Mereka yang Mencintai Sepenuh Hati

Saya pikir, sebagian manusia di bumi ini sedikitnya menghabiskan enam belas tahun masa hidupnya berhadapan dengan guru. Enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sekolah menengah pertama, tiga tahun sekolah menengah atas, empat tahun masa kuliah. Ada guru bahasa, guru agama, olahraga, guru kesenian, kimia, sosiologi, ekonomi, fisika, biologi, dlst. Kalau ditotal, setidaknya ada sekitar lima puluhan guru yang pernah dikenal tiap satu orang murid.

Dari lima puluh itu, pasti ada lah ya satu dua guru yang pernah meninggalkan kesan di hati sampe nemplok ke mana-mana. πŸ˜€ Kalo pinjem istilah anak sekarang, guru-guru yang bikin baper atau bikin emo. (silakan gugel kalo enggak tau arti emo) πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ *anak-anak sekarang emang ekspresif banget bikin istilah yaΒ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚Β beda banget sama generasi 90-an yang cenderung menahan diri kalo di depan, tapi memberontak di belakang… πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚Β apaan sih mes?Β πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Okelah, sampai mana tadi kita? 😁 Ah iya, guru-guru yang meninggalkan kesan di hati… Seperti misalnya guru killer yang pernah saya tulis di sini, guru yang bikin ngantuk, guru yang membully murid, guru iseng, dan guru yang berani hidup. Selain mereka ini, ada pula guru-guru kesayangan seperti Mister Kobayashi-nya Totto-chan, yakni guru yang mencintai murid-muridnya sepenuh hati.

Menurut saya sangat beda ya antara sekadar mengajar atau cinta anak. Mungkin yang membedakan adalah motivasinya, apakah sekadar jadi pengajar karena itu satu-satunya hal yang dia tahu dan tidak ada pilihan lain untuk menafkahi hidup, atau memang karena cinta anak-anak. Karena kalau sebagai guru ala kadarnya, maka aktifitasnya cuma: datang ke sekolah, ngajar, ngasih ujian, koreksi ujian, ngajar lagi, pulang, begitu bolak-balik. Sedangkan mereka-mereka yang sepenuh hati mencintai murid, biasanya mau mendengar keluh kesah murid, membolehkan murid bertanya apa saja yang mengganjal pikirannya, suka ngebanyol, enggak bikin jarak, langkahnya ringan kayak kupu-kupu seolah tak ada beban, santai, ramah, dan memperlakukan murid sebagai teman. Alih-alih menghakimi, mereka melakukan pendekatan personal bila murid bermasalah.

Saya ingat bagaimana guru matematika saya di SMU bertanya empat mata, sewaktu tahu bahwa saya memilih jurusan sosial instead of IPA, yang dipilih oleh sekitar 80% murid.

β€œKenapa kamu pilih sosial, Mes? Kamu mampu koq ke IPA…” ujar beliau lembut, dengan air muka menyiratkan kekuatiran. Saya mantap memilih jurusan sosial karena terpesona dengan perilaku manusia yang sangat kompleks, dan penasaran dengan penjelasan maupun alasan di balik tiap tindakan yang diambil olehnya. Saya percaya itulah panggilan hidup saya, tapi juga menghargai beliau yang sudah mau repot-repot bertanya dan terang-terangan menunjukkan kekuatirannya, dan juga percaya dengan kemampuan anak didiknya.

Mengingat tindakan beliau ini, menurut saya penting banget ya bagi anak mengetahui bahwa orangtua, selaku entitas terdekat, memercayai pilihan-pilihan mereka. Karena hal ini sangat memengaruhi kepercayaan diri anak kelak.

Nah, saking sayangnya dengan guru-guru yang sepenuh hati mencintai muridnya ini, saya bersama kawan-kawan sekelas pernah bikin pesta ulang tahun kejutan untuk salah satu guru kami yang paling baik, ramah, dan paling perhatian. Dan lucunya, gara-gara tindakan kami ini, beberapa guru lain malah cemburu. πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ Ada-ada aja ya? Bukannya mikir gitu kenapa teman sejawat mereka sampe bisa dibikinin pesta ulang tahun oleh murid-muridnya, tapi untuk mereka (para guru yang seringkali pasang muka jam dua belas), sedikit pun kami tak tergerak bikin pesta ultah. (jangankan tergerak, nyari info kapan ultahnya aja kami enggak tertarikΒ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ ).

Guru-guru yang mencintai murid sepenuh hati ini juga adalah mereka yang tak menyerah mencari cara agar kelasnya menyenangkan, bukan hanya bagi murid, tetapi juga bagi guru. Contohnya seperti Timothy D. Walker, yang nulis buku Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia). Beliau sendiri tadinya guru Amerika yang mengajar di Massachusetts, yang kemudian gara-gara suntuk dengan kegiatan mengajarnya akhirnya pindah ke Helsinki karena berhasil diyakinkan oleh istrinya yang orang Finlandia bahwa, sistem pendidikan di Finlandia berbeda. Pengalamannya mengajar itulah dia tuangkan menjadi 33 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan.

Saya sendiri tertarik membaca buku ini karena potongan blurbnya bilang, β€œbagaimana pendidikan Finlandia yang jam pelajarannya pendek, PR-nya tidak banyak, dan ujiannya tak begitu terstandardisasi, dapat β€œmencetak” siswa-siswa dengan prestasi yang sangat baik.” Aneh, kan? Koq bisa?

