Menjadi Orang Tua dan Mandok Hata

Saya yakin, menjadi orang tua dan membesarkan anak bukan kerjaan gampang. Apalagi di zaman sekarang ini. Berbagai info tentang bagaimana cara membesarkan anak maupun kiat sukses menjadi orang tua bertebaran di mana-mana dan sangat gampang diperoleh. Tapi dari sekian banyak, yang mana yang cocok jadi pedoman?

Watchman Nee, dalam bukunya yang berjudul Orang Tua (Ayah-Ibu), mengatakan betapa beratnya kewajiban sebagai orang tua; karena Tuhan menyerahkan jiwa, raga bahkan masa depan anak seumur hidup ke dalam tangan orang tua. Tidak ada seorang yang memengaruhi masa depan seseorang sedalam orang tua memengaruhi anak-anaknya. Dan tidak ada seorang yang dapat mendominasi masa depan seseorang sehebat orang tua mendominasi anak-anaknya.

Dalam bukunya tersebut, Watchman Nee mengajak kita belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik di dalam Tuhan. Berikut ringkasannya:

  • Menguduskan diri di hadapan Tuhan. Maksudnya, walau kita sebagai orang tua boleh melakukan banyak perkara yang sesuai dengan kapasitas kita, namun agar anak-anak kita dapat memahami, maka kita mesti menyesuaikan diri dengan kapasitas anak.

  • Mengekang diri. Karena hari ini ada sepasang atau dua pasang mata yang selalu mengamati perbuatan maupun perkataan kita, bahkan akan terus mengamati kita seumur hidup. Sekalipun kita telah meninggal dunia, apa yang dilihat anak tidak terlupakan, bahkan akan teringat terus dalam batin mereka.

  • Tetapkan standar moral dalam keluarga. Bagaimana seorang anak menilai sesuatu atau memutuskan sesuatu selama hidupnya, semuanya adalah berdasarkan apa yang ia pelajari ketika masih berada dalam naungan orang tuanya. Banyak sekali anak-anak yang menjadi rusak bukan karena terpengaruh oleh orang lain, melainkan oleh orang tua mereka sendiri. Banyak orang tua ketika melihat masalah timbul pada anak-anaknya, mereka melihat diri mereka sendiri. Keadaan anak-anak mereka justru adalah refleksi mereka sendiri.

  • Berjalan bersama Tuhan. Kita harus menyadari bahwasanya kita banyak kekurangan dan tak sanggup mengemban tanggung jawab besar menjadi orang tua. Karenanya kita mesti berjalan bersama Tuhan. Dan jika kita ingin memimpin anak-anak kepada Tuhan, maka kita mesti berjalan bersama Tuhan. Kita tak bisa mengutus anak-anak kita ke sorga dengan menudingkan jari tangan kita ke arah sorga. Itu mustahil. Kita mesti berjalan dahulu di depan, kemudian meminta anak-anak mengikuti kita. Bagaimana standar orang tua, pasti begitu pula standar anak-anaknya.

  • Tidak berstandar ganda. Jika kita berstandar ganda, bagaimana kita dapat memimpin anak-anak kita? Jika kita sendiri pendusta, apa gunanya melarang anak-anak berdusta? Kita tak dapat menentukan kehidupan kita sendiri dengan sejenis standar dan menentukan standar lain bagi kehidupan anak-anak kita. Apa yang kita kasihi, dengan sendirinya anak-anak kita akan belajar mengasihinya. Dan apa yang kita benci, anak-anak dengan sendirinya akan belajar membencinya.

  • Memelihara kesehatian. Jika satu keluarga ingin memimpin anak-anak dengan baik kepada Tuhan, ayah ibu sebagai orang tua mesti sehati atau seia sekata. Jika orang tua tidak sehati, anak-anak akan sukar mempunyai satu standar yang pasti. Ketika ayah mengatakan boleh, sedangkan ibu mengatakan tidak boleh, atau sebaliknya, maka anak-anak akan memilih dan bertanya kepada orang yang mereka sukai.

  • Menghargai kebebasan kepribadian anak. Anak adalah pemberian Tuhan. Karenanya, semua anak merupakan titipan Tuhan. Anak adalah manusia yang berjiwa, maka Tuhan tidak memberi wewenang tanpa batas kepada orang tua. Kepada setiap manusia yang berjiwa, kita tidak dapat memperlakukan mereka semena-mena. Itu adalah kesombongan.

