Menjadi Orang Tua dan Mandok Hata

Saya yakin, menjadi orang tua dan membesarkan anak bukan kerjaan gampang. Apalagi di zaman sekarang ini. Berbagai info tentang bagaimana cara membesarkan anak maupun kiat sukses menjadi orang tua bertebaran di mana-mana dan sangat gampang diperoleh. Tapi dari sekian banyak, yang mana yang cocok jadi pedoman?

Watchman Nee, dalam bukunya yang berjudul Orang Tua (Ayah-Ibu), mengatakan betapa beratnya kewajiban sebagai orang tua; karena Tuhan menyerahkan jiwa, raga bahkan masa depan anak seumur hidup ke dalam tangan orang tua. Tidak ada seorang yang memengaruhi masa depan seseorang sedalam orang tua memengaruhi anak-anaknya. Dan tidak ada seorang yang dapat mendominasi masa depan seseorang sehebat orang tua mendominasi anak-anaknya.

Dalam bukunya tersebut, Watchman Nee mengajak kita belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik di dalam Tuhan. Berikut ringkasannya:

  • Menguduskan diri di hadapan Tuhan. Maksudnya, walau kita sebagai orang tua boleh melakukan banyak perkara yang sesuai dengan kapasitas kita, namun agar anak-anak kita dapat memahami, maka kita mesti menyesuaikan diri dengan kapasitas anak.

  • Mengekang diri. Karena hari ini ada sepasang atau dua pasang mata yang selalu mengamati perbuatan maupun perkataan kita, bahkan akan terus mengamati kita seumur hidup. Sekalipun kita telah meninggal dunia, apa yang dilihat anak tidak terlupakan, bahkan akan teringat terus dalam batin mereka.

  • Tetapkan standar moral dalam keluarga. Bagaimana seorang anak menilai sesuatu atau memutuskan sesuatu selama hidupnya, semuanya adalah berdasarkan apa yang ia pelajari ketika masih berada dalam naungan orang tuanya. Banyak sekali anak-anak yang menjadi rusak bukan karena terpengaruh oleh orang lain, melainkan oleh orang tua mereka sendiri. Banyak orang tua ketika melihat masalah timbul pada anak-anaknya, mereka melihat diri mereka sendiri. Keadaan anak-anak mereka justru adalah refleksi mereka sendiri.

  • Berjalan bersama Tuhan. Kita harus menyadari bahwasanya kita banyak kekurangan dan tak sanggup mengemban tanggung jawab besar menjadi orang tua. Karenanya kita mesti berjalan bersama Tuhan. Dan jika kita ingin memimpin anak-anak kepada Tuhan, maka kita mesti berjalan bersama Tuhan. Kita tak bisa mengutus anak-anak kita ke sorga dengan menudingkan jari tangan kita ke arah sorga. Itu mustahil. Kita mesti berjalan dahulu di depan, kemudian meminta anak-anak mengikuti kita. Bagaimana standar orang tua, pasti begitu pula standar anak-anaknya.

  • Tidak berstandar ganda. Jika kita berstandar ganda, bagaimana kita dapat memimpin anak-anak kita? Jika kita sendiri pendusta, apa gunanya melarang anak-anak berdusta? Kita tak dapat menentukan kehidupan kita sendiri dengan sejenis standar dan menentukan standar lain bagi kehidupan anak-anak kita. Apa yang kita kasihi, dengan sendirinya anak-anak kita akan belajar mengasihinya. Dan apa yang kita benci, anak-anak dengan sendirinya akan belajar membencinya.

  • Memelihara kesehatian. Jika satu keluarga ingin memimpin anak-anak dengan baik kepada Tuhan, ayah ibu sebagai orang tua mesti sehati atau seia sekata. Jika orang tua tidak sehati, anak-anak akan sukar mempunyai satu standar yang pasti. Ketika ayah mengatakan boleh, sedangkan ibu mengatakan tidak boleh, atau sebaliknya, maka anak-anak akan memilih dan bertanya kepada orang yang mereka sukai.

  • Menghargai kebebasan kepribadian anak. Anak adalah pemberian Tuhan. Karenanya, semua anak merupakan titipan Tuhan. Anak adalah manusia yang berjiwa, maka Tuhan tidak memberi wewenang tanpa batas kepada orang tua. Kepada setiap manusia yang berjiwa, kita tidak dapat memperlakukan mereka semena-mena. Itu adalah kesombongan.

  • Anak bukan sasaran melampiaskan amarah. Perlakukan anak dengan sikap sopan dan lemah lembut. Setiap orang yang ingin mengenal Tuhan harus belajar mengekang diri, khususnya terhadap anak sendiri.

  • Sebaiknya tidak perlu terburu-buru menuntut anak-anak kita mematuhi kita. Tetapi kita mestilah terlebih dulu menuntut diri sendiri menjadi orang tua yang baik di hadapan Tuhan.

  • Tidak menyakiti hati anak. Karena hidup anak-anak masih bersandar pada kita, kadang sebagai orang tua, kita menggunakan wewenang secara berlebihan. Misalnya menekan anak dalam soal uang. Kita bilang kepada anak, apabila ia tidak menurut maka tidak diberi uang, tidak diberi makan, dan tidak diberi pakaian. Hal ini akan membuat anak sakit hati. Sakit hati dapat menimbulkan tawar hati atau kehilangan tekad untuk berbuat baik. Karena anak akan merasa tak ada guna berbuat baik, sebab orang tua tidak mau tahu. Dalam Efesus 6:4, Paulus berpesan agar para orang tua tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anak, melainkan mendidik mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

  • Beri penghargaan yang wajar kepada anak. Bila anak berlaku baik, kita boleh menyemangati mereka maupun memberi hadiah agar anak tetap semangat dalam berbuat baik.

  • Tutur kata harus tepat. Sebagai orang tua, kita haruslah mengatakan kepada anak-anak perkataan yang dapat kita laksanakan. Dan setiap perkataan kita harus dapat dipercayai anak.

  • Perkataan yang melampaui batas mesti segera diralat. Misalnya kita salah bicara, kita sebagai orang tua haruslah dengan serius mengakui kesalahan tersebut. Dengan demikian, kita memperlihatkan kepada anak-anak tentang kekudusan tutur kata.

  • Menjadi orang tua yang baik di dalam Tuhan tentunya harus memimpin anak-anak untuk belajar mengenal Tuhan. Untuk itu, orang tua bersama anak mesti rutin berdoa bersama dan rutin membaca firman Tuhan. Gunakan bahasa yang dimengerti anak agar mereka memahami untuk apa mereka berkumpul bersama.

  • Pimpin anak belajar bersyukur. Misalnya pada doa makan, orang tua memberi contoh untuk bersyukur kepada Tuhan dengan hati yang jujur dan ikhlas.

  • Pada malam hari orang tua kumpulkan anak dan berbincang dengan mereka. Tanggapi perkataan anak dan bertanya kepada anak apakah ada kesulitan, apakah berkelahi, apakah ada damai dalam hati.

  • Bimbing anak mengaku dosa maupun kesalahan dengan jujur, spontan, tanpa pura-pura. Banyak kepalsuan dilakukan anak-anak karena paksaan yang keras dari orang tua.

  • Dengan sederhana, pimpin anak berdoa hingga anak mampu berdoa sendiri.

  • Jika anak harus dihukum karena bersalah, tunjukkan apa kesalahannya dengan serius agar anak teringat seumur hidupnya, dan agar ia tidak hidup secara sembarangan.

