Singapore Flyer

Penasaran ingin melihat Singapura dari ketinggian 165 meter? Maka Anda harus menaiki Singapore Flyer atau roda putar raksasa ini. Untuk dewasa, kemarin kami membayar tiket seharga 33SGD/orang.

tiket masuk untuk dewasa

tiket masuk untuk dewasa

Lumayan mahal memang. Tapi apa sih yang nggak mahal di Singapura? :D. Namanya juga negara turis :D. Apalagi dengan kurs yang nyaris menyentuh Rp 10.000/SGD, makin berat saja rasanya mengeluarkan uang di negara Merlion itu :D. Nasib jadi orang Indonesia :(.

Ok, back to Singapore Flyer. Wahana yang dibuka tahun 2008 ini beroperasi dari jam 8.30-22.30. Saran saya, datanglah di malam hari. Karena menurut saya, pemandangan Singapura di malam hari lebih mewah dan indah daripada siang hari. Apalagi kalau langitnya cerah :).

Untuk keterangan lebih lanjut mengenai Singapore Flyer, silahkan kunjungi lamannya di sini.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Satu Hari di Universal Studio

Ini adalah kali ke tiga saya ke Singapura dan kali ke dua di tahun 2013 😀 . Demen banget, ya, pergi ke negeri yang dulunya adalah negeri nelayan ini 😀 . Selama kunjungan yang tiga kali itu, sekalipun kami tak pernah memasukkan Universal Studio yang terletak di Sentosa Island itu ke dalam daftar tempat yang harus dikunjungi di Singapura. Soale belum punya anak 😀 . Berhubung kami datang bersama keluarga besar yang notabene juga membawa anak-anak, maka kami pun mengunjungi amusement park yang dibuka pada tahun 2010 itu.

Kami mengunjungi wahana Hollywod, Far-Far Away, Jurassic Park, Waterworld, Ancient Egypt, Sci-Fi, dan terakhir, New York. Yang paling menarik menurut saya adalah wahana Ancient Egypt dengan atraksi utamanya yaitu Revenge of The Mummy. Saya tidak ikut masuk ke dalam menikmati atraksi Mummy tersebut, karena saya nggak suka dengan mummy-mummy-an :D. Maka saya beserta anggota keluarga yang tidak ikutan, menunggu diluar. Ketika menunggu itulah saya meng-explore wahana Ancient Egypt ini dan memutuskan bahwa wahana tersebutlah yang paling menarik di seantero Universal Studio.

Sepanjang waktu, mereka memutar lagu-lagu bernuansa Arab yang membuat tubuh bergoyang. Saya sangat menyukainya! 🙂 . Patung Anubis-nya pun menurut suami saya dibuat persis seperti yang ada di Mesir sana. Anubis yang berkepala anjing adalah dewa kematian bangsa Mesir kuno. Selain itu ada obelisk juga. Setelah selesai menjelajah, saya kembali ke tempat penantian 😀 .

Ketika menanti keluarga saya kelar dari atraksi Revenge of the Mummy, saya melihat ‘objek’ yang tak kalah menarik dari patung Anubis. Seorang bocah lelaki. Karena tak bisa ikut menikmati the Mummy (sepertinya ada batasan umur untuk bisa menikmati The Mummy itu), ia dan ayahnya menunggu diluar. Ayahnya berdiri tak jauh darinya. Si bocah duduk persis di depan saya. Disitulah ia dengan wajah polosnya ‘berpose’ menunggu dengan manisnya dan sabarnya 🙂 .

20140103-085909.jpg

 

Ah little boy, thanks for sitting there and making me smile :).

Dibawah ini beberapa foto yang saya rangkum dari Universal Studio kemarin:

 

Wahana New York yang warna-warni:

 

***

Sesuai judul, kami menghabiskan satu harian di Universal Studio ini. Dari mulai jam 9 pagi hingga jam 9 malam. Pokoknya untuk yang punya anak, saya sangat merekomendasi tempat ini untuk dikunjungi. Jika lapar ataupun haus, jangan khawatir, tersedia banyak tempat makan minum di tempat ini.

Oya, untuk yang memerlukan kereta bayi, kursi roda atau kendaraan listrik, bisa menyewanya di kios yang terletak di dekat pintu masuk, sebelah kanan.

20140103-105640.jpg

20140107-064739.jpg

tempat penyewaan kursi roda, kereta bayi dan kendaraan elektrik di universal studio

 

Untuk lebih jelasnya mengenai Universal Studio Singapura, silahkan klik di sini.