  • Anak bukan sasaran melampiaskan amarah. Perlakukan anak dengan sikap sopan dan lemah lembut. Setiap orang yang ingin mengenal Tuhan harus belajar mengekang diri, khususnya terhadap anak sendiri.

  • Sebaiknya tidak perlu terburu-buru menuntut anak-anak kita mematuhi kita. Tetapi kita mestilah terlebih dulu menuntut diri sendiri menjadi orang tua yang baik di hadapan Tuhan.

  • Tidak menyakiti hati anak. Karena hidup anak-anak masih bersandar pada kita, kadang sebagai orang tua, kita menggunakan wewenang secara berlebihan. Misalnya menekan anak dalam soal uang. Kita bilang kepada anak, apabila ia tidak menurut maka tidak diberi uang, tidak diberi makan, dan tidak diberi pakaian. Hal ini akan membuat anak sakit hati. Sakit hati dapat menimbulkan tawar hati atau kehilangan tekad untuk berbuat baik. Karena anak akan merasa tak ada guna berbuat baik, sebab orang tua tidak mau tahu. Dalam Efesus 6:4, Paulus berpesan agar para orang tua tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anak, melainkan mendidik mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

  • Beri penghargaan yang wajar kepada anak. Bila anak berlaku baik, kita boleh menyemangati mereka maupun memberi hadiah agar anak tetap semangat dalam berbuat baik.

  • Tutur kata harus tepat. Sebagai orang tua, kita haruslah mengatakan kepada anak-anak perkataan yang dapat kita laksanakan. Dan setiap perkataan kita harus dapat dipercayai anak.

  • Perkataan yang melampaui batas mesti segera diralat. Misalnya kita salah bicara, kita sebagai orang tua haruslah dengan serius mengakui kesalahan tersebut. Dengan demikian, kita memperlihatkan kepada anak-anak tentang kekudusan tutur kata.

  • Menjadi orang tua yang baik di dalam Tuhan tentunya harus memimpin anak-anak untuk belajar mengenal Tuhan. Untuk itu, orang tua bersama anak mesti rutin berdoa bersama dan rutin membaca firman Tuhan. Gunakan bahasa yang dimengerti anak agar mereka memahami untuk apa mereka berkumpul bersama.

  • Pimpin anak belajar bersyukur. Misalnya pada doa makan, orang tua memberi contoh untuk bersyukur kepada Tuhan dengan hati yang jujur dan ikhlas.

  • Pada malam hari orang tua kumpulkan anak dan berbincang dengan mereka. Tanggapi perkataan anak dan bertanya kepada anak apakah ada kesulitan, apakah berkelahi, apakah ada damai dalam hati.

  • Bimbing anak mengaku dosa maupun kesalahan dengan jujur, spontan, tanpa pura-pura. Banyak kepalsuan dilakukan anak-anak karena paksaan yang keras dari orang tua.

  • Dengan sederhana, pimpin anak berdoa hingga anak mampu berdoa sendiri.

  • Jika anak harus dihukum karena bersalah, tunjukkan apa kesalahannya dengan serius agar anak teringat seumur hidupnya, dan agar ia tidak hidup secara sembarangan.

  • Suasana keluarga seharusnya adalah kasih. Kondisi anak-anak di kemudian hari tergantung pada suasana dalam keluarga. Jika sejak kecil anak-anak tidak diasuh dalam kasih, itu berarti membawa mereka ke dalam watak atau tabiat yang keras, menyendiri, dan pembangkang. Banyak orang ketika dewasa tidak dapat hidup bersama orang lain, ini disebabkan kekurangan kondisi kasih dalam keluarga sewaktu mereka kecil. Dalam keluarga mestilah ada suasana sukacita, ramah, lemah lembut, sopan santun.

  • Para orang tua mesti belajar menjadi teman anak-anak sendiri. Belajar akrab dengan anak, dan senang menolong mereka. Agar ketika anak ada masalah, mereka pergi mencari kita. Dan ketika anak berhasil atau sukses pun, mereka mencari kita, bukan orang lain. Teman yang baik pasti mudah didekati dan mudah diminta pertolongannya.

