Mereka yang Mencintai Sepenuh Hati

Saya pikir, sebagian manusia di bumi ini sedikitnya menghabiskan enam belas tahun masa hidupnya berhadapan dengan guru. Enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sekolah menengah pertama, tiga tahun sekolah menengah atas, empat tahun masa kuliah. Ada guru bahasa, guru agama, olahraga, guru kesenian, kimia, sosiologi, ekonomi, fisika, biologi, dlst. Kalau ditotal, setidaknya ada sekitar lima puluhan guru yang pernah dikenal tiap satu orang murid.

Dari lima puluh itu, pasti ada lah ya satu dua guru yang pernah meninggalkan kesan di hati sampe nemplok ke mana-mana. πŸ˜€ Kalo pinjem istilah anak sekarang, guru-guru yang bikin baper atau bikin emo. (silakan gugel kalo enggak tau arti emo) πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ *anak-anak sekarang emang ekspresif banget bikin istilah yaΒ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚Β beda banget sama generasi 90-an yang cenderung menahan diri kalo di depan, tapi memberontak di belakang… πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚Β apaan sih mes?Β πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Okelah, sampai mana tadi kita? 😁 Ah iya, guru-guru yang meninggalkan kesan di hati… Seperti misalnya guru killer yang pernah saya tulis di sini, guru yang bikin ngantuk, guru yang membully murid, guru iseng, dan guru yang berani hidup. Selain mereka ini, ada pula guru-guru kesayangan seperti Mister Kobayashi-nya Totto-chan, yakni guru yang mencintai murid-muridnya sepenuh hati.

Menurut saya sangat beda ya antara sekadar mengajar atau cinta anak. Mungkin yang membedakan adalah motivasinya, apakah sekadar jadi pengajar karena itu satu-satunya hal yang dia tahu dan tidak ada pilihan lain untuk menafkahi hidup, atau memang karena cinta anak-anak. Karena kalau sebagai guru ala kadarnya, maka aktifitasnya cuma: datang ke sekolah, ngajar, ngasih ujian, koreksi ujian, ngajar lagi, pulang, begitu bolak-balik. Sedangkan mereka-mereka yang sepenuh hati mencintai murid, biasanya mau mendengar keluh kesah murid, membolehkan murid bertanya apa saja yang mengganjal pikirannya, suka ngebanyol, enggak bikin jarak, langkahnya ringan kayak kupu-kupu seolah tak ada beban, santai, ramah, dan memperlakukan murid sebagai teman. Alih-alih menghakimi, mereka melakukan pendekatan personal bila murid bermasalah.

Saya ingat bagaimana guru matematika saya di SMU bertanya empat mata, sewaktu tahu bahwa saya memilih jurusan sosial instead of IPA, yang dipilih oleh sekitar 80% murid.

β€œKenapa kamu pilih sosial, Mes? Kamu mampu koq ke IPA…” ujar beliau lembut, dengan air muka menyiratkan kekuatiran. Saya mantap memilih jurusan sosial karena terpesona dengan perilaku manusia yang sangat kompleks, dan penasaran dengan penjelasan maupun alasan di balik tiap tindakan yang diambil olehnya. Saya percaya itulah panggilan hidup saya, tapi juga menghargai beliau yang sudah mau repot-repot bertanya dan terang-terangan menunjukkan kekuatirannya, dan juga percaya dengan kemampuan anak didiknya.

Mengingat tindakan beliau ini, menurut saya penting banget ya bagi anak mengetahui bahwa orangtua, selaku entitas terdekat, memercayai pilihan-pilihan mereka. Karena hal ini sangat memengaruhi kepercayaan diri anak kelak.

Nah, saking sayangnya dengan guru-guru yang sepenuh hati mencintai muridnya ini, saya bersama kawan-kawan sekelas pernah bikin pesta ulang tahun kejutan untuk salah satu guru kami yang paling baik, ramah, dan paling perhatian. Dan lucunya, gara-gara tindakan kami ini, beberapa guru lain malah cemburu. πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ Ada-ada aja ya? Bukannya mikir gitu kenapa teman sejawat mereka sampe bisa dibikinin pesta ulang tahun oleh murid-muridnya, tapi untuk mereka (para guru yang seringkali pasang muka jam dua belas), sedikit pun kami tak tergerak bikin pesta ultah. (jangankan tergerak, nyari info kapan ultahnya aja kami enggak tertarikΒ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ ).

Guru-guru yang mencintai murid sepenuh hati ini juga adalah mereka yang tak menyerah mencari cara agar kelasnya menyenangkan, bukan hanya bagi murid, tetapi juga bagi guru. Contohnya seperti Timothy D. Walker, yang nulis buku Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia). Beliau sendiri tadinya guru Amerika yang mengajar di Massachusetts, yang kemudian gara-gara suntuk dengan kegiatan mengajarnya akhirnya pindah ke Helsinki karena berhasil diyakinkan oleh istrinya yang orang Finlandia bahwa, sistem pendidikan di Finlandia berbeda. Pengalamannya mengajar itulah dia tuangkan menjadi 33 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan.

Saya sendiri tertarik membaca buku ini karena potongan blurbnya bilang, β€œbagaimana pendidikan Finlandia yang jam pelajarannya pendek, PR-nya tidak banyak, dan ujiannya tak begitu terstandardisasi, dapat β€œmencetak” siswa-siswa dengan prestasi yang sangat baik.” Aneh, kan? Koq bisa?

Salah satu dari 33 strateginya adalah: tiap satu jam pelajaran (45 menit), guru dan siswa memiliki jam istirahat selama 15 menit. Gile gak tuh? Kenapa mesti istirahat coba? Sementara seingat saya waktu zaman sekolah, kami baru bisa istirahat setelah 3 jam pelajaran (3×45 menit). Misalnya masuk sekolah jam 07.30, maka waktu keluar main alias istirahat di jam 09.45. Itu pun cuma 15 menit. Jadi sekali lagi, gile gak tuh strategi orang Finlandia tadi? *jadi pengen sekolah lagi euy, tapi di Finlandia yaΒ πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Buku ini boleh banget deh dibaca oleh para guru, orangtua, maupun mereka-mereka yang mencintai dunia pendidikan. Dan sebaiknya pastikan baca bagian ‘Kata Pengantar’, karena di situ dijelaskan 5 unsur penting yang membuat siswa Finlandia lebih baik daripada teman sebaya mereka di penjuru dunia lain. πŸ˜‰

 

 

 

Advertisements

Ego

Sewaktu berinteraksi dengan orang lain, kadang kita enggak tahu apa yang bisa membuatnya marah, sedih atau senang, kan? Kadang, apa yang lucu bagi kita bisa jadi tak lucu bagi orang lain. Apa yang luar biasa bagi kita bisa jadi biasa-biasa saja bagi orang lain.