 

Ibu Rumpi

Kenalkan, Ibu Rumpi.

Ibu Rumpi adalah seorang pedagang di Pasar Klandasan, Balikpapan. Menurut pengakuannya, beliau telah berjualan di sana sejak tahun 70-an. Saat itu Pasar Klandasan belum dibangun bagus seperti sekarang.

Dari pagi hingga siang, biasanya beliau berjualan pada emperan salah satu toko kelontong di sana. Jika matahari terik, beliau akan memindahkan dagangannya ke emperan jalan di seberang toko kelontong, supaya tidak terlampau kepanasan karena sengatan matahari.

Awalnya beliau berjualan kedelai di pasar ini. Lalu berjualan jagung. Disambung dengan berjualan ayam. Kemudian sampai sekarang dagangannya silih berganti sesuai dengan modal yang ada serta permintaan pasar. Namun setelah hampir empat tahun saya menjadi pelanggan tetapnya, saya perhatikan, kini beliau cenderung berjualan buah.

Beliau bertempat tinggal di kilometer 15 (arah Samarinda). Biasanya beliau tiba di pasar sekitar pukul delapan pagi dan pulang pukul lima sore. Cukup jarang beliau tidak berjualan. Karena kalau tidak berjualan, keluarganya tidak makan.

***

Kepada saya, beliau sendiri cukup jujur menurut saya. Kalau buah dagangannya manis, beliau akan bilang manis. Kalau tidak manis atau busuk, beliau tidak akan menawarkannya kepada saya. Keren, ya? :D.

Oya, ngomong-ngomong tentang pedagang buah, saya jadi teringat kepada satu trik dari Om saya tentang bagaimana membeli buah yang manis :D. Jagi gini, sebutlah misalnya Anda mau membeli jeruk. Dengan ekspresi cool, tanyakan ke penjualnya apakah ada jeruk asam. Kalau jawabnya tidak, maka belilah jeruknya sebanyak yang Anda butuhkan. Kalau jawabnya ada, ya jangan dibeli dong :D. Kecuali Anda memang mencari jeruk yang asam :D.

Saya telah sering mempraktekkan trik ini. Kadang berhasil, kadang pedagangnya terkejut serta sebal mendengar pertanyaan saya :D. Tapi ada juga ada yang cool :D. Mungkin mereka yang cool ini sudah pernah mendengar trik ini juga, ya? Hahahahha :D.

******

ibu rumpi

ibu Rumpi

keranjang ibu Rumpi

IBU RUMPI 5

tempat berjualan dan timbangan ibu Rumpi

IBU RUMPI 1

emperan jalan tempat ibu Rumpi berjualan jika matahari terik

 

Nachos Cihuy

Bosan dengan cemilan ‘itu-itu’ saja? Well, mengapa tidak coba bikin nachos seperti yang akan saya bagikan resepnya di bawah ini? Dengan saus guacamole yang segar cihuy, dijamin, acara nonton bola atau film atau malam minggu Anda di rumah dengan pasangan tercinta, semakin cihuy :D.

Bikinnya gampang banget dan nggak pake lama. Monggo disimak.

***

Bahan, campur semua:

  • 200 gr daging buah alpukat (haluskan dengan garpu)
  • 1 buah cabai merah besar (belah dua, potong dadu 1/2 cm)
  • 1 buah tomat merah (buang bijinya, potong dadu 1/2 cm)
  • 50 gr bawang bombay cincang
  • ½ sdt garam
  • 1 sdm air jeruk nipis

20131011-123957.jpg

Santap dengan keripik tortilla..

20131011-123447.jpg

20131011-123514.jpg

voila!

20131011-123923.jpg

***

Gampang, kan? 😀 Mau mencoba bikin masakan Meksiko lainnya? Coba yang satu ini: Chicken Quesadillas Sambal Salsa.

Happy weekend and happy cooking dear friends!

***

Sumber resep: Femina.

Aek Natonang

Libur Natal tahun 2003, saat pulang kampung ke Lontung, Samosir, saya mengajak Bapak beserta adik dan sepupu mendaki gunung menuju Aek Natonang yang berada di Tanjungan. Saya penasaran, bagaimana sih rasanya naik gunung? Soale selama ini saya belum pernah naik gunung. Dan selama ini, kalau pulang kampung, saya hanya bisa melihat gunung itu beserta jalan zig-zagnya dari jauh, dari jendela rumah Ompung (bahasa Batak, artinya kakek/nenek, orangtua dari orangtua saya).

