seperti dulu. Ternyata baru beberapa detik membaca saya eneg. Bawaan pengen cepet-cepet nutup itu portal.

Saya coba lagi baca buku-buku ‘berat’ bermuatan sejarah yang membahas kejadian tak mengenakkan maupun ketidakadilan di masa lampau. Lagi-lagi saya merasa eneg. Which is tahun-tahun lalu buku-buku kek gini cepat banget saya lahap. Sekarang saya malah bertanya, “Kenapa orang masih baca buku-buku kek gini?”

I mean, dude, it’s over. Itu sudah berlalu and we’re not living in the past. Kita sekarang berada di sini, di masa kini. Kenapa tak baca atau dengar buku-buku maupun cerita yang bertutur tentang kasih, sukacita, dan kebaikan?

Kalau alasan membaca buku-buku ‘berat’ tadi adalah untuk bercermin dan agar tidak ikut-ikutan melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang-orang di zaman lampau itu ya monggo aja. Cuma sebaiknya cukup sekadar tau. Gak usah dibahas panjang kali lebar kali tinggi. 😉 Rasanya seakan menggarami dan memberi cuka pada luka.

Jadi sekarang, untuk berita-berita saya cuma baca satu media yang ngakunya memihak hati nurani rakyat dan jernih melihat dunia. Itu pun sering cuma baca judulnya doang. Karena lebih dari 80% berita yang belakangan berseliweran di sana cenderung mengabarkan korupsi, perang, korupsi, perang, kawin, cerai, korupsi, repeat.

Well, wajarlah ya, karena manusia memang selalu haus ‘drama’. Emang udah dari sononya begitu. Makanya berita yang laku dan cepat mendatangkan iklan ya berita-berita kek gitu. Jadi cukup sekadar tahu saja kabar-kabar yang sedang terjadi di jagat raya.

**

Kalo dulu mengkritik sesuatu atau seseorang itu rasanya seperti kebutuhan, maka sekarang…. mikir dulu berkali-kali. Karena kritik biasanya bermuatan ekspektasi, maka sekarang sebelum mengkritik seseorang atau sesuatu, saya ngaca dulu ke diri sendiri, apakah mampu menerapkan kritik yang saya lemparkan itu.

Itu sebabnya kemarin waktu pesawat saya pergi dan pulang ditunda 3 jam, saya tak lagi protes atau mempertanyakan ini-itu kepada staf maskapai penerbangan. Kalo dulu mah saya datangi stafnya sambil pasang muka jam dua belas dan koar-koar tentang hak dan kewajiban penumpang. 😁

Sekarang, saya tertawa saja dan menyambung baca buku Travel Young-nya Alanda Kariza. Rasanya lebih bermanfaat dan sukur-sukur saya bisa tetap young. 😁😁

And here i am now. Survive and alive, writing for you. That’s all that matters. 😄

Punya sikap kritis memang perlu ya. Yakni tidak gampang percaya dan rasa ingin tahu yang tajam. Tapi ada baiknya pisahkan dulu mana kritis yang berguna, dan mana kritis yang cuma ngotor-ngotorin lini masa or time line media sosial yang cenderung bikin orang yang membaca jadi berdosa. 😁

Jika menjadi kritis malah menjauhkan atau bahkan membuat kita kehilangan Tuhan, keluarga serta teman, apa iya sikap ini masih tetep dipertahankan?

 

 

 

Baca ini Sebelum Nonton Warkop DKI Reborn Part 2

Tanpa fans atau penggemar, suatu brand bukanlah apa-apa. Taylor Swift tahu betul itu hingga ia mendedikasikan video lagu ‘New Romantics’ khusus untuk para penggemarnya.

“The fans are the best part of this tour. They’re the reason the shows are incredible. And I know these fans out there are just… all in,” ujarnya di awal video.

All in’ sendiri (menurut salah satu kamus online yang saya intip) artinya adalah: to be totally committed to something.