Kawan saya pernah numpang tinggal di rumah seorang kerabatnya selama beberapa bulan. Karena kerabatnya tak mau menerima uang bulanan semacam pengganti uang kost, maka untuk membalas kebaikan tuan rumah, ia pun tahu diri bantu bersih-bersih di rumahnya.

Sebelum memulai bersih-bersih, biasanya kawan saya ini bertanya kepada tuan rumah apakah ia berkenan rumahnya dibersihkan atau tidak. Hal itu dia lakukan karena tahu bahwa kerabatnya tersebut tipe orang yang suka beberes dan bersih-bersih dengan tangannya sendiri.

Suatu hari, sebelum memulai acara bersih-bersih, kawan saya seperti biasa bertanya kepada kerabatnya. Di luar dugaan, kerabatnya menjawab dengan nada tinggi dan terdengar tak sabaran, β€œBersihkan sajalah kalau mau kau bersihkan! Enggak usah tanya-tanya!”

Kawan saya kaget menerima jawaban tersebut. Padahal maksud dia kan baik, siapa tahu saat itu kerabatnya lagi pengen ngebersihin rumahnya sendiri. Daripada salah langkah, mending tanya baik-baik dulu, kan? Kawan saya ini memang tipe orang yang suka bertanya dan senang jika diberi pilihan. Dia tidak suka orang lain mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.

Setelah kejadian tersebut, tiap kali hendak bersih-bersih, kawan saya tak pernah lagi bertanya kepada kerabatnya apakah rumahnya mau dibersihkan atau tidak. Kapok katanya. Dia memang agak sedih sewaktu menerima jawaban tersebut. Tapi setidaknya, ia semakin mengenal kerabatnya dan tahu hal apa yang bisa membuatnya marah.

Ketika seseorang marah gara-gara ucapan maupun perbuatan kita, kemungkinan besar kita telah menyinggung atau melukai konsep dirinya. Ego. Tapi kalo kita pengen ego kita dihargai, hargai dulu dong ego orang lain. Masa cuma ego kita sendiri yang mau disenangkan? Itu mah namanya egois. Betul kan yang saya katakan? πŸ™‚

Adakah yang menyenangkan egomu hari ini kawan? πŸ™‚

 

 

Baca ini Sebelum Nonton Warkop DKI Reborn Part 2

Tanpa fans atau penggemar, suatu brand bukanlah apa-apa. Taylor Swift tahu betul itu hingga ia mendedikasikan video lagu ‘New Romantics’ khusus untuk para penggemarnya.

“The fans are the best part of this tour. They’re the reason the shows are incredible. And I know these fans out there are just… all in,” ujarnya di awal video.

All in’ sendiri (menurut salah satu kamus online yang saya intip) artinya adalah: to be totally committed to something.

Ditambah dengan hadirnya media sosial yang semakin mempermudah penggemar membagikan entah berita apa pun itu tentang brand yang mereka gemari tadi, keberadaan fans memang tidak main-main. Mereka menentukan hidup mati suatu brand.

Mungkin masih segar dalam ingatan kita sewaktu video insiden Dian Sastro dicolek fansnya tanpa sepengetahuan dia, menjadi viral di masyarakat hanya dalam hitungan detik. Dan bukan hanya viral, gara-gara insiden tersebut doi malah jadi bulan-bulanan oleh netizen. Kasian banget. 😦 Coba kalo para perundung ini berada dalam posisi Dian, bisa jadi mereka bakal melakukan hal yang sama…..

Kemungkinan insiden tersebutlah yang menjadi salah satu penyebab mengapa film Kartini yang ia perankan tidak begitu meledak di pasaran. Padahal film Habibie, yang bergenre sama seperti Kartini yaitu biopic (biographical movie), dan yang dibesut oleh sutradara yang sama yakni Hanung Bramantyo, hasilnya sangat menggembirakan.

Makanya pas kemarin-kemarin ada berita tentang Tora Sudiro yang terjerat kasus narkoba, saya sempat was-was juga apakah bakal berpengaruh besar kepada film Warkop DKI Reborn Part 2 yang waktu peluncurannya tinggal menunggu hari.

Bagi penggemar film kayak saya, tak ada yang saya harapkan selain film-film yang diputar di layar lebar atau entah di mana pun itu, hasilnya bisa diterima pasar dengan baik dan masyarakat terhibur. Angka-angka tidak bohong. Makin banyak yang nonton tentu makin baik, kan? Industri film nasional bisa terus berputar dan seniman lokal makin bersinar di negeri sendiri.

Dan sebagai penggemar berat Warkop DKI, tak ada yang saya harapkan selain film ini juga bisa diterima di hati masyarakat sebagaimana episode pertamanya yang meraup sekitar 6.8 juta penonton, hingga ditahbiskan sebagai film Indonesia paling laris sepanjang masa. *terharu πŸ™‚ Untunglah kekuatiran saya tak terjadi. Melihat antrian yang berkelok-kelok di loket bioskop semalam, terbukti bahwa masyarakat masih sangat antusias menyaksikan kekonyolan demi kekonyolan yang dilakonkan Tora Sudiro cs. 😁

Adegan epik macam pesawat terbang yang mundur gara-gara sikat gigi ketinggalan atau bersembunyi di poster Khong Guan memang tidak ditemukan lagi dalam sekuel ini. Namun ada begitu banyak adegan yang tidak kalah epik yang bikin muka saya pegal karena ketawa melulu, bikin perut saya sakit akibat cekikikan, dan yang bikin saya pengen makan soto sehabis nonton. 😁

Betul, soto! Makanan yang amat membumi dan bisa dengan mudah ditemukan di seluruh penjuru Indonesia: soto! 😁😁

foto: ameliacatering.net

Kalo hari ini belum ada rencana apa-apa, buruan deh tonton ini film di bioskop. 😁 Saya yakin, abis nonton kamu pasti pengen langsung ngunyah soto. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† Dan, sebelum nonton, harap diingat, ini film komedi, bukan drama psikologi. πŸ˜† Jadi jangan terlalu serius. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Udah dulu ah, saya mau nyari soto. Soto mana soto? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

 

 

Usupso: Yang Lucu-lucu Menggemaskan dari Jepang

Kemarin dulu saya mampir ke mall buat nyari tas untuk dipakai sehari-hari. Tas kesayangan yang sekarang kondisinya udah memilukan. 😁  Ya wajar, sih. Usianya udah bertahun soale. Apalagi dipake hampir tiap hari, lama-lama kan jadi butut juga ye? Jadilah saya masuk-keluar toko nyari gantinya. Ada tas yang motifnya cakep, ukurannya pas, bahannya kokoh, jahitannya rapi, tapi sayang enggak punya ritsleting. Trus ada yang motifnya cakep, ukurannya pas, jahitannya juga rapi, tapi sayang bahannya tidak sekokoh yang saya butuh. Males banget kalo misalnya beli tas hari ini dan minggu depan udah lecek di sana-sini, kan?

