Waktu Terbang

Minggu lalu saya ke Jakarta. Liburan singkat sekaligus menghadiri pesta nikahan. Senang bisa ketemu keluarga, saudara, namboru, abang, kakak, ompung, adik-adik, sepupu, dan orangtua saya yang semakin tua. πŸ™‚ Kalo ditanya lebih suka tinggal di mana, jujur, saya lebih suka di Jakarta. Pagi siang malam selalu ramai. πŸ™‚ Macet memang selalu always tak pernah never. Tapi justru kemacetan itulah pertanda adanya kehidupan. πŸ™‚

Beberapa hari saya numpang di penginapan yang jalanannya sepanjang hari hilir mudik dilewati kendaraan. Berbagai macam tempat makan -mulai dari yang harganya sangat terjangkau macam warteg, hingga yang agak berat dijangkau- ada di sana. Dari beberapa yang saya sambangi, ada satu yang nampol di hati.

β€œDicoba dulu… Nanti kalo enak balik lagi ke sini ya…” ujar ibu penjaja nasi uduk jalanan, sore itu, sembari menyerahkan bungkusan makanan untuk porsi dua orang seharga kurang dari 30 ribu rupiah.

Saya terharu mendengarnya. Ia mengucapkan kalimat tersebut seakan penuh kerendahan hati yang mengharapkan orang asing kembali ke warung sederhananya itu.

Masakannya enak dan pedasnya pas. Tapi karena kesibukan, membuat kami tak mungkin kembali ke warung nasi uduknya yang sepertinya hanya buka di sore hari. Mungkin suatu hari nanti kalo saya kembali ke daerah tersebut, saya pasti akan mengunjunginya meski si ibu tak mengingat kami lagi. πŸ™‚

Hari Minggu saya ikut ibadah bersama orangtua dan adik di GPIB. Kebetulan ponakan kesayangan saya berulang tahun. Time flies. Waktu terbang. Ia sekarang bertambah pintar, baik hati, dan jago nyanyi. πŸ˜€

Mumpung ponakan ultah dan orangtua ada, adik saya mengajak makan siang bersama usai ibadah. Namun saya melewatkan ajakannya, karena sudah berjanji untuk bertemu keluarga saya yang lain di Bekasi.

Di Bekasi, kami makan-makan lagi. Ponakan saya yang memilih tempat. Di sana kami bertukar cerita; mulai dari kakak saya yang sukses menurunkan berat badan, songket Palembang, hingga ponakan saya yang ternyata udah mulai kuliah tahun ini. Time flies. Waktu terbang. Rasanya baru kemarin ia berseragam putih merah dengan senyum malu-malu menyapa saya; tahu-tahu sekarang udah mahasiswa. Ke mana perginya waktu?

Saya mengutip salah satu lagu yang dinyanyikan saat ibadah hari Minggu di GPIB. Judulnya: Pakailah Waktu Anugerah Tuhanmu.

Pakailah waktu anugerah Tuhanmu,

hidupmu singkat bagaikan kembang.

Mana benda yang kekal di hidupmu?

Hanyalah kasih tak akan lekang.

Tiada yang baka di dalam dunia,

segala yang indah pun akan lenyap.

Namun kasihmu demi Tuhan Yesus,

sungguh bernilai dan tinggal tetap.

 

Karya jerihmu demi Tuhan Yesus,

‘kan dihargai benar olehNya.

Kasih yang sudah kau tabur di dunia,

nanti kau tuai di sorga.

 

Dan satu lagu lagi yang belakangan sering diputar di mana-mana. πŸ™‚

Hidup ini adalah kesempatan

Hidup ini untuk melayani Tuhan

Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri

Hidup ini harus jadi berkat

 

Oh Tuhan, pakailah hidupku

Selagi aku masih kuat

Bila saatnya nanti ku tak berdaya lagi

Hidup ini sudah jadi berkat

 

 

 

 

 

Advertisements

Catatan 17 Agustus

Beberapa tahun belakangan aku menjadi sangat sombong dan hanya mengandalkan pikiranku. Tidak ada kerendahan hati, aku merasa lebih baik dari orang-orang lain. Kawan-kawan serta komunitas tempatku bernaung yang bergerak tak sesuai dengan harapan maupun kemauanku, kutinggalkan. Aku memisahkan diri dari mereka, dan itulah awal kehancuranku.

Aku lupa, bahwasanya orang yang memisahkan diri dari orang lain berarti hanya memperhatikan diri sendiri saja, dan membantah setiap pendapat orang lain. (Amsal 18:1)

Aku lupa menjadikan Tuhan sebagai penguasa setiap aspek kehidupanku. Tanpa kusadari, aku menjadi jahat dan sesat, serta membangun kuil pemujaan bagi diriku, alih-alih bagi Tuhan.

Aku lupa, sebagai garam dan terang Kristus, justru tugasku seharusnya merangkul orang-orang yang membuatku kesal.

Aku lupa bahwasanya aku pun manusia yang penuh kekurangan di sana-sini, dan juga pernah mengecewakan mereka.

Tapi semua itu sudah berlalu dan aku menyesal telah meninggalkan kawan-kawan yang pernah mengisi hari-hariku. Dan sekarang, Tuhan beriku kesempatan bertobat dan hidup sesuai standarNya, peraturanNya.

Melalui beberapa kejadian yang belakangan terjadi kepadaku, Kristus menarik perhatianku agar fokusku kembali kepadaNya. Ia mau jiwaku dan jiwamu selamat, karena Ia telah mengampuni kita satu kali untuk selamanya. Sebagai tanda kita telah diselamatkan, kita mesti hidup sesuai standarNya dan peraturanNya.

Kita hidup dua kali. Satu kali di dunia, satu kali lagi sesudah tubuh jasmani kita mati, jiwa kita hidup selamanya. Pertanyaan pentingnya, ke mana jiwa kita pergi? Tuhan itu adil. Ia menyelidiki hati dan menguji batin manusia. Setiap orang akan Ia balas menurut tingkah lakunya, dan Ia perlakukan sesuai dengan perbuatannya. (Yeremia 17:10)

Namun Tuhan lebih suka mengampuni dan menerima pertobatan kita daripada menghukum kita. Ia Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar, lemah lembut, dan selalu siap untuk mengubah rencana penghukuman. Kisah Yunus menceritakan bagaimana Tuhan melalui Yunus memperingatkan penduduk di Niniwe untuk bertobat dan meninggalkan kejahatan mereka. Mereka menyesal dan akhirnya Tuhan tak jadi menghukum mereka.

Dalam kisah Sodom dan Gomora, Abraham dengan gigih tawar-menawar dengan Tuhan agar mengampuni kota itu bila saja di sana ada sepuluh orang yang tak bersalah. Tapi ternyata tak ada dan kota itu pun hancurlah.

