The Danger of Anger

Kamis malam lalu saya ikut ibadah Memperingati Penderitaan Tuhan Yesus. Dan khotbah yang dibawakan oleh pendeta diambil dari Lukas 22:1-6. Pak pendeta khusus membahas soal Yudas Iskariot, murid Yesus, yang mengkhianati Yesus. Ternyata Yudas adalah bendahara perkumpulan mereka, dan adalah seorang dengan kepribadian introvert yang tertutup.

Mungkin karena didorong oleh cinta uang, dan didorong kekecewaannya kepada Yesus karena Yesus tidak bertujuan melepaskan orang Yahudi dari kekaisaran Romawi saat itu, atau karena ia orang Yudea sehingga menganggap Yesus yang adalah orang Galilea tidak pantas sebagai pemimpin, maka kesemua faktor tadi membuat ia mudah dimasuki si jahat atau si bolis. Bolis dalam bahasa Batak artinya iblis.

Akibatnya fatal. Yudas tidak menyangka bahwa ternyata Yesus diserahkan untuk dibunuh. Setelahnya, ia menyesal. Namun karena ia telah menjual jiwanya kepada bolis, ia tidak memilih kembali kepada Tuhan. Yudas memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Tragis.

Di dalam Alkitab ada beberapa tokoh lain yang juga mengalami akhir hidup yang tragis karena memelihara kebencian dalam hidupnya sehingga Roh Tuhan pergi meninggalkan mereka. Seperti Raja Saul. Pada mulanya ia diurapi Tuhan. Namun seiring saking bencinya ia kepada Daud, perlahan-lahan ia mengundang bolis masuk ke dalam dirinya, hingga satu kali ia mengadakan pemanggilan arwah, dan akhirnya Tuhan pergi meninggalkan dia.

Kain juga karena dikuasai kemarahan kepada adiknya, Habel, sehingga dengan tega ia mengambil nyawa adiknya. (Kejadian 4:6-7)

Musa pun pernah marah kepada umat Israel di mata air Meriba. Saat itu mereka baru keluar dari perbudakan di Mesir, dan terus menerus mengomel kepada Musa karena mereka kehausan. Sambil marah, Musa mengayunkan tongkatnya pada bukit batu. Bukit batu mengeluarkan air, namun Tuhan tidak senang akan perbuatan Musa. Dalam Ulangan 32:51-52, perbuatan Musa yang marah tersebut sama dengan tidak menghormati Tuhan, dan berakibat ia tidak akan memimpin umat Israel masuk ke negeri yang dijanjikan Tuhan. (Bilangan 20:10-13)

Memang seringkali akar dari banyak masalah yang terjadi adalah harapan-harapan yang kandas. Dan jika tidak segera diatasi, hal itu akan berkembang menjadi kekecewaan, kebencian, sakit hati, amarah dan kepahitan. Sakit hati, kepahitan, kekecewaan, maupun kemarahan, adalah ladang subur bertumbuhnya si bolis.

Jika kita memelihara kebencian, kemarahan, kekecewaan, maka berhati-hatilah, si bolis akan mudah memasuki dan menguasai kita. Orang yang marah pikirannya gelap, tak mampu berpikir jernih, tak memakai akal sehat, dan tak mampu memikirkan kebaikan, melainkan hanya memikirkan bagaimana agar terjadi kekacauan, perpecahan, iri, dengki, dlst, karena ia dikuasai bolis. (Galatia 5:19-21)

Oleh karenanya, jika marah, marahlah sebentar saja agar iblis tak dapat berkuasa. (Efesus 4:26-27) Redakan amarah sebelum matahari tenggelam, kata pepatah.

Undanglah Roh Kudus, yaitu Roh Tuhan, agar bekerja dalam hidup kita untuk menghasilkan buah roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. (Galatia 5:22-23) Karena hanya ketika bersatu dengan Tuhanlah kita mampu melawan si bolis.

Mungkin kita tidak dapat mencegah orang lain mengucapkan maupun berbuat hal-hal yang tidak kita kehendaki, namun ingatlah bahwa kita pun punya kekurangan, dan kita harus belajar menguasai emosi. Jadikan Tuhan penguasa hidup kita, agar perbuatan kita tidak bergantung kepada respon orang lain, tetapi bergantung kepada Tuhan, yaitu sumber kasih.

Ingat kaidah kencana: perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. (Matius 7:12) Jika kita ingin dihormati, maka terlebih dahulu hormati orang lain. Teladanilah Yesus yang meskipun dihina, direndahkan, dilecehkan, dan dilempari menjelang ia disalib, namun IA tidak membalas mereka. Yesus cuma berdoa: Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tau apa yang mereka perbuat.

Untuk orang-orang yang sulit (misalnya seperti egois, pemarah, cemburuan, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang seringkali menyulitkan untuk berkomunikasi hingga membuat frustrasi), kita boleh mendoakan mereka, dan ingatlah bahwa rasa frustrasi seperti itulah yang setiap hari harus dihadapi Tuhan dengan kita masing-masing. Mungkin salah satunya termasuk kita.

Segala harapan dan rencana orang lain seringkali kandas saat berhadapan dengan karakter kita, sama seperti harapan dan rencana kita seringkali kandas saat berhadapan dengan karakter mereka. Kesadaran diri hendaknya mendorong kita untuk berusaha menunjukkan kesabaran dan penerimaan terhadap orang lain, sama seperti yang ditunjukkan Tuhan terhadap kita setiap hari.

Semakin kita kurangi tuntutan dan komplain, semakin kita bahagia. Kebahagiaan adalah gabungan dari rasa ikhlas dan hati yang bersyukur.

Dan jika kita ingin berumur panjang dan menikmati yang baik, marilah kita menghormati Tuhan dengan cara: tidak mengeluarkan kata-kata yang jahat, tidak suka tipu muslihat, menjauhi yang jahat, melakukan yang baik, dan mengusahakan perdamaian dengan sekuat tenaga. (Mazmur 34:12-15).

Oiya, di bawah ini ada beberapa kutipan tentang marah yang saya dapat dari Amsal. Semoga menginspirasi dan semoga membuat kita lambat untuk marah. 🙂

 

“Tidak cepat marah lebih baik daripada mempunyai kuasa:

menguasai diri lebih baik daripada menaklukkan kota. (Amsal 16:32)”

—-

 

“Hanya orang bodohlah yang suka bertengkar;

sikap yang terpuji ialah menjauhi pertengkaran. (Amsal 20:3)”

—-

 

“Orang bijaksana dapat menahan kemarahannya.