Oiya, definisi ‘ukuran pas’ di atas adalah tas bisa memuat barang antara lain henpon, tisu, notes, dompet, pulpen, charger henpon, buku, saputangan, permen, payung, syal, dlst. Bahkan kalo perlu selimut pun bisa masuk ke dalamnya… πŸ˜†πŸ˜†

Suami saya suka bingung kenapa cewek-cewek tasnya sering segede bagong. (Hih. Padahal doi juga suka nitip barang di tas saya tuh kalo kami lagi jalan bareng. πŸ˜…πŸ˜…) Pastinya karena kita emang butuh, kan? Tentu ya bedalah tas sehari-hari dengan tas pesta. Biasanya mah kalo tas pesta ukurannya lebih mungil, ya? 😁 Atau apa ada yang pake tas segede bagong ke pesta? (*tunjuk tangan sambil lirik kanan-kiri. nyari temen 😁😁)

 

Abis muter-muter dari toko yang satu ke toko yang lain dan tetap belum nemu, saya teringat sama satu brand asal Jepang yang baru-baru ini muncul di Balikpapan: Usupso. Tampilan tokonya yang sangat ‘khas Jepang’ itu barangkali yang bikin dia gampang diingat. Teratur, rapi, minimalis, apalagi didominasi warna putih memberi kesan bersih.

Masuk ke dalam, mata pengunjung dimanjakan dengan berbagai koleksi yang desainnya simpel dan lucu-lucu menggemaskan, sekaligus berguna dengan harga yang amat ramah di kantong. Japanese creative brand ini memang mengusung semangat ‘low price, high quality‘. Kalo bisa dapet barang kualitas bagus dengan harga terjangkau, kenapa mesti bayar mahal? πŸ˜‰

Notebook unyu dengan kualitas kertas yang keren ini, misalnya. Cukup dengan empat puluh lima ribu rupiah bisa dapet dua! πŸ˜„

 

Pulpen delapan warna cukup dengan lima belas ribu rupiah saja. Belum lagi wadah penyimpanan buat nyimpan printilan, topi, kacamata, sampai tas yang saya cari juga akhirnya nemu. 😁 Tidak persis seperti yang saya mau memang. Tapi kalau 4 dari 5 kriteria sudah terpenuhi, kenapa tidak, kan? Kalo kata cici-cici yang jualan di Pasar Sambas Medan, β€œCincailah! Kalo kakak udah seneng, bawa pulang aja!” πŸ˜„

si dave minion aja sampe kesengsem gitu… XD

 

Btw, kamu punya brand favorit yang saking senengnya sampe kebawa mimpi? 😁

 

 

 

Therapeutic Things to Do When You’re Feeling Stressed

Rutinitas sehari-hari yang polanya itu-itu saja bisa banget bikin bete, galau, gondok, stres, bosan beserta teman-temannya, kan? Kalau gerombolan mereka ini udah mulai menunjukkan taringnya dan mengobok-obok hati kamu, lakukan hal berikut:

  • Putar musik. Mesti yang sesuai sama selera kamu dong, ya. Bukan selera orang lain. Karena kalo kamu senengnya sama dangdut tapi kamu putar musik klasik, jangan-jangan yang ada kamu malah tambah stres. πŸ˜€

foto: youtube.com

 

  • Curhat. Sama teman yang dipercaya pastinya, kan? πŸ˜€ Sama saya juga boleh, asalkan bisa dishare di blog ini nantik. XD XD XD XD XD

 

  • Baca buku. Keuntungan baca buku banyak banget lho. Salah satunya kita bisa bertualang kemana saja dan menjadi apa saja.

 

  • Nyetir. Entah kenapa kalo kepala lagi panas, nyetir mobil justru makin seru dan bisa menyejukkan kepala saya. πŸ˜€ Tapi nyetir ada batasnya juga. Kalo udah nonstop nyetir selama 4 jam, sebaiknya rehat dulu sebelum kembali ke jalanan.

 

  • Dengar kicauan burung. Hati jadi adem. Coba aja. πŸ™‚

 

  • Motret biru langit. Enaknya tinggal di daerah dekat garis khatulistiwa itu adalah mata seringkali dimanjakan oleh stok langit biru yang seakan tiada batas kedaluwarsanya. Bahkan kadang disuguhi formasi awan yang cantik pula. πŸ˜€

 

  • Jalan-jalan. Enggak mesti ke luar kota atau luar negeri. Kamu bisa pergi ke taman terdekat atau kunjungi tempat wisata lokal yang belum ramai dikunjungi dan belum pernah kamu datangi.

 

  • Katakan β€œYa” kalo ada kawan ngajak pergi menyalurkan buku ke sekolah-sekolah yang membutuhkan. Bonusnya, bisa ketemu kepala sekolah yang jago bercerita bak pendongeng tulen, or you might even surprised melihat ada wilayah di luar sana yang sama sekali berbeda dengan yang dilihat mata sehari-hari: jalanan yang belum tersentuh aspal, hutan lebat, dan… hutan karet. πŸ˜€

 

  • Menulis. Meskipun stres, tentunya masih ada hal-hal yang bikin hati senang, kan? Tuliskan hal-hal besar maupun kecil yang bikin kamu bahagia setiap harinya. Dengan melakukan ini, percayalah, kamu akan lebih semangat dan bersyukur menjalani hari.

 

  • Nyuci kain. Yes, i mean it. Ngeliatin kain yang lagi mutar-mutar dalam mesin cuci itu rasanya menenangkan lho. XD XD XD Boleh coba kalau penasaran. πŸ˜€

foto: 123RF

 

  • Nonton film favorit. Bukan film yang lagi tayang di bioskop ya. Karena kalo belum pernah ditonton, risikonya tinggi. Sukur kalo filmnya bagus. Kalo filmnya jelek? Bisa-bisa stres meningkat. Jadi mending nonton film yang disuka dan udah pernah ditonton. Efek menenangkannya bakalan dua kali lipat. πŸ™‚

wonder woman (foto: google images)

 

  • Kelilingi diri dengan buku. Rasanya selalu menenangkan tiap kali melihat tumpukan buku, entah itu berantakan atau tersusun rapi di rak perpustakaan, toko buku, maupun rumah tetangga. πŸ˜€

 

  • Berdoa. Ini paling mujarab. πŸ˜‰

 

  • Keep doing what you love and what makes you happy.

 

  • Endus-endus aroma vanilla, kopi baru diseduh, dan kue yang baru keluar dari oven. Ketiga aroma ini selalu berhasil bikin hati semriwing. πŸ˜€ Mungkin kamu punya aroma favorit? Coba diendus dan rasakan efeknya. πŸ˜€

 

Bagaimana dengan kamu kawans? Kalo dilanda stres biasanya ngapain?