Mendaki

Jumat pagi (26 Desember) sekitar jam sembilan, kami pun memulai pendakian bersejarah itu :D. Awalnya, semangat saya masih berkobar-kobar, seperti kain yang dilumuri minyak tanah lalu dibakar. Eh, nggak tahunya, setelah sekitar setengah jam mendaki, capek sekali rasanya! Jantung saya sepertinya mau meledak. Berat banget!

Melihat keadaan saya, adik-adik dan sepupu meledek saya, kata mereka, “Gimana, Kak? Apakah sudah mulai ada penyesalan?” 😀 . Saya jawab, “Yaelah, enak aja lo pada. Aku nggak nyesal naik gunung ini. Aku kan memang pengen tahu gimana rasanya yang memanjat gunung ini. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Belum tentu tahun depan aku bisa pulang ke bona pasogit (kampung halaman). Jadi, yaaa, nggak ada penyesalan. Cuma memang capeeeek banget.” Saya harus berhenti bolak-balik untuk menenangkan jantung ini. Bisa jadi, kalau tidak ada saya, mereka pasti bisa lebih cepat mendaki.

Sewaktu hampir sampai di puncak, kaki saya masuk ke lumpur. Dari jarak yang tidak begitu jauh, tanahnya kelihatan keras. Tahu-tahu, setelah dijalani, alamak, tanahnya lembek sekali alias lumpur 😦 . Tapi dari tempat kaki saya kemasukan lumpur itu, pemandangannya baguuuuuuuus banget! Pemandangan Pulau Samosir dengan Danau Toba-nya tanpa kabut, sungguh amat cantik! Saking cantiknya, kami menyebut momen itu dengan “Swiss-nya Samosir” 🙂 .

Ingin rasanya momen itu saya abadikan. Tapi sayang, berhubung waktu itu kami tak punya alat dokumentasi (baca: kamera atau henpon berkamera), maka momennya lenyap begitu saja. Saya belum tertarik dengan fotografi saat itu. Tahun 2005 saya baru mulai jepret menjepret. But one thing for sure, pemandangan Samosir yang sangat indah waktu itu masih terekam jelas di memori saya.

Sesampainya di puncak, kami semua bersalaman 😀 . Seperti pendaki gunung profesional saja, pakai acara salam-salaman segala hahaha 😀 . Syukur kami tidak bawa bendera merah putih. Kalau dibawa, pasti sudah kami tancapkanlah itu bendera di atas sana hahahah 😀 .

Setelah istirahat dan menghirup udara segar di warung minuman yang terletak di pinggir jalan raya Desa Tanjungan, kami pun melanjutkan perjalanan ke Aek Natonang. Artinya dalam Bahasa Indonesia: Air yang Tenang. Jarak tempuh dari lokasi puncak ke Aek Natonang sekitar 500 meter.

Belo

Oya, hampir lupa. Ada satu anggota lagi yang ikut mendaki dengan kami. Yaitu si Belo. Anjing Ompung saya yang setia banget 😀 . Memasuki areal Aek Natonang, terdapat sebuah ranch atau peternakan. Menurut Bapak saya, dulu Bapak dari Ompung saya memelihara banyak kuda, lembu dan kerbau di peternakan ini.

Saat kami tiba, ada beberapa kuda yang berkulit hitam sedang wara-wiri di padang rumput. Waktu kuda-kudanya berlarian, si Belo pun ikut-ikutan lari. Mungkin gara-gara kulit si Belo juga hitam, dipikirnya dirinya adalah kuda. Makanya dia ikutan lari. Hahahahaa 😀 .

Arboretum Aek Natonang

Keletihan selama perjalanan terbayar sudah, ketika akhirnya kami melihat Aek Natonang di depan mata. Wuiiihh.. Airnya memang benar-benar tenang. Lokasinya cocok sekali menurut saya untuk syuting film India. Bisa bebas lari kesana-kemari sambil menari di atas hamparan padang rumput :D. Film India, kan, begitu toh? Lari dan nari melulu 😀 .