Ditambah dengan hadirnya media sosial yang semakin mempermudah penggemar membagikan entah berita apa pun itu tentang brand yang mereka gemari tadi, keberadaan fans memang tidak main-main. Mereka menentukan hidup mati suatu brand.

Mungkin masih segar dalam ingatan kita sewaktu video insiden Dian Sastro dicolek fansnya tanpa sepengetahuan dia, menjadi viral di masyarakat hanya dalam hitungan detik. Dan bukan hanya viral, gara-gara insiden tersebut doi malah jadi bulan-bulanan oleh netizen. Kasian banget. 😦 Coba kalo para perundung ini berada dalam posisi Dian, bisa jadi mereka bakal melakukan hal yang sama…..

Kemungkinan insiden tersebutlah yang menjadi salah satu penyebab mengapa film Kartini yang ia perankan tidak begitu meledak di pasaran. Padahal film Habibie, yang bergenre sama seperti Kartini yaitu biopic (biographical movie), dan yang dibesut oleh sutradara yang sama yakni Hanung Bramantyo, hasilnya sangat menggembirakan.

Makanya pas kemarin-kemarin ada berita tentang Tora Sudiro yang terjerat kasus narkoba, saya sempat was-was juga apakah bakal berpengaruh besar kepada film Warkop DKI Reborn Part 2 yang waktu peluncurannya tinggal menunggu hari.

Bagi penggemar film kayak saya, tak ada yang saya harapkan selain film-film yang diputar di layar lebar atau entah di mana pun itu, hasilnya bisa diterima pasar dengan baik dan masyarakat terhibur. Angka-angka tidak bohong. Makin banyak yang nonton tentu makin baik, kan? Industri film nasional bisa terus berputar dan seniman lokal makin bersinar di negeri sendiri.

Dan sebagai penggemar berat Warkop DKI, tak ada yang saya harapkan selain film ini juga bisa diterima di hati masyarakat sebagaimana episode pertamanya yang meraup sekitar 6.8 juta penonton, hingga ditahbiskan sebagai film Indonesia paling laris sepanjang masa. *terharu 🙂 Untunglah kekuatiran saya tak terjadi. Melihat antrian yang berkelok-kelok di loket bioskop semalam, terbukti bahwa masyarakat masih sangat antusias menyaksikan kekonyolan demi kekonyolan yang dilakonkan Tora Sudiro cs. 😁

Adegan epik macam pesawat terbang yang mundur gara-gara sikat gigi ketinggalan atau bersembunyi di poster Khong Guan memang tidak ditemukan lagi dalam sekuel ini. Namun ada begitu banyak adegan yang tidak kalah epik yang bikin muka saya pegal karena ketawa melulu, bikin perut saya sakit akibat cekikikan, dan yang bikin saya pengen makan soto sehabis nonton. 😁

Betul, soto! Makanan yang amat membumi dan bisa dengan mudah ditemukan di seluruh penjuru Indonesia: soto! 😁😁

foto: ameliacatering.net

Kalo hari ini belum ada rencana apa-apa, buruan deh tonton ini film di bioskop. 😁 Saya yakin, abis nonton kamu pasti pengen langsung ngunyah soto. 😆😆😆 Dan, sebelum nonton, harap diingat, ini film komedi, bukan drama psikologi. 😆 Jadi jangan terlalu serius. 😆😆😆

Udah dulu ah, saya mau nyari soto. Soto mana soto? 😂😂😂

 

 

Medsoswalking

Jangan bilang siapa-siapa kalau selama ini saya suka intip-intip beberapa akun medsos alias media sosial ya…? XD Saya enggak setuju kalau dibilang stalking, karena keknya konotasinya negatif ya? Medsoswalking mungkin lebih cocok. Semacam blogwalking kalau di dunia perblog-an.