Ia terpuji karena tidak menghiraukan kesalahan orang terhadapnya. (Amsal 19:11)”

 

 

 

 

 

Advertisements

Mungkin Nanti Akan Kurus Lagi

Pernah ada satu masa dimana saya sangat senang dengan desain eklektik, dan senang dengan tembok penuh hiasan maupun foto. Rasanya ada yang kurang kalo tembok belum rame. 🙂

Lalu, entah yang mana duluan, apakah karena sering melihat gambar-gambar desain minimalis ala Skandinavia dengan warna-warna teduh, atau karena kunjungan ke airbnb Jakarta yang menyenangkan itu, yang tempatnya didominasi warna terang dan warna natural, saya pun makin tertarik dengan minimalisme.

Dalam buku Mengajar Seperti Finlandia, penulisnya mengatakan bahwa tempat tinggal di Finlandia dibuat sesederhana mungkin agar nyaman. Seperti gaya IKEA: minimalis, fungsional, dan tetap memerhatikan estetika. Dan orang-orang Finlandia secara aktif ikut serta dalam bermacam kegiatan diluar pekerjaan dan sekolah mereka. Sehingga, rumah berantakan dipenuhi barang bukanlah kebiasaan mereka.

Seperti yang pernah saya tuliskan, airbnb di Jakarta itu sederhana saja. Satu dapur, living room, kursi dan meja makan, semua terekspos tanpa sekat, membuat ruangan yang sebetulnya kecil terlihat luas. Hanya kamar tidur yang tertutup, karena ini area pribadi.

Walau hanya menumpang beberapa hari saja di sana, itu sudah cukup buat saya. Saya lalu berpikir, jika hanya untuk tinggal beberapa hari saja cukup dengan barang-barang yang tersedia di sana, mestinya itu pun sudah cukup untuk jangka waktu yang lama.

Satu pertanyaan penting muncul: jika barang-barang fungsional yang paling sering digunakan untuk sehari-hari sudah cukup, lantas untuk apa menjejali rumah dengan barang-barang yang bahkan mungkin tidak akan dipakai atau tidak akan dilihat lebih dari dua kali?

Apa yang sering kita lihat, dengar, maupun baca, kita akan semakin sering terpapar olehnya, dan akan semakin mirip dengannya. Mungkin karena semakin sering saya melihat gambar-gambar minimalis tadi, saya bertekad mewujudkan visi minimalis ini. Saya pun mulai introspeksi dan memilah mana barang-barang yang bener-bener masih dipakai dan mana yang tidak dibutuhkan lagi.

Ternyata barang-barang yang tak dibutuhkan itu banyak saya simpan di lemari. Seperti pakaian, misalnya. Saya simpan karena saya pikir suatu hari nanti akan kurus lagi. Ternyata, setelah bertahun-tahun, tubuh saya bukannya makin kurus, dan saya jadi lupa bahwasanya mereka ada di lemari selama ini.

Dua tahun lalu saya pernah nonton satu film dimana tokoh utamanya senang memakai pakaian dari era jadul. Rupanya, sewaktu ibunya meninggal, ayahnya menjadi sangat sedih sehingga mendonasikan semua pakaian ibunya. Jadi, dia pikir, apabila ia terus memakai pakaian-pakaian dengan gaya jadul dari era ibunya itu, suatu saat nanti ia akan boleh mengenakan pakaian-pakaian ibunya tadi. Padahal tidak mungkin. Pakaian-pakaian ibunya tidak akan pernah kembali lagi. Pada akhirnya ia tersadar bahwasanya perbuatannya selama ini sia-sia belaka, dan mulai mengenakan pakaian dari era sekarang.

Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Artinya, sepatutnya kita bertindak bijaksana dan tepat dalam menggunakan harta benda atau berkat yang diterima. Prioritaskan kebutuhan hidup dan nomorduakan keinginan mata.

Tuhan Yesus dalam Doa Bapa Kami mengajarkan, “Berilah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya.” Secukupnya menunjuk pada kecukupan seseorang dalam hal yang dibutuhkan, dan pengawasan terhadap keinginan. Kecukupan juga menandakan keyakinan yang positif bahwa Tuhan telah mencukupi keperluan kita. Tuhan akan mencukupkan setiap kebutuhan kita, bukan keinginan kita.

Mungkin kita pikir dengan membeli lebih banyak barang, menonton lebih banyak film, membaca lebih banyak buku, mendengar lebih banyak lagu, memakan lebih banyak makanan, atau mengkritik sebanyak mungkin, dlst, akan mampu mengisi kekosongan jiwa. Tapi sebetulnya tidak. Hanya Tuhan Yesus yang mampu mengisi celah kosong tersebut, jika kita minta dengan rendah hati.

Biarkan Tuhan mengisinya, karena hanya di dalam Tuhanlah kita mampu berbahagia. 🙂

 

 

 

 

Mama & Yusuf

Ibu saya dari dulu sangat rajin pergi koor di gereja, ibadah sektor dari gereja, ibadah dari marga (orang Batak biasanya ada perkumpulan marga), ke pesta, jenguk orang sakit, dlst. Waktu kecil saya sering protes karena beliau sangat sering melakukan kegiatan-kegiatan tadi, bahkan sampai malam hari.

“Apa sih untungnya kalo mama pergi? Lagian mama kan udah capek kerja seharian. Istirahat ajalah di rumah ma…” Begitulah yang sering saya ucapkan tiap kali mama mau pergi keluar rumah.

Ibu saya itu tipe orang yang selalu sibuk, tak pernah bengong. Seharian pasti ada saja yang dikerjakan. Beliau seperti pribadi yang digambarkan dalam Yesaya 40:31:

“Tetapi orang yang mengandalkan Tuhan, akan mendapat kekuatan baru. Mereka seperti burung rajawali yang terbang tinggi dengan kekuatan sayapnya. Mereka berlari dan tidak menjadi lelah, mereka berjalan dan tidak menjadi lesu.”

Sekarang, baru saya sadari bahwa ternyata supaya jiwa kita tetap sehat, ia butuh disuplai hal-hal seperti yang dilakukan ibu saya tadi. Dan ternyata ada hiburan tersendiri ketika kita bertemu dan berkumpul dengan kawan-kawan kita.

“Hendaklah kita tetap berkumpul bersama-sama, dan janganlah lalai seperti orang lain. Kita justru harus lebih setia saling menguatkan. Sebab kita tahu bahwa tidak lama lagi Tuhan akan datang. (Ibrani 10:25).

