Mama & Yusuf

Ibu saya dari dulu sangat rajin pergi koor di gereja, ibadah sektor dari gereja, ibadah dari marga (orang Batak biasanya ada perkumpulan marga), ke pesta, jenguk orang sakit, dlst. Waktu kecil saya sering protes karena beliau sangat sering melakukan kegiatan-kegiatan tadi, bahkan sampai malam hari.

“Apa sih untungnya kalo mama pergi? Lagian mama kan udah capek kerja seharian. Istirahat ajalah di rumah ma…” Begitulah yang sering saya ucapkan tiap kali mama mau pergi keluar rumah.

Ibu saya itu tipe orang yang selalu sibuk, tak pernah bengong. Seharian pasti ada saja yang dikerjakan. Beliau seperti pribadi yang digambarkan dalam Yesaya 40:31:

“Tetapi orang yang mengandalkan Tuhan, akan mendapat kekuatan baru. Mereka seperti burung rajawali yang terbang tinggi dengan kekuatan sayapnya. Mereka berlari dan tidak menjadi lelah, mereka berjalan dan tidak menjadi lesu.”

Sekarang, baru saya sadari bahwa ternyata supaya jiwa kita tetap sehat, ia butuh disuplai hal-hal seperti yang dilakukan ibu saya tadi. Dan ternyata ada hiburan tersendiri ketika kita bertemu dan berkumpul dengan kawan-kawan kita.

“Hendaklah kita tetap berkumpul bersama-sama, dan janganlah lalai seperti orang lain. Kita justru harus lebih setia saling menguatkan. Sebab kita tahu bahwa tidak lama lagi Tuhan akan datang. (Ibrani 10:25).

Yusuf anak Yakub, adalah seseorang yang juga mengandalkan Tuhan. Jalan hidupnya berliku-liku dan jauh dari kemulusan jalan tol bebas hambatan. Pada usia 17 tahun ia dibuang dan dijual abang-abangnya ke pedagang Ismael. Kemudian ketika tinggal dirumah orang, ia difitnah, lantas dipenjara.

Di penjara, ia bertemu juru minuman istana dan menolongnya mengartikan mimpi sang juru minuman. Yusuf minta tolong kepada sang juru minuman apabila ia bebas nanti, agar menyampaikan kasusnya kepada raja bahwasanya ia tak bersalah dan agar ia dibebaskan dari penjara. Tetapi setelah bebas, orang yang ditolongnya tadi, lupa.

Bertahun-tahun Yusuf menunggu di penjara. Meski jauh dari kehangatan keluarga, Alkitab mencatat bahwa Tuhan selalu menyertai Yusuf dan membuat segala pekerjaannya berhasil.

Setelah 13 tahun menanti, Yusuf akhirnya bekerja sebagai gubernur seluruh Mesir. Dan setelah 20 tahun, Yusuf akhirnya berjumpa kembali dengan ayah yang sangat dicintainya.

Bacalah Kejadian 37-50 untuk mengetahui kisah hidup Yusuf selengkapnya.

**

Sewaktu membaca kisah hidup Yusuf, saya bertanya-tanya. Kenapa Yusuf sama sekali tak tebersit keinginan untuk pulang ke rumahnya, atau melarikan diri dari penjara dan kembali ke negeri asalnya, dlst. Saya menemukan jawabannya. Itu karena Yusuf adalah orang yang taat (yaitu mampu menerima kenyataan dan keadaan) dan takut kepada Tuhan. Sehingga karena ia hanya mengandalkan Tuhan, pikirannya lurus tak melenceng ke kiri dan ke kanan, dan ia hanya berpikir bahwa Tuhanlah yang telah membawanya ke Mesir.

Hal ini nampak dari jawaban yang diberikan Yusuf kepada abang-abangnya sewaktu abang-abangnya takut kalau-kalau setelah Yakub, ayah mereka, meninggal, Yusuf akan membalas kejahatan yang pernah mereka lakukan kepadanya di waktu muda.

“Jangan takut, sebab saya tidak bisa bertindak sebagai Allah. Kalian telah bermufakat untuk berbuat jahat kepada saya, tetapi Allah mengubah kejahatan itu menjadi kebaikan, supaya dengan yang terjadi dahulu itu, banyak orang yang hidup sekarang dapat diselamatkan.” (Kejadian 50:19)

Saya yakin, sepanjang hari dan sepanjang hidupnya, Yusuf selalu berdoa kepada Tuhan. Berdoa sepanjang hari maksudnya adalah bercakap-cakap dengan Tuhan dalam setiap kegiatan, setiap masalah, setiap pemikiran, terus menerus berkesinambungan.

Walau hidupnya sulit, tak ada satu pun catatan di Alkitab yang mengatakan bahwa Yusuf putus asa. Meski begitu, dua anaknya yang lahir di Mesir ia beri nama Manasye dan Efraim, yang secara tidak langsung menyiratkan bahwa hidupnya sukar dan penuh penderitaan.