Mari perhatikan cara hidup kita dan ubah kelakuan. Berjuanglah untuk mematikan keinginan-keinginan dunia yang merongrong diri seperti percabulan, hal-hal tidak senonoh, hawa nafsu, ilmu guna-guna, cemburu, iri hati, pesta pora, mabuk-mabukan, dan keserakahan (karena keserakahan adalah serupa dengan menyembah berhala). Berhentilah melakukan hal-hal jahat seperti: marah, mengamuk, benci terhadap orang lain; berhentilah mengeluarkan caci maki atau perkataan yang kotor, serta berhentilah berbohong.

Apa yang kita perlukan beritahukan selalu kepada Allah dengan mengucap terima kasih. Isilah pikiran kita dengan hal-hal yang patut dipuji, yang benar, terhormat, adil, murni, manis, dan baik. Hendaklah kita masing-masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri. Hendaklah berhati-hati pada falsafah-falsafah tak berguna dan hanya menyesatkan. Falsafah-falsafah itu bukan dari Kristus melainkan dari pendapat manusia saja dan dari roh-roh penguasa dunia.

Tunjukkanlah belas kasihan, rendah hati, lemah lembut, dan tabah. Ampunilah satu sama lain karena Tuhan telah mengampuni kita. Hargai dan hormati sesama. Bersosialisasi, ramah, sopan santun, dan peduli. Dan yang paling penting saling mengasihi.

Hubungan kita dengan sesama adalah refleksi hubungan kita dengan Tuhan. Jika kita mampu mengasihi Tuhan yang tak kelihatan, maka kita pasti mampu mengasihi sesama yang terlihat oleh mata. Namun apabila kita tak mampu mengasihi manusia yang kelihatan oleh mata, kita tak mungkin mampu mencintai Tuhan yang tidak terlihat oleh mata.

 

 

 

 

Cara Menemukan Tempat Makan Enak (Kalo Kamu Lagi Traveling)

Baca review atau ulasan di mesin pencari dengan kata kunci, ‘tempat makan enak di Samosir’, ‘tempat makan enak di Jogja’, atau ‘tempat makan enak di Bandung’, misalnya, sah-sah aja sih sebenernya, tapi saya enggak pernah melakukan opsi ini.

Ngintip akun media sosial food curator atau kurator makanan pernah saya lakukan beberapa kali sampai akhirnya satu waktu saya keracunan makanan dari salah satu tempat makan yang dipromosikan oleh sang kurator di akun medsosnya. Mungkin waktu itu saya lagi apes aja makanya sampe mesti nginap satu malam di rumah sakit. Tapi setelah kejadian itu saya kapok dan enggak pernah mau dengar lagi apa pun yang dipromosikan si kurator di akun medsosnya. πŸ˜€ (ho oh, selain gak tegaan, daku anaknya kapokan juga πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ ) #lemparpisangkapok #kalogakadapisangkapokpisangkepokpunjadi πŸ˜€ πŸ˜€

Jadi yang paling efektif menurut pengalaman saya…

  • Dengerin rekomendasi orang lokal. Entah itu supir, pemandu, temen, atau sodara kamu yang tinggal di kota destinasi. Tambah afdol kalo mereka yang kamu tanyain itu emang suka nyobain makanan juga.

  • Yang tempatnya rame. Biasanya makanannya enak juga. Tapi tempat sepi belum tentu enggak enak lho. Saya dan suami pernah masuk ke satu resto yang sepi di Tangerang. Awalnya kami ragu saking sepinya. Tapi setelah melihat daftar menu yang koq keknya oke, kami pun masuk dan memesan salad jamur serta pancake coklatnya yang olalaa… enak banget! Jadi jangan terkecoh kalo sepi. You might find a gem. πŸ™‚

  • Yang berasap. Ini paling cocok kalo dipraktekin di daerah dingin macam Samosir dan sekitarnya. πŸ˜€

Jadi gini ceritanya… (para pembaca dimohon gelar tikar ama nyiapin krupuk buat ngemilΒ karena ceritanya panjang…Β πŸ˜€ πŸ˜€ )

Rasanya baru sekejap berkeliling di Bakkara, tau-tau hari udah gelap dan perut kami udah keroncongan. Terakhir kali kami ketemu makanan berat adalah sewaktu rehat siang di Pangururan sekitar jam satu. Apalagi jika berada di daerah dingin perut cepat sekali rasanya lapar. Energi habis untuk menjaga tubuh tetap hangat. Pertanyaan ‘makan di mana kita’ akhirnya muncul. Kami pun berdebat apakah hendak mencari makan di Dolok Sanggul, atau cari tempat makan lokal di Bakkara.

Tapi masalahnya adalah, itu kali pertama kami ke Bakkara dan tiada saudara maupun keluarga yang bisa dimintai pendapat ‘di mana tempat makan paling rekomended di Bakkara’. Supir kami pun bukan orang lokal. πŸ˜€ Mau nyari di gugel, duh, plis deh, masa apa-apa pake gugel? Manja amat. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Trus gimana dong?

Bapak saya, yang juga pencinta makanan itu, punya jawaban canggih:

β€œTadi sewaktu kita melewati jalanan… ada kulihat satu warung namartimus… aku yakin masakan mereka enak…” ujar beliau.

Warung namartimus adalah warung sangat sederhana yang cara masaknya menggunakan kayu sehingga berasap.

Kalo orangtua ngasih pendapat, biasanya jarang meleset. Paling-paling kalau pun keliru, itu kemungkinan karena salah ucap istilah, seperti yang terjadi di insiden es cendol. πŸ˜€ Atau barangkali cara penyampaiannya yang enggak cocok ke kita anak-anak muda, tapi biasanya pesennya bener. πŸ˜€ Apalagi orangtua sudah lebih lama mengecap asam garam di dunia persilatan ini. πŸ˜€ Jadi tentu pengalaman mereka udah lebih banyak dari kita sehingga layak didengarkan. πŸ˜€

Maka sewaktu hari benar-benar udah gelap pekat, kami pun menepi di dekat warung yang dimaksud bapak. Setelah masuk, kami memesan satu-satunya menu yang tersedia, yakni ikan nila bakar yang kalau menurut kakak yang menyatat pesanan kami malam itu, β€œIkannya kecil-kecil…..”

