Rendah Hati

Bahasan rubrik psikologi harian Kompas edisi Sabtu 27 Mei 2017 kemarin, tentang rendah hati, bagus banget menurut saya. Dan sekarang kalau dengar kata rendah hati, entah kenapa saya otomatis teringat sama Pak Jokowi. Mungkin karena udah terlalu lama enggak punya negarawan yang layak diteladani, yang enggak cuma membangun segelintir kelompoknya saja, melainkan benar-benar bekerja membangun Indonesia.

Layaknya orang jatuh cinta, pernah ada beberapa nama negarawan yang nyangkut di hati, kemudian pupus. Waktu jugalah yang akhirnya membuktikan bahwa ternyata mata hati mereka menjadi buta karena harta dan kekuasaan.

Eh, pas lagi teringat sama Jokowi, kebetulan pula ada fotonya terpampang lumayan besar di rubrik internasional (pada harian Kompas edisi yang sama), yang membahas hubungan Indonesia-Australia, yang diibaratkan Kompas seperti hubungan suami dan istri: kadang akrab, kadang cekcok.

Kompas Sabtu, 27 Mei 2017

 

Melihat foto tersebut di tengah desau air mancur, deru motor dan mobil, pemuda-pemudi sibuk berselfie ria, serta adzan berkumandang, saya jadi terharu dan mikir: memang enggak gampang jadi presiden yang mengepalai dua ratus sekian puluh juta jiwa, di negeri yang….

 

yang ibukotanya baru saja diteror bom sewaktu pawai obor menyambut bulan suci Ramadhan, di mana peserta anak-anak meneriakkan β€œbunuh si titik-titik….” (…. mau jadi apa anak-anak ini nanti kalau dari sekarang udah didoktrin membunuh?)

yang wakil presidennya mengaitkan kekayaan dengan agama dan etnis tertentu (padahal kalau menurut saya, seseorang menjadi kaya bukan karena agama atau etnis, tapi karena kerja keras dan cerdas. saya yakin bapak wapres tahu, karena saya yakin beliau sendiri juga pekerja keras dan cerdas. kalau enggak, ya enggak mungkinlah beliau jadi wapres).

yang memberi ganti rugi kepada masyarakat yang lahannya diambil untuk kepentingan bersama.

yang rakyatnya ribut bertanya-tanya mengapa tak mengintervensi kasus Ahok (padahal kalau sempat beliau mengintervensi, habislah sudah bangsa ini disergap serigala-serigala lapar yang mengaum menunggu mencabik).

yang salah dua anak bangsanya baru saja bertunangan hingga menyebabkan para jomblo akut mengalami #HariPatahHatiNasional (selamat ya….).

dan yang…… well, kamu sambung sendirilah daftar ini. karena kalau saya ketik satu per satu realita yang dialami anak bangsa sampai dua ratus sekian puluh juta kalimat (sesuai dengan jumlah jiwa di Indonesia), tangan saya bakal kapalan. πŸ˜€ πŸ˜€ Jadi silakan sambung unek-unek kamu dalam hati masing-masing atau di kolom komentar. πŸ˜€

 

 

Akhir kata, semoga Pak Jokowi tetap rendah hati seperti yang kerap diperlihatkan selama ini, dan semoga Tuhan menyertai beliau sampai akhir nanti.

 

 

 

Advertisements

Menyambut Raja Salman

Raja Salman dari Arab Saudi memang telah kembali ke tanah air beliau setelah berlibur ke Indonesia bulan Maret lalu. Namun ada satu momen yang menarik perhatian saya, yakni sewaktu penyambutan sang raja di bandara Halim Perdanakusuma.

Salah satu media menyebutkan bahwa beliau disambut oleh presiden Jokowi bersama seseorang yang namanya paling sering disebut-sebut di seantero Indonesia selama lima tahun belakangan, dan yang beberapa hari ini dihujani ribuan bunga dari penggemarnya. Saya yakin kalian sudah tahu siapa yang saya maksud. πŸ˜‰

Dan ketika saya pindah ke media lain, di sana disebutkan bahwa hanya Jokowi saja yang menyambut Raja Salman.