Kata Yusuf, “Allah telah membuat saya lupa kepada segala penderitaan saya dan kepada seluruh kaum keluarga ayah saya.” Karena itu dinamakannya anaknya yang pertama “Manasye”. Dia berkata pula, “Allah telah memberikan anak-anak kepada saya dalam masa kesukaran saya.” Lalu dinamakannya anaknya yang kedua “Efraim”. (Kejadian 41:51-52)

 

 

Adakah orang yang kalian kenal yang sangat mengandalkan Tuhan dalam hidupnya?

 

 

 

 

 

Advertisements

Menjadi Orang Tua dan Mandok Hata

Saya yakin, menjadi orang tua dan membesarkan anak bukan kerjaan gampang. Apalagi di zaman sekarang ini. Berbagai info tentang bagaimana cara membesarkan anak maupun kiat sukses menjadi orang tua bertebaran di mana-mana dan sangat gampang diperoleh. Tapi dari sekian banyak, yang mana yang cocok jadi pedoman?

Watchman Nee, dalam bukunya yang berjudul Orang Tua (Ayah-Ibu), mengatakan betapa beratnya kewajiban sebagai orang tua; karena Tuhan menyerahkan jiwa, raga bahkan masa depan anak seumur hidup ke dalam tangan orang tua. Tidak ada seorang yang memengaruhi masa depan seseorang sedalam orang tua memengaruhi anak-anaknya. Dan tidak ada seorang yang dapat mendominasi masa depan seseorang sehebat orang tua mendominasi anak-anaknya.

Dalam bukunya tersebut, Watchman Nee mengajak kita belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik di dalam Tuhan. Berikut ringkasannya:

  • Menguduskan diri di hadapan Tuhan. Maksudnya, walau kita sebagai orang tua boleh melakukan banyak perkara yang sesuai dengan kapasitas kita, namun agar anak-anak kita dapat memahami, maka kita mesti menyesuaikan diri dengan kapasitas anak.

  • Mengekang diri. Karena hari ini ada sepasang atau dua pasang mata yang selalu mengamati perbuatan maupun perkataan kita, bahkan akan terus mengamati kita seumur hidup. Sekalipun kita telah meninggal dunia, apa yang dilihat anak tidak terlupakan, bahkan akan teringat terus dalam batin mereka.

  • Tetapkan standar moral dalam keluarga. Bagaimana seorang anak menilai sesuatu atau memutuskan sesuatu selama hidupnya, semuanya adalah berdasarkan apa yang ia pelajari ketika masih berada dalam naungan orang tuanya. Banyak sekali anak-anak yang menjadi rusak bukan karena terpengaruh oleh orang lain, melainkan oleh orang tua mereka sendiri. Banyak orang tua ketika melihat masalah timbul pada anak-anaknya, mereka melihat diri mereka sendiri. Keadaan anak-anak mereka justru adalah refleksi mereka sendiri.

  • Berjalan bersama Tuhan. Kita harus menyadari bahwasanya kita banyak kekurangan dan tak sanggup mengemban tanggung jawab besar menjadi orang tua. Karenanya kita mesti berjalan bersama Tuhan. Dan jika kita ingin memimpin anak-anak kepada Tuhan, maka kita mesti berjalan bersama Tuhan. Kita tak bisa mengutus anak-anak kita ke sorga dengan menudingkan jari tangan kita ke arah sorga. Itu mustahil. Kita mesti berjalan dahulu di depan, kemudian meminta anak-anak mengikuti kita. Bagaimana standar orang tua, pasti begitu pula standar anak-anaknya.

  • Tidak berstandar ganda. Jika kita berstandar ganda, bagaimana kita dapat memimpin anak-anak kita? Jika kita sendiri pendusta, apa gunanya melarang anak-anak berdusta? Kita tak dapat menentukan kehidupan kita sendiri dengan sejenis standar dan menentukan standar lain bagi kehidupan anak-anak kita. Apa yang kita kasihi, dengan sendirinya anak-anak kita akan belajar mengasihinya. Dan apa yang kita benci, anak-anak dengan sendirinya akan belajar membencinya.

  • Memelihara kesehatian. Jika satu keluarga ingin memimpin anak-anak dengan baik kepada Tuhan, ayah ibu sebagai orang tua mesti sehati atau seia sekata. Jika orang tua tidak sehati, anak-anak akan sukar mempunyai satu standar yang pasti. Ketika ayah mengatakan boleh, sedangkan ibu mengatakan tidak boleh, atau sebaliknya, maka anak-anak akan memilih dan bertanya kepada orang yang mereka sukai.

  • Menghargai kebebasan kepribadian anak. Anak adalah pemberian Tuhan. Karenanya, semua anak merupakan titipan Tuhan. Anak adalah manusia yang berjiwa, maka Tuhan tidak memberi wewenang tanpa batas kepada orang tua. Kepada setiap manusia yang berjiwa, kita tidak dapat memperlakukan mereka semena-mena. Itu adalah kesombongan.

