Motret Barang Nggak Pake Ribet

Sering saya lihat toko-toko online yang menjual entah barang baru maupun bekas/second/preloved, yang jepretannya acakadut bikin sakit mata. Padahal Continue reading

Advertisements

Dolok Sanggul 1.0

Pagi jam lima, saya terbangun di kamar yang dingin. Meski telah mengenakan kaos kaki dan berbalut selimut tebal, tetap saja dingin menerobos. Continue reading

Malaka Genting, Sebuah Perjalanan

Kalau Anda sudah pernah pergi ke satu tempat, maka di kali kedua kunjungan, barangkali kejutannya pudar. Apalagi kalau sudah pernah melihat Macau yang berada di Tiongkok sana, bisa jadi Malaka dan Genting yang di Asia Tenggara ini, akan terhempas seolah tak ada apa-apanya.

Bukan maksud saya membandingkan, karena saya yakin, tiap tempat memiliki keunikan yang tak dimiliki oleh tempat lain. Tapi bisa jadi karena saking uniknya Macau, gambaran tentangnya begitu melekat di benak saya dan tak bisa dihapus begitu saja dari bank memori saya.

Maka untuk menghindari pudarnya kejutan atau hambarnya perjalanan, jika ada kemungkinan Anda akan pergi traveling ke satu tempat yang memiliki kesamaan dengan tempat lain yang pernah didatangi, mungkin memori Anda perlu direset.

Memangnya apa kesamaan Genting, Malaka dan Macau? Sama-sama kota tua peninggalan kolonial dan sama-sama kota #ehem# judi…

bangunan-merah-Malaka.jpg.jpeg

Untungnya, perjalanan pergi dan pulang ke dua tempat ini nggak bikin bete. Mengingatkan saya bahwa seringkali yang bikin menarik dari traveling adalah perjalanan itu sendiri, bukan destinasinya.

Setelah mengira-ngira antara harga jalan sendiri dan harga ikut tur, kami putuskanlah pergi ke Malaka dengan jalan sendiri dari Kuala Lumpur. Agak-agak nggak rela juga kami merogoh kocek sekitar 200 USD, untuk perjalanan pergi pulang (pp) dua orang.

Padahal dengan jalan sendiri, total biaya yang kami keluarkan, udah plus-plus semuanya, plus beli payung di Malaka karena hujan (payungku kutinggal di Balikpapan, karena kepedean gak bakalan diguyur hujan selama bertualang hahahaa), plus mengisi perut yang udah keroncongan sebanyak 3x (sarapan di terminal bis, makan siang di resto bernuansa Tiongkok di Malaka, dan makan malam di terminal Melaka Sentral), ‘hanya’-lah sekitar seperempat dari biaya perjalanan ikut tur.

makan.jpeg

Tapi dengan harga 200 USD, Anda memang tinggal tahu beres. Nggak perlu repot browsing sana sini pakai henpon yang layarnya kecil ajubile πŸ˜› , nggak perlu pergi pagi-pagi naik kereta ke terminal bis, nggak perlu basah kena guyuran hujan saat berjalan kaki menjajal kota tua Malaka, dan nggak perlu pergi ke kantor tourist information centre hanya untuk bertanya di mana letak toilet yang memadai untuk buang hajat. πŸ˜›

Tapi ya itu, rasanya kurang seru aja karena semuanya semacam tanpa perjuangan. πŸ˜› Kecuali nyari duitnya supaya Anda bisa traveling, ya itu emang perjuangan dong, kan? Nyangkul dari pagi buta sampe tengah malem. πŸ˜› Halah, ini lagi cerita jalan-jalan koq malah bahas nyangkul. πŸ˜› Okelah, mari kita lanjut.

Trus kami pun agak-agak kepedean juga nggak bawa buku panduan traveling yang ditulis oleh mbak @tesyasblog dan Olenka, yang di dalamnya memuat tentang panduan traveling ke Malaysia. Soale nggak kepikiran mau ke Genting dan Malaka, kakak. Dan kalaupun jadi, kami berniat mau bikin petualangan ala kami sendiri, tidak berpatokan pada buku-buku panduan.