Yusuf anak Yakub, adalah seseorang yang juga mengandalkan Tuhan. Jalan hidupnya berliku-liku dan jauh dari kemulusan jalan tol bebas hambatan. Pada usia 17 tahun ia dibuang dan dijual abang-abangnya ke pedagang Ismael. Kemudian ketika tinggal dirumah orang, ia difitnah, lantas dipenjara.

Di penjara, ia bertemu juru minuman istana dan menolongnya mengartikan mimpi sang juru minuman. Yusuf minta tolong kepada sang juru minuman apabila ia bebas nanti, agar menyampaikan kasusnya kepada raja bahwasanya ia tak bersalah dan agar ia dibebaskan dari penjara. Tetapi setelah bebas, orang yang ditolongnya tadi, lupa.

Bertahun-tahun Yusuf menunggu di penjara. Meski jauh dari kehangatan keluarga, Alkitab mencatat bahwa Tuhan selalu menyertai Yusuf dan membuat segala pekerjaannya berhasil.

Setelah 13 tahun menanti, Yusuf akhirnya bekerja sebagai gubernur seluruh Mesir. Dan setelah 20 tahun, Yusuf akhirnya berjumpa kembali dengan ayah yang sangat dicintainya.

Bacalah Kejadian 37-50 untuk mengetahui kisah hidup Yusuf selengkapnya.

**

Sewaktu membaca kisah hidup Yusuf, saya bertanya-tanya. Kenapa Yusuf sama sekali tak tebersit keinginan untuk pulang ke rumahnya, atau melarikan diri dari penjara dan kembali ke negeri asalnya, dlst. Saya menemukan jawabannya. Itu karena Yusuf adalah orang yang taat (yaitu mampu menerima kenyataan dan keadaan) dan takut kepada Tuhan. Sehingga karena ia hanya mengandalkan Tuhan, pikirannya lurus tak melenceng ke kiri dan ke kanan, dan ia hanya berpikir bahwa Tuhanlah yang telah membawanya ke Mesir.

Hal ini nampak dari jawaban yang diberikan Yusuf kepada abang-abangnya sewaktu abang-abangnya takut kalau-kalau setelah Yakub, ayah mereka, meninggal, Yusuf akan membalas kejahatan yang pernah mereka lakukan kepadanya di waktu muda.

“Jangan takut, sebab saya tidak bisa bertindak sebagai Allah. Kalian telah bermufakat untuk berbuat jahat kepada saya, tetapi Allah mengubah kejahatan itu menjadi kebaikan, supaya dengan yang terjadi dahulu itu, banyak orang yang hidup sekarang dapat diselamatkan.” (Kejadian 50:19)

Saya yakin, sepanjang hari dan sepanjang hidupnya, Yusuf selalu berdoa kepada Tuhan. Berdoa sepanjang hari maksudnya adalah bercakap-cakap dengan Tuhan dalam setiap kegiatan, setiap masalah, setiap pemikiran, terus menerus berkesinambungan.

Walau hidupnya sulit, tak ada satu pun catatan di Alkitab yang mengatakan bahwa Yusuf putus asa. Meski begitu, dua anaknya yang lahir di Mesir ia beri nama Manasye dan Efraim, yang secara tidak langsung menyiratkan bahwa hidupnya sukar dan penuh penderitaan.

Kata Yusuf, “Allah telah membuat saya lupa kepada segala penderitaan saya dan kepada seluruh kaum keluarga ayah saya.” Karena itu dinamakannya anaknya yang pertama “Manasye”. Dia berkata pula, “Allah telah memberikan anak-anak kepada saya dalam masa kesukaran saya.” Lalu dinamakannya anaknya yang kedua “Efraim”. (Kejadian 41:51-52)

 

 

Adakah orang yang kalian kenal yang sangat mengandalkan Tuhan dalam hidupnya?

 

 

 

 

 

Doa

Saya pernah bertanya kepada ibu saya apa yang membuatnya selalu terlihat bersemangat dalam menjalani hari demi hari.

Beliau menjawab, “Setiap pagi sebangun tidur, mama berdoa. Doa mama adalah siap menerima hari yang baru dengan tuntunan Tuhan. Mama minta diberi waktu dan kesehatan. Nah, karena Tuhan sudah memberi kesehatan dan waktu, itulah yang mama pakai untuk melakukan berbagai kegiatan positif sepanjang hari.”

Jadi, kuncinya adalah, ibu saya menghidupi/menjalani doanya. Ora et labora. Berdoa dan bekerja/berusaha. Ungkapan ini menegaskan bahwa berdoa dan bekerja mesti dikerjakan berbarengan. Jika kita bekerja saja tanpa berdoa, itu artinya kita hidup mengandalkan kekuatan sendiri dan mengesampingkan Tuhan sebagai Pemberi berkat.

Agar doa menjadi kenyataan, mestilah disertai tindakan atau usaha. Jika kita minta didoakan agar semakin ramah, maka belajarlah untuk ramah agar doa tersebut menjadi nyata. Jika kita minta didoakan agar sehat jasmani dan rohani, maka kita lakukanlah kegiatan-kegiatan yang bertujuan menyehatkan roh dan tubuh kita. Misalnya: aktiflah dalam kegiatan kerohanian, ikut ibadah, bertemu kawan-kawan, berdoa, pikirkan hal-hal yang luhur, rencanakan hal-hal yang mendatangkan kebaikan/luhur, rutin olah tubuh, makan makanan yang menyehatkan tubuh, tinggalkan hal-hal yang melemahkan jiwa serta tubuh, dan perhatikan ucapan (sebab ucapan kita akan menentukan jalan hidup kita).

Tuhan memberi satu mulut dan dua telinga dengan maksud agar kita berpikir dulu sebelum bicara. Ketika kita mengucapkan sesuatu karena didorong oleh rasa takut, kemarahan, ketidakpedulian, atau keangkuhan diri (sekalipun yang kita katakan itu benar), orang yang menyimak perkataan kita akan menangkap lebih dari sekadar kata-kata yang kita ucapkan. Mereka mendengar emosi kita. Namun mereka tidak tau apakah emosi itu didasari oleh sikap perhatian atau kasih, atau oleh niat untuk menghina dan merendahkan. Sehingga bisa saja orang salah paham terhadap kita.