 

 

 

Airbnb dan Semerbak Bawang Putih yang Menyertainya

Aroma bawang putih menyerbu indra penciuman begitu pintu apartemen yang terletak di lantai dua belas itu terbuka lebar. Di bawah tadi kami sempat kesasar, gara-gara sopir taksi menurunkan kami di gedung yang salah. Untungnya ada seorang warga keturunan Filipina mau menyempatkan diri menolong kami mencari gedung apartemen yang benar. Saya sebut menyempatkan diri karena saat itu dia persis hendak berangkat ke tempat kerja. Sebetulnya bisa saja dia mengabaikan kami dan berkata, β€œtidak tahu” atau β€œmaaf, saya sedang buru-buru” sewaktu kami menunjukkan screen capture alamat apartemen tersebut, kan? Tapi dia memilih mau ikut repot berjalan kaki dari gedung apartemen yang satu ke gedung apartemen yang lain, hingga akhirnya yang kami cari ketemu.

 

Perempuan berambut hitam yang panjangnya nyaris mencapai pinggang muncul dari balik pintu yang terbuka. Ia mengaku sebagai ibu dari pemilik apartemen yang akan kami inapi, dan sedang berkunjung ke Singapura dari India. Ini akan menjadi pengalaman menginap kami yang kedua via airbnb. Pengalaman pertama kami sukses berat dan kami senang dengan pelayanan host a.k.a tuan rumah kami di Indonesia.

Di airbnb yang pertama itu host kami menyediakan gelas, piring, sendok, garpu, panci dan penggorengan untuk memasak ringan pada kompor elektrik. Ada pula mesin cuci lengkap dengan sabunnya. Microwave, kulkas, rak piring mini serta sabun cuci piring pun tak ketinggalan. Selain itu ada stok kantongan plastik bersih dan air minum di dispenser. Bahkan setrikaan dan cemilan macam kerupuk serta mie instan pun ada! πŸ˜€

Cahaya matahari yang melimpah sepanjang hari memberi nilai tambah bagi apartemen yang berada di salah satu sudut tersibuk di Jakarta itu. Kamar mandi dan seprai tempat tidur bersih, bantal harum tanpa bau pomade. Pokoknya serasa nginap di rumah sendiri. πŸ˜€

Meskipun pada akhirnya kami tak memakai semua fasilitas yang disediakan, ada rasa senang tertinggal di sudut hati. Rasa senang yang muncul karena mengetahui bahwa tuan rumah kami benar-benar memikirkan kenyamanan tamu. Itu saja sebetulnya yang paling penting dalam bisnis hospitality, kan? Tamu mendapat pengalaman menginap melebihi dari apa yang ditawarkan dalam brosur, melebihi dari yang tertera pada info di website, melebihi ekspektasi.

Kami pun dengan senang hati memberi lima bintang kepada tuan rumah yang ternyata memiliki moto: being the second best will never be remembered. Ah… Pantas saja apartemennya tak pernah sepi pengunjung…

Begitu sesi basa-basi dan perkenalan selesai, si ibu menjelaskan letak dapur, kamar tidur, kamar mandi serta letak ini-itu dan mengantar kami ke kamar yang terletak di sudut. Ia pun tak lupa memberi password wifi. Setelah beliau pergi dan koper saya letakkan di lantai, saya langsung mencoba wifinya dan berseluncur ke gugel serta merta mengetik pertanyaan yang paling ingin saya ketahui jawabannya:

“mengapa rumah orang India selalu beraroma bawang putih?”

Karena seingat saya, sewaktu tinggal di Oman dan bertetangga dengan orang India, dalam radius beberapa meter dari pintu rumahnya, aroma bawang putih yang tajam juga begitu menusuk hidung. Jadi, kenapa?

Inilah jawaban teratas dari mbah gugel:

“karena mereka langsung mengunyah bawang putih mentah-mentah…”

Of course our host didn’t mention about this garlic thing on their airbnb site. πŸ˜€

Well, meskipun secara keseluruhan pengalaman menginap di airbnb kedua ini tak semenarik apartemen airbnb pertama di Jakarta tadi, ada satu hal baik dari mereka yang menurut saya patut ditiru dan diacungi jempol. Mereka menggunakan listrik seperlunya saja. Lampu dapur dimatikan kalau sedang tak dipakai. Lampu kamar mandi pun begitu. Televisi juga dimatikan kalau tak ada yang nonton. Benar-benar hemat energi.

Kebiasaan mereka saya adopsi setelah pulang ke Indonesia. Yang dulunya suka meninggalkan lampu kamar menyala, sekarang saya matikan kalau enggak butuh banget.

Nah, bicara soal listrik, saya baru tahu kalau ternyata sekarang untuk menambah daya bisa dilakukan hanya melalui telepon ke PLN 123. Bahkan hari Minggu pun mereka tetap nerima telepon selama 24 jam! Keren banget, ya? Saya cuma ditanyai nama, besaran daya yang diinginkan, nomor ktp, alamat, tujuan penggunaan, serta besaran voucher listrik yang diinginkan untuk diisi (karena kami menggunakan sistem prabayar). Setelahnya saya diberitahu besar biaya yang harus dibayar (bisa bayar melalui atm). Saya pun enggak perlu datang ke kantor pelayanan PLN untuk mengurus dokumen-dokumen penambahan daya. Esok harinya petugas PLN sendiri yang mendatangi rumah. Tak sampai lima menit, simsalabim, urusan penambahan daya selesai. Bangga banget rasanya jadi penduduk Indonesia kalau semua urusan bisa dimudahkan kayak gini. πŸ˜€

**

Kembali ke soal airbnb tadi… Sekarang, tiap kali melihat lampu, entah itu dalam keadaan mati atau nyala, saya teringat keluarga India host kami tersebut, dan semerbak bawang putih yang menyertainya…

 

 

Btw, ada yang pernah ngunyah bawang putih mentah-mentah? πŸ˜€

 

 

 

Rahasia

Seseorang memberi saya buku The Secret pada awal tahun 2009 untuk dibaca. (ya iyalah masa buat dijual πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ ) Tapi begitu membacanya beberapa lembar, saya langsung meletakkannya karena buku ini bikin ngantuk. Tahun 2014 saya mencoba membaca lagi dan ternyata sama saja, tetap bikin ngantuk. Alhasil, saya pun langsung meletakkannya begitu membaca beberapa lembar halaman pertama.