Salah satu dari 33 strateginya adalah: tiap satu jam pelajaran (45 menit), guru dan siswa memiliki jam istirahat selama 15 menit. Gile gak tuh? Kenapa mesti istirahat coba? Sementara seingat saya waktu zaman sekolah, kami baru bisa istirahat setelah 3 jam pelajaran (3×45 menit). Misalnya masuk sekolah jam 07.30, maka waktu keluar main alias istirahat di jam 09.45. Itu pun cuma 15 menit. Jadi sekali lagi, gile gak tuh strategi orang Finlandia tadi? *jadi pengen sekolah lagi euy, tapi di Finlandia yaΒ πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Buku ini boleh banget deh dibaca oleh para guru, orangtua, maupun mereka-mereka yang mencintai dunia pendidikan. Dan sebaiknya pastikan baca bagian ‘Kata Pengantar’, karena di situ dijelaskan 5 unsur penting yang membuat siswa Finlandia lebih baik daripada teman sebaya mereka di penjuru dunia lain. πŸ˜‰

 

 

 

Advertisements

Dormammu, Guru, dan Cobaan Tiada Berujung

Mata pelajaran yang dibawakan oleh guru kami di depan kelas dengan gaya mengajar membosankan ujung-ujungnya membuat mata pelajaran tersebut menjadi membosankan. Alhasil murid pun ngantuk dan tidak konsentrasi. Daripada ngantuk dan bosan, saya bikin hiburan sendiri agar waktu tak terbuang sia-sia.

Dua kali empat puluh lima menit bukan waktu yang singkat, kan? Jika digunakan untuk menyaksikan Doctor Strange yang ditanyai dengan lantang, β€œWho are you in this vast multiverse” oleh Sang Leluhur di menit-menit awal pembuka film, maka pada menit ke-90, kemungkinan besar udah nyampe di adegan di mana sang dokter berjubah pergi menemui Dormammu di singgasananya. β€œGue mau berunding!” ujarnya dengan gagah berani begitu tiba di hadapan penguasa dimensi kegelapan tersebut.

Tapi guru kami bukan Dormammu, dan saya belum kenal dengan Doctor Strange saat itu. Jadi enggak ada yang mau dirundingkan dengan beliau. Dan bukan hanya saya yang merasa bosan, teman-teman yang lain juga pada bosan. Itu sudah biasa terjadi tiap kali guru kami ini ngajar.

Namun yang apes hari itu adalah si Erlan. Entah bagaimana guru kami bisa mengetahui kalau Erlan sedang mengerjakan ‘sesuatu’ yang tak ada hubungannya dengan mata pelajaran beliau.

Jangan-jangan… beliau pun tak fokus dengan apa yang sedang diajarkannya….

Erlan ketahuan sedang baca buku cerita yang ia pinjam siang tadi dari perpustakaan. Saya tahu karena saya bersamanya tadi ke perpustakaan dan ia adalah teman sebangku saya.

Guru kami memanggil Erlan ke depan kelas dan memintanya membawa objek pengalih perhatiannya tersebut.

β€œJadi kamu sudah tahu semua mengenai mata pelajaran ini makanya kamu merasa tidak perlu mendengarkan saya mengajar?” tanya beliau. Erlan tak menyahut. Kepalanya menunduk.

Mungkin karena marah, guru kami serta merta mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan kelas sebelum bel tanda pergantian pelajaran berbunyi.

Bagaimanapun, guru selalu benar dan murid selalu salah. Murid harus selalu konsentrasi mendengarkan guru mengajar di depan kelas, tidak peduli apakah cara guru menyampaikan pelajaran bisa diterima murid atau tidak.

Guru boleh mengajar dengan gaya membosankan, tapi murid tidak boleh menggunakan kreativitasnya untuk mengatasi kebosanan. Pokoknya harus fokus kepada guru. Titik. Karena yang berada di depan kelas adalah guru. Bukan murid.

Menurut saya, sebetulnya apa yang dilakukan teman saya si Erlan tidak mengganggu guru, kan? Dia bukannya bikin gaduh, bukannya ganggu murid lain atau mengajak murid lain agar sama-sama mengalihkan perhatian dari guru, bukannya bikin onar, dlst. Erlan hanya mencoba menciptakan kebahagiaannya sendiri dan guru kami saja yang (mungkin) merasa terganggu karena salah satu muridnya kedapatan tidak fokus olehnya.

Namun kebahagiaan kami bisa jadi adalah sumber ketidakbahagiaan bagi guru kami. Mungkin beliau sedih karena kalau kami tak memerhatikan ia mengajar, kami takkan berhasil dalam ujian. Tapi bagaimana mau memerhatikan kalau gayanya mengajar membuat kami ketiduran di kelas?

Minggu berikutnya, guru kami absen. Pun pada minggu berikutnya, beliau masih tetap absen. Ada rasa tak enak menyergap Erlan. “Apakah ini gara-gara saya?” tanyanya kepada kami, temannya satu geng.

Kami dibesarkan dalam lingkungan di mana terdapat semacam peraturan atau tata tertib tak tertulis tapi ‘tahu sama tahu’, bahwasanya yang lebih kecil harus menghormati yang lebih besar, yang lebih rendah harus hormat kepada yang lebih tinggi, yang lebih muda harus hormat kepada yang lebih tua. Tapi bukankah hubungan akan timpang atau berat sebelah jika caranya seperti ini?