  • Anak bukan sasaran melampiaskan amarah. Perlakukan anak dengan sikap sopan dan lemah lembut. Setiap orang yang ingin mengenal Tuhan harus belajar mengekang diri, khususnya terhadap anak sendiri.

  • Sebaiknya tidak perlu terburu-buru menuntut anak-anak kita mematuhi kita. Tetapi kita mestilah terlebih dulu menuntut diri sendiri menjadi orang tua yang baik di hadapan Tuhan.

  • Tidak menyakiti hati anak. Karena hidup anak-anak masih bersandar pada kita, kadang sebagai orang tua, kita menggunakan wewenang secara berlebihan. Misalnya menekan anak dalam soal uang. Kita bilang kepada anak, apabila ia tidak menurut maka tidak diberi uang, tidak diberi makan, dan tidak diberi pakaian. Hal ini akan membuat anak sakit hati. Sakit hati dapat menimbulkan tawar hati atau kehilangan tekad untuk berbuat baik. Karena anak akan merasa tak ada guna berbuat baik, sebab orang tua tidak mau tahu. Dalam Efesus 6:4, Paulus berpesan agar para orang tua tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anak, melainkan mendidik mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

  • Beri penghargaan yang wajar kepada anak. Bila anak berlaku baik, kita boleh menyemangati mereka maupun memberi hadiah agar anak tetap semangat dalam berbuat baik.

  • Tutur kata harus tepat. Sebagai orang tua, kita haruslah mengatakan kepada anak-anak perkataan yang dapat kita laksanakan. Dan setiap perkataan kita harus dapat dipercayai anak.

  • Perkataan yang melampaui batas mesti segera diralat. Misalnya kita salah bicara, kita sebagai orang tua haruslah dengan serius mengakui kesalahan tersebut. Dengan demikian, kita memperlihatkan kepada anak-anak tentang kekudusan tutur kata.

  • Menjadi orang tua yang baik di dalam Tuhan tentunya harus memimpin anak-anak untuk belajar mengenal Tuhan. Untuk itu, orang tua bersama anak mesti rutin berdoa bersama dan rutin membaca firman Tuhan. Gunakan bahasa yang dimengerti anak agar mereka memahami untuk apa mereka berkumpul bersama.

  • Pimpin anak belajar bersyukur. Misalnya pada doa makan, orang tua memberi contoh untuk bersyukur kepada Tuhan dengan hati yang jujur dan ikhlas.

  • Pada malam hari orang tua kumpulkan anak dan berbincang dengan mereka. Tanggapi perkataan anak dan bertanya kepada anak apakah ada kesulitan, apakah berkelahi, apakah ada damai dalam hati.

  • Bimbing anak mengaku dosa maupun kesalahan dengan jujur, spontan, tanpa pura-pura. Banyak kepalsuan dilakukan anak-anak karena paksaan yang keras dari orang tua.

  • Dengan sederhana, pimpin anak berdoa hingga anak mampu berdoa sendiri.

  • Jika anak harus dihukum karena bersalah, tunjukkan apa kesalahannya dengan serius agar anak teringat seumur hidupnya, dan agar ia tidak hidup secara sembarangan.

  • Suasana keluarga seharusnya adalah kasih. Kondisi anak-anak di kemudian hari tergantung pada suasana dalam keluarga. Jika sejak kecil anak-anak tidak diasuh dalam kasih, itu berarti membawa mereka ke dalam watak atau tabiat yang keras, menyendiri, dan pembangkang. Banyak orang ketika dewasa tidak dapat hidup bersama orang lain, ini disebabkan kekurangan kondisi kasih dalam keluarga sewaktu mereka kecil. Dalam keluarga mestilah ada suasana sukacita, ramah, lemah lembut, sopan santun.

  • Para orang tua mesti belajar menjadi teman anak-anak sendiri. Belajar akrab dengan anak, dan senang menolong mereka. Agar ketika anak ada masalah, mereka pergi mencari kita. Dan ketika anak berhasil atau sukses pun, mereka mencari kita, bukan orang lain. Teman yang baik pasti mudah didekati dan mudah diminta pertolongannya.

Dalam poin ke-10 tadi sudah saya singgung tentang mendidik anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Caranya dengan:

  • Menjaga ambisi anak agar selaras dengan kehendak Tuhan. Sesering mungkin ingatkan dan jadilah teladan agar anak menjadi pencinta Tuhan dan sesama.
  • Tidak membangkitkan kesombongan anak, melainkan mengingatkan anak bahwa semua kecerdasan maupun talenta berasal dari Tuhan. Kesombongan adalah memegahkan diri secara berlebihan.
  • Mengajar anak-anak terima kalah dan belajar rendah hati. Sepantasnya, kita mesti mengetahui bagaimana memuji atau mengagumi orang lain. Kemenangan adalah perkara mudah, tapi kekalahan bukan perkara gampang bagi sebagian orang. Sebagai orang tua, kita ingatkan agar anak rendah hati jika memiliki kelebihan. Sedangkan jika anak gagal, kita ingatkan agar anak mampu memuji atau mengagumi keunggulan orang lain.
  • Mengajar anak-anak cerdas memilih. Sejak kecil, sesering mungkin beri anak kesempatan memilih sendiri apa yang mereka sukai. Misalnya memilih warna kesukaan atau motif pakaian. Biarlah mereka sendiri yang mengamati dan mempertimbangkan. Dan kita sebagai orang tua tetap memimpin mereka agar tetap di jalur yang benar.
  • Mendidik anak mengatur urusan. Orang tua mesti memberi anak kesempatan untuk mengatasi masalah maupun mengatur urusan. Misalnya mengatur barang-barang sendiri seperti kaos kaki, sepatu, buku, mainan. Sedari anak kecil, kita tunjukkan bagaimana mengatur barang-barangnya agar rapi. Mereka peniru ulung. 🙂

Nah, bentar lagi tahun baru. Orang Batak punya tradisi kumpul bersama keluarga dan mandok hata di malam tahun baru. Mandok hata artinya semacam memberi kata sambutan sepatah dua patah kata. Isinya bisa tentang refleksi diri selama setahun, ucapan syukur, harapan-harapan, dlst.

Ada keluarga yang mengikutsertakan anak-anak mandok hata, namun ada juga yang tidak. Cukup hanya orang tua saja yang berbicara, anak-anak mendengar. Sehingga, seringkali mandok hata berubah menjadi ajang penghakiman anak. Padahal, anak-anak pun ingin ikut menyampaikan pendapat mereka kepada orang tua.

Sebaiknya, jika memungkinkan, sejak dini anak dilibatkan mandok hata agar mereka terbiasa merasa dihargai dengan didengarkan pendapatnya.

Jika orang tua merasa perlu menghakimi atau menegur anak untuk ngomongin kekurangan mereka, lakukan empat mata supaya efektif. Menegur seseorang di depan khalayak ramai tidak akan pernah efektif. Mereka yang kita tegur justru (mungkin) akan menjadi kurang enak hati kepada kita, karena hal itu akan menjatuhkan harga diri mereka. 🙂

Orang tua juga mesti introspeksi, apakah telah memberi perhatian yang seimbang kepada anak? Tidak cuma menuntut anak harus begini, anak harus begitu. Anak-anak tidak melihat kata-kata, mereka melihat perbuatan. 🙂

 

 

 

 

 

The Real Superpower

Acara Garage Sale yang dimotori oleh kawan-kawan perempuan saya yang sebagian besar telah bergelar ‘ibu’ itu bolehlah terbilang sukses. Dalam dua hari bisa terkumpul dana yang nantinya akan disumbang kepada pihak yang membutuhkan.

Kalau kalian lihat bagaimana effort mereka berhimpun untuk menyukseskan acara tersebut, mungkin kalian akan ikut takjub seperti saya. Di sela berbagai kesibukan, perempuan-perempuan hebat ini mau memberi waktu untuk ikut ambil bagian meski kadang ada yang mendadak sakit atau sedang berada di luar kota sehingga terpaksa tak ikut sumbang ide saat meeting. Kadang mereka datang telat karena anak sakit, karena anak mesti dijemput dari sekolah, karena anak mau diantar les, dlst. Ngurusin anak memang menjadi prioritas ibu-ibu luar biasa ini.

‘Rempongnya’ ngurus anak itu mungkin seperti gambaran seorang ibu dengan tiga anaknya yang pernah saya saksikan di salah satu toilet perempuan dalam mall:

Anak 1: balita tidur nyenyak dalam stroller.

Anak 2: balita mau pipis.

Anak 3: balita mau boker.

“Kalo udah punya anak mesti bawa plastik ke mana-mana,” katanya sembari menolong anak nomor 2 untuk pipis. Ia terlihat santai dan tenang, dan sangat menguasai perannya mengurus anak meski anak nomor 3 terlihat sangat tak sabaran agar bisa segera boker.

Pertanyaan “bapaknya di mana, kenapa cuma ibu ini doang yang kebagian rempong ngurusin anak,” sempat muncul di kepala saya. Tapi secepat itu muncul, secepat itu pula ia lenyap. Itu bukan urusan saya. Mungkin ia bersama pasangannya udah kompromi mengenai siapa yang akan mengurus anak di hari libur itu.

Namun ada kalanya rutinitas mengurus anak mendatangkan kejenuhan, apalagi jika kebutuhan untuk dihargai tidak diperoleh si ibu dari keluarganya. Seperti yang dialami Nina, perempuan berusia tiga puluhan dengan dua anak dan satu suami. Oh, kadang ia merasa memiliki tiga anak, karena suaminya kerap berkelakuan seperti anak-anak.

Seakan telah diprogram secara otomatis, pagi-pagi sekali Nina bangun kemudian melakukan sederet aktivitas rumah tangga. Membereskan rumah, mencuci pakaian, menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anaknya, hingga memanggang kue untuk dijual.