Dalam poin ke-10 tadi sudah saya singgung tentang mendidik anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Caranya dengan:

  • Menjaga ambisi anak agar selaras dengan kehendak Tuhan. Sesering mungkin ingatkan dan jadilah teladan agar anak menjadi pencinta Tuhan dan sesama.
  • Tidak membangkitkan kesombongan anak, melainkan mengingatkan anak bahwa semua kecerdasan maupun talenta berasal dari Tuhan. Kesombongan adalah memegahkan diri secara berlebihan.
  • Mengajar anak-anak terima kalah dan belajar rendah hati. Sepantasnya, kita mesti mengetahui bagaimana memuji atau mengagumi orang lain. Kemenangan adalah perkara mudah, tapi kekalahan bukan perkara gampang bagi sebagian orang. Sebagai orang tua, kita ingatkan agar anak rendah hati jika memiliki kelebihan. Sedangkan jika anak gagal, kita ingatkan agar anak mampu memuji atau mengagumi keunggulan orang lain.
  • Mengajar anak-anak cerdas memilih. Sejak kecil, sesering mungkin beri anak kesempatan memilih sendiri apa yang mereka sukai. Misalnya memilih warna kesukaan atau motif pakaian. Biarlah mereka sendiri yang mengamati dan mempertimbangkan. Dan kita sebagai orang tua tetap memimpin mereka agar tetap di jalur yang benar.
  • Mendidik anak mengatur urusan. Orang tua mesti memberi anak kesempatan untuk mengatasi masalah maupun mengatur urusan. Misalnya mengatur barang-barang sendiri seperti kaos kaki, sepatu, buku, mainan. Sedari anak kecil, kita tunjukkan bagaimana mengatur barang-barangnya agar rapi. Mereka peniru ulung. 🙂

Nah, bentar lagi tahun baru. Orang Batak punya tradisi kumpul bersama keluarga dan mandok hata di malam tahun baru. Mandok hata artinya semacam memberi kata sambutan sepatah dua patah kata. Isinya bisa tentang refleksi diri selama setahun, ucapan syukur, harapan-harapan, dlst.

Ada keluarga yang mengikutsertakan anak-anak mandok hata, namun ada juga yang tidak. Cukup hanya orang tua saja yang berbicara, anak-anak mendengar. Sehingga, seringkali mandok hata berubah menjadi ajang penghakiman anak. Padahal, anak-anak pun ingin ikut menyampaikan pendapat mereka kepada orang tua.

Sebaiknya, jika memungkinkan, sejak dini anak dilibatkan mandok hata agar mereka terbiasa merasa dihargai dengan didengarkan pendapatnya.

Jika orang tua merasa perlu menghakimi atau menegur anak untuk ngomongin kekurangan mereka, lakukan empat mata supaya efektif. Menegur seseorang di depan khalayak ramai tidak akan pernah efektif. Mereka yang kita tegur justru (mungkin) akan menjadi kurang enak hati kepada kita, karena hal itu akan menjatuhkan harga diri mereka. 🙂

Orang tua juga mesti introspeksi, apakah telah memberi perhatian yang seimbang kepada anak? Tidak cuma menuntut anak harus begini, anak harus begitu. Anak-anak tidak melihat kata-kata, mereka melihat perbuatan. 🙂

 

 

 

 

 

Advertisements

Dibawain, Kak?

Lelaki cungkring berkaos putih kumal dan bercelana pendek itu bertanya kepada Ares, begitu ia memasuki pasar.

“Nggak, dek,” jawab Ares cepat.

Ia berjalan terus, Continue reading

Antara Impian Anak dan Ambisi Orangtua

Sebagian dari Anda mungkin ada yang telah merancang-rancang atau berkeinginan akan jadi apa anak Anda kelak. Kalau kata adik saya yang di Eropa sana, dia ingin suatu hari nanti anaknya jadi pengacara. Ia mengungkapkan ini hanya beberapa saat setelah si bayi lahir, saat si bayi masih merah. Lengkap pula ia menyebutkan nama perusahaan impiannya, di mana keponakan saya itu akan berkarya nantinya. 😀

Ada yang janggal atau salah dengan keinginannya itu? Tidak. Karena orangtua pastilah punya cita-cita untuk tiap anaknya. Yang jadi masalah adalah jika nantinya Anda sebagai orangtua berusaha mati-matian mewujudkan keinginan Anda itu kepada si anak yang belum tentu bercita-cita sama seperti yang Anda inginkan.

