Tak Ada Gulai di Vietnam

Hampir setahun tak bertemu, saya pangling melihat sodara saya yang tampak telah kehilangan cukup banyak bobot tubuhnya. Apa rahasianya? Continue reading

Advertisements

Roti Canai Satu Ringgit

“Menurutmu, enak nggak, roti canainya?” tanya suami kepada saya suatu pagi saat kami melihat seorang juru masak keturunan India, sedang memasak roti canai di pujasera dekat penginapan.

“Enak,” tebak saya. Melihat royalnya mentega yang dibalurkan pada tiap helai adonan, oleh juru masak yang ternyata bernama Raja itu, saya yakin rasanya enak. Apa, sih, yang nggak enak kalau ditabur mentega?

ROTI CANAI SATU RINGGIT

Suami pun mencobanya seporsi. Rasanya beneran enak. Persis seperti tebakan saya. Saya sendiri belum berminat untuk mencobanya sebagai sarapan pagi itu. Ketika tiba saatnya membayar tagihan, saya mendekati Raja yang kini sedang memasak mi goreng pesanan pengunjung di meja sebelah kami, dan bertanya berapa harga yang harus saya bayar.

“Satu ringgit,” jawab Raja yang juga smiling face itu sambil bergeleng. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata arti dari gelengan kepalanya saat itu adalah bahwa dia menunjukkan rasa hormatnya kepada lawan bicara. Wow… Saya pikir selama ini orang India asal bergeleng, ternyata tidak! Tiap gelengan memiliki arti berbeda. 😀

Tak mengharapkan jawaban seperti itu, nyaris saya tersedak dan nyaris mata saya melotot. Sambil tetap tenang dan mencoba memasang wajah ‘senyam-senyum’ ala politisi-politisi kawakan (seperti yang sering saya lihat di televisi, saat diwawancarai ketika karir perpolitikan mereka diterjang badai), saya merogoh kantong untuk mengambil selembar ringgit berwarna biru. Padahal saya sedang tidak diterjang badai. Hanya saja, saya tak percaya ketika mengetahui jumlah harganya.

Saya tak ingat kapan terakhir kalinya membayar makanan yang dihidangkan dalam pinggan, cukup ‘hanya’ sebesar (dengan kurs saat itu), tiga ribu enam ratus rupiah. Sepertinya sudah lama sekali hingga membuat saya nyaris tersedak. Di Balikpapan sendiri, harga segitu ‘hanya’ bisa mendapatkan sepotong tahu fantasi.

Dua hari kemudian barulah saya berminat mencobanya. Rasanya memang sama sekali tak mengecewakan. Ditambah dengan kuah kari yang menurut saya cukup sebagai bahan bakar bagi tubuh saya, yang bertinggi 163 cm dan berbobot 58 kg ini, untuk berjalan kaki selama empat jam, di mana lagi bisa mendapatkan makanan semurah itu? Beruntunglah Anda yang di Kuala Lumpur sana!

Masih adakah harga sepiring makanan di bawah empat ribu rupiah di tempat tinggalmu, kawans? Kalau ada, ajak-ajak saya dong buat nyicipin. 😀

 

 

Arsik Ayam Ala Chef M

Bosan dengan arsik ikan, saya pun mencoba masak sendiri arsik ayam, yang resepnya saya kombinasi dari resep arsik ikan ala Batak dan resep ayam namargota* tapi tanpa darah. Untuk masakan ini, Anda bisa menggunakan ayam potong maupun ayam kampung. Tapi untuk rasa yang lebih nikmat, saran saya gunakanlah ayam kampung. Kalau ayam jadi-jadian atau ayam kampus, belum pernah saya gunakan. Mungkin ada yang berminat mencoba di dapur masing-masing? 😀

Simak resepnya di bawah ini.

