Ciuman

Belum genap tiga jam menginjakkan kaki di negeri yang berada dalam peringkat 20 besar negara berpenduduk paling bahagia di dunia, saya telah menyaksikan lebih dari lima pasang anak manusia berciuman di sana-sini. Continue reading

Advertisements

Kawan Sebangsa

Saat mengantri mencari tempat duduk di kabin pesawat, kami menyadari bahwa hampir seluruh penumpang dari Saigon menuju Hanoi, memiliki rupa persis seperti orang Batak pada umumnya. Continue reading

Tempat Orang Kaya

Entah kenapa, dalam beberapa perjalanan yang pernah saya tempuh, melihat perkampungan orang kaya selalu ada dalam itinerary yang tentunya bukan dirancang oleh saya. πŸ˜€

Di Bandung misalnya. Ketika menyambangi kota factory outlet ini beberapa tahun lalu, saya dibawa mengelilingi komplek orang kaya yang namanya saya sudah lupa. Ukuran rumah-rumah mewah di komplek itu serupa dengan ukuran rumah-rumah mewah yang pernah saya lihat di perumahan orang kaya di Medan.

Pernah dalam satu masa, sewaktu bersekolah di Medan, setiap hari pergi dan pulang saya berjalan kaki melewati rumah-rumah mewah nan besar ini dan kadang mengaguminya karena bentuk bangunannya membuat saya takjub.

Kadang saat lewat, terdengar denting piano yang dimainkan dengan apik. Saya pun berlambat-lambat agar bisa menikmati konser musik klasik gratis di pagi hari. Kadang terdengar suara anjing menggonggong. Kadang terlihat mobil-mobil mewah keluar masuk.

Semua pengalaman ini kadang membuat sayaΒ bertanya-tanya orang-orang seperti apa yang tinggal di situ? Apa pekerjaan mereka hingga bisa membangun rumah sebesar itu? Bahagiakah mereka tinggal di situ? Apakah anak-anaknya bersekolah di sekolah negeri macam saya atau disekolahkan ke luar negeri?

Pada zaman itu, saya pernah bermimpi. Kalaulah orangtua (ortu) saya punya rumah mewah sebesar itu dan duitnya gak habis-habis, saya akan meminta mereka untuk menyekolahkan saya di luar negeri hingga ke jenjang tertinggi, daripada duitnya dipakai untuk berhedon ria.

Dan daripada ortu menimbun harta, saya akan meminta mereka untuk menyumbangkan hartanya ke orang-orang yang membutuhkan. Toh kalau mati, tak secuil pun dari harta itu akan dibawa ke liang lahat yang (biasanya) cuma sebesar 1×2 meter itu, kan?

Okelah mungkin Anda akan minta dikubur dengan beberapa koleksi liontin zamrudmu atau koleksi batu akikmu. Tapi yakinlah, tak sampai beberapa jam, pencuri akan segera membongkar makammu dan mengambil batu koleksimu yang Anda pun sudah tak tahu menahu lagi keberadaannya karena Anda sekarang sudah dalam bentuk jasad dan sebentar lagi kembali menjadi debu tanah. Ya, debu tanah. Dari situlah Anda dan saya berasal.

Tapi menurut teman saya, biasanya para asisten rumah tangga alias pembantu lah yang menempati rumah-rumah mewah itu. Sedang para pemilik bermukim di Singapura atau di luar negeri sana. Rumah-rumah mewah itu hanyalah satu dari beberapa properti si pemilik, yang dijadikan jaminan untuk meminjam uang di bank, untuk memodali bisnis orang-orang kaya tersebut. Entah darimana kawan saya mengetahui itu. Mungkin ortunya jurnalis….

Nah, kalau di Christchurch, Selandia Baru, tempat orang kaya ini berada di perbukitan Cashmere Hills, dengan ukuran rumah yang tak sebesar rumah orang kaya di Bandung dan Medan. Tapi lokasinya memang juara. Dari atas situ, Anda bisa memandang Christchurch sampai puas.

Christchurch from Cashmere Hills

Agak berbeda dengan Bandung, Medan, ataupun Christchurch yang memilih tempat agak tinggi untuk mendirikan perkampungan orang kaya, di Saigon atau Ho Chi Minh City, saya tak melihat satu rumah pun dibangun segede-gede gambreng ketika kami tiba di lokasi orang kaya.

Saya pun bingung. Mana rumah orang kayanya? Tanya saya ke Nona Kaki Indah yang menemani kami sore itu. Ternyata orang-orang kaya di sana tinggal di apartemen di dalam gedung-gedung bertingkat yang memang tersebar di tempat itu…

Ah, benarlah adagium klasik yang berkata, “lain lubuk lain ikan”, lain ladang lain pula tempat orang kaya-nya…

danau orang kaya di saigon

Sebelum mengakhiri sesi keliling, kami pun berfotoria dengan latar danau mini yang saya sebut sebagai ‘danau orang kaya’… Siapa tau sehabis jeprat-jepret, saya kecipratan rezeki orang-orang kaya ini hingga bisa membangun rumah impian seperti yang pernah saya lihat di Selandia Baru sana…

Cenderung kecil memang. Saking kecilnya, pencuri pun mungkin malas melirik rumah tersebut. Tapi justru itulah yang membuatnya menarik. Malam hari saya bisa tidur nyenyak tanpa kuatir maling akan membobol, sekaligus tak perlu repot hingga punya tiga asisten rumah tangga untuk membersihkannya dari depan hingga belakang….Β #eaaaaa#

*mes, mes bangun mes. iler lo udah kemana-mana tuh. lap dulu gih*

 

 

Pemandu Anda Hari Ini

Pagi yang dingin di Hanoi tak membuatnya pelit mengumbar senyum ketika menyambut kami di lobby penginapan. Sambil menyalami kami, dia memperkenalkan dirinya sebagai Jerry, “Pemandu Anda hari ini.”

jerry the happy guide

Selain ramah, pintar pula mengambil hati. Dia mendapatkan perhatian saya di tempat perhentian pertama kami hari itu, sebuah kafe apung berbentuk kapal di, sebut saja namanya, Danau Kura-Kura.

“Aku suka rambutmu” katanya tiba-tiba kepada saya yang mengekor di belakangnya saat menuruni tangga kafe. Terkejut dapat pujian pagi-pagi, saya pun refleks mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa saya juga menyukai rambut pendeknya yang ala pixie cut itu.

Darinya pula saya mengenal istilah happy room yang tak lain tak bukan adalah sebutan lain untuk toilet! Dasar, Jerry! Tapi emang bener, kan? Begitu tiba di toilet, kita semua pasti pada lega dan happy karena bisa buang hajat yang sedari tadi sudah ditahan-tahan dalam celana, betul? πŸ˜€

Jangan terkecoh dengan tubuhnya yang bertinggi semekot (semeter kotor) itu. Meski mungil, terdapat semangat membara untuk menyenangkan dan melindungi para tamu. Tengok saja salah satu aksi beraninya yang tak ragu menghalau musuh, eh, maksud saya pengunjung lain, yang mengganggu sesi foto kami di depan mausoleum Uncle Ho, pemimpin kebanggaan mereka.

mausoleum uncle ho

“Woy!” teriaknya sambil membuat gerakan tangan untuk menyuruh orang-orang itu bergeser dari tempat kami berdiri.

Dan sepertinya tak ada basa-basi dalam kamusnya. Sikapnya yang ini dia praktekkan kepada anggota keluarga saya yang tiba-tiba pengen ke happy room lagi, ketika kami sudah hendak berangkat menuju situs lain.

“Lima menit,” kata Jerry.

“Kalau lewat, Anda saya tinggal!” katanya lagi, tegas. Hahahaa…

Karena beberapa polah tingkahnya itu, keluarga saya dengan bercanda mengatakan bahwa si Jerry merupakan KW2-nya saya. Alamak! Tapi ada benernya juga, sih. Belakangan saya jadi berpikir kalau Jerry adalah kembaran saya yang lahir di Vietnam. Cuma bedanya, dia beberapa tahun lebih muda dari saya. Hahahaaaa…..

Malamnya, saat pergantian tahun, ia kami kejutkan dengan sekotak kue pemberian kami. Kebetulan ia pun berulang tahun hari itu. Jadilah wajah mungilnya itu sumringah tak henti-henti.

“Aku tak mau membuka kuenya di sini. Nanti saja kalau sudah tiba di rumah barulah kubuka,” katanya sambil menjepret kotak kue beberapa kali dengan senyum yang masih tersungging di bibir.

Nah, malam itu juga kami memiliki agenda untuk merayakan pergantian tahun di alun-alun bersama lautan manusia, plus mendengar house music yang jedang-jedung membikin mumet kepala. Entah di mana letak nikmatnya.

Jangan salah sangka, saya senang mendengar musik yang berirama cepat seperti Don’t You Worry Child-nya Swedish House Mafia, misalnya. Tapi musik yang kami dengar malam itu, hentakannya aneh. Mana pula ditambah volume yang super kencang, makin tak ada nikmatnya saya rasa.

lautan manusia di malam pergantian tahun baru di Hanoi

Saat itulah, air muka saya, yang sudah saya atur sedemikian rupa agar tak terbaca oleh siapapun (pakai poker face lahΒ ceritanya), bisa dibaca si Jerry. Entah bagaimana, mungkin yang dilihat si Jerry bukan poker face, melainkan boker face. πŸ˜€ Emang gak bakat jadi pemain sandiwara. Wajah saya tak bisa bohong. πŸ˜€

“Are you okay?” tanya Jerry sopan dengan mimik kuatir.

“I’m okay,” jawab saya pendek, setengah terkejut karena dia bisa membaca wajah saya di jalanan yang minim penerangan.

Untunglah tak berapa lama kemudian kami kembali ke penginapan untuk mengadakan ibadah pergantian tahun. Lupakan kembang api, lupakan musik ajeb-ajeb. Tak ada yang lebih syahdu dari membuka tahun dengan berkumpul bersama keluarga, saling bermaafan meskipun sambil menahan kantuk, serta menikmati kue cokelat yang sudah lumer gara-gara kami lupa menyimpannya di lemari pendingin. πŸ˜€

Oh, iya, Jerry itu perempuan. Dan dalam perjalanan pulang ke penginapan, tepat pukul 00:00, lagu Happy New Year-nya ABBA diputar di seluruh kota termasuk di saluran radio yang kami dengar di dalam van.

Jerry dengan antusias menjelaskan bahwa lagu tersebut sudah diputar sejak zaman tahun jebot (pokoknya udah lama banget), di setiap pergantian tahun. Dalam hati saya bertanya-tanya, mengapa gerangan Vietnam menjatuhkan pilihannya ke lagu yang bernada sendu itu sebagai lagu penutup dan pembuka tahun? Mungkin karena liriknya, kali, ya? Well, entah apa pun alasannya, yang jelas Jerry nampak amat bahagia ketika bernyanyi. Dan akhirnya kami semua pun ikut menyanyikan lagu tersebut di sepanjang jalan menuju penginapan…

 

Happy New Year, Happy New Year

May we all have a vision now and then

Of a world where every neighbor is a friend

Malaka Genting, Sebuah Perjalanan

Kalau Anda sudah pernah pergi ke satu tempat, maka di kali kedua kunjungan, barangkali kejutannya pudar. Apalagi kalau sudah pernah melihat Macau yang berada di Tiongkok sana, bisa jadi Malaka dan Genting yang di Asia Tenggara ini, akan terhempas seolah tak ada apa-apanya.

Bukan maksud saya membandingkan, karena saya yakin, tiap tempat memiliki keunikan yang tak dimiliki oleh tempat lain. Tapi bisa jadi karena saking uniknya Macau, gambaran tentangnya begitu melekat di benak saya dan tak bisa dihapus begitu saja dari bank memori saya.

Maka untuk menghindari pudarnya kejutan atau hambarnya perjalanan, jika ada kemungkinan Anda akan pergi traveling ke satu tempat yang memiliki kesamaan dengan tempat lain yang pernah didatangi, mungkin memori Anda perlu direset.

Memangnya apa kesamaan Genting, Malaka dan Macau? Sama-sama kota tua peninggalan kolonial dan sama-sama kota #ehem# judi…

bangunan-merah-Malaka.jpg.jpeg

Untungnya, perjalanan pergi dan pulang ke dua tempat ini nggak bikin bete. Mengingatkan saya bahwa seringkali yang bikin menarik dari traveling adalah perjalanan itu sendiri, bukan destinasinya.

Setelah mengira-ngira antara harga jalan sendiri dan harga ikut tur, kami putuskanlah pergi ke Malaka dengan jalan sendiri dari Kuala Lumpur. Agak-agak nggak rela juga kami merogoh kocek sekitar 200 USD, untuk perjalanan pergi pulang (pp) dua orang.

Padahal dengan jalan sendiri, total biaya yang kami keluarkan, udah plus-plus semuanya, plus beli payung di Malaka karena hujan (payungku kutinggal di Balikpapan, karena kepedean gak bakalan diguyur hujan selama bertualang hahahaa), plus mengisi perut yang udah keroncongan sebanyak 3x (sarapan di terminal bis, makan siang di resto bernuansa Tiongkok di Malaka, dan makan malam di terminal Melaka Sentral), ‘hanya’-lah sekitar seperempat dari biaya perjalanan ikut tur.

makan.jpeg

Tapi dengan harga 200 USD, Anda memang tinggal tahu beres. Nggak perlu repot browsing sana sini pakai henpon yang layarnya kecil ajubile πŸ˜› , nggak perlu pergi pagi-pagi naik kereta ke terminal bis, nggak perlu basah kena guyuran hujan saat berjalan kaki menjajal kota tua Malaka, dan nggak perlu pergi ke kantor tourist information centre hanya untuk bertanya di mana letak toilet yang memadai untuk buang hajat. πŸ˜›

Tapi ya itu, rasanya kurang seru aja karena semuanya semacam tanpa perjuangan. πŸ˜› Kecuali nyari duitnya supaya Anda bisa traveling, ya itu emang perjuangan dong, kan? Nyangkul dari pagi buta sampe tengah malem. πŸ˜› Halah, ini lagi cerita jalan-jalan koq malah bahas nyangkul. πŸ˜› Okelah, mari kita lanjut.

Trus kami pun agak-agak kepedean juga nggak bawa buku panduan traveling yang ditulis oleh mbak @tesyasblog dan Olenka, yang di dalamnya memuat tentang panduan traveling ke Malaysia. Soale nggak kepikiran mau ke Genting dan Malaka, kakak. Dan kalaupun jadi, kami berniat mau bikin petualangan ala kami sendiri, tidak berpatokan pada buku-buku panduan.

Tapi ya nggak mungkin juga jalan ke sana tanpa melihat atau membaca pengalaman perjalanan orang lain yang sudah pernah ke sana, kan? Maka berbekal wifi gretongan tempat kami menginap (yang walaupun cewek-cewek tetangga sebelah sempat berantem, tapi wifi-nya kenceng), kami pun browsing gimana caranya pergi ke Malaka dan Genting dengan kendaraan umum.

Kalau bisa, cara ini jangan ditiru ya, sodara-sodara. Merencanakan perjalanan itu lebih baik dari jauh hari supaya efektif. Jangan heboh di menit-menit terakhir. Eh tapi, kalau bukan gara-gara menit-menit terakhir, nggak ada juga yang mau kuceritain di blog cupuku ini, kan? Hahahhaaa…

Berangkat pagi jam tujuh kurang dengan monorel, maka sampailah kami di Terminal Bersepadu Selatan (TBS) yang keren banget itu. Saking kerennya, berkali-kali saya ter-wow-wow di sini. Ada banyak konter penjualan tiket bis antar kota antar negara bagian dengan harga bersaing. Sehingga calon penumpang tak perlu berdesak-desakan macam di terminal terpadu Amplas di Medan sana. Bisnya pun pakai seat yang bisa kita pilih pas beli tiket di konter.

terminal bersepadu selatan.jpg

Ada foodcourt, minimarket, ruang tunggu yang nyaman, bersih pula, petugasnya pun ramah menjawab berbagai pertanyaan kita seperti misalnya: jam berapa bis terakhir dari Malaka, ruang tunggu keberangkatan di mana, tempat makan minum di mana, smoking area di mana, dlst. Keren banget! Pokoknya serasa kayak di airport, deh! Cuma bedanya, setelah berada di dalam bis, kita tak perlu mematikan henpon serta alat elektronik lainnya, karena nggak bakalan mempengaruhi sistem navigasi. Hahaha. πŸ˜€

Perjalanan sekitar dua jam ke Malaka pun jauh dari membosankan karena bisnya memutar film komedi jadul karya sineas terkenal Malaysia, P. Ramlee. Bercerita tentang lika-liku hidup dua pria asisten rumah tangga yang tinggal bersama di rumah tuannya, seorang pria pengusaha tekstil yang ditinggal mati istrinya.

Filmnya kocak abis. Saya ingat, seorang penumpang paruh baya di kursi sebelah pun sering tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan adegan demi adegan dalam film berformat hitam putih itu. Kalo nggak salah judulnya ‘Nasib si Labu Labi’. Sayang saya nggak tau endingnya kayak apa. Soale bisnya udah keburu nyampe di terminal bis Malaka.

Bagi Anda para perokok, bersiap-siaplah. Kemungkinan besar Anda akan menderita di Malaka. Karena kota warisan dunia ini telah menjadi kota bebas asap rokok sejak tahun 2011.

Untuk menyiasatinya, siapa tahu Anda udah kecanduan berat, gunakan insting untuk mencari warung makan minum yang membolehkan pengunjung merokok di dalam. Belilah secangkir kopi atau semangkuk mie-nya sebagai imbalan.

no-smoking.jpg.jpeg

Perjalanan ke Genting sendiri mengingatkan saya pada perjalanan ke Berastagi di Sumatera Utara sana. Jalan berliku yang naik, naik dan naik. Makin ke atas, makin pekat pula kabutnya. Turunnya hujan membuat suasana bertambah dingin.

Pokoknya kalau Anda pengen tau gimana rasanya naik cable car dan pengen tau gimana rasanya bermain statistika plus tebak-tebakan (kalau tak mau dibilang berjudi πŸ˜› ), di ketinggian sekitar 1.7 km dari permukaan laut, pergilah ke sini.

Kami sempat mencoba peruntungan di sini dan… kalah. Mungkin kalau menang, bisa-bisa kami malah tak pulang. πŸ˜› Di beberapa meja permainan tebak kartu terdengar sorak-sorai penonton maupun pemain. Ternyata ada beberapa pemain yang menang. Senang rasanya kalau bisa mengalahkan bandar. πŸ˜›

Dari pengamatan saya, sepertinya masa keemasan Genting sudah lewat. Makanya cukuplah buat saya satu kali ke sini. Kecuali ada yang mau bayarin 1M, bolehlah saya pertimbangkan. πŸ˜› #dasar matre#

Sedikit tips dari saya: untuk menghindari tak dapat tiket pulang naik bis dari Genting, sebaiknya belilah tiket pp dari KL Sentral. Pengalaman kami kemarin (karena belum berpengalaman dan yakin bahwa tiket pulang selalu tersedia), kami tak beli tiket bis pp Genting-KL Sentral. Maka berhubung seat yang tersedia hanya tinggal ke terminal Pudu Sentral, mau tak mau kami beli. Karena kami tak berencana menginap. Kalau kehabisan, mungkin Anda akan menginap di Genting atau naik taksi dengan harga borongan.

Tapi kalau dipikir lagi, justru itulah esensi dari traveling atau jalan-jalan. Pengalaman. Mengalami yang tak pernah dialami, melihat yang tak pernah dilihat. Sukur-sukur, seiring bertambahnya pengalaman itu, bisa makin dewasa menyikapi segala perbedaan antar umat manusia di muka bumi ini. Dan ketika segala sesuatu berjalan tak selancar yang kami mau, kami jadi tahu gimana bentuknya terminal Pudu Sentral. Konon, TBS dibangun karena kapasitas terminal Pudu Sentral ini sudah tak memungkinkan lagi menampung jumlah penumpang yang meningkat dari tahun ke tahun.

Roti Canai Satu Ringgit

“Menurutmu, enak nggak, roti canainya?” tanya suami kepada saya suatu pagi saat kami melihat seorang juru masak keturunan India, sedang memasak roti canai di pujasera dekat penginapan.

“Enak,” tebak saya. Melihat royalnya mentega yang dibalurkan pada tiap helai adonan, oleh juru masak yang ternyata bernama Raja itu, saya yakin rasanya enak. Apa, sih, yang nggak enak kalau ditabur mentega?

ROTI CANAI SATU RINGGIT

Suami pun mencobanya seporsi. Rasanya beneran enak. Persis seperti tebakan saya. Saya sendiri belum berminat untuk mencobanya sebagai sarapan pagi itu. Ketika tiba saatnya membayar tagihan, saya mendekati Raja yang kini sedang memasak mi goreng pesanan pengunjung di meja sebelah kami, dan bertanya berapa harga yang harus saya bayar.

“Satu ringgit,” jawab Raja yang juga smiling face itu sambil bergeleng. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata arti dari gelengan kepalanya saat itu adalah bahwa dia menunjukkan rasa hormatnya kepada lawan bicara. Wow… Saya pikir selama ini orang India asal bergeleng, ternyata tidak! Tiap gelengan memiliki arti berbeda. πŸ˜€

Tak mengharapkan jawaban seperti itu, nyaris saya tersedak dan nyaris mata saya melotot. Sambil tetap tenang dan mencoba memasang wajah ‘senyam-senyum’ ala politisi-politisi kawakan (seperti yang sering saya lihat di televisi, saat diwawancarai ketika karir perpolitikan mereka diterjang badai), saya merogoh kantong untuk mengambil selembar ringgit berwarna biru. Padahal saya sedang tidak diterjang badai. Hanya saja, saya tak percaya ketika mengetahui jumlah harganya.

Saya tak ingat kapan terakhir kalinya membayar makanan yang dihidangkan dalam pinggan, cukup ‘hanya’ sebesar (dengan kurs saat itu), tiga ribu enam ratus rupiah. Sepertinya sudah lama sekali hingga membuat saya nyaris tersedak. Di Balikpapan sendiri, harga segitu ‘hanya’ bisa mendapatkan sepotong tahu fantasi.

Dua hari kemudian barulah saya berminat mencobanya. Rasanya memang sama sekali tak mengecewakan. Ditambah dengan kuah kari yang menurut saya cukup sebagai bahan bakar bagi tubuh saya, yang bertinggi 163 cm dan berbobot 58 kg ini, untuk berjalan kaki selama empat jam, di mana lagi bisa mendapatkan makanan semurah itu? Beruntunglah Anda yang di Kuala Lumpur sana!

Masih adakah harga sepiring makanan di bawah empat ribu rupiah di tempat tinggalmu, kawans? Kalau ada, ajak-ajak saya dong buat nyicipin. πŸ˜€

 

 

Sendiri ke Wonogiri

Di sinilah saya. Dalam kereta Argo Dwipangga di stasiun Gambir, Jakarta Pusat, yang sebentar lagi akan berangkat menuju Solo Balapan, memenuhi undangan teman saya untuk berlibur di kampung halamannya Wonogiri, Jawa Tengah. Tadinya seorang teman saya yang lain ingin ikut. Namun di menit-menit terakhir ia membatalkan. Ada urusan dengan calon mertua katanya. Tadinya pun saya pikir teman saya si Tuan Rumah akan datang ke Jakarta, sehingga bersama-sama kami akan berangkat ke Wonogiri. Ternyata tidak.

“Aku akan memandumu lewat sms,” katanya dalam pesan pendek yang ia kirim beberapa hari yang lalu. Great. Saya akan bepergian seorang diri ke daerah yang sama sekali belum pernah saya datangi. Wajib banyak berdoa, nih.Β Batin saya.

Untuk menghemat ongkos, sesuai panduan teman saya si Tuan Rumah, mestinya saya berangkat naik bis kemarin sore. Tapi begitu tiba di terminal Kampung Rambutan, bis tujuan Wonogiri sudah berangkat. Tidak jelas entah kapan bis selanjutnya akan berangkat, saya pun putar haluan ke Gambir. Berhubung hari sudah malam, saya putuskan menginap di kediaman seorang teman tak jauh dari stasiun kereta Gambir.

Bersama ransel hitam bulukan yang selalu setia menemani bertualang, keesokan harinya pagi-pagi sekali, saya bertolak ke stasiun kereta. Suasana agak lengang ketika saya tiba di sana. Namun di depan loket penjualan tiket, telah mengantri beberapa calon penumpang. Dalam hati saya memohon kepada Tuhan agar kedatangan saya tak sia-sia. Anda tahu sendirilah, menjelang akhir tahun atau hari-hari besar seperti Idul Fitri atau Natal, agak sulit mendapatkan tiket jika tidak dibeli dari jauh hari.

Hampir tiba giliran saya dilayani petugas, seorang calon penumpang yang tak sabaran, memotong antrian dari sisi kanan agar ia dilayani terlebih dahulu. Inilah penyakit kronis bangsa kita yang sampai sekarang belum juga sembuh. Tentu saya tidak terima. Bagaimana jika tujuan perjalanan kami sama-sama ke Solo Balapan, dan tiket hanya tersedia untuk satu orang? Apa saya mau berbagi tempat duduk dengannya atau duduk di pangkuannya? Atau apa saya rela menunggu satu hari lagi ke Wonogiri? Tentu tidak. Memikirkan kemungkinannya seperti itu, tanpa basa-basi saya langsung berkata, “Ke Solo Balapan, satu orang, mas!”

Permohonan saya dijawab. Tiket ke Solo Balapan masih tersedia. Wonogiri pun segera terbayang di pelupuk mata. Selama beberapa jam berikutnya, saya menghabiskan waktu dengan mengabadikan momen-momen menarik seperti indahnya sawah dan bebukitan hijau di bawah langit biru, pria yang tampak amat serius mengamati henponnya di belakang jendela kaca yang retak, remaja-remaja tanggung di gerbong E37, nama-nama stasiun yang menjadi tempat perhentian sesaat sebelum kereta kembali melesat menuju stasiun berikutnya, dan yang membuat saya bertanya-tanya apakah suatu hari nanti saya bisa kembali mengunjungi mereka. Walaupun mungkin saya tak pernah kembali lagi, yang jelas saya telah menorehkan jejak di sana, meski hanya berupa persinggahan sesaat di stasiun keretanya. πŸ˜€

 

Sore sekitar jam empat, kereta tiba di Solo Balapan. “Dari stasiun, pergilah ke terminal bis dengan salah satu becak yang berseliweran di situ,” instruksi teman saya lengkap dengan info ongkos becak yang biasa ia bayarkan dari stasiun ke terminal. Setelah memilih becak dengan raut wajah abang becak yang ramah dan nampaknya bisa dipercaya, saya pun diantar ke terminal bis antar kota yang dimaksud teman saya si Tuan Rumah. Saat membayar ongkos becak, saya terkesima dengan cara si abang yang membuka kedua telapak tangannya saat menerima uang yang saya serahkan. Sopan sekali…

Usai berterima kasih, saya melanjutkan petualangan mencari bis yang bermuara di salah satu tempat di Jawa Timur seperti yang diinstruksikan teman saya Nona Wonogiri itu. Setelah ketemu, ternyata bisnya berangkat tak lama lagi. Ah, syukurlah saya tak perlu menunggu lama.

Kemudian teman saya memberitahu satu nama perempatan di mana saya harus turun. “Jangan lupa kamu bilangin ke kernetnya. Kalau nggak, bisa-bisa kamu nyasar sampai Jawa Timur,” pesannya.

Hari sudah mulai gelap ketika bis menurunkan saya di perempatan yang menjadi tujuan akhir petualangan saya hari itu. Setelah menemukan posisi berdiri yang aman di dekat warung, saya pun langsung menghubungi teman saya si Nona Wonogiri, memberitahu bahwa saya sudah tiba dengan selamat di kampungnya. Tak lama, seorang perempuan cantik berambut pendek berkulit sawo matang datang bersama motornya.

Ia memekikkan nama kecil saya. “Akhirnya kamu nyampe juga di kampungku!” sambutnya bersemangat. Kami berpelukan. Terbayar sudah perjalanan panjang yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Selagi berada di boncengan, saat motor kami melewati rumah-rumah penduduk yang bentuknya sederhana, saya bertanya-tanya, petualangan macam apa yang akan diberikan daerah yang secara harfiah berarti ‘hutan di pegunungan’ ini kepada saya. Tapi itu besok. Sekarang saya hanya ingin beristirahat dan bertemu keluarga besar teman saya itu.

 

 

Ngebioskop di Negeri Seberang

Adalah usul suami saya. Alasannya, supaya tahu kayak apa rasanya nonton film di bioskop negeri tetangga Indonesia ini, dan juga supaya tahu kayak apa gaya orang Malaysia pas nonton film di bioskopnya. Tapi saya tidak begitu setuju dengan usul beliau.

Alasan saya, masak jauh-jauh ke Malaysia, ujung-ujungnya nonton film juga? πŸ˜€ Tapi demi menyenangkan suami, saya akhirnya nurut saja. πŸ˜€ Karena ada pepatah yang mengatakan: jika suami senang, istri pun tenang. Pepatah siapakah itu? Cari saja di gugel, ya? πŸ˜€

Maka menontonlah kami di Golden Screen Cinemas. Semacam Cinema21 kalau di Indonesia. Film pilihan kami hari itu adalah: The Hobbit bla bla bla bla….. Bukan jenis film kesukaan saya. Makanya saya nggak ingat judulnya. πŸ˜€

Bioskopnya penuh, dan pendingin ruangannya rasanya lebih dingin dari bioskop di Balikpapan. Mungkin karena penontonnya ramai makanya sengaja dibikin dingin banget. Brrrr….

Kami duduk di kursi penonton yang paling buncit, paling dekat dengan layar. Bukan tempat duduk favorit saya, melainkan favorit suami. Soale tinggal kursi di bagian situlah yang tersedia. Dari situ, saya pun tahu, kemungkinan besar saya akan menderita di sepanjang film.

Lantas bagaimana gaya penduduk negeri jiran di kala nonton? Ya sama saja kayak kita. Duduk dengan manis, ada yang bawa berondong asin, berondong karamel, berondong manis, dan berondong-berondong lainnya.

Belum sampai tiga puluh menit film diputar, saya kebelet pipis saking dinginnya. Saya pun berbisik ke suami untuk memberitahu bahwa saya akan pergi sebentar ke toilet. Setelah itu saya keluar dari ruangan, meninggalkan suami, dan tak kembali lagi. Tak kembali lagi untuk menemani nonton maksudnya. πŸ˜€ Jadi doi nonton sendirian hingga filmnya selesai. πŸ˜€

Habis mau bagaimana lagi? Percayalah, saya sudah mencoba memejamkan mata supaya tidur, seperti yang biasanya saya lakukan saat menonton film-film yang bukan favorit saya. Tapi tak bisa. Dan belakangan ini bertambah parah. Bisa jadi gara-gara faktor “U”. Utang. Halah! Bukan utang pemirsa, tapi usia. Halah!

Tapi saya serius, mata mungkin sudah menutup, tapi telinga saya bisa mendengar semuanya dan akhirnya stres. Untuk saya, menonton film haruslah yang bisa menghibur mata, hati serta telinga. Kalau filmnya malah membuat ketiga unsur tadi menjadi sebaliknya, dan saya tetap bertahan menontonnya sampai selesai, itu artinya saya cari penyakit!

Dan saya tahu, meninggalkan suami nonton sendirian itu kurang baik. Gimana ntar kalo ada yang nyolek doi? Ya colek balik aja, kali. Cuma nyolek, kan? πŸ˜€ πŸ˜€

Saya berharap film si Hobbit kemarin itu adalah yang terakhir kalinya saya meninggalkan suami nonton sendiri di bioskop. Tapi ternyata tidak. Beberapa minggu lalu, awalnya lagi-lagi karena kebelet pipis, lagi-lagi saya pergi meninggalkan suami nonton Unbroken (yang diangkat dari buku berjudul sama, karya Laura Hillenbrand, yang mengisahkan tentang perjalanan hidup Louis Zamperini), sendirian sampai habis, karena saya tak tahan menyaksikan adegan kekejaman militer Jepang terhadap tawanan-tawanan perangnya.

Ah, nggak usah jauh-jauhlah, kemarin (iya, kemarin), saya pun membiarkan suami nonton sendirian film Kidnapping Mr. Heineken. Judulnya saja sudah bikin saya stres pakai embel-embel “kidnapping”…… Tapi menurut suami filmnya bagus dan nggak ada adegan dar der dor yang membuat saya ngeri itu… Hmmm….

 

 

Featured image source: www.gsc.com.my

 

Suara-suara Tengah Malam

Bisa tidur nyenyak sampai pagi adalah harapan sebagian besar orang sebelum pergi tidur di malam hari. Termasuk saya. Makanya kalau terdengar suara-suara aneh, yang biasanya terjadi tengah malam, saya langsung terjaga. Seperti satu malam saat masa-masa kampanye presiden, tengah malam saya terbangun gara-gara suara sirene bersahut-sahutan memecah keheningan malam. Semakin lama, suaranya terdengar semakin dekat ke rumah saya.

Ada apa? Apakah Jokowi datang? Soale beberapa hari sebelum sirene mengaung, saya mendengar kabar kalau Jokowi akan berkampanye di Balikpapan. Hanya saja, saya tak tahu kapan persisnya. Atau apakah sesuatu terjadi kepada suami saya? Soale malam itu suami saya belum juga pulang dari pertemuan dengan koleganya. Dan beberapa hari sebelumnya, ia mengatakan sesuatu hal yang membuat saya kuatir.

Sambil mencoba untuk dapat tidur kembali, saya terus bertanya-tanya dalam hati. Tak lama setelahnya, suami saya pulang dalam keadaan selamat sentosa. Lega sudah batin ini. Lantas suara apa sebenarnya sirene yang bertubi-tubi itu? Keesokan paginya, barulah saya tahu bahwa sirenenya ternyata berasal dari mobil pemadam kebakaran yang mencoba memadamkan api di gudang arsip salah satu perusahaan swasta yang terbakar!

Suara tengah malam berikutnya terjadi di Bangkok ketika kudeta tahun lalu. Waktu itu saya terbangun gara-gara mendengar suara cowok teriak-teriak dari kamar sebelah. Awalnya saya pikir suara tentara yang sedang berjaga-jaga di jalanan di depan penginapan sambil memakai pengeras suara mengingatkan pengunjung yang siapa tahu masih lalu lalang. Soale, kan, jam malam diberlakukan pas kudeta itu. Tapi lha koq suaranya kenceng amat kayak nelen TOA!?! pinjem istilahnya eda Py Logatnya pun familiar di telinga saya. Antara India dan Arab. Ada sekitar satu jam si tetangga sebelah itu ngomong kenceng nggak kira-kira. Teman sekamar saya, alias suami, pun jadinya ikut terbangun.

Setelah satu jam, berakhirlah suara itu dan suasana pun senyap, saya pun kembali lelap. Paginya, saya membahas kejadian itu dengan suami yang kebetulan khatam berbahasa Arab. Menurut pendengaran suami, si cowok tetangga sebelah itu sedang menelepon anaknya untuk mengingatkan supaya jangan lupa makan, jangan melawan sama mami, baik-baik sama mami, dst. Anaknya cowok, masih kecil. Dan mungkin sinyal telepon pun terputus-putus makanya bapaknya sampe teriak-teriak gitu….

Tapi pertanyaannya, kenapa neleponnya mesti tengah malam, om? Jadi gini, kalau dari segi itung-itungan perbedaan waktu, emang cocok. Soale beda waktu antara daerah di Timur Tengah sana dengan Asia Tenggara, kan, ada sekitar 5 jam. Jadi, ya, cocok, di Bangkok saat itu sudah tengah malam, di Arab baru sekitar jam 7 malam, waktunya makan malam, waktunya si bapak nelepon anak istrinya.

Ah, itulah enaknya hidup di zaman teknologi canggih kayak sekarang. Mau jam berapapun nelepon keluarga yang tinggal di belahan bumi manapun, bisa. Nggak kayak zaman baheula. Dulu kalo bapak saya dinas ke luar kota, mana ada cerita mau ngasih kabar apakah sudah selamat sampai di kota tujuan atau tidak, apakah kami anak-anaknya sudah makan atau belum, mengingatkan jangan terlambat tidur, dlsb. Nanti setelah bapak pulang ke rumah, barulah kami tahu bahwa Bapak selamat. πŸ˜€

Berikutnya yang paling anyar terjadi di salah satu penginapan di Kuala Lumpur bulan Desember lalu. Lagi enak-enaknya tidur, sayup-sayup terdengar suara-suara perempuan yang sepertinya sedang berantem. Saya pikir saya berhalusinasi. Ternyata tidak! Saya pun keluar kamar dan berjalan mendekati kamar yang paling berisik di lantai itu. Tamu-tamu lain yang juga penasaran, pada ikutan keluar kamar.

Persis ketika saya akan mengetuk pintu kamar berisik itu, seorang perempuan (lagi-lagi Arab), berambut panjang, berwajah cantik, serta bertubuh molek dan berpakaian ketat bermotif kulit macan tutul, membuka pintu kamar diikuti repetan yang keluar dari bibirnya yang dipoles pewarna bibir warna merah. Ia terlihat berargumen dengan dua perempuan lain yang berdiri di sebelah kanannya.

Si cantik berambut panjang melihat ke arah saya. Saya yang berwajah sumuk pun berkata, “Kalian ribut sekali, mengganggu tidur kami….” Dia pun membuat simbol tangan ‘time out’ sambil berkata sorry. Pintu ditutup kembali tapi pertengkaran masih berlanjut di dalam kamar…. dalam bahasa Arab! Saya bergeming. Lagi pintu dibuka dan sekali lagi si cantik berkata sorry, tapi mereka tetap ribut.

Saya pun kembali ke kamar dan menelepon resepsionis di lantai bawah memberitahu keributan itu. Hingga setengah jam kemudian, mereka masih tetap adu mulut dengan volume suara turun sekitar dua tingkat. Arghhh!