Tapi ya nggak mungkin juga jalan ke sana tanpa melihat atau membaca pengalaman perjalanan orang lain yang sudah pernah ke sana, kan? Maka berbekal wifi gretongan tempat kami menginap (yang walaupun cewek-cewek tetangga sebelah sempat berantem, tapi wifi-nya kenceng), kami pun browsing gimana caranya pergi ke Malaka dan Genting dengan kendaraan umum.

Kalau bisa, cara ini jangan ditiru ya, sodara-sodara. Merencanakan perjalanan itu lebih baik dari jauh hari supaya efektif. Jangan heboh di menit-menit terakhir. Eh tapi, kalau bukan gara-gara menit-menit terakhir, nggak ada juga yang mau kuceritain di blog cupuku ini, kan? Hahahhaaa…

Berangkat pagi jam tujuh kurang dengan monorel, maka sampailah kami di Terminal Bersepadu Selatan (TBS) yang keren banget itu. Saking kerennya, berkali-kali saya ter-wow-wow di sini. Ada banyak konter penjualan tiket bis antar kota antar negara bagian dengan harga bersaing. Sehingga calon penumpang tak perlu berdesak-desakan macam di terminal terpadu Amplas di Medan sana. Bisnya pun pakai seat yang bisa kita pilih pas beli tiket di konter.

terminal bersepadu selatan.jpg

Ada foodcourt, minimarket, ruang tunggu yang nyaman, bersih pula, petugasnya pun ramah menjawab berbagai pertanyaan kita seperti misalnya: jam berapa bis terakhir dari Malaka, ruang tunggu keberangkatan di mana, tempat makan minum di mana, smoking area di mana, dlst. Keren banget! Pokoknya serasa kayak di airport, deh! Cuma bedanya, setelah berada di dalam bis, kita tak perlu mematikan henpon serta alat elektronik lainnya, karena nggak bakalan mempengaruhi sistem navigasi. Hahaha. πŸ˜€

Perjalanan sekitar dua jam ke Malaka pun jauh dari membosankan karena bisnya memutar film komedi jadul karya sineas terkenal Malaysia, P. Ramlee. Bercerita tentang lika-liku hidup dua pria asisten rumah tangga yang tinggal bersama di rumah tuannya, seorang pria pengusaha tekstil yang ditinggal mati istrinya.

Filmnya kocak abis. Saya ingat, seorang penumpang paruh baya di kursi sebelah pun sering tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan adegan demi adegan dalam film berformat hitam putih itu. Kalo nggak salah judulnya ‘Nasib si Labu Labi’. Sayang saya nggak tau endingnya kayak apa. Soale bisnya udah keburu nyampe di terminal bis Malaka.

Bagi Anda para perokok, bersiap-siaplah. Kemungkinan besar Anda akan menderita di Malaka. Karena kota warisan dunia ini telah menjadi kota bebas asap rokok sejak tahun 2011.

Untuk menyiasatinya, siapa tahu Anda udah kecanduan berat, gunakan insting untuk mencari warung makan minum yang membolehkan pengunjung merokok di dalam. Belilah secangkir kopi atau semangkuk mie-nya sebagai imbalan.

no-smoking.jpg.jpeg

Perjalanan ke Genting sendiri mengingatkan saya pada perjalanan ke Berastagi di Sumatera Utara sana. Jalan berliku yang naik, naik dan naik. Makin ke atas, makin pekat pula kabutnya. Turunnya hujan membuat suasana bertambah dingin.

Pokoknya kalau Anda pengen tau gimana rasanya naik cable car dan pengen tau gimana rasanya bermain statistika plus tebak-tebakan (kalau tak mau dibilang berjudi πŸ˜› ), di ketinggian sekitar 1.7 km dari permukaan laut, pergilah ke sini.