Lalu kenapa pula saya medsoswalking? Jadi gini kawan, setelah membaca kembali blog ini selama setahun kemarin, ternyata sebagian besar berisi postingan protes dan marah-marah. XD XD Saya yakin, mata kalian pun pasti sakit sewaktu membacanya. *mohon dimaapkan ya para pembaca budiman… 🙂

Puncaknya barangkali menjelang akhir tahun kemarin. Saya betul-betul muak dengan maraknya pemberitaan negatif. Tapi yang membuat saya mendengar, membaca, dan melihat pemberitaan negatif itu sebenarnya tak lain tak bukan adalah diri saya sendiri, karena saya membiarkan diri sendiri dikuasai energi negatif.

Saya pikir, “Oke, sudah cukup. Saya tak mau lagi berkutat dalam kubangan lumpur negativitas dan kawan-kawannya….” Saya yakin sejak saat itulah semesta bersatupadu menolong saya untuk kembali ke jalan yang benar dan lurus, meski sesekali tersandung kerikil-kerikil tajam.

Mengikuti saran dokter Tan Shot Yen yang mengatakan bahwa, “Jika seseorang sakit gara-gara makanan yang dia konsumsi, maka bukan obat yang diperlukan, melainkan menghindari penyebabnya,” saya memutuskan untuk tidak lagi membaca, melihat, maupun mendengar hal negatif, termasuk beberapa blog dan akun medsos. Godaan itu kadang muncul, tapi saya langsung mengusirnya karena yakin enggak bakalan ada manfaat positif jika saya membaca postingan-postingan mereka.

Tak lama setelah saya memutuskan meninggalkan kubangan lumpur negativitas tadi, saya medsoswalking dan tak sengaja menemukan satu akun medsos keren yang bagi saya isinya semacam brankas kebahagiaan dan bahan bakar bagi jiwa untuk melakukan hal-hal positif.

Akun medsos ini mengajak para pengikutnya untuk menutup mata bagi postingan maupun kabar kabur bernada negatif.

“Tutuplah matamu untuk kejahatan. Bila ada postingan bernada ‘miring’, tidak usah dibahas, tidak usah direpost, reblog, regram atau diforward. Karena jika kita meneruskan berita-berita negatif, kita menjadi kaki tangan mereka,” tulisnya satu waktu.

Bermainlah di bawah matahari, dengarkan burung-burung bernyanyi. Ada begitu banyak hal indah di luar sana yang bisa kau lihat dengan matamu yang indah itu. Juga ada begitu banyak hal indah dan manis di luar sana yang bisa diucapkan oleh bibirmu yang indah itu. Telingamu yang indah pun, gunakanlah untuk mendengar hal-hal yang sedap didengar,” tulisnya lagi di lain waktu.

Bacanya bikin hati jadi adem, ya? 🙂

Hidup kita saat ini mungkin tak lagi bisa lepas dari medsos. Namun kita masih bisa menyaring medsos mana yang layak dibaca, dilihat, didengar, dan yang bisa mengukir selengkung senyum di wajahmu yang cantik dan tampan itu. 🙂

 

 

 

 

20 Kegiatan Menyambut Tahun Baru

Masih liburan dan bentar lagi tahun baru, tapi kamu belum punya ide mau ngapain? Ini nih 20 hal yang bisa kamu lakukan menyambut tahun baru. 😉

1. Nyapu teras rumah.

om telolet om

Liburan waktunya bersih-bersih. Siapa tahu pas lagi nyapu kamu beruntung ketemu daun atau ranting yang fotogenik, trus dijepret, trus disablon di kaos, trus jual kaosnya. Tahun baru bisa jadi duit, kan? 💰💰💰


2. Belajar bahasa asing. 

belajar bahasa asing

Manfaatnya banyak lho. Salah satunya kalo semisal kamu belajar bahasa Batak dan suatu saat jalan-jalan ke Samosir, kemungkinan kamu dikasih diskon besar oleh penjual suvenir gara-gara lancar tawar-menawar dalam bahasa Batak. 😄

 

3. Ke mall.

di mall semuanya ada

Mau cari apa aja keknya semua ada deh di mall.