Dalam Kitab Kolose pasalnya yang ketiga, ayat delapan belas hingga pasal keempat ayat pertama, dijelaskan bagaimana hubungan antar pribadi yang ideal:

  • Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
  • Hai suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
  • Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.
  • Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
  • Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.
  • Saudara-saudara yang menjadi tuan! Hendaklah kalian memperlakukan hamba-hambamu dengan benar dan adil. Ingatlah bahwa kalian pun mempunyai seorang majikan di surga.

Seimbang, kan? Bukan hanya satu pihak yang diminta untuk menghormati pihak lainnya.

Tapi berhubung tidak semua orang membaca dan memahami kitab Kolose, maka tidak semua orang tahu bagaimana menjalin hubungan yang seimbang. Dan berhubung kami sadar bahwasanya tidak semua orang sadar kalau manusia itu sebetulnya sederajat dengan sesama manusia lainnya, serta keadilan mungkin hanya terdapat di negeri dongeng atau di negeri utopia-nya Sir Thomas More, maka salah satu pihak harus mengalah demi kebaikan bersama.

Erlan beserta kami teman segengnya akhirnya memutuskan berkunjung ke rumah guru kami. Setibanya di kediaman beliau, Erlan, yang merasa paling tak enak hati, langsung minta maaf apabila penyebab absennya beliau selama ini akibat kelakuan tak terpujinya tempo hari di kelas. Guru kami merespon dengan, β€œTidak, Erlan. Bukan gara-gara kamu saya absen. Saya memang sedang sakit.”

Setelahnya, kami pun pergi mengadu kepada salah satu guru lain yang kami anggap mampu menampung aspirasi murid, dan tidak langsung ‘meledak-ledak’ saat murid memberi masukan demi kebaikan semua pihak. Eh, mungkin bukan demi semua pihak, ding. Demi murid tidak lagi mengantuk selama guru mengajar.

Guru kami yang kedua ini super asik dan perbedaan usia antara kami tidak terlalu jauh. Itu salah dua sebabnya mengapa kami anggap beliau mampu menampung aspirasi kami. Sangat berbeda dengan guru kami yang pertama tadi, yang akan memasuki masa pensiun.

Harapan kami, nantinya masukan kami akan disampaikan dengan caranya sendiri oleh guru junior kami kepada guru senior kami tadi. Karena kami yakin, cara penyampaian tak kalah penting dengan pesan apa yang hendak disampaikan. Dan menurut kami, jika masukan disampaikan oleh seseorang yang berada dalam level yang sama dengannya, yakni sesama guru, kemungkinan besar beliau akan mendengarkan. Namun mendengarkan bukan berarti akan berubah….

Dua minggu kemudian, ketika guru kami yang senior tadi akhirnya kembali mengajar, beliau tiba-tiba berkata, β€œKita ujian….”

Oh Dormammu… mengapakah cobaan ini tiada berujung? Apakah ini akibat kami mengadu pada guru junior tempo hari?

 

 

 

Guru Killer

Menghadapi guru galak atau killer itu gampang-gampang susah. Sebenarnya lebih banyak susahnya, sih. πŸ˜€ Apapun yang dikerjakan pasti serba salah. Yang paling bener cuma si guru seorang. πŸ˜€

Tapi dari kakak kelas, kami mendapat bocoran bahwa guru kami yang galak ini senang jika siswa berkunjung ke rumahnya. Ditambah bonus: siapa mengunjungi, maka dia nggak bakal dimarahi secara β€˜tidak terhormat’ di kelas.

Untuk membuktikan teori itu, saya dan teman-teman segeng, yang berada dalam frekuensi yang sama (udah macam radio aja pun pake frekuensi), main ke rumah guru kami tersebut. Modusnya bertahun baru. πŸ˜€

Di rumahnya, kedatangan kami disambut baik dan kami diberi makan kue-kue. Dan selama berada di sana, guru kami itu nggak killer seperti di sekolah. Beliau pun ternyata humoris dan senang bercerita. πŸ˜€

guru killer euy

 

Lalu apa yang kami dapat dari kunjungan itu? Hasilnya, selama setahun diajar doi, kami diperlakukan istimewa. Walaupun sesekali kena marah atau semprot, tapi semprotannya tidak sekeras seperti ke teman-teman lain yang tidak pernah mengunjungi beliau di rumahnya. Ternyata teorinya benar! πŸ˜€

Nah, jika Anda punya kolega yang rada killer atau rada pain in the ass, cobalah sesekali ajak makan, karaokean, ngopi bareng, atau main ke pondoknya. Mungkin nantinya di sela-sela sesi curhat obrolan dari hati ke hati ngalor-ngidul, Anda bisa menyisipkan pesan: abis ini lo baik-baik ke gue, ya? πŸ˜€

Siapa tahu setelah kunjungan Anda, sikap si kolega akan melunak. Tapi harap diingat, judulnya ‘siapa tahu’, bukan ‘sudah pasti’. πŸ˜€ Soale saya sendiri belum pernah meneliti tingkat kevalidan teori ini. :mrgreen:

Tertarik mencoba?