Menurut Bapak saya, Aek Natonang ini sejatinya adalah bendungan atau waduk yang dibangun oleh leluhur kami (sekitar 8 generasi diatas saya), untuk mengairi sawah di Lontung yang terletak di bawah gunung. Jadi mulanya, leluhur kami bertempat tinggal di Desa Tanjungan ini. Namun karena di dataran tinggi tidak cocok bertanam padi (cocoknya menanam kopi), akhirnya mereka pindah ke tempat yang lebih rendah dan lebih hangat, yaitu ke bawah gunung, ke Lontung. Untuk mengairi sawahnya, dibangunlah Aek Natonang ini.

Tahun-tahun berlalu. Aek Natonang pun seolah terlupakan oleh keluarga besar kami. Orangtua saya pernah berusaha menyatukan semua keluarga untuk bekerja sama mempertahankan Aek Natonang agar tidak jatuh ke tangan negara. Tapi gayung tidak bersambut. Usaha mereka dimentahkan. Semua keluarga nampaknya sibuk dengan urusannya masing-masing. Apa daya, Aek Natonang akhirnya kini telah berada di tangan negara. Namanya sekarang adalah: Arboretum Aek Natonang.

“Apa arti arboretum?”, tanya saya ke diri sendiri ketika melihat papan namanya di pinggir jalan raya Tanjungan, bulan Juli lalu. Saya tanya juga ke pemilik angkot yang saya sewa dari Lontung, serta ke pemilik warung di dekat situ. Tidak satu pun dari mereka mengetahui arti arboretum. Sayang sekali. Mengapa pemerintah membuat nama dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh penduduk sekitar? Untuk gengsi-gengsian saja kah? Supaya keren saja kedengarannya, begitu? 😦 .

Arboretum Aek Natonang

Setelah saya cari di google.com, ternyata arti arboretum adalah: botanical garden atau semacamnya. Amangoi (ungkapan takjub dalam bahasa Batak), koq jauh banget lah pemerintah kita ini bikin nama, ya? Bahkan di Singapura sana saja yang notabene botanical garden-nya banyak dan canggih, tidak disebut dengan arboretum 😦 .

Skylift

Kembali ke Desember 2003.

Di Aek Natonang, kami berenam piknik, leyeh-leyeh. Di bawah pohon dap-dap, sambil menikmati pemandangan hamparan pinus di seberang sana, kami makan-minum ala kadarnya dengan bekal yang kami bawa dari Lontung.

Dalam pikiran saya, sempat terbayang:

“Suatu hari nanti, tempat ini akan diramaikan oleh skylift yang akan menghubungkan Lontung dengan Aek Natonang, serta skylift yang akan menghubungkan Sigapiton (di seberang danau) dengan Aek Natonang. Resor atau hotel pun akan dibangun juga di sini. Aek Natonang akan dibuat cantik sedemikian rupa menjadi botanical garden atau winery (seperti di Eropa sana), sehingga baik turis nasional maupun internasional tertarik datang kesana. Pada akhirnya, pariwisata Samosir pun bangkit.”

Pulang

Masih ingin berlama-lama sebenarnya di sana. Tapi keadaan langit dengan awan hitam yang menggelantung, tidak mengizinkan kami berlama-lama di Aek Natonang. Kami harus kembali turun melalui jalan yang tadi. Kalau hujan, tanah akan basah dan licin, sehingga sulit untuk turun gunung.

Kami pun beberes dan kembali ke puncak gunung. Ternyata turun gunung lebih “hebat” alias lebih gawat lagi saudara-saudara… Lutut saya lemas banget. Gemetaran. Pengennya sih ada pilihan naik perosotan saja di situ. Jadi bagi yang tidak sanggup menuruni bukit, ya turun pakai perosotan, gitu… Kan, enak tinggal meluncur saja…

Setelah selesai menuruni bukit, ‘ujian’ belum kelar juga. Masih ada jalan setapak sejauh 500 meter yang harus ditempuh untuk sampai ke rumah Ompung. Saat pulang memang terasa lebih berat, ya? Padahal kan, jalan yang ditempuh sama saja sebenarnya. Hahaha. Hebat bangetlah pokoknya perjalanan kami itu. Untungnya saya punya tongkat sakti alias tongkat penolong yang diberikan Bapak di awal pendakian tadi. Sangat menolong saya sepanjang perjalanan.

Saya jadi teringat dengan ucapan adik sewaktu hampir sampai di puncak (setelah tragedi kaki saya masuk lumpur). Katanya kepada Bapak, “Pak, pulangnya kita naik bus sajalah, ya…” Huahahaha kami tertawa terbahak-bahak mendengar permintaannya itu.