Kami sempat mencoba peruntungan di sini dan… kalah. Mungkin kalau menang, bisa-bisa kami malah tak pulang. πŸ˜› Di beberapa meja permainan tebak kartu terdengar sorak-sorai penonton maupun pemain. Ternyata ada beberapa pemain yang menang. Senang rasanya kalau bisa mengalahkan bandar. πŸ˜›

Dari pengamatan saya, sepertinya masa keemasan Genting sudah lewat. Makanya cukuplah buat saya satu kali ke sini. Kecuali ada yang mau bayarin 1M, bolehlah saya pertimbangkan. πŸ˜› #dasar matre#

Sedikit tips dari saya: untuk menghindari tak dapat tiket pulang naik bis dari Genting, sebaiknya belilah tiket pp dari KL Sentral. Pengalaman kami kemarin (karena belum berpengalaman dan yakin bahwa tiket pulang selalu tersedia), kami tak beli tiket bis pp Genting-KL Sentral. Maka berhubung seat yang tersedia hanya tinggal ke terminal Pudu Sentral, mau tak mau kami beli. Karena kami tak berencana menginap. Kalau kehabisan, mungkin Anda akan menginap di Genting atau naik taksi dengan harga borongan.

Tapi kalau dipikir lagi, justru itulah esensi dari traveling atau jalan-jalan. Pengalaman. Mengalami yang tak pernah dialami, melihat yang tak pernah dilihat. Sukur-sukur, seiring bertambahnya pengalaman itu, bisa makin dewasa menyikapi segala perbedaan antar umat manusia di muka bumi ini. Dan ketika segala sesuatu berjalan tak selancar yang kami mau, kami jadi tahu gimana bentuknya terminal Pudu Sentral. Konon, TBS dibangun karena kapasitas terminal Pudu Sentral ini sudah tak memungkinkan lagi menampung jumlah penumpang yang meningkat dari tahun ke tahun.

Sendiri ke Wonogiri

Di sinilah saya. Dalam kereta Argo Dwipangga di stasiun Gambir, Jakarta Pusat, yang sebentar lagi akan berangkat menuju Solo Balapan, memenuhi undangan teman saya untuk berlibur di kampung halamannya Wonogiri, Jawa Tengah. Tadinya seorang teman saya yang lain ingin ikut. Namun di menit-menit terakhir ia membatalkan. Ada urusan dengan calon mertua katanya. Tadinya pun saya pikir teman saya si Tuan Rumah akan datang ke Jakarta, sehingga bersama-sama kami akan berangkat ke Wonogiri. Ternyata tidak.

“Aku akan memandumu lewat sms,” katanya dalam pesan pendek yang ia kirim beberapa hari yang lalu. Great. Saya akan bepergian seorang diri ke daerah yang sama sekali belum pernah saya datangi. Wajib banyak berdoa, nih.Β Batin saya.

Untuk menghemat ongkos, sesuai panduan teman saya si Tuan Rumah, mestinya saya berangkat naik bis kemarin sore. Tapi begitu tiba di terminal Kampung Rambutan, bis tujuan Wonogiri sudah berangkat. Tidak jelas entah kapan bis selanjutnya akan berangkat, saya pun putar haluan ke Gambir. Berhubung hari sudah malam, saya putuskan menginap di kediaman seorang teman tak jauh dari stasiun kereta Gambir.

Bersama ransel hitam bulukan yang selalu setia menemani bertualang, keesokan harinya pagi-pagi sekali, saya bertolak ke stasiun kereta. Suasana agak lengang ketika saya tiba di sana. Namun di depan loket penjualan tiket, telah mengantri beberapa calon penumpang. Dalam hati saya memohon kepada Tuhan agar kedatangan saya tak sia-sia. Anda tahu sendirilah, menjelang akhir tahun atau hari-hari besar seperti Idul Fitri atau Natal, agak sulit mendapatkan tiket jika tidak dibeli dari jauh hari.

Hampir tiba giliran saya dilayani petugas, seorang calon penumpang yang tak sabaran, memotong antrian dari sisi kanan agar ia dilayani terlebih dahulu. Inilah penyakit kronis bangsa kita yang sampai sekarang belum juga sembuh. Tentu saya tidak terima. Bagaimana jika tujuan perjalanan kami sama-sama ke Solo Balapan, dan tiket hanya tersedia untuk satu orang? Apa saya mau berbagi tempat duduk dengannya atau duduk di pangkuannya? Atau apa saya rela menunggu satu hari lagi ke Wonogiri? Tentu tidak. Memikirkan kemungkinannya seperti itu, tanpa basa-basi saya langsung berkata, “Ke Solo Balapan, satu orang, mas!”

