Mencari Jalan Keluar

Sewaktu dirundung masalah, pastilah kita selalu berusaha mencari jalan keluar ya? Saya yakin, enggak ada orang yang senang terus menerus dibelit masalah.

Masalah adalah jarak antara harapan dan kenyataan. Dan kalo gak hati-hati mencari jalan keluar, bisa jadi sewaktu jalan A yang dipilih, bukannya setitik cahaya yang terlihat, melainkan kita malah terperosok makin jauh ke dalam hutan belukar yang makin gelap. Jadi, mencari jalan keluar pun ada seninya juga. πŸ™‚

Sebaiknya, jika mencari jalan keluar, bertanyalah kepada Tuhan. Kenapa? Karena Tuhan pencipta kita, hanya Dia yang paling tahu jalan mana yang terbaik buat kita. Jika ingin mengetahui tujuan diciptakannya suatu benda, bacalah buku panduannya dan tanyakanlah kepada penciptanya, bukan kepada bendanya. πŸ™‚

Carilah apa yang Tuhan inginkan bagi hidup kita; bukan apa yang kita inginkan bagi hidup kita. Kenapa? Karena kita diciptakan hanya untuk satu tujuan, yaitu: takut kepada Tuhan, dan menaati segala perintahNya.

Orang taat adalah orang yang mampu bersyukur menerima kenyataan dan keadaan. Jadi, saya pikir, ketika kita berusaha sekuat tenaga mengejar hal-hal yang kita inginkan (alih-alih mencari apa yang Tuhan inginkan bagi hidup kita), disinilah muncul stres; karena kita mencari solusi maupun penyelesaian diluar Tuhan.

Ada satu ilustrasi kartun yang paling saya ingat tentang banjir. Lebih kurang diceritakan, ada seseorang yang naik ke atap rumah karena daerahnya diterjang banjir. Ia berdoa kepada Tuhan agar diselamatkan. Namun, bolak-balik regu penyelamat datang hendak menyelamatkan orang ini, ia bergeming melewatkan kesempatan dan akhirnya meninggal. Ketika bertemu Tuhan, ia bertanya mengapa Tuhan tak kunjung datang menyelamatkannya. Tuhan menjawab, β€œAnakku, bolak-balik kukirim regu penyelamat untuk menyelamatkanmu, tapi kau menolaknya.”

Jadi bagaimana kita tahu bahwa jalan keluar yang kita ambil adalah jalan yang diinginkan Tuhan? Bertanyalah dan minta kepada Tuhan dengan rendah hati. Charles Stanley, dalam bukunya Cara Mendengarkan Suara Tuhan, menguraikan kepada kita tentang bagaimana mengenali suara Tuhan:

  1. Konsisten dengan firman Tuhan. Contohnya, jika kita berdoa untuk membuat keputusan tentang suatu hubungan, maka apa yang kita dengar dalam doa mestilah konsisten dengan firman Tuhan. Jika tidak sesuai firman Tuhan, maka jawaban yang kita dengar bukan dari Tuhan.
  2. Bertentangan dengan kearifan manusia. Yesus biasanya melakukan apa yang bertentangan dengan harapan kebanyakan orang. Seperti itu pula yang terjadi pada Abraham ketika Tuhan meminta mengorbankan putranya. Jika kita merasa apa yang kita dengar dari Tuhan tampaknya masuk akal dan rasional, selidikilah dengan firman Tuhan dan berdoa.
  3. Tuhan tidak pernah menyuruh kita untuk melakukan sesuatu yang hanya memuaskan naluri jasmani seketika. Jika yang kita dengar mendesak kita untuk berbuat sesuka hati kita, melupakan orang lain, maka suara itu bukan dari Tuhan. Tuhan memanggil kita untuk selalu menjadi manfaat bagi orang lain dan bagi kita sendiri.
  4. Tuhan selalu ingin agar kita membangun hubungan denganNya dan membantu kita bertumbuh lebih dekat denganNya.
  5. Bila Tuhan berbicara, Dia tidak hanya memperhatikan kepentingan kita saja, tetapi juga berbicara tentang mengasihi saudara-saudara kita, tentang memikul beban satu sama lain, membesarkan hati sesama, dan tidak menyebabkan orang lain tersandung/berdosa.
  6. Berpikir panjang, sabar menantikan waktunya Tuhan, dan tidak bertindak buru-buru dalam situasi tertentu. Mendahului Tuhan adalah kekeliruan besar dan akibatnya selalu pahit.
  7. Tuhan selalu menyuruh kita memikirkan dan memerhatikan dampak yang timbul kemudian akibat tindakan kita. Bila Tuhan berbicara, Ia akan membuat masing-masing kita bertanya: Jika saya membuat keputusan ini, apa yang akan terjadi dengan keluarga saya, pekerjaan saya, dan langkah saya dengan Tuhan? Tuhan bukan hanya Tuhan untuk masa sekarang, Dia juga Tuhan untuk masa depan.

Orang paling malang adalah orang yang tidak bisa melihat kesempatan dan tidak bisa menggunakan kesempatan tersebut, seperti orang yang diterjang banjir tadi. Kenapa ia sampai sebegitu ‘butanya’ tak mampu melihat kesempatan baik yang datang untuk menyelamatkannya? Berikut ini beberapa penghalang yang membuat kita tak mampu mendengar dan memahami suara Tuhan:

  1. Kita tidak mengenal Tuhan. Kesombongan menghalangi kita mengenal Tuhan. Itulah pentingnya mempelajari firman Tuhan setiap hari dengan rendah hati, dan berdoa agar kita semakin mengenalNya.
  2. Citra diri yang kabur. Kita harus melihat diri kita sebagaimana Tuhan melihat kita, yaitu sebagai anak-anak yang memerlukan bimbingan, yang memerlukan Tuhan berbicara kepada kita setiap harinya. Jika hubungan kita baik dengan Tuhan, maka akan tercipta komunikasi dua arah yang menyenangkan.
  3. Rasa bersalah yang tidak pada tempatnya. Jika Tuhan telah mengampuni kita, ingatlah, masalahnya sudah selesai dan Tuhan tak lagi mengingat-ingat kesalahan kita. Jika ada suara-suara yang mengingatkan kita pada kesalahan di masa lampau, itu bukan suara Tuhan.
  4. Berbagai kesibukan. Di tengah hiruk pikuknya suara masyarakat, mudah bagi kita kehilangan suara Tuhan yang hening dan lembut. Mintalah bimbingan Tuhan agar kita belajar semakin peka mendengarkan suaraNya di tengah kesibukan.
  5. Tidak percaya. Banyak orang tidak benar-benar percaya bahwa Tuhan masih berbicara sekarang ini. Padahal Tuhan sering berbicara melalui keadaan sekeliling kita, melalui orang lain; terutama melalui orang yang tinggal dengan kita, karena merekalah yang mendoakan kita setiap harinya.
  6. Amarah yang terarah kepada Tuhan. Bila kita marah/sakit hati/sedih kepada seseorang, kita tidak mungkin dapat mendengar kata-kata yang ia ucapkan. Kemarahan menghambat telinga kita mendengar suara Tuhan. Setelah tenang, barulah kita dapat berbicara kepadaNya dan mendengar jawabanNya yang penuh belas kasihan.
  7. Dosa yang dipertahankan. Artinya, kita mengetahui adanya dosa namun belum membereskan dosa itu. Atau barangkali, kita tidak menyadari bahwa kita menyembunyikannya. Bereskan dulu dosa kita, agar tidak menghalangi pandangan, tidak menutupi pikiran, dan tidak menutupi telinga kita kepada Tuhan.
  8. Roh pemberontak. Pemberontakan menyatakan kepada Tuhan bahwa kita menolak melakukan perintahNya. Pemberontakan menghalangi suara Tuhan memasuki hati kita.
  9. Menolak utusan Tuhan. Tuhan berbicara kepada kita bukan hanya melalui orang-orang yang kurang kita senangi, namun juga melalui keadaan sekeliling kita yang tak terelakkan. Terkadang karena pemberontakan kita terhadap Tuhan, Dia terpaksa menarik perhatian kita dengan cara yang keras. Tuhan tidaklah kejam, namun Dia akan melakukan apa yang harus dilakukanNya guna membina watak yang saleh.
  10. Tidak terlatih untuk mendengar. Mendengarkan Tuhan bukan suatu kemampuan yang langsung kita peroleh begitu kita lahir ke dunia. Kita mesti melatih diri untuk mendengarkan. Dengan rendah hati, ajukan pertanyaan: Tuhan, apa yang ingin Kau katakan kepadaku?

Masalah menjadi semakin berat jika terlalu lama disimpan atau dibawa dalam hati. Karenanya, cara terbaik untuk meredakannya adalah mengungkapkannya kepada orang lain, bukan menyimpannya dalam hati. Karena masalah atau kesedihan yang tersembunyi akan mencekik jiwa, tetapi saat kita membaginya kepada teman yang bijaksana (yang simpatik dan tepercaya, yang kita kenal dan mengenal kita, yang mau mendengarkan dan memahami dan penuh kasih, dan yang menghibur kita dengan hati-hati), maka perasaan sedih akan memudar.

Namun apabila kita sudah telanjur stres, lakukanlah:

  1. Menjadikan Yesus Kristus sebagai Tuhan dari kehidupan kita di dalam setiap situasi, dan mempersilakanNya menjadi penguasa setiap komponen hidup kita.
  2. Periksa diri sendiri, situasi masalah kita. Akui setiap dosa. Selidiki cara kita hidup dan dasar pemikiran kita selama ini. Ketika Tuhan menunjukkan dosa-dosa kita, kita harus mengakuinya kepada Tuhan dan mohon pengampunanNya.
  3. Menyerahkan diri kepada Tuhan sambil mohon agar kehendakNya lebih diutamakan daripada kehendak pribadi. Kesampingkan keinginan dan kesenangan, kemudian pikul salib setiap hari dan mendekat padaNya.
  4. Mohon Tuhan membimbing kita dalam semua keputusan dan rencana kita.
  5. Bersyukur kepada Tuhan untuk semua hal yang telah dilakukanNya, dan untuk hal yang akan dilakukanNya di masa yang akan datang.
  6. Berdoa untuk setiap situasi. Beritahu Tuhan kebutuhan kita dan ingatlah berterima kasih padaNya atas jawabanNya.
  7. Berdamai dengan Tuhan mengenai apapun yang dikehendakinya kita perbuat. Dengan kata lain, mematuhi Tuhan dan ramah kepadaNya. Jika kita telah berdamai dengan Tuhan, barulah kita mampu berdamai dengan diri sendiri, dan berdamai dengan orang lain.

 

Selamat menemukan jalan keluar! πŸ™‚

 

 

 

 

 

 

* bacalah buku Cara Mendengarkan Suara Tuhan yang ditulis oleh Charles Stanley, dan buku Tuhan Penguasa Dunia Perniagaan yang ditulis oleh Myron Rush.

 

 

Advertisements

Menjadi Orang Tua dan Mandok Hata

Saya yakin, menjadi orang tua dan membesarkan anak bukan kerjaan gampang. Apalagi di zaman sekarang ini. Berbagai info tentang bagaimana cara membesarkan anak maupun kiat sukses menjadi orang tua bertebaran di mana-mana dan sangat gampang diperoleh. Tapi dari sekian banyak, yang mana yang cocok jadi pedoman?

Watchman Nee, dalam bukunya yang berjudul Orang Tua (Ayah-Ibu), mengatakan betapa beratnya kewajiban sebagai orang tua; karena Tuhan menyerahkan jiwa, raga bahkan masa depan anak seumur hidup ke dalam tangan orang tua. Tidak ada seorang yang memengaruhi masa depan seseorang sedalam orang tua memengaruhi anak-anaknya. Dan tidak ada seorang yang dapat mendominasi masa depan seseorang sehebat orang tua mendominasi anak-anaknya.

Dalam bukunya tersebut, Watchman Nee mengajak kita belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik di dalam Tuhan. Berikut ringkasannya:

  • Menguduskan diri di hadapan Tuhan. Maksudnya, walau kita sebagai orang tua boleh melakukan banyak perkara yang sesuai dengan kapasitas kita, namun agar anak-anak kita dapat memahami, maka kita mesti menyesuaikan diri dengan kapasitas anak.

  • Mengekang diri. Karena hari ini ada sepasang atau dua pasang mata yang selalu mengamati perbuatan maupun perkataan kita, bahkan akan terus mengamati kita seumur hidup. Sekalipun kita telah meninggal dunia, apa yang dilihat anak tidak terlupakan, bahkan akan teringat terus dalam batin mereka.

  • Tetapkan standar moral dalam keluarga. Bagaimana seorang anak menilai sesuatu atau memutuskan sesuatu selama hidupnya, semuanya adalah berdasarkan apa yang ia pelajari ketika masih berada dalam naungan orang tuanya. Banyak sekali anak-anak yang menjadi rusak bukan karena terpengaruh oleh orang lain, melainkan oleh orang tua mereka sendiri. Banyak orang tua ketika melihat masalah timbul pada anak-anaknya, mereka melihat diri mereka sendiri. Keadaan anak-anak mereka justru adalah refleksi mereka sendiri.

  • Berjalan bersama Tuhan. Kita harus menyadari bahwasanya kita banyak kekurangan dan tak sanggup mengemban tanggung jawab besar menjadi orang tua. Karenanya kita mesti berjalan bersama Tuhan. Dan jika kita ingin memimpin anak-anak kepada Tuhan, maka kita mesti berjalan bersama Tuhan. Kita tak bisa mengutus anak-anak kita ke sorga dengan menudingkan jari tangan kita ke arah sorga. Itu mustahil. Kita mesti berjalan dahulu di depan, kemudian meminta anak-anak mengikuti kita. Bagaimana standar orang tua, pasti begitu pula standar anak-anaknya.

  • Tidak berstandar ganda. Jika kita berstandar ganda, bagaimana kita dapat memimpin anak-anak kita? Jika kita sendiri pendusta, apa gunanya melarang anak-anak berdusta? Kita tak dapat menentukan kehidupan kita sendiri dengan sejenis standar dan menentukan standar lain bagi kehidupan anak-anak kita. Apa yang kita kasihi, dengan sendirinya anak-anak kita akan belajar mengasihinya. Dan apa yang kita benci, anak-anak dengan sendirinya akan belajar membencinya.

  • Memelihara kesehatian. Jika satu keluarga ingin memimpin anak-anak dengan baik kepada Tuhan, ayah ibu sebagai orang tua mesti sehati atau seia sekata. Jika orang tua tidak sehati, anak-anak akan sukar mempunyai satu standar yang pasti. Ketika ayah mengatakan boleh, sedangkan ibu mengatakan tidak boleh, atau sebaliknya, maka anak-anak akan memilih dan bertanya kepada orang yang mereka sukai.

  • Menghargai kebebasan kepribadian anak. Anak adalah pemberian Tuhan. Karenanya, semua anak merupakan titipan Tuhan. Anak adalah manusia yang berjiwa, maka Tuhan tidak memberi wewenang tanpa batas kepada orang tua. Kepada setiap manusia yang berjiwa, kita tidak dapat memperlakukan mereka semena-mena. Itu adalah kesombongan.

  • Anak bukan sasaran melampiaskan amarah. Perlakukan anak dengan sikap sopan dan lemah lembut. Setiap orang yang ingin mengenal Tuhan harus belajar mengekang diri, khususnya terhadap anak sendiri.

  • Sebaiknya tidak perlu terburu-buru menuntut anak-anak kita mematuhi kita. Tetapi kita mestilah terlebih dulu menuntut diri sendiri menjadi orang tua yang baik di hadapan Tuhan.

  • Tidak menyakiti hati anak. Karena hidup anak-anak masih bersandar pada kita, kadang sebagai orang tua, kita menggunakan wewenang secara berlebihan. Misalnya menekan anak dalam soal uang. Kita bilang kepada anak, apabila ia tidak menurut maka tidak diberi uang, tidak diberi makan, dan tidak diberi pakaian. Hal ini akan membuat anak sakit hati. Sakit hati dapat menimbulkan tawar hati atau kehilangan tekad untuk berbuat baik. Karena anak akan merasa tak ada guna berbuat baik, sebab orang tua tidak mau tahu. Dalam Efesus 6:4, Paulus berpesan agar para orang tua tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anak, melainkan mendidik mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

  • Beri penghargaan yang wajar kepada anak. Bila anak berlaku baik, kita boleh menyemangati mereka maupun memberi hadiah agar anak tetap semangat dalam berbuat baik.

  • Tutur kata harus tepat. Sebagai orang tua, kita haruslah mengatakan kepada anak-anak perkataan yang dapat kita laksanakan. Dan setiap perkataan kita harus dapat dipercayai anak.

  • Perkataan yang melampaui batas mesti segera diralat. Misalnya kita salah bicara, kita sebagai orang tua haruslah dengan serius mengakui kesalahan tersebut. Dengan demikian, kita memperlihatkan kepada anak-anak tentang kekudusan tutur kata.

  • Menjadi orang tua yang baik di dalam Tuhan tentunya harus memimpin anak-anak untuk belajar mengenal Tuhan. Untuk itu, orang tua bersama anak mesti rutin berdoa bersama dan rutin membaca firman Tuhan. Gunakan bahasa yang dimengerti anak agar mereka memahami untuk apa mereka berkumpul bersama.

  • Pimpin anak belajar bersyukur. Misalnya pada doa makan, orang tua memberi contoh untuk bersyukur kepada Tuhan dengan hati yang jujur dan ikhlas.

  • Pada malam hari orang tua kumpulkan anak dan berbincang dengan mereka. Tanggapi perkataan anak dan bertanya kepada anak apakah ada kesulitan, apakah berkelahi, apakah ada damai dalam hati.

  • Bimbing anak mengaku dosa maupun kesalahan dengan jujur, spontan, tanpa pura-pura. Banyak kepalsuan dilakukan anak-anak karena paksaan yang keras dari orang tua.

  • Dengan sederhana, pimpin anak berdoa hingga anak mampu berdoa sendiri.

  • Jika anak harus dihukum karena bersalah, tunjukkan apa kesalahannya dengan serius agar anak teringat seumur hidupnya, dan agar ia tidak hidup secara sembarangan.

  • Suasana keluarga seharusnya adalah kasih. Kondisi anak-anak di kemudian hari tergantung pada suasana dalam keluarga. Jika sejak kecil anak-anak tidak diasuh dalam kasih, itu berarti membawa mereka ke dalam watak atau tabiat yang keras, menyendiri, dan pembangkang. Banyak orang ketika dewasa tidak dapat hidup bersama orang lain, ini disebabkan kekurangan kondisi kasih dalam keluarga sewaktu mereka kecil. Dalam keluarga mestilah ada suasana sukacita, ramah, lemah lembut, sopan santun.

  • Para orang tua mesti belajar menjadi teman anak-anak sendiri. Belajar akrab dengan anak, dan senang menolong mereka. Agar ketika anak ada masalah, mereka pergi mencari kita. Dan ketika anak berhasil atau sukses pun, mereka mencari kita, bukan orang lain. Teman yang baik pasti mudah didekati dan mudah diminta pertolongannya.

Dalam poin ke-10 tadi sudah saya singgung tentang mendidik anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Caranya dengan:

  • Menjaga ambisi anak agar selaras dengan kehendak Tuhan. Sesering mungkin ingatkan dan jadilah teladan agar anak menjadi pencinta Tuhan dan sesama.
  • Tidak membangkitkan kesombongan anak, melainkan mengingatkan anak bahwa semua kecerdasan maupun talenta berasal dari Tuhan. Kesombongan adalah memegahkan diri secara berlebihan.
  • Mengajar anak-anak terima kalah dan belajar rendah hati. Sepantasnya, kita mesti mengetahui bagaimana memuji atau mengagumi orang lain. Kemenangan adalah perkara mudah, tapi kekalahan bukan perkara gampang bagi sebagian orang. Sebagai orang tua, kita ingatkan agar anak rendah hati jika memiliki kelebihan. Sedangkan jika anak gagal, kita ingatkan agar anak mampu memuji atau mengagumi keunggulan orang lain.
  • Mengajar anak-anak cerdas memilih. Sejak kecil, sesering mungkin beri anak kesempatan memilih sendiri apa yang mereka sukai. Misalnya memilih warna kesukaan atau motif pakaian. Biarlah mereka sendiri yang mengamati dan mempertimbangkan. Dan kita sebagai orang tua tetap memimpin mereka agar tetap di jalur yang benar.
  • Mendidik anak mengatur urusan. Orang tua mesti memberi anak kesempatan untuk mengatasi masalah maupun mengatur urusan. Misalnya mengatur barang-barang sendiri seperti kaos kaki, sepatu, buku, mainan. Sedari anak kecil, kita tunjukkan bagaimana mengatur barang-barangnya agar rapi. Mereka peniru ulung. πŸ™‚

Nah, bentar lagi tahun baru. Orang Batak punya tradisi kumpul bersama keluarga dan mandok hata di malam tahun baru. Mandok hata artinya semacam memberi kata sambutan sepatah dua patah kata. Isinya bisa tentang refleksi diri selama setahun, ucapan syukur, harapan-harapan, dlst.

Ada keluarga yang mengikutsertakan anak-anakΒ mandok hata,Β namun ada juga yang tidak. Cukup hanya orang tua saja yang berbicara, anak-anak mendengar. Sehingga, seringkali mandok hata berubah menjadi ajang penghakiman anak. Padahal, anak-anak pun ingin ikut menyampaikan pendapat mereka kepada orang tua.

Sebaiknya, jika memungkinkan, sejak dini anak dilibatkan mandok hata agar mereka terbiasa merasa dihargai dengan didengarkan pendapatnya.

Jika orang tua merasa perlu menghakimi atau menegur anak untuk ngomongin kekurangan mereka, lakukan empat mata supaya efektif. Menegur seseorang di depan khalayak ramai tidak akan pernah efektif. Mereka yang kita tegur justru (mungkin) akan menjadi kurang enak hati kepada kita, karena hal itu akan menjatuhkan harga diri mereka. πŸ™‚

Orang tua juga mesti introspeksