Waktu Terbang

Minggu lalu saya ke Jakarta. Liburan singkat sekaligus menghadiri pesta nikahan. Senang bisa ketemu keluarga, saudara, namboru, abang, kakak, ompung, adik-adik, sepupu, dan orangtua saya yang semakin tua. πŸ™‚ Kalo ditanya lebih suka tinggal di mana, jujur, saya lebih suka di Jakarta. Pagi siang malam selalu ramai. πŸ™‚ Macet memang selalu always tak pernah never. Tapi justru kemacetan itulah pertanda adanya kehidupan. πŸ™‚

Beberapa hari saya numpang di penginapan yang jalanannya sepanjang hari hilir mudik dilewati kendaraan. Berbagai macam tempat makan -mulai dari yang harganya sangat terjangkau macam warteg, hingga yang agak berat dijangkau- ada di sana. Dari beberapa yang saya sambangi, ada satu yang nampol di hati.

β€œDicoba dulu… Nanti kalo enak balik lagi ke sini ya…” ujar ibu penjaja nasi uduk jalanan, sore itu, sembari menyerahkan bungkusan makanan untuk porsi dua orang seharga kurang dari 30 ribu rupiah.

Saya terharu mendengarnya. Ia mengucapkan kalimat tersebut seakan penuh kerendahan hati yang mengharapkan orang asing kembali ke warung sederhananya itu.

Masakannya enak dan pedasnya pas. Tapi karena kesibukan, membuat kami tak mungkin kembali ke warung nasi uduknya yang sepertinya hanya buka di sore hari. Mungkin suatu hari nanti kalo saya kembali ke daerah tersebut, saya pasti akan mengunjunginya meski si ibu tak mengingat kami lagi. πŸ™‚

Hari Minggu saya ikut ibadah bersama orangtua dan adik di GPIB. Kebetulan ponakan kesayangan saya berulang tahun. Time flies. Waktu terbang. Ia sekarang bertambah pintar, baik hati, dan jago nyanyi. πŸ˜€

Mumpung ponakan ultah dan orangtua ada, adik saya mengajak makan siang bersama usai ibadah. Namun saya melewatkan ajakannya, karena sudah berjanji untuk bertemu keluarga saya yang lain di Bekasi.

Di Bekasi, kami makan-makan lagi. Ponakan saya yang memilih tempat. Di sana kami bertukar cerita; mulai dari kakak saya yang sukses menurunkan berat badan, songket Palembang, hingga ponakan saya yang ternyata udah mulai kuliah tahun ini. Time flies. Waktu terbang. Rasanya baru kemarin ia berseragam putih merah dengan senyum malu-malu menyapa saya; tahu-tahu sekarang udah mahasiswa. Ke mana perginya waktu?

Saya mengutip salah satu lagu yang dinyanyikan saat ibadah hari Minggu di GPIB. Judulnya: Pakailah Waktu Anugerah Tuhanmu.

Pakailah waktu anugerah Tuhanmu,

hidupmu singkat bagaikan kembang.

Mana benda yang kekal di hidupmu?

Hanyalah kasih tak akan lekang.

Tiada yang baka di dalam dunia,

segala yang indah pun akan lenyap.

Namun kasihmu demi Tuhan Yesus,

sungguh bernilai dan tinggal tetap.

 

Karya jerihmu demi Tuhan Yesus,

‘kan dihargai benar olehNya.

Kasih yang sudah kau tabur di dunia,

nanti kau tuai di sorga.

 

Dan satu lagu lagi yang belakangan sering diputar di mana-mana. πŸ™‚

Hidup ini adalah kesempatan

Hidup ini untuk melayani Tuhan

Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri

Hidup ini harus jadi berkat

 

Oh Tuhan, pakailah hidupku

Selagi aku masih kuat

Bila saatnya nanti ku tak berdaya lagi

Hidup ini sudah jadi berkat

 

 

 

 

 

Advertisements

Anak Tiri

Kadang, saya merasa anak kandung Indonesia itu cuma Jakarta dan sekitarnya.

Bagaimana tidak? Continue reading

Kota Tua

Kalau ditanya kawasan mana yang paling saya suka di Jakarta, dengan lantang dan pasti saya akan menjawab: Kota Tua. Mengapa? Mungkin karena saya penggemar sejarah dan bangunan-bangunan tempo doeloe :D. Bangunan-bangunan di Kota Tua ini kan rata-rata bangunan bersejarah yang merupakan peninggalan kolonial Belanda. Ada beberapa bangunan yang masih digunakan sampai sekarang, namun ada juga yang masih berdiri namun tidak digunakan lagi.

Berhubung saya kurang suka wisata ke mall/plaza, maka semasa di Jakarta, tiap kali ada teman atau saudara datang dari Sumatra Utara (Sumut), selalu saya bawa berwisata ke Kota Tua :D. Dan semua orang yang pernah saya bawa kesana, rata-rata senang dengan pengalaman itu :D. Ya iya dong, soale kalau jawabnya nggak senang, nggak boleh datang ke Jakarta lagi hahahaha :D.

***

Ada satu gedung kosong di Kota Tua yang merupakan tempat favorit saya (dan tempat favorit sejuta umat pencinta fotografi) untuk memotret :D. Gedung ini juga sering digunakan untuk tempat syuting film, video klip, dlsb. Saya juga pernah mengabadikan momen pranikah/prewedding teman saya di gedung tersebut.

Suatu kali, saya mengajak Ibu saya yang datang dari Sumut untuk berwisata ke Kota Tua. Seperti yang biasanya saya lakukan kalau ada “turis” datang, saya pun mengajak beliau masuk ke gedung tersebut untuk foto-foto. Tapi tidak seperti biasanya, hari itu sang penjaga gedung tidak mengizinkan kami masuk. Alasannya karena di dalam sedang dilakukan syuting video klip.

Tidak menyerah, saya pun menggunakan “jurus sakti”, yang sebenarnya belum pernah saya lakukan hingga saat itu (soale selama ini izin-perizinan selalu mulus, meskipun di dalam ada kegiatan syuting atau pemotretan). Dengan wajah memelas, saya bilang kepada sang penjaga, “Pak, tolonglah, Ibu saya datang jauh-jauh dari Medan ke Jakarta hanya untuk foto-foto di gedung ini. Dan besok beliau akan pulang. Masak iya, Bapak nggak ngasih kami masuk ke dalam? Tolonglah Pak… Untuk kenang-kenangan.” Beliau terdiam sebentar dan melihat kami dari atas sampai bawah. Entah apa yang dipikirkannya hahahahha :D.

Namanya juga usaha, minta tolong, tangan berada di bawah. Di kasih syukur, nggak dikasih apa boleh buat. Sudah siap untuk jawaban terburuk alias penolakan, eh, tahu-tahu si Bapak membolehkan kami masuk sodara-sodaraa. Hahahah :D.

“Makasih banyak, Bapak” :D. Beliau berpesan supaya kami tidak ribut dan tak berlama-lama di dalam :D. Kami pun masuk dan saya mengabadikan Ibu saya disitu :D.

***

Well, berikut ini beberapa foto dari Kota Tua yang pernah saya abadikan. Enjoy!

siluet dia

Siluet Dia

kerta niaga

Kerta Niaga

Sepeda di Bawah Pohon

Sepeda di Bawah Pohon

Pranikah

Prewedding

Jendela

Jendela

Dia

Dia

Tangga

Tangga

Si Cantik

Si Cantik

Jendela-jendela

Jendela-jendela

cafe batavia

Cafe Batavia

***

Kalau Anda senang Jakarta kawasan mana, kawans? Pernah punya pengalaman menarik di Kota Tua? πŸ™‚

***

Tulisan lain tentang Jakarta:

Jakarta Through My Lens

Jakarta seolah tak ada habisnya untuk diceritakan, baik dalam foto maupun tulisan. Kali pertama saya menginjakkan kaki di ibukota Indonesia ini saat saya duduk di bangku kelas III SD. Saya izin dari sekolah beberapa hari, demi mengikuti ibu saya, jalan-jalan ke Jakarta dan Surabaya πŸ˜€ (kecil-kecil udah kelihatan nih besarnya bakalan panjang kaki :D).

Waktu itu pula untuk pertama kalinya saya berkesempatan menonton di teater imax Keong Mas. Sekarang masih ada nggak, ya? Soale, itu kali pertama dan setelah itu saya belum pernah lagi ke sana.

Takkan pernah saya lupakan pengalaman menonton itu. Untuk anak kecil yang baru pertama kali menonton layar lebar, itu adalah hal yang menakjubkan. Saya seolah masuk ke dalam gambarnya. Saking takjubnya, saya sampai berkomentar dengan keras: “waaaaah bagus sekaliii….”

Masalahnya, saya mengomentarinya dengan keras di dalam ruangan penuh manusia yang sedang serius menonton film :D. Maklumlah, saya dulu kan belum tahu bagaimana etika menonton di tempat seperti itu. Masih anak ingusan :D. Beberapa penonton yang ada di dekat kami, langsung menatap kami dengan senyam-senyum :D. Mungkin karena saya masih anak kecil ya, jadi hal itu dianggap lucu. Coba kalau yang bikin begitu orang dewasa, dipelototin abis! Hahahaha… Untunglah tante saya langsung membisikkan supaya saya tidak keras-keras ngomongnya. Nggak boleh ribut, katanya :).

Well, begitulah sedikit pengalaman saya pertama kali ke Jakarta.

Berikut ini beberapa foto yang berhasil saya abadikan dari tahun 2008-2012.

Enjoy the pictures!

 

Autumn in Kota Tua, Jakarta

Saya senang melihat warna daun kekuningan atau keperakan seperti kalau lagi autumn (musim gugur). Mungkin karena sudah terlampau sering melihat daun warna hijau, saya jadi pengen melihat daun warna kuning. πŸ™‚

Namun sebelum saya bisa melihat autumn yang sesungguhnya, maka Kota Tua Jakarta sajalah yang saya autumn-kan. πŸ˜‰

Enjoy the pictures my friend!

 

(taken with Canon oprekan infrared and pinjaman :D)

Warteg Warmo Jadi Mulya

Pas mudik kemarin, kami singgah di Jakarta. Dan kami dapat kabar bahwa di daerah Tebet, ada warteg yang katanya masakannya enak dan selalu ramai dikunjungi orang.

Maka, sebelum kami pulang, kami pun menyempatkan diri untuk singgah dan mencoba makanan di warteg tersebut.

Namanya “Warteg Warmo Jadi Mulya”. Saya tidak bisa menggambarkan disebelah mananya Tebet, warteg tersebut. Karena saya tidak begitu paham jalanan disana. Tapi yang jelas di dekat warteg itu ada posko FBR (Forum Betawi Rempuq).

Pagi itu kondisi warteg tidak begitu ramai (paling ramai katanya di saat makan siang). Ada dua orang pengunjung disana saat kami tiba. Kondisinya hampir samalah mungkin seperti kami, datang kesana untuk sarapan.

Seperti kebanyakan warteg mungkin ya? Tempatnya tidak terlampau luas, cukup bersih. Tapi pilihan makanannya menurut saya lumayan banyak.

Pertama, saya mencoba telur dadar dan ayam goreng saus asam manisnya. Saya tergiur dengan cantiknya warna dari kedua makanan itu di display-nya. Kesan saya setelah mencoba kedua makanan tersebut adalah: asin.

Dahi saya langsung mengernyit dan kepala saya langsung berdenyut-denyut. Saking asinnya, saya tak menghabiskannya. Daripada saya menderita memakannya, lebih baik saya hentikan.

Namun saya masih ingin mencoba makanan yang lain. Ingin membuktikan: “ah mungkin hanya beberapa saja yang asin, tidak mungkin semuanya asin.” Kemudian saya pun mencoba sate cumi nya (maaf, nggak ada fotonya). Kebetulan, saya sudah sangat lama tidak makan cumi. Terakhir pas saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Soalnya, dulu kata ayah saya cumi itu tidak terlampau baik untuk dikonsumsi, makanya ya terakhir kali makan sewaktu SD itu.

Kesan pertama dari gigitan pertama sate cumi itu adalah… asin!

Gila! Koq pada asin semua makanan yang saya cobai itu? Apa indra pengecap saya lagi bermasalah? Sepertinya tidak. Maka nasib si sate cumi pun sama seperti teman-temannya tadi, tidak saya habiskan.

Setelah selesai makan, cuci tangan, bayar, kami pun segera cabut ke bandara.

Oya, sepertinya warteg Warmo ini pernah didatangi oleh Global TV yang punya acara “Sekitar Kita”. Terlihat dari adanya papan “rekomendasi” yang tergantung di dindingnya.

Well, kalau Anda penggemar makanan yang rada “asin”, maka warteg Warmo ini harus Anda tambahkan ke dalam daftar tujuan perburuan kuliner Anda! πŸ˜‰