Detik itu saya terbahak. Lucu sekali. XD

Lantas media mana yang sebetulnya memberikan informasi yang benar?

Dalam salah satu buku yang pernah saya baca tentang seluk-beluk pernikahan di India, ada satu bagian yang bercerita tentang seorang pria mengusir ibunya yang sudah janda, dari rumah mereka, karena tak cocok dengan istrinya.

Kepada keluarga dan tetangga, si ibu yang terusir tersedu-sedu mengadu betapa tega perlakuan anak lelakinya yang sudah ia lahirkan, rawat dan besarkan selama ini.

Kepada keluarga dan tetangga, si pria menjelaskan bahwa alasan ia mengusir ibunya karena sang ibu selama ini seringkali menghina istrinya yang sedari awal memang bukan perempuan pilihan sang ibu.

Tiap cerita punya dua sisi. Tanpa pernah mendengar penjelasan dari si pria, ceritanya tidak akan pernah lengkap dan masyarakat cenderung hanya menyalahkan serta menghakimi si pria. Sedangkan si ibu lolos dari kritikan keluarga dan tetangga karena menyembunyikan fakta, bahwasanya ia kerap menghina sang menantu.

Pastilah ada value atau nilai-nilai yang dianut si anak yang dilanggar oleh ibunya, sehingga ia tega mengusir ibu sendiri. Dan pastilah ada value atau nilai-nilai yang dianut si ibu dan dilanggar oleh si anak, sehingga ia tega menghina menantu sendiri.

Berdasarkan value atau nilai-nilai yang dianut tadi, si pria dan ibunya menganggap bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah benar.

Dan berdasarkan value pula, kedua media yang saya sebut di atas tadi menganggap bahwa berita yang mereka tulis adalah benar. Karena value yang mereka anut menentukan sudut pandang mereka.

Kesimpulannya, media memuat berita berdasarkan sudut pandang yang ditentukan oleh nilai-nilai yang mereka anut. Bukan apa adanya. Ini menyebabkan media tidak netral, melainkan berpihak.

Media yang tidak berpihak kepada pribadi yang namanya paling sering disebut-sebut di seantero Indonesia selama lima tahun belakangan, dan yang beberapa hari ini dihujani ribuan bunga dari penggemarnya tadi, tentu tidak akan membeberkan fakta bahwasanya pribadi tadi ikut menyambut Raja Salman di bandara Halim Perdanakusuma. Sebaliknya, media yang berpihak, tentu akan mencantumkan nama pribadi tersebut ikut sewaktu menyambut Raja Salman.

Nah, yang kena imbasnya siapa lagi kalau bukan pembaca? Dan pertanyaan pentingnya belum terjawab oleh pembaca: media mana yang sebetulnya memberi informasi yang benar? Apakah pribadi tersebut benar-benar ikut menyambut Raja Salman atau tidak?

Jika media yang satu menganut nilai-nilai yang bertujuan memecah belah bangsa dan mengadu domba masyarakat, tentu isi beritanya pun hanya berputar-putar di ranah yang bikin hati pembaca panas. Sedangkan jika media menganut nilai-nilai yang bertujuan bikin adem masyarakat, tentu isi beritanya berputar-putar di ranah yang bikin hati pembaca adem.

Dan pembaca ini kan banyak jenisnya, ya? Ada jenis pembaca yang seumur hidup membaca ratusan buku, ribuan, maupun puluhan buku. Namun ada juga jenis pembaca yang seumur hidup hanya pernah membaca satu buku.

Bagi pembaca yang telah membaca ribuan buku, kemungkinan besar dia memiliki banyak pembanding bagi berita-berita yang dibaca di media dan sudut pandangnya pun lebih beragam. Sedangkan bagi pembaca yang seumur hidup cuma pernah membaca satu buku, kemungkinan besar pembandingnya cuma satu dan sudut pandangnya pun cuma satu.

Orang Indonesia sangat gemar bermedsos, namun minat baca kita tak sejalan dengan kegemaran bermedsos. Dari seribu orang hanya satu yang gemar membaca. Jika pengguna medsos di Indonesia sekarang ada 80 juta, maka yang gemar membaca hanya 80 ribu.

