Cara Menemukan Tempat Makan Enak (Kalo Kamu Lagi Traveling)

Baca review atau ulasan di mesin pencari dengan kata kunci, ‘tempat makan enak di Samosir’, ‘tempat makan enak di Jogja’, atau ‘tempat makan enak di Bandung’, misalnya, sah-sah aja sih sebenernya, tapi saya enggak pernah melakukan opsi ini.

Ngintip akun media sosial food curator atau kurator makanan pernah saya lakukan beberapa kali sampai akhirnya satu waktu saya keracunan makanan dari salah satu tempat makan yang dipromosikan oleh sang kurator di akun medsosnya. Mungkin waktu itu saya lagi apes aja makanya sampe mesti nginap satu malam di rumah sakit. Tapi setelah kejadian itu saya kapok dan enggak pernah mau dengar lagi apa pun yang dipromosikan si kurator di akun medsosnya. πŸ˜€ (ho oh, selain gak tegaan, daku anaknya kapokan juga πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ ) #lemparpisangkapok #kalogakadapisangkapokpisangkepokpunjadi πŸ˜€ πŸ˜€

Jadi yang paling efektif menurut pengalaman saya…

  • Dengerin rekomendasi orang lokal. Entah itu supir, pemandu, temen, atau sodara kamu yang tinggal di kota destinasi. Tambah afdol kalo mereka yang kamu tanyain itu emang suka nyobain makanan juga.

  • Yang tempatnya rame. Biasanya makanannya enak juga. Tapi tempat sepi belum tentu enggak enak lho. Saya dan suami pernah masuk ke satu resto yang sepi di Tangerang. Awalnya kami ragu saking sepinya. Tapi setelah melihat daftar menu yang koq keknya oke, kami pun masuk dan memesan salad jamur serta pancake coklatnya yang olalaa… enak banget! Jadi jangan terkecoh kalo sepi. You might find a gem. πŸ™‚

  • Yang berasap. Ini paling cocok kalo dipraktekin di daerah dingin macam Samosir dan sekitarnya. πŸ˜€

Jadi gini ceritanya… (para pembaca dimohon gelar tikar ama nyiapin krupuk buat ngemilΒ karena ceritanya panjang…Β πŸ˜€ πŸ˜€ )

Rasanya baru sekejap berkeliling di Bakkara, tau-tau hari udah gelap dan perut kami udah keroncongan. Terakhir kali kami ketemu makanan berat adalah sewaktu rehat siang di Pangururan sekitar jam satu. Apalagi jika berada di daerah dingin perut cepat sekali rasanya lapar. Energi habis untuk menjaga tubuh tetap hangat. Pertanyaan ‘makan di mana kita’ akhirnya muncul. Kami pun berdebat apakah hendak mencari makan di Dolok Sanggul, atau cari tempat makan lokal di Bakkara.

Tapi masalahnya adalah, itu kali pertama kami ke Bakkara dan tiada saudara maupun keluarga yang bisa dimintai pendapat ‘di mana tempat makan paling rekomended di Bakkara’. Supir kami pun bukan orang lokal. πŸ˜€ Mau nyari di gugel, duh, plis deh, masa apa-apa pake gugel? Manja amat. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Trus gimana dong?

Bapak saya, yang juga pencinta makanan itu, punya jawaban canggih:

β€œTadi sewaktu kita melewati jalanan… ada kulihat satu warung namartimus… aku yakin masakan mereka enak…” ujar beliau.

Warung namartimus adalah warung sangat sederhana yang cara masaknya menggunakan kayu sehingga berasap.

Kalo orangtua ngasih pendapat, biasanya jarang meleset. Paling-paling kalau pun keliru, itu kemungkinan karena salah ucap istilah, seperti yang terjadi di insiden es cendol. πŸ˜€ Atau barangkali cara penyampaiannya yang enggak cocok ke kita anak-anak muda, tapi biasanya pesennya bener. πŸ˜€ Apalagi orangtua sudah lebih lama mengecap asam garam di dunia persilatan ini. πŸ˜€ Jadi tentu pengalaman mereka udah lebih banyak dari kita sehingga layak didengarkan. πŸ˜€

Maka sewaktu hari benar-benar udah gelap pekat, kami pun menepi di dekat warung yang dimaksud bapak. Setelah masuk, kami memesan satu-satunya menu yang tersedia, yakni ikan nila bakar yang kalau menurut kakak yang menyatat pesanan kami malam itu, β€œIkannya kecil-kecil…..”