Suatu siang, sepulangnya ia dari makan siang bersama sahabatnya, Nina mendapati rumahnya berantakan disebabkan suami dan anak-anak telah pulang dan kue yang rencananya akan dijual telah tercabik. Nina marah besar.

Merasa diabaikan dan tak dihargai suami beserta anak-anaknya, emosi yang ditahan selama ini pun ia muntahkan, dan memilih hengkang ke rumah sahabat yang menraktirnya makan siang tadi.

Sahabat Nina mendukung keputusannya tersebut. Karena ia pun merasa Nina telah kehilangan jati dirinya dan telah berubah menjadi sosok yang tak ia kenali lagi. Berpakaian seadanya, tanpa lipstik dan bedak menghiasi wajah, serta rambut tak disisir.

“Ke mana perginya Nina yang cerdas, enerjik, dan suka bertualang itu?” tanya sahabatnya. Pernikahan memang bisa mengubah orang, kan?

Di rumah, anak-anak beserta suaminya merasa sangat kehilangan Nina. “Mungkin ibu sedang mengalami krisis paruh baya,” kata anaknya yang satu, saat menyadari bahwa ibu mereka benar-benar pergi.

Tanpa ibu, hidup rasanya memang hambar. Beberapa keluarga yang saya kenal seperti kehilangan arah setelah ditinggal pergi sang ibu. Tak sanggup membesarkan anak seorang diri, terpaksa sang ayah menitipkan sebagian anak kepada orangtuanya nun jauh di mata, sebagian lagi kepada sanak keluarga. Beberapa dekade kemudian barulah anak-anak ini bertemu. Masing-masing tak ingat seperti apa rupanya, karena zaman dulu belum ada teknologi bertukar foto seperti jaman now.

Sebagai solusi untuk masalah rumah tangga Nina, ia dan suaminya berbincang ditemani secangkir kopi enak dan bersepakat untuk bersama-sama mengurus anak. Nina pun akhirnya terjun kembali secara profesional di bidang yang memang sudah lama ia minati. Well, there’s nothing a good cup of coffee can’t fix, right? 😉

Di hari H, kawan-kawan perempuan yang sebagian besar telah bergelar ‘ibu’ tadi turun tangan menyumbangkan berbagai talenta mereka agar acara berjalan lancar. Tak ada yang bisa berdiri sendiri, yang satu bergantung pada yang lain. Saling mengisi, menguatkan, menghibur. That’s the real superpower of ibu-ibu ngumpul. 😉

Surat dari Anies

Aku sedang menelaah buku-buku yang dipajang di bagian buku baru sewaktu seseorang menepuk pundakku dengan lembut. Selama beberapa detik, sirkuit-sirkuit memoriku bekerja mengumpulkan informasi tentang sosok cantik di hadapanku yang sekarang sedang tersenyum lebar. Continue reading

Ohana

Tiap lebaran maupun hari raya lainnya, kalau kalian perhatikan, laporan mengenai arus mudik selalu ramai menghiasi media-media berita. Ada yang menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi benua, melintasi pulau, atau mungkin ada yang hanya berjalan kaki sejauh 20 meter untuk bisa berhari raya di rumah mertua. Continue reading

Antara Impian Anak dan Ambisi Orangtua

Sebagian dari Anda mungkin ada yang telah merancang-rancang atau berkeinginan akan jadi apa anak Anda kelak. Kalau kata adik saya yang di Eropa sana, dia ingin suatu hari nanti anaknya jadi pengacara. Ia mengungkapkan ini hanya beberapa saat setelah si bayi lahir, saat si bayi masih merah. Lengkap pula ia menyebutkan nama perusahaan impiannya, di mana keponakan saya itu akan berkarya nantinya. 😀

Ada yang janggal atau salah dengan keinginannya itu? Tidak. Karena orangtua pastilah punya cita-cita untuk tiap anaknya. Yang jadi masalah adalah jika nantinya Anda sebagai orangtua berusaha mati-matian mewujudkan keinginan Anda itu kepada si anak yang belum tentu bercita-cita sama seperti yang Anda inginkan.

Ada begitu banyak hubungan orangtua-anak yang menjadi dingin bahkan putus gara-gara orangtua memaksakan keinginannya itu. Masih ingatkah pada Maureen si penari balet dalam film Center Stage? Sebetulnya ia tak ingin menjadi penari. Ibunyalah yang berambisi menjadi penari. Tapi karena tak mungkin lagi bagi ibunya mengejar impian itu, maka Maureen dijejali balet, tanpa mencari tahu apa sebenarnya minat terbesar putrinya.

Hasilnya? Maureen menari tidak dengan kerelaan hati. Dia melakukannya hanya karena ibunya menginginkannya. Di akhir cerita, dia meninggalkan ambisi ibunya itu dan mengutarakan kegalauannya selama ini. Ibunya terguncang mendengar pengakuan Maureen. Mengira dia telah melakukan yang terbaik buat putrinya, padahal tidak. Batin putrinya tersiksa.