Mengingat situasinya seperti ini, sangat wajar jika sekarang begitu banyak berseliweran berita yang faktanya tidak jelas, yang kemungkinan besar disebarluaskan oleh mereka-mereka yang hanya membaca satu buku seumur hidupnya, dan yang menganut nilai-nilai yang bertujuan memecah belah bangsa dan mengadu domba masyarakat.

Ingatlah kawan, tiap berita yang kalian baca di media ditulis berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang mereka anut, bukan berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang dianut pembaca. Makanya seringkali tiap habis membaca satu berita, pembaca berkomentar: Ah, mana mungkin! Enggak bener ini!

Bahkan dengan pembuktian video yang menunjukkan keberadaan si pribadi yang ikut menyambut Raja Salman tadi saja, ada begitu banyak masyarakat yang skeptis dan menganggap video tersebut cuma rekayasa.

Jadi kebenaran sesungguhnya siapa yang bisa menentukan? Dan media mana yang bisa dipercaya dan yang benar? Jawabnya, tentu terpulang kepada nilai-nilai yang dianut masing-masing pembaca dan sebersih apa hati pembaca hendak mencari kebenaran. πŸ™‚

Eh, tapi ada juga yang bilang kebenaran sesungguhnya ditentukan oleh suara terbanyak…. XD

 

 

 

 

 

featured image: bbc.com

Medsoswalking

Jangan bilang siapa-siapa kalau selama ini saya suka intip-intip beberapa akun medsos alias media sosial ya…? XD Saya enggak setuju kalau dibilang stalking, karena keknya konotasinya negatif ya? Medsoswalking mungkin lebih cocok. Semacam blogwalking kalau di dunia perblog-an.

Lalu kenapa pula saya medsoswalking? Jadi gini kawan, setelah membaca kembali blog ini selama setahun kemarin, ternyata sebagian besar berisi postingan protes dan marah-marah. XD XD Saya yakin, mata kalian pun pasti sakit sewaktu membacanya. *mohon dimaapkan ya para pembaca budiman… πŸ™‚

Puncaknya barangkali menjelang akhir tahun kemarin. Saya betul-betul muak dengan maraknya pemberitaan negatif. Tapi yang membuat saya mendengar, membaca, dan melihat pemberitaan negatif itu sebenarnya tak lain tak bukan adalah diri saya sendiri, karena saya membiarkan diri sendiri dikuasai energi negatif.

Saya pikir, β€œOke, sudah cukup. Saya tak mau lagi berkutat dalam kubangan lumpur negativitas dan kawan-kawannya….” Saya yakin sejak saat itulah semesta bersatupadu menolong saya untuk kembali ke jalan yang benar dan lurus, meski sesekali tersandung kerikil-kerikil tajam.

Mengikuti saran dokter Tan Shot Yen yang mengatakan bahwa, β€œJika seseorang sakit gara-gara makanan yang dia konsumsi, maka bukan obat yang diperlukan, melainkan menghindari penyebabnya,” saya memutuskan untuk tidak lagi membaca, melihat, maupun mendengar hal negatif, termasuk beberapa blog dan akun medsos. Godaan itu kadang muncul, tapi saya langsung mengusirnya karena yakin enggak bakalan ada manfaat positif jika saya membaca postingan-postingan mereka.

Tak lama setelah saya memutuskan meninggalkan kubangan lumpur negativitas tadi, saya medsoswalking dan tak sengaja menemukan satu akun medsos keren yang bagi saya isinya semacam brankas kebahagiaan dan bahan bakar bagi jiwa untuk melakukan hal-hal positif.

Akun medsos ini mengajak para pengikutnya untuk menutup mata bagi postingan maupun kabar kabur bernada negatif.

β€œTutuplah matamu untuk kejahatan. Bila ada postingan bernada ‘miring’, tidak usah dibahas, tidak usah direpost, reblog, regram atau diforward. Karena jika kita meneruskan berita-berita negatif, kita menjadi kaki tangan mereka,” tulisnya satu waktu.