Bahan-bahan:

  • Ayam +/- 1 kg, cuci bersih, potong-potong sesuai selera
  • Lengkuas sejempol, digeprek
  • Sereh 2, digeprek
  • Garam +/- 2 sdm
  • Air jeruk nipis +/- 5 sdm. Menurut pengalaman saya, arsik terasa nikmat jika asam dan garamnya seimbang. Tapi jika kurang asam, silahkan ditambah sesuai selera.
  • Minyak 1 sdm, untuk menumis. Terserah Anda mau memakai minyak apa saja yang bisa digunakan untuk memasak. Asalkan bukan minyak sinyongnyong. 😀
  • Air +/- 350 ml

Haluskan:

  • Cabai rawit secukupnya. Masih menurut pengalaman saya, arsik lebih nikmat dimakan jika pedasnya berasa. Makin pedas, makin maknyus. Tapi kalau Anda tak suka pedas, gunakan saja sekitar 5 rawit.
  • Bawang merah 6 biji
  • Bawang putih 2 biji
  • Kunyit 1/2 cm. Cukup agar ayam tidak pucat dan ada warna kuningnya. Kalau kebanyakan, bisa-bisa rasanya pahit.
  • Jahe sejempol
  • Kemiri 7 biji
  • Andaliman/merica Batak/szechuan pepper +/- 1 sdm. Jika di tempat tinggal Anda tidak tersedia andaliman, gantilah dengan daun jeruk purut yang dipotong kecil-kecil.

Cara memasak:

  • Di atas api sedang, panaskan minyak dan tumis bumbu halus serta bahan yang digeprek hingga harum. Setelah harum, masukkan ayam.
  • Kemudian masukkan air jeruk nipis dan garam. Aduk rata, tutup dan biarkan hingga ayam berubah warna.
  • Masukkan air, biarkan hingga mendidih, lalu kecilkan api.
  • Coba garam serta asamnya dan biarkan hingga air menyusut dan ayamnya empuk. Saya pribadi lebih senang jika kuahnya masih ada dan tidak terlampau kering. 🙂
  • Setelah air menyusut, coba lagi garam dan asamnya. Jika rasanya sudah cocok di lidah, matikan kompor dan hidangkan dengan taburan bawang goreng di atasnya.

Kalau masih ada yang kurang jelas, silahkan ajukan pertanyaan di kolom komentar. Mudah-mudahan bisa saya jawab. 😀

arsik ayam ala chef M

Beta mangan, kedan!**

 

 

 

 

*yang memakai darah
**Ayo makan, kawan!

Dua Jam di Siantar

Siantar

Siantar

Pematangsiantar atau Siantar sering dijadikan sebagai tempat persinggahan jika hendak menuju Samosir dari Medan, via jalan raya lintas Sumatera.

13 sutomo siantar

Nah, jika kebetulan Anda hanya punya dua jam saja di Siantar, lakukan hal-hal berikut:

1. Beli kue di toko kue Ganda

Siantar hampir selalu diasosiasikan dengan toko kue Ganda. Dari saya masih kecil banget sampai sekarang, tokonya masih saja ramai diserbu pembeli. Apalagi kalau pas hari raya seperti bulan Desember yang lalu, masuk ke tokonya sampe harus berdesakan.

Kadang saya kasihan sama toko kue yang berada persis di sebelah Ganda ini. Si Ganda ramai, toko sebelahnya sepi pengunjung. Memang sih, alasan sebagian besar pengunjung datang ke Ganda adalah untuk bernostalgia. Saran saya, belilah roti isi selai srikaya serta roti kelapa.

2. Makan mi pangsit di Mie Pansit Parapat

Belum sah ke Siantar kalau Anda belum makan pangsit Siantar. Ada begitu banyak penjual mi pangsit yang enak-enak di Siantar ini, tapi langganan kami adalah Mie Pansit Parapat yang terletak di Jalan Sutomo. Mi pangsitnya tak pernah mengecewakan. Iya, nama tokonya memang mengandung kata “Parapat”, padahal ia berada di Siantar. 😀

3. Reparasi Jam

Reparasi Jam

Reparasi Jam

Tiba-tiba jam tangan Anda mati di Siantar? Ganti saja baterainya di tukang reparasi jam yang beberapa berada di sepanjang jalan Sutomo.