Saya pun pernah menyaksikan sendiri teman-teman yang impiannya ditertawakan oleh orangtua hanya karena mereka tidak memiliki cita-cita (yang dianggap terpandang oleh orangtuanya), seperti menjadi pengacara, dokter, banker, dlst. Ada teman yang dari jauh hari sudah diplot orangtuanya menjadi akuntan. Padahal panggilan jiwanya bukanlah di bidang itu. Hasilnya? Studinya tidak maksimal. Dia sering bertanya-tanya, bagaimana jika seandainya dulu, alih-alih mengikuti kemauan orangtua, ia tetap ngotot mengambil jurusan yang ia yakin ia akan bersinar di situ.

Mungkin salah satu alasan orangtuanya tidak setuju dengan impiannya kala itu adalah karena mereka pernah melihat gaya hidup dari sebagian orang yang berprofesi seperti yang dicita-citakan teman saya itu, tidak cocok di mata mereka. Miskin, hidup susah dan sakit-sakitan. Tapi, kan, tidak berarti apa yang terjadi pada orang sana akan terjadi juga pada anak mereka, kan? Bagaimana jika memang si anak tidak tertarik untuk menimbun harta? Mungkin bagi si anak: ada makanan di meja, atap di kepala, pakaian menutupi tubuh dan udara untuk dihirup, itu sudah cukup.

Benar, kita tidak dapat hidup tanpa uang. Dengan uang kita bisa merealisasikan impian-impian kita. Tapi bagaimana jika uang bukanlah segalanya bagi anak Anda? Bagaimana jika kepuasan batinlah yang jauh lebih penting bagi anak Anda? Pernahkah Anda bertanya apa sebetulnya impiannya? Bukankah menyenangkan jika bisa melakukan pekerjaan yang cocok di hati dan dibayar pula, daripada harus melakukan pekerjaan yang membuat kita ngedumel sepanjang hari dari mulai mata membuka hingga terpejam? Berpenghasilan besar tapi membuat Anda sakit kepala dan cemberut sepanjang hari, untuk apa?

Ingatlah, ini bukan tentang impian Anda, tapi impian anak Anda. Mereka manusia biasa seperti halnya Anda yang juga pernah bercita-cita, tapi (mungkin) lalu kandas karena hanya Andalah yang tahu alasannya. Masak Anda pun ingin impian anak Anda kandas hanya karena Anda tak merestui? Pertimbangkanlah betapa tersiksanya anak jika harus menjalani cita-cita yang hanya merupakan ambisi Anda semata.

Jangan remehkan cita-cita anak Anda, jangan pula tertawakan. Dukunglah cita-citanya selama yang diimpikannya tersebut positif. Yang penting Anda beritahu konsekuensi yang mungkin akan dihadapi si anak jika dia memilih jurusan atau pekerjaan yang diminatinya. Setelah itu biarkanlah dia mengepakkan sayapnya ke luar sana dan selalulah berdoa supaya Tuhan menyertai dalam tiap langkahnya.

Tiap anak istimewa, tiap anak beda. Bukan kurang mampu. Dan tiap anak memiliki keunikan masing-masing. Dunia ini bukan hanya milik akuntan, pengacara, banker, dokter, dlsb. Kalau semua orang jadi pengacara, tak ada yang mau jadi petani, kita mau makan apa? Siapa yang mau dibela kalau semua jadi pengacara? Tak ada jurnalis, kita mau baca berita apa? Tak ada musisi, kita mau dengar lagu apa? Alangkah membosankannya hidup jika semua orang melakukan hal yang sama. Lihatlah pelangi, ia indah karena warna-warni.

Selama anak bahagia, tidak mengeluh, tidak mengemis, dan bisa hidup dari pekerjaannya, mengapa tidak? Mengapa justru Anda orangtuanya yang keberatan?

Dan untuk anak, jika menurut Anda impianmu itu benar dan tidak bertentangan dengan nurani, maka kejarlah! Tak ada yang lebih menyedihkan dari penyesalan tanpa henti.

 

 

 

“And They Live Happily Ever After”

Biasanya seperti itu bunyi kalimat penutup dalam beberapa dongeng klasik terkenal yang pernah saya baca ataupun saya tonton.

Setelah pangeran tampan berhasil menyelamatkan putri cantik dari si Naga jahat, mereka pun menikah. Tapi tentu saja, mereka tak pernah memberitahu kita bagaimana caranya mencapai kehidupan pernikahan yang happily never after.

just married

PALB

Ketika hendak menikah dulu pun, saya pernah bertanya ke orangtua, apa resep Pernikahan Awet bin Langgeng bin Bahagia (PALB). Jawab mereka, “Nanti kau belajar sendiri di dalam.”