Bagi kami yang udah kelaparan, ukuran ikan bukan lagi masalah. Kami akan menyantap entah sebesar apa pun ukuran ikan yang akan disuguhkan. πŸ˜€ Dan benar saja, begitu ikannya muncul (yang mana kalau menurut kami ikannya bukanlah kecil-kecil, melainkan besar-besar πŸ˜€ ), air liur saya langsung terbit melihat betapa seksinya ia dengan jejak kehitaman berkat proses pemanggangan, serta sambal tombur yang dibalur di atasnya. Saya pun serta merta mengambil irisan jeruk nipis yang disediakan dan meneteskannya di seluruh ikan, dan segera menyantapnya. Maknyus! πŸ˜€

(foto ikan nila bakar tombur di atas cuma ilustrasi. berhubung malam itu pencahayaan di warung tidak mendukung kamera henpon untuk mengabadikan si ikan, maka kamera yang saya gunakan untuk menangkap gambar adalah mata saya, sehingga tak ada foto ikan bakar yang bisa diaplot di sini. πŸ˜€ )

Jadi bapak saya benar, ikannya enak. Bahkan enak banget kalo menurut saya. πŸ˜€ Sangat beda dengan makanan yang kami santap di Pangururan beberapa jam sebelumnya yang disajikan dingin. Manalah hari pun dingin, disuguhi makanan dingin pula, jadinya dingin kuadrat. πŸ˜€ πŸ˜€

Karena kami terkesan dengan warung namartimus pilihan bapak di malam sebelumnya, maka keesokannya ketika tiba di Samosir, kami pun mencari warung namartimus lainnya untuk makan siang. Eh ketemu, dan masakannya enak pula!! πŸ˜€ πŸ˜€ Tapi siang itu di Samosir saya tidak memesan ikan bakar, melainkan babi panggang yang rasanya enak banget! πŸ˜€

  • Yang beraroma harum. Seperti lumpia Malioboro di Jogja.
  • Resto penginapan. Kalo penginapan kamu ada restonya, cobalah makan di sana. Beberapa kali saya pernah makan siang atau malam di penginapan dan masakan mereka selalu menyenangkan saat disantap. Karena biasanya juru masak penginapan memang adalah orang-orang yang handal memasak. Kadang orang ragu atau langsung berasumsi jika makanan di penginapan itu mahal. Padahal belum tentu. Dan kalau mau itung-itungan, biaya transport yang dikeluarin untuk makan di luar penginapan malah bisa jadi sama dengan biaya makan di penginapan.

  • Rumah sendiri. Buat saya yang anak perantauan, pulang kampung ke rumah orangtua judulnya adalah traveling. πŸ˜€ Dan apa pun yang dimasak oleh ibu, buat saya selalu enak. πŸ˜€

Beberapa tahun lalu keluarga besar kami berlibur dan berkumpul merayakan akhir tahun bersama orangtua kami. Satu waktu, adik saya yang paling jangkung menyadari bahwa sejak pagi sampe malem, ibu selalu ia jumpai sedang sibuk β€˜berkarya’ di dapur.

So my brother asked why she always looked so busy in the kitchen from early in the morning sampe malem.

Ibu bilang, β€œKalo mama enggak masak, kita mau makan apa, nak? Kita mesti makan tiga kali dalam sehari. Pagi siang malam.”

At that time, i don’t really know how my mum manage it (perhaps becoz at that time i don’t really love cooking so i didn’t pay much attention on how she did it), but ibu saya cepat sekali memasak. Macam sim salabim. Dalam waktu kira-kira satu jam, tau-tau udah kelar aja tuh masak lauk, sayur, ama nasi. Kami anak-anaknya ya palingan cuma bantu ngerecokin dan bantu ngabisin makanan. 😁😁😁😁

Kalo kamu pernah lihat Jamie Oliver’s 15 Minute Meals, yakni acara memasak dari yang tadinya nihil or mentah, trus sim salabim lima belas menit kemudian udah kelar aja tuh makanan buat disantap oleh dia dan kru-krunya dia, nah kira-kira kek gitulah ibu saya masak. 😁😁 (tapi beliau gak pake acara ngobrol-ngobrol or jelasin ini ina inu ke kamera macam si Jamie ya) 😁😁

Pokoknya ibu kalo masak udah kayak enggak pake mikir lagi gitu. Tangannya udah otomatis ngeracik ini, bikin itu, tambahkan anu, potong cabe, masukin kecap, bla bla bla, dan voila, hasilnya seringkali enak serius. 😁😁😁

 

 

 

 

 

Advertisements

When in Medan, Eat Like Medanese

“Hari ini jalan kemana kita?” pagi itu bapak bertanya kepada saya yang baru saja bangun dari tidur.

“Kemana ya?” saya balik bertanya. Saya enggak ada ide. Atau tepatnya belum ada ide. Karena, jujur, sebangun tidur langsung ditodong pertanyaan mahapenting kek gitu saya belum mampu jawab karena kesadaran saya belum terkumpul sepenuhnya. πŸ˜€

Sehabis sarapan dan mandi, barulah saya mampu berpikir agak serius hendak kemana kami jalan hari itu. πŸ˜€

Beberapa hari sebelumnya, sewaktu mandi di kamar mandi (ya iyalah di kamar mandi, masa di ruang tamu? πŸ˜€ ), momen sewaktu salah satu tante saya membawa kami makan-makan di salah satu resto di dekat pasar yang kalau tidak salah berada di dekat Thamrin Plaza, tiba-tiba berkelebat di benak saya. Nama kwetiau belacan dan mie kangkung belacan pun ikut berkelebat juga. Tapi saya tidak ingat nama pasarnya.

“Gimana kalau kita minum es cendol di Pasar Rame?” bapak memberi masukan. Beliau juga salah satu petualang kuliner. Maka kalau bapak ada rekomendasi, biasanya rasanya pun bisa dipercaya. πŸ˜€

“Pasar Rame? Yang di sebelah mana itu, pa?” sambar saya. Harap maklum, mantan anak Medan udah banyak lupa di mana letak ini-itu di kota metropolitan nan ramai ini. πŸ˜€

“Dekat Thamrin Plaza,” jawab bapak.