 

4. Pantengin medsos, whatsapp, Line dan sejenisnya.

Buat yang liburan enggak ke mana-mana, mungkin bisa membantu teman-teman yang membutuhkan pertolongan lewat whatsapp. Kali ada yang nanya: “Man-teman, mohon infonya dong bikin sarapan enak sedikit lemak untuk porsi dua orang dewasa,” Kamu bisa bantu jawab dengan…

Siapkan:

• wortel ukuran sedang 2 buah

• kentang ukuran besar 1/2 buah

• sayur labu siam (umumnya cuma 1 ukuran di pasar) 1/2 buah

• tomat merah 2 buah kalo ukuran sedang (kalo ukuran besar pakai aja 1 buah, kalo ukuran kecil-kecil kayak tomat ceri pakai 8 buah)

• olive oil atau minyak zaitun (gunakan yang untuk salad atau dressing, bukan untuk menggoreng)

• madu

Cara mengolah:

• potong-potong semua bahan sayuran dan buah, lalu kukus sampai matang. Ukuran matang: kentang tidak lagi keras.

• setelah matang, bagi ke dalam 2 piring atau mangkuk, lalu masukkan ke tiap piring: olive oil 1 sdm, madu 2 sdm. (Kalo dilebihin dikit juga tak apa 😁 malah makin enak. hahaha)

• selamat menikmati 😊

NB: Bagi yang malas mengunyah, blender saja semua bahan yang sudah dikukus tadi, ditambah air matang secukupnya (kalau terlalu encer jadi aneh rasanya). Setelah halus, masukkan ke dalam gelas dan campurkan olive oil serta madu secukupnya sampai rasanya cocok di lidah kita. Hasil blenderan ini masih cukup aman dikonsumsi dalam 3 hari jika disimpan dalam kulkas.

Jika selama 362 hari enggak bisa bantu, ya enggak apa-apa lah 4 hari doang bantu teman ya 😉 Lebih baik melakukan sesuatu yang sederhana daripada tidak melakukan sama sekali, kan?


5. Pantengin medsos lagi (masih untuk yang liburan di rumah aja dan enggak ke mana-mana, so pasti makin sering mantengin medsos, kan?). 

Musim liburan kan biasanya banyak yang mudik dan pake jasa sewa mobil atau kendaraan. Nah, kalo ada temen yang minta tips sebelum nyewa mobil, khususnya mobil lepas kunci tanpa sopir, kamu bisa bantu jawab:

Sewaktu serah terima mobil, periksa terlebih dahulu semua bagian mobil sebelum mobil dibawa pergi. Kalau perlu, minta kepada pemilik mobil daftar tertulis yang perlu dicek, dan yang ditandatangani pemilik mobil.

Karena pernah ada kejadian, setelah mobil dikembalikan oleh penyewa, si pemilik mobil mengatakan bahwa ada bagian-bagian yang rusak. Padahal yang sebetulnya terjadi adalah kondisi mobil memang sudah rusak sejak awal. Tapi karena si penyewa enggak ngecek saat serah terima, akhirnya dia harus membayar sekian juta gara-gara komplain pemilik mobil.


6. Ziarah ke makam keluarga yang telah pergi mendahului kita.

makam

7. Buat yang punya ponakan, mungkin bisa dibawa naik komidi putar. 

komidi putar

8. Main-main ke Talaga Sampireun Bintaro.

talaga sampireun

Tempatnya asri banget dan herannya enggak ada nyamuk.