Gubrak. Sepenuhnya bukan jawaban yang saya harapkan dari pasangan yang telah menikah selama puluhan tahun. Padahal saya #SeriusNanya, karena saya ingin pernikahan saya sukses. Bukan sebaliknya. Maraknya kasus perceraian dalam dekade ini, sempat membuat pernikahan menjadi momok bagi saya.

Namun setelah menjalani pernikahan dan pengamatan selama ini, barulah saya mengerti mengapa orangtua saya memberi jawaban seperti itu. Bahwasanya formula PALB yang pas untuk tiap rumah tangga itu beda. Tidak ada yang persis sama.

Jika PALB dianalogikan dengan masak arsik ikan ala Batak seberat 1 kg dengan takaran bumbu seperti yang pernah saya tulis di sini, plus garam 2 sdt, rasanya sudah pas di lidah saya. Sedang untuk Anda, bisa jadi takaran tiap bumbu dikali dua, garam sebanyak 3 sdt, plus kecombrang, barulah rasanya cocok di lidah.

Bumbu dasarnya bisa jadi sama, garam yang digunakan pun sama. Hanya takarannya yang berbeda. Makanya orangtua saya bilang, “Nanti kau belajar di dalam.” Bener banget. Masak arsik pun baru saya pelajari setelah menikah! 😀

Seiring zaman berganti, cara manusia menghabiskan waktu dengan pasangannya pun berbeda. Sepanjang pengamatan saya selama tinggal dengan orangtua, mereka punya kebiasaan ngobrol di teras rumah hampir tiap malam selama kurang lebih satu jam.

Padahal kalau malam di Medan banyak nyamuk. Tapi mereka sepertinya tak peduli. Tetap saja mereka melakukan ritual itu. Di sela-sela obrolan, sesekali terdengar bunyi kibasan kain yang dibawa ibu saya untuk mengusir nyamuk yang nimbrung. Mungkin bagi mereka, apalah artinya nyamuk berdengung di telinga dibanding dengan memiliki waktu berkualitas dengan pasangan, sehingga PALB dapat tercapai.

Zaman sekarang? Gadget telah begitu rupa menginvasi kehidupan kita. Cobalah jawab dengan jujur, berapa lama Anda berkutat dengan gadget dalam sehari? Kapan terakhir kali Anda ngobrol, maksud saya benar-benar mengobrol dengan pasangan, tanpa ada gadget di antara Anda?

Online melulu

Kita sibuk dengan diri sendiri. Sibuk dengan gadget masing-masing. Maka menurut saya tidaklah berlebihan jika ada yang berpendapat bahwa sekarang ini, gadget yang konon bisa menjadi salah satu sumber keretakan pernikahan itulah yang sebenarnya kita nikahi. Bukan manusia.

Belakangan, saya lumayan senang juga ketika si iphone hilang beberapa bulan lalu. Begitu banyak waktu saya habiskan bersamanya. Dari mulai mata membuka hingga mata menutup. Suami pun saya anggurin. Tapi nampaknya, menghabiskan waktu dengan pasangan di zaman sekarang mustahil bisa dipisahkan dari gadget.

happily ever after1

Sebelum & Sesudah

Sudah bukan rahasia lagi ketika sepasang anak manusia jatuh cinta, mata mereka ‘buta’. Tahi kambing rasa coklat. Semua kelakuan pasangan tidak ada yang minus di matanya. Seperti yang ditegaskan dalam lirik lagu When A Man Loves A Woman,

“…if she is bad, he can’t see it..

she can do no wrong..

if she is playing him for a fool,

he’s the last one to know..

loving eyes can never see…”

 

Setelah menikah, barulah mata mereka terbuka terhadap segala kekurangan dalam diri pasangan. Kurang ganteng, kurang pintar, kurang cantik, kurang perhatian, dlst.

Akibat terlalu sibuk memikirkan segala kekurangan di sana sini, muncullah “kesadaran” baru, bahwa ternyata Anda begitu berbeda satu sama lain. Padahal, bukankah perbedaan itu yang awalnya membuat Anda tertarik kepada pasangan?

Semakin lama Anda semakin manyun melihat segala perbedaan yang sama sekali tak bisa Anda ubah itu. Dan Anda pun semakin menjauh dari pasangan.

Ujung-ujungnya, Anda yang dulunya dimabuk cinta, tiba-tiba menjadi sangat membenci pasangan. Pernikahan amblas, gugatan cerai pun dilayangkan ke pengadilan negeri ataupun pengadilan agama. Jika kata cerai sudah terucap, biasanya sulit untuk ditarik kembali. Kecuali ada mukjizat.

Anda pun akhirnya menyesal menikah. Tapi tolong, ketika Anda menyesal telah menikah, jangan katakan bahwa Anda adalah korban dari keinginan orangtua Anda karena mereka yang menyuruh Anda. Anda hanya mencari kambing hitam.

Anda punya pilihan untuk tidak menikah. Anda bukan korban. Hidup Anda, keputusan Anda. Anda menikah karena Anda ingin menikah. Titik. Bukan karena disuruh orangtua Anda atau karena Anda kasihan kepada orang lain.