Jeng jeng! Koq bisa jadi agak-agak sinkron gini ya dengan memoriku kemaren dulu?Β Saya membatin.

Saya pun menceritakan momen traktiran tersebut kepada orangtua saya dan akhirnya kami bersepakat jalan-jalan ke pasar yang ternyata bernama Pasar Rame itu. Sebenarnya secara resmi tertulis Pasar Ramai. Tapi di mulut anak Medan, ‘ai’ berubah menjadi ‘e’. πŸ˜€ Jangan tanya kenapa. πŸ˜„

Menurut ibu saya, resto yang saya maksud udah tutup dan udah diganti sama toko kain. “Tapi di dalam Pasar Rame masih ada yang jualan kwetiau belacan koq,” ujar ibu memberi harapan.

Sesampai di pasar, kami mengambil tempat duduk di tempat penjual kwetiau belacan dan memesan kwetiau serta cendol yang dimaksud bapak tadi. Penjual cendolnya tidak berada di tempat yang sama dengan si penjual kwetiau, tapi bisa dipesan dan diantar ke tempat di mana kami duduk.

Penampakan awalnya memang menjanjikan. Tapi kenapa kwetiaunya agak berkuah? Seingat saya kwetiau belacan tak berkuah. Dan setelah dikunyah, makin lama rasanya makin eneg. 😐 Saya pun bertanya-tanya. Apa mungkin saya yang lupa antara mie kangkung belacan atau kwetiau belacan? Soale emang udah lama banget sih rentang waktu antara traktiran tante dan sekarang. πŸ˜€ Besar kemungkinan saya lupa namanya. πŸ˜€ Tapi saya ingat rasanya enak banget. Itu sebabnya saya ingat. πŸ˜€ Umumnya cuma dua jenis momen yang paling diingat manusia. Yakni yang paling enak, dan yang paling enggak enak. πŸ˜€ πŸ˜€

Cendolnya pun tidak seperti yang diharapkan bapak. Masa satu mangkok isinya cuma cendol hijau? πŸ€”πŸ€”

Selidik punya selidik, ternyata es cendol yang bapak maksud adalah adalah es campur berisikan cendol, cincau hitam, tape ubi/singkong, dll. Jadi bapak salah ucap. Mestinya nyebutnya es campur, bukan es cendol. πŸ˜€

Rasanya pun manis banget. Manis banget tapi abis! Gimana sih?? 😁😁 Abisnya Medan panas tenan bok. Jadinya kuembat sampe ludes. 😁😁

*

Selagi menunggu orangtua saya kelar dengan makanannya, saya ‘cuci mata’ ke toko sebelah melihat berbagai macam kue dan camilan terbungkus rapi serta disusun menarik mata.

yakinlah, kue-kue ini semuanya enak! πŸ˜€

 

Dan Pasar Rame ternyata adalah bandar manisan tertua di kota Medan! 😊

Dari Pasar Rame kami berjalan kaki ke Thamrin Plaza yang letaknya bersebelahan dan membeli beberapa potong kue pukis yang konternya berada di lantai paling dasar. Seingat saya, toko pukis ini dulunya juga langganan kami kalo ke sana, dan ternyata masih ada. Rasanya pun masih tetep enaak!! 😁😁

Pulangnya, kami berjalan ke arah resto yang saya ingat sebagai resto tempat tante mentraktir kami dulu. Berhubung masih agak kecewa dengan kwetiau belacan di Pasar Rame tadi, saya berharap-harap, kali aja kalo saya lewat di depan situ tokonya tiba-tiba berubah menjadi resto kwetiau belacan fenomenal tersebut. 😁😁 Eh, ternyata enggak. Beneran udah ganti. 😁😁

Di hari lainnya kami mampir di Ramadhan Fair yang berlokasi di areal Mesjid Raya Medan. Niatnya mau berburu hidangan buka puasa seperti kolak, kacang hijau, dkk; tapi yang ada malah ketemu sama kerak telor Betawi. 😁😁😁

Beberapa tahun lalu, pacar saya pernah memesan kerak telor buat kami berdua dan saya kurang suka karena rasanya aneh. Mungkin karena waktu itu masih dalam masa pedekate, seenak apa pun makanan rasanya jadi aneh dan enggak jelas. #yakali 😁😁😁 Sejak itu saya kapok sama kerak telor. 😁😁 (tapi sama pacar waktu itu saya bilang rasanya enak. biar hatinya seneng πŸ˜„πŸ˜„)

Adalah ibu saya yang pertama kali memesan kerak telor ini di Ramadhan Fair. Sewaktu si kerak telor akhirnya terhidang di meja, saya menyicipnya sedikit dan ternyata….. rasanya enaaak!! πŸ˜„ Serundeng kelapanya terasa banget! πŸ˜‹πŸ˜‹ Saya pun memesan satu lagi buat diembat sendiri. πŸ˜„πŸ˜„

Sehari sebelum saya pulang, ibu mengajak sarapan mie pangsit di pasar yang juga ada embel-embel ‘ramai’, yakni Pasar Sukaramai. Pasarnya agak semrawut tapi mie pangsitnya enak. 😁 Persis di dekat toko penjual mie pangsit ini ada penjual kue-kue tradisional yang belakangan udah semakin jarang saya temukan.