Hingga beberapa hari yang lalu, sewaktu saya sedang mencari referensi tentang uang dan kemandirian finansial, judul buku yang ditulis Rhonda Byrne ini tiba-tiba muncul di benak. Akhirnya saya menariknya dari tumpukan buku ‘yang tak bisa selesai dibaca’ dan membuka halamannya secara acak. Halaman 197. Isinya begini:

β€œBanyak orang merasa dirinya sebagai korban, dan mereka menunjuk peristiwa-peristiwa di masa lalu, mungkin dibesarkan oleh orangtua yang tidak berfungsi dengan baik……….. Orangtua saya pecandu alkohol. Ayah saya melecehkan. Ibu saya bercerai ketika saya berusia enam tahun…. Maksud saya, itulah kisah dari hampir setiap orang dalam bentuk sedikit berbeda.

Pertanyaan sesungguhnya adalah, apa yang akan Anda lakukan sekarang? Apa yang Anda pilih sekarang? Karena Anda bisa berfokus pada masa lalu, atau Anda bisa berfokus pada apa yang Anda inginkan. Dan ketika orang mulai berfokus pada apa yang mereka inginkan, apa yang tidak mereka inginkan akan runtuh, apa yang mereka inginkan akan mengembang dan bagian yang tidak diinginkan menghilang.

Seseorang yang mempertahankan pikirannya pada sisi gelap kehidupan, yang terus-menerus menghidupi kembali kemalangan dan kekecewaan masa lalu, sebenarnya berdoa untuk kemalangan dan kekecewaan yang sama di masa depan. Jika Anda tidak melihat apa pun selain kemalangan di masa depan, Anda berdoa untuk kemalangan serupa, dan pasti Anda akan mendapatkannya.”

Super sekali, ya? πŸ˜€ Seketika kalimat-kalimat tersebut memerangkap saya dan saya pun memutuskan membaca The Secret dari awal.

Delapan tahun adalah lamanya waktu yang diperlukan hingga saya memiliki ‘koneksi’ dengan buku ini. Lumayan lama juga ya bok? Kenapa baru sekarang? Apa mungkin karena dulu belum sedewasa sekarang (yaelah πŸ˜€ ), atau mungkin karena dulu belum banyak makan asam garam? πŸ˜€ Entahlah, yang jelas, sekarang buku ini ‘berbicara’ kepada saya. πŸ™‚

Tahun 2008 saya pengen banget memperdalam fotografi dan pengen banget jadi fotografer profesional. Saya pun bercerita kepada salah satu kawan, yang ternyata memiliki kenalan fotografer senior Indonesia yang udah lama wara-wiri di dunia foto. Saya kemudian berkenalan, berguru kepada beliau, dan akhirnya tahu sedikit tentang seluk-beluk perfotoan.

Kemudian saya pengen menikah, dan meminta kepada Tuhan agar dipertemukan dengan laki-laki yang sesuai dengan kriteria yang saya inginkan menjadi suami. Ketemu, dan kami pun menikah. Setelahnya, saya juga ingin mengerti lebih dalam tentang pernikahan melalui buku dan meminta kepada Tuhan agar saya menemukannya di toko buku langganan.

Ini ceritanya lucu. Atau agak aneh sebetulnya. πŸ˜€

Karena tidak menemukan buku yang saya inginkan di bagian ‘buku pernikahan’, saya pun berjalan ke lorong lain. Siapa tau ada nyempil di situ. Begitu pikir saya. Waktu itu saya sedang berjalan di lorong buku masakan.

Tiba-tiba salah satu buku jatuh dari rak teratas. Saya pun memungut buku masakan yang jatuh tersebut lalu mengembalikannya ke rak. Saya jalan lagi. Tiba-tiba bukunya kembali jatuh. Saya berbalik dan menemukan buku yang barusan saya kembalikan ke rak sudah terbujur di lantai.

Saya periksa rak buku enggak ada yang salah. Susunannya rapi, enggak terlalu padat. Jadi mestinya aman dan enggak ada insiden buku jatuh. Saya pun mengembalikan si buku lagi dan ia kembali jatuh.

Saat memungut si buku untuk ketiga kalinya, saya teringat dengan misi saya datang ke toko buku: saya hendak mencari buku pernikahan. Tidak seperti dua aksi sebelumnya di mana saya hanya membungkuk untuk mengambil si buku jatuh, di kali ketiga ini saya berjongkok memungutnya sambil menelusuri buku-buku di rak paling bawah dan…. di sanalah saya temukan buku yang saya cari.

Terakhir adalah kejadian yang sudah saya singgung di awal tadi, yakni mencari referensi soal uang dan kemandirian finansial. Tiba-tiba saja beberapa blog yang saya ikuti membahas seputar uang dan tiba-tiba saja judul buku The Secret muncul di benak. Aneh bin Lucu, kan? Koq bisa? Padahal saya enggak minta secara spesifik ke mereka lho.

Saya memang tidak minta secara spesifik ke blogger-blogger tersebut, tapi kalau menurut buku The Secret, saya memintanya secara spesifik ke Semesta dan Semesta memberi jawaban kepada saya melalui blog dan buku. Begitu pun sewaktu saya pengen memperdalam fotografi, pengen menikah, pengen buku tentang pernikahan, serta sederetan kepengenan lainnya yang telah terwujud (akan terlalu panjang daftarnya kalau saya tuliskan di sini), saya memintanya secara spesifik ke Semesta dan Semesta memberi jawabnya kepada saya.

Selama ini mungkin kita menyebut, menganggap, atau menamai kejadian-kejadian tersebut sebagai kebetulan, tapi sebenarnya tidak. Dan disadari atau tidak, selama ini sebetulnya kita hidup di dalamnya, yakni hukum tarik-menarik, yang kalau menurut The Secret adalah rahasia besar kehidupan:

Segala sesuatu yang datang ke hidup kita sebenarnya ditarik oleh kita sendiri ke dalam hidup kita. Dan segala sesuatu itu tertarik ke kita oleh citra-citra yang kita pelihara dalam benak, yaitu apa yang kita pikirkan. Apa pun yang berlangsung dalam benak, kita menariknya ke diri kita.

Kalo dipikir-pikir, bener juga, kan? Diri kitalah sebetulnya yang menentukan jalan hidup kita, dan mau jadi apa kita. Bukan orang lain. Pilihan selalu ada, dan kita selalu bebas memilih, menentukan jalan yang mana.

Ambil contoh begini, ada dua orang dengan latar pendikan yang sama ingin bekerja agar bisa menghidupi diri. Sebut saja A dan B. Mereka kemudian mendapat pekerjaan sebagai admin dan mulai bekerja. Setelah beberapa tahun, A tetap pada posisinya semula dan si B sudah membeli perusahaan tempat mereka bernaung tersebut dan serta merta menjadi pemiliknya. Kenapa bisa? Apa yang membedakan?

