Cara Menemukan Tempat Makan Enak (Kalo Kamu Lagi Traveling)

Baca review atau ulasan di mesin pencari dengan kata kunci, ‘tempat makan enak di Samosir’, ‘tempat makan enak di Jogja’, atau ‘tempat makan enak di Bandung’, misalnya, sah-sah aja sih sebenernya, tapi saya enggak pernah melakukan opsi ini.

Ngintip akun media sosial food curator atau kurator makanan pernah saya lakukan beberapa kali sampai akhirnya satu waktu saya keracunan makanan dari salah satu tempat makan yang dipromosikan oleh sang kurator di akun medsosnya. Mungkin waktu itu saya lagi apes aja makanya sampe mesti nginap satu malam di rumah sakit. Tapi setelah kejadian itu saya kapok dan enggak pernah mau dengar lagi apa pun yang dipromosikan si kurator di akun medsosnya. πŸ˜€ (ho oh, selain gak tegaan, daku anaknya kapokan juga πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ ) #lemparpisangkapok #kalogakadapisangkapokpisangkepokpunjadi πŸ˜€ πŸ˜€

Jadi yang paling efektif menurut pengalaman saya…

  • Dengerin rekomendasi orang lokal. Entah itu supir, pemandu, temen, atau sodara kamu yang tinggal di kota destinasi. Tambah afdol kalo mereka yang kamu tanyain itu emang suka nyobain makanan juga.

  • Yang tempatnya rame. Biasanya makanannya enak juga. Tapi tempat sepi belum tentu enggak enak lho. Saya dan suami pernah masuk ke satu resto yang sepi di Tangerang. Awalnya kami ragu saking sepinya. Tapi setelah melihat daftar menu yang koq keknya oke, kami pun masuk dan memesan salad jamur serta pancake coklatnya yang olalaa… enak banget! Jadi jangan terkecoh kalo sepi. You might find a gem. πŸ™‚

  • Yang berasap. Ini paling cocok kalo dipraktekin di daerah dingin macam Samosir dan sekitarnya. πŸ˜€

Jadi gini ceritanya… (para pembaca dimohon gelar tikar ama nyiapin krupuk buat ngemilΒ karena ceritanya panjang…Β πŸ˜€ πŸ˜€ )

Rasanya baru sekejap berkeliling di Bakkara, tau-tau hari udah gelap dan perut kami udah keroncongan. Terakhir kali kami ketemu makanan berat adalah sewaktu rehat siang di Pangururan sekitar jam satu. Apalagi jika berada di daerah dingin perut cepat sekali rasanya lapar. Energi habis untuk menjaga tubuh tetap hangat. Pertanyaan ‘makan di mana kita’ akhirnya muncul. Kami pun berdebat apakah hendak mencari makan di Dolok Sanggul, atau cari tempat makan lokal di Bakkara.

Tapi masalahnya adalah, itu kali pertama kami ke Bakkara dan tiada saudara maupun keluarga yang bisa dimintai pendapat ‘di mana tempat makan paling rekomended di Bakkara’. Supir kami pun bukan orang lokal. πŸ˜€ Mau nyari di gugel, duh, plis deh, masa apa-apa pake gugel? Manja amat. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Trus gimana dong?

Bapak saya, yang juga pencinta makanan itu, punya jawaban canggih:

β€œTadi sewaktu kita melewati jalanan… ada kulihat satu warung namartimus… aku yakin masakan mereka enak…” ujar beliau.

Warung namartimus adalah warung sangat sederhana yang cara masaknya menggunakan kayu sehingga berasap.

Kalo orangtua ngasih pendapat, biasanya jarang meleset. Paling-paling kalau pun keliru, itu kemungkinan karena salah ucap istilah, seperti yang terjadi di insiden es cendol. πŸ˜€ Atau barangkali cara penyampaiannya yang enggak cocok ke kita anak-anak muda, tapi biasanya pesennya bener. πŸ˜€ Apalagi orangtua sudah lebih lama mengecap asam garam di dunia persilatan ini. πŸ˜€ Jadi tentu pengalaman mereka udah lebih banyak dari kita sehingga layak didengarkan. πŸ˜€

Maka sewaktu hari benar-benar udah gelap pekat, kami pun menepi di dekat warung yang dimaksud bapak. Setelah masuk, kami memesan satu-satunya menu yang tersedia, yakni ikan nila bakar yang kalau menurut kakak yang menyatat pesanan kami malam itu, β€œIkannya kecil-kecil…..”

Bagi kami yang udah kelaparan, ukuran ikan bukan lagi masalah. Kami akan menyantap entah sebesar apa pun ukuran ikan yang akan disuguhkan. πŸ˜€ Dan benar saja, begitu ikannya muncul (yang mana kalau menurut kami ikannya bukanlah kecil-kecil, melainkan besar-besar πŸ˜€ ), air liur saya langsung terbit melihat betapa seksinya ia dengan jejak kehitaman berkat proses pemanggangan, serta sambal tombur yang dibalur di atasnya. Saya pun serta merta mengambil irisan jeruk nipis yang disediakan dan meneteskannya di seluruh ikan, dan segera menyantapnya. Maknyus! πŸ˜€

(foto ikan nila bakar tombur di atas cuma ilustrasi. berhubung malam itu pencahayaan di warung tidak mendukung kamera henpon untuk mengabadikan si ikan, maka kamera yang saya gunakan untuk menangkap gambar adalah mata saya, sehingga tak ada foto ikan bakar yang bisa diaplot di sini. πŸ˜€ )

Jadi bapak saya benar, ikannya enak. Bahkan enak banget kalo menurut saya. πŸ˜€ Sangat beda dengan makanan yang kami santap di Pangururan beberapa jam sebelumnya yang disajikan dingin. Manalah hari pun dingin, disuguhi makanan dingin pula, jadinya dingin kuadrat. πŸ˜€ πŸ˜€

Karena kami terkesan dengan warung namartimus pilihan bapak di malam sebelumnya, maka keesokannya ketika tiba di Samosir, kami pun mencari warung namartimus lainnya untuk makan siang. Eh ketemu, dan masakannya enak pula!! πŸ˜€ πŸ˜€ Tapi siang itu di Samosir saya tidak memesan ikan bakar, melainkan babi panggang yang rasanya enak banget! πŸ˜€

  • Yang beraroma harum. Seperti lumpia Malioboro di Jogja.
  • Resto penginapan. Kalo penginapan kamu ada restonya, cobalah makan di sana. Beberapa kali saya pernah makan siang atau malam di penginapan dan masakan mereka selalu menyenangkan saat disantap. Karena biasanya juru masak penginapan memang adalah orang-orang yang handal memasak. Kadang orang ragu atau langsung berasumsi jika makanan di penginapan itu mahal. Padahal belum tentu. Dan kalau mau itung-itungan, biaya transport yang dikeluarin untuk makan di luar penginapan malah bisa jadi sama dengan biaya makan di penginapan.

  • Rumah sendiri. Buat saya yang anak perantauan, pulang kampung ke rumah orangtua judulnya adalah traveling. πŸ˜€ Dan apa pun yang dimasak oleh ibu, buat saya selalu enak. πŸ˜€

Beberapa tahun lalu keluarga besar kami berlibur dan berkumpul merayakan akhir tahun bersama orangtua kami. Satu waktu, adik saya yang paling jangkung menyadari bahwa sejak pagi sampe malem, ibu selalu ia jumpai sedang sibuk β€˜berkarya’ di dapur.

So my brother asked why she always looked so busy in the kitchen from early in the morning sampe malem.

Ibu bilang, β€œKalo mama enggak masak, kita mau makan apa, nak? Kita mesti makan tiga kali dalam sehari. Pagi siang malam.”

At that time, i don’t really know how my mum manage it (perhaps becoz at that time i don’t really love cooking so i didn’t pay much attention on how she did it), but ibu saya cepat sekali memasak. Macam sim salabim. Dalam waktu kira-kira satu jam, tau-tau udah kelar aja tuh masak lauk, sayur, ama nasi. Kami anak-anaknya ya palingan cuma bantu ngerecokin dan bantu ngabisin makanan. 😁😁😁😁

Kalo kamu pernah lihat Jamie Oliver’s 15 Minute Meals, yakni acara memasak dari yang tadinya nihil or mentah, trus sim salabim lima belas menit kemudian udah kelar aja tuh makanan buat disantap oleh dia dan kru-krunya dia, nah kira-kira kek gitulah ibu saya masak. 😁😁 (tapi beliau gak pake acara ngobrol-ngobrol or jelasin ini ina inu ke kamera macam si Jamie ya) 😁😁

Pokoknya ibu kalo masak udah kayak enggak pake mikir lagi gitu. Tangannya udah otomatis ngeracik ini, bikin itu, tambahkan anu, potong cabe, masukin kecap, bla bla bla, dan voila, hasilnya seringkali enak serius. 😁😁😁

 

 

 

 

 

Advertisements

Joglo Mandapa, untuk Ketenangan Jiwa di Jogja

Saking kerennya tempat ini, sebenernya enggak pengen ditulis di sini sih, biar enggak hip. πŸ˜†πŸ˜† Cuma.. yang menentukan apakah satu tempat akan menjadi hip atau tidak kan bukan saya yah? Melainkan algoritma om gugel yekan? 😁😁 (bercanda woy) πŸ˜πŸ˜πŸ˜…πŸ˜…

Tapi gara-gara kemarin di twitter ada yang nanya rekomendasi kafe di Jogja dengan kriteria: yang suasananya tenang untuk kerja, wifi nyala dan bekerja baik, ada makan minum gak cuma kopi, harga masuk akal (sebanding sama ambience dan rasa makanan/minuman); saya gak tega menyimpan informasi tempat ini hanya buatku seorang. XD (iyes, daku orangnya gak tegaan. apalagi kalo menyangkut makanan enak. 😁😁) ya udah akhirnya saya kasitau aja bahwa hotel Joglo Mandapa ini Cengkeh Restonya rekomended banget. Manatau cocok buat dia. Sharing is caring kan? πŸ˜‰

Jadi kami enggak sengaja nemu tempat ini pas browsing-browsing nyari penginapan di Jogja dengan kriteria:

β€’ Yang bikin kantong senyum meriah a.k.a enggak bikin bolong dan masih cukup buat ongkos pulang ke Kalimantan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

β€’ Mesti ada joglo-joglonya. Karna koq rasanya gimana gitu ya.. pergi ke Jogja tapi nginepnya di hotel berdesain minimalis kekinian koq kayaknya kurang nendang aja. Apalagi Jogja masih kental dengan wisata budayanya kan? Jadi ya tema liburannya biar merasakan tinggal di bangunan khas Jogja lah. Macam gitu kira-kira. 😁😁

Dari pusat atraksi utama (well, buat saya patokannya Malioboro) ke hotel ini sekitaran 15-20 menit dengan jalanan lancar. Emang sengaja nyarinya enggak di pusat kota karena sehari-hari udah di pusat kota. Ya masa liburan di pusat kota juga? Apa bedanya? Mending di rumah aja gak usah liburan. 😁😁 Jadi kami pengen menyepilah judulnya. Mencari ketenangan, menjauh dari kebisingan. (udah kayak judul buku enggak sih ini?) πŸ˜†πŸ˜†

Tempatnya menjawab semua kebutuhan kami. Look at the bedroom. Interiornya minimalis. Enggak banyak cengkunek kalo kata anak Medan. 😁😁

Lobi hotelnya yang mungkin β€˜Jogja banget’ itu pagi-pagi udah bermandikan cahaya matahari bikin saya betah baca buku.

Makanannya, alamak! For me, another best part of this hotel was their awesome food. Siap-siap ngiler liat penampakannya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Selama di sini sarapannya enak bergizi. Dan yes, saya perbaikan gizi selama nginap di sini. Pagi-pagi selalu dikasih susu sama buah, gimana enggak makin sehat saya pulang ke Kalimantan? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Meski letaknya agak jauh dari mana-mana, Resto Cengkeh-nya siap bikinin kita minuman atau makanan dari pagi sampe jam sepuluh malem.

Satu hari, gara-gara sakit, saya terpaksa tinggal di hotel seharian. Karena perut saya udah nangis-nangis minta diisi, saya pun turun ke restonya buat makan siang. It was Christmas. Tamu-tamu lain pada jalan keluar, jadi saya sendirian aja di restonya yang didekor dengan anggun itu.

So i ordered ikan acar kuning dan manuk nom. Simply becoz kedua menu inilah yang di-highlight di baliho raksasa Cengkeh Resto yang digantung di parkiran hotel.

Rasanya?Β Wow!Β Petjah di mulut!Β Potongan kunyit segar terasa menyatu dengan ikan dan bumbu-bumbu lain.

Manuk nomnya?

Dominan oleh rasa tape ketan yang manis asam segar, dikunyah bersama melinjo. Unik!

Menurut chef-nya, manuk nom artinya burung muda. Kelihatan sayap burungnya kan dalam foto di atas? πŸ™‚ Itu tuh, melinjo dua biji nancep di kiri kanan. πŸ™‚ Kepala burungnya yang warna merah nyempil itu. Trus yang warna ijo nyempil dikit di kepala, itu paruhnya. πŸ™‚

Satu lagi yang bikin kami merasa sangat beruntung nginap di sini adalah, kami bisa mendengar permainan gamelan. Yes, gamelan!

Ternyata Joglo Mandapa rutin memainkan gamelan dua kali seminggu. Dan kebetulan kami nginap di hari-hari mereka memainkannya. πŸ™‚ Ah, what a blessing huh? πŸ™‚

Ning nang ning nong

Ning nang ning nong

Ning nang ning nong

Ning nang ning…. goooong

😁

Alunannya…. bikin jiwa adem….

 

Pokoknya kalo pengen merasakan Jogjakarta yang sebenarnya, nginap di Joglo Mandapa aja. πŸ˜‰

 

 

 

 

 

Bedanya Kelas Ekonomi dan Eksekutif

Cekikikan dan harumnya aroma makanan sukses membangunkanku yang lelap tertidur sejak dari stasiun Bekasi.

Mataku mencari asal suara cekikian tanpa henti itu.

Ah, ternyata sekelompok ibu-ibu manis berpakaian hitam dengan selendang merah jambu. Kami sama-sama naik dari Gambir tadi. Dugaanku mereka ikut demo Palestina atau arisan ke Tanah Abang.

Mereka nonstop berbicara dalam bahasa Sunda yang satu pun tak kumengerti artinya. 😁 Entah apa yang dibahas yang membuat mereka cekikikan melulu. Mungkin kalo aku ngerti apa yang diobrolin, aku pun bakalan ketawa haha hihi. 😁 Dan asal aroma makanan harum itu adalah mie instan seduh yang juga dinikmati ibu-ibu manis tersebut. Sungguh menggoda!

Petang menjelang, awan hitam menggelantung di bebukitan. Sebagian lampu-lampu rumah penduduk telah menyala. Tampak hangat dan mungkin keadaannya beda dengan keadaan di kereta yang semakin dingin.

Untuk menghangatkan tubuh, aku tergoda memesan mie instan seperti yang disantap ibu-ibu manis tadi. Tapi takutnya malah kekenyangan dan melewatkan makan malam di Bandung. Akhirnya crackers yang kubeli di Gambir saja kugigiti.

Penasaran dengan bedanya kereta kelas ekonomi dan eksekutif, sebelum berangkat tadi aku bertanya kepada dua penumpang belia yang duduk semeja denganku di salah satu resto fastfood. Tebakanku mereka kakak beradik.

Sebetulnya udah kutanya juga ke mas-mas kasir minimarket tempatku membeli crackers tadi, tapi pria itu tak tahu bagaimana kondisi kereta ekonomi. Kucoba mengorek siapa tau dia pernah dengar kawan-kawannya bercerita. Jawabnya tetap nihil. Dia bilang dia tinggal di Jakarta dan tak pernah naik kereta.

“Pada mau kemana nih?” Aku menyapa kedua pemuda belia tersebut. Mereka menoleh dan menjawab, β€œKe Bandung….”

β€œEkonomi atau eksekutif?”

β€œEksekutif…”

β€œBedanya eksekutif dan ekonomi apa ya?”

β€œCuma beda di tempat kakinya aja koq… kalo eksekutif lebih luas… selebihnya sama-sama nyaman…” jelas pemuda yang lebih tua yang kuduga adalah si kakak.

Setelah kereta melaju akhirnya aku tau bahwa kursi di kelas ekonomi tak bisa dinaikturunin. Sedangkan di kelas eksekutif, bisa.

One thing for sure, baik di kereta maupun di pesawat, entah itu kelas ekonomi maupun eksekutif, urusan kamar kecil a.k.a toilet itu agak-agak challenging ya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Cuma emang yang paling bergoyang ya dalam keretalah. Goyang dombret beneran. 😁😁

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa aku bisa menyimpulkan kedua pemuda tadi masih belia. Itu karena di wajah mereka belum nampak gurat-gurat kehidupan sebagaimana yang sering muncul di wajah-wajah manusia berusia 30 tahun keatas. 😁😁😁

Nah, sekarang coba cek wajah kalian. Apakah sudah nampak gurat-gurat kehidupan di sana? Kalo udah, ya selamat! Kalo belum, saya sarankan sering-seringlah naik kereta! 😁

 

 

Airbnb dan Semerbak Bawang Putih yang Menyertainya

Aroma bawang putih menyerbu indra penciuman begitu pintu apartemen yang terletak di lantai dua belas itu terbuka lebar. Di bawah tadi kami sempat kesasar, gara-gara sopir taksi menurunkan kami di gedung yang salah. Untungnya ada seorang warga keturunan Filipina mau menyempatkan diri menolong kami mencari gedung apartemen yang benar. Saya sebut menyempatkan diri karena saat itu dia persis hendak berangkat ke tempat kerja. Sebetulnya bisa saja dia mengabaikan kami dan berkata, β€œtidak tahu” atau β€œmaaf, saya sedang buru-buru” sewaktu kami menunjukkan screen capture alamat apartemen tersebut, kan? Tapi dia memilih mau ikut repot berjalan kaki dari gedung apartemen yang satu ke gedung apartemen yang lain, hingga akhirnya yang kami cari ketemu.

 

Perempuan berambut hitam yang panjangnya nyaris mencapai pinggang muncul dari balik pintu yang terbuka. Ia mengaku sebagai ibu dari pemilik apartemen yang akan kami inapi, dan sedang berkunjung ke Singapura dari India. Ini akan menjadi pengalaman menginap kami yang kedua via airbnb. Pengalaman pertama kami sukses berat dan kami senang dengan pelayanan host a.k.a tuan rumah kami di Indonesia.

Di airbnb yang pertama itu host kami menyediakan gelas, piring, sendok, garpu, panci dan penggorengan untuk memasak ringan pada kompor elektrik. Ada pula mesin cuci lengkap dengan sabunnya. Microwave, kulkas, rak piring mini serta sabun cuci piring pun tak ketinggalan. Selain itu ada stok kantongan plastik bersih dan air minum di dispenser. Bahkan setrikaan dan cemilan macam kerupuk serta mie instan pun ada! πŸ˜€

Cahaya matahari yang melimpah sepanjang hari memberi nilai tambah bagi apartemen yang berada di salah satu sudut tersibuk di Jakarta itu. Kamar mandi dan seprai tempat tidur bersih, bantal harum tanpa bau pomade. Pokoknya serasa nginap di rumah sendiri. πŸ˜€

Meskipun pada akhirnya kami tak memakai semua fasilitas yang disediakan, ada rasa senang tertinggal di sudut hati. Rasa senang yang muncul karena mengetahui bahwa tuan rumah kami benar-benar memikirkan kenyamanan tamu. Itu saja sebetulnya yang paling penting dalam bisnis hospitality, kan? Tamu mendapat pengalaman menginap melebihi dari apa yang ditawarkan dalam brosur, melebihi dari yang tertera pada info di website, melebihi ekspektasi.

Kami pun dengan senang hati memberi lima bintang kepada tuan rumah yang ternyata memiliki moto: being the second best will never be remembered. Ah… Pantas saja apartemennya tak pernah sepi pengunjung…

Begitu sesi basa-basi dan perkenalan selesai, si ibu menjelaskan letak dapur, kamar tidur, kamar mandi serta letak ini-itu dan mengantar kami ke kamar yang terletak di sudut. Ia pun tak lupa memberi password wifi. Setelah beliau pergi dan koper saya letakkan di lantai, saya langsung mencoba wifinya dan berseluncur ke gugel serta merta mengetik pertanyaan yang paling ingin saya ketahui jawabannya:

“mengapa rumah orang India selalu beraroma bawang putih?”

Karena seingat saya, sewaktu tinggal di Oman dan bertetangga dengan orang India, dalam radius beberapa meter dari pintu rumahnya, aroma bawang putih yang tajam juga begitu menusuk hidung. Jadi, kenapa?

Inilah jawaban teratas dari mbah gugel:

“karena mereka langsung mengunyah bawang putih mentah-mentah…”

Of course our host didn’t mention about this garlic thing on their airbnb site. πŸ˜€

Well, meskipun secara keseluruhan pengalaman menginap di airbnb kedua ini tak semenarik apartemen airbnb pertama di Jakarta tadi, ada satu hal baik dari mereka yang menurut saya patut ditiru dan diacungi jempol. Mereka menggunakan listrik seperlunya saja. Lampu dapur dimatikan kalau sedang tak dipakai. Lampu kamar mandi pun begitu. Televisi juga dimatikan kalau tak ada yang nonton. Benar-benar hemat energi.

Kebiasaan mereka saya adopsi setelah pulang ke Indonesia. Yang dulunya suka meninggalkan lampu kamar menyala, sekarang saya matikan kalau enggak butuh banget.

Nah, bicara soal listrik, saya baru tahu kalau ternyata sekarang untuk menambah daya bisa dilakukan hanya melalui telepon ke PLN 123. Bahkan hari Minggu pun mereka tetap nerima telepon selama 24 jam! Keren banget, ya? Saya cuma ditanyai nama, besaran daya yang diinginkan, nomor ktp, alamat, tujuan penggunaan, serta besaran voucher listrik yang diinginkan untuk diisi (karena kami menggunakan sistem prabayar). Setelahnya saya diberitahu besar biaya yang harus dibayar (bisa bayar melalui atm). Saya pun enggak perlu datang ke kantor pelayanan PLN untuk mengurus dokumen-dokumen penambahan daya. Esok harinya petugas PLN sendiri yang mendatangi rumah. Tak sampai lima menit, simsalabim, urusan penambahan daya selesai. Bangga banget rasanya jadi penduduk Indonesia kalau semua urusan bisa dimudahkan kayak gini. πŸ˜€

**

Kembali ke soal airbnb tadi… Sekarang, tiap kali melihat lampu, entah itu dalam keadaan mati atau nyala, saya teringat keluarga India host kami tersebut, dan semerbak bawang putih yang menyertainya…

 

 

Btw, ada yang pernah ngunyah bawang putih mentah-mentah? πŸ˜€

 

 

 

Mengelilingi Ha Long Bay

Sejarah adalah milik mereka yang mencatatnya. Demikian kata pepatah. Dengan peradaban yang telah berusia lebih dari 5000 tahun, dan yang sering mengklaim bahwa mereka adalah permulaan dari berbagai hal, Tiongkok atau Cina adalah salah satu yang memiliki catatan atau dokumentasi terbaik di dunia. Mulai dari cara mengawetkan makanan, bercocok tanam, hingga resep masakan yang akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Dan karena sekitar delapan puluh persen barang-barang yang saya jumpai sehari-hari di Indonesia adalah MADE in CHINA, wajar kalau saya penasaran bagaimana keseharian mereka, kan? Bisa sih dibaca lewat buku atau film. Banyak malah. Tapi tentu lebih afdol kalau bisa merasakan dan melihat langsung dengan mata kepala.

Pernah singgah di Hongkong dan Makau, tapi tetap saja saya masih penasaran pengen menginjakkan kaki di mainland. πŸ˜€ Dan lagi, ada pula pepatah terkenal lain berbunyi, β€œKejarlah ilmu hingga ke negeri Cina.” Apa nggak bikin orang makin penasaran tuh? Kenapa mesti jauh-jauh ke negeri Cina?

Itulah sebabnya saya refleks membelalak sewaktu pemandu wisata kami dari Hanoi berkata bahwa dari Ha Long Bay kami bisa menuju Cina. Serius nih?

Tapi tak sampai lima menit, pemandu laki-laki yang mengaku pulang ke rumah tiap dua minggu sekali itu langsung menambahkan kalimat, β€œ…. tapi kita mesti berenang… dan berisiko ditembaki penjaga perbatasan karena memasuki daerah mereka dengan ilegal….” Lenyap sudah impian menginjakkan kaki di daratan Cina. πŸ˜€ Ternyata dia cuma bercanda atau otaknya korslet sejenak. Barangkali gara-gara haus belaian istri yang mungkin udah lebih dari seminggu tak ditemuinya…

Dari pelabuhan (yang memang cuma sepelemparan kolor kalau mau ke daratan Cina jika dilihat dari googlemap), perahu kecil yang mengantarkan rombongan kami yang berasal dari berbagai negara itu tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di kapal induk (kalau boleh saya menyebutnya πŸ˜€ ), yakni kapal bertingkat yang akan kami gunakan untuk berkeliling sekaligus bermalam di teluk Ha Long atau teluk naga nyungsep (meminjam istilah ponakan saya). πŸ˜€

Persinggahan pertama adalah Hang Sung Sot, salah satu gua yang berada di bukit-bukit kapur. Tapi sebelum memulai petualangan, lagi-lagi pemandu kami si Bang Toyib itu bikin kami cengengesan. Dia mewanti-wanti agar nantinya kami tak kaget apabila menjumpai banyak batuan yang bentuknya menyerupai alat kelamin pria…. Dimulai dari bukit yang menjulang gagah ini…

mirip gak menurut kamu?

Saya enggak begitu mendengarkan penjelasan pemandu kami tentang detil gua yang keindahannya bikin saya tercengang ini. Saya sempat bertanya kapan guanya ditemukan dan sejak kapan dibuka kepada umum. Dia memberi jawaban, tapi saya lupa jawabannya. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Maapkanlah. Saya betul-betul lupa saking terpesonanya, ditambah efek pencahayaan spektakuler membuat saya tak bisa konsentrasi dengan penjelasannya. Rasanya seperti melihat mahakarya di galeri seni. πŸ˜€

Tempat lain yang kami singgahi adalah peternakan mutiara. Ternyata sebuah mutiara itu bisa diperoleh setelah bertahun-tahun dierami tiram sodara-sodara. πŸ˜€ Pengunjung diminta memilih salah satu tiram dan menyerahkannya kepada petugas untuk dibedah. Beruntung, tiram yang saya pilih memiliki mutiara cantik di dalamnya.

mutiaranya yang bulat kecil putih di tengah

Saya pikir karena berhasil menemukan tiram yang ada mutiaranya, maka itu mutiara bisa dibawa pulang dengan cuma-cuma buat kenang-kenangan. Eh, taunya enggak. Mesti beli coy. Mihil pulak. Berjuta-juta kakak. Hahahhh…. Mending beli saus tiram deh biar bisa dipake buat masak nasi goreng. Hahahahahahah….

Setelah matahari terbenam, kapal kami merapat pada salah satu ceruk di balik salah satu bukit kapur. Mungkin dimaksudkan agar kapal kami tak terlampau terpapar angin malam yang dingin menggigit.

Malamnya saya tidur pulas di pelukan sang naga, dan bermimpi mengunyah baklava di Beijing.

Nyaman, Bersih, Wifi Lancar Jaya

Kalo traveling ke luar kota selama beberapa hari, tentu salah satu hal penting yang harus dipikirkan adalah penginapan dong ya?

Pertimbangan saya memilih penginapan biasanya: Continue reading

The Girl on The Train

Kereta menuju Bandung baru saja meninggalkan stasiun Gambir. Penumpang penuh. Saya dan suami duduk di bangku kedua dalam gerbong pertama. Pemandangan silih berganti Continue reading

Dolok Sanggul 1.0

Pagi jam lima, saya terbangun di kamar yang dingin. Meski telah mengenakan kaos kaki dan berbalut selimut tebal, tetap saja dingin menerobos. Continue reading

Mengembara ke Bakkara

Begitu memasukkan kata kunci ‘hotel di Bakkara’ di mesin pencari, dalam sekejap muncul nama penginapan yang berada di Kiev, Ukraina, pasar di Mogadishu, dan satu daerah di Maroko. Continue reading