Menariknya, ada juga yang berpendapat bahwa pendekatan dengan cara seperti ini (makan/nongkrong bareng, dlst), masuk dalam kategori berpolitik. Karena orang yang diajak makan/dikunjungi, notabene adalah seseorang yang berkuasa. Dan mereka (si pengajak) ingin mendapatkan keuntungan dari kegiatan itu. Kalau gitu, pacaran juga termasuk berpolitik, dong? Kan, sama-sama pake acara makan bareng, karaokean, nongkrong, ngopi, nonton…….

 

 

Wake Up, You Create Your Own Problem

Seorang Ibu yang juga perempuan karir, mengeluhkan keadaannya (yang tidak bisa senantiasa menjaga anaknya), di akun media sosialnya. “Andai mama bisa menjagamu setiap waktu, Nak,” kicaunya.

Di tempat lain, juga seorang Ibu, yang sudah punya empat anak, mengeluhkan keadaannya kepada temannya karena kemungkinan besar ia hamil anak yang ke-5.

“Aduh, Say (sayur mungkin maksudnya πŸ˜€ ), aku hamil lagi. Baru beberapa hari ini ketahuan. Padahal anakku masih kecil-kecil dan baru saja aku melahirkan anak ke empat. Duuh.. Pusingnya… Gimana, ya… Pengen tak gugurin aja deh… Atau kasih ke kamu aja kali, ya…?”

Teman saya, yang kurang suka mengeluh dan kurang suka mendengar keluhan itu, berkata dalam hati, “Buset dah, ngasih apaan?? Enak aja… Kalau lo nggak mau hamil lagi, kenapa nggak lo tutup aja “pabrik” lo? Atau kalau lo nggak mau hamil lagi dan nggak mau KB, ya lo jangan berhubungan suami-istri lagi dong sama suami lo. Sekarang giliran udah hamil, baru deh ngeluh. Maunya apa, sih?”

Sementara di suatu tempat di Samosir sana, Ucok bersama temannya Togar, ngobrol dengan dua turis asing perempuan yang sedang berlibur di kampung mereka:

“Asal kalian berdua dari mana?”

“Kami dari Amerika.”

“Apa pekerjaan kalian?”

“Kami berdua guru.”

“Wah… Hebat sekali.. Pekerjaan kalian “cuma” sebagai guru, tapi koq bisa berlibur ke tempat sejauh Samosir ini? Pasti gaji kalian besar sekali, ya?”

“Well, kami menabung dan belum menikah…”

“Saya juga guru. Sudah menikah. Tapi karena penghasilan saya dari guru itu kecil, maka sepulang mengajar, saya bertani di sawah. Gitu pun, penghasilan saya sepertinya belum juga cukup untuk memberi makan anak istri saya. Apalagi pergi berlibur seperti kalian berdua,” keluh Togar.

“Memangnya anakmu berapa?” tanya si turis asing.

“Anakku sembilan….”

“Wow.. You create your own problem! Masalahmu kau ciptakan sendiri!” seru si turis takjub.

“Sudah tahu pekerjaanmu sebagai guru bergaji kecil, koq bisa-bisanya kamu bikin anak sebanyak sembilan orang??? Gimana kamu ngasih makan mulut sebanyak itu?? Kenapa kamu nggak ber-KB??” sambung si turis yang satu lagi kepada Togar.

Si Togar, yang masih memercayai pepatah: banyak anak banyak rezeki, kesal dengan omongan turis itu. Ia pun berseru juga keras-keras dalam bahasa Batak, supaya si turis tidak mengerti artinya:

“Dabu ma akkora on!!!”Β Terjemahan bebasnya: ke laut aja lah cewek-cewek ini!!!

**

Memang manusia sendirilah yang menciptakan masalahnya. Karena itulah kebanggaan kita. Kalau nggak ada masalah, nggak ada yang mau diceritain. πŸ˜€ Kalau nggak ada masalah, nggak ada perjuangan. Benar, kan? πŸ˜€

Dan dalam tiap keputusan yang kita ambil, pastilah ia memiliki konsekuensi/dampak/efek. Ketika kita tidak bisa menerima atau menghadapi konsekuensi-konsekuensi tersebut, di sinilah muncul masalah, yang cenderung membuat manusia mengeluh alih-alih mencari solusi.

Pada kasus Ibu yang pertama, ia tak mampu menerima konsekuensi dari pilihan hidupnya yang memutuskan tetap berkarir meskipun sudah mempunyai anak. Ia pun mengeluh.

Di kasus yang kedua dan ketiga, Ibu yang satu itu beserta Togar si guru, pun tak mampu menghadapi konsekuensi dari keputusan mereka untuk tidak ber-KB. Mereka juga mengeluh.

Punya masalah itu wajar. Tapi kalau boleh, tak perlulah mengeluh. Sekali dua kali, mungkin teman masih mau “mentolerir” keluhan Anda itu. Tapi setelahnya, panas juga mungkin hati dan telinganya mendengar Anda mengeluh melulu.

Mengeluh bukan solusi. Mengeluh itu, entah dimana pernah saya baca, hanya memperpendek umur katanya. Apalagi kalau disertai menyalahkan kambing hitam. Sudah terlalu banyak kambing hitam disalahkan. Sekali-sekali salahkan kambing merah, dong. πŸ˜€ Atau lakukan sesuatu yang bisa membuat Anda keluar dari masalah Anda tersebut.