4. Belanja ke Pajak Horas

Pajak atau pasar Horas adalah pasar terbesar di Siantar. Semuanya ada di sini. Dari mulai sayuran hingga racun untuk tanaman pun ada di pajak ini. Masuklah ke dalam pasar yang berada di Jalan Merdeka ini dan rasakan sensasi berbelanja di dalamnya. 🙂

5. Makan sate dan es krim di Coca Cola Ice Cream Bar

Setelah mutar-mutar di Pajak Horas, haus dan lapar pasti melanda lagi dong kan? 😀 Kenapa? Anda nggak lapar lagi? Ah, itu perasaan Anda saja 😀 . Tapi, lapar nggak lapar, cobalah menikmati es krim dan sate maknyus di toko es krim yang sudah lama berdiri di Jalan Cipto Siantar ini. Lupakan diet kalau sedang berada di Siantar. 😀

6. Last but certainly not least, naik Becak Siantar

6 becak siantar

Becak Siantar

Satu lagi yang sebaiknya dilakukan, agar Anda disebut sah ke Siantar adalah: naik becak Siantar. Konon becak Siantar ini diusulkan agar menjadi benda cagar budaya.

Becak ini paling ramai nongkrong di Pajak Horas. Saya dan suami pernah naik becak ini dari Siantar menuju Tiga Balata. Dengan membayar sebesar tujuh puluh ribu rupiah, tukang becaknya senang, kami pun senang. Nostalgia terbayar. 😀 Tapi Anda nggak perlu mengambil rute sejauh ke Tiga Balata, karena waktu Anda kan hanya dua jam. 😀 Cukup naik becak di dalam kota. Misalnya dari Pajak Horas ke Coca Cola Ice Cream Bar. 🙂

 

Cakwe Tega Rasa

Usai mengurus SIM card yang saya blokir akibat kehilangan iphone, saya mampir di depot mie pangsit ayam yang berada di bilangan Balikpapan Permai. Tujuan saya bukan mau membeli mie pangsitnya, tapi cakwenya. Cakwe mereka, menurut saya, paling enak se-kota Balikpapan 😀 . Maklum, cakwe Medan soale 😀 .

Tiba di depan depot, seorang perempuan muda bercelemek menyambut saya serta merta menanyakan apa maunya saya. Saya perhatikan, bukan hanya cakwe saja yang mereka jual sekarang. Tahu telur, tahu petis dan tahu gejrot juga sudah ikutan nangkring dengan manis di sana 😀 .

Agak keblinger karena saya baru tahu kalau mereka menjual tahu, saya tak bisa memutuskan apakah mau membeli cakwe saja atau cakwe plus tahu. Seolah menangkap ke-keblingeran saya itu, seorang pria berperawakan tinggi kurus, yang berdiri tak jauh dari saya, dengan antusias meminta saya untuk mencoba tahu petis dan tahu gejrotnya. “Nanti kalau kakak sudah coba tahunya, pasti ketagihan. Coba aja, kak,” katanya meyakinkan.

Seolah tersihir oleh antusiasme pria tersebut, saya pun setuju untuk membeli tahu petis, tahu gejrot dan tentunya tak ketinggalan, cakwe Medan. Kalau ternyata rasa tahunya mengecewakan, ya kapan-kapan tidak usah beli disitu lagi. Gampang, kan? Gitu aja koq repot 😀 .

Pria tinggi kurus itu mempersilakan saya duduk bergabung di mejanya, sembari menunggu pesanan saya selesai dimasak dan dibungkus. Dari sisi tempat saya duduk, semakin kelihatanlah kalau rupanya bukan hanya tahu saja yang bertambah dalam menu jualannya. Ada mantau (kue khas Balikpapan berwarna putih-red), bakpau, pisang goreng KFC, lapis Medan, dlsb. “Wah, nampaknya sudah terlalu lama saya tidak singgah ke depot ini sehingga tak tahu perkembangan,” pikir saya.