  • Suasana keluarga seharusnya adalah kasih. Kondisi anak-anak di kemudian hari tergantung pada suasana dalam keluarga. Jika sejak kecil anak-anak tidak diasuh dalam kasih, itu berarti membawa mereka ke dalam watak atau tabiat yang keras, menyendiri, dan pembangkang. Banyak orang ketika dewasa tidak dapat hidup bersama orang lain, ini disebabkan kekurangan kondisi kasih dalam keluarga sewaktu mereka kecil. Dalam keluarga mestilah ada suasana sukacita, ramah, lemah lembut, sopan santun.

  • Para orang tua mesti belajar menjadi teman anak-anak sendiri. Belajar akrab dengan anak, dan senang menolong mereka. Agar ketika anak ada masalah, mereka pergi mencari kita. Dan ketika anak berhasil atau sukses pun, mereka mencari kita, bukan orang lain. Teman yang baik pasti mudah didekati dan mudah diminta pertolongannya.

Dalam poin ke-10 tadi sudah saya singgung tentang mendidik anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Caranya dengan:

  • Menjaga ambisi anak agar selaras dengan kehendak Tuhan. Sesering mungkin ingatkan dan jadilah teladan agar anak menjadi pencinta Tuhan dan sesama.
  • Tidak membangkitkan kesombongan anak, melainkan mengingatkan anak bahwa semua kecerdasan maupun talenta berasal dari Tuhan. Kesombongan adalah memegahkan diri secara berlebihan.
  • Mengajar anak-anak terima kalah dan belajar rendah hati. Sepantasnya, kita mesti mengetahui bagaimana memuji atau mengagumi orang lain. Kemenangan adalah perkara mudah, tapi kekalahan bukan perkara gampang bagi sebagian orang. Sebagai orang tua, kita ingatkan agar anak rendah hati jika memiliki kelebihan. Sedangkan jika anak gagal, kita ingatkan agar anak mampu memuji atau mengagumi keunggulan orang lain.
  • Mengajar anak-anak cerdas memilih. Sejak kecil, sesering mungkin beri anak kesempatan memilih sendiri apa yang mereka sukai. Misalnya memilih warna kesukaan atau motif pakaian. Biarlah mereka sendiri yang mengamati dan mempertimbangkan. Dan kita sebagai orang tua tetap memimpin mereka agar tetap di jalur yang benar.
  • Mendidik anak mengatur urusan. Orang tua mesti memberi anak kesempatan untuk mengatasi masalah maupun mengatur urusan. Misalnya mengatur barang-barang sendiri seperti kaos kaki, sepatu, buku, mainan. Sedari anak kecil, kita tunjukkan bagaimana mengatur barang-barangnya agar rapi. Mereka peniru ulung. πŸ™‚

Nah, bentar lagi tahun baru. Orang Batak punya tradisi kumpul bersama keluarga dan mandok hata di malam tahun baru. Mandok hata artinya semacam memberi kata sambutan sepatah dua patah kata. Isinya bisa tentang refleksi diri selama setahun, ucapan syukur, harapan-harapan, dlst.

Ada keluarga yang mengikutsertakan anak-anakΒ mandok hata,Β namun ada juga yang tidak. Cukup hanya orang tua saja yang berbicara, anak-anak mendengar. Sehingga, seringkali mandok hata berubah menjadi ajang penghakiman anak. Padahal, anak-anak pun ingin ikut menyampaikan pendapat mereka kepada orang tua.

Sebaiknya, jika memungkinkan, sejak dini anak dilibatkan mandok hata agar mereka terbiasa merasa dihargai dengan didengarkan pendapatnya.

Jika orang tua merasa perlu menghakimi atau menegur anak untuk ngomongin kekurangan mereka, lakukan empat mata supaya efektif. Menegur seseorang di depan khalayak ramai tidak akan pernah efektif. Mereka yang kita tegur justru (mungkin) akan menjadi kurang enak hati kepada kita, karena hal itu akan menjatuhkan harga diri mereka. πŸ™‚

Orang tua juga mesti introspeksi, apakah telah memberi perhatian yang seimbang kepada anak? Tidak cuma menuntut anak harus begini, anak harus begitu. Anak-anak tidak melihat kata-kata, mereka melihat perbuatan. πŸ™‚

 

 

 

 

 

Advertisements

Apa yang Akan Yesus Lakukan?

β€œApa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Sudah lama saya mendengar ayat tersebut. Yakni ayat dua puluh tiga dari buku Kolose pasalnya yang ketiga.

Kalo dalam alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), bunyinya begini:

Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia. (Kolose 3:23)

Biasanya kalo saya lagi males ngerjain sesuatu, trus ingat ayat ini, saya akan kembali semangat ngerjain kerjaan yang bikin males tadi.

Tapi, sewaktu baca buku Becoming Like Jesus pada bab yang membahas tentang ‘kemurahan’, melalui ayat di atas tadi beserta satu ayat lagi, yakni dari Kolose 3:17, saya diajak belajar dan bertanya pada diri sendiri:

Apa yang akan saya lakukan jika orang yang nyuruh saya ngerjain pekerjaan itu adalah Yesus?

Jika orang yang sekarang berada di hadapan saya adalah Yesus, apa yang akan saya lakukan? Bagaimana saya akan bersikap?

Kemudian dalam Kolose 3:17 disebut:

Segala apa yang kalian lakukan atau katakan, haruslah itu dilakukan dan dikatakan atas nama Tuhan Yesus. Bersyukurlah kepada Allah Bapa untuk apa yang dilakukan Yesus bagimu (alkitab BIS).

Nah, ini dia yang paling menarik, penulis buku ini menyadarkan saya bahwasanya melakukan sesuatu ‘dalam nama’ Yesus berarti saya melakukan sesuatu yang akan dilakukan Yesus jika Dia berada di sini. Ini berarti bahwa saya bertindak seolah-olah Yesus sendiri yang bertindak di dalam saya dan melalui saya.

Jadi, jika saya adalah Yesus, apa yang akan saya lakukan dalam situasi tersebut? Jika saya adalah Yesus, apa yang seharusnya saya lakukan jika ada kawan yang sakit? Jika saya adalah Yesus, apa yang harus saya ucapkan saat ketemu kawan yang bergembira atau sedih? Jika saya adalah Yesus, apa yang harus saya lakukan jika saya telah berjanji kepada kawan untuk bertemu dengannya? Jika saya adalah Yesus, bagaimana saya akan mengelola waktu saya, keuangan saya, keluarga saya, perkataan saya, perbuatan saya, pilihan-pilihan saya, dlst? πŸ™‚

Yesus yang saya kenal (baik melalui berbagai kisahnya dalam alkitab maupun perbuatan-perbuatan ajaibNya dalam hidup saya dan keluarga saya sampai sekarang ini), senantiasa sangat baik. RancanganNya kepada manusia sejak semula hanyalah rancangan kebaikan dan keselamatan. Namun Yesus juga bisa menggunakan perkataan yang sangat tajam dan bertindak sangat keras kepada orang-orang sombong serta orang-orang munafik.

Mungkin memang tak satu pun kita yang mampu hidup sesuai dengan standar Yesus, ya? Tapi kita mesti berusaha dan seharusnya itulah yang menjadi tujuan hidup kita. πŸ™‚

Tetap berdoa kepada Tuhan, dan minta Ia menuntun kita dengan hikmatNya untuk melakukan hal-hal yang sesuai kehendakNya.