Saya teringat kepada salah satu adegan dalam film Devil Wears Prada, dimana Andrea si anak baru yangΒ curriculum vitae-nyaΒ mengagumkan, mendatangi Nigel temannya dan mengeluh bahwa nampaknya semua yang dilakukannya tak ada yang benar-benar memuaskan di hadapan Miranda bosnya, sang editor kejam.

Alih-alih menenangkan Andrea yang mengeluh, Nigel justru menyuruhnya berhenti dari pekerjaannya. Menurutnya ia bisa mencari gadis lain (yang benar-benar mau bekerja), hanya dalam lima menit.

Tentu saja Andrea terkejut. Dia tidak bermaksud begitu. Nigel pun meneruskan wejangannya.

“Andrea, be serious. You are not trying. You are whining. What is it that you want me to say to you, huh? Do you want me to say, “Poor you. Miranda’s picking on you. Poor you”?

She’s just doing her job. Don’t you know that you are working at the place that published some of the greatest artists of the century? Halston, Lagerfeld, de la Renta. And what they did, what they created was greater than art because you live your life in it.

Bla bla bla bla bla…… And what’s worse, you don’t care. Because this place, where so many people would die to work, you only deign to work. And you want to know why she doesn’t kiss you on the forehead and give you a gold star on your homework at the end of the day. Wake up.”

Andrea pun bangun dan pada akhirnya ia berhasil menaklukkan masalahnya, pekerjaannya, serta bos kejamnya itu.

Kalau Anda ingin menjaga anak Anda, kenapa tidak Anda tinggalkan pekerjaan Anda atau bekerja dirumah? Anda harus membuat keputusan.

Kalau Anda tetap memilih untuk tidak meninggalkan pekerjaan Anda, dan anak nggak mau bisa Anda jaga, nggak usah berandai-andailah di media sosial kalau Anda ingin menjaga anak Anda. Fokus saja ke karir Anda. Atau jangan punya anak sekalian. Kasihan anak Anda itu menjadi korban andai-andai Anda.

Keputusan ada di tangan Anda. Ambil dan lakoni. Dan sebelum mengambil keputusan, sebaiknya Anda pikirkan dululah dengan matang menggunakan akal sehat, agar tak muncul penyesalan maupun keluhan di masa mendatang.

Wake up!

 

 

 

 

 

Bunga Rampai Cinta 2: Naksir Anak Ingusan

Kelas enam SD, kali pertama saya naksir dengan makhluk yang bernama ‘cowok’ πŸ˜€ . My first crush ini kebetulan teman sekelas saya. Saya dulu belum tahu dong, kalau menyenangi lawan jenis itu istilahnya naksir. Justru Ibu saya lah yang akhirnya mendefinisikan kalau saya lagi naksir dengan cowok yang namanya (sebut saja) Edo itu. πŸ˜€

Apa yang membuat saya naksir sama si Edo ini?

1. Karena Si Edo ini orangnya pintar. Langganan juara kelas dari kelas dua sampai kelas enam. Kenapa nggak dari kelas satu? Itu karena juara satunya pas kelas satu adalah saya πŸ˜€ . Tahun-tahun berikutnya, karena persaingan yang cukup keras, akhirnya saya lengser keprabon a.k.a turun tahta hahahha πŸ˜€ .

2. Karena Si Edo ini orangnya asik diajak haha-hihi bareng πŸ˜€ . Kalau di zaman SMU saya benci banget dengan Akuntansi, nah, zaman SD saya benci banget dengan yang namanya bahasa Inggris πŸ˜€ . Bahasa Inggris mulai ‘menghiasi’ roster kami di kelas tiga. Saking bencinya saya sama mata pelajaran yang satu ini, gurunya pun ikut-ikutan saya benci πŸ˜€ .

Ibu guru bahasa Inggris kami waktu itu, gaya berpakaiannya modis. Beliau senang memakai rok serta sepatu bertumit tinggi ke sekolah. Rambutnya yang panjang selalu diikat ke belakang, gaya ekor kuda. Dan corak pita rambutnya, SELALU sama dengan corak roknya! Itulah yang membuat saya takjub sekaligus benci! Sepertinya selain senang mengajar, ibu guru kami yang satu itu juga senang membuat rok dan pita sendiri πŸ™‚ . Atau mungkin kalau pun roknya dibeli jadi, pastilah satu set dengan pita rambutnya πŸ˜€ .

Berhubung saya benci dengan mata pelajarannya, saya musti menemukan ‘sesuatu’ untuk menyibukkan dan menyenangkan diri sendiri πŸ˜€ . Nah, gaya berpakaian si ibu guru inilah yang jadi ‘sasaran’ olok-olokan saya. Si Edo pun saya ‘rekrut’ untuk ikutan mengolok-olok beliau πŸ˜€ . Tapi ngoloknya nggak di depan bu guru langsung lho yaaa. Bahaya πŸ˜€ Kalau ketahuan bisa disetrap di depan kelas hahahah πŸ˜€ . Badung mah boleh saja, asalkan lihat situasi dan kondisi πŸ˜€ .

Kami berdua menyebutnya ‘si baju pinjaman’. Mengapa? Ya, gara-gara corak roknya selalu sama dengan pita rambutnya πŸ˜€ . Kalau jam mengajarnya tiba, saya selalu menantikannya dari jendela kelas kami yang berukuran besar. Jika sudah terdengar suara ‘kletak kletok, kletak kletok’ dari jauh, itu sudah pasti sepatu si ibu guru πŸ˜€ .