Permohonan saya dijawab. Tiket ke Solo Balapan masih tersedia. Wonogiri pun segera terbayang di pelupuk mata. Selama beberapa jam berikutnya, saya menghabiskan waktu dengan mengabadikan momen-momen menarik seperti indahnya sawah dan bebukitan hijau di bawah langit biru, pria yang tampak amat serius mengamati henponnya di belakang jendela kaca yang retak, remaja-remaja tanggung di gerbong E37, nama-nama stasiun yang menjadi tempat perhentian sesaat sebelum kereta kembali melesat menuju stasiun berikutnya, dan yang membuat saya bertanya-tanya apakah suatu hari nanti saya bisa kembali mengunjungi mereka. Walaupun mungkin saya tak pernah kembali lagi, yang jelas saya telah menorehkan jejak di sana, meski hanya berupa persinggahan sesaat di stasiun keretanya. πŸ˜€

 

Sore sekitar jam empat, kereta tiba di Solo Balapan. “Dari stasiun, pergilah ke terminal bis dengan salah satu becak yang berseliweran di situ,” instruksi teman saya lengkap dengan info ongkos becak yang biasa ia bayarkan dari stasiun ke terminal. Setelah memilih becak dengan raut wajah abang becak yang ramah dan nampaknya bisa dipercaya, saya pun diantar ke terminal bis antar kota yang dimaksud teman saya si Tuan Rumah. Saat membayar ongkos becak, saya terkesima dengan cara si abang yang membuka kedua telapak tangannya saat menerima uang yang saya serahkan. Sopan sekali…

Usai berterima kasih, saya melanjutkan petualangan mencari bis yang bermuara di salah satu tempat di Jawa Timur seperti yang diinstruksikan teman saya Nona Wonogiri itu. Setelah ketemu, ternyata bisnya berangkat tak lama lagi. Ah, syukurlah saya tak perlu menunggu lama.

Kemudian teman saya memberitahu satu nama perempatan di mana saya harus turun. “Jangan lupa kamu bilangin ke kernetnya. Kalau nggak, bisa-bisa kamu nyasar sampai Jawa Timur,” pesannya.

Hari sudah mulai gelap ketika bis menurunkan saya di perempatan yang menjadi tujuan akhir petualangan saya hari itu. Setelah menemukan posisi berdiri yang aman di dekat warung, saya pun langsung menghubungi teman saya si Nona Wonogiri, memberitahu bahwa saya sudah tiba dengan selamat di kampungnya. Tak lama, seorang perempuan cantik berambut pendek berkulit sawo matang datang bersama motornya.

Ia memekikkan nama kecil saya. “Akhirnya kamu nyampe juga di kampungku!” sambutnya bersemangat. Kami berpelukan. Terbayar sudah perjalanan panjang yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Selagi berada di boncengan, saat motor kami melewati rumah-rumah penduduk yang bentuknya sederhana, saya bertanya-tanya, petualangan macam apa yang akan diberikan daerah yang secara harfiah berarti ‘hutan di pegunungan’ ini kepada saya. Tapi itu besok. Sekarang saya hanya ingin beristirahat dan bertemu keluarga besar teman saya itu.

 

 

Dan Jemuranku Pun Tak Kunjung Mengering

Pagi ini saat mengecek kondisi kain yang kujemur di luar sejak dua hari yang lalu, ia tak kunjung kering. Sebabnya hujan tak henti bertandang ke kota minyak tercinta ini.

Sedikit ingin tahu kondisi cuaca di Medan, kusamperin mamakku via watsap. Siapa tau kondisinya senasib denganku. Ternyata kota Medan panas terik katanya. Aku pun iri mendengarnya. Apa kulempar saja sebagian jemuranku ini ke Medan supaya mereka kering? Lantas apakah kondisi kurang mengenakkan ini hanya terjadi di pulau Jawa dan Kalimantan? Karena kulihat di televisi, sebagian wilayah di Jawa sana lumpuh karena genangan air yang makin hari makin tak bersahabat.