Agak tergoda juga saya dengan permintaannya itu. Membayangkan beratnya medan yang harus ditempuh lagi saat pulang, ya mendingan naik bus saja deh 😀 . Tapi kalau naik bus, pengalamannya nggak ‘cantik’ dong, kan? Seolah mengamini agar pengalaman kami ‘cantik’, jawab Bapak, “Bus tidak menentu adanya dari Tanjungan menuju Tomok.” 😀 (Harus naik bus dari Tanjungan menuju Tomok. Lalu dari Tomok naik angkot lagi ke Lontung). Hahahah.. Pupus sudah harapan pulang naik bus 😀 .

*****

Di bawah ini sebagian foto yang berhasil saya abadikan dari perjalanan Juli 2013 kemarin, dengan iphone. Enjoy!

 

******

Tips jalan-jalan ke Aek Natonang.
  • Sewa mobil dari Lontung-Aek Natonang setengah hari (+/- 6jam) = Rp 150.000. Dari Tomok ada juga yang menyewakan mobil atau motor.
  • Siapkan mental untuk melewati jalan raya Tomok-Tanjungan yang tidak mulus. Seperti yang pernah saya singgung disini.
  • Jarak tempuh Tomok-Aek Natonang +/- 1 jam.
  • Tidak dipungut biaya masuk ke Aek Natonang. Gratis.
  • Jika piknik disana, mohon jaga kebersihan. Bawalah pulang sampah Anda. Disana tidak ada tempat sampah. Kecuali kalau Anda makan-minum di warung dekat pintu masuk Aek Natonang.
  • Siapkan baju hangat, disana dingin.

Always in My Heart

Hampir setiap minggu, seorang gadis kecil bersama Sang Bapak naik mobil menjemput Sang Ibu ke tempat kursus menjahit di daerah Kampung Keling, Medan. Sembari menunggu Sang Ibu selesai, kadang mereka beli rujak yang sangat enak yang tempatnya tak jauh dari kursus menjahit. Kadang mereka juga beli roti atau camilan yang enak di Sumatera Jaya (SJ). Dan kadang juga, mereka menyambangi toko kue India yang berada tak jauh dari SJ, kalau Sang Bapak lagi pengen makan kue kering kelapa ala India yang maknyus.

***

Bisingnya kendaraan yang lalu lalang, serta merta membuyarkan lamunan saya. Saya tidak sedang berada di Kampung Keling yang saya kenal dua puluh tahun yang lalu. SJ yang sekarang pun sudah ada steak house-nya.

20130824-190928.jpg

Tidak, ini pun bukan Medan yang saya kenal dulu. Di sore yang saat itu hanya tinggal beberapa saat lagi berbuka puasa, Medan terlihat dan terasa begitu hiruk pikuk, begitu hidup, begitu ramai, begitu sibuk, begitu macet, begitu kota.

Ya, begitu kota adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Medan yang sekarang. Begitu rupa ia bersolek, hingga saya nyaris tak mengenalinya lagi. Pengemudi membawa kendaraan seenak udelnya. Lampu merah artinya jalan terus, bukan berhenti. Lampu hijau, ya, jalan terus juga :D. Cuma ada di Medan.

20130824-185032.jpg

20130825-194153.jpg

Agak berat mengakuinya, tapi kini Medan sudah asing di mata saya. Namun bagaimanapun, tetap saja kota ini adalah kampung halaman saya. Tempat lahir beta. Tempat Ayah Bunda membesarkan saya. Tak mungkin lepas dari ingatan. Ah, jadi terharu saya menulisnya. Bentar ya, ambil kain lap dulu untuk melap air mata yang jatuh sedikit di pelupuk mata :D.

Oke, mari kita lanjutkan. Airmata sudah kering :D.

Berkat seorang saudara yang baik hati, saya dibawa keliling Medan. Makan pangsit, beli andaliman, beli bolu Meranti (wajib hukumnya :D), melihat Mesjid Raya, Pasar Sambas, dst. Meski cuma dua malam, sudah cukuplah bagi saya untuk melepas rindu. Kalau ada umur serta rezeki yang panjang, bolehlah kita berjumpa lagi hihihiii :D.

Mesjid Raya Medan.

20130825-192734.jpg

Yuki Simpang Raya.

20130825-194425.jpg

Penjual kue kering di Pasar Sambas.

20130825-194501.jpg

Sudako atau angkutan kota (angkot) Medan, khas dengan warna kuning ngejrengnya :D.