Lalu, sambil ngikik-ngikik nggak jelas, saya dan si Edo inilah yang bergantian berteriak di kelas, memberitahu ke teman-teman: “Wooyy, si baju pinjaman sudah datang, woooy.” Dengan kalimat tambahankalau rok yang dikenakannya hari itu kotak-kotak-: “Hari ini roknya kotak-kotak, hahahhaa……”

Begitu bu guru masuk ke kelas, suasana mendadak tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Dasar, kecil-kecil sudah pemain sandiwara semua πŸ˜€ .

3. Karena duduk bareng. Di awal tulisan, sudah saya sebut kalau saya kali pertama naksir di kelas enam. Itu karena di kelas enam SD saya duduk bareng si Edo ini. Sebelum-sebelumnya tidak. Siapa coba, yang nggak senang duduk bareng juara kelas dan ketua kelas? πŸ˜€ Mungkin gara-gara duduk bareng itulah, naksir pun bersemi hahahahhaa πŸ˜€

4. Karena si Edo ingusan. Iya, si Edo ini langganan ingusan sejak saya mengenalnya. Sebentar-sebentar, dia pasti mengelap hidungnya karena meler. Sepertinya dia punya masalah dengan saluran pernafasannya. Tapi sepertinya justru gara-gara ingusan itulah yang membuat si Edo ini menarik di mata saya dulu hahahahhaa πŸ˜€

5. Karena ibunya ramah, sederhana, berwajah teduh dan senang tertawa πŸ˜€ That’s true, my friend πŸ™‚ . Bagaimana saya bisa tahu semua itu??? Mungkin karena saya naksir sama anaknya. Jadi, yaaaa, otomatis, saya juga jadi tertarik memerhatikan sikap ibunya πŸ˜€ . Dibalik anaknya yang seorang juara, pasti ada seorang ibu yang bijaksana πŸ™‚ . Betul, apa betul? πŸ˜€

Seringkali, setibanya dirumah sepulang sekolah, saya pasti menceritakan tindak tanduk si Edo dan ibunya si Edo ini ke Ibu saya. “Ma, tadi, kan, mamanya si Edo begini….. Tadi siang mamanya si Edo, begitu… Si Edo tadi di kelas bilang begini…… Mamanya Edo itu, cantik, ya, Ma……..”

Dari keseringan saya menceritakan si Edo dan ibunya Edo itulah akhirnya Ibu saya menyimpulkan, kalau putri sulungnya ini ternyata lagi naksir dengan cowok :D. Hahahahhaaa….

***

Beberapa bulan yang lalu, di bandara Sepinggan, ketika suami dan saya hendak bertolak ke Jakarta, kami duduk menunggu di salah satu lounge. Kebiasaan saya, jika berada di dalam ruangan, saya pasti selalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru untuk mengetahui kondisi tempat. Tak sengaja, mata saya tertumbuk pada satu meja yang letaknya di belakang tempat duduk kami. Ada seorang wanita dan dua orang pria duduk disitu. Salah satu dari pria tersebut menarik perhatian saya.

Si pria yang saya perhatikan itu sibuk dengan leptopnya. Antara yakin dan tidak yakin, saya menoleh lagi untuk mengulang pengamatan saya. “Ah… Apa iya, itu si Edo? Tapi emang mirip, sih….” kata saya dalam hati. “Tapi kalau iya, ngapain dia disini??tanya saya lagi. “Yaelaaaah, ya buat kerja, dong, Mes! Dunia ini luas, Mes. Emangnya cuma kalian yang bisa kerja di Balikpapan ini??? Tapi meskipun luas, katanya cuma sebesar daun kelor, koq. Makanya kita bisa betemu dengan orang yang tak disangka-sangka.” jawab saya lagi dalam hati.

Selagi saya sibuk bertanya jawab dengan diri sendiri, meyakinkan apakah pria yang saya perhatikan itu Edo atau bukan, tiba-tiba suara announcer menggema di lounge mengumumkan keberangkatan pesawat kami. Maka saya beserta suami pun bergegas meninggalkan lounge menuju ruang tunggu di dalam, meninggalkan si pria yang menurut saya (mirip) Edo itu.

***

Di ruang tunggu dalam, saya menceritakan perihal pria yang mirip Edo di lounge tadi serta kenangan tentang Edo yang saya taksir pertama kali sebagai seorang perempuan, kepada suami saya. Suami saya cuma tertawa mendengarnya πŸ˜€ . Ah, itulah enaknya menikahi cowok pintar. Bukannya cemburu kalau diceritakan tentang naksir-naksiran di masa lalu, tapi justru menertawakan kekonyolan-kekonyolan itu πŸ˜€ . Yep, I indeed married the smart one, and (occasionally) ingusan πŸ˜€

How about you dear friends? Kapan kali pertama naksir?