 

Jadi jika kalian adalah Yesus, apa yang akan kalian lakukan sore ini? πŸ™‚

 

 

 

 

 

Sebulan Belakangan Ini…

… aku banyak merenungkan tindakan-tindakanku yang kurang bijaksana pada periode hidupku beberapa tahun belakangan. Kalau boleh kutarik garis awal episode kekacauan itu, kurasa semua bermula dari begitu seringnya aku mendapat pertanyaan-pertanyaan, “mengapa tak kunjung mendapat keturunan?”

Sejak saat itu, seperti yang pernah kupaparkan secuil dalam postinganΒ Catatan 17 Agustus, aku memang menarik diri dari berbagai komunitas. Karena saat itu, kupikir, aku tidak memenuhi standar sosial masyarakat Indonesia umumnya: lahir, besar, sekolah, kerja, kawin, punya anak, besarin anak, dlst.

Tapi sekarang, tentu aku sudah sadar bahwasanya pikirankulah yang menghakimiku, bukan mereka.

Kegiatan perenungan itu sering membuatku menangis. Apalagi sewaktu pertengahan Oktober lalu, saat Tuhan Yesus tak disangka-sangka mempertemukanku kembali dengan kawan-kawan seperjuangan yang pernah mengisi hari-hariku (dan yang kukecewakan hatinya), aku tak kuasa menahan tangis. Tuhan begitu baik memberi yang kuperlukan, memerhatikanku hingga sekarang.

Pada masa-masa kekacauan itu aku mencari penghiburan melalui hal-hal semu. Membaca buku-buku, mendengar musik, maupun melihat film-film yang tak memuji kebesaran Tuhan, sertaΒ kritik sana-sini. Di satu sisi aku pergi beribadah ke gereja hampir setiap hari Minggu, tapi di sisi lain aku tetap melakukan hal-hal yang mendukakan hati Tuhan. Perlahan tapi pasti, hal-hal tersebut memengaruhiku.

Dari awal, tujuan Tuhan Yesus menciptakan manusia cuma satu, yaitu:

Takutlah kepada Allah dan taatilah segala perintahNya, sebab hanya untuk itulah manusia diciptakanNya (Pengkhotbah 12:13, alkitab BIS)

Tuhan mau agar kita hidup di dalam Dia, melakukan hal-hal yang menyenangkan hatiNya dengan rendah hati berfokus pada sesama, bukan lagi fokus pada pemenuhan diri sendiri.

Namun karena terlalu sering menangis (sekalipun tangis haru yang mengingat kebaikan Tuhan), apalagi ditambah terlalu sering makan pedas dan asam, membuat sistem pencernaan menderita yang terpaksa membuatku mendekam di rumah sakit selama lima malam.

Tapi aku sangat senang karena kawan-kawan dari gereja, persekutuan, dan kolega suami datang menjenguk. 😊 Bahkan tak disangka-sangka pak pendeta bersama tim diakoni gereja pun datang melawat. 😊

Tuhan begitu baik. Ia tetap memerhatikanku sampai sekarang, dan memberi yang kuperlukan.

Mudah-mudahan kita semua tetap sehat di manapun berada. Perbanyak makan sayur dan buah, olahraga, dan tetap minta tuntunan Tuhan dalam melakukan apa pun. Karena diluar Tuhan, kita bukan apa-apa.

 

 

 

 

Waktu Terbang

Minggu lalu saya ke Jakarta. Liburan singkat sekaligus menghadiri pesta nikahan. Senang bisa ketemu keluarga, saudara, namboru, abang, kakak, ompung, adik-adik, sepupu, dan orangtua saya yang semakin tua. πŸ™‚ Kalo ditanya lebih suka tinggal di mana, jujur, saya lebih suka di Jakarta. Pagi siang malam selalu ramai. πŸ™‚ Macet memang selalu always tak pernah never. Tapi justru kemacetan itulah pertanda adanya kehidupan. πŸ™‚

Beberapa hari saya numpang di penginapan yang jalanannya sepanjang hari hilir mudik dilewati kendaraan. Berbagai macam tempat makan -mulai dari yang harganya sangat terjangkau macam warteg, hingga yang agak berat dijangkau- ada di sana. Dari beberapa yang saya sambangi, ada satu yang nampol di hati.

β€œDicoba dulu… Nanti kalo enak balik lagi ke sini ya…” ujar ibu penjaja nasi uduk jalanan, sore itu, sembari menyerahkan bungkusan makanan untuk porsi dua orang seharga kurang dari 30 ribu rupiah.

Saya terharu mendengarnya. Ia mengucapkan kalimat tersebut seakan penuh kerendahan hati yang mengharapkan orang asing kembali ke warung sederhananya itu.

Masakannya enak dan pedasnya pas. Tapi karena kesibukan, membuat kami tak mungkin kembali ke warung nasi uduknya yang sepertinya hanya buka di sore hari. Mungkin suatu hari nanti kalo saya kembali ke daerah tersebut, saya pasti akan mengunjunginya meski si ibu tak mengingat kami lagi. πŸ™‚

Hari Minggu saya ikut ibadah bersama orangtua dan adik di GPIB. Kebetulan ponakan kesayangan saya berulang tahun. Time flies. Waktu terbang. Ia sekarang bertambah pintar, baik hati, dan jago nyanyi. πŸ˜€

Mumpung ponakan ultah dan orangtua ada, adik saya mengajak makan siang bersama usai ibadah. Namun saya melewatkan ajakannya, karena sudah berjanji untuk bertemu keluarga saya yang lain di Bekasi.

Di Bekasi, kami makan-makan lagi. Ponakan saya yang memilih tempat. Di sana kami bertukar cerita; mulai dari kakak saya yang sukses menurunkan berat badan, songket Palembang, hingga ponakan saya yang ternyata udah mulai kuliah tahun ini. Time flies. Waktu terbang. Rasanya baru kemarin ia berseragam putih merah dengan senyum malu-malu menyapa saya; tahu-tahu sekarang udah mahasiswa. Ke mana perginya waktu?

Saya mengutip salah satu lagu yang dinyanyikan saat ibadah hari Minggu di GPIB. Judulnya: Pakailah Waktu Anugerah Tuhanmu.

Pakailah waktu anugerah Tuhanmu,

hidupmu singkat bagaikan kembang.

Mana benda yang kekal di hidupmu?

Hanyalah kasih tak akan lekang.

Tiada yang baka di dalam dunia,

segala yang indah pun akan lenyap.

Namun kasihmu demi Tuhan Yesus,

sungguh bernilai dan tinggal tetap.

 

Karya jerihmu demi Tuhan Yesus,

‘kan dihargai benar olehNya.

Kasih yang sudah kau tabur di dunia,

nanti kau tuai di sorga.

 

Dan satu lagu lagi yang belakangan sering diputar di mana-mana. πŸ™‚

Hidup ini adalah kesempatan

Hidup ini untuk melayani Tuhan

Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri

Hidup ini harus jadi berkat

 

Oh Tuhan, pakailah hidupku

Selagi aku masih kuat

Bila saatnya nanti ku tak berdaya lagi

Hidup ini sudah jadi berkat

 

 

 

 

 

Catatan 17 Agustus

Beberapa tahun belakangan aku menjadi sangat sombong dan hanya mengandalkan pikiranku. Tidak ada kerendahan hati, aku merasa lebih baik dari orang-orang lain. Kawan-kawan serta komunitas tempatku bernaung yang bergerak tak sesuai dengan harapan maupun kemauanku, kutinggalkan. Aku memisahkan diri dari mereka, dan itulah awal kehancuranku.