**

Segelas kopi hitam dan sepiring cakwe menjadi santapannya sore itu. “Ini sarapan saya, kak,” katanya sambil mencelupkan sepotong cakwe ke dalam kopi. Saya ditawarinya juga untuk mencicipi cakwe tersebut. Tapi berhubung tidak lapar, ya saya tolak. Kalau lapar sih, saya embat juga hihihi 😀 .

“Lho, koq sarapan jam segini, Koh?” tanya saya heran. “Maklumlah, kak. Saya kalau masak mantau sampai pagi. Supaya besoknya bisa dijual. Pagi baru tidur dan sore baru bangun. Makanya inilah saya baru sarapan,” jelasnya. Kemudian ia nyerocos panjang lebar tentang bisnis kulinernya yang sudah beberapa kali jatuh bangun. Rupanya ia pemilik cakwe fenomenal tersebut 😀 . Awalnya ia berjualan cakwe, lalu belajar dan belajar lagi membuat makanan lain.

Pandangan saya beralih ke papan nama jualannya yang terbaca jelas dari sisi saya duduk. “Cakwe Tiga Rasa…” gumam saya dalam hati. Eh, bukan. Saya pun menoleh sekali lagi. Yang benar adalah, “Cakwe Tega Rasa.”

Merasa bukan nama yang lazim untuk sebuah merek dagang, saya pun bertanya ke si Koh, mengapa dinamakan Tega Rasa. Ia tertawa dan berkata, “Sudah panjang ceritanya, kak.” Tapi akhirnya ia ceritakan juga kepada saya, panjang kali lebar 😀 . Menurut penuturannya, dulu ia pernah melanglang buana kemana-mana. Kerja di Singapura, Malaysia, Batam, dll. Dari pengalamannya itulah tercetus nama: Tega Rasa.

**

Di tengah serunya ia bercerita, kami tak menyadari kalau seorang pria Bule masuk ke dalam depot. “Mau beli cakwe,” katanya dalam bahasa Indonesia beraksen Inggris. Saya tercengang dan mulut saya pun setengah menganga. Saya mendongak ke arah si bule untuk memastikan bahwa ia memang bule. Mata saya tak percaya 😀 . “Ada bule mau beli cakwe,” kata saya dalam hati. “Pasti dia udah doyan banget tuh makan cakwe. Nggak mungkin ini kali pertama dia membeli cakwe,” kata saya lagi dalam hati sambil mengira-ngira siapa gerangan yang memperkenalkan cakwe kepada si Bule 😀 .

Si Koh pun menyudahi ceritanya dan sibuk melayani si Bule dalam bahasa Inggris campur Indonesia. Selang beberapa waktu, pesanan saya datang. Habis membayar tagihan, saya pun pergi meninggalkan si Koh beserta si Bule dan perempuan bercelemek itu. Sambil berlalu, dengan berteriak saya ucapkan “Semoga sukses terus ya, Koh!” Si Koh yang di tengah cerita kami tadi berhasil menebak asal saya dari Medan, menjawab dengan berteriak juga, “Iya, iya!”

**

Setelah saya coba di rumah, tahu petis dan gejrotnya uenak banget pemirsaaa 😀 . Kombinasi asam, pedas dan manisnya benar-benar TEGA. TEGA banget menggugah selera saya, dan TEGA banget membuat saya jadi ketagihan pengen makan lagi hihihii 😀 . Kalau cakwenya sih sudah pasti enaknya TEGA juga 😀 . Tak salah memang, kalau si Koh memberi nama dagangannya itu dengan: TEGA RASA 🙂 .

tahu-gejrot

foto tahu gejrot dipinjam dari jenzcorner.net

 

tahu-petis

foto tahu petis dipinjam dari www.sambalterasi.com

 

cakwe

foto cakwe dipinjam dari tabloidbintang.com

 

Oya, mohon maaf kalau foto makanannya hanya foto pinjaman dari hasil pencarian di om gugel yah 😀 . Soale si iphone yang setia mengabadikan-momen-apa-saja itu sudah tidak ada lagi 😀 . Saya lagi males pakai kamera DSLR yang gede itu 😀 . Keburu habis dulu makanannya ntar barulah saya jepret hahahaaa 😀 .