Sebetulnya masih ada lontong, nasi uduk, lupis, cenil, serta berbagai gorengan yang bisa diperoleh hanya dalam radius beberapa meter saja dengan berjalan kaki pagi-pagi dari rumah orangtua saya jika hendak berburu sarapan. Dan jika dipesan kesemuanya, katakanlah masing-masing satu porsi, cukup dengan membayar sekitar dua puluh dua ribu ‘saja’. Astaga!! πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Sungguh saya pengen pindah ke Medan aja kalo inget betapa mudahnya dapet makanan dengan harga terjangkau kayak begini dan enak pula, dan dekat orangtua juga! 😁😁 Tapi berhubung kecepatan jari-jari tangan saya menjepret tidak berbanding lurus dengan kecepatan mulut saya ngunyah makanan, maka monmaap foto lontong beserta kawan-kawannya enggak ada. 😁

 

 

 

 

Joglo Mandapa, untuk Ketenangan Jiwa di Jogja

Saking kerennya tempat ini, sebenernya enggak pengen ditulis di sini sih, biar enggak hip. πŸ˜†πŸ˜† Cuma.. yang menentukan apakah satu tempat akan menjadi hip atau tidak kan bukan saya yah? Melainkan algoritma om gugel yekan? 😁😁 (bercanda woy) πŸ˜πŸ˜πŸ˜…πŸ˜…

Tapi gara-gara kemarin di twitter ada yang nanya rekomendasi kafe di Jogja dengan kriteria: yang suasananya tenang untuk kerja, wifi nyala dan bekerja baik, ada makan minum gak cuma kopi, harga masuk akal (sebanding sama ambience dan rasa makanan/minuman); saya gak tega menyimpan informasi tempat ini hanya buatku seorang. XD (iyes, daku orangnya gak tegaan. apalagi kalo menyangkut makanan enak. 😁😁) ya udah akhirnya saya kasitau aja bahwa hotel Joglo Mandapa ini Cengkeh Restonya rekomended banget. Manatau cocok buat dia. Sharing is caring kan? πŸ˜‰

Jadi kami enggak sengaja nemu tempat ini pas browsing-browsing nyari penginapan di Jogja dengan kriteria:

β€’ Yang bikin kantong senyum meriah a.k.a enggak bikin bolong dan masih cukup buat ongkos pulang ke Kalimantan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

β€’ Mesti ada joglo-joglonya. Karna koq rasanya gimana gitu ya.. pergi ke Jogja tapi nginepnya di hotel berdesain minimalis kekinian koq kayaknya kurang nendang aja. Apalagi Jogja masih kental dengan wisata budayanya kan? Jadi ya tema liburannya biar merasakan tinggal di bangunan khas Jogja lah. Macam gitu kira-kira. 😁😁

Dari pusat atraksi utama (well, buat saya patokannya Malioboro) ke hotel ini sekitaran 15-20 menit dengan jalanan lancar. Emang sengaja nyarinya enggak di pusat kota karena sehari-hari udah di pusat kota. Ya masa liburan di pusat kota juga? Apa bedanya? Mending di rumah aja gak usah liburan. 😁😁 Jadi kami pengen menyepilah judulnya. Mencari ketenangan, menjauh dari kebisingan. (udah kayak judul buku enggak sih ini?) πŸ˜†πŸ˜†

Tempatnya menjawab semua kebutuhan kami. Look at the bedroom. Interiornya minimalis. Enggak banyak cengkunek kalo kata anak Medan. 😁😁

Lobi hotelnya yang mungkin β€˜Jogja banget’ itu pagi-pagi udah bermandikan cahaya matahari bikin saya betah baca buku.

Makanannya, alamak! For me, another best part of this hotel was their awesome food. Siap-siap ngiler liat penampakannya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Selama di sini sarapannya enak bergizi. Dan yes, saya perbaikan gizi selama nginap di sini. Pagi-pagi selalu dikasih susu sama buah, gimana enggak makin sehat saya pulang ke Kalimantan? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Meski letaknya agak jauh dari mana-mana, Resto Cengkeh-nya siap bikinin kita minuman atau makanan dari pagi sampe jam sepuluh malem.

Satu hari, gara-gara sakit, saya terpaksa tinggal di hotel seharian. Karena perut saya udah nangis-nangis minta diisi, saya pun turun ke restonya buat makan siang. It was Christmas. Tamu-tamu lain pada jalan keluar, jadi saya sendirian aja di restonya yang didekor dengan anggun itu.

So i ordered ikan acar kuning dan manuk nom. Simply becoz kedua menu inilah yang di-highlight di baliho raksasa Cengkeh Resto yang digantung di parkiran hotel.

Rasanya?Β Wow!Β Petjah di mulut!Β Potongan kunyit segar terasa menyatu dengan ikan dan bumbu-bumbu lain.

Manuk nomnya?

Dominan oleh rasa tape ketan yang manis asam segar, dikunyah bersama melinjo. Unik!