Aku lupa, bahwasanya orang yang memisahkan diri dari orang lain berarti hanya memperhatikan diri sendiri saja, dan membantah setiap pendapat orang lain. (Amsal 18:1)

Aku lupa menjadikan Tuhan sebagai penguasa setiap aspek kehidupanku. Tanpa kusadari, aku menjadi jahat dan sesat, serta membangun kuil pemujaan bagi diriku, alih-alih bagi Tuhan.

Aku lupa, sebagai garam dan terang Kristus, justru tugasku seharusnya merangkul orang-orang yang membuatku kesal.

Aku lupa bahwasanya aku pun manusia yang penuh kekurangan di sana-sini, dan juga pernah mengecewakan mereka.

Tapi semua itu sudah berlalu dan aku menyesal telah meninggalkan kawan-kawan yang pernah mengisi hari-hariku. Dan sekarang, Tuhan beriku kesempatan bertobat dan hidup sesuai standarNya, peraturanNya.

Melalui beberapa kejadian yang belakangan terjadi kepadaku, Kristus menarik perhatianku agar fokusku kembali kepadaNya. Ia mau jiwaku dan jiwamu selamat, karena Ia telah mengampuni kita satu kali untuk selamanya. Sebagai tanda kita telah diselamatkan, kita mesti hidup sesuai standarNya dan peraturanNya.

Kita hidup dua kali. Satu kali di dunia, satu kali lagi sesudah tubuh jasmani kita mati, jiwa kita hidup selamanya. Pertanyaan pentingnya, ke mana jiwa kita pergi? Tuhan itu adil. Ia menyelidiki hati dan menguji batin manusia. Setiap orang akan Ia balas menurut tingkah lakunya, dan Ia perlakukan sesuai dengan perbuatannya. (Yeremia 17:10)

Namun Tuhan lebih suka mengampuni dan menerima pertobatan kita daripada menghukum kita. Ia Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar, lemah lembut, dan selalu siap untuk mengubah rencana penghukuman. Kisah Yunus menceritakan bagaimana Tuhan melalui Yunus memperingatkan penduduk di Niniwe untuk bertobat dan meninggalkan kejahatan mereka. Mereka menyesal dan akhirnya Tuhan tak jadi menghukum mereka.

Dalam kisah Sodom dan Gomora, Abraham dengan gigih tawar-menawar dengan Tuhan agar mengampuni kota itu bila saja di sana ada sepuluh orang yang tak bersalah. Tapi ternyata tak ada dan kota itu pun hancurlah.

Mari perhatikan cara hidup kita dan ubah kelakuan. Berjuanglah untuk mematikan keinginan-keinginan dunia yang merongrong diri seperti percabulan, hal-hal tidak senonoh, hawa nafsu, ilmu guna-guna, cemburu, iri hati, pesta pora, mabuk-mabukan, dan keserakahan (karena keserakahan adalah serupa dengan menyembah berhala). Berhentilah melakukan hal-hal jahat seperti: marah, mengamuk, benci terhadap orang lain; berhentilah mengeluarkan caci maki atau perkataan yang kotor, serta berhentilah berbohong.

Apa yang kita perlukan beritahukan selalu kepada Allah dengan mengucap terima kasih. Isilah pikiran kita dengan hal-hal yang patut dipuji, yang benar, terhormat, adil, murni, manis, dan baik. Hendaklah kita masing-masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri. Hendaklah berhati-hati pada falsafah-falsafah tak berguna dan hanya menyesatkan. Falsafah-falsafah itu bukan dari Kristus melainkan dari pendapat manusia saja dan dari roh-roh penguasa dunia.

Tunjukkanlah belas kasihan, rendah hati, lemah lembut, dan tabah. Ampunilah satu sama lain karena Tuhan telah mengampuni kita. Hargai dan hormati sesama. Bersosialisasi, ramah, sopan santun, dan peduli. Dan yang paling penting saling mengasihi.

Hubungan kita dengan sesama adalah refleksi hubungan kita dengan Tuhan. Jika kita mampu mengasihi Tuhan yang tak kelihatan, maka kita pasti mampu mengasihi sesama yang terlihat oleh mata. Namun apabila kita tak mampu mengasihi manusia yang kelihatan oleh mata, kita tak mungkin mampu mencintai Tuhan yang tidak terlihat oleh mata.

 

 

 

 

Ingat Kamu

Ada yang masih ingat sewaktu masih cinta-cintanya sama pujaan hati? πŸ™‚ Mau makan ingat dia, mau tidur ingat dia, mau ngapa-ngapain pokoknya ingat dia. πŸ˜€ Bahkan lagi bosan dan sedih pun ingat si dia. πŸ˜€ Kayak kata lagu -agak lawas- nya Duo Maia yang Ingat Kamu. πŸ™‚

Trus kalo dapet sms darinya berasa pengen jejeritan dan senyum-senyum sendiri. πŸ˜€ Padahal isi smsnya cuma…

β€œUdah makan siang?”

atau

β€œSelamat malam… belom tidur?”

#Yaelah #NanyanyaStandarAmatSihMas #HarapMaklumJamanItuBelomKenalAmaGombalanDilan πŸ˜€

Tapi meskipun isinya standar, itu sms dibaca bolak-balik sampe henponnya bosen liatin kita. πŸ˜€

Apalagi kalo si dia ngasih tau lagu favoritnya ke kita, udahlah, seharian lagu itu melulu yang didengerin dan teksnya sampe hapal luar kepala. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Pendek kata, kita pengen setiap saat bisa konek dengan dia, dan tiap saat selalu ingat dia. πŸ™‚

Tapi yang namanya emosi, ia bisa luntur jika kita enggak pernah lagi bacain pesan darinya, enggak pernah bales smsnya, enggak pernah dengerin lagunya lagi, dan enggak pernah berusaha untuk berkomunikasi lagi dengan dia.

Seseorang yang mulanya begitu mencintai Tuhan dengan sepenuh hati, jiwa, akal budi dan kekuatannya, lambat laun imannya bisa terkikis akibat didera kekecewaan demi kekecewaan. Apalagi jika ia berpaling kepada ajaran-ajaran kebijaksanaan dunia yang terdengar manis di telinga:

β€œJika sesuatu harus terjadi, itu terserah kepadaku.”

Atau,

β€œNasibku berada di tanganku sendiri.”

Keadaan jiwanya yang semakin kosong karena iman telah menipis akibat menjauh dari Tuhan, diperparah dengan ketiadaan keluarga maupun orang terdekat yang dianggap sebagai benteng terakhir entah untuk sekadar menyemangati, maupun mendengar berbagai cerita dan keluh kesahnya.

β€œMau curhat dianggap cemen dan cengeng…” katanya.

Pikiran untuk mengakhiri hidup pun sempat terlintas karena ia merasa hidupnya tak lagi berharga dan hanya menjadi beban bagi orang sekitar. Namun ia segera sadar bahwa hal tersebut salah dan Tuhan tidak berkenan.

Dengan puing-puing keyakinan mendasar kepada kasih Tuhan, satu waktu ia mendengar seseorang bertanya,

β€œJika kita naik ke surga, siapa yang akan kita lihat di sana? Yesus? Bapa? Atau Roh Kudus?”