Bagi kami yang udah kelaparan, ukuran ikan bukan lagi masalah. Kami akan menyantap entah sebesar apa pun ukuran ikan yang akan disuguhkan. πŸ˜€ Dan benar saja, begitu ikannya muncul (yang mana kalau menurut kami ikannya bukanlah kecil-kecil, melainkan besar-besar πŸ˜€ ), air liur saya langsung terbit melihat betapa seksinya ia dengan jejak kehitaman berkat proses pemanggangan, serta sambal tombur yang dibalur di atasnya. Saya pun serta merta mengambil irisan jeruk nipis yang disediakan dan meneteskannya di seluruh ikan, dan segera menyantapnya. Maknyus! πŸ˜€

(foto ikan nila bakar tombur di atas cuma ilustrasi. berhubung malam itu pencahayaan di warung tidak mendukung kamera henpon untuk mengabadikan si ikan, maka kamera yang saya gunakan untuk menangkap gambar adalah mata saya, sehingga tak ada foto ikan bakar yang bisa diaplot di sini. πŸ˜€ )

Jadi bapak saya benar, ikannya enak. Bahkan enak banget kalo menurut saya. πŸ˜€ Sangat beda dengan makanan yang kami santap di Pangururan beberapa jam sebelumnya yang disajikan dingin. Manalah hari pun dingin, disuguhi makanan dingin pula, jadinya dingin kuadrat. πŸ˜€ πŸ˜€

Karena kami terkesan dengan warung namartimus pilihan bapak di malam sebelumnya, maka keesokannya ketika tiba di Samosir, kami pun mencari warung namartimus lainnya untuk makan siang. Eh ketemu, dan masakannya enak pula!! πŸ˜€ πŸ˜€ Tapi siang itu di Samosir saya tidak memesan ikan bakar, melainkan babi panggang yang rasanya enak banget! πŸ˜€

  • Yang beraroma harum. Seperti lumpia Malioboro di Jogja.
  • Resto penginapan. Kalo penginapan kamu ada restonya, cobalah makan di sana. Beberapa kali saya pernah makan siang atau malam di penginapan dan masakan mereka selalu menyenangkan saat disantap. Karena biasanya juru masak penginapan memang adalah orang-orang yang handal memasak. Kadang orang ragu atau langsung berasumsi jika makanan di penginapan itu mahal. Padahal belum tentu. Dan kalau mau itung-itungan, biaya transport yang dikeluarin untuk makan di luar penginapan malah bisa jadi sama dengan biaya makan di penginapan.

  • Rumah sendiri. Buat saya yang anak perantauan, pulang kampung ke rumah orangtua judulnya adalah traveling. πŸ˜€ Dan apa pun yang dimasak oleh ibu, buat saya selalu enak. πŸ˜€

Beberapa tahun lalu keluarga besar kami berlibur dan berkumpul merayakan akhir tahun bersama orangtua kami. Satu waktu, adik saya yang paling jangkung menyadari bahwa sejak pagi sampe malem, ibu selalu ia jumpai sedang sibuk β€˜berkarya’ di dapur.

So my brother asked why she always looked so busy in the kitchen from early in the morning sampe malem.

Ibu bilang, β€œKalo mama enggak masak, kita mau makan apa, nak? Kita mesti makan tiga kali dalam sehari. Pagi siang malam.”

At that time, i don’t really know how my mum manage it (perhaps becoz at that time i don’t really love cooking so i didn’t pay much attention on how she did it), but ibu saya cepat sekali memasak. Macam sim salabim. Dalam waktu kira-kira satu jam, tau-tau udah kelar aja tuh masak lauk, sayur, ama nasi. Kami anak-anaknya ya palingan cuma bantu ngerecokin dan bantu ngabisin makanan. 😁😁😁😁

Kalo kamu pernah lihat Jamie Oliver’s 15 Minute Meals, yakni acara memasak dari yang tadinya nihil or mentah, trus sim salabim lima belas menit kemudian udah kelar aja tuh makanan buat disantap oleh dia dan kru-krunya dia, nah kira-kira kek gitulah ibu saya masak. 😁😁 (tapi beliau gak pake acara ngobrol-ngobrol or jelasin ini ina inu ke kamera macam si Jamie ya) 😁😁

Pokoknya ibu kalo masak udah kayak enggak pake mikir lagi gitu. Tangannya udah otomatis ngeracik ini, bikin itu, tambahkan anu, potong cabe, masukin kecap, bla bla bla, dan voila, hasilnya seringkali enak serius. 😁😁😁

 

 

 

 

 

Ingat Kamu

Ada yang masih ingat sewaktu masih cinta-cintanya sama pujaan hati? πŸ™‚ Mau makan ingat dia, mau tidur ingat dia, mau ngapa-ngapain pokoknya ingat dia. πŸ˜€ Bahkan lagi bosan dan sedih pun ingat si dia. πŸ˜€ Kayak kata lagu -agak lawas- nya Duo Maia yang Ingat Kamu. πŸ™‚

Trus kalo dapet sms darinya berasa pengen jejeritan dan senyum-senyum sendiri. πŸ˜€ Padahal isi smsnya cuma…

β€œUdah makan siang?”

atau

β€œSelamat malam… belom tidur?”

#Yaelah #NanyanyaStandarAmatSihMas #HarapMaklumJamanItuBelomKenalAmaGombalanDilan πŸ˜€

Tapi meskipun isinya standar, itu sms dibaca bolak-balik sampe henponnya bosen liatin kita. πŸ˜€

Apalagi kalo si dia ngasih tau lagu favoritnya ke kita, udahlah, seharian lagu itu melulu yang didengerin dan teksnya sampe hapal luar kepala. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Pendek kata, kita pengen setiap saat bisa konek dengan dia, dan tiap saat selalu ingat dia. πŸ™‚

Tapi yang namanya emosi, ia bisa luntur jika kita enggak pernah lagi bacain pesan darinya, enggak pernah bales smsnya, enggak pernah dengerin lagunya lagi, dan enggak pernah berusaha untuk berkomunikasi lagi dengan dia.

Seseorang yang mulanya begitu mencintai Tuhan dengan sepenuh hati, jiwa, akal budi dan kekuatannya, lambat laun imannya bisa terkikis akibat didera kekecewaan demi kekecewaan. Apalagi jika ia berpaling kepada ajaran-ajaran kebijaksanaan dunia yang terdengar manis di telinga:

β€œJika sesuatu harus terjadi, itu terserah kepadaku.”

Atau,

β€œNasibku berada di tanganku sendiri.”

Keadaan jiwanya yang semakin kosong karena iman telah menipis akibat menjauh dari Tuhan, diperparah dengan ketiadaan keluarga maupun orang terdekat yang dianggap sebagai benteng terakhir entah untuk sekadar menyemangati, maupun mendengar berbagai cerita dan keluh kesahnya.

β€œMau curhat dianggap cemen dan cengeng…” katanya.

Pikiran untuk mengakhiri hidup pun sempat terlintas karena ia merasa hidupnya tak lagi berharga dan hanya menjadi beban bagi orang sekitar. Namun ia segera sadar bahwa hal tersebut salah dan Tuhan tidak berkenan.

Dengan puing-puing keyakinan mendasar kepada kasih Tuhan, satu waktu ia mendengar seseorang bertanya,

β€œJika kita naik ke surga, siapa yang akan kita lihat di sana? Yesus? Bapa? Atau Roh Kudus?”

Yesus. Ujarnya dalam diam.

Orang tersebut melanjutkan mengutip satu ayat dari Surat Ibrani pasal satu ayat tiga:

β€œDialah yang memancarkan keagungan Allah yang gilang-gemilang; Dialah gambar yang nyata dari diri Allah sendiri. Dialah juga yang memelihara keutuhan alam semesta ini dengan sabdaNya yang sangat berkuasa…”

Ia juga melanjutkan membacakan ayat lima belas hingga delapan belas, dari Surat Kolose pasal satu.

β€œKristus adalah gambar yang nyata dari diri Allah yang tidak kelihatan; Kristus adalah anak yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan. Sebab melalui Dialah Allah menciptakan segala sesuatu di surga dan di atas bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, termasuk juga segala roh yang berkuasa dan yang memerintah. Seluruh alam ini diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus. Sebelum segala sesuatu ada, Kristus sudah terlebih dahulu ada. Dan karena Dialah juga maka segala sesuatu berada pada tempatnya masing-masing.”

Beberapa kali membaca dan mengucapkan ayat-ayat tersebut, secara perlahan, orang yang nyaris kehilangan jiwanya tersebut mulai kembali percaya dan cinta kepada Tuhan. Ia tahu Tuhan telah memberinya kesempatan lagi.

Ia juga menyebutkan beberapa hal yang dilakukan untuk berjuang bangkit dari depresinya:

  • Ingat Tuhan. Mungkin terdengar klise, tapi Tuhan memang lebih besar dari apapun masalah kita. Bawa masalah kita ke Tuhan. Obat-obatan maupun alkohol mungkin mampu membuat tenang sesaat, tapi setelahnya, jiwa kembali kosong. Namun jika kita membawa masalah kita ke Tuhan, masalah mungkin masih ada, namun Tuhan menguatkan kita.
  • Ingatlah ayat-ayat alkitab sepanjang waktu. Dengan memusatkan perhatian pada kuasa Tuhan, itu akan menguatkan kita.
  • Menaikkan pujian bagi Tuhan, khususnya ketika kita lemah dan tak berdaya.
  • Pilihlah Tuhan, karena kita tak bisa melayani dua ‘tuan’ pada saat bersamaan.
  • Berhenti hidup semau gue.
  • Aktif di komunitas, entah itu gereja maupun komunitas yang memuja-muji Tuhan dan yang mendekatkan kita kepada Tuhan.
  • Rutin menulis di jurnal mengenai apapun yang dirasakan atau yang dialami.
  • Sekali lagi, ingat kepada Tuhan karena Ia adalah Tuhan yang hidup, dan Ia ingin agar kita bersatu denganNya, karena Dialah pencipta dan pemelihara kita.
  • Latih diri untuk melakukan semua hal di atas dengan disiplin setiap harinya.

Dan bagi kita yang saat ini kemungkinan menghadapi kawan maupun keluarga yang depresi, ketahuilah bahwa depresi bisa menjadi penyakit yang nyata dan menghancurkan, dan ada penyebab fisik dan psikologis yang membutuhkan perawatan medis yang bijaksana dan profesional, sama seperti penyakit-penyakit lainnya.

Jadi apabila kita memiliki kawan yang secara medis didiagnosa menderita depresi, kita tidak seharusnya datang dengan memberikan salam yang gembira, dan memberitahu mereka untuk ‘tetap bersemangat, lupakan kesedihanmu, dan bersukacitalah dalam Tuhan’.

Sikap semacam ini mungkin sangat tidak sensitif, dan sesungguhnya bisa menambah penderitaan mereka. Karena ‘bersukacita dalam Tuhan’ adalah hal yang sangat ingin mereka lakukan, namun mereka tidak mampu melakukannya.

Kehilangan sukacita dalam hidup adalah salah satu gejala terburuk dari depresi. Dan mendapatkan sukacita itu kembali bukanlah semata-mata masalah ‘berusaha lebih keras’. Depresi adalah sebuah penyakit, bukan kegagalan atau kelemahan.

Just be there for them, dan biarkan mereka tahu bahwa kalian ada untuk mereka dan kalian peduli kepada mereka.

 

 

 

 

 

 

– “depresi bisa menjadi penyakit yang…… bukan kegagalan atau kelemahan..” dikutip dari buku Becoming Like Jesus hlm. 58Β 

 

When in Medan, Eat Like Medanese

“Hari ini jalan kemana kita?” pagi itu bapak bertanya kepada saya yang baru saja bangun dari tidur.

“Kemana ya?” saya balik bertanya. Saya enggak ada ide. Atau tepatnya belum ada ide. Karena, jujur, sebangun tidur langsung ditodong pertanyaan mahapenting kek gitu saya belum mampu jawab karena kesadaran saya belum terkumpul sepenuhnya. πŸ˜€

Sehabis sarapan dan mandi, barulah saya mampu berpikir agak serius hendak kemana kami jalan hari itu. πŸ˜€

Beberapa hari sebelumnya, sewaktu mandi di kamar mandi (ya iyalah di kamar mandi, masa di ruang tamu? πŸ˜€ ), momen sewaktu salah satu tante saya membawa kami makan-makan di salah satu resto di dekat pasar yang kalau tidak salah berada di dekat Thamrin Plaza, tiba-tiba berkelebat di benak saya. Nama kwetiau belacan dan mie kangkung belacan pun ikut berkelebat juga. Tapi saya tidak ingat nama pasarnya.

“Gimana kalau kita minum es cendol di Pasar Rame?” bapak memberi masukan. Beliau juga salah satu petualang kuliner. Maka kalau bapak ada rekomendasi, biasanya rasanya pun bisa dipercaya. πŸ˜€

“Pasar Rame? Yang di sebelah mana itu, pa?” sambar saya. Harap maklum, mantan anak Medan udah banyak lupa di mana letak ini-itu di kota metropolitan nan ramai ini. πŸ˜€

“Dekat Thamrin Plaza,” jawab bapak.

Jeng jeng! Koq bisa jadi agak-agak sinkron gini ya dengan memoriku kemaren dulu?Β Saya membatin.

Saya pun menceritakan momen traktiran tersebut kepada orangtua saya dan akhirnya kami bersepakat jalan-jalan ke pasar yang ternyata bernama Pasar Rame itu. Sebenarnya secara resmi tertulis Pasar Ramai. Tapi di mulut anak Medan, ‘ai’ berubah menjadi ‘e’. πŸ˜€ Jangan tanya kenapa. πŸ˜„

Menurut ibu saya, resto yang saya maksud udah tutup dan udah diganti sama toko kain. “Tapi di dalam Pasar Rame masih ada yang jualan kwetiau belacan koq,” ujar ibu memberi harapan.

Sesampai di pasar, kami mengambil tempat duduk di tempat penjual kwetiau belacan dan memesan kwetiau serta cendol yang dimaksud bapak tadi. Penjual cendolnya tidak berada di tempat yang sama dengan si penjual kwetiau, tapi bisa dipesan dan diantar ke tempat di mana kami duduk.

Penampakan awalnya memang menjanjikan. Tapi kenapa kwetiaunya agak berkuah? Seingat saya kwetiau belacan tak berkuah. Dan setelah dikunyah, makin lama rasanya makin eneg. 😐 Saya pun bertanya-tanya. Apa mungkin saya yang lupa antara mie kangkung belacan atau kwetiau belacan? Soale emang udah lama banget sih rentang waktu antara traktiran tante dan sekarang. πŸ˜€ Besar kemungkinan saya lupa namanya. πŸ˜€ Tapi saya ingat rasanya enak banget. Itu sebabnya saya ingat. πŸ˜€ Umumnya cuma dua jenis momen yang paling diingat manusia. Yakni yang paling enak, dan yang paling enggak enak. πŸ˜€ πŸ˜€

Cendolnya pun tidak seperti yang diharapkan bapak. Masa satu mangkok isinya cuma cendol hijau? πŸ€”πŸ€”

Selidik punya selidik, ternyata es cendol yang bapak maksud adalah adalah es campur berisikan cendol, cincau hitam, tape ubi/singkong, dll. Jadi bapak salah ucap. Mestinya nyebutnya es campur, bukan es cendol. πŸ˜€

Rasanya pun manis banget. Manis banget tapi abis! Gimana sih?? 😁😁 Abisnya Medan panas tenan bok. Jadinya kuembat sampe ludes. 😁😁

*

Selagi menunggu orangtua saya kelar dengan makanannya, saya ‘cuci mata’ ke toko sebelah melihat berbagai macam kue dan camilan terbungkus rapi serta disusun menarik mata.

yakinlah, kue-kue ini semuanya enak! πŸ˜€

 

Dan Pasar Rame ternyata adalah bandar manisan tertua di kota Medan! 😊

Dari Pasar Rame kami berjalan kaki ke Thamrin Plaza yang letaknya bersebelahan dan membeli beberapa potong kue pukis yang konternya berada di lantai paling dasar. Seingat saya, toko pukis ini dulunya juga langganan kami kalo ke sana, dan ternyata masih ada. Rasanya pun masih tetep enaak!! 😁😁

Pulangnya, kami berjalan ke arah resto yang saya ingat sebagai resto tempat tante mentraktir kami dulu. Berhubung masih agak kecewa dengan kwetiau belacan di Pasar Rame tadi, saya berharap-harap, kali aja kalo saya lewat di depan situ tokonya tiba-tiba berubah menjadi resto kwetiau belacan fenomenal tersebut. 😁😁 Eh, ternyata enggak. Beneran udah ganti. 😁😁

Di hari lainnya kami mampir di Ramadhan Fair yang berlokasi di areal Mesjid Raya Medan. Niatnya mau berburu hidangan buka puasa seperti kolak, kacang hijau, dkk; tapi yang ada malah ketemu sama kerak telor Betawi. 😁😁😁

Beberapa tahun lalu, pacar saya pernah memesan kerak telor buat kami berdua dan saya kurang suka karena rasanya aneh. Mungkin karena waktu itu masih dalam masa pedekate, seenak apa pun makanan rasanya jadi aneh dan enggak jelas. #yakali 😁😁😁 Sejak itu saya kapok sama kerak telor. 😁😁 (tapi sama pacar waktu itu saya bilang rasanya enak. biar hatinya seneng πŸ˜„πŸ˜„)

Adalah ibu saya yang pertama kali memesan kerak telor ini di Ramadhan Fair. Sewaktu si kerak telor akhirnya terhidang di meja, saya menyicipnya sedikit dan ternyata….. rasanya enaaak!! πŸ˜„ Serundeng kelapanya terasa banget! πŸ˜‹πŸ˜‹ Saya pun memesan satu lagi buat diembat sendiri. πŸ˜„πŸ˜„

Sehari sebelum saya pulang, ibu mengajak sarapan mie pangsit di pasar yang juga ada embel-embel ‘ramai’, yakni Pasar Sukaramai. Pasarnya agak semrawut tapi mie pangsitnya enak. 😁 Persis di dekat toko penjual mie pangsit ini ada penjual kue-kue tradisional yang belakangan udah semakin jarang saya temukan.

Sebetulnya masih ada lontong, nasi uduk, lupis, cenil, serta berbagai gorengan yang bisa diperoleh hanya dalam radius beberapa meter saja dengan berjalan kaki pagi-pagi dari rumah orangtua saya jika hendak berburu sarapan. Dan jika dipesan kesemuanya, katakanlah masing-masing satu porsi, cukup dengan membayar sekitar dua puluh dua ribu ‘saja’. Astaga!! πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Sungguh saya pengen pindah ke Medan aja kalo inget betapa mudahnya dapet makanan dengan harga terjangkau kayak begini dan enak pula, dan dekat orangtua juga! 😁😁 Tapi berhubung kecepatan jari-jari tangan saya menjepret tidak berbanding lurus dengan kecepatan mulut saya ngunyah makanan, maka monmaap foto lontong beserta kawan-kawannya enggak ada. 😁

 

 

 

 

Lo Yakin Udah Siap Nikah?

Kalo ditanya tujuan nikah buat apa, seringkali jawabannya adalah untuk meraih kebahagiaan. Padahal kalo diliat-liat nih ya (maksudnya setelah terjun langsung ke tekape a.k.a setelah dijalani πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…) justru setelah menikah semakin banyak masalah mengantre untuk dihadapi. 😁

Tapi, kalo semakin banyak masalah makin membuat lo seneng-seneng bahagia, ya monggo aja. It’s your call dude. πŸ˜„

Seperti yang pernah saya singgung sedikit di postingan memang jodoh, pernikahan sesungguhnya dimulai setelah pestanya usai, sedangkan menikah itu cuma sebentar. Upacara, tukar cincin (kalo butuh), tanda tangan hitam di atas putih, resepsi (kalo butuh), kelar.

Ketika saya hendak menikah sekitar satu dekade yang lalu, kebaya yang akan saya kenakan pada saat upacara baru dijahit sekitar tiga minggu sebelum hari H. Soalnya saya bukan tipe orang yang ambil pusing tentang baju kayak apa yang mesti dipakai, daftar lagu apa yang akan diputar di resepsi, jenis bunga apa yang mesti ada, cincinnya mesti gimana, foto-foto pre-wedding, dlst.

Kalaulah saat itu boleh menikah mengenakan blus dan celana jeans, saya akan memilih opsi tersebut. 😁😁😁

Buat saya, cincin, bunga, foto, dan kawan-kawannya, hanyalah ornamen. Hiasan. Ada, sukur; gak ada, ya gak dicari. Tapi kan enggak semua orang kayak saya toh? Kalo semua orang kek saya, nanti jasa wedding photographer, tukang bunga, tukang jahit enggak laku. 😁 Waktu itu pacar saya nawarin bikin foto pranikah. Tapi saya bilang enggak perlu. Karena setelah menikah kami pasti akan punya sangat banyak foto berdua. Dan nyatanya memang begitu. 😁

 

Yang terutama adalah mempertahankan pernikahan dalam susah maupun senang, hingga maut memisahkan.Β Dan mempertahankan pernikahan itu setidaknya butuh untuk….

  • siap mengalah
    Pacar kamu susah bangun pagi. Hanya satu itu kekurangannya. Masa iya dilepas sementara di poin lain menang banyak: rajin menabung, baik hati, ramah, suka menolong, suaranya bagus pas nyanyik di kamar mandi 😁😁, dlst? Udahlah terima aja. πŸ˜‰
  • siap berantem
    Realistis ajalah. Selama pacaran udah sering berantem kan? Apalagi kalo udah nikah. 😁😁 (yang udah nikah mah udah pada kenyang berantem kali ya? 😁😁😁😁 ) Beda kepala pasti beda pendapat. Bahkan bisa jadi beda pendapat dalam segala aspek. 😁😁
  • siap berdamai
    Ga usah kelamaan berantemnya. Kalo pasangan kamu udah mau nawarin makanan kesukaan or cipika cipiki lagi, nah itu artinya marahnya udah reda. 😁😁
  • siap kompromi
    Pernikahan bukan ajang menang-kalah ya, melainkan kerjasama.
    Hari ini date night makan makanan favorit lo, next date night ya makanan favorit pasangan elu lah. Dua-duanya seneng.

Selain itu, sebelum menikah coba dicek dulu:

  • apa kalian berbicara dalam bahasa kasih yang sama atau tidak?

Ini paling penting menurut saya. Bahasa kasih tiap orang beda-beda.Β Ada orang yang bahasa kasihnya adalah suka mendengarkan gombalan dari pasangannya. πŸ˜€ Ada yang suka dikasih hadiah, ada yang suka duduk-duduk berdua aja bareng pasangannya ngobrol ngalor ngidul, ada yang suka pegangan tangan, dlst.

It’s important to recognize your pacar’s bahasa kasih supaya komunikasi ke depannya lancar dan kalian masing-masing akan merasa dihargai. Kalo lo enggak tau jenis bahasa kasih pacar lo, tanya dengan sopan. πŸ˜„ Pasti lo dikasitau. Dan kalo lo ditanya, jawab dengan sopan juga. Kalo lo belum tau apa bahasa kasih lo, coba cek 5 bahasa kasih dalam percintaan.

Jika kebutuhannya untuk dikasihi tidak terpenuhi, kemungkinan pacar lo akan menarik diri dan menjauh, dan bukan tak mungkin dia mundur atau keluar dari hubungan.

Selain bahasa kasih, perempuan dan laki-laki pun bicara dalam bahasa berbeda. Kadang kalo cowok denger ceweknya ngomong gini:

β€œwiiih, tasnya bagus banget…”

Di kepala si cowok, ceweknya pasti mau beli. Maka si cowok bilang:

“ya udah beli aja.”

Padahal si cewek emang murni cuma muji doang, bukannya pengen dibawa pulang beneran itu tas.

Sementara itu, dalam satu percakapan lain:

cowok: kemarin plastik bungkus pohon rambutan udah dilepas sebelum ditanam?
cewek: belum. karena yang tanaman lain ditanam bersama bungkus plastiknya, jadi ya kupikir sama aja perlakuannya.
cowok: kalau tanaman buah plastiknya mesti dibuka. kalo enggak, ya apa gunanya ditanam di tanah. nanti akarnya enggak berkembang.

Mungkin untuk si cowok pernyataan itu biasa aja atau netral. Tapi, untuk sebagian cewek, itu artinya dirinya tidak becus.

Akhirnya si cewek pun menjawab:

kapan-kapan, kalau ada acara tanam-menanam, sebelum ditanam, kamu kasitau saya. karena kamu yang paling tau caranya.”

Komunikasi memang sangat challenging ya. Ada seninya. πŸ˜€ Well, hampir segala macam aspek memang ada seninya sih. πŸ˜€

  • soal breadwinner, pencari nafkah

Lingkungan kita umumnya masih lebih menghargai orang bekerja yang menghasilkan duit lebih banyak. Kalo pasangan lo merasa hidupnya lebih berharga dengan bisa bekerja menghasilkan uang, silakan saja. Ini akan kembali ke poin siap kompromi tadi. Bicarakan semua secara terbuka, dengan sopan tentunya. πŸ˜„

Terakhir, yang juga tak kalah penting:

  • bagaimana kondisi kesehatan mental/jiwanya?

Barangkali karena secara kasat mata memang tidak kelihatan dari luar, masalah kejiwaan ini mungkin jarang diperhatikan pasangan-pasangan yang mau nikah ya?

Seperti yang pernah saya sebut dalam postingan permainan telepon, semua orang kelihatannya memang baik dari luar. Tapi di dalam hati, jiwa dan pikirannya, hanya orang tersebutlah yang paling tau. Ganteng-ganteng atau cantik-cantik tapi psikopat kan berabe ya?

Pacar lo dan lo sendiri pastinya berasal dari latar belakang keluarga berbeda. Anak-anak yang sedari kecil tidak leluasa bercerita secara terbuka kepada orangtuanya rentan mengalami gangguan kejiwaan. Karena perasaan-perasaan yang seharusnya diluapkan, justru ditekan karena tidak adanya tempat penyaluran.

Seseorang cenderung membuka diri jika mereka yakin bahwa pikiran dan perasaan mereka tidak akan dicela atau dikecam.

Jadi masa pacaran sebelum menikah itu emang penting banget ya. Kalo emang lo dan pacar lo ada waktu buat pacaran, mending dilamain untuk saling mengenal, supaya fondasi hubungan kalian kokoh. Trus, selama pacaran ya blak-blakan ajalah. Pahit manis dikeluarin, supaya terbuka dari awal. Karena hidup pun emang bukan cuma yang manis-manis aja kan? Kadang kita jalani yang pahit, agar mampu menghargai yang manis.

**

Memutuskan menikah sebaiknya bukan karena kata orang harus nikah, karena ikut-ikutan orang lain, karena didesak keluarga, atau karena takut kesepian, dlst. Di luar sana ada begitu banyak pasangan merasa kesepian justru setelah menikah. Jadi menikah bukanlah jaminan agar tak kesepian.

Menikah karena pengen punya anak? Lo bisa punya anak tanpa menikah. Salah satunya dengan mengadopsi anak-anak tak beribu-bapa.

Menikahlah karena lo ingin menikah, dan karena lo ingin menghabiskan sisa hidupmu bersama pasanganmu.

Kalo lo cuma ingin ada seseorang masak untukmu, nyuci kainmu, bersihin rumahmu, dlst; barangkali bukan istri atau suami yang kalian butuh, melainkan asisten rumah tangga, koki, atau tukang bersih-bersih rumah.

And remember, pasanganmu itu bukan superman atau wonder woman yang punya kekuatan super untuk menyelesaikan semua masalahmu. Bahkan superman aja punya kelemahan sama batu kripton. Jika ada masalah yang tak dapat diselesaikan berdua, cari bantuan profesional atau orang lain yang mumpuni dan bisa dipercaya.

 

 

 

Joglo Mandapa, untuk Ketenangan Jiwa di Jogja

Saking kerennya tempat ini, sebenernya enggak pengen ditulis di sini sih, biar enggak hip. πŸ˜†πŸ˜† Cuma.. yang menentukan apakah satu tempat akan menjadi hip atau tidak kan bukan saya yah? Melainkan algoritma om gugel yekan? 😁😁 (bercanda woy) πŸ˜πŸ˜πŸ˜…πŸ˜…

Tapi gara-gara kemarin di twitter ada yang nanya rekomendasi kafe di Jogja dengan kriteria: yang suasananya tenang untuk kerja, wifi nyala dan bekerja baik, ada makan minum gak cuma kopi, harga masuk akal (sebanding sama ambience dan rasa makanan/minuman); saya gak tega menyimpan informasi tempat ini hanya buatku seorang. XD (iyes, daku orangnya gak tegaan. apalagi kalo menyangkut makanan enak. 😁😁) ya udah akhirnya saya kasitau aja bahwa hotel Joglo Mandapa ini Cengkeh Restonya rekomended banget. Manatau cocok buat dia. Sharing is caring kan? πŸ˜‰

Jadi kami enggak sengaja nemu tempat ini pas browsing-browsing nyari penginapan di Jogja dengan kriteria:

β€’ Yang bikin kantong senyum meriah a.k.a enggak bikin bolong dan masih cukup buat ongkos pulang ke Kalimantan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

β€’ Mesti ada joglo-joglonya. Karna koq rasanya gimana gitu ya.. pergi ke Jogja tapi nginepnya di hotel berdesain minimalis kekinian koq kayaknya kurang nendang aja. Apalagi Jogja masih kental dengan wisata budayanya kan? Jadi ya tema liburannya biar merasakan tinggal di bangunan khas Jogja lah. Macam gitu kira-kira. 😁😁

Dari pusat atraksi utama (well, buat saya patokannya Malioboro) ke hotel ini sekitaran 15-20 menit dengan jalanan lancar. Emang sengaja nyarinya enggak di pusat kota karena sehari-hari udah di pusat kota. Ya masa liburan di pusat kota juga? Apa bedanya? Mending di rumah aja gak usah liburan. 😁😁 Jadi kami pengen menyepilah judulnya. Mencari ketenangan, menjauh dari kebisingan. (udah kayak judul buku enggak sih ini?) πŸ˜†πŸ˜†

Tempatnya menjawab semua kebutuhan kami. Look at the bedroom. Interiornya minimalis. Enggak banyak cengkunek kalo kata anak Medan. 😁😁

Lobi hotelnya yang mungkin β€˜Jogja banget’ itu pagi-pagi udah bermandikan cahaya matahari bikin saya betah baca buku.

Makanannya, alamak! For me, another best part of this hotel was their awesome food. Siap-siap ngiler liat penampakannya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Selama di sini sarapannya enak bergizi. Dan yes, saya perbaikan gizi selama nginap di sini. Pagi-pagi selalu dikasih susu sama buah, gimana enggak makin sehat saya pulang ke Kalimantan? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Meski letaknya agak jauh dari mana-mana, Resto Cengkeh-nya siap bikinin kita minuman atau makanan dari pagi sampe jam sepuluh malem.

Satu hari, gara-gara sakit, saya terpaksa tinggal di hotel seharian. Karena perut saya udah nangis-nangis minta diisi, saya pun turun ke restonya buat makan siang. It was Christmas. Tamu-tamu lain pada jalan keluar, jadi saya sendirian aja di restonya yang didekor dengan anggun itu.

So i ordered ikan acar kuning dan manuk nom. Simply becoz kedua menu inilah yang di-highlight di baliho raksasa Cengkeh Resto yang digantung di parkiran hotel.

Rasanya?Β Wow!Β Petjah di mulut!Β Potongan kunyit segar terasa menyatu dengan ikan dan bumbu-bumbu lain.

Manuk nomnya?

Dominan oleh rasa tape ketan yang manis asam segar, dikunyah bersama melinjo. Unik!

Menurut chef-nya, manuk nom artinya burung muda. Kelihatan sayap burungnya kan dalam foto di atas? πŸ™‚ Itu tuh, melinjo dua biji nancep di kiri kanan. πŸ™‚ Kepala burungnya yang warna merah nyempil itu. Trus yang warna ijo nyempil dikit di kepala, itu paruhnya. πŸ™‚

Satu lagi yang bikin kami merasa sangat beruntung nginap di sini adalah, kami bisa mendengar permainan gamelan. Yes, gamelan!

Ternyata Joglo Mandapa rutin memainkan gamelan dua kali seminggu. Dan kebetulan kami nginap di hari-hari mereka memainkannya. πŸ™‚ Ah, what a blessing huh? πŸ™‚

Ning nang ning nong

Ning nang ning nong

Ning nang ning nong

Ning nang ning…. goooong

😁

Alunannya…. bikin jiwa adem….

 

Pokoknya kalo pengen merasakan Jogjakarta yang sebenarnya, nginap di Joglo Mandapa aja. πŸ˜‰

 

 

 

 

 

Buku Bagus dari Almira Bastari: Resign

Dua malam yang lalu, niat saya cuma pengen baca buku buat pengantar tidur karna saya emang udah ngantuk banget. Cara ini seringkali jitu membikin saya makin cepat menutup mata.

Maka sambil duduk bersandar di kepala tempat tidur, saya pun membuka lembar demi lembar buku Resign yang ditulis Almira Bastari dan mulai berkelana di dunia Alranita, Carlo, Karen, Andre, serta… bos mereka bujang lapuk arogan tapi ganteng banget kek bintang film: Pak Tigran.

Saya lupa gimana awalnya buku ini masuk radar saya. Yang pasti, tahu-tahu udah nangkring aja tuh di rak buku. 😁😁😁

Nah setelah dibaca, bukannya makin ngantuk, saya malah makin melek hingga sekitar jam setengah dua belas malam sejak dari jam setengah sepuluh. Akhirnya karena mesti istirahat berhubung mesti bangun pagi banget, saya terpaksa menyisihkan buku bersampul kuning ini. Kalo enggak, bisa-bisa saya tamatkan malam itu juga! 😁😁😁

Belum pernah ada buku yang bikin saya malah melek akibat kantuk luar biasa. So yes, this book is an exception. Eh, ralat ding, ada satu lagi, yakni Critical Eleven-nya kak Ika Natassa yang fenomenal itu. 😁😁😁

Cara berceritanya luwes banget. Saya sebagai pembaca seakan ikut masuk dalam tiap pembicaraan para tokoh. Eh, maksud saya, dalam tiap gosip yang dilemparkan para cungpret.

Apa itu cungpret? Baca aja bukunya biar tau. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

**

Adek saya yang nomor dua, yang paling jangkung, pernah bilang, β€œFilm bagus adalah film yang bolak-balik dibicarakan setelah filmnya kelar.” Buku bagus pun saya yakin kurang lebih kek gitu juga, seperti buku yang satu ini. Bacaan berfaedah dan sangat menghibur dari awal sampai habis, yang cocok dibaca oleh kalian yang entah udah pernah (bolak-balik) resign atau masih setia jadi anak kantoran, suka humor, dan suka drama kantor tentunya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ #tobatlomes

Bukunya genre metropop, btw.

Dan tiap kali baca buku, saya suka ngecek siapa nama editornya. Karena saya yakin, buku keren itu enggak lepas dari peran editor yang sudah pasti juga keren banget yekan? 😎😎😎

Seperti buku Critical Eleven yang dieditori Rosi L Simamora, editor buku ini pun punya nama berbau Batak: Claudia Von Nasution. Apakah gara-gara nama editornya berbau Batak maka kedua buku ini jadi hip? Entahlah. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ #janganterlaluseriuswoy

Yang jelas, kalo gak menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2018, buku ini saya ramal bakalan jadi Book of The Year versi Anugerah Pembaca Indonesia. 😁😁😁😁

 

Satu hal yang menjadi kekurangan buku ini adalah….

 

 

 

 

 

 

 

kenapa harus tamat? 😁😁😁😁 #sungguhkutakrela

 

 

 

 

Kronik Curhatan

Kalian pernah gak sih, abis curhat bukannya jadi lega tapi malah makin bete gara-gara orang yang kalian curhatin bukannya ngedukung atau setidaknya ngasih ucapan yang menguatkan atau menghibur, tapi malah bikin mood kalian semakin down dan kalian makin malas menghadapi hari?

Biasanya kalo lagi curhat itu seseorang mengutarakan ketakutan, kekuatiran, kekesalan, maupun kebetean mereka. Nah, kalo orang lagi kesal dan bete lo respon dengan:

  • yaelah tong, masalah kek gitu aja lo pikirin. mending lo mikirin gimana masak kue ini biar gak bantet.
  • yaelah, baru gitu aja lo kesel. liat gue dong, kena tonjok sana-sini masih bisa eksis.
  • gue aja bisa, masak lo segitu aja gak bisa?
  • ya lo cari tau sendirilah. masa gitu aja mesti nanya gue.
  • udahlah, mending lo manfaatin waktu lo buat ngapain kek daripada ngurusin kek ginian.

tanduknya makin keluar, jek! πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ‘ΏπŸ‘ΏπŸ‘ΏπŸ‘Ώ

Yang tadinya mungkin enggak kesel-kesel amat malahan tambah kesel mendengar respon kek gitu. Kesannya seperti mengecilkan masalah yang sedang dihadapi oleh orang yang lagi curhat.

Mungkin tujuan si pendengar merespon kek di atas tadi adalah untuk membesarkan hati si oknum yang lagi curhat agar dia enggak patah arang. Tapi timing dan caranya enggak cocok, jek. Karena bagi sebagian orang, curhat adalah masalah hidup dan mati. Seperti kawan saya si Anies, yang cuma butuh didengerin, bukan nasehat atau solusi.

Tapi mungkin masalahnya adalah, sebagian orang memang enggak diberi talenta untuk ngedengerin curhatan orang ya? Atau barangkali, ada orang yang emang gak cocok kalo curhat sama si A, tapi cocok curhat sama si B. Dan ada orang yang cocok curhat sama si A, tapi enggak cocok sama B. Ya, barangkali kek gitulah.

Saya pernah beberapa kali curhat sama A, dan kami nyambung-nyambung aja tuh kalo cerita. Nah, begitu curhat sama si B, seringkali ujungnya saya malah makin bete. Tapi ada orang yang curhat sama B ini malah nyambung. Berarti emang perkara nyari tempat curhat ini pun macam perkara nyari jodoh juga kan? 😁😁😁

Sebagai penutup untuk postingan kronik curhatan ini, bolehlah ngasih masukan sedikit ya. Barangkali perlu dimasukkan pelajaran dasar komunikasi dan psikologi sejak di bangku sekolah dasar, supaya anak belajar sejak dini bagaimana memberi respon yang cocok di waktu yang tepat, serta kepada orang yang tepat. Karena sebagian besar masalah di dunia ini terjadi gara-gara amburadulnya komunikasi, dan kita tak kenal siapa kawan bicara kita.

Lalu bagi kalian yang mau curhat, sebelum curhat mungkin ada baiknya tanya dulu ke orang yang mau dicurhatin apa dia mau denger curhatan kita atau enggak. Biar enggak kecele.

**

 

 

Dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik kalau ada lebih banyak orang mau menyediakan telinganya untuk mendengarkan.

 

 

Becoming Like Jesus

Udah ribuan kali saya menggarami ikan dari mulai kecil disuruh-suruh mamak di dapurnya hingga sekarang di dapur sendiri. Setelah digarami, terbukti bahwa ikan memang tahan dibiarkan di kulkas bagian bawah (bukan di bagian freezer) selama beberapa hari sebelum diolah, tanpa membusuk. (meski begitu, paling baik memang sehabis diasamgaram langsung diolah secepatnya).

Menurut buku Becoming Like Jesus (Menjadi Serupa Yesus), yakni buku yang membahas tentang sembilan buah roh, orang kristen juga mesti hidup seperti garam yang bertujuan mencegah pembusukan dan kerusakan. Sang penulis, Christopher J. H. Wright, menempatkan pembahasan tentang β€˜garam’ ini pada bab buah roh yang keenam, yaitu kebaikan.

I must confess that menjadi kristen itu bukan jalan hidup yang gampang. Karena sebagai kristen, sesungguhnya hidup adalah penyangkalan diri, mematikan β€˜keakuan’ maupun kepentingan diri sendiri, mematikan hawa nafsu, dlst. Intinya, hidup ini bukan lagi tentang diri kita pribadi, melainkan tentang kristus. Berat, kan?

Lantas seperti apa kristus sesungguhnya? Ketika kita memberi makan orang lapar, memberi minum kepada mereka yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada mereka yang membutuhkan pakaian, merawat orang sakit, serta mengunjungi orang-orang dipenjara, maka itulah hidup untuk kristus.

Pada hakikatnya menjadi orang kristen memang harus seperti kristus. But maybe that’s impossi(n)ble karena kita makhluk berdosa. Tak ada satu pun manusia yang benar di muka bumi ini. Semua berdosa, dan dosa menghalangi kita mengenal Tuhan yang sejati, serta menghalangi kita menjalani hidup yang berkenan di mata Tuhan.

Tapi biar bagaimanapun, meski berdosa, orang kristen mesti berusaha hidup seperti kristus yang hidup untuk sesama manusia melampaui segala rintangan dan perbedaan. Buku Becoming Like Jesus mengajak kita hidup serupa kristus dengan menumbuhkan kesembilan buah roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, serta penguasaan diri.