Menurut chef-nya, manuk nom artinya burung muda. Kelihatan sayap burungnya kan dalam foto di atas? πŸ™‚ Itu tuh, melinjo dua biji nancep di kiri kanan. πŸ™‚ Kepala burungnya yang warna merah nyempil itu. Trus yang warna ijo nyempil dikit di kepala, itu paruhnya. πŸ™‚

Satu lagi yang bikin kami merasa sangat beruntung nginap di sini adalah, kami bisa mendengar permainan gamelan. Yes, gamelan!

Ternyata Joglo Mandapa rutin memainkan gamelan dua kali seminggu. Dan kebetulan kami nginap di hari-hari mereka memainkannya. πŸ™‚ Ah, what a blessing huh? πŸ™‚

Ning nang ning nong

Ning nang ning nong

Ning nang ning nong

Ning nang ning…. goooong

😁

Alunannya…. bikin jiwa adem….

 

Pokoknya kalo pengen merasakan Jogjakarta yang sebenarnya, nginap di Joglo Mandapa aja. πŸ˜‰

 

 

 

 

 

Lumpia Malioboro

Karena satu dan lain hal, rencana semula mampir ke Mirota, yang ternyata udah sekitar dua tahun berganti nama menjadi Hamzah Batik, terpaksa berganti.

Hari mendung, agak gerimis. Saya berjalan kaki menyusuri jalanan Malioboro yang terkenal itu. Melewati pasar Beringharjo, kuda, becak, penjual batik dan oleh-oleh tumpah ruah.

Di dekat hotel Mutiara langkah terhenti gara-gara harumnya aroma yang cukup tajam (yang saya yakini adalah aroma gorengan), menggoda penciuman.

Ternyata benar.

Tak jauh dari tempat saya berhenti terdapat gerobak kaki lima menjajakan lumpia dengan dua pilihan, yakni ayam atau spesial. Yang ayam berisi sayur dan ayam, sedangkan yang spesial berisi sayur, ayam, plus telur puyuh.

β€œHarum amat lumpia gorengnya….” saya menyapa mas-mas yang sedang sibuk menggoreng lumpia di dalam kuali lebar.

β€œIya… minyaknya baru terus makanya harum… Ini ada lima jirigen minyak baru….” jelasnya sukarela sambil menatap ke arah minyak-minyak dalam jirigen di dekat kakinya.

Berhubung cuma nambah lima ratus perak buat dapetin yang spesial, pilihan saya pun jatuh kepada yang spesial. Saya pesen satu. Pengen nyoba dulu. Kalo misalnya gak cocok di lidah biar gak mubazir. Ntar kalo cocok bisa nambah lagi.

 

β€œMakan sini atau bungkus?” tanya si abang sembari tangannya sibuk mengaduk penggorengan.

β€œMakan sini….”

β€œDuduk dulu ya….”

Saya melihat sekeliling dan memilih duduk di dekat si abang agar leluasa menyaksikan dia beraksi, sekaligus agar lebih dekat dengan aroma gorengan yang harum banget itu.

Enggak nunggu lama, ia menyerahkan piring kecil berisi lumpia, acar timun (kalo gak salah), rawit tiga biji, dan di atas lumpia ada semacam sambal putih yang juga harum, yang ternyata adalah campuran dari bawang putih dan bengkoang mentah.

Garamnya gak banyak, sayurannya seger, bumbunya mantep, kriuknya pas. Sedap! Cocok banget dikunyah pas dingin-dingin gerimis.

Dua perempuan berjalan melewati gerobak sambil memerhatikan kami para pengunjung yang duduk menikmati lumpia hangat.

Setelah ngobrol sejenak, mereka akhirnya memutuskan membeli beberapa biji lumpia ayam untuk dibungkus.

 

Rasa emang berbicara. Makin lama, antrean yang beli makin rame. Enak, seger, terjangkau, pasti dicari orang.

 

 

Gogalbi, Finally

Di salah satu tanjakan di daerah MT. Haryono Balikpapan, ada satu tempat makan yang kalo malam hari selalu terlihat remang-remang romantis dari jalanan. Suami saya beberapa kali pernah nyeletuk kalo suatu hari nanti kami harus menyambangi tempat yang terlihat ‘amat mengundang’ tersebut.

Kesempatan itu akhirnya datang beberapa hari yang lalu. Kebetulan, ibu saya sedang berkunjung ke Balikpapan. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua XD, kami pun berencana membawa nyokap makan malam di sana.

Dari rumah kami berangkat jam tujuh malam. Cocoklah untuk jam makan malam kan? Tapi tak dinyana, sesampainya di resto, parkiran di dalam dan bahu jalan, penuh. Mungkin emang belum rezeki kali ya?

Selang dua hari, suami saya kembali mengajak makan malam di sana. Kami berangkat terpisah. Saya menemani nyokap ke pelabuhan feri Kariangau, suami melayat salah satu kawan yang kebetulan berkampung halaman sama dengan kami.

Long story short, karena perjalanan pulang dan pergi ke pelabuhan Kariangau memakan waktu sekitar satu jam, maka saat jarum jam berhenti di jam empat sore, saya menghubungi suami agar kami bertemu di tempat makan tersebut sekitar jam enam sore. Apalagi dari pelabuhan saya harus mampir dulu di spbu untuk isi bensin, karena tangki udah nyaris kandas.