Yesus. Ujarnya dalam diam.

Orang tersebut melanjutkan mengutip satu ayat dari Surat Ibrani pasal satu ayat tiga:

β€œDialah yang memancarkan keagungan Allah yang gilang-gemilang; Dialah gambar yang nyata dari diri Allah sendiri. Dialah juga yang memelihara keutuhan alam semesta ini dengan sabdaNya yang sangat berkuasa…”

Ia juga melanjutkan membacakan ayat lima belas hingga delapan belas, dari Surat Kolose pasal satu.

β€œKristus adalah gambar yang nyata dari diri Allah yang tidak kelihatan; Kristus adalah anak yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan. Sebab melalui Dialah Allah menciptakan segala sesuatu di surga dan di atas bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, termasuk juga segala roh yang berkuasa dan yang memerintah. Seluruh alam ini diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus. Sebelum segala sesuatu ada, Kristus sudah terlebih dahulu ada. Dan karena Dialah juga maka segala sesuatu berada pada tempatnya masing-masing.”

Beberapa kali membaca dan mengucapkan ayat-ayat tersebut, secara perlahan, orang yang nyaris kehilangan jiwanya tersebut mulai kembali percaya dan cinta kepada Tuhan. Ia tahu Tuhan telah memberinya kesempatan lagi.

Ia juga menyebutkan beberapa hal yang dilakukan untuk berjuang bangkit dari depresinya:

  • Ingat Tuhan. Mungkin terdengar klise, tapi Tuhan memang lebih besar dari apapun masalah kita. Bawa masalah kita ke Tuhan. Obat-obatan maupun alkohol mungkin mampu membuat tenang sesaat, tapi setelahnya, jiwa kembali kosong. Namun jika kita membawa masalah kita ke Tuhan, masalah mungkin masih ada, namun Tuhan menguatkan kita.
  • Ingatlah ayat-ayat alkitab sepanjang waktu. Dengan memusatkan perhatian pada kuasa Tuhan, itu akan menguatkan kita.
  • Menaikkan pujian bagi Tuhan, khususnya ketika kita lemah dan tak berdaya.
  • Pilihlah Tuhan, karena kita tak bisa melayani dua ‘tuan’ pada saat bersamaan.
  • Berhenti hidup semau gue.
  • Aktif di komunitas, entah itu gereja maupun komunitas yang memuja-muji Tuhan dan yang mendekatkan kita kepada Tuhan.
  • Rutin menulis di jurnal mengenai apapun yang dirasakan atau yang dialami.
  • Sekali lagi, ingat kepada Tuhan karena Ia adalah Tuhan yang hidup, dan Ia ingin agar kita bersatu denganNya, karena Dialah pencipta dan pemelihara kita.
  • Latih diri untuk melakukan semua hal di atas dengan disiplin setiap harinya.

Dan bagi kita yang saat ini kemungkinan menghadapi kawan maupun keluarga yang depresi, ketahuilah bahwa depresi bisa menjadi penyakit yang nyata dan menghancurkan, dan ada penyebab fisik dan psikologis yang membutuhkan perawatan medis yang bijaksana dan profesional, sama seperti penyakit-penyakit lainnya.

Jadi apabila kita memiliki kawan yang secara medis didiagnosa menderita depresi, kita tidak seharusnya datang dengan memberikan salam yang gembira, dan memberitahu mereka untuk ‘tetap bersemangat, lupakan kesedihanmu, dan bersukacitalah dalam Tuhan’.

Sikap semacam ini mungkin sangat tidak sensitif, dan sesungguhnya bisa menambah penderitaan mereka. Karena ‘bersukacita dalam Tuhan’ adalah hal yang sangat ingin mereka lakukan, namun mereka tidak mampu melakukannya.

Kehilangan sukacita dalam hidup adalah salah satu gejala terburuk dari depresi. Dan mendapatkan sukacita itu kembali bukanlah semata-mata masalah ‘berusaha lebih keras’. Depresi adalah sebuah penyakit, bukan kegagalan atau kelemahan.

Just be there for them, dan biarkan mereka tahu bahwa kalian ada untuk mereka dan kalian peduli kepada mereka.

 

 

 

 

 

 

– “depresi bisa menjadi penyakit yang…… bukan kegagalan atau kelemahan..” dikutip dari buku Becoming Like Jesus hlm. 58Β 

 

Lo Yakin Udah Siap Nikah?

Kalo ditanya tujuan nikah buat apa, seringkali jawabannya adalah untuk meraih kebahagiaan. Padahal kalo diliat-liat nih ya (maksudnya setelah terjun langsung ke tekape a.k.a setelah dijalani πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…) justru setelah menikah semakin banyak masalah mengantre untuk dihadapi. 😁

Tapi, kalo semakin banyak masalah makin membuat lo seneng-seneng bahagia, ya monggo aja. It’s your call dude. πŸ˜„

Seperti yang pernah saya singgung sedikit di postingan memang jodoh, pernikahan sesungguhnya dimulai setelah pestanya usai, sedangkan menikah itu cuma sebentar. Upacara, tukar cincin (kalo butuh), tanda tangan hitam di atas putih, resepsi (kalo butuh), kelar.

Ketika saya hendak menikah sekitar satu dekade yang lalu, kebaya yang akan saya kenakan pada saat upacara baru dijahit sekitar tiga minggu sebelum hari H. Soalnya saya bukan tipe orang yang ambil pusing tentang baju kayak apa yang mesti dipakai, daftar lagu apa yang akan diputar di resepsi, jenis bunga apa yang mesti ada, cincinnya mesti gimana, foto-foto pre-wedding, dlst.

Kalaulah saat itu boleh menikah mengenakan blus dan celana jeans, saya akan memilih opsi tersebut. 😁😁😁

Buat saya, cincin, bunga, foto, dan kawan-kawannya, hanyalah ornamen. Hiasan. Ada, sukur; gak ada, ya gak dicari. Tapi kan enggak semua orang kayak saya toh? Kalo semua orang kek saya, nanti jasa wedding photographer, tukang bunga, tukang jahit enggak laku. 😁 Waktu itu pacar saya nawarin bikin foto pranikah. Tapi saya bilang enggak perlu. Karena setelah menikah kami pasti akan punya sangat banyak foto berdua. Dan nyatanya memang begitu. 😁

 

Yang terutama adalah mempertahankan pernikahan dalam susah maupun senang, hingga maut memisahkan.Β Dan mempertahankan pernikahan itu setidaknya butuh untuk….

  • siap mengalah
    Pacar kamu susah bangun pagi. Hanya satu itu kekurangannya. Masa iya dilepas sementara di poin lain menang banyak: rajin menabung, baik hati, ramah, suka menolong, suaranya bagus pas nyanyik di kamar mandi 😁😁, dlst? Udahlah terima aja. πŸ˜‰
  • siap berantem
    Realistis ajalah. Selama pacaran udah sering berantem kan? Apalagi kalo udah nikah. 😁😁 (yang udah nikah mah udah pada kenyang berantem kali ya? 😁😁😁😁 ) Beda kepala pasti beda pendapat. Bahkan bisa jadi beda pendapat dalam segala aspek. 😁😁
  • siap berdamai
    Ga usah kelamaan berantemnya. Kalo pasangan kamu udah mau nawarin makanan kesukaan or cipika cipiki lagi, nah itu artinya marahnya udah reda. 😁😁
  • siap kompromi
    Pernikahan bukan ajang menang-kalah ya, melainkan kerjasama.
    Hari ini date night makan makanan favorit lo, next date night ya makanan favorit pasangan elu lah. Dua-duanya seneng.