 

 

 

Es Teler Panaikang Makassar

Gerobak Es Teler Panaikang Makassar

Gerobak Es Teler Panaikang Makassar di Pasar Kebun Sayur Balikpapan

Beberapa waktu yang lalu, saya beserta teman-teman menemani ibu bos berbelanja batu ke Pasar Kebun Sayur. Batu mulia lho ya, bukan batu bata 😀 . Karena bukan penggemar batu-batuan, saya beserta seorang teman yang juga tidak begitu senang batu mulia, memilih tidak ikut masuk ke dalam pasar. Tapi kalau ada yang mau ngasih batu mulia ke saya, so pasti diterima dong 😀 . Masak pemberian ditolak? Hahaha 😀 .

Disanalah teman saya memperkenalkan saya kepada Es Teler Panaikang Makassar yang menurutnya enak banget. Tempatnya di pojok dekat parkiran sebelah kanan. Saya nggak tahu mengapa ada embel-embel Panaikang. Apakah Panaikang itu nama sebuah tempat di Makassar? Saya pun lupa bertanya kepada si abang penjual es teler.

Seporsi es telernya dibanderol dengan harga delapan ribu rupiah saja. Murah, kan? Murah banget, dong. Rasanya? Wuiihhh, sudah barang tentu tidak murahan. Kalau murahan nggak bakalan saya tulis disini 😀 .

Isinya macam macam. Yaitu pepaya, alpukat, mutiara (terbuat dari tepung sagu), kacang besto (kacang tanah di karamelisasi), gula merah yang dicairkan, susu kental manis, dan terakhir, es batu.

Saking penasarannya, saya perhatikan lekat-lekat si abang penjual meracik minuman tersebut. Yang pertama dimasukkan adalah es batu yang sudah dipecah-pecah, kemudian potongan pepaya dan alpukat yang sudah matang, lalu mutiara, selanjutnya susu kental manis, gula merah, dan puncaknya, kacang besto.

Seporsi Es Teler Panaikang Makassar

Seporsi Es Teler Panaikang Makassar

Melihatnya penampakannya saja sudah mengundang air liur, apalagi kalau masuk ke mulut. Hmm..

Tak menunggu lama, saya aduk es telernya dengan tujuan supaya semua rasa yang terkandung di dalamnya, tercampur rata.

Saya masukkan sesendok es teler ke dalam mulut. Rasanya… Wuiihh.. Unik dan maknyus tralala trilili… Apalagi siang itu udara cukup panas. Maka cocoklah panasnya dinetralkan dengan dinginnya es teler yang mengalir di tenggorokan.

Dan saya baru tahu kalau ternyata pepaya bisa digunakan sebagai komponen es teler 😀 . Mungkin itulah uniknya es teler ala Panaikang Makassar, ya?

Nah, kalau Anda penggemar es-es-an dan mau bikin sendiri dirumah, mudah saja koq. Saya sudah pernah nyoba bikin sendiri dirumah dan berhasil 😀 . Siapkan saja bahan-bahannya 7 macam seperti yang saya sebutkan di atas tadi. Masukkan semua bahan dengan takaran masing-masing 2 sdm (sendok makan). Kalau kurang manis, tambahkan susu kental manis atau gula merah. Atau kalau mau buahnya dibanyakin, silahkan saja 😀 . Makin banyak, makin kenyang 😀 .