Saya enggak nyangka kalo perjalanan ke pelabuhan feri Kariangau ternyata lumayan jauh. Dan enggak nyangka kalo ternyata di sepanjang jalan sekitar 11 kilometer (kalo pergi-pulang totalnya 21 km) itu, tiada nampak satu pun tanda-tanda kehidupan dari spbu. XD Ampun dj lah pokoknya. XD Ayo dong para investor yang bingung duitnya mau dikemanain, bikin spbu noh di sono. πŸ˜€Β  Jalanan udah mulus beraspal lho. πŸ˜€

Kariangau sore itu tampak lengang. Ada 16 kapal yang siap membawa penumpang berkelana ke Penajam, Mamuju, dan Palu. Beberapa orang duduk bersila di ruang tunggu. Truk-truk tangki pertamina nongkrong manis di parkiran. Lagi-lagi saya enggak nyangka kalo pelabuhan feri ini ternyata bersih sekali. Enggak ada ekspektasi macem-macem sih sebetulnya, apalagi ini kunjungan perdana saya ke sana. Cuma kaget aja gitu ngeliat pelabuhan bersih. πŸ™‚

Petugasnya juga ramah-ramah. Salah satu bahkan cukup lama ngobrol dengan nyokap. XD Sejak saya beranjak dari sisi nyokap untuk berkeliling sembari mempelajari situasi (baca: jeprat-jepret πŸ˜€ ), hingga kembali ke sisi nyokap, mereka berdua belum kelar ngobrol. XD XD XD XD XD

Nyokap emang paling bisa ngobrol berjam-jam. Kayak ibunya Vivi dalam bukunya Mother Keder Emakku Ajaib Bener. Udah baca bukunya? πŸ˜€

Some might find it quite annoying, some might find it sweet. Tapi itulah nyokap. Dan hal itu tak membuatnya menjadi kurang manusia. πŸ™‚

*

Perjalanan pulang justru lebih cepat dari pergi. Menurut ibu saya, itu karena sewaktu pergi tadi kami masih dalam moda ‘meraba-raba’. Bertanya-tanya ini dimana itu dimana, apakah masih jauh, kenapa enggak ketemu-ketemu, dlst. Kami memang sempat berhenti di salah satu warehouse milik perusahaan oil & gas, sewaktu jalanan yang dilalui rasanya udah berkilo-kilo tapi si pelabuhan tetap belum terlihat.

β€œMasih sekitar lima kilometer lagi dari sini. Nanti ada tanda-tandanya koq,” jelas petugas sekuriti warehouse yang sore itu tak mengenakan atasan sama sekali. Mungkin saking panasnya hari, ia kegerahan dan merasa perlu buka baju.

Saya sengaja enggak pakai googlemap atau bantuan semacamnya agar tak terlalu bergantung kepada gadget. Bagaimanapun, kalau enggak perlu-perlu amat, interaksi dengan manusia tetap pilihan terbaik daripada menunduk memelototi henpon pintar.

*

Urusan selanjutnya adalah mencari spbu. Di Balikpapan kota minyak tercinta ini ada satu spbu yang letaknya sebetulnya strategis karena lumayan ramai dilewati kendaraan, dan dekat daerah perkantoran serta pemukiman. Tapi yang bikin saya heran adalah, mengapa antriannya tak pernah tumpah ruah hingga ke bahu jalan seperti yang sering terjadi di spbu lain? Padahal mereka punya segala jenis bahan bakar yang dicari konsumen. Berhubung spbu tersebut adalah yang terdekat dengan rute yang saya lalui, saya pun menemukan jawabnya sore itu.

Menurut pengamatan saya, desain pintu masuk dan keluar, serta letak tembok belakang dan mesin spbu yang terlalu dekat membuat flownya enggak enak, enggak cocok dengan kebutuhan masyarakat.

Trus, letak tutup tangki tiap mobil kan beda-beda ya. Nah, kalo kebetulan tutup tangki mobil di sebelah kiri, dan jenis bahan bakar yang kita butuh cuma bisa diisi dari sisi kanan oleh mas-mas atau mbak-mbak petugas spbu-nya, alamat ‘bola-bola’ dah tuh. (‘bola-bola’ adalah istilah anak Balikpapan yang artinya: kacau πŸ˜€ ) Pengemudi tak leluasa memutar kendaraan.

Sedangkan di spbu yang antriannya sering tumpah-ruah hingga ke bahu jalan, desain mereka biasanya kek gini:

Flownya lebih enak.