Selain itu, sebelum menikah coba dicek dulu:

  • apa kalian berbicara dalam bahasa kasih yang sama atau tidak?

Ini paling penting menurut saya. Bahasa kasih tiap orang beda-beda.Β Ada orang yang bahasa kasihnya adalah suka mendengarkan gombalan dari pasangannya. πŸ˜€ Ada yang suka dikasih hadiah, ada yang suka duduk-duduk berdua aja bareng pasangannya ngobrol ngalor ngidul, ada yang suka pegangan tangan, dlst.

It’s important to recognize your pacar’s bahasa kasih supaya komunikasi ke depannya lancar dan kalian masing-masing akan merasa dihargai. Kalo lo enggak tau jenis bahasa kasih pacar lo, tanya dengan sopan. πŸ˜„ Pasti lo dikasitau. Dan kalo lo ditanya, jawab dengan sopan juga. Kalo lo belum tau apa bahasa kasih lo, coba cek 5 bahasa kasih dalam percintaan.

Jika kebutuhannya untuk dikasihi tidak terpenuhi, kemungkinan pacar lo akan menarik diri dan menjauh, dan bukan tak mungkin dia mundur atau keluar dari hubungan.

Selain bahasa kasih, perempuan dan laki-laki pun bicara dalam bahasa berbeda. Kadang kalo cowok denger ceweknya ngomong gini:

β€œwiiih, tasnya bagus banget…”

Di kepala si cowok, ceweknya pasti mau beli. Maka si cowok bilang:

“ya udah beli aja.”

Padahal si cewek emang murni cuma muji doang, bukannya pengen dibawa pulang beneran itu tas.

Sementara itu, dalam satu percakapan lain:

cowok: kemarin plastik bungkus pohon rambutan udah dilepas sebelum ditanam?
cewek: belum. karena yang tanaman lain ditanam bersama bungkus plastiknya, jadi ya kupikir sama aja perlakuannya.
cowok: kalau tanaman buah plastiknya mesti dibuka. kalo enggak, ya apa gunanya ditanam di tanah. nanti akarnya enggak berkembang.

Mungkin untuk si cowok pernyataan itu biasa aja atau netral. Tapi, untuk sebagian cewek, itu artinya dirinya tidak becus.

Akhirnya si cewek pun menjawab:

kapan-kapan, kalau ada acara tanam-menanam, sebelum ditanam, kamu kasitau saya. karena kamu yang paling tau caranya.”

Komunikasi memang sangat challenging ya. Ada seninya. πŸ˜€ Well, hampir segala macam aspek memang ada seninya sih. πŸ˜€

  • soal breadwinner, pencari nafkah

Lingkungan kita umumnya masih lebih menghargai orang bekerja yang menghasilkan duit lebih banyak. Kalo pasangan lo merasa hidupnya lebih berharga dengan bisa bekerja menghasilkan uang, silakan saja. Ini akan kembali ke poin siap kompromi tadi. Bicarakan semua secara terbuka, dengan sopan tentunya. πŸ˜„

Terakhir, yang juga tak kalah penting:

  • bagaimana kondisi kesehatan mental/jiwanya?

Barangkali karena secara kasat mata memang tidak kelihatan dari luar, masalah kejiwaan ini mungkin jarang diperhatikan pasangan-pasangan yang mau nikah ya?

Seperti yang pernah saya sebut dalam postingan permainan telepon, semua orang kelihatannya memang baik dari luar. Tapi di dalam hati, jiwa dan pikirannya, hanya orang tersebutlah yang paling tau. Ganteng-ganteng atau cantik-cantik tapi psikopat kan berabe ya?

Pacar lo dan lo sendiri pastinya berasal dari latar belakang keluarga berbeda. Anak-anak yang sedari kecil tidak leluasa bercerita secara terbuka kepada orangtuanya rentan mengalami gangguan kejiwaan. Karena perasaan-perasaan yang seharusnya diluapkan, justru ditekan karena tidak adanya tempat penyaluran.

Seseorang cenderung membuka diri jika mereka yakin bahwa pikiran dan perasaan mereka tidak akan dicela atau dikecam.

Jadi masa pacaran sebelum menikah itu emang penting banget ya. Kalo emang lo dan pacar lo ada waktu buat pacaran, mending dilamain untuk saling mengenal, supaya fondasi hubungan kalian kokoh. Trus, selama pacaran ya blak-blakan ajalah. Pahit manis dikeluarin, supaya terbuka dari awal. Karena hidup pun emang bukan cuma yang manis-manis aja kan? Kadang kita jalani yang pahit, agar mampu menghargai yang manis.

**

Memutuskan menikah sebaiknya bukan karena kata orang harus nikah, karena ikut-ikutan orang lain, karena didesak keluarga, atau karena takut kesepian, dlst. Di luar sana ada begitu banyak pasangan merasa kesepian justru setelah menikah. Jadi menikah bukanlah jaminan agar tak kesepian.

Menikah karena pengen punya anak? Lo bisa punya anak tanpa menikah. Salah satunya dengan mengadopsi anak-anak tak beribu-bapa.

Menikahlah karena lo ingin menikah, dan karena lo ingin menghabiskan sisa hidupmu bersama pasanganmu.

Kalo lo cuma ingin ada seseorang masak untukmu, nyuci kainmu, bersihin rumahmu, dlst; barangkali bukan istri atau suami yang kalian butuh, melainkan asisten rumah tangga, koki, atau tukang bersih-bersih rumah.

And remember, pasanganmu itu bukan superman atau wonder woman yang punya kekuatan super untuk menyelesaikan semua masalahmu. Bahkan superman aja punya kelemahan sama batu kripton. Jika ada masalah yang tak dapat diselesaikan berdua, cari bantuan profesional atau orang lain yang mumpuni dan bisa dipercaya.

 

 

 

Kronik Curhatan

Kalian pernah gak sih, abis curhat bukannya jadi lega tapi malah makin bete gara-gara orang yang kalian curhatin bukannya ngedukung atau setidaknya ngasih ucapan yang menguatkan atau menghibur, tapi malah bikin mood kalian semakin down dan kalian makin malas menghadapi hari?

Biasanya kalo lagi curhat itu seseorang mengutarakan ketakutan, kekuatiran, kekesalan, maupun kebetean mereka. Nah, kalo orang lagi kesal dan bete lo respon dengan:

  • yaelah tong, masalah kek gitu aja lo pikirin. mending lo mikirin gimana masak kue ini biar gak bantet.
  • yaelah, baru gitu aja lo kesel. liat gue dong, kena tonjok sana-sini masih bisa eksis.
  • gue aja bisa, masak lo segitu aja gak bisa?
  • ya lo cari tau sendirilah. masa gitu aja mesti nanya gue.
  • udahlah, mending lo manfaatin waktu lo buat ngapain kek daripada ngurusin kek ginian.

tanduknya makin keluar, jek! πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ‘ΏπŸ‘ΏπŸ‘ΏπŸ‘Ώ

Yang tadinya mungkin enggak kesel-kesel amat malahan tambah kesel mendengar respon kek gitu. Kesannya seperti mengecilkan masalah yang sedang dihadapi oleh orang yang lagi curhat.