β€œBermainlah di bawah matahari, dengarkan burung-burung bernyanyi. Ada begitu banyak hal indah di luar sana yang bisa kau lihat dengan matamu yang indah itu. Juga ada begitu banyak hal indah dan manis di luar sana yang bisa diucapkan oleh bibirmu yang indah itu. Telingamu yang indah pun, gunakanlah untuk mendengar hal-hal yang sedap didengar,” tulisnya lagi di lain waktu.

Bacanya bikin hati jadi adem, ya? πŸ™‚

Hidup kita saat ini mungkin tak lagi bisa lepas dari medsos. Namun kita masih bisa menyaring medsos mana yang layak dibaca, dilihat, didengar, dan yang bisa mengukir selengkung senyum di wajahmu yang cantik dan tampan itu. πŸ™‚

 

 

 

 

Tax Amnesty

Dalam sesi tanya-jawab seminar tax amnesty kemarin dulu, seseorang yang mengaku mahasiswa mengajukan beberapa pertanyaan mengenai makro ekonomi yang bernada kritis dan pesimis, kepada salah satu narasumber yang berasal dari pemerintahan.

Si narasumber pun menjawab dengan lugas. Bahwasanya arah kebijakan presiden Jokowi saat ini jelas hanya untuk kesejahteraan rakyat dan membangun negeri. Salah satunya dengan pembangunan infrastruktur secara menyeluruh. Namun si mahasiswa nampaknya belum puas dengan jawaban yang ia terima. Ia pun bertanya lagi.

Dari gelagat si narasumber yang mengaku idealis, sepertinya ia tidak begitu nyaman dengan pertanyaan kedua kali dari si mahasiswa, yang masih bernada pesimis. (mungkin sikap tidak nyaman ini refleksi sikap saya sendiri. karena jujur, saya tidak nyaman mendengar pertanyaan kedua kali dari si mahasiswa, yang menurut saya… terlalu negatif bagi seorang mahasiswa…) Juga karena adanya keterbatasan waktu, jika si mahasiswa ingin jawaban yang panjang kali lebar soal makro ekonomi, lebih baik ia berdiskusi empat mata dengan si narasumber.

Pertanyaan-pertanyaan lain pun menyiratkan betapa para hadirin yang budiman curiga serta tak percaya kepada pemerintah. Karena di era sebelumnya, beberapa kebijakan pemerintah memang dirasa hanya berpihak kepada segelintir rakyat, dan pemerintah tidaklah seterbuka sekarang.

Tax amnesty sendiri (yang intinya adalah melaporkan harta atau aset serta penghasilan yang belum diungkapkan), kalau saya tak salah, memang baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Jadi tak mudah memang memulihkan kepercayaan rakyat yang (mungkin) sudah berulangkali (merasa) diperlakukan sebagai rakyat kelas terakhir dan selalu (merasa) dikhianati pemerintahnya sendiri, apalagi dengan menawarkan sesuatu yang baru. (bayangkan kalau kamu berdiskusi dengan orang pesimis, di mana tiap ide yang kamu berikan akan dimentahkan. capek, nggak? Atau apa sudah ada #TemanAhok yang merasa dikhianati oleh Ahok gara-gara beliau akhirnya urung memilih jalur independen di pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 nanti? Ingatlah kawan, dalam politik tak ada kawan atau lawan abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi).

Dan menurut saya, mau sebagus apa pun pemerintah bekerja, akan selalu ada rakyat yang merasa tak puas dengan kinerjanya. Jika pemerintah diumpamakan sebagai orangtua, dan rakyat sebagai anak, maka tak mungkin semua permintaan rakyat bisa dipenuhi pemerintah, kan? Bahkan tak sedikit orangtua yang pilih kasih kepada anak-anaknya… (tapi itu mah urusan orangtua sama yang Maha Pencipta lah ya…)

Maka sebagai rakyat, lakukan saja yang terbaik. Salah satunya dengan taat membayar pajak, dan ikutlah tax amnesty jika kamu merasa masih ada aset maupun penghasilan yang belum diungkapkan. Caranya bagaimana? Datangi Kantor Pelayanan Pajak terdekat. (jangan datangi rumah saya) XD

Untuk lebih jelasnya mengenai tax amnesty, silakan jalan-jalan ke situs resmi amnesti pajak, atau telepon layanan tax amnesty di 1500745.