Setelah sempat antri beberapa menit dan menyaksikan kehebohan mobil lain yang tutup tangkinya sama-sama di sebelah kiri seperti mobil saya, saya pun memilih segera cabut dari sana dan memacu mobil menuju spbu yang letaknya agak jauh namun flownya enak dan enggak bikin dongkol. πŸ˜€

*

Jam lima lebih sedikit saya dan nyokap akhirnya tiba di Gogalbi. Itu dia nama restonya. Lucu ya? Sekilas terdengar seperti ‘jogalmi’ dalam bahasa batak. Artinya kurang lebih: kamu keras kepala. XD

Cek punya cek, spesialisasi mereka ternyata daging panggang sodara-sodara. Lantas apakah dagingnya keras seperti si jogalmi tadi? πŸ˜€

Masih ada waktu sekitar satu jam dari janji temu kami jam enam sore dengan suami. Saya pun memanfaatkan waktu kosong ini untuk berkeliling (baca: jeprat-jepret πŸ˜€ ). Mungkin karena restonya satu lokasi dengan Primafit Sports & Wellness, lahan parkir jadinya terbatas. Di satu sisi pengunjung pengen nongkrong plus makan-makan, di sisi lain ada pengunjung yang pengen olahraga doang.

Bagi pengunjung yang males cari parkiran, sangat saya sarankan untuk pake gojek atau grab aja kalo pengen dateng ke Gogalbi. (inilah salah satu alasan penting kenapa masyarakat sangat butuh transportasi berbasis aplikasi wahai para pemangku kebijakan. begitu banyak urusan hidup dimudahkan, masalah terpecahkan, dengan kehadiran mereka. so please biarkan mereka tetap beroperasi di balikpapan)

The food was awesome! Tahu rebus, prime beef dan sirloin-nya recommended banget! Tadinya saya pikir kami akan disuguhi potongan daging macam steak ala barat gitu, tebal dan gede. Ternyata daging panggang ala Korea beda. Dagingnya diiris tipis-tipis, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk mateng dan empuk.

Cocolkan ke cabe merah dan bawang putih serta kecap, rasanya sangat pas di lidah kami. Dimakan pake selada juga cocok banget. Manisnya daging sapi berbalut selada hijau segar, nyaam… meleleh di mulut… πŸ˜€ Setelah nyaris seharian berkutat di jalanan, berpanas ria mencari pelabuhan, mewah banget rasanya bisa kumpul dan makan semeja bersama keluarga.

Kamu udah kumpul bareng keluarga belum hari ini? πŸ™‚

Add More Chili, Please…

Ngomongin makanan selalu bikin saya semangat. Mungkin karena sejak kecil udah dijejali dengan berbagai jenis makanan di Medan. Mulai dari susu horbo atau susu kerbau yang menurut saya adalah keju mozzarella-nya Batak, yang sering dibawa sanak saudara kami dari Samosir ke Medan jika mereka berkunjung.

Sangsang atau biasa disebut saksang (daging babi atau sapi dipotong kecil-kecil, dimasak menggunakan andaliman dan darah) yang biasa ditemukan pada pesta-pesta Batak. Roti canai kuah kari khas India atau tabur gula yang sering kami beli malam hari dari gerobak jajanan yang masuk ke komplek perumahan. Rendang khas Padang, lontong kuah tauco, lupis yang kemungkinan besar dibawa ke Sumatera oleh para perantau asal Jawa, hingga sirip hiu di food market jalan Semarang yang buka tiap malam, serta seribu satu jenis makanan lainnya yang notabene adalah makanan khas tiap etnis atau suku bangsa yang mendiami kota Medan.

Dan sewaktu mudik ke Medan akhir November lalu, saya bela-belain ke Kampung Keling untuk menikmati mi pangsit langganan di salah satu resto khusus menyediakan chinese food. Tapi sayang, pas saya datang si resto masih tutup. Enggak mungkinlah saya tungguin sampai buka sementara saya punya agenda lain yang mesti dikejar.

Dasar rezeki anak soleh, ketika satu pintu (resto) tertutup maka pintu (resto) yang lain akan terbuka, hari itu saya beruntung ketemu kwetiau belacan super sedap di salah satu resto yang saya pilih secara acak, tak jauh dari resto yang tutup tadi.

Bayangkan, kwetiau yang saya pilih dari resto secara acak saja rasanya tetap enak. Seperti itulah gambaran makanan di Medan, susah ketemu yang enggak enak. 😁

Makanya seringkali pas kumpul sama teman-teman dan nyicip ini-itu, mereka bilang makanannya enak, tapi bagi saya biasa aja, karena saya sudah pernah nyicipin versi luar biasanya. 😁😁😁

Namun semangat saya untuk mencoba berbagai macam makanan itu tidak berbanding lurus dengan semangat memasak. 😁 Mungkin karena saya emang tak punya ‘roh’ memasak. 😁 Tapi untuk sehari-hari saya tetap masak dong. Masak seadanya. Yang penting bisa dimakan. 😁 Bisa bangkrut kalo tiap hari beli makanan siap saji dari luar. 😁

Sehingga karena semangat memasak saya begitu rendahnya, waktu liburan ke luar kota amat saya nanti. πŸ˜† Karena pada saat liburan inilah saya tak perlu repot memasak serta melakukan serangkaian kegiatan yang menunjang masak-memasak seperti mengupas bawang, merajang cabai, atau memotong daging hingga berjam-jam. 😁😁

Saya pernah lho memasak nonstop selama lebih kurang 7 jam. Entah untuk memasak apa saya lupa. 😁 Coba kalo 7 jam dipakai buat baca buku, mungkin udah kelar 3 atau 4 buku dengan ketebalan sedang. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

And speaking of traveling, wherever we go we need to eat, right? Khususnya sarapan. Karena setelah dibiarkan kosong sepanjang malam, adalah wajar jika perut minta diisi di pagi hari.