Mungkin tujuan si pendengar merespon kek di atas tadi adalah untuk membesarkan hati si oknum yang lagi curhat agar dia enggak patah arang. Tapi timing dan caranya enggak cocok, jek. Karena bagi sebagian orang, curhat adalah masalah hidup dan mati. Seperti kawan saya si Anies, yang cuma butuh didengerin, bukan nasehat atau solusi.

Tapi mungkin masalahnya adalah, sebagian orang memang enggak diberi talenta untuk ngedengerin curhatan orang ya? Atau barangkali, ada orang yang emang gak cocok kalo curhat sama si A, tapi cocok curhat sama si B. Dan ada orang yang cocok curhat sama si A, tapi enggak cocok sama B. Ya, barangkali kek gitulah.

Saya pernah beberapa kali curhat sama A, dan kami nyambung-nyambung aja tuh kalo cerita. Nah, begitu curhat sama si B, seringkali ujungnya saya malah makin bete. Tapi ada orang yang curhat sama B ini malah nyambung. Berarti emang perkara nyari tempat curhat ini pun macam perkara nyari jodoh juga kan? 😁😁😁

Sebagai penutup untuk postingan kronik curhatan ini, bolehlah ngasih masukan sedikit ya. Barangkali perlu dimasukkan pelajaran dasar komunikasi dan psikologi sejak di bangku sekolah dasar, supaya anak belajar sejak dini bagaimana memberi respon yang cocok di waktu yang tepat, serta kepada orang yang tepat. Karena sebagian besar masalah di dunia ini terjadi gara-gara amburadulnya komunikasi, dan kita tak kenal siapa kawan bicara kita.

Lalu bagi kalian yang mau curhat, sebelum curhat mungkin ada baiknya tanya dulu ke orang yang mau dicurhatin apa dia mau denger curhatan kita atau enggak. Biar enggak kecele.

**

 

 

Dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik kalau ada lebih banyak orang mau menyediakan telinganya untuk mendengarkan.

 

 

Pulang

1 januari 2018, pagi pertama di tahun baru, saya dan suami ngobrol di satu kedai di lantai paling bawah penginapan tempat kami berkumpul dengan keluarga besar untuk merayakan pergantian tahun.

Beberapa jam sebelumnya, tepat setelah beberapa menit menyaksikan kembang api pertanda jam 00.00 dari jendela lebar di tempat kami berkumpul, saya langsung menelepon orangtua, bermaksud mengucapkan selamat tahun baru.

Pada percobaan pertama, telepon saya masuk namun tidak diangkat. Kali kedua, juga tidak diangkat. Saya coba sekali lagi, tetap tidak diangkat. Saya menyerah. Mungkin orangtua saya juga sedang merayakan pergantian tahun bersama keluarga besar kami yang lain di seberang lautan sana.

Di kedai pagi itu, kembali saya menelepon orangtua. Pada dering ketiga, telepon diangkat. My mum. Lega mendengar suaranya. Lantas saya ucapkan selamat tahun baru dan bertanya kabar.

β€œOmpung sudah semakin lemah… Don’t you wanna come and see her?” tanya beliau.

At first, i was hesitated. Di satu sisi pengen lihat ompung, di sisi lain mesti realistis tentang beberapa hal.

Beberapa bulan lalu sewaktu mudik, saya juga mengunjungi ompung. Waktu itu (meski sudah sangat tua dan kerap mengulang pertanyaan yang sama), ompung masih bisa diajak ngobrol, makan biskuit bareng, dan foto-foto bareng. Wefie, kalo kata anak jaman now.

Semangat hidupnya tiada duanya. Tiap kali saya datang berkunjung, ompung selalu menyanyikan lagu rohani favoritnya. πŸ˜€

Namun, tak seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana ompung langsung mengenali saya tiap kali muncul di pintu rumahnya, mudik kemarin ompung tak lagi mengenali saya.

β€œKau siapa?” tanya ompung. Saya bilang bahwa saya adalah anak si Anu, yang tak lain tak bukan adalah anaknya sendiri. πŸ˜€

Ompung tertawa ketika akhirnya menyadari bahwa orangtua saya adalah anaknya. πŸ˜€ πŸ˜€ Beliau juga bertanya saya tinggal di mana, dan bagaimana saya bisa tiba di rumahnya.

β€œPerjalanan panjang ya…? Tahu-tahu tiba di rumah ompung…” ujar ompung sehabis saya beritahu bahwa saya datang dari Balikpapan di Kalimantan Timur.

Ompung adalah sebutan untuk orangtua dari orangtuanya kita dalam bahasa Batak.

It was my husband who convinced me to visit ompung. β€œMumpung ompung masih hidup…” katanya. Seratus persen saya setuju. Karena kalau ompung sudah pergi, maka datang tak ada gunanya.

So in january the 3rd, saya pulang ke kampung halaman dengan pesawat paling pagi. Malam kedua saya di sana, ompung pergi.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

 

 

January the 7th, jam tiga pagi saya terbangun dan mendengar suara babi menguik di luar rumah. Kru katering bersiap menyembelih untuk keperluan acara adat ompung.

Beberapa orang tidur berjejer di dekat peti jenazah ompung. Penempatan peti itu sendiri menurut saya agak mengganggu lalu lintas orang keluar masuk. Pengen protes soal letak, tapi saya orang pendatang. Sehingga tak etis rasanya memprotes adat setempat yang berlaku.

Belakangan, pertanyaan β€œKenapa petinya mesti menghadap pegunungan?” akhirnya terjawab. Menurut adat setempat, arah kepala jenazah mestilah menghadap gunung Pusuk Buhit yang konon dipercaya orang Batak sebagai tempat asal muasal leluhurnya.

Dalam hal-hal kek ginilah kekristenan dan hukum adat sering berbenturan, dan karena hal-hal kek ginilah saya sempat alergi adat Batak.

Jika telah menjadi kristen, yang notabene memercayai Kristus sebagai Juru Selamat manusia, kenapa arah kepala jenazah mesti dipermasalahkan mau menghadap utara, timur, selatan, atau barat? Rasanya seperti mundur ke zaman batu.

Kekristenan menurut saya lebih dari sekadar mempersoalkan makanan mana yang boleh dan tidak boleh dimakan; apakah boleh memakai ulos atau tidak; atau mau diletakkan di sebelah mana peti jenazah; dlst.

Intinya, kekristenan lebih dari sekadar mempersoalkan hal-hal lahiriah dan hadir untuk menyederhanakan yang ribet.

When i was very young, perhaps around SMP, saya pernah menghadiri acara adat orang meninggal dan menemukan beberapa hal yang saat itu enggak masuk akal buat saya. Salah satunya adalah: mereka berpesta, manortor (menari), memberi ulos, dll, di luar rumah, dan peti jenazah teronggok di dalam rumah. Pertanyaan saya waktu itu: sebenernya orang-orang ini merayakan apa sih? Toh orangnya udah meninggal, sama sekali udah enggak tahu apa-apa lagi.

Fyi, seringkali lamanya waktu yang dihabiskan dan meriahnya acara adat orang meninggal itu hampir sama seperti pesta adat pernikahan. Semakin besar keluarga, maka semakin lama acaranya selesai.

Karena kepikiran, satu waktu saya bertanya ke orangtua saya untuk apa semua pesta itu dilakukan hingga berjam-jam? Bukankah orangnya udah meninggal dan tak tahu apa pun lagi? Orang lagi berduka kenapa malah pesta meriah?

Jawab mereka: adat itu bukan untuk si almarhum, melainkan untuk orang-orang yang datang melayat, yang mengasihi si almarhum, untuk kerabat, dst.

Okelah, jawabannya masuk akal. But still, ada hal lain yang masih mengganjal macam serat daging yang tertinggal di sela gigi.

Jika Cina punya China Dream, dan Amerika Serikat punya American Dream, maka orang Batak juga punya Batak Dream. Yaitu: hamoraon, hasangapon, dohot hagabeon. Kaya, terpandang, terhormat, sempurna.

Maka demi mewujudkan Batak Dream, demi gengsi dan nama baik, tak jarang orang Batak rela ‘tutup mata’ mengeluarkan kocek besar untuk melangsungkan pesta meriah. Padahal kalau buat saya pribadi mah, daripada sampe mesti berutang sana-sini demi memuaskan ego dan membuat orang lain terkesan, mari menjadi realistis.

Saya ingat koq pernah menyebut bahwa kalau bukan saya yang melestarikan budaya Batak lantas siapa lagi? Tapi seiring waktu berjalan, beberapa hal juga ikut berubah.

Mungkin dahulu nenek moyang Batak bikin acara adat segitu ribet dan lama karena masih relevan dengan keadaan pada zaman ratusan tahun silam. Lah kalo sekarang? Pesta hingga berjam-jam dengan segala keribetannya rasanya tak relevan lagi di era sekarang ini.

Adat istiadat adalah buatan manusia. Tentunya bisa ditambahi atau dikurangi, dan disesuaikan dengan zaman. Mungkin caranya yang perlu diubah, sedangkan esensinya tetap sama. Yakni, menghormati para tamu yang datang.

Jadi menurut saya, instead of dancing and giving ulos for about five hours, setelah kebaktian, makan bersama handai tolan yang datang untuk menghormati keluarga yang berduka, lalu disambung sepatah dua patah kata-kata penghiburan, doa bersama, dan akhirnya ditutup dengan penguburan. Apabila ada kerabat yang ingin memberi ulos sebagai tanda holong (kasih), cukup satu atau dua sebagai perwakilan.

Dan yang terpenting menurut saya adalah keyakinan serta niat awal menyelenggarakan pesta. Jika niat dan keyakinan sejak awal adalah untuk kebaikan, maka mau pakai adat Batak atau tidak, acara akan berlangsung lancar dan semua akan baik-baik saja.

 

 

Kritis Kebablasan

Didasari kesadaran bahwasanya jagat raya maha luas ini tidak berputar di sekitar saya, maka saya mengucapkan selamat tinggal kepada kritik. Well, enggak 100% persen sih, karena dalam darah Batak sendiri keknya emang udah ada bibit-bibit kritis dari sononya. 😁😁😁

Keknya semua berawal dari medsos yang pernah saya tulis bulan April lalu. Sekali lagi, seperti yang pernah saya tulis di medsoswalking, saya yakin banyak orang yang hatinya terluka pas baca-baca beberapa (atau mungkin semua 😁) tulisan di blog ini yang bernada kritis (kebablasan). Karena sekarang saya sendiri yang geleng kepala bacanya. And i’m not proud of it.

Sampe akhirnya saya baca satu buku yang membahas tentang β€˜dealing with people’ yang mengatakan bahwa orang-orang kritis adalah orang yang paling tak bahagia.

I was like: 😲😲😲

Seriously?

Nama Najwa Shihab pun melintas di kepala.

Satu waktu Najwa pernah diundang ke acara Teka-teki Sulit Waktu Indonesia Bercanda di NET TV. Sewaktu jawaban yang muncul di layar tak sesuai dengan yang dia sebut, Najwa kurang lebih berkomentar, “Keknya udah dituker nih jawabannya……”

Penonton tertawa, saya juga.

Nabila, co-host Cak Lontong, menanggapi komentar Najwa, β€œOrang kritis bawaannya curiga dan negatif thinking melulu ya?”

Bam! Saya tertampar sodara. 😭

Setelahnya, saya coba membaca beberapa media online yang terkenal kritis yang dulu sering saya sambangi. Mau ngetes apakah saya masih antusias seperti dulu. Ternyata baru beberapa detik membaca saya eneg. Bawaan pengen cepet-cepet nutup itu portal.

Saya coba lagi baca buku-buku ‘berat’ bermuatan sejarah yang membahas kejadian tak mengenakkan maupun ketidakadilan di masa lampau. Lagi-lagi saya merasa eneg. Which is tahun-tahun lalu buku-buku kek gini cepat banget saya lahap. Sekarang saya malah bertanya, β€œKenapa orang masih baca buku-buku kek gini?”

I mean, dude, it’s over. Itu sudah berlalu and we’re not living in the past. Kita sekarang berada di sini, di masa kini. Kenapa tak baca atau dengar buku-buku maupun cerita yang bertutur tentang kasih, sukacita, dan kebaikan?

Kalau alasan membaca buku-buku ‘berat’ tadi adalah untuk bercermin dan agar tidak ikut-ikutan melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang-orang di zaman lampau itu ya monggo aja. Cuma sebaiknya cukup sekadar tau. Gak usah dibahas panjang kali lebar kali tinggi. πŸ˜‰ Rasanya seakan menggarami dan memberi cuka pada luka.

Jadi sekarang, untuk berita-berita saya cuma baca satu media yang ngakunya memihak hati nurani rakyat dan jernih melihat dunia. Itu pun sering cuma baca judulnya doang. Karena lebih dari 80% berita yang belakangan berseliweran di sana cenderung mengabarkan korupsi, perang, korupsi, perang, kawin, cerai, korupsi, repeat.

Well, wajarlah ya, karena manusia memang selalu haus β€˜drama’. Emang udah dari sononya begitu. Makanya berita yang laku dan cepat mendatangkan iklan ya berita-berita kek gitu. Jadi cukup sekadar tahu saja kabar-kabar yang sedang terjadi di jagat raya.

**

Kalo dulu mengkritik sesuatu atau seseorang itu rasanya seperti kebutuhan, maka sekarang…. mikir dulu berkali-kali. Karena kritik biasanya bermuatan ekspektasi, maka sekarang sebelum mengkritik seseorang atau sesuatu, saya ngaca dulu ke diri sendiri, apakah mampu menerapkan kritik yang saya lemparkan itu.

Itu sebabnya kemarin waktu pesawat saya pergi dan pulang ditunda 3 jam, saya tak lagi protes atau mempertanyakan ini-itu kepada staf maskapai penerbangan. Kalo dulu mah saya datangi stafnya sambil pasang muka jam dua belas dan koar-koar tentang hak dan kewajiban penumpang. 😁

Sekarang, saya tertawa saja dan menyambung baca buku Travel Young-nya Alanda Kariza. Rasanya lebih bermanfaat dan sukur-sukur saya bisa tetap young. 😁😁

And here i am now. Survive and alive, writing for you. That’s all that matters. πŸ˜„

Punya sikap kritis memang perlu ya. Yakni tidak gampang percaya dan rasa ingin tahu yang tajam. Tapi ada baiknya pisahkan dulu mana kritis yang berguna, dan mana kritis yang cuma ngotor-ngotorin lini masa or time line media sosial yang cenderung bikin orang yang membaca jadi berdosa. 😁

Jika menjadi kritis malah menjauhkan atau bahkan membuat kita kehilangan Tuhan, keluarga serta teman, apa iya sikap ini masih tetep dipertahankan?