Ada begitu banyak hubungan orangtua-anak yang menjadi dingin bahkan putus gara-gara orangtua memaksakan keinginannya itu. Masih ingatkah pada Maureen si penari balet dalam film Center Stage? Sebetulnya ia tak ingin menjadi penari. Ibunyalah yang berambisi menjadi penari. Tapi karena tak mungkin lagi bagi ibunya mengejar impian itu, maka Maureen dijejali balet, tanpa mencari tahu apa sebenarnya minat terbesar putrinya.

Hasilnya? Maureen menari tidak dengan kerelaan hati. Dia melakukannya hanya karena ibunya menginginkannya. Di akhir cerita, dia meninggalkan ambisi ibunya itu dan mengutarakan kegalauannya selama ini. Ibunya terguncang mendengar pengakuan Maureen. Mengira dia telah melakukan yang terbaik buat putrinya, padahal tidak. Batin putrinya tersiksa.

Saya pun pernah menyaksikan sendiri teman-teman yang impiannya ditertawakan oleh orangtua hanya karena mereka tidak memiliki cita-cita (yang dianggap terpandang oleh orangtuanya), seperti menjadi pengacara, dokter, banker, dlst. Ada teman yang dari jauh hari sudah diplot orangtuanya menjadi akuntan. Padahal panggilan jiwanya bukanlah di bidang itu. Hasilnya? Studinya tidak maksimal. Dia sering bertanya-tanya, bagaimana jika seandainya dulu, alih-alih mengikuti kemauan orangtua, ia tetap ngotot mengambil jurusan yang ia yakin ia akan bersinar di situ.

Mungkin salah satu alasan orangtuanya tidak setuju dengan impiannya kala itu adalah karena mereka pernah melihat gaya hidup dari sebagian orang yang berprofesi seperti yang dicita-citakan teman saya itu, tidak cocok di mata mereka. Miskin, hidup susah dan sakit-sakitan. Tapi, kan, tidak berarti apa yang terjadi pada orang sana akan terjadi juga pada anak mereka, kan? Bagaimana jika memang si anak tidak tertarik untuk menimbun harta? Mungkin bagi si anak: ada makanan di meja, atap di kepala, pakaian menutupi tubuh dan udara untuk dihirup, itu sudah cukup.

Benar, kita tidak dapat hidup tanpa uang. Dengan uang kita bisa merealisasikan impian-impian kita. Tapi bagaimana jika uang bukanlah segalanya bagi anak Anda? Bagaimana jika kepuasan batinlah yang jauh lebih penting bagi anak Anda? Pernahkah Anda bertanya apa sebetulnya impiannya? Bukankah menyenangkan jika bisa melakukan pekerjaan yang cocok di hati dan dibayar pula, daripada harus melakukan pekerjaan yang membuat kita ngedumel sepanjang hari dari mulai mata membuka hingga terpejam? Berpenghasilan besar tapi membuat Anda sakit kepala dan cemberut sepanjang hari, untuk apa?

Ingatlah, ini bukan tentang impian Anda, tapi impian anak Anda. Mereka manusia biasa seperti halnya Anda yang juga pernah bercita-cita, tapi (mungkin) lalu kandas karena hanya Andalah yang tahu alasannya. Masak Anda pun ingin impian anak Anda kandas hanya karena Anda tak merestui? Pertimbangkanlah betapa tersiksanya anak jika harus menjalani cita-cita yang hanya merupakan ambisi Anda semata.

Jangan remehkan cita-cita anak Anda, jangan pula tertawakan. Dukunglah cita-citanya selama yang diimpikannya tersebut positif. Yang penting Anda beritahu konsekuensi yang mungkin akan dihadapi si anak jika dia memilih jurusan atau pekerjaan yang diminatinya. Setelah itu biarkanlah dia mengepakkan sayapnya ke luar sana dan selalulah berdoa supaya Tuhan menyertai dalam tiap langkahnya.

Tiap anak istimewa, tiap anak beda. Bukan kurang mampu. Dan tiap anak memiliki keunikan masing-masing. Dunia ini bukan hanya milik akuntan, pengacara, banker, dokter, dlsb. Kalau semua orang jadi pengacara, tak ada yang mau jadi petani, kita mau makan apa? Siapa yang mau dibela kalau semua jadi pengacara? Tak ada jurnalis, kita mau baca berita apa? Tak ada musisi, kita mau dengar lagu apa? Alangkah membosankannya hidup jika semua orang melakukan hal yang sama. Lihatlah pelangi, ia indah karena warna-warni.