Jika kita memerhatikan ucapan kita, kata-kata kita dapat membantu untuk menuntun orang lain kepada Tuhan. Oleh karenanya, serahkanlah ucapan kita kepada Tuhan, agar banyak jiwa diberkati oleh perkataan kita.

Setiap orang harus cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berbicara dan lambat untuk marah. Sebab orang yang marah tidak dapat melakukan yang baik, yang menyenangkan hati Allah. (bacalah Yakobus 1:19-20)

Doa yang dinaikkan dengan tekun dan penuh iman akan didengar Tuhan. Salah satu contohnya saat Petrus dipenjara, jemaat gereja mula-mula tekun berdoa untuk keselamatan Petrus. Dengan cara Tuhan yang ajaib, Tuhan mengutus malaikatNya membebaskan Petrus. (bacalah Kisah Para Rasul 12:1-19)

Kadang kita tak pernah tau siapa yang sedang berdoa untuk kita atau seberapa banyak doa mengisi udara. Tapi, Tuhan tau. Masalah apa pun yang kita hadapi, sekalipun itu kekacauan emosi dan rohani yang membuat kita merasa terbelenggu, semua mampu Tuhan pulihkan asalkan kita hidup menurut kehendakNya.

Tetaplah berdoa dan jauhi fitnah serta pertengkaran, selalu ramah dan bersikap lemah lembut kepada setiap orang. Lemah lembut bukan berarti tak pernah marah ya, melainkan mampu menahan amarah dan marah pada waktunya.

Bukan banyaknya kata yang membuat suatu doa itu berarti. Tuhan senang jika doa kita adalah doa yang muncul apa adanya dari hati kita. Contohnya seperti doa Bapa Kami yang pendek. Walaupun singkat, doa tersebut memberi pertolongan dan pemulihan karena mengingatkan kita bahwa Allah adalah Bapa surgawi kita yang berkuasa di bumi sebagaimana di surga. Ia menyediakan makanan, pengampunan, dan ketabahan bagi kita setiap hari. Tuhan berhak menerima segala hormat dan kemuliaan.

 

 

 

 

Ibadah

Biasanya berapa kali kalian ikut ibadah dalam sebulan? Adakah perubahan signifikan yang kalian rasakan dalam hidup setelah aktif beribadah? Sejak awal tahun ini, ada sekitar empat kali saya mengikuti ibadah. Ibadah tiap hari Minggu dan ibadah Buka Tahun.

Beberapa tahun lalu saya pernah mendengar khotbah tentang ibadah. Pembawa khotbah waktu itu mengatakan bahwa ibadah ada beberapa macam, yaitu:

  • verbal: hanya kata
  • ornamental: hanya hiasan
  • ritual: hanya sebatas ibadah
  • operasional: berdampak bagi orang lain dan mengabdi di tengah masyarakat.

Ibadah mestilah disertai rasa cukup dari seseorang. Karena jika tidak, maka yang kita lakukan adalah menjadi tukang kritik mencari-cari kekurangan dan kesalahan. Misalnya: dekorasi tempat ibadah yang tak sesuai selera kita, cara pembawa firman membawakan khotbah juga tak sesuai selera kita, pakaian maupun sikap penerima tamu kurang cocok dan kurang ramah, dlst.

I’ve done that for years in my life, yakni pada masa-masa suram ketika saya hidup sesuka saya, yang pada ujungnya hanya membuat jiwa sakit; sia-sia tiada berguna. Sebagian postingan kritis pada masa-masa menjadi tukang kritik itu masih ada di blog ini. Dan sekarang, jika saya membaca jurnal-jurnal ‘tajam’ maupun kritis yang pernah saya tulis pada masa-masa suram itu, rasanya seperti orang lainlah yang menulis; bukan diri saya yang sekarang. Tidak ada kasih dalam postingan yang saya tulis pada masa-masa ‘gelap’ itu. Karena jika ada kasih, maka ia akan menutupi segala kekurangan. 🙂

Menurut saya, ibadah itu sebenarnya agar kita bertemu dengan saudara-saudara kita seiman dan bersosialisasi. Karena ibadah bukan cuma di tempat ibadah saja, tetapi keseluruhan hidup kita adalah ibadah.

Kalo kita ikut ibadah hanya untuk mendengar khotbah, kita bisa mendapatkannya di internet, enggak perlu bersosialisasi ketemu orang-orang. Di internet ada begitu banyak khotbah menarik untuk didengar dan ditonton. Tapi rasanya tentu beda jika kita berkumpul bersama kawan-kawan dan saudara-saudara kita. 🙂

Ibadah mestilah melepaskan segala sesuatu di hadapan Tuhan, dan kita mesti datang dalam kerendahhatian.

Jadi kembali lagi ke pertanyaan di awal tadi: Biasanya berapa kali kalian ikut ibadah dalam sebulan? Adakah perubahan signifikan yang kalian rasakan dalam hidup setelah aktif beribadah?

Jika ibadah kita, hidup kita, maupun harta benda yang kita miliki tak membawa perubahan positif ke diri sendiri dan sesama, coba periksa hati kita dan motivasi kita. Barangkali kita tak lagi datang dalam kerendahan hati, dan ada sesuatu yang sangat keliru dalam cara hidup kita.

Nah, kalo saya pergi ibadah atau kebaktian, saya harus mendapatkan sesuatu untuk dibawa pulang dan diterapkan dalam hidup sehari-hari. Karenanya, saya selalu berusaha memperpanjang ingatan dengan cara mencatat pesan-pesan yang saya dengar dari percakapan-percakapan, maupun pesan-pesan yang disampaikan para pembawa firman dalam buku notes atau dalam notes di henpon. 🙂

Di bawah ini beberapa pesan yang saya dapatkan dari beberapa ibadah yang saya ikuti di awal tahun 2019 ini:

  1. Hadirkan Tuhan dalam setiap rencana kita.
  2. Dengan kebersamaan dan komunikasi yang enak, kita akan berhasil dimanapun berada.
  3. Kunci keberhasilan adalah: kita, kawan, dan Tuhan.
  4. Hidup adalah pertandingan yang harus diselesaikan sampai garis finish.
  5. Berdamai dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dan dengan orang lain.
  6. Memaafkan masa lalu yang suram. Karena kita hidup di masa kini untuk masa depan.
  7. Hidup mestilah ada aturan. Seperti petinju yang tidak sembarang meninju.
  8. Ikutilah aturan. Karena jika dilanggar atau jika kita berada diluar aturan, kita pasti sakit. Tetaplah berada dalam koridor Tuhan.
  9. Buang kebencian, kekecewaan, dlst.
  10. Latihan terus menerus.
  11. Tetap mengasihi.
  12. Stop berkeluh kesah dan pikirkanlah kebutuhan orang lain, bukan cuma diri sendiri.
  13. Berterima kasih kepada Tuhan dalam segala hal.
  14. Sukses tanpa Tuhan tak ada artinya.