Bukannya aku tak bersyukur kalau hujan turun. Tapi kalau setiap hari? Gempor juga kami… Belum lagi jumlah air yang dimuntahkan langit tiap kali hujan itu, cukup tinggi dan tidak main-main menurut pengamatanku.

Dan masih pagi ini, juga masih gara-gara seringnya hujan melanda, kubuka buku Wahyu yang terletak di bab terakhir Perjanjian Baru untuk mengecek sudah sampai di manakah perjalanan kami saat ini. Apakah hujan yang berlarut-larut ini adalah salah satu dari tujuh wadah amarah Allah? Entahlah. Tapi kalaupun betul, kami memang pantas menerimanya. Semua ini akibat keserakahan kami yang menggila.

Ah, gara-gara jemuran yang belum kering, omonganku jadi melantur. Kalau gitu kuaplot sajalah di sini jemuranku yang belum kering itu. Siapa tahu setelahnya mereka akan mengering…

 

 

 

Saigon, I Love You

I may not be the man I wanted to

Poster di Pinggir Jalan

Poster di Pinggir Jalan

 

I may not be the king of wit

Pasar Ben Thanh

Pasar Ben Thanh

 

I may not know the things you need to know

Ben Thanh Market

Ben Thanh Market

 

I might not measure up quite yet

Penjual Jajanan Pinggir Jalan

Penjual Jajanan Pinggir Jalan

 

I may not have the grace of Fred Astaire

Saigon Opera House

Saigon Opera House

 

I may not have the mind of Jung

Pagoda

Pagoda

 

I cannot buy the things you need to have

Butik

Butik

 

But something you can’t forget

Penjual Rambutan Bersepeda

Penjual Rambutan Bersepeda

 

I love you, I love you

Ho Chi Minh City atau Saigon di Pagi Hari

Ho Chi Minh City (dulunya Saigon) di Pagi Hari

 

Through the fires in all of heaven

Istana Kemerdekaan

Istana Kemerdekaan

 

Something I can’t stop, I love you

Toko Pacharan

Toko Pacharan. Cocok Banget Untuk yang Lagi Pacharan πŸ˜€

 

It may not seem that I care enough

Kuil

Kuil

 

I may not take the time to say

Kantor Pos Sedang Direnovasi

Kantor Pos Sedang Direnovasi

 

You can’t leave me standing here alone

Gedung Opera Saigon Tampak Samping

Gedung Opera Saigon Tampak Samping

 

Until you hear what I have to say

Katedral Regina Pacis

Katedral Regina Pacis

 

I love you, but baby, I love you

Suvenir

Suvenir

 

Through the fires in all of heaven

Patung Dewi

Patung Dewi

 

It’s something I can’t stop, I love you

Toko Sepatu

Toko Sepatu

 

I love you, baby, I love you, I love you

Penjaja Rujak Vietnam Pinggir Jalan

Penjaja Rujak Vietnam Pinggir Jalan

 

I love you, baby, I love you, I love you, I love you

I Love You

Toko Bunga

 

I Love You by Saigon Kick

 

 

Lower Your Expectations

…… So that you’ll have a great experience.

Itulah respon saya mengenai topik tips traveling di ASEAN dalam salah satu episode Indonesia Travel Chat (#idtc) di linimasa twitter sekitar dua tahun lalu. Tujuan saya mengatakan itu adalah, agar Anda tidak terlampau kecewa ketika harapan maupun impian yang Anda harapkan ketika berjalan-jalan ternyata tidak sepenuhnya bisa terwujud. Tapi percayalah, melakukannya tidak semudah mengucapkannya. πŸ˜€

12

Samosir, Desember 2013

Pagi itu kami telah menyusun rencana kepergian kami ke Pangururan dengan matang. Namun siangnya, datanglah dua pria bertubuh tinggi. Ternyata ibu mereka meninggal dunia. Dan maksud kedatangan mereka adalah untuk mengundang pihak keluarga dari ibu mereka (hula-hula istilahnya dalam bahasa Batak), agar dapat hadir dalam acara adatnya di Onan Runggu.