 

 

Bunga Rampai Cinta 1: Bencilah Daku, Kau Kukejar

Well, mumpung masih suasana hari cinta-cintaan, maka kali ini saya mau cerita tentang cinta. πŸ˜€ Monggo disimak πŸ˜€ πŸ˜€

***

Bencilah Daku, Kau Kukejar

Menurut saya, enggak semua orang bisa melakukan hal yang sama; tiap orang beda-beda talentanya. Ada yang talentanya jualan.Β Jual apa pun laku. Ada yang tidak tahu diri dengan talentanya. Sudah tahu kalau berjualan bukan talentanya, namun tetap ngotot mau jualan. Sudah berpuluh tahun ikut pelatihan jualan, tapi tetap nggak bisa menjual apa-apa. Mungkin bisa, tapi tidak secemerlang orang yang memang talentanya berjualan itu. Namun ada juga yang tahu diri, tahu minatnya di mana, maka mereka pun memilih mengikuti minatnya itu.

Nah, menjelang akhir kelas dua SMU ada pembagian jurusan. Karena tahu diri, saya memilih mengambil jurusan IPS karena saya tidak begitu berminat untuk memperdalam ilmu pengetahuan alam (IPA). Kalau kata saya dulu menggambarkan jurusan IPA itu… “Duh, bola jatuh ngapain juga diukur kecepatannya? Jatuh, mah, jatuh saja. Iseng banget ngukur-ngukur kecepatan πŸ˜€ .”

Tapi rupanya kalau mengambil jurusan IPS, ada satu ilmu yang tetap “ikutan” di dalam daftar mata pelajaran, yaitu Akuntansi. Saya paling benci sama mata pelajaran yang satu ini. Ngapain juga musti balance debit dan kredit? Lalu kadang disuruh pula membikin jurnal penyesuaian yang diperlukan. Duileeeeh, pelajaran yang aneh. Mending bikin jurnal perjalanan saja deh, Bu Guru? πŸ˜€ . Saya paling demen tuh πŸ˜€ . Pokoknya bawaan saya stres kalau sudah masuk pelajaran Akuntansi.

Pernah satu kali, saat ujian Akuntansi, saya nggak tahu mau nulis jawaban apa. Karena saya nggak ngerti soalnya. Serius. Saya nggak ngerti.Β  “Ini soal apaan, sih?” tanya saya dalam hati waktu itu. Nggak tahu mau menjawab apa, akhirnya saya gambar wajah orang di lembar jawaban. Gambarnya seperti di komik-komik ala Jepang itu πŸ˜€ . Maklumlah, saya penggemar komik πŸ˜€ . Gambarnya pun gede, segede kertas folio. Di bawah gambar orang itu, saya tuliskan: “Maaf, Bu Guru.” (Guru Akuntansi saya dulu perempuan). Biarinlah saya kasih jawaban seperti itu. Daripada pusing. Saya orangnya apa adanya. Kalau memang nggak tahu, saya nggak akan sok tahu. Lumayan dapat uptul, alias upah tulis, jadi nilainya nggak nol πŸ˜› .

***

Setelah selesai menggambar, saya letakkan pulpen dan menyapu pandangan ke sekeliling. Ada yang serius berkutat dengan pulpen dan lembar jawabannya. Ada yang gelisah. Ada yang bisik-bisik: “Ini kayaknya salah soal dehGimana ya… Jawab nggak ya….?”

Akhirnya, di menit ke-15 dari 90 menit waktu ujian yang diberikan, saya bangkit dari kursi dan menyerahkan kertas jawaban ke guru pengawas. Lalu saya lenggang kangkung keluar kelas. Di luar kelas, saya perhatikan masih sepi. Tidak ada murid lain selain saya πŸ˜€ . Rupanya memang cuma saya yang keluar kelas dari beberapa kelas yang mengadakan ujian yang sama. Huahhahaaa. Parah. Itu ujian paling parah yang pernah saya hadapi πŸ˜€ .

Selewat ujian, tibalah waktunya evaluasi. Menurut guru akuntansi kami, soalnya memang salah. Dan dia sengaja bikin soal salah. Di sekolah saya dulu, beberapa guru memang sering membuat soal yang salah ketika ujian. Mereka mau lihat apakah ada yang ‘berani’ menjawab atau “berani tidak menjawab”. Di situlah ‘ujiannya’ πŸ˜€ . Kalau menjawab kan sudah pasti nilainya nol. Atau paling tidak uptul-lah. Nah, yang nggak menjawab berarti pinter, kan? Soale dia tau kalau soalnya salah. Lha kalau soal salah ngapain dijawab, coba?

Bu Guru saya bilang: “Jadi memang sebaiknya soal kemaren tidak usah dijawab, anak-anak…..Huahahha… Bu Guru iseng banget deh πŸ˜€ . Untunglah saya gambar orang waktu itu πŸ˜€ . Tapi untuk kasus saya itu, saya memang nggak tahu apakah soalnya salah atau tidak, karena saya memang nggak ngerti. Soale saya emang nggak belajar dan saya tidak pernah benar-benar cinta sama Akuntansi. I guess i was just lucky that time. Hahahaa πŸ˜€ .

Tapi coba tebak, ke jurusan mana saya akhirnya melangkah setamat SMU? Akuntansi sodara-sodara πŸ˜€ . Yeah, nampaknya si Akuntansi ini emang ‘cinta berat’ sama saya. Dikejarnya saya kemanapun melangkah πŸ˜€ . Well, nampaknya kalimat bijak yang mengatakan, “Jangan terlalu membenci seseorang atau sesuatu, suatu saat nanti bisa-bisa kamu berjodoh dengannya,” benar adanya πŸ˜€ . Makanya temans, kalau nggak mau berjodoh dengan yang Anda benci itu, jangan keterlaluan membencinya, ya? Yang sedang-sedang saja, seperti kata penyanyi dangdut Vety Vera πŸ˜€ .

