Bunga Rampai Cinta 2: Naksir Anak Ingusan

Kelas enam SD, kali pertama saya naksir dengan makhluk yang bernama ‘cowok’ 😀 . My first crush ini kebetulan teman sekelas saya. Saya dulu belum tahu dong, kalau menyenangi lawan jenis itu istilahnya naksir. Justru Ibu saya lah yang akhirnya mendefinisikan kalau saya lagi naksir dengan cowok yang namanya (sebut saja) Edo itu. 😀

Apa yang membuat saya naksir sama si Edo ini?

1. Karena Si Edo ini orangnya pintar. Langganan juara kelas dari kelas dua sampai kelas enam. Kenapa nggak dari kelas satu? Itu karena juara satunya pas kelas satu adalah saya 😀 . Tahun-tahun berikutnya, karena persaingan yang cukup keras, akhirnya saya lengser keprabon a.k.a turun tahta hahahha 😀 .

2. Karena Si Edo ini orangnya asik diajak haha-hihi bareng 😀 . Kalau di zaman SMU saya benci banget dengan Akuntansi, nah, zaman SD saya benci banget dengan yang namanya bahasa Inggris 😀 . Bahasa Inggris mulai ‘menghiasi’ roster kami di kelas tiga. Saking bencinya saya sama mata pelajaran yang satu ini, gurunya pun ikut-ikutan saya benci 😀 .

Ibu guru bahasa Inggris kami waktu itu, gaya berpakaiannya modis. Beliau senang memakai rok serta sepatu bertumit tinggi ke sekolah. Rambutnya yang panjang selalu diikat ke belakang, gaya ekor kuda. Dan corak pita rambutnya, SELALU sama dengan corak roknya! Itulah yang membuat saya takjub sekaligus benci! Sepertinya selain senang mengajar, ibu guru kami yang satu itu juga senang membuat rok dan pita sendiri 🙂 . Atau mungkin kalau pun roknya dibeli jadi, pastilah satu set dengan pita rambutnya 😀 .

Berhubung saya benci dengan mata pelajarannya, saya musti menemukan ‘sesuatu’ untuk menyibukkan dan menyenangkan diri sendiri 😀 . Nah, gaya berpakaian si ibu guru inilah yang jadi ‘sasaran’ olok-olokan saya. Si Edo pun saya ‘rekrut’ untuk ikutan mengolok-olok beliau 😀 . Tapi ngoloknya nggak di depan bu guru langsung lho yaaa. Bahaya 😀 Kalau ketahuan bisa disetrap di depan kelas hahahah 😀 . Badung mah boleh saja, asalkan lihat situasi dan kondisi 😀 .

Kami berdua menyebutnya ‘si baju pinjaman’. Mengapa? Ya, gara-gara corak roknya selalu sama dengan pita rambutnya 😀 . Kalau jam mengajarnya tiba, saya selalu menantikannya dari jendela kelas kami yang berukuran besar. Jika sudah terdengar suara ‘kletak kletok, kletak kletok’ dari jauh, itu sudah pasti sepatu si ibu guru 😀 .

Lalu, sambil ngikik-ngikik nggak jelas, saya dan si Edo inilah yang bergantian berteriak di kelas, memberitahu ke teman-teman: “Wooyy, si baju pinjaman sudah datang, woooy.” Dengan kalimat tambahankalau rok yang dikenakannya hari itu kotak-kotak-: “Hari ini roknya kotak-kotak, hahahhaa……”

Begitu bu guru masuk ke kelas, suasana mendadak tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Dasar, kecil-kecil sudah pemain sandiwara semua 😀 .

3. Karena duduk bareng. Di awal tulisan, sudah saya sebut kalau saya kali pertama naksir di kelas enam. Itu karena di kelas enam SD saya duduk bareng si Edo ini. Sebelum-sebelumnya tidak. Siapa coba, yang nggak senang duduk bareng juara kelas dan ketua kelas? 😀 Mungkin gara-gara duduk bareng itulah, naksir pun bersemi hahahahhaa 😀

4. Karena si Edo ingusan. Iya, si Edo ini langganan ingusan sejak saya mengenalnya. Sebentar-sebentar, dia pasti mengelap hidungnya karena meler. Sepertinya dia punya masalah dengan saluran pernafasannya. Tapi sepertinya justru gara-gara ingusan itulah yang membuat si Edo ini menarik di mata saya dulu hahahahhaa 😀

