Apa yang Akan Yesus Lakukan?

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Sudah lama saya mendengar ayat tersebut. Yakni ayat dua puluh tiga dari buku Kolose pasalnya yang ketiga.

Kalo dalam alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), bunyinya begini:

Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia. (Kolose 3:23)

Biasanya kalo saya lagi males ngerjain sesuatu, trus ingat ayat ini, saya akan kembali semangat ngerjain kerjaan yang bikin males tadi.

Tapi, sewaktu baca buku Becoming Like Jesus pada bab yang membahas tentang ‘kemurahan’, melalui ayat di atas tadi beserta satu ayat lagi, yakni dari Kolose 3:17, saya diajak belajar dan bertanya pada diri sendiri:

Apa yang akan saya lakukan jika orang yang nyuruh saya ngerjain pekerjaan itu adalah Yesus?

Jika orang yang sekarang berada di hadapan saya adalah Yesus, apa yang akan saya lakukan? Bagaimana saya akan bersikap?

Kemudian dalam Kolose 3:17 disebut:

Segala apa yang kalian lakukan atau katakan, haruslah itu dilakukan dan dikatakan atas nama Tuhan Yesus. Bersyukurlah kepada Allah Bapa untuk apa yang dilakukan Yesus bagimu (alkitab BIS).

Nah, ini dia yang paling menarik, penulis buku ini menyadarkan saya bahwasanya melakukan sesuatu ‘dalam nama’ Yesus berarti saya melakukan sesuatu yang akan dilakukan Yesus jika Dia berada di sini. Ini berarti bahwa saya bertindak seolah-olah Yesus sendiri yang bertindak di dalam saya dan melalui saya.

Jadi, jika saya adalah Yesus, apa yang akan saya lakukan dalam situasi tersebut? Jika saya adalah Yesus, apa yang seharusnya saya lakukan jika ada kawan yang sakit? Jika saya adalah Yesus, apa yang harus saya ucapkan saat ketemu kawan yang bergembira atau sedih? Jika saya adalah Yesus, apa yang harus saya lakukan jika saya telah berjanji kepada kawan untuk bertemu dengannya? Jika saya adalah Yesus, bagaimana saya akan mengelola waktu saya, keuangan saya, keluarga saya, perkataan saya, perbuatan saya, pilihan-pilihan saya, dlst? 🙂

Yesus yang saya kenal (baik melalui berbagai kisahnya dalam alkitab maupun perbuatan-perbuatan ajaibNya dalam hidup saya dan keluarga saya sampai sekarang ini), senantiasa sangat baik. RancanganNya kepada manusia sejak semula hanyalah rancangan kebaikan dan keselamatan. Namun Yesus juga bisa menggunakan perkataan yang sangat tajam dan bertindak sangat keras kepada orang-orang sombong serta orang-orang munafik.

Mungkin memang tak satu pun kita yang mampu hidup sesuai dengan standar Yesus, ya? Tapi kita mesti berusaha dan seharusnya itulah yang menjadi tujuan hidup kita. 🙂

Tetap berdoa kepada Tuhan, dan minta Ia menuntun kita dengan hikmatNya untuk melakukan hal-hal yang sesuai kehendakNya.

 

Jadi jika kalian adalah Yesus, apa yang akan kalian lakukan sore ini? 🙂

 

 

 

 

 

Advertisements

Becoming Like Jesus

Udah ribuan kali saya menggarami ikan dari mulai kecil disuruh-suruh mamak di dapurnya hingga sekarang di dapur sendiri. Setelah digarami, terbukti bahwa ikan memang tahan dibiarkan di kulkas bagian bawah (bukan di bagian freezer) selama beberapa hari sebelum diolah, tanpa membusuk. (meski begitu, paling baik memang sehabis diasamgaram langsung diolah secepatnya).

Menurut buku Becoming Like Jesus (Menjadi Serupa Yesus), yakni buku yang membahas tentang sembilan buah roh, orang kristen juga mesti hidup seperti garam yang bertujuan mencegah pembusukan dan kerusakan. Sang penulis, Christopher J. H. Wright, menempatkan pembahasan tentang ‘garam’ ini pada bab buah roh yang keenam, yaitu kebaikan.

I must confess that menjadi kristen itu bukan jalan hidup yang gampang. Karena sebagai kristen, sesungguhnya hidup adalah penyangkalan diri, mematikan ‘keakuan’ maupun kepentingan diri sendiri, mematikan hawa nafsu, dlst. Intinya, hidup ini bukan lagi tentang diri kita pribadi, melainkan tentang kristus. Berat, kan?

Lantas seperti apa kristus sesungguhnya? Ketika kita memberi makan orang lapar, memberi minum kepada mereka yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada mereka yang membutuhkan pakaian, merawat orang sakit, serta mengunjungi orang-orang dipenjara, maka itulah hidup untuk kristus.

Pada hakikatnya menjadi orang kristen memang harus seperti kristus. But maybe that’s impossi(n)ble karena kita makhluk berdosa. Tak ada satu pun manusia yang benar di muka bumi ini. Semua berdosa, dan dosa menghalangi kita mengenal Tuhan yang sejati, serta menghalangi kita menjalani hidup yang berkenan di mata Tuhan.

Tapi biar bagaimanapun, meski berdosa, orang kristen mesti berusaha hidup seperti kristus yang hidup untuk sesama manusia melampaui segala rintangan dan perbedaan. Buku Becoming Like Jesus mengajak kita hidup serupa kristus dengan menumbuhkan kesembilan buah roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, serta penguasaan diri.