***

Happy Valentine dear friends!

 

 

Berani Hidup?

Dulu saya berani mati, tapi sekarang saya berani hidup. Kenapa? Karena orang hidup tantangannya banyak. Orang hidup masalahnya banyak. Hidup bukan cuma tentang mengejar kesenangan/kebahagiaan.” – Guru SMU saya.

***

Suatu hari saya bertemu dengan seorang ibu yang saat itu sedang menikmati sebatang rokok yang menyala ditangannya. Kami mengobrol sebentar. Dia bercerita tentang pernikahan pertamanya yang gagal, dan pernikahan keduanya sekarang pun tidak lebih baik dari yang pertama; tapi masih dipertahankan karena mereka sudah tua. Sambil bercerita, sesekali ibu ini menghisap rokoknya dalam-dalam dan mengepulkan asapnya ke udara. Merokok adalah pelarian baginya. Keputusasaan dan kekecewaan silih berganti datang dalam hidupnya. Sehingga merokok adalah hal yang paling masuk akal untuk membuatnya bahagia sesaat. Merokok membuatnya melupakan kekecewaan dan keputusasaan itu sejenak.

Lalu kemarin saya menonton film Bridget Jones’s Diary sekilas. Si Bridget, tokoh sentralnya, di awal cerita digambarkan sebagai perokok berat. Dan sepanjang yang saya tonton, diceritakan bahwa si Bridget ini merupakan perempuan yang lumayan sering menghadapi keputusasaan dalam hidupnya. Mulai dari tidak punya pacar, pekerjaan biasa-biasa saja, orangtua yang tengah berpisah, dlst. Pokoknya hidupnya tak menarik sama sekali, sehingga merokok juga nampaknya adalah sebuah pelarian baginya. Dengan merokok, setengah beban hidupnya seakan lenyap; hidup jadi lebih ringan.

Benarkah demikian?

Gara-gara melihat asyiknya si Bridget ini merokok, kemarin saya jadi sempat ingin merasakan lagi rokok yang dinyalakan itu di mulut saya. Saya bukan perokok. Tapi saya pernah mencoba sebatang rokok saat SD. Maklumlah, anak SD masih bau kencur, masih hijau, pengen tahu bagaimana rasanya merokok. Saya tak ingat entah dari mana asal sebatang rokok yang saya gunakan waktu itu. Sewaktu rokoknya masuk ke mulut saya dan menghisapnya sedikit, saya langsung terbatuk-batuk. Rasanya nggak enak! Sejak itu, saya tak pernah lagi berminat dengan benda yang satu itu.

Jadi, kenapa kemarin muncul pula keinginan untuk menghisapnya lagi? Apakah saya sedang putus asa juga?

Kalimat guru saya tadi pun melayang-layang di kepala saya. Hidup memang tak selamanya indah seperti pelangi. Bahkan pelangi itu sendiri pun kadang muncul setelah hujan reda.

Hidup tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Kita maunya A, teman kita maunya B. Kita maunya G, orangtua kita maunya P. Kita maunya R, saudara kita maunya L. Kita maunya X, bos kita maunya Z. Rambut boleh saja sama hitam, tapi isi kepala tiap orang pasti berbeda. Dalamnya laut bisa diukur, dalam hati siapa yang tahu?

Perbedaan atau konflik akan selalu muncul entah dalam organisasi atau dalam keluarga. Pertanyaannya adalah, apa yang akan kita lakukan dengan perbedaan atau konflik itu? Apakah mau dipelihara, didiamkan, atau dicari solusinya?

Katanya bumi ini akan hancur jika semua orang mengejar kebahagiaannya sendiri. Bukankah memang seperti itu yang terjadi sekarang? Bumi kita keruk habis-habisan demi uang, demi menafkahi keluarga, demi hidup. Apakah begitu yang namanya berani hidup, Bu Guru?

Saya pikir, bukan seperti itu yang dimaksud ibu guru saya tadi. Berani hidup maksudnya berani menghadapi hidup dengan segala tetek bengeknya. Berani hidup berarti berani menghadapi masalah/konflik, bukannya lari. Kalau tak mau punya masalah, pergilah ke kuburan! Tentu, hanya orang mati yang tak punya masalah.

Berani hidup juga berarti berani kecewa, berani menghadapi penderitaan, berani bahagia, berani sedih, berani bersyukur bagaimanapun keadaannya. Berani hidup berarti berani tidak putus asa. Karena putus asa berarti kehilangan harapan. Lalu apa gunanya ber-Tuhan kalau kita putus asa? Putus asa berarti kita menggantungkan harapan kepada diri sendiri, bukan kepada Tuhan. Kalau kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, tak mungkin kita putus asa, tak mungkin mencari pelarian. Pelarian hanya menyenangkan untuk sesaat.

Kedengarannya mudah, ya, menyerahkan diri kepada Tuhan? Tetapi sesungguhnya amat berat. Karena kita manusia cenderung tidak pernah puas akan hidup ini. Cenderung ingin menguasai dan mengendalikan hidup kita dengan cara kita sendiri, meskipun salah. Namun saya pikir hanya itu satu-satunya cara supaya berani hidup, yakni berserah kepada Tuhan.

 

Jadi, apakah anda berani hidup?