20130825-194401.jpg

Becak motor (betor) populer dengan nama ‘becak mesin’.

20130825-194330.jpg

Pasar Sambas.

20130825-194249.jpg

Solo Photo, Kampung Keling.

20130824-185052.jpg

Pasar Central.

20130824-184936.jpg

Penjual andaliman di Pasar Central.

20130824-185020.jpg

Toko pakaian di pasar Central.

20130824-184907.jpg

Penjual lapchiong di Pasar Sambas. Lucunya, saya justru tahu kalau namanya ‘lapchiong’, dari seorang teman di Balikpapan, baru-baru ini :D. Jadi, selama hampir 30 tahun saya makan si lapchiong ini, saya nggak tahu namanya apa. Yang pasti, rasanya enak :D.

20130824-184820.jpg

Penjual kain di Pasar Sambas.

20130824-184805.jpg

Penjual daging di Pasar Sambas. Ambooooi.. harumnya… :D.

20130824-181739.jpg

Pertokoan di Jalan Sisingamangaraja.

20130824-181625.jpg

Mari Photo Studio.

20130824-181454.jpg

Pangsit Medan. Rasanya tiada duanya :D.

20130825-194511.jpg

Kota Medan dilihat dari atas.

20130825-192150.jpg

20130825-192217.jpg

Medan, kau selalu di hatiku. Always in my heart.

(photos are taken with iphone)

***

Tips jalan-jalan di Medan:

  • Hati-hati jambret/copet/perampok.

  • Kalau waktu Anda banyak, cobalah naik becak mesin/betor. Ongkosnya kalau jarak tempuh 3-4 km = Rp 10.000

  • Penginapan banyak terdapat di Jalan Sisingamangaraja.

  • Tempat makan tersebar dimana-mana. Dari mulai yang halal hingga tak halal. Kaki lima hingga restoran bintang lima, semuanya ada. Dan yang pasti semuanya enak :D. Kuliner Medan nggak ada yang nggak enak. Hahaha.

  • Kawasan Kesawan adalah Kota Tua-nya Medan. Wajib dikunjungi.

  • Sebaiknya gunakan pakaian yang tidak tebal, karena Medan panas.

Pasar Klandasan

20130807-133753.jpg

Siapa senang ke pasar tradisional? Saya, sayaa (tunjuk tangan :D). Mungkin karena dari kecil sering dibawa Ibu belanja ke pasar tradisional, akhirnya sampai sekarang saya senang ke pasar tradisional. Apalagi karena saya senang memotret, maka selain untuk berbelanja keperluan dapur, saya juga sekalian motret di pasar. Banyak objek dan aktivitas menarik yang bisa diabadikan di pasar tradisional.

Kalau di kampung halaman saya di Medan sana ada Pasar Simpang Limun, nah di Balikpapan tercinta ini, kami punya Pasar Klandasan. Pasar ini terletak di Jl. Jenderal Sudirman. Bagian belakangnya menghadap Selat Makassar. Misalnya Anda ingin istirahat sejenak dari kegiatan belanja, keluarlah dari dalam pasar menuju bagian belakang. Jika beruntung (baca: langit sedang bagus), Anda akan disuguhi pemandangan seperti berikut ini:

20130807-133449.jpg

Atau seperti ini (nelayan sedang mencoba menangkap ikan):

20130807-144744.jpg

Atau mungkin seperti ini (kapal pengangkut batu bara melintasi selat Makassar):

20130807-144718.jpg

Menghibur mata, hati dan pikiran, bukan? 🙂 Puas dengan pemandangan tadi, sekarang kita lanjut menelusuri pasar.

***

Kalau masuk dari pintu utama di depan, kita akan mendapati ini:

20130807-134353.jpg

Penjual bunga segar:

20130807-134335.jpg

Pada bulan puasa dan menjelang lebaran seperti sekarang, biasanya semakin ramai dipadati pengunjung:

20130807-134409.jpg

Ada yang membuka lapak penukaran uang baru:

20130807-133619.jpg

Kadang ada juga yang menjual panci di pinggir jalan, di depan pintu masuk:

berbagai panci

Makin ke dalam, kita akan menemukan penjual sayuran, bumbu, ikan asin, dan kawan-kawan:

sayuran

jeruk nipis petai dan kawan kawan

ikan asin 2

Di sebelah kiri (kalau masuk dari depan), kita akan bertemu dengan penjual berbagai makanan siap santap:

berbagai makanan

Kemudian bertemu dengan kios peralatan dapur/rumah tangga:

loyang kue

peralatan rumah tangga

Jalan terus, kita akan keluar pasar dan menemukan penjual buah:

buah-buahan

Di dalam pasar juga ada yang berjualan buah, khususnya pisang:

penjual pisang

Di sekitar penjual pisang ini ada pula yang berjualan telur:

penjual telur

Kios atau los ikan/udang berada di bagian belakang pasar:

20130807-133513.jpg

tempat penjualan ikan

Di seberang kios ikan (keluar dari pasar), kita akan menemukan kios penjual kelapa:

20130807-133737.jpg

Mau yang muda atau yang tua? 😀 Untuk masak rendang, bagusnya kelapa yang tua 😉

20130807-133707.jpg

Jalan sedikit lagi ke belakang dari tempat jualan kelapa, terdapat kios/los penjual ayam kampung dan bebek. Kalau menjelang lebaran begini, harga ayam kampung naik drastis. Kemarin saya sempat bertanya harga seekor ayam kampung muda kaki kuning, kepada salah satu langganan saya. Beliau menyebut harga Rp 120.000! Makjang! Kalau hari biasa, harganya sekitar Rp 60.000-Rp 75.000/ekor. Kalau di tempatmu berapa kawans? (Saya pilih ayam kampung berkaki kuning karena biasanya dagingnya manis).

Bagaimanapun, ayam-ayam itu pasti habis terjual. Soale tak ada pilihan. Beli atau mati. Eh, beli atau tidak lebaran sama sekali :D. Saya pun ngacir nggak jadi beli. Dompet sudah menipis, tinggal ongkos untuk pulang :D. Besok ke tetangga sebelah saja kalau mau makan opor ayam kampung hahahaa :D.

20130807-134152.jpg

20130807-134212.jpg

Di luar, di seberang penjual kelapa, ada penjual nenas dan pepaya:

20130807-133859.jpg

Dulunya ada Pasar Blauran di dekat Pasar Klandasan ini. Biasanya digunakan untuk berdagang non makanan seperti pakaian, tas, sepatu, bingkai foto, dll. Tapi pasar tersebut sudah habis dilalap si jago merah tahun 2012 silam. Penyebabnya saya kurang tahu. Sebagian kios yang dulunya terdapat di pasar Blauran ini akhirnya direlokasi ke seberangnya (seperti foto dibawah). Sebagian badan jalan digunakan untuk memarkir mobil dan motor. Akibatnya, jalan untuk dilalui kendaraan dan pejalan kaki menjadi semakin sempit.

jalan

Di antara Pasar Klandasan dan Pasar Blauran dipenuhi dengan kios penjual emas dan henpon serta tetek bengeknya:

toko perhiasan

servis hp pilih mana

Capek jalan sana-sini keliling pasar, perut pasti keroncongan dong :D. Mari cicipi Coto Makassar yang tempatnya berada tak jauh dari ex-Pasar Blauran. Ada satu warung coto yang bernama H. Kasim. Coto Makassar disini menurut saya rasanya juara se-Balikpapan sodara-sodaraaa. Pilihannya ada yang daging dan campur (bersama jeroan kalau saya tak salah). Kalau saya suka yang daging dong ;). Sebelum harga bahan bakar minyak (bbm) naik, seporsi Coto dibanderol Rp 18.000.

coto makassar

Bebas mau makan berapa bungkus ketupat. Yang penting perut kuat, harga tetap Rp 18.000/porsi :D.

ketupat

Rasanya… Enak banget.. Santannya ringan, gurih. Apalagi kalau angin laut pas berhembus sepoi-sepoi di siang bolong, alamak, bisa habis 5 ketupat tuh hahahha :D. (Warung Coto H.Kasim ini berada di pinggir pantai).

coto makassar 2

***

Well, sekian dulu tentang Pasar Klandasan. Kapan-kapan akan saya posting mengenai pasar yang lain di Balikpapan ;). Dan untuk kawan-kawan yang merayakan Idul Fitri, saya ucapkan:

20130807-132921.jpg

Enjoy!

Spageti ala Chef M

spageti chef m

Resep spageti ala saya ini nggak pake lama membuatnya :D. Dan so pasti uenak :D. Yuk, langsung saja:

– Pasta spageti 200 gr. Rebus sesuai dengan ketentuan seperti yang tertera pada kemasan. Sisihkan.