Dari awal, meskipun A tahu bayarannya tidak begitu bagus, ia tetap bekerja sambil mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Sementara si B tidak mempersoalkan berapa bayarannya dan tetap bekerja penuh daya dan bersyukur, serta bercita-cita ingin memiliki perusahaan tersebut suatu saat nanti. B pun menabung dan menabung, sementara A selalu bingung entah kemana ia habiskan gaji yang diterima tiap bulan. Itulah yang membedakan: cara berpikir.

Pikiran kita adalah penyebab utama dari segala sesuatu. Ia adalah tempat paling luar biasa, tempat segala sesuatunya dibuahi, dan karenanya kita bisa menjadi apa pun yang kita inginkan.

Dalam kasus si A, sebetulnya dia bisa memilih keluar dari situ dan mencari pekerjaan lain yang bayarannya lebih bagus, kan? Tapi kenapa dia memilih tinggal dan tetap bekerja? A menjawab: tidak ada pekerjaan persis seperti yang saya mau dengan bayaran persis seperti yang saya mau; uang saya belum cukup untuk bertahan hidup selama beberapa bulan hingga saya dapat pekerjaan baru.

Dan, coba tebak, menurut buku The Secret, apa yang kamu ucap, itulah yang akan terjadi: sampai kapan pun tidak akan pernah ada pekerjaan persis seperti yang si A mau dengan bayaran persis seperti yang ia mau; sampai kapan pun uangnya tidak akan pernah cukup. Kenapa? Karena ia memintanya, maka Semesta mendengarkan dan memberi jawaban. Semakin A mengeluh, maka semakin banyak situasi yang muncul membuatnya mengeluh. Sementara untuk kasus si B, Semesta juga persis memberi apa yang paling ia inginkan.

Begitulah cara kerja hukum tarik-menarik. Seperti cermin. Ia hanya memantulkan apa yang ada di hadapannya. Apa yang datang kepada kita adalah hasil dari apa yang telah kita perbuat.

Dan setelah diingat-ingat lagi, di tahun 2014 ternyata saya pernah menulis perihal yang mirip-mirip kek gini dalam You Create Your Own Problem dan Apa Ini (tentang keponakan saya yang bikin gemes itu) πŸ˜€ Hanya saja, waktu itu saya tidak tahu kalau namanya hukum tarik-menarik, karena selama ini saya mengetahuinya sebagai hukum sebab-akibat, tabur-tuai, atau karma. Ternyata maknanya sama.

Lalu bagaimana dengan kasus dua orang yang memiliki permintaan yang sama namun yang satu terwujud dan yang lainnya tidak terwujud? Buku ini menjelaskan bahwa:

agar keinginan terwujud, kita mesti benar-benar menginginkannya dan mesti fokus. Fokus di sini artinya bukan cuma melotot enggak jelas ya, melainkan kita mesti bertindak, berbicara dan berpikir seakan-akan telah menerima keinginan tersebut sekarang juga.

Pendek kata, mesti percaya. Karena kalau ragu sedikit saja, then it will never happen.

Fokus ini sangat mirip dengan definisi iman menurut alkitab Ibrani 11:1, β€œyakin sungguh-sungguh pada hal-hal yang diharapkan, mempunyai kepastian akan hal-hal yang tidak dilihat.”

Yesus pernah berkata dalam alkitab Matius 17:20, bahwa jika kita memiliki iman sebesar biji sesawi yang kecil banget itu, kita bisa memindahkan gunung dan tidak ada yang mustahil bagi kita.

Dalam alkitab Lukas 11:9, Yesus juga menjelaskan tentang permintaan yang akhirnya dikabulkan,

β€œTetapi justru karena engkau tidak merasa malu untuk minta kepadanya terus-menerus, maka ia akan bangun juga dan memberikan kepadamu apa yang engkau perlukan. Jadi, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka kalian akan diberi; carilah, maka kalian akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan untukmu. Karena orang yang minta akan menerima; orang yang mencari akan mendapat; dan orang yang mengetuk, akan dibukakan pintu.”

Dan ada satu lagi syaratnya agar keinginan terwujud: kita harus senang, gembira, bersemangat, bersyukur dan bahagia.

Coba ingat-ingat, adakah dari tiap impian yang pernah terwujud dalam hidup membuatmu sedih? Saya yakin enggak ada. Setiap impian kamu pastinya membuat senang, kan?

Maka ketika kita fokus, percaya dan senang, hukum tarik-menarik akan dengan sangat kuat menggerakkan situasi, orang, dan peristiwa kepada kita untuk menerimanya.

Keren banget, kan? Pokoknya buku ini sangat menginspirasi dan quotable banget. πŸ˜€ Contohnya seperti:

  • Hukum tarik-menarik tidak mempersoalkan apakah Anda memandang sesuatu sebagai baik atau buruk, atau apakah Anda tidak menginginkannya atau menginginkannya. Ia hanya merespons pikiran Anda. Jadi, jika Anda terus memandangi tumpukan utang, merasa susah karenanya, itulah sinyal yang Anda kirim ke Semesta. Dan Anda hanya mengukuhkan keadaan ini bagi diri sendiri. Anda merasakannya di setiap keberadaan Anda, dan itulah yang akan Anda dapatkan dalam jumlah yang lebih banyak lagi.
  • Segala sesuatu adalah energi.
  • Jika Anda memulai hari dengan baik dan berada dalam perasaan bahagia, menurut hukum tarik-menarik (selama Anda tidak membolehkan sesuatu mengubah suasana hati), Anda akan melanjutkan dengan menarik lebih banyak situasi dan orang yang memelihara perasaan bahagia itu.
  • Sebenarnya Semesta telah menjawab Anda di sepanjang hidup Anda, tetapi Anda tidak dapat menerima jawaban kecuali jika Anda sadar. Sadari segala sesuatu di sekitar Anda karena Anda sedang menerima jawaban pertanyaan Anda di setiap saat. Saluran tempat jawaban-jawaban itu datang tidaklah terbatas. Saluran tersebut dapat dikirim dalam bentuk judul artikel koran yang menarik perhatian Anda, atau kebetulan mendengar seseorang bicara, atau lagu di radio, atau tulisan pada truk yang lewat, atau menerima ilham yang muncul tiba-tiba. Ingatlah untuk mengingat dan menjadi sadar.
  • Anda mempunyai pilihan, dan apa pun yang Anda pilih akan menjadi pengalaman hidup Anda.
  • Tidak ada yang dapat datang ke pengalaman Anda kecuali jika Anda memanggilnya melalui pikiran yang terus-menerus.
  • Dan lain seterusnya. πŸ˜€

Kalo pengen tau lebih banyak, buruan beli bukunya. πŸ˜€

Lantas apakah saya menemukan jawaban tentang uang dan kemandirian finansial di buku ini? Tentu. Menurut buku ini, untuk menarik uang, kita harus berfokus pada kekayaan. Mustahil untuk mendatangkan lebih banyak uang ke dalam hidup kita jika kita berpikir dan merasa tidak mempunyai cukup uang. Bila kita fokus pada ketidakcukupan uang, maka hukum tarik-menarik akan menciptakan lebih banyak situasi ketika kita tidak memiliki cukup uang. Maka untuk mendatangkannya, kita harus berfokus pada kelimpahan uang.