Oya, kalau Anda tidak suka pepaya, menurut saya bisa diganti dengan nangka atau kelapa muda atau keduanya 😀 . Bakalan lebih maknyus lagi, deh, tuh 😀 . Dan kalau di tempat tinggal Anda tidak ada yang menjual kacang besto siap pakai, Anda bisa bikin sendiri dirumah. Caranya silahkan klik ke resepnya di sajian sedap. Saya nyontek dari situ soale 😀 . Tapi ingat, bikinnya minus bawang putih, cabe merah keriting dan cabe rawit 🙂

Okelah, selamat mencoba dan bon appetit : ). Semoga rasanya cocok di lidah Anda 🙂

Nasi Ayam Fettucini Beef

chicken rice

Dalam penerbangan dari Jakarta menuju Medan, Desember yang lalu, kuping saya yang agak tinggil (bahasa Batak, artinya tajam/peka -red), tak sengaja menguping pembicaraan antara seorang Pramugari Cantik dan seorang Ibu Menuju Medan. Saat itu si mbak pramugari sedang membagikan makanan….

Pramugari Cantik: Permisi Bu, mau makan nasi ayam atau fettucini beef?
Ibu Menuju Medan: Nasi ayam sama apa….?
Pramugari Cantik: Fettucini Bu. Seperti spageti, tapi yang ini lebih tebal… (pramugari cerdas dan cepat tanggap)
Ibu Menuju Medan: Spageti kalau gitu… Pakai sapi, ya?

Untung si mbak pramugari tetap sabar dalam menjawab dan melayani Ibu tersebut :D. Meski saya tak melihat tindakan yang ia lakukan selanjutnya, tapi saya yakin, si mbak pramugari pasti menyodorkan nampan berisi fettucini satu set lengkap (bukan spageti!), dengan tetap cool dan tak lupa memasang senyumnya yang manis 😀 (*)

(*)Kalau saya (mungkin) sudah habis-habisan ketawa ngakak jika berada di posisi si mbak pramugari 😀 Makanya saya nggak cocok jadi pramugari :D. Ngakak melulu nanti :D.

***

Lumayanlah, pembicaraan tersebut bisa menghilangkan kantuk dan saya tetap melek hingga pesawat mendarat di Kualanamu. 😀

***

Kawans, pengalaman lucu apa yang pernah Anda alami di pesawat terbang?

Chocolate Amer

Juni tahun lalu, sehabis muter-muter di Gardens by The Bay (Singapura) saya dan suami kelaparan. Karena nggak ada pilihan lain, akhirnya kami memutuskan untuk makan di outlet Bakerzin, yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki beberapa menit dari atraksi Cloud Forest.

Itu kali pertama saya menginjakkan kaki di Bakerzin. Kalau mendengar namanya sudah pernah. Karena mereka juga punya beberapa outlet di Indonesia. Tapi entah bagaimana bentuk makanan yang mereka jual, saya tidak tahu sama sekali.

Yang membuat saya tak bisa melupakan Bakerzin hari itu adalah Chocolate Amer-nya. Biasanya kalau kami bertandang ke satu tempat makan yang baru pertama kali dikunjungi, suami pasti bertanya, “Apa menu jagoan kalian?” Karena menurut staf yang melayani kami hari itu, spesialisasi Bakerzin adalah makanan penutup yang manis, maka ia pun menjawabnya dengan, “Chocolate Amer.” Kami pun memesannya sepotong. Dibagi dua dong. Kan, sepiring berdua huahahha. 😀

Nggak, ding. 😀 Dua potong kebanyakan. Kalau misalnya nantinya setelah dirasa nggak cocok di lidah, penyesalannya kan cuma sedikit. 😀 Kalau dua potong, penyesalannya berlipat ganda, Jendral. 😀 Hihihiii. 😀

Beberapa saat setelah selesai menyantap hidangan berat, si Chocolate Amer pun dihantarkan ke hadapan kami. Penampakannya tak meyakinkan. Bentuknya seperti balok berlapis lima. Yang menarik mata cuma bubuk coklat yang ditaburkan merata di lapisan paling atas cake, serta tulisan BAKERZIN kecil pada kertas berwarna keemasan, yang ditancapkan pada pinggir cake.