Selama anak bahagia, tidak mengeluh, tidak mengemis, dan bisa hidup dari pekerjaannya, mengapa tidak? Mengapa justru Anda orangtuanya yang keberatan?

Dan untuk anak, jika menurut Anda impianmu itu benar dan tidak bertentangan dengan nurani, maka kejarlah! Tak ada yang lebih menyedihkan dari penyesalan tanpa henti.

 

 

 

Anak Bablas, Salah Siapa?

Kecelakaan lalu lintas beberapa hari yang lalu, yang menimpa pesohor muda yang juga anak dari seorang pesohor negeri kita ini, sontak membuat saya tercengang. Bisa jadi mungkin gara-gara pesohor, beritanya jadi terus menerus ditampilkan di televisi. Kalau misalnya yang tertimpa bukan anak pesohor, mungkin beritanya tidak akan seheboh sekarang.

Tapi mau pesohor atau bukan, tetap saja saya tercengang mendengar beritanya. Wong mobil yang digunakan si anak sampai hancur gitu. Yang bikin saya tambah tercengang, koq bisa anak umur segitu kelayapan di jalan tol pada tengah malam? Bukankah itu sudah jamnya tidur bagi anak-anak? Keluarganya (entah emaknya atau bapaknya, atau ompungnya), apa nggak kecarian di jam segitu si anak tidak ada dirumah?

Lantas siapa yang salah? Jawaban klasik: orangtua. Apakah gara-gara orangtua si anak ini sudah bercerai, bablas, otomatis perilaku si anak pun ikutan bablas juga? Saya punya kenalan yang orangtuanya berpisah, tapi satu pun anak-anak orangtuanya tidak ada yang berperilaku bablas. Sebaliknya, saya juga punya kenalan yang orangtuanya hidup harmonis, tapi anak-anak orangtuanya bablas masuk ke ‘dunia hitam’ tanpa sepengetahuan orangtuanya. Mungkin gara-gara orangtua terlampau harmonis, anak-anaknya pun terlupakan…

Setelah orangtuanya, siapa lagi dong yang salah? Semalam, di salah satu saluran televisi berita, orangtua dari pesohor ini berpendapat kalau negara juga bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa anaknya tersebut. Menurut beliau, seharusnya di negara kita tercinta ini, dipasang alat canggih di jalan tol seperti di luar negeri sana, yang bisa memperingatkan para pengemudi jika kecepatan berkendaranya telah melewati batas aman. “Keselamatan anak bukan hanya tanggung jawab orangtua”, kata si pesohor. “Tapi juga tanggung jawab negara,” tambahnya.

*****

Well, kalau menurut saya, jangan cuma menyalahkan manusia, atau negara, tapi salahkan juga Tuhan. Mengapa? Karena menurut saya, hal itu memang sengaja ‘dibiarkan’Nya menimpa kita, untuk menyadarkan kita bahwa perilaku kita selama ini sudah terlampau jauh melenceng dari jalur yang benar. Makanya sebelum semuanya terlambat, Ia ‘menampar’ kita dengan keras. Tujuannya untuk ‘membangunkan’ kita agar keluar dari gaya hidup maupun perilaku kita, yang menurutNya tidak baik/bablas, selama ini.

Dan biasanya (sebenarnya saya kurang suka mengatakan ini), menurut pengalaman saya, mesti ada ‘korban jatuh’ dulu, barulah ada introspeksi diri, perbaikan, pemulihan, dst, dari semua pihak yang terlibat.

*****

Tulisan senada pernah saya posting disini. Silahkan dibaca jika berkenan.

Ketidakberesan Anak, Siapa yang Disalahkan?

Seorang teman blogger pernah berkicau kurang lebih seperti ini di twitter: “kalau anak tak beres, pasti ibunya yang disalahkan.”

Ya, saya juga sering mendengar hal semacam itu dan saya sendiri juga pernah melakukan hal itu (menyalahkan ibu seseorang kalau anaknya tak beres). Bahkan ibu saya pun pernah berkata, kalau kami (anak-anaknya) tak beres/jelek (bukan rupa, tapi karakter), pastilah beliau yang akan disalahkan, bukan bapak saya. Kejam sekali, ya, kedengarannya?