Dan menurut saya sayang sekali jika sewaktu jalan-jalan kita tidak mencicipi cita rasa lokal. Jauh-jauh ke Selandia Baru, misalnya, masak tiga kali sehari makannya Mc Donald doang? The food talks a lot about the nation or the place you are visiting.

Tina Toon, dalam wawancara di salah satu televisi lokal menjelaskan mengapa jeruk (bukannya pepaya, pisang atau durian), dan kue keranjang (bukannya nastar) harus ada dalam perayaan Tahun Baru Cina. Dia bilang jeruk adalah simbol rezeki dan manisnya hidup. Sedangkan kue keranjang yang teksturnya padat lengket itu menyimbolkan ikatan keluarga. Sehingga jika diartikan secara keseluruhan, Tahun Baru membawa harapan agar keluarga tetap bersatu serta rezeki tetap manis.

Di Wonogiri ibunya teman saya memasak sayur berkuah gurih yang kalo enggak salah berisi kikil sapi. Entah berapa macam sayuran yang beliau campur di dalamnya. Yang jelas, dinikmati bersama nasi panas dan tempe goreng tepung yang juga gurih, dua piring sanggup saya habiskan! πŸ˜†πŸ˜†

Di Oman, saya nyicipin nasi briyani yang aneh serta dan sawarma debu yang tiap kali mengingatnya, sedapnya langsung terbayang. Tiap kali kertas pembungkus si sawarma dibuka, wangi rempah yang kaya menyeruak ke hidung, menggambarkan uniknya rasa kehidupan di Oman.

Di Singapura kami mencoba sarapan di Tolido’s Espresso Nook yang terletak di dekat MRT Lavender. Meski mungil, tempatnya nyaman serta hangat. Maksud saya hangat bukan karena tempatnya pake pemanas ya 😁 mereka tak butuh pemanas di negeri sepanas Singapura. 😁 Melainkan kehangatan pelayannya yang menyapa kami dengan senyum tulus dan mau menolong pengunjung memilihkan minuman hangat yang cocok dikonsumsi pagi-pagi.

Bagi kita orang Indonesia yang terbiasa mengonsumsi garam berlebih (kalo belum pake penyedap belum afdol, padahal udah pake garam), makanan di Singapura itu bisa jadi terasa agak anyep di lidah karena pemerintah Singapura memang membatasi penggunaan garam. Tujuannya supaya rakyat sehat dan enggak perlu sakit darah tinggi serta jantung, serta enggak perlu menjadi korban ‘eksploitasi ketidaktahuan’ oleh para dokter yang menjadikan praktik kedokteran sebagai bisnis belaka. Namun agak anyep bukan berarti enggak enak. Kalo enggak enak enggak mungkin dong saya samperin si Tolido ini bolak-balik. 😁😁

Diiringi lagu-lagu jazz lembut sambil menikmati truffle scrambled egg plus secangkir kopi latte atau hojicha latte, saya rela sepanjang hari sarapan di sini. πŸ˜† Untuk petualang rasa yang mencari sarapan di luar selain nasi goreng, soto ayam, lontong sayur, bubur manado, nasi uduk, kwetiau atau bihun, tempat ini pasti sukses menghibur lidah serta perut kamu.

toast-box

Di jam-jam sibuk 7-9 pagi, Toast Box yang adalah jaringan kedai kopi lokal di Singapura itu ramai dikunjungi oleh para pencari sarapan. Sebagian besar memesan roti bakar entah itu didampingi keju selai kacang atau srikaya. And mostly for takeaway. Kemungkinan mereka akan mengunyahnya saat berjalan kaki ke kantor, sambil mendengarkan musik melalui earphone yang menggelantung di telinga.

Sepertinya hanya saya yang memesan sarapan agak berat. Mee rebus kuah santan, berisi potongan tahu goreng, udang, telur rebus serta irisan cabai hijau.

add-more-chili-please

Oh, sebentar. Hampir lupa. “Add more chili please….” pinta saya kepada mas-mas pelayan yang wajahnya mirip aktor Korea.

“Green chili? It’s already there…” jawabnya.

“No, the red chili… the red sambal…..” tunjuk saya ke tabung bening berisi sambal berwarna merah persis di dekat hidungnya. Ia menaikkan alis sekejap dan mengambil mangkok saya untuk memasukkan sambal berwarna merah sebanyak dua sendok.

Mungkin untuk sesaat tadi ia takjub melihat ada pelanggan pagi-pagi makan cabai porsi bagong. XD Pardon my Indonesian stomach. πŸ˜†πŸ˜† Tapi kami memang pencinta cabai. XD Belum tau dia kalau di Indonesia sarapan nasi tumpeng lengkap dengan lauk plus sambel mah biasa… πŸ˜†πŸ˜†

nasi-tumpeng
Btw, pagi ini sarapan apa? Ada yang sarapan pizza? Quesadillas? Atau salad barangkali?

 

 

 

Enak

Faktor apa saja yang memengaruhi enak tidaknya makanan?

Kalo menurut pengalaman saya, beberapa di antaranya adalah… Continue reading