Suami saya mencobanya duluan. Kepala keluarga harus didahulukan dong. ;D Saya tanya bagaimana rasanya, suami menjawab, “Skala 1-10, nilainya 10.” Saya pun terkejut.

Kalau suami sudah ngomong begitu, saya mah percaya 100 %. 😀 Tak diragukan lagi. 😀

Tiba giliran saya untuk menyantap si cake berwarna gelap ini. Benar memang. Enaaaaaak banget. Coklatnya meleleh di mulut. Perpaduan dari rasa pahit dan manisnya coklat sungguh tak ada duanya. 😀 Dan menurut saya, rasa pahitnya lebih menonjol daripada rasa manisnya.

Sejauh ini, Chocolate Amer yang berarti “bitter chocolate” adalah cake coklat terenak yang pernah saya makan.

Sekembalinya ke Indonesia, saya berniat untuk mereka ulang si Chocolate Amer ini pada ulang tahun suami. Soale Bakerzin tidak punya outlet di Balikpapan. Tapi saya tak menemukan bumbu utamanya di Balikpapan. Yaitu coklat serta bubuk coklat Valrhona. Kue pun batal saya bikin. Valrhona rupanya adalah coklat premium yang berasal dari Prancis. Perkebunan coklatnya sendiri, kata om Wiki, berada di Oseania, Amerika Selatan dan Karibia.

Beruntung kemarin kami menyambangi Mal Kelapa Gading 3 dan menemukan outlet Bakerzin berdiri dengan anggunnya di lantai 1, di antara outlet-outlet lain. 😀

Membayar rindu akan primadonanya Bakerzin, kami pun membawa pulang si Chocolate Amer ke hotel. Kali ini kami pesan dua potong. Supaya si suami dan istri sama-sama puas rindunya terbayar. 😀 Tapi kalau menurut saya, rasanya beda dengan yang di Singapura, terutama bubuk coklat pahitnya itu. Kalau ditanya lebih suka yang mana, tentu saja saya lebih menyukai Chocolate Amer versi Bakerzin Gardens By The Bay.

***

Oya, untuk yang berdomisili di Jakarta, bisa follow twitternya Bakerzin di: @bakerzinjkt

 

 

 

Nachos Cihuy

Bosan dengan cemilan ‘itu-itu’ saja? Well, mengapa tidak coba bikin nachos seperti yang akan saya bagikan resepnya di bawah ini? Dengan saus guacamole yang segar cihuy, dijamin, acara nonton bola atau film atau malam minggu Anda di rumah dengan pasangan tercinta, semakin cihuy :D.

Bikinnya gampang banget dan nggak pake lama. Monggo disimak.

***

Bahan, campur semua:

  • 200 gr daging buah alpukat (haluskan dengan garpu)
  • 1 buah cabai merah besar (belah dua, potong dadu 1/2 cm)
  • 1 buah tomat merah (buang bijinya, potong dadu 1/2 cm)
  • 50 gr bawang bombay cincang
  • ½ sdt garam
  • 1 sdm air jeruk nipis

20131011-123957.jpg

Santap dengan keripik tortilla..

20131011-123447.jpg

20131011-123514.jpg

voila!

20131011-123923.jpg

***

Gampang, kan? 😀 Mau mencoba bikin masakan Meksiko lainnya? Coba yang satu ini: Chicken Quesadillas Sambal Salsa.

Happy weekend and happy cooking dear friends!

***

Sumber resep: Femina.

Lupis Masa Lalu

Makanan apa yang bisa membuat Anda kembali ke masa lalu? Kalau saya, lupis. Dulu, tiap kali Ibu saya pergi belanja ke pasar tradisional, beliau pasti tidak lupa membeli jajanan tradisional seperti lontong atau lupis untuk dibawa pulang ke rumah. Nah, lupis adalah favorit saya. Lontong juga iya sih, tapi belum pernah bikin sendiri :D. Kapan-kapan kalau sudah saya bikin, pasti saya ceritakan disini ;).