 

Selamat beribadah! 🙂

 

 

 

 

Komunitas

Masuk komunitas itu berisiko. Berisiko perpecahan, sakit hati, kekecewaan, dlst. Entah itu dalam komunitas terkecil seperti keluarga, komunitas marga, komunitas hobi, dlst.

Tapi di luar semua yang berisiko kurang enak tadi, kita juga sering ketawa-ketiwi bareng menertawakan hal remeh, makan-makan bareng, foto-foto bareng, nyanyi bareng, dlst.

Seperti yang pernah saya tulis dalam postingan Catatan 17 Agustus, saya pernah meninggalkan beberapa komunitas yang saya ikuti dikarenakan ada saja orang-orang yang tidak mengekang perbuatan maupun ucapannya.

Tapi, tindakan saya yang keluar meninggalkan komunitas itu pun juga adalah tindakan yang kurang bisa mengekang perbuatan dan menandakan pribadi yang belum dewasa. Jadi sebetulnya, saya dan mereka sama-sama kurang mampu mengekang diri. Tapi semua itu sudah berlalu, dan terjadi sebelum saya menyadari betapa keliru tindakan saya selama ini.

Itulah serunya masuk komunitas yang terdiri dari berbagai macam manusia, yang berasal dari latar belakang keluarga berbeda-beda. Selalu ada suka duka. Seperti kehidupan.

Saya pernah memiliki hubungan yang sulit dengan salah satu keluarga saya selama bertahun-tahun. Sejak kecil, hingga sekitar dua tahun yang lalu, tiap kali kami berbicara, kami pasti berakhir dengan adu mulut adu pendapat. Melelahkan memang.

Menjelang akhir tahun 2016, saya bertemu kembali dengan keluarga saya ini. Waktu itu ada pesta di Sumatra. Kami pergi bersama.

Selama di Sumatra, kami melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan selama bertahun-tahun: bercakap-cakap dari hati ke hati.

Karena sudah lelah berdebat selama bertahun-tahun, waktu itu saya bertekad untuk tidak menyela apa pun yang akan beliau utarakan. Karena jika saya menyela atau mengutarakan pendapat, kami pasti akan berantem lagi.

Apa gunanya saya mempertahankan pendapat jika ujung-ujungnya hanya membuat kami bertengkar? Saya hanya ingin hubungan kami membaik.

Beliau pun menceritakan kehidupan masa kecilnya hingga masa di mana kami akhirnya berjumpa. Saya mendengarkan saja.

Saya akhirnya memahami mengapa beliau bertindak seperti itu selama bertahun-tahun dalam hubungan kami sebagai keluarga.

Saya percaya, Tuhan Yesus memampukan saya dengan tekad yang kuat untuk menerima beliau apa adanya, dan memulihkan hubungan kami yang rusak.

Komunitas tidak dibangun di atas kenyamanan. Misalnya, kita akan bertemu dengan kawan-kawan hanya kalau kita lagi pengen, hanya kalau mood kita lagi bagus, hanya kalau kawan-kawan kita baik, hanya kalau keadaan mudah, dlst. Melainkan dibangun berdasarkan keyakinan bahwa kita membutuhkannya untuk kesehatan rohani (*).

Dengan tekad yang kuat, bertumbuhlah di dalam Tuhan dan berusahalah hidup rukun dengan semua orang dengan rendah hati.

 

 

 

 

 

 

(*) bacalah bab 19 tentang Mengembangkan Komunitas, dari buku The Purpose Driven Life (Untuk Apa Aku Ada di Dunia Ini) yang ditulis oleh Rick Warren.

 

 

Menjadi Orang Tua dan Mandok Hata

Saya yakin, menjadi orang tua dan membesarkan anak bukan kerjaan gampang. Apalagi di zaman sekarang ini. Berbagai info tentang bagaimana cara membesarkan anak maupun kiat sukses menjadi orang tua bertebaran di mana-mana dan sangat gampang diperoleh. Tapi dari sekian banyak, yang mana yang cocok jadi pedoman?

Watchman Nee, dalam bukunya yang berjudul Orang Tua (Ayah-Ibu), mengatakan betapa beratnya kewajiban sebagai orang tua; karena Tuhan menyerahkan jiwa, raga bahkan masa depan anak seumur hidup ke dalam tangan orang tua. Tidak ada seorang yang memengaruhi masa depan seseorang sedalam orang tua memengaruhi anak-anaknya. Dan tidak ada seorang yang dapat mendominasi masa depan seseorang sehebat orang tua mendominasi anak-anaknya.

Dalam bukunya tersebut, Watchman Nee mengajak kita belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik di dalam Tuhan. Berikut ringkasannya:

  • Menguduskan diri di hadapan Tuhan. Maksudnya, walau kita sebagai orang tua boleh melakukan banyak perkara yang sesuai dengan kapasitas kita, namun agar anak-anak kita dapat memahami, maka kita mesti menyesuaikan diri dengan kapasitas anak.

  • Mengekang diri. Karena hari ini ada sepasang atau dua pasang mata yang selalu mengamati perbuatan maupun perkataan kita, bahkan akan terus mengamati kita seumur hidup. Sekalipun kita telah meninggal dunia, apa yang dilihat anak tidak terlupakan, bahkan akan teringat terus dalam batin mereka.

  • Tetapkan standar moral dalam keluarga. Bagaimana seorang anak menilai sesuatu atau memutuskan sesuatu selama hidupnya, semuanya adalah berdasarkan apa yang ia pelajari ketika masih berada dalam naungan orang tuanya. Banyak sekali anak-anak yang menjadi rusak bukan karena terpengaruh oleh orang lain, melainkan oleh orang tua mereka sendiri. Banyak orang tua ketika melihat masalah timbul pada anak-anaknya, mereka melihat diri mereka sendiri. Keadaan anak-anak mereka justru adalah refleksi mereka sendiri.