5. Karena ibunya ramah, sederhana, berwajah teduh dan senang tertawa 😀 That’s true, my friend 🙂 . Bagaimana saya bisa tahu semua itu??? Mungkin karena saya naksir sama anaknya. Jadi, yaaaa, otomatis, saya juga jadi tertarik memerhatikan sikap ibunya 😀 . Dibalik anaknya yang seorang juara, pasti ada seorang ibu yang bijaksana 🙂 . Betul, apa betul? 😀

Seringkali, setibanya dirumah sepulang sekolah, saya pasti menceritakan tindak tanduk si Edo dan ibunya si Edo ini ke Ibu saya. “Ma, tadi, kan, mamanya si Edo begini….. Tadi siang mamanya si Edo, begitu… Si Edo tadi di kelas bilang begini…… Mamanya Edo itu, cantik, ya, Ma……..”

Dari keseringan saya menceritakan si Edo dan ibunya Edo itulah akhirnya Ibu saya menyimpulkan, kalau putri sulungnya ini ternyata lagi naksir dengan cowok :D. Hahahahhaaa….

***

Beberapa bulan yang lalu, di bandara Sepinggan, ketika suami dan saya hendak bertolak ke Jakarta, kami duduk menunggu di salah satu lounge. Kebiasaan saya, jika berada di dalam ruangan, saya pasti selalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru untuk mengetahui kondisi tempat. Tak sengaja, mata saya tertumbuk pada satu meja yang letaknya di belakang tempat duduk kami. Ada seorang wanita dan dua orang pria duduk disitu. Salah satu dari pria tersebut menarik perhatian saya.

Si pria yang saya perhatikan itu sibuk dengan leptopnya. Antara yakin dan tidak yakin, saya menoleh lagi untuk mengulang pengamatan saya. “Ah… Apa iya, itu si Edo? Tapi emang mirip, sih….” kata saya dalam hati. “Tapi kalau iya, ngapain dia disini??tanya saya lagi. “Yaelaaaah, ya buat kerja, dong, Mes! Dunia ini luas, Mes. Emangnya cuma kalian yang bisa kerja di Balikpapan ini??? Tapi meskipun luas, katanya cuma sebesar daun kelor, koq. Makanya kita bisa betemu dengan orang yang tak disangka-sangka.” jawab saya lagi dalam hati.

Selagi saya sibuk bertanya jawab dengan diri sendiri, meyakinkan apakah pria yang saya perhatikan itu Edo atau bukan, tiba-tiba suara announcer menggema di lounge mengumumkan keberangkatan pesawat kami. Maka saya beserta suami pun bergegas meninggalkan lounge menuju ruang tunggu di dalam, meninggalkan si pria yang menurut saya (mirip) Edo itu.

***

Di ruang tunggu dalam, saya menceritakan perihal pria yang mirip Edo di lounge tadi serta kenangan tentang Edo yang saya taksir pertama kali sebagai seorang perempuan, kepada suami saya. Suami saya cuma tertawa mendengarnya 😀 . Ah, itulah enaknya menikahi cowok pintar. Bukannya cemburu kalau diceritakan tentang naksir-naksiran di masa lalu, tapi justru menertawakan kekonyolan-kekonyolan itu 😀 . Yep, I indeed married the smart one, and (occasionally) ingusan 😀

How about you dear friends? Kapan kali pertama naksir?

 

 

Advertisements

Bunga Rampai Cinta 1: Bencilah Daku, Kau Kukejar

Well, mumpung masih suasana hari cinta-cintaan, maka kali ini saya mau cerita tentang cinta. 😀 Monggo disimak 😀 😀

***

Bencilah Daku, Kau Kukejar

Menurut saya, enggak semua orang bisa melakukan hal yang sama; tiap orang beda-beda talentanya. Ada yang talentanya jualan. Jual apa pun laku. Ada yang tidak tahu diri dengan talentanya. Sudah tahu kalau berjualan bukan talentanya, namun tetap ngotot mau jualan. Sudah berpuluh tahun ikut pelatihan jualan, tapi tetap nggak bisa menjual apa-apa. Mungkin bisa, tapi tidak secemerlang orang yang memang talentanya berjualan itu. Namun ada juga yang tahu diri, tahu minatnya di mana, maka mereka pun memilih mengikuti minatnya itu.

Nah, menjelang akhir kelas dua SMU ada pembagian jurusan. Karena tahu diri, saya memilih mengambil jurusan IPS karena saya tidak begitu berminat untuk memperdalam ilmu pengetahuan alam (IPA). Kalau kata saya dulu menggambarkan jurusan IPA itu… “Duh, bola jatuh ngapain juga diukur kecepatannya? Jatuh, mah, jatuh saja. Iseng banget ngukur-ngukur kecepatan 😀 .”