Mungkin orang sering lupa (termasuk saya), bikin anak itu mesti berdua (suami & istri), tak bisa seorang diri. Maka sama halnya seperti bikin anak, membesarkan anak juga pastilah berdua. Jadi, menurut saya, orang-orang yang hanya menyalahkan salah satu pihak, adalah orang-orang yang belum dewasa. Tapi manalah bisa kita larang atau kita atur orang untuk berkomentar, kan?

Supaya sportif, dua-duanya dong disalahkan, jangan hanya satu pihak saja. Seperti yang pernah diakui oleh ayah dari teman baik saya, saat salah seorang anaknya yang berkarakter tidak sesuai dengan nilai-nilai (baik) yang diajarkannya. Beliau menanggapi kenyataan itu dengan rendah hati seraya berujar, “Kesalahan kami mendidiknyalah itu sebagai orangtuanya.”

Beliau ayah yang dewasa menurut saya. Tidak mencari kambing hitam untuk disalahkan. Padahal bisa saja beliau menyalahkan istrinya atau lingkungan atau pergaulan anaknya di sekolah, misalnya. Tapi beliau tidak melakukan itu.

Lantas, kenapa kita cenderung menyalahkan ibu atas ketidakberesan anak? Mungkin karena pola yang selama ini kita ketahui adalah, bahwa dalam suatu rumah tangga (umumnya), ayah berperan sebagai pencari nafkah (pergi keluar rumah), ibu berperan sebagai pengurus anak yang tinggal dirumah. Maka sebagai orang yang (lebih banyak) tinggal dirumah, ibu tentulah lebih sering bertemu dengan anak; lebih sering bercakap-cakap dengan anak; lebih sering dilihat anak seperti apa tingkah lakunya; lebih sering ngajarin anak; pendek kata, ibulah yang lebih dekat dengan anak. Makanya kalau anak tak beres, pasti ibunya pun tak beres? Benarkah?

Perlu diingat, dalam rumah tangga yang baik, sebelum memutuskan untuk memiliki anak, tentulah ayah & ibu telah membicarakan dengan jelas (agar tak saling menyalahkan di kemudian hari), hal-hal penting atau mendasar, misalnya seperti:

  • Bagaimana cara kita membesarkan anak ini?
  • Mau pakai bahasa apa membesarkannya? Indonesia, Batak, atau Inggris? Atau campuran ketiganya?
  • Mau jadi apa anak ini nantinya? Jadi ‘orang’ atau jadi ‘monyet’ ?
  • Siapa yang bertanggung jawab atas pendidikannya? Ibunya saja atau bapaknya saja atau dua-duanya? Atau mungkin asistennya???
  • Mau dikenalkan kepada Tuhan atau tidak?
  • Dan seterusnya
  • Dan seterusnya

Setelah hal-hal mendasar itu dibicarakan, nantinya kita merasa sudah tidak ada lagi celah untuk ‘ketidakberesan’ pada si anak ini. Kita merasa, semua cara yang kita gunakan dalam membesarkan si anak sudah sempurna, sudah yang terbaik. Tapi kita lupa kepada yang terpenting, yaitu bahwa ada Tuhan yang masih bekerja dan selalu bekerja dalam kehidupan ini. Kita lupa bahwa Dialah yang berkuasa atas kehidupan ini. Sehingga ketika ‘ketidakberesan’ itu muncul, kita pun ‘lupa’ dan tak bisa menerima kenyataan, bahwa mungkin hal itu adalah bagian dari rencana Tuhan yang tak bisa diintervensi manusia. Beda anak, beda pula rencanaNya. Sebaik-baiknya manusia merancang hidup anaknya, keputusan Tuhan jualah yang terjadi.

Jadi kesimpulannya, jika ada anak dari kenalan kita atau mungkin anak kita sendiri atau anak orang lain yang tidak kita kenal (jumpa di jalan), yang tak beres, jangan cuma menyalahkan ibunya. (Kalau kita bukan pengecut), salahkanlah kedua orangtuanya dan juga Tuhan.

Yang terakhir, jika kita terbeban supaya ‘ketidakberesan’ anak itu menjadi ‘beres’, doakanlah! Mudah-mudahan intervensi kita didengar Tuhan. Sekian.