Tetaplah berpikir positif kawan! Karena segala sesuatu berawal dari pikiran. Jika pikiran kita positif, maka itulah yang akan menjadi budaya kita.

**

-Messa, pemerhati pajak… pajak Sambas, pajak Horas, pajak Klandasan, pajak Kebun Sayur, dan pajak-pajak lainnya… (pajak dalam bahasa Medan berarti pasar….)

 

 

 

Kasus Langka

β€œSemuanya Rp sekian sekian, ibu,” ujar kasirnya kepada saya saat belanja hari Minggu di TOKO INI. Jangan tanya hari Minggunya kapan. Yang jelas, hari Minggulah. πŸ˜€ Continue reading

Balikpapan yang Fotogeni(t)k

Awal bulan lalu, dalam rangka menyambut ulang tahunnya yang ke sepuluh, sebuah situs fotografi terkeren di Indonesia (fotografer.net) mengadakan acara berburu foto jalanan (street hunting) akbar se-Indonesia. Balikpapan ikut meramaikan. Saya juga, daripada bengong nggak jelas dirumah dan supaya kamera nggak jamuran, ikut turun ke jalanan.

Rute yang kami jalani waktu itu cukup pendek, yaitu: Pelabuhan Semayang-Pantai Melawai-Lapangan Merdeka-Kafe Kilang. Biasanya Balikpapan itu fotogeni(t)k. Kalau cuaca cerah, maka langitnya akan berwarna biru merekah, sehingga cantik untuk diabadikan. Tapi sejak awal November, hujan sangat sering mengguyur kota ini. Maka muncul kekuatiran kalau langitnya akan jelek pas hari H.

Sehari sebelum acara, saya berdoa supaya besoknya dikasih cuaca yang cerah. Eh beneran, besoknya doa saya dijawab :). Cuaca cerah, matahari terik, langit biru merona, kepala saya pun pusing hahaha. Sempat pula saya urungkan niat untuk ikut memotret gara-gara ganasnya sengatan matahari siang itu. Apalagi saya pun lupa bawa topi. Suhu udara di Balikpapan kalau sedang cerah biasanya diatas 30 derajat celcius. Plus, mungkin karena daerah ini di tepi pantai dan dekat dengan garis ekuator, maka semakin ‘heboh’ lah panasnya.

Tapi segera saya hapus niat untuk tidak ikut motret itu. Soale saya merasa jadi seperti orang yang tak bisa memegang janji. Sudah saya yang minta cuaca cerah, lalu diberi, tahu-tahu saya pula yang membatalkan pergi. Manusia macam apa saya??!! Akhirnya saya memilih pergi menembus cuaca panas siang itu. Sudah kadung pusing, biarlah sakit sekalian. Hahaha. Untungnya ada salah satu panitia yang mau meminjamkan topinya kepada saya. Makasih banyak ya Pak, mudah-mudahan kebaikanmu dibalas Tuhan.

Setelah selesai street hunting, saya pun meluncur ke daerah Plaza Balikpapan yang berada di Jalan Sudirman untuk mengabadikan daerah depan plaza itu di malam hari (lihat featured image).

Berikut ini beberapa hasil jepretan saya. Mudah-mudahan bisa menghibur para pembaca sekalian yang siang hari ini sedang kepanasan, kedinginan, galau, senang, sedih, dan lain sebagainya :). Terima kasih juga untuk fotografer.net yang telah memprakarsai acara tersebut. Saya ucapkan selamat ulang tahun yang ke sepuluh. Sukses selalu!

Enjoy!

Balikpapan Sekilas Pandang

Terletak di Borneo atau Kalimantan. Tepatnya di Kalimantan Timur (Kaltim). Dulu (sebelum tinggal disini), gara-gara saking seringnya saya mendengar nama Balikpapan, saya pikir ia adalah ibukotanya Kaltim. Ternyata bukan. Samarinda-lah ibukota Kaltim. Sering pula Balikpapan dijuluki sebagai ‘Kota Minyak’.

Sudah hampir tiga tahun saya tinggal di kota ini, tapi belum pernah sekalipun saya tuliskan disini mengenai Balikpapan. Maka saya putuskan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menceritakan sedikit mengenai Balikpapan.