Keluarga saya sebetulnya tidak begitu mengenal keluarga pria bertubuh tinggi ini. Oleh sebab itu kami memberikan beberapa nama yang menurut kami bisa dibilang masih keluarga dekat mereka. Tapi rupanya mereka telah mendatangi nama-nama yang kami sebutkan itu. Dan semuanya mengatakan bahwa keluarga sayalah yang lebih layak/seharusnya datang ke acara adat ibu mereka yang meninggal tersebut.

Karena kami masih menghargai adat Batak, kami pun tak kuasa menolak undangan mereka. Bahwasanya lebih penting menghadiri acara adat orang meninggal daripada jalan-jalan. Perubahan rencana kami godok malamnya. Setelah acara adat selesai, kami akan menempuh jalan darat melalui perbukitan agar dapat melihat Danau Toba dari ketinggian. Lalu malamnya kami tiba di Pangururan dan menginap di sana.

Esok paginya, disambut udara dingin sekitar 19 derajat Celcius, kami bersiap berangkat. Berjalan kaki menuju dermaga, kami melewati jalanan berbatu dan sebagian beraspal beton. Di dermaga kami menunggu kapal yang telah dipesan oleh pihak yang telah mengundang kami sehari sebelumnya, yang akan membawa kami ke Onan Runggu.

2

Cuaca cerah membuat pelayaran kami menyenangkan. Berada di antara langit biru, danau yang gemerlapan dihujani sinar mentari, pegunungan Bukit Barisan di sebelah kiri, Pulau Samosir di sebelah kanan, mengingatkan saya akan Milford Sound di Selandia Baru.

Danau Toba dengan Pulau Samosirnya sebetulnya tak kalah cantik. Hanya saja (mungkin) kemampuan kita dalam mengelolanya belum mencapai tingkat untuk menjadikannya objek wisata berkelas internasional macam Milford Sound.

4

Tapi pernah ada teman yang sewot gara-gara mendengar impian saya yang menginginkan pariwisata Samosir bangkit. Menurutnya, jika satu daerah sudah diekspos habis-habisan sebagai objek wisata, biasanya pelacuran pun akan tumbuh subur di daerah itu. Jadi dia kurang setuju jika pariwisata Samosir bangkit. Teman saya itu lebih senang dengan keadaan Samosir yang seperti sekarang, yang tidak terlalu terkenal seperti saudara sepupunya, Bali.

Lamunan saya buyar ketika suami mengajak berfoto. Saya pun mengiyakannya. Kapan lagi bisa berfoto berduaan dengan kekasih hati di tengah Danau Toba yang indah? πŸ™‚

10

Sorenya, setelah menuntaskan misi kami sebagai hula-hula di acara adat orang meninggal itu, kami pun pamit kepada seluruh rombongan yang tadinya satu kapal bersama kami. Kami menjelaskan rencana kami yang hendak melanjutkan perjalanan melalui darat menuju Pangururan dan tidak ikut pulang naik kapal bersama mereka.

Lantas dengan apa kami menuju Pangururan? Di sela-sela acara adat, kami mencari informasi tentang kendaraan yang tersedia sampai sore, yang bisa kami sewa ke Pangururan. Tapi kami lupa bahwa kami sedang bepergian di Samosir. Tempat di mana ‘berangkat’ belum tentu berarti ‘berangkat’ dan ‘ada’ belum tentu berarti ‘ada’. Intinya, tempat di mana tidak mudah mendapatkan kendaraan yang bisa digunakan sewaktu-waktu.

Maka alangkah dongkolnya saya, ketika kami diberitahu bahwa kendaraan yang akan kami sewa tidak bisa membawa kami ke Pangururan. Padahal hari itu saya sudah sangat yakin bahwa impian jalan-jalan akan terwujud. Tapi rupanya, yakin saja belum cukup.

Kini tak ada pilihan lain, kami harus pulang. Dan satu-satunya cara untuk pulang adalah dengan kapal yang kami tumpangi pagi tadi. Yang mana menurut perhitungan saya, saat ini pasti sedang bersiap pulang. Kalau kami tak cepat bergerak, kami akan ketinggalan. Dan kalau kami ketinggalan, masak iya kami harus berenang?