Dan gara-gara memikirkan tentang uang dan kemandirian finansial, saya pun teringat sama satu rumus atau kunci dari para penasehat keuangan agar kondisi keuangan tetap sehat:

investasi: minimal 10-30% dari gaji atau pendapatan bulanan

cicilan utang: maksimal 30 % dari gaji atau pendapatan bulanan

dana darurat: 6-9 x pengeluaran rutin per bulan

Ada yang pernah menjalankan rumus di atas? πŸ˜€

Btw, apa yang paling kamu inginkan sekarang?

 

 

 

* ada beberapa hal yang saya tidak sependapat dengan isi buku The Secret. salah satunya yang paling mendasar adalah bagian yang mengatakan bahwa manusia adalah tuhan penguasa semesta. di sini saya tidak setuju. karena jika manusia adalah penguasa semesta, tentunya manusia bisa mengendalikan seluruh kehidupannya dari awal sampai akhir. nyatanya tidak. begitu banyak kejadian dialami manusia di luar kendali kita. karena itulah saya tidak setuju, dan penguasa semesta hanya ada satu, dialah Tuhan yang saya kenal dalam Kristus Yesus.

 

 

Mengelilingi Ha Long Bay

Sejarah adalah milik mereka yang mencatatnya. Demikian kata pepatah. Dengan peradaban yang telah berusia lebih dari 5000 tahun, dan yang sering mengklaim bahwa mereka adalah permulaan dari berbagai hal, Tiongkok atau Cina adalah salah satu yang memiliki catatan atau dokumentasi terbaik di dunia. Mulai dari cara mengawetkan makanan, bercocok tanam, hingga resep masakan yang akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Dan karena sekitar delapan puluh persen barang-barang yang saya jumpai sehari-hari di Indonesia adalah MADE in CHINA, wajar kalau saya penasaran bagaimana keseharian mereka, kan? Bisa sih dibaca lewat buku atau film. Banyak malah. Tapi tentu lebih afdol kalau bisa merasakan dan melihat langsung dengan mata kepala.

Pernah singgah di Hongkong dan Makau, tapi tetap saja saya masih penasaran pengen menginjakkan kaki di mainland. πŸ˜€ Dan lagi, ada pula pepatah terkenal lain berbunyi, β€œKejarlah ilmu hingga ke negeri Cina.” Apa nggak bikin orang makin penasaran tuh? Kenapa mesti jauh-jauh ke negeri Cina?

Itulah sebabnya saya refleks membelalak sewaktu pemandu wisata kami dari Hanoi berkata bahwa dari Ha Long Bay kami bisa menuju Cina. Serius nih?

Tapi tak sampai lima menit, pemandu laki-laki yang mengaku pulang ke rumah tiap dua minggu sekali itu langsung menambahkan kalimat, β€œ…. tapi kita mesti berenang… dan berisiko ditembaki penjaga perbatasan karena memasuki daerah mereka dengan ilegal….” Lenyap sudah impian menginjakkan kaki di daratan Cina. πŸ˜€ Ternyata dia cuma bercanda atau otaknya korslet sejenak. Barangkali gara-gara haus belaian istri yang mungkin udah lebih dari seminggu tak ditemuinya…

Dari pelabuhan (yang memang cuma sepelemparan kolor kalau mau ke daratan Cina jika dilihat dari googlemap), perahu kecil yang mengantarkan rombongan kami yang berasal dari berbagai negara itu tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di kapal induk (kalau boleh saya menyebutnya πŸ˜€ ), yakni kapal bertingkat yang akan kami gunakan untuk berkeliling sekaligus bermalam di teluk Ha Long atau teluk naga nyungsep (meminjam istilah ponakan saya). πŸ˜€

Persinggahan pertama adalah Hang Sung Sot, salah satu gua yang berada di bukit-bukit kapur. Tapi sebelum memulai petualangan, lagi-lagi pemandu kami si Bang Toyib itu bikin kami cengengesan. Dia mewanti-wanti agar nantinya kami tak kaget apabila menjumpai banyak batuan yang bentuknya menyerupai alat kelamin pria…. Dimulai dari bukit yang menjulang gagah ini…

mirip gak menurut kamu?

Saya enggak begitu mendengarkan penjelasan pemandu kami tentang detil gua yang keindahannya bikin saya tercengang ini. Saya sempat bertanya kapan guanya ditemukan dan sejak kapan dibuka kepada umum. Dia memberi jawaban, tapi saya lupa jawabannya. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Maapkanlah. Saya betul-betul lupa saking terpesonanya, ditambah efek pencahayaan spektakuler membuat saya tak bisa konsentrasi dengan penjelasannya. Rasanya seperti melihat mahakarya di galeri seni. πŸ˜€

Tempat lain yang kami singgahi adalah peternakan mutiara. Ternyata sebuah mutiara itu bisa diperoleh setelah bertahun-tahun dierami tiram sodara-sodara. πŸ˜€ Pengunjung diminta memilih salah satu tiram dan menyerahkannya kepada petugas untuk dibedah. Beruntung, tiram yang saya pilih memiliki mutiara cantik di dalamnya.

mutiaranya yang bulat kecil putih di tengah

Saya pikir karena berhasil menemukan tiram yang ada mutiaranya, maka itu mutiara bisa dibawa pulang dengan cuma-cuma buat kenang-kenangan. Eh, taunya enggak. Mesti beli coy. Mihil pulak. Berjuta-juta kakak. Hahahhh…. Mending beli saus tiram deh biar bisa dipake buat masak nasi goreng. Hahahahahahah….

Setelah matahari terbenam, kapal kami merapat pada salah satu ceruk di balik salah satu bukit kapur. Mungkin dimaksudkan agar kapal kami tak terlampau terpapar angin malam yang dingin menggigit.

Malamnya saya tidur pulas di pelukan sang naga, dan bermimpi mengunyah baklava di Beijing.

Rendah Hati

Bahasan rubrik psikologi harian Kompas edisi Sabtu 27 Mei 2017 kemarin, tentang rendah hati, bagus banget menurut saya. Dan sekarang kalau dengar kata rendah hati, entah kenapa saya otomatis teringat sama Pak Jokowi. Mungkin karena udah terlalu lama enggak punya negarawan yang layak diteladani, yang enggak cuma membangun segelintir kelompoknya saja, melainkan benar-benar bekerja membangun Indonesia.