Masih banyak teman-teman saya yang berpikir kalau Balikpapan itu masih hutan belantara dan kami hidup terpencil. Mungkin itu keadaan Balikpapan puluhan tahun silam. Kalau sekarang hutannya sudah habis, diganti dengan Hotel, Ruko, Mall dan Plaza yang terang benderang :).

Bahkan Balikpapan sekarang sudah mulai ‘diserang’ macet. Soale penduduknya makin banyak tapi jalannya itu-itu saja, ya jelas jadi macet! (PR nih buat pemerintah kota Balikpapan, mulai dipikirkan dong Pak untuk menambah jalan. Rakyat udah pada ngeluh soale mengenai masalah jalan ini).

Kalau saya tak salah, nama asli Balikpapan ini dulunya adalah Balikkapang. Mungkin seiring waktu berlalu, orang-orang jadi lebih mudah mungkin menyebutkan Balikpapan daripada Balikkapang. Untuk lebih jelasnya mengenai nama ini (jika anda tertarik), silahkan intip aja ke gugel dot com ya.

Di Balikpapan ini pula terdapat bandar udara (bandara) domestik dan internasional Sepinggan untuk wilayah Kalimantan Timur. Jadi yang selama ini saya ketahui, mereka yang tinggal di Samarinda, biasanya mesti menempuh perjalanan darat sekitar dua jam untuk mencapai bandara Sepinggan.

Bandara Sepinggan sendiri saat ini sedang diperluas. Karena dirasa sudah tak layak lagi untuk bandara sebesar itu melayani/menampung calon penumpang se-Kalimantan Timur.

Kalau mengenai pariwisata Balikpapan, saya akan menyarankan anda untuk berwisata kuliner saja daripada wisata alam. Mengapa? Jadi begini, pernah kami mengundang orangtua kami datang ke kota ini untuk jalan-jalan. Maka kami pun mencari informasi tempat-tempat wisata dari situs pariwisata Balikpapan. Maksud hati hendak ‘memamerkan’ alamnya, tahu-tahu setelah kami datangi ke tempat-tempat yang ada dalam daftar ‘tempat wisata’, keadaannya menyedihkan. Jauh dari bagus. Sedih saya melihatnya. Yang jalannya nggak becuslah, yang terendam airlah, yang tidak terawatlah, dlsb. (Jadi bertanya-tanya, sebenarnya pajak yang kami bayarkan tiap tahun itu dipakai untuk apa, ya?) Eniwei, yang jelas, saya kurang merekomendasikan wisata alam.

Tapi kalaupun anda ngotot ingin berwisata alam, maka yang ‘paling bagus’ disini menurut saya adalah, Pantai Melawai dengan pemandangan matahari tenggelam dan kuliner sorenya, serta Pantai Manggar yang lokasinya agak jauh dari Balikpapan.

Ada juga wisata budaya seperti Festival Erau (pesta rakyat/festival Adat Kalimantan Timur) yang pada tahun ini diadakan pada bulan Juli lalu. Saya sendiri belum pernah berkesempatan melihat festival Erau ini. Namun menurut informasi yang saya dapat beberapa waktu lalu, acaranya menarik.

Bicara mengenai makanan, menurut saya makanan khas Balikpapan itu adalah Bingka atau Kue Lumpur yang rasanya hampir mirip seperti Bika Ambon (makanan khas Medan). Bingka ini sendiri, kalau saya tak salah, juga merupakan makanan khas di beberapa daerah lain di Kalimantan. Namun teman-teman disini sering mengatakan kalau makanan khas Balikpapan adalah Nasi Kuning. Setahu saya, Nasi Kuning berasal dari Jawa.

Mungkin karena sebagian besar penduduk Balikpapan adalah warga pendatang (bukan warga asli Kalimantan), dan sudah berpuluh tahun berada disini serta sudah bercampur baur dengan penduduk lokal, maka bisa jadi Nasi Kuning yang mereka bawa dari tempat asalnya itu ‘ternaturalisasi’ menjadi makanan khas Balikpapan :). Kemungkinan seperti itu. Untuk lebih jelasnya, kapan-kapan kita tanyakan kepada ahli kuliner Indonesia :).