– Ikan tuna +/- 200 gr (bisa pakai tuna kalengan atau kalau mau bikin tuna sendiri ala kalengan: fillet ikan tuna sesuai selera, lumuri dengan jeruk nipis, garam secukupnya, bawang putih cincang secukupnya serta merica, kukus hingga matang). Kalau tak mau tuna, pakai udang atau seafood lainnya juga bisa.

Tomato concasse gadungan:

bawang putih 4 siung, bawang merah 4 siung, iris

– tomat merah 3 buah ukuran sedang, potong dadu atau sesuai selera

– cabai merah atau rawit secukupnya (kalau suka pedas), iris

– garam dan merica secukupnya

Cara membuat tomato concasse & penyelesaian:

– Tumis bawang hingga harum, masukkan cabai, tomat, garam, merica, aduk, biarkan mendidih.

– Masukkan tuna, aduk sebentar, coba rasanya. Matikan api, angkat.

– Sajikan spageti bersama siraman tomato concasse dan taburan daun seledri cincang.

– Bon appetit! 🙂

***

Mengapa saya sebut tomato concasse gadungan? Karena bumbu tomato concasse dan cara memasak yang sebenarnya lebih ribet dari ala saya :D. Pada tomato concasse bukan gadungan, biasanya harus ada: bawang bombay, bawang putih, garam, gula, daun thyme, oregano, basil, tomato paste dan tomat segar.

Spageti ala chef M ini cocok dimakan pada pagi, siang dan malam hari :D. Monggo dicoba kawans 🙂

***

Kualanamu Int’l Airport at A Glance

Tanggal 25 Juli 2013 yang lalu, Bandara Kualanamu resmi menggantikan Bandara Polonia yang telah beroperasi sekitar 80 tahun di Sumatra Utara (Sumut). Kebetulan, hari ini Sabtu (27 Juli 2013) kepulangan saya ke Balikpapan (Kalimantan Timur), setelah beberapa hari ‘mendadak mudik’ ke Sumut.

Berhubung saya belum tahu seluk beluk di bandara yang baru ini, saya sengaja pergi pagi-pagi supaya tidak kena macet, tidak terlambat dan tentunya bisa foto-foto dong untuk dokumentasi.

Menurut pengamatan saya, untuk mencapai Kualanamu Int’l Airport (KNIA), calon penumpang bisa menggunakan kereta api dari stasiun kereta api besar atau regional Medan yang terletak di Kesawan (Lapangan Merdeka), dengan membayar ongkos sebesar Rp 80.000. Bisa juga menggunakan Damri bandara yang berangkat tiap 30 menit dari terminal bis Amplas (ongkos Rp 10.000) dan Carrefour Gatot Subroto (ongkos Rp 15.000).

Kalau tidak mau naik kereta maupun Damri, calon penumpang bisa menggunakan mobil pribadi atau merental mobil atau naik taksi. Saya sendiri merental mobil karena barang bawaan saya banyak :D.

Well, demikianlah sekilas tentang KNIA. Dibawah ini beberapa foto yang berhasil saya abadikan dari KNIA. Enjoy and happy weekend dear friends!

Oya, grand opening KNIA rencananya September 2013.

 

20130727-130126.jpg

20130727-130635.jpg

20130727-130855.jpg

20130727-130958.jpg

20130727-131524.jpg

 

 

 

 

Bunga Terakhir

Bunga terakhir…
Kupersembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya

Bunga terakhir…
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang ‘tuk selamanya…

20130721-135641.jpg

Bunga diatas adalah bunga mawar terakhir yang tumbuh di balkon saya. Nampaknya saya memang tak berbakat dengan yang namanya memelihara bunga 😀 . Mengagumi sih iya, tapi memelihara nampaknya bukan bagian saya 😀 . Akhirnya bunga-bunga saya mati.

Kini tinggal si cemara lah yang masih bertahan. Soale mereka tanaman yang kuat. Meski jarang disiram, tapi masih tetap bertahan hidup hingga sekarang 🙂 . Hebat, ya? Membuat saya jadi berpikir: lha kalau melihara bunga aja mati, gimana ntar kalau melihara anak?? Jangan-jangan mati juga kalau di tangan saya 😀 Hihihiii 😀 . Nggak ding. Beda dong, ya? Bunga ya bunga. Anak ya anak. Iya toh? 😀 . All right then. Selamat ber-bunga terakhir dan selamat ber-hari Minggu!

(Bunga Terakhir: Bebi Romeo. Foto: Messa)