Lupis paling enak, yang pernah saya makan hingga detik ini, menurut saya adalah lupis dari pasar Kampung Baru. Ketannya matangnya pas. Tidak lembek dan tidak keras. Ditambah taburan kelapa dan kuah gula merahnya, alamaaakk, air liur saya jadi terbit membayangkan nikmatnya :D.

Setelah merantau di Balikpapan, saya belum pernah menemukan lupis di jual di pasar tradisional sini. Atau mungkin saya saja yang tak pernah mencari :D. Mungkin gara-gara takut kebanting rasanya dengan lupis yang ada di Medan sana, makanya saya nggak pernah ‘berani’ nyari disini hahaha :D.

Tahun lalu, saking sudah lamanya saya nggak makan lupis, saya coba bikin sendiri dirumah. Resepnya dapat dari Mbah Gugel dong :D. Ternyata gampang sekali bikinnya. Yang agak ribet adalah momen-momen melipat daun pisang dan menyematnya dengan lidi :D. Karena tak punya lidi, saya pakai tusuk gigi. Yang penting judulnya sudah disemat supaya ketannya nggak kemana-mana ketika direbus :D. Tapi namanya juga tukang masak amatiran, tetap saja ketannya meleber kemana-mana, wong menyematnya ala kadarnya gitu :D. Daaan, ketan bikinan saya belum bisa berbentuk segitiga rapi seperti lupis pada umumnya :D. Bentuknya segitiga suka-suka hahaha :D.

20130908-171450.jpg

Ketika akhirnya lupis perdana saya jadi, hati langsung menjerit senang, “Maak, aku sudah bisa bikin lupis sendiri.” Begitu dimakan, wajah Ibu saya langsung terbayang-bayang. Wajahnya yang dulu ketika beliau pulang belanja ke rumah membawa lupis kepada anak-anaknya, langsung terbayang-bayang di tiap potongnya :’).

Mudah-mudahan nanti kalau punya anak, sukanya sama lupis juga. Maksudnya biar emaknya nggak capek masak yang lain-lain lagi hahaha :D. Trus ntar dia nulis juga di blognya (atau di majalah, atau dimanalah, terserah dia :D) kalau emaknya suka bikin lupis dirumah.. Hahahah 😀 Khayalan tingkat tinggi :D.

Okelah, langsung saja, berikut ini resep lupis ketan yang sudah saya padu-padan dari beberapa resep di Mbah Gugel.

Lupis Ketan (untuk +/- 12 porsi)

Ketan:

  • 400 gr beras ketan putih, cuci bersih, tiriskan
  • 2 sdt air kapur sirih (gunanya supaya ketan legit)
  • Daun pisang untuk membungkus, potong-potong
  • Lidi atau tusuk gigi untuk menyemat daun

Taburan:

  • Kelapa parut 1/2 butir aduk bersama garam 1/2 sdt, kukus (+/- 5 menit) supaya tidak basi.

Kuah, rebus, saring:

  • Gula merah 200 gr
  • Air (+/- 100 ml)

Cara membuat:

  • Untuk ketan: campur beras ketan dan air kapur sirih. Ambil dua lapis daun pisang, bentuk kerucut, isi ketan sebanyak 3/4, lipat, semat lidi. Lakukan sampai beras habis. Kalau tidak punya daun pisang, pakai plastik khusus untuk masak bisa katanya, tapi saya belum pernah coba. Dan kalau malas bikin bentuk segitiga, bikin saja seperti lontong. Setelah matang, ketannya dipotong-potong. Simpel :).
  • Rebus 2-3 jam hingga matang.
  • Sajikan lupis dengan taburan kelapa dan kuah gula merah. Maknyus :D.

Gampang, kan? Selamat mencoba! 🙂

20130909-083717.jpg