  • Berjalan bersama Tuhan. Kita harus menyadari bahwasanya kita banyak kekurangan dan tak sanggup mengemban tanggung jawab besar menjadi orang tua. Karenanya kita mesti berjalan bersama Tuhan. Dan jika kita ingin memimpin anak-anak kepada Tuhan, maka kita mesti berjalan bersama Tuhan. Kita tak bisa mengutus anak-anak kita ke sorga dengan menudingkan jari tangan kita ke arah sorga. Itu mustahil. Kita mesti berjalan dahulu di depan, kemudian meminta anak-anak mengikuti kita. Bagaimana standar orang tua, pasti begitu pula standar anak-anaknya.

  • Tidak berstandar ganda. Jika kita berstandar ganda, bagaimana kita dapat memimpin anak-anak kita? Jika kita sendiri pendusta, apa gunanya melarang anak-anak berdusta? Kita tak dapat menentukan kehidupan kita sendiri dengan sejenis standar dan menentukan standar lain bagi kehidupan anak-anak kita. Apa yang kita kasihi, dengan sendirinya anak-anak kita akan belajar mengasihinya. Dan apa yang kita benci, anak-anak dengan sendirinya akan belajar membencinya.

  • Memelihara kesehatian. Jika satu keluarga ingin memimpin anak-anak dengan baik kepada Tuhan, ayah ibu sebagai orang tua mesti sehati atau seia sekata. Jika orang tua tidak sehati, anak-anak akan sukar mempunyai satu standar yang pasti. Ketika ayah mengatakan boleh, sedangkan ibu mengatakan tidak boleh, atau sebaliknya, maka anak-anak akan memilih dan bertanya kepada orang yang mereka sukai.

  • Menghargai kebebasan kepribadian anak. Anak adalah pemberian Tuhan. Karenanya, semua anak merupakan titipan Tuhan. Anak adalah manusia yang berjiwa, maka Tuhan tidak memberi wewenang tanpa batas kepada orang tua. Kepada setiap manusia yang berjiwa, kita tidak dapat memperlakukan mereka semena-mena. Itu adalah kesombongan.

  • Anak bukan sasaran melampiaskan amarah. Perlakukan anak dengan sikap sopan dan lemah lembut. Setiap orang yang ingin mengenal Tuhan harus belajar mengekang diri, khususnya terhadap anak sendiri.

  • Sebaiknya tidak perlu terburu-buru menuntut anak-anak kita mematuhi kita. Tetapi kita mestilah terlebih dulu menuntut diri sendiri menjadi orang tua yang baik di hadapan Tuhan.

  • Tidak menyakiti hati anak. Karena hidup anak-anak masih bersandar pada kita, kadang sebagai orang tua, kita menggunakan wewenang secara berlebihan. Misalnya menekan anak dalam soal uang. Kita bilang kepada anak, apabila ia tidak menurut maka tidak diberi uang, tidak diberi makan, dan tidak diberi pakaian. Hal ini akan membuat anak sakit hati. Sakit hati dapat menimbulkan tawar hati atau kehilangan tekad untuk berbuat baik. Karena anak akan merasa tak ada guna berbuat baik, sebab orang tua tidak mau tahu. Dalam Efesus 6:4, Paulus berpesan agar para orang tua tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anak, melainkan mendidik mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

  • Beri penghargaan yang wajar kepada anak. Bila anak berlaku baik, kita boleh menyemangati mereka maupun memberi hadiah agar anak tetap semangat dalam berbuat baik.

  • Tutur kata harus tepat. Sebagai orang tua, kita haruslah mengatakan kepada anak-anak perkataan yang dapat kita laksanakan. Dan setiap perkataan kita harus dapat dipercayai anak.

  • Perkataan yang melampaui batas mesti segera diralat. Misalnya kita salah bicara, kita sebagai orang tua haruslah dengan serius mengakui kesalahan tersebut. Dengan demikian, kita memperlihatkan kepada anak-anak tentang kekudusan tutur kata.

  • Menjadi orang tua yang baik di dalam Tuhan tentunya harus memimpin anak-anak untuk belajar mengenal Tuhan. Untuk itu, orang tua bersama anak mesti rutin berdoa bersama dan rutin membaca firman Tuhan. Gunakan bahasa yang dimengerti anak agar mereka memahami untuk apa mereka berkumpul bersama.

  • Pimpin anak belajar bersyukur. Misalnya pada doa makan, orang tua memberi contoh untuk bersyukur kepada Tuhan dengan hati yang jujur dan ikhlas.

  • Pada malam hari orang tua kumpulkan anak dan berbincang dengan mereka. Tanggapi perkataan anak dan bertanya kepada anak apakah ada kesulitan, apakah berkelahi, apakah ada damai dalam hati.

  • Bimbing anak mengaku dosa maupun kesalahan dengan jujur, spontan, tanpa pura-pura. Banyak kepalsuan dilakukan anak-anak karena paksaan yang keras dari orang tua.

  • Dengan sederhana, pimpin anak berdoa hingga anak mampu berdoa sendiri.

  • Jika anak harus dihukum karena bersalah, tunjukkan apa kesalahannya dengan serius agar anak teringat seumur hidupnya, dan agar ia tidak hidup secara sembarangan.

  • Suasana keluarga seharusnya adalah kasih. Kondisi anak-anak di kemudian hari tergantung pada suasana dalam keluarga. Jika sejak kecil anak-anak tidak diasuh dalam kasih, itu berarti membawa mereka ke dalam watak atau tabiat yang keras, menyendiri, dan pembangkang. Banyak orang ketika dewasa tidak dapat hidup bersama orang lain, ini disebabkan kekurangan kondisi kasih dalam keluarga sewaktu mereka kecil. Dalam keluarga mestilah ada suasana sukacita, ramah, lemah lembut, sopan santun.

  • Para orang tua mesti belajar menjadi teman anak-anak sendiri. Belajar akrab dengan anak, dan senang menolong mereka. Agar ketika anak ada masalah, mereka pergi mencari kita. Dan ketika anak berhasil atau sukses pun, mereka mencari kita, bukan orang lain. Teman yang baik pasti mudah didekati dan mudah diminta pertolongannya.