Dengan setengah berlari ke arah kapal, saya mendapatinya tengah bergerak mundur. Saya pun berteriak memanggilnya kembali. Untunglah si kapal mendengar teriakan kami dan ia pun mendekat ke arah kami.

lower your expectations

Grand Plan

Di dalam kapal saya duduk bermuram durja memejamkan mata, merenungi harapan serta rencana perjalanan yang berantakan. Sementara bebukitan yang kami lewati di seberang danau sana, berkejaran sambil seolah tertawa terpingkal-pingkal mengejek saya,

“Pulang nih, ye… Kecian, deh, lo. Makanya jadi orang jangan kelewat pede….”

Jika detik itu ada orang yang mengatakan kepada saya bahwa semua itu terjadi karena Tuhan berkehendak lain, dan bahwasanya itu adalah grand plan-Nya, karena Tuhan tidak memberi apa yang kami inginkan melainkan apa yang kami butuhkan, kemungkinan besar orang tersebut akan langsung saya ceburkan ke danau!

Sekarang, tentu saya sudah bisa tertawa terbahak-bahak bila mengingat kejadian itu. Bahwasanya apapun yang terjadi dalam hidup ini, pastilah atas sepengetahuan dan seizin Tuhan. Dan bisa jadi tahun lalu kami gagal jalan-jalan, agar tahun depan ketika kami sekeluarga berkumpul, kami bisa mengelilingi Samosir dalam formasi lengkap.

Tentunya akan sangat bijaksana jika kami menggunakan kendaraan sendiri agar lebih fleksibel berjalan-jalan di Samosir. Entah itu dengan kapal sendiri, mobil sendiri, atau motor sendiri. Maksud saya disewa, bukan beli. πŸ˜€ Mana tahan kalau beli kapal. πŸ˜›

***

Oiya, kejadian ini mengilhami tulisan 32 My Age yang saya ikut sertakan dalam giveaway ulang tahun Jo, di awal tahun 2014 ini. Dan karena kejadian ini juga, kami batal menghabiskan Natal dengan orangtua. Orangtua jadinya merayakan Natal dengan saudara dari pihak ibu yang membutuhkan kehadiran mereka. Sedangkan kami merayakan Natal dengan sanak saudara yang membutuhkan kehadiran kami.

 

9

11

13

14

15

 

Karena kami telah belajar untuk menurunkan harapan, serta mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi dan tak tunduk pada ego kami, sesungguhnya pada Natal tahun lalu kami sudah ‘naik kelas’. Akankah Natal tahun ini kami kembali ‘naik kelas’ ? πŸ˜‰

Untuk yang mau liburan ke Samosir, jangan ragu datang ke sana. Saran saya, jika tak mau repot mikirin transportasi, penginapan dan tetek bengeknya, lebih baik Anda ikut tur yang segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh agen perjalanan Anda dengan baik. Tapi kalau Anda ingin mengalami segala kerepotan itu, maka coba tengok-tengok atau intip-intip ke blog mbak Noni di sini. Ulasan doi cukup banyak mengenai Samosir. Semoga bisa membantu. πŸ™‚

Happy traveling and don’t forget to lower your expectations! πŸ˜€

 

 

 

 

 

 

Grand Palace: Besar, Indah, Megah

Sesuai namanya, Grand Palace, komplek istana yang didirikan pada tahun 1782 dan berluas sekitar 218.000 meter persegi ini benar-benar besar, indah dan megah.

Semoga Anda setuju dengan saya setelah melihat penampakannya di bawah ini. πŸ˜€

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika hendak berkunjung ke sini, saran saya, datanglah pagi sebelum hari semakin panas. Dan jangan lupa bawa topi kalau Anda tak mau sakit kelapa kepala sehabis mengitari komplek ini di bawah matahari terik.

Dengan harga tiket 500 Baht per orang, Grand Palace buka setiap hari dari jam 9 pagi hingga 3.15 sore. Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan cek ke sini.