Tapi rupanya kalau mengambil jurusan IPS, ada satu ilmu yang tetap “ikutan” di dalam daftar mata pelajaran, yaitu Akuntansi. Saya paling benci sama mata pelajaran yang satu ini. Ngapain juga musti balance debit dan kredit? Lalu kadang disuruh pula membikin jurnal penyesuaian yang diperlukan. Duileeeeh, pelajaran yang aneh. Mending bikin jurnal perjalanan saja deh, Bu Guru? 😀 . Saya paling demen tuh 😀 . Pokoknya bawaan saya stres kalau sudah masuk pelajaran Akuntansi.

Pernah satu kali, saat ujian Akuntansi, saya nggak tahu mau nulis jawaban apa. Karena saya nggak ngerti soalnya. Serius. Saya nggak ngerti.  “Ini soal apaan, sih?” tanya saya dalam hati waktu itu. Nggak tahu mau menjawab apa, akhirnya saya gambar wajah orang di lembar jawaban. Gambarnya seperti di komik-komik ala Jepang itu 😀 . Maklumlah, saya penggemar komik 😀 . Gambarnya pun gede, segede kertas folio. Di bawah gambar orang itu, saya tuliskan: “Maaf, Bu Guru.” (Guru Akuntansi saya dulu perempuan). Biarinlah saya kasih jawaban seperti itu. Daripada pusing. Saya orangnya apa adanya. Kalau memang nggak tahu, saya nggak akan sok tahu. Lumayan dapat uptul, alias upah tulis, jadi nilainya nggak nol 😛 .

***

Setelah selesai menggambar, saya letakkan pulpen dan menyapu pandangan ke sekeliling. Ada yang serius berkutat dengan pulpen dan lembar jawabannya. Ada yang gelisah. Ada yang bisik-bisik: “Ini kayaknya salah soal dehGimana ya… Jawab nggak ya….?”

Akhirnya, di menit ke-15 dari 90 menit waktu ujian yang diberikan, saya bangkit dari kursi dan menyerahkan kertas jawaban ke guru pengawas. Lalu saya lenggang kangkung keluar kelas. Di luar kelas, saya perhatikan masih sepi. Tidak ada murid lain selain saya 😀 . Rupanya memang cuma saya yang keluar kelas dari beberapa kelas yang mengadakan ujian yang sama. Huahhahaaa. Parah. Itu ujian paling parah yang pernah saya hadapi 😀 .

Selewat ujian, tibalah waktunya evaluasi. Menurut guru akuntansi kami, soalnya memang salah. Dan dia sengaja bikin soal salah. Di sekolah saya dulu, beberapa guru memang sering membuat soal yang salah ketika ujian. Mereka mau lihat apakah ada yang ‘berani’ menjawab atau “berani tidak menjawab”. Di situlah ‘ujiannya’ 😀 . Kalau menjawab kan sudah pasti nilainya nol. Atau paling tidak uptul-lah. Nah, yang nggak menjawab berarti pinter, kan? Soale dia tau kalau soalnya salah. Lha kalau soal salah ngapain dijawab, coba?

Bu Guru saya bilang: “Jadi memang sebaiknya soal kemaren tidak usah dijawab, anak-anak…..Huahahha… Bu Guru iseng banget deh 😀 . Untunglah saya gambar orang waktu itu 😀 . Tapi untuk kasus saya itu, saya memang nggak tahu apakah soalnya salah atau tidak, karena saya memang nggak ngerti. Soale saya emang nggak belajar dan saya tidak pernah benar-benar cinta sama Akuntansi. I guess i was just lucky that time. Hahahaa 😀 .

Tapi coba tebak, ke jurusan mana saya akhirnya melangkah setamat SMU? Akuntansi sodara-sodara 😀 . Yeah, nampaknya si Akuntansi ini emang ‘cinta berat’ sama saya. Dikejarnya saya kemanapun melangkah 😀 . Well, nampaknya kalimat bijak yang mengatakan, “Jangan terlalu membenci seseorang atau sesuatu, suatu saat nanti bisa-bisa kamu berjodoh dengannya,” benar adanya 😀 . Makanya temans, kalau nggak mau berjodoh dengan yang Anda benci itu, jangan keterlaluan membencinya, ya? Yang sedang-sedang saja, seperti kata penyanyi dangdut Vety Vera 😀 .

***

Happy Valentine dear friends!