Dalam poin ke-10 tadi sudah saya singgung tentang mendidik anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Caranya dengan:

  • Menjaga ambisi anak agar selaras dengan kehendak Tuhan. Sesering mungkin ingatkan dan jadilah teladan agar anak menjadi pencinta Tuhan dan sesama.
  • Tidak membangkitkan kesombongan anak, melainkan mengingatkan anak bahwa semua kecerdasan maupun talenta berasal dari Tuhan. Kesombongan adalah memegahkan diri secara berlebihan.
  • Mengajar anak-anak terima kalah dan belajar rendah hati. Sepantasnya, kita mesti mengetahui bagaimana memuji atau mengagumi orang lain. Kemenangan adalah perkara mudah, tapi kekalahan bukan perkara gampang bagi sebagian orang. Sebagai orang tua, kita ingatkan agar anak rendah hati jika memiliki kelebihan. Sedangkan jika anak gagal, kita ingatkan agar anak mampu memuji atau mengagumi keunggulan orang lain.
  • Mengajar anak-anak cerdas memilih. Sejak kecil, sesering mungkin beri anak kesempatan memilih sendiri apa yang mereka sukai. Misalnya memilih warna kesukaan atau motif pakaian. Biarlah mereka sendiri yang mengamati dan mempertimbangkan. Dan kita sebagai orang tua tetap memimpin mereka agar tetap di jalur yang benar.
  • Mendidik anak mengatur urusan. Orang tua mesti memberi anak kesempatan untuk mengatasi masalah maupun mengatur urusan. Misalnya mengatur barang-barang sendiri seperti kaos kaki, sepatu, buku, mainan. Sedari anak kecil, kita tunjukkan bagaimana mengatur barang-barangnya agar rapi. Mereka peniru ulung. 🙂

Nah, bentar lagi tahun baru. Orang Batak punya tradisi kumpul bersama keluarga dan mandok hata di malam tahun baru. Mandok hata artinya semacam memberi kata sambutan sepatah dua patah kata. Isinya bisa tentang refleksi diri selama setahun, ucapan syukur, harapan-harapan, dlst.

Ada keluarga yang mengikutsertakan anak-anak mandok hata, namun ada juga yang tidak. Cukup hanya orang tua saja yang berbicara, anak-anak mendengar. Sehingga, seringkali mandok hata berubah menjadi ajang penghakiman anak. Padahal, anak-anak pun ingin ikut menyampaikan pendapat mereka kepada orang tua.

Sebaiknya, jika memungkinkan, sejak dini anak dilibatkan mandok hata agar mereka terbiasa merasa dihargai dengan didengarkan pendapatnya.

Jika orang tua merasa perlu menghakimi atau menegur anak untuk ngomongin kekurangan mereka, lakukan empat mata supaya efektif. Menegur seseorang di depan khalayak ramai tidak akan pernah efektif. Mereka yang kita tegur justru (mungkin) akan menjadi kurang enak hati kepada kita, karena hal itu akan menjatuhkan harga diri mereka. 🙂

Orang tua juga mesti introspeksi, apakah telah memberi perhatian yang seimbang kepada anak? Tidak cuma menuntut anak harus begini, anak harus begitu. Anak-anak tidak melihat kata-kata, mereka melihat perbuatan. 🙂

 

 

 

 

 

Apa yang Akan Yesus Lakukan?

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Sudah lama saya mendengar ayat tersebut. Yakni ayat dua puluh tiga dari buku Kolose pasalnya yang ketiga.

Kalo dalam alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), bunyinya begini:

Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia. (Kolose 3:23)

Biasanya kalo saya lagi males ngerjain sesuatu, trus ingat ayat ini, saya akan kembali semangat ngerjain kerjaan yang bikin males tadi.

Tapi, sewaktu baca buku Becoming Like Jesus pada bab yang membahas tentang ‘kemurahan’, melalui ayat di atas tadi beserta satu ayat lagi, yakni dari Kolose 3:17, saya diajak belajar dan bertanya pada diri sendiri:

Apa yang akan saya lakukan jika orang yang nyuruh saya ngerjain pekerjaan itu adalah Yesus?

Jika orang yang sekarang berada di hadapan saya adalah Yesus, apa yang akan saya lakukan? Bagaimana saya akan bersikap?

Kemudian dalam Kolose 3:17 disebut:

Segala apa yang kalian lakukan atau katakan, haruslah itu dilakukan dan dikatakan atas nama Tuhan Yesus. Bersyukurlah kepada Allah Bapa untuk apa yang dilakukan Yesus bagimu (alkitab BIS).

Nah, ini dia yang paling menarik, penulis buku ini menyadarkan saya bahwasanya melakukan sesuatu ‘dalam nama’ Yesus berarti saya melakukan sesuatu yang akan dilakukan Yesus jika Dia berada di sini. Ini berarti bahwa saya bertindak seolah-olah Yesus sendiri yang bertindak di dalam saya dan melalui saya.

Jadi, jika saya adalah Yesus, apa yang akan saya lakukan dalam situasi tersebut? Jika saya adalah Yesus, apa yang seharusnya saya lakukan jika ada kawan yang sakit? Jika saya adalah Yesus, apa yang harus saya ucapkan saat ketemu kawan yang bergembira atau sedih? Jika saya adalah Yesus, apa yang harus saya lakukan jika saya telah berjanji kepada kawan untuk bertemu dengannya? Jika saya adalah Yesus, bagaimana saya akan mengelola waktu saya, keuangan saya, keluarga saya, perkataan saya, perbuatan saya, pilihan-pilihan saya, dlst? 🙂

Yesus yang saya kenal (baik melalui berbagai kisahnya dalam alkitab maupun perbuatan-perbuatan ajaibNya dalam hidup saya dan keluarga saya sampai sekarang ini), senantiasa sangat baik. RancanganNya kepada manusia sejak semula hanyalah rancangan kebaikan dan keselamatan. Namun Yesus juga bisa menggunakan perkataan yang sangat tajam dan bertindak sangat keras kepada orang-orang sombong serta orang-orang munafik.

Mungkin memang tak satu pun kita yang mampu hidup sesuai dengan standar Yesus, ya? Tapi kita mesti berusaha dan seharusnya itulah yang menjadi tujuan hidup kita. 🙂

Tetap berdoa kepada Tuhan, dan minta Ia menuntun kita dengan hikmatNya untuk melakukan hal-hal yang sesuai kehendakNya.

 

Jadi jika kalian adalah Yesus, apa yang akan kalian lakukan sore ini? 🙂

 

 

 

 

 

Sebulan Belakangan Ini…

… aku banyak merenungkan tindakan-tindakanku yang kurang bijaksana pada periode hidupku beberapa tahun belakangan. Kalau boleh kutarik garis awal episode kekacauan itu, kurasa semua bermula dari begitu seringnya aku mendapat pertanyaan-pertanyaan, “mengapa tak kunjung mendapat keturunan?”

Sejak saat itu, seperti yang pernah kupaparkan secuil dalam postingan Catatan 17 Agustus, aku memang menarik diri dari berbagai komunitas. Karena saat itu, kupikir, aku tidak memenuhi standar sosial masyarakat Indonesia umumnya: lahir, besar, sekolah, kerja, kawin, punya anak, besarin anak, dlst.

Tapi sekarang, tentu aku sudah sadar bahwasanya pikirankulah yang menghakimiku, bukan mereka.

Kegiatan perenungan itu sering membuatku menangis. Apalagi sewaktu pertengahan Oktober lalu, saat Tuhan Yesus tak disangka-sangka mempertemukanku kembali dengan kawan-kawan seperjuangan yang pernah mengisi hari-hariku (dan yang kukecewakan hatinya), aku tak kuasa menahan tangis. Tuhan begitu baik memberi yang kuperlukan, memerhatikanku hingga sekarang.

Pada masa-masa kekacauan itu aku mencari penghiburan melalui hal-hal semu. Membaca buku-buku, mendengar musik, maupun melihat film-film yang tak memuji kebesaran Tuhan, serta kritik sana-sini. Di satu sisi aku pergi beribadah ke gereja hampir setiap hari Minggu, tapi di sisi lain aku tetap melakukan hal-hal yang mendukakan hati Tuhan. Perlahan tapi pasti, hal-hal tersebut memengaruhiku.

Dari awal, tujuan Tuhan Yesus menciptakan manusia cuma satu, yaitu:

Takutlah kepada Allah dan taatilah segala perintahNya, sebab hanya untuk itulah manusia diciptakanNya (Pengkhotbah 12:13, alkitab BIS)

Tuhan mau agar kita hidup di dalam Dia, melakukan hal-hal yang menyenangkan hatiNya dengan rendah hati berfokus pada sesama, bukan lagi fokus pada pemenuhan diri sendiri.

Namun karena terlalu sering menangis (sekalipun tangis haru yang mengingat kebaikan Tuhan), apalagi ditambah terlalu sering makan pedas dan asam, membuat sistem pencernaan menderita yang terpaksa membuatku mendekam di rumah sakit selama lima malam.

Tapi aku sangat senang karena kawan-kawan dari gereja, persekutuan, dan kolega suami datang menjenguk. 😊 Bahkan tak disangka-sangka pak pendeta bersama tim diakoni gereja pun datang melawat. 😊

Tuhan begitu baik. Ia tetap memerhatikanku sampai sekarang, dan memberi yang kuperlukan.

Mudah-mudahan kita semua tetap sehat di manapun berada. Perbanyak makan sayur dan buah, olahraga, dan tetap minta tuntunan Tuhan dalam melakukan apa pun. Karena diluar Tuhan, kita bukan apa-apa.

 

 

 

 

Waktu Terbang

Minggu lalu saya ke Jakarta. Liburan singkat sekaligus menghadiri pesta nikahan. Senang bisa ketemu keluarga, saudara, namboru, abang, kakak, ompung, adik-adik, sepupu, dan orangtua saya yang semakin tua. 🙂 Kalo ditanya lebih suka tinggal di mana, jujur, saya lebih suka di Jakarta. Pagi siang malam selalu ramai. 🙂 Macet memang selalu always tak pernah never. Tapi justru kemacetan itulah pertanda adanya kehidupan. 🙂

Beberapa hari saya numpang di penginapan yang jalanannya sepanjang hari hilir mudik dilewati kendaraan. Berbagai macam tempat makan -mulai dari yang harganya sangat terjangkau macam warteg, hingga yang agak berat dijangkau- ada di sana. Dari beberapa yang saya sambangi, ada satu yang nampol di hati.

“Dicoba dulu… Nanti kalo enak balik lagi ke sini ya…” ujar ibu penjaja nasi uduk jalanan, sore itu, sembari menyerahkan bungkusan makanan untuk porsi dua orang seharga kurang dari 30 ribu rupiah.

Saya terharu mendengarnya. Ia mengucapkan kalimat tersebut seakan penuh kerendahan hati yang mengharapkan orang asing kembali ke warung sederhananya itu.

Masakannya enak dan pedasnya pas. Tapi karena kesibukan, membuat kami tak mungkin kembali ke warung nasi uduknya yang sepertinya hanya buka di sore hari. Mungkin suatu hari nanti kalo saya kembali ke daerah tersebut, saya pasti akan mengunjunginya meski si ibu tak mengingat kami lagi. 🙂

Hari Minggu saya ikut ibadah bersama orangtua dan adik di GPIB. Kebetulan ponakan kesayangan saya berulang tahun. Time flies. Waktu terbang. Ia sekarang bertambah pintar, baik hati, dan jago nyanyi. 😀

Mumpung ponakan ultah dan orangtua ada, adik saya mengajak makan siang bersama usai ibadah. Namun saya melewatkan ajakannya, karena sudah berjanji untuk bertemu keluarga saya yang lain di Bekasi.

Di Bekasi, kami makan-makan lagi. Ponakan saya yang memilih tempat. Di sana kami bertukar cerita; mulai dari kakak saya yang sukses menurunkan berat badan, songket Palembang, hingga ponakan saya yang ternyata udah mulai kuliah tahun ini. Time flies. Waktu terbang. Rasanya baru kemarin ia berseragam putih merah dengan senyum malu-malu menyapa saya; tahu-tahu sekarang udah mahasiswa. Ke mana perginya waktu?

Saya mengutip salah satu lagu yang dinyanyikan saat ibadah hari Minggu di GPIB. Judulnya: Pakailah Waktu Anugerah Tuhanmu.

Pakailah waktu anugerah Tuhanmu,

hidupmu singkat bagaikan kembang.

Mana benda yang kekal di hidupmu?

Hanyalah kasih tak akan lekang.

Tiada yang baka di dalam dunia,

segala yang indah pun akan lenyap.

Namun kasihmu demi Tuhan Yesus,

sungguh bernilai dan tinggal tetap.

 

Karya jerihmu demi Tuhan Yesus,

‘kan dihargai benar olehNya.

Kasih yang sudah kau tabur di dunia,

nanti kau tuai di sorga.

 

Dan satu lagu lagi yang belakangan sering diputar di mana-mana. 🙂

Hidup ini adalah kesempatan

Hidup ini untuk melayani Tuhan

Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri

Hidup ini harus jadi berkat

 

Oh Tuhan, pakailah hidupku

Selagi aku masih kuat

Bila saatnya nanti ku tak berdaya lagi

Hidup ini sudah jadi berkat