Layaknya orang jatuh cinta, pernah ada beberapa nama negarawan yang nyangkut di hati, kemudian pupus. Waktu jugalah yang akhirnya membuktikan bahwa ternyata mata hati mereka menjadi buta karena harta dan kekuasaan.

Eh, pas lagi teringat sama Jokowi, kebetulan pula ada fotonya terpampang lumayan besar di rubrik internasional (pada harian Kompas edisi yang sama), yang membahas hubungan Indonesia-Australia, yang diibaratkan Kompas seperti hubungan suami dan istri: kadang akrab, kadang cekcok.

Kompas Sabtu, 27 Mei 2017

 

Melihat foto tersebut di tengah desau air mancur, deru motor dan mobil, pemuda-pemudi sibuk berselfie ria, serta adzan berkumandang, saya jadi terharu dan mikir: memang enggak gampang jadi presiden yang mengepalai dua ratus sekian puluh juta jiwa, di negeri yang….

 

yang ibukotanya baru saja diteror bom sewaktu pawai obor menyambut bulan suci Ramadhan, di mana peserta anak-anak meneriakkan β€œbunuh si titik-titik….” (…. mau jadi apa anak-anak ini nanti kalau dari sekarang udah didoktrin membunuh?)

yang wakil presidennya mengaitkan kekayaan dengan agama dan etnis tertentu (padahal kalau menurut saya, seseorang menjadi kaya bukan karena agama atau etnis, tapi karena kerja keras dan cerdas. saya yakin bapak wapres tahu, karena saya yakin beliau sendiri juga pekerja keras dan cerdas. kalau enggak, ya enggak mungkinlah beliau jadi wapres).

yang memberi ganti rugi kepada masyarakat yang lahannya diambil untuk kepentingan bersama.

yang rakyatnya ribut bertanya-tanya mengapa tak mengintervensi kasus Ahok (padahal kalau sempat beliau mengintervensi, habislah sudah bangsa ini disergap serigala-serigala lapar yang mengaum menunggu mencabik).

yang salah dua anak bangsanya baru saja bertunangan hingga menyebabkan para jomblo akut mengalami #HariPatahHatiNasional (selamat ya….).

dan yang…… well, kamu sambung sendirilah daftar ini. karena kalau saya ketik satu per satu realita yang dialami anak bangsa sampai dua ratus sekian puluh juta kalimat (sesuai dengan jumlah jiwa di Indonesia), tangan saya bakal kapalan. πŸ˜€ πŸ˜€ Jadi silakan sambung unek-unek kamu dalam hati masing-masing atau di kolom komentar. πŸ˜€

 

 

Akhir kata, semoga Pak Jokowi tetap rendah hati seperti yang kerap diperlihatkan selama ini, dan semoga Tuhan menyertai beliau sampai akhir nanti.

 

 

 

Sabun Cuci….

Kapan terakhir kali sabun cuci bisa membuatmu tertawa bahagia sampe ngakak enggak jelas? Setahun lalu? Sebulan? Kalau saya, hari Senin lalu, dalam perayaan paskah.

Mungkin karena udah terlalu sering dihadiahi payung cantik, piring cantik, gelas cantik, kipas cantik, panci cantik, kotak makan cantik dan lain sebagainya yang cantik-cantik, saya cuma tersenyum sambil lalu mendengar anak-anak yang ikut dalam perayaan paskah ini berceloteh bahwa hadiah-hadiah yang akan dibawa pulang para peserta yang ikut dalam permainan adalah susu, mentega, sabun cuci piring dan sabun cuci kain. Apalagi setelah permainan pertama yang lumayan bikin keringat, yakni mengejar kain di atas pasir di bawah terik matahari di tepi birunya laut, usai, dan kami para peserta dihadiahi cemilan kerupuk, saya pun semakin yakin kalau anak-anak tadi memang cuma bergurau.

Sehabis makan siang dengan menu masakan Padang yang berat, saya memilih absen pada permainan kedua akibat kekenyangan serta keletihan, dan rehat di bawah pohon nyiur sambil ngemil kerupuk. Kekenyangan tapi masih bisa ngemil kerupuk. Kamu pernah kek gini? XD

Sewaktu rehat ini, saya tak sengaja menangkap gerakan anak-anak membagikan bungkusan sabun cuci kain kepada para peserta dari tim yang menang pada permainan kedua.

This can’t be serious. Saya membatin.

Namun, setelah memastikan bahwasanya benar hadiahnya adalah sabun cuci kain, sabun cuci piring, mentega dan susu, kekenyangan dan keletihan saya langsung menguap, berganti dengan semangat untuk bertarung, eh, maksud saya bermain, yang muncul entah dari mana.

Bring it on! Saya membatin lagi.

Saya juga bingung kenapa koq rasanya bahagia sekali mengetahui bahwa hadiahnya adalah pernak-pernik yang begitu dekat dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Maka selama lebih kurang satu setengah jam berikutnya, saya bersama tim kami mendedikasikan diri dengan segenap hati, jiwa dan raga demi memperebutkan sabun cuci dan kawan-kawan. XD

Penampilan tim kami cemerlang pada permainan memasukkan karet gelang secara estafet dengan sedotan. Disusul dengan permainan tebak kata, mengumpulkan benda lebih dari 20 buah, tarik tambang, dan permainan menulis β€œYesus Bangkit” yang menurut saya paling menarik dan paling menantang dari semua permainan, di mana beberapa benang diikatkan pada satu alat tulis berupa spidol, kemudian masing-masing ujung benang dipegang oleh peserta tim. Bayangkan gimana hebohnya menulis β€œYesus Bangkit” pada kertas di bawahnya.

Yang paling kerepotan menurut saya adalah kepala suku alias ketua tim. Bagaimana cara dia mengajak teman sepermainan, yang di masing-masing tangan menggenggam seutas benang yang juga memegang kendali atas si spidol. XD XD Saking susahnya, tangan saya gatal untuk bermain curang meletakkan si benang serta meraih spidol dan menuliskan β€œYesus Bangkit” seperti diinstruksikan pembawa acara. XD XD XD

Pada akhirnya, β€œYesus Bangkit” berhasil kami tulis dengan susah payah dan tim kami meraih juara pertama, serta membawa pulang sabun cuci kain, sabun cuci piring, serta…. susu, bukan mentega. Tak mengapa. Tak ada mentega, susu pun jadi. Sama-sama menyehatkan dan bermanfaat. XD XD XD

Sungguh, rasanya belum pernah saya sebahagia kemarin sewaktu menerima sabun cuci dan susu sampai ngakak enggak jelas, bahkan hingga sekarang saat menuliskannya di blog ini untuk kalian pembaca setia. Ternyata bahagia itu memang sederhana adanya. πŸ™‚

 

 

 

 

featured image: tokopedia.com