 

9. Jenguk pasien gangguan jiwa. 

gangguan jiwa di kaltim

10. Jelajahi terminal ultimate di bandara Soetta yang cakepnya kebangetan.

terminal ultimate bandara soetta

terminal ultimate bandara soetta

 

11. Pelototin rumah bang Jay dan bang Lukas. 

rumah bang jay

rumah bang lukas

foto: hookedonhouses.net

Siapa pulak Jay dan Lukas ini? Mereka adalah finalis American Dream Builder musim 1. Keduanya diberi ujian merenovasi rumah keluarga yang berada di pantai. Siapa tau di tahun 2017 nanti kamu pengen merenovasi rumah, kamu bisa lihat-lihat dulu model rumah hasil renovasi bang Lukas dan bang Jay.

Kamu suka rancangan yang pertama atau yang kedua? Yang pertama hasil renovasi living room versi Lukas yang minimalis modern didominasi warna monokrom, atau yang kedua versi Jay yang tradisional serta hangat?


12. Pelototin gaun rancangan Elie Saab.

gaun elie saab

foto: designersoutfits.com

Buat yang lagi nyari inspirasi gaun pesta, mungkin gaun-gaun rancangan desainer asal Libanon yang keren banget dan bertabur kristal serta payet ini ada yang nyangkut di hati. 😉


13. Pelototin kain lurik dari om Lulu Lutfi Labibi.

gaun lulu lutfi labibi

foto: ashadedviewonfashion.com

Bagi yang enggak demen sama taburan kristal atau payet, rancangan lurik dari om Lutfi mungkin bisa menginspirasi gaun pesta kamu. 😉


14. Cobain resto baru atau menu makanan yang namanya tak biasa.

menu tak biasa

Misalnya: nasi senang bukan kepalang.


15. Bersyukur atas segala yang telah terjadi sepanjang tahun 2016. 

bersyukur


16. Simak The Rachel Zoe Project episode Paris Fashion Week, di mana Rachel membawa koper sebanyak satu kompi.

the rachel zoe project

foto: dailymail.co.uk

Bagi kamu pengantin baru (atau yang udah enggak baru-baru amat) dan pusing melihat tingkah pasangan yang kadang ajaib, bisa dipastikan takjub melihat tingkah Rachel dan suaminya yang udah lebih dari dua dekade menikah dan ternyata tak pernah berubah. Siapa tau bisa menginspirasi kamu untuk lebih legowo menerima tingkah pasangan yang unik. 😁


17. Supaya hasil jepretan enggak hitam putih melulu, belajar bikin foto ala om Rarindra Prakarsa yang kayak lukisan itu. 

 Kali aja nanti abis belajar bakalan banyak teman kamu yang pengen difoto pre-wedding, pre-wisuda, dan pre pre lainnya dengan Rarindra Effect.

18. Baca majalah Kawanku edisi cetak yang terakhir.

majalah kawanku

Majalah Kawanku sampai sekarang ternyata masih tetap memegang teguh signature-nya sebagai majalah remaja perempuan yang cerdas, enggak cengeng, berwawasan luas, dan bukan cuma membahas soal busana, lipstik, serta selebriti. Itu yang menurut saya membuat majalah ini berbeda dari majalah senada lainnya, yang sama-sama ditujukan bagi pembaca remaja perempuan, sehingga masih bertahan sampai sekarang.

Angkat topi untuk Kawanku. Dan meskipun berhenti hadir dalam versi cetak, mulai 1 Januari 2017 ia resmi hadir dalam versi digital di bawah nama cewekbanget.id menggantikan kawankumagz.com.


19. Tonton The Great Gatsby-nya Baz Luhrmann.

the great gatsby

foto: usatoday.com

Untuk yang merasa tahun 2016 masih kurang dramatis, film ini cocok banget buat kamu. 😊


20. Cuci piring.

cuci piring

Tahun baru pastinya kita tetap butuh piring dan gelas bersih buat makan minum, kan? Kecuali kamu punya mesin cuci piring, sampai Tahun Baru Kuda 2100 piring-piring itu enggak bakalan bisa membersihkan dirinya sendiri kalau bukan dicuci oleh kamu. 😁

Ada yang mau menambahkan ide kegiatan? Dua atau tiga ide yang paling keren saya kirimi kado bulan Januari 2017. Masing-masing 1 buku dan 5 foto cetak ukuran kartu pos yang bisa dipilih dari foto-foto di atas (kecuali foto untuk ide kegiatan nomor 9, 11, 12, 13, 16, 17, 19). Buku silakan dipilih: Aleppo-Rusdi Mathari (ditandatangani penulis), Dan Hujan Pun Berhenti-Farida Susanty, Jomblo Tapi Hafal Pancasila-Agus Mulyadi.