Meski begitu, di beberapa tempat di bumi ini, hal seperti ini tidak berlaku.

Belajar

Di masa awal pernikahan, saya tak tahu apapun tentang laki-laki yang menjadi kekasih hati ini. Memang, sih, di rumah ada laki-laki. Yakni bapak dan adik cowok yang telah hidup bersama saya selama bertahun-tahun. Tapi mereka berbeda dengan suami saya.

Sebutlah misalnya kalau lagi berantem dengan adik-adik. Sakitnya tidak sampai kemana-mana dan segera baikan. Nah, kalau berantem dengan suami? Alamak! Sudahlah sakitnya kemana-mana, baikannya pun lama. Sekarang baru saya sadari, ternyata karena dia belahan jiwa itu, makanya sakitnya sudah macam mau kiamat saja dunia ini saya rasa.

Dari pertengkaran-pertengkaran itu saya pun belajar. Mana yang berkenan dan mana yang tidak berkenan di hati suami. Saya pun tak mau terus menerus bertengkar karena hal yang sama, hanya karena saya tidak mengerti tentang laki-laki.

Pernikahan adalah kerjasama. Kerjasama ini akan berjalan efektif hanya apabila saya mengetahui seperti apa lelaki saya luar dalam. Bagaimana lelaki berpikir, cara lelaki berkomunikasi, seperti apa kepribadiannya, dlst.

Karena itulah akhirnya saya mencari tahu tentang makhluk yang konon bersembunyi di rumah siputnya atau di dalam guanya ini jika sedang dirundung masalah. Ada begitu banyak buku bagus di luar sana yang membahas hal-hal tersebut.

Meskipun ada pendapat, “Lima tahun pertama pernikahan adalah masa tersulit, karena di masa-masa itu Anda berdua masih dalam masa penyesuaian,” namun ada juga yang berpendapat, “Pernikahan adalah penyesuaian seumur hidup.” Saya setuju dengan pendapat ke dua. Mengapa? Karena dunia ini berubah, otomatis manusia, saya dan suami, pun berubah. Itu sebabnya sampai sekarang pun saya masih terus belajar. Pernikahan adalah pembelajaran seumur hidup.

happily ever after2

Tips

Meskipun di awal sudah saya sebutkan bahwa formula mencapai PALB ini berbeda-beda dalam tiap rumah tangga, mudah-mudahan tips di bawah ini, yang saya peroleh dari hasil pengamatan, nasehat para senior dan pengalaman pribadi, bisa membantu Anda mencapai PALB yang diinginkan. Mungkin bisa disisipkan di dalam resep yang telah Anda gunakan selama ini. 🙂
  1. Istri selalu benar. XD
  2. Lihat nomor satu. XD
  3. Happy wife, happy marriage. XD
  4. Keep the fight clean and the sex dirty.
  5. Saat bertengkar atau kurang enakan, tetap respek/hormat. Bukan takut. Takut dan hormat beda. Perlakukan pasangan sebagaimana Anda ingin diperlakukan.
  6. Jangan terlalu memikirkan diri sendiri. Jika Anda terlalu banyak memikirkan diri sendiri, Anda akan menyesal menikah dan mati kebosanan dalam pernikahan.
  7. Memiliki waktu bersama yang berkualitas. Jika hanya punya waktu 5 menit, jadikanlah yang 5 menit itu berkualitas.
  8. Jangan terlalu serius tapi juga jangan terlalu santai.
  9. Hidup bersama seseorang yang sangat berbeda dengan Anda itu diperlukan kesabaran tanpa batas. Apalagi saat menghadapi sikap pasangan yang kadang ajaib. Belajar menerima kekurangan dan kelebihan pasangan. Sebab pasti ada celanya dan kita pasti kecewa.
  10. Saling mengawasi.
  11. Ingatlah bahwa tujuan menikah bukan untuk mengubah perilaku pasangan ke arah yang kita inginkan. Mengubah perilaku adalah tugas Tuhan. Tugas kita para suami/istri adalah saling mengasihi terus menerus.
  12. Mau berkomunikasi dengan terbuka, mendengarkan pasangan kita, tidak menambah lebar pertengkaran dan menghindari situasi yang bisa memicu ke arah perpisahan.
  13. Pahami dan hargailah pasangan Anda yang sama sekali berbeda dengan Anda itu. Sebab, seperti kata Gede Manggala dalam bukunya The Coconut Principles, “Tanpa pemahaman dan apresiasi terhadap kelebihan dan kelemahan kepribadiannya masing-masing, dua orang dengan kepribadian berbeda bisa seperti air dan minyak. Tidak nyambung.”
  14. Sering-seringlah tertawa. 😀
happily ever after3
*********
 
Semoga tulisannya bermanfaat dan semoga Anda semua memperoleh Pernikahan Awet bin Langgeng bin Bahagia sepanjang masa.