Selain Nasi Kuning dan Bingka, makanan laut juga terkenal enak disini. Berikut ini beberapa tempat makan versi saya yang wajib didatangi kalau anda sedang berkunjung ke Balikpapan: 1. Ocean Fish Connection (di Jalan Sudirman Ruko Bandar Klandasan. Wajib dipesan: Kepiting Soka Telur Asin dan semua makanan lautnya), 2. Teluk Bayur (di Jalan Ahmad Yani. Wajib dipesan: Ikan masak Woku dan semua makanan lautnya), 3. Kepiting Kenari (di jalan raya menuju bandara Sepinggan. Wajib dipesan: ya kepiting dong. Kalau mau beli untuk oleh-oleh, sebaiknya dipesan dua hari sebelumnya. Banyak yang pesen soale), 4. Depot Miki (di jalan Sudirman seberang Plaza Balikpapan. Wajib dipesan: nasi kuning plus dagingnya maknyus, makanan yang lainnya juga enak-enak), 5. Coto Makassar di sepanjang pantai Klandasan.

Meski dijuluki sebagai ‘Kota Minyak’ (karena memang daerah penghasil minyak), namun yang namanya mengantri lama di SPBU juga tak jarang terjadi. Makanya teman-teman saya (termasuk saya juga kadang-kadang), sering meledek kalau kesal gara-gara sering mengantri di SPBU, “Ya beginilah kota minyak. Tapi minyak si nyongnyong, minyak jelantah, minyak rambut, minyak wangi, minyak goreng dan minyak-minyak lainnya kecuali bahan bakar minyak….”

Saya kurang tahu entah dimana letak salahnya itu. Mungkin ada pembaca yang berkecimpung di bagian perminyakan yang bisa menjelaskan mengapa Balikpapan tidak bebas-ngantri di SPBU? πŸ™‚

Oya, jangan lupa mampir ke Pasar Kebun Sayur untuk mencari oleh-oleh khas Balikpapan dengan harga yang terjangkau. Menurut saya, oleh-oleh yang khas dari Balikpapan itu adalah tenunan dari akar pohon yang biasanya berwarna coklat, hijau dan merah. Tapi berhubung pohonnya pun sudah semakin sedikit, maka ‘akar-akaran’ lah yang digunakan :). Meski memang masih ada juga beberapa yang terbuat dari akar asli :).

Sekian Balikpapan sekilas pandang. Singgah-singgah ke Balikpapan yaaa πŸ™‚

Wisata ‘Kematian’ di Tana Toraja

Beberapa waktu lalu, kami berkesempatan mengunjungi Tana Toraja (Tator). Tator berada di Propinsi Sulawesi Selatan. Tator ini bisa dicapai melalui jalur darat sekitar 8 jam perjalanan dari Makassar.

Jauh-jauh pergi ke Tator ternyata hanya untuk melihat “makam” atau kuburan :D. Begitulah kesimpulan kami tentang perjalanan itu. Mungkin karena wisata “makam” itulah makanya tidak banyak turis Indonesia yang berkunjung kesana. Orang Indonesia lebih suka wisata belanja keknya, ya? :D.

Well, menurut saya, adat istiadat Toraja itu memiliki beberapa kemiripan dengan adat Batak. Kemiripan ini bisa dilihat dari bentuk rumah adatnya, warna merah, hitam dan kuning yang mendominasi, dan kerbau wajib hadir di acara-acara adat.

Meskipun memang secara umum wisata yang dijual oleh Tator adalah “makam” atau “kematian”, saya terkesan! Makamnya benar-benar unik. Tak heran banyak wisatawan asing yang mau jauh-jauh datang dari negara asalnya, hanya untuk melihat keunikan makam Toraja ini.

Oya, selama berada di Tator, kami menginap di hotel Marante Toraja. Dan di Makassar, kami menginap di hotel Pantai Gapura Makassar. Hotelnya bagus. Bukan promosi ya, cuma sekedar info saja, siapa tahu anda para pembaca butuh referensi penginapan disana. Dan bawa jaket, soale kalau malam dingin booo..

Okelah, berikut ini beberapa momen yang berhasil saya abadikan selama berada disana. Enjoy!