Cara menjawab di kolom komentar:
• nama:

• email:

• buku yang dipilih:

• foto yang dipilih:

• ide kegiatan menyambut tahun baru:

 

Semoga bermanfaat dan semoga tahun baru kamu menyenangkan!

 

 

 

Dosroha

Disclaimer: Dosroha bukan sodaranya Dormammu. Dosroha adalah nama kapal motor yang berlayar di Danau Toba, melayani trayek Tomok-Ajibata dan sebaliknya.

Selebgram: Gile…. kapalnya bagus banget… serasa kayak di kabin pesawat terbang…. ada pelampungnya pulak… kamar mandinya pun bersih… jadi pengen mandi…

Petani Cokelat: Ini kapal yang dipakai Jokowi pas berkunjung ke Samosir kemaren…

Selebgram: Hah? Masa sih? Wah… peristiwa bersejarah ini… Beneran mesti mandi nih kalo gini… Bentar ya, gue mandi dulu… Jarang-jarang bisa naik kapal dan mandi di kapal yang pernah digunakan presiden… hihihii…

Seorang penjaja makanan yang wara-wiri di kapal menawarkan jajanan kepada Petani Coklat.

Penjaja Makanan: Mi gorengnya, bang?… Aqua..? Telor…?

Petani Cokelat: Enggak, kak. Saya baru makan. Ngomong-ngomong, berapa lama kemarin Jokowi di Samosir?

Penjaja Makanan: Sekitar dua jam….

Petani Cokelat: Hebat ya… sepanjang sejarah, baru kali ini presiden Republik Indonesia menjejakkan kaki di Samosir…

Penjaja Makanan: Oya? Soekarno?

Petani Cokelat: Enggak pernah

Penjaja Makanan: Tapi beliau punya rumah peristirahatan di Parapat…

Petani Cokelat: Pokoknya enggak pernah…

Penjaja Makanan: Soeharto?

Petani Cokelat: Enggak

Penjaja Makanan: Habibie?

Petani Cokelat: Enggak

Penjaja Makanan: Gus Dur?

Petani Cokelat: Enggak

Penjaja Makanan: Megawati? SBY?

Petani Cokelat: Enggak pernah

Penjaja Makanan: Emang apa hebatnya sih presiden mengunjungi daerah yang dipimpinnya? Tetap aja Samosir mati lampu tiga kali sehari kayak minum obat.

Petani Cokelat: Kalau misalnya kakak dikunjungi orangtua kakak, kakak senang atau tidak?

Penjaja Makanan: Tidak… kepala saya pusing kalau mereka datang… apalagi kalau pakai acara menginap… makin pusinglah saya…

Petani Cokelat: Oh, ya udah kalo gitu. Sebenarnya tadi saya mau jelasin kalo dikunjungi presiden itu rasanya lebih kurang sama kayak dikunjungi orangtua. Tapi karena kakak bilang tidak senang, saya jelaskan panjang lebar pun, kakak enggak bakalan ngerti, karena kita tidak berangkat dari pemahaman yang sama…

Penjaja Makanan: Ya iyalah, saya tadi pagi berangkat jam lima dari rumah…

Petani Cokelat: …………..

Si selebgram kembali bergabung dengan wajah berbinar.

Petani Cokelat: Udah mandinya?

Selebgram: Udah dong kak… Nih, gue sekalian selfie tadi pas mandi… (menyodorkan henponnya yang dipenuhi foto selfie berbagai pose)

Petani Cokelat: Masa kamu foto-foto cuma pake handuk doang? Gue laporin mama nanti!

Selebgram: Duh, itu masih mendingan kak… di medsos banyak yang pose selfie-nya lebih menantang daripada pose gue…

Petani Cokelat: Emang apa pentingnya sih pajang-pajang foto di medsos?

Selebgram: Makanya kak, elu mainannya jangan cuma sama pohon coklat dan baca buku doang… Punya smartphone tapi enggak dimanfaatin… gimana, sih? Dengerin ya kak, dengan jumlah penduduk 260 juta dan jumlah gadget sebanyak 320 juta, Indonesia merupakan pasar gadget terbesar nomor 4 di dunia. Lebih banyak jumlah gadgetnya daripada penduduknya, kan? Nah, dengan 80 juta pengguna medsos alias media sosial, tak bisa ditampik, media sosial sudah menjadi kebutuhan. Pertanyaan besarnya adalah, apakah kita mau jadi pemain atau cuma jadi penonton?

Petani Cokelat: Trus kamu udah jadi pemain gitu? Makanya pajang foto-foto pake handuk kek gini?

Selebgram: Oh, jelas. Walapun belum setenar Awkarin, tapi follower gue udah nyaris satu juta kayak dia.

Petani Cokelat: Awkarin? Apa itu? Temannya awkward?

Selebgram: Gue jelasin pun kakak enggak bakalan ngerti. We’re not on the same page, kak…

Petani Cokelat: Okelah…. tapi kamu kan enggak mesti foto-foto buka baju, buka rok, buka kolor, buka beha dan cuma pake handuk kayak begini….

Selebgram: Duh, cerewet banget sih. Kayak yang gue bilang tadi, itu masih sopan, kakak. Masih banyak yang posenya lebih heboh dari pose gue. Lagian orang Indonesia itu paling suka sama postingan-postingan yang menampilkan kulit atau buka-bukaan kek beginih… Nih, liat buktinya. Dalam dua puluh menit foto gue pake handuk tadi udah dilike alias disukai sebanyak dua puluh ribu. Fantastis, kan?

Petani Cokelat: Trus manfaatnya apa?

Selebgram: Pundi-pundi gue terisi dong, ah. Duit mengalir deras kayak air terjun Sipiso-Piso, kak.

Petani Cokelat: Cuma gara-gara pajang foto?

Selebgram: Iya! Kalo akun medsos kita keren, ntar bakalan ngantri yang nawarin kerjasama.

Petani Cokelat: Cara mencari duit yang aneh…

Selebgram: Sekarang mungkin buat kakak masih aneh. Tapi begitu kakak mulai, pasti bakal ketagihan. Misalnya pas panen coklat kayak sekarang, kakak cobalah foto selfie dengan coklat-coklatmu itu dan unggah ke medsos. Kakak tau enggak, kemaren dulu, enggak berapa lama abis gue unggah foto bareng coklat ini, gue langsung ditawarin kerjasama oleh produsen es krim premium dari Belgia. Keren, kan?

cokelat

Petani Cokelat: Kerjasama seperti apa?

Selebgram: Gue diminta berpose dengan salah satu varian baru es krim coklat mereka.

Petani Cokelat: Trus? Abis itu pundi-pundi kamu langsung terisi?

Selebgram: Iya dong! Duh, pokoknya seru banget deh eksis sekaligus bisnis di medsos. Kayak bulan lalu pas gue abis pulang dari Kisaran, gue kan mampir tuh di warung bandrek di Perbaungan. Nah, di situ gue foto-foto juga dan bikin cerita sedikit di fotonya sebelum gue unggah ke medsos.

Petani Cokelat: Cerita kayak apa?

