Antara Impian Anak dan Ambisi Orangtua

Sebagian dari Anda mungkin ada yang telah merancang-rancang atau berkeinginan akan jadi apa anak Anda kelak. Kalau kata adik saya yang di Eropa sana, dia ingin suatu hari nanti anaknya jadi pengacara. Ia mengungkapkan ini hanya beberapa saat setelah si bayi lahir, saat si bayi masih merah. Lengkap pula ia menyebutkan nama perusahaan impiannya, di mana keponakan saya itu akan berkarya nantinya. 😀

Ada yang janggal atau salah dengan keinginannya itu? Tidak. Karena orangtua pastilah punya cita-cita untuk tiap anaknya. Yang jadi masalah adalah jika nantinya Anda sebagai orangtua berusaha mati-matian mewujudkan keinginan Anda itu kepada si anak yang belum tentu bercita-cita sama seperti yang Anda inginkan.

Ada begitu banyak hubungan orangtua-anak yang menjadi dingin bahkan putus gara-gara orangtua memaksakan keinginannya itu. Masih ingatkah pada Maureen si penari balet dalam film Center Stage? Sebetulnya ia tak ingin menjadi penari. Ibunyalah yang berambisi menjadi penari. Tapi karena tak mungkin lagi bagi ibunya mengejar impian itu, maka Maureen dijejali balet, tanpa mencari tahu apa sebenarnya minat terbesar putrinya.

Hasilnya? Maureen menari tidak dengan kerelaan hati. Dia melakukannya hanya karena ibunya menginginkannya. Di akhir cerita, dia meninggalkan ambisi ibunya itu dan mengutarakan kegalauannya selama ini. Ibunya terguncang mendengar pengakuan Maureen. Mengira dia telah melakukan yang terbaik buat putrinya, padahal tidak. Batin putrinya tersiksa.

Saya pun pernah menyaksikan sendiri teman-teman yang impiannya ditertawakan oleh orangtua hanya karena mereka tidak memiliki cita-cita (yang dianggap terpandang oleh orangtuanya), seperti menjadi pengacara, dokter, banker, dlst. Ada teman yang dari jauh hari sudah diplot orangtuanya menjadi akuntan. Padahal panggilan jiwanya bukanlah di bidang itu. Hasilnya? Studinya tidak maksimal. Dia sering bertanya-tanya, bagaimana jika seandainya dulu, alih-alih mengikuti kemauan orangtua, ia tetap ngotot mengambil jurusan yang ia yakin ia akan bersinar di situ.

Mungkin salah satu alasan orangtuanya tidak setuju dengan impiannya kala itu adalah karena mereka pernah melihat gaya hidup dari sebagian orang yang berprofesi seperti yang dicita-citakan teman saya itu, tidak cocok di mata mereka. Miskin, hidup susah dan sakit-sakitan. Tapi, kan, tidak berarti apa yang terjadi pada orang sana akan terjadi juga pada anak mereka, kan? Bagaimana jika memang si anak tidak tertarik untuk menimbun harta? Mungkin bagi si anak: ada makanan di meja, atap di kepala, pakaian menutupi tubuh dan udara untuk dihirup, itu sudah cukup.

Benar, kita tidak dapat hidup tanpa uang. Dengan uang kita bisa merealisasikan impian-impian kita. Tapi bagaimana jika uang bukanlah segalanya bagi anak Anda? Bagaimana jika kepuasan batinlah yang jauh lebih penting bagi anak Anda? Pernahkah Anda bertanya apa sebetulnya impiannya? Bukankah menyenangkan jika bisa melakukan pekerjaan yang cocok di hati dan dibayar pula, daripada harus melakukan pekerjaan yang membuat kita ngedumel sepanjang hari dari mulai mata membuka hingga terpejam? Berpenghasilan besar tapi membuat Anda sakit kepala dan cemberut sepanjang hari, untuk apa?

Ingatlah, ini bukan tentang impian Anda, tapi impian anak Anda. Mereka manusia biasa seperti halnya Anda yang juga pernah bercita-cita, tapi (mungkin) lalu kandas karena hanya Andalah yang tahu alasannya. Masak Anda pun ingin impian anak Anda kandas hanya karena Anda tak merestui? Pertimbangkanlah betapa tersiksanya anak jika harus menjalani cita-cita yang hanya merupakan ambisi Anda semata.

Jangan remehkan cita-cita anak Anda, jangan pula tertawakan. Dukunglah cita-citanya selama yang diimpikannya tersebut positif. Yang penting Anda beritahu konsekuensi yang mungkin akan dihadapi si anak jika dia memilih jurusan atau pekerjaan yang diminatinya. Setelah itu biarkanlah dia mengepakkan sayapnya ke luar sana dan selalulah berdoa supaya Tuhan menyertai dalam tiap langkahnya.

Tiap anak istimewa, tiap anak beda. Bukan kurang mampu. Dan tiap anak memiliki keunikan masing-masing. Dunia ini bukan hanya milik akuntan, pengacara, banker, dokter, dlsb. Kalau semua orang jadi pengacara, tak ada yang mau jadi petani, kita mau makan apa? Siapa yang mau dibela kalau semua jadi pengacara? Tak ada jurnalis, kita mau baca berita apa? Tak ada musisi, kita mau dengar lagu apa? Alangkah membosankannya hidup jika semua orang melakukan hal yang sama. Lihatlah pelangi, ia indah karena warna-warni.

Selama anak bahagia, tidak mengeluh, tidak mengemis, dan bisa hidup dari pekerjaannya, mengapa tidak? Mengapa justru Anda orangtuanya yang keberatan?

Dan untuk anak, jika menurut Anda impianmu itu benar dan tidak bertentangan dengan nurani, maka kejarlah! Tak ada yang lebih menyedihkan dari penyesalan tanpa henti.

 

 

 

Advertisements