Selebgram: Ceritanya gue ngobrollah dengan si ibu penjual bandrek, sekalian tanya-tanya kenapa bandreknya bisa super pedes gitu. Di medsos gue ceritain resepnya adalah gula putih, garam, jahe, sereh, merica, kayu manis, gula merah dan cengkeh. Trus gue kasi tau juga harga per gelasnya. Ternyata banyak yang suka ceritanya, kak. Kabar terakhir, gue denger warung si ibu rame dikunjungi setiap malam. Keren banget, kan? Kita bisa bantu orang juga buat bikin laris usahanya.

bandrek

Petani Cokelat: Trus penghasilan kamu dalam sebulan berapa?

Selebgram: Enggak tentu, kak… Tapi sebagai gambaran, gue pernah denger si Awkarin tadi dalam seminggu bisa menghasilkan tiga puluh dua juta. Kakak bisa enggak dengan nanam coklat dapet tiga puluh dua juta dalam seminggu?

Petani Cokelat: ……………..

Selebgram: Makanya, bikin deh akun medsos lo, kak. Dunia kita udah berubah. Semua bisa diselesaikan oleh medsos dan gadget di tangan. Apa coba masalah dunia yang enggak bisa diselesaikan? Membesarkan payudara? Bisa. Membesarkan kelamin? Bisa. Susah punya anak? Juga bisa. Menumbuhkan janggut? Bisa banget….

Petani Cokelat: Perang Aleppo? Gempa Aceh? Emang bisa diselesaikan sama medsos?

Selebgram: Kemaren gue udah ngasih komentar dan ngasih like atau jempol virtual di salah satu foto di Aleppo dan gempa di Aceh, yang diunggah di medsos…

Petani Cokelat: Trus dengan ngasih jempol masalah selesai?

Selebgram: Ya pokoknya gue udah berbuat sesuatu. Emang kakak udah berbuat apa untuk Aleppo dan Aceh?

Petani Cokelat: ………………

Selebgram: Oiya, gue denger Samosir ini mau dikembangkan pemerintah jadi daerah wisata kelas dunia. Kalo emang bener, bentar lagi harga tanah pasti melambung, kan? Jual aja kebun coklat lo, kak. Mari kita jelajahi bersama dunia medsos. Percaya deh, kakak bisa sukses dengan medsos.

Petani Cokelat: Lah, trus gue makan pake apa nanti?

Selebgram: Ya pake nasi dong. Kan kalo kebunnya udah dijual, kakak bakalan dapet duit, trus dapet duit lagi dari medsos… trus beli nasinya pake duit. Kakak senang, yang jual nasi pun senang. Bener, kan?

Petani Cokelat: …………………

Tiba-tiba si penjaja makanan muncul kembali.

Merasa pusing mendengar cerita adiknya, Petani Cokelat bertanya lagi.

Petani Cokelat: Ini beneran kapal yang dipakai Jokowi pas datang kemaren, kan? (ia merasa perlu mengonfirmasi ke penjaja makanan di kapal, karena dianggap paling tahu fakta sebenarnya di lapangan)

Penjaja Makanan: Bukan…. Kapal yang dipakainya waktu itu adalah Dosroha 2. Kalau kapal ini Dosroha 5. Kapal Dosroha 2 lebih besar daripada kapal ini….

Selebgram: Waduh… berarti salah dong? Padahal tadi di keterangan foto pas selfie udah gue bilangin bahwa kapal ini yang dipakai pak Jokowi… Duuuuh…gimana dong nih…?

Petani Cokelat: Makanya kalo dapet informasi itu jangan langsung percaya mentah-mentah… Kalo besok gue ngaku gue adalah Tuhan, kamu percaya dan langsung unggah di medsos?

Selebgram: Percayalah, kak, begitu besok kakak ngaku bahwa kakak adalah Tuhan, gue yakin, bahkan SiEnEn pun akan langsung terbang ke sini bersama para kru terbaiknya untuk meliput pengakuan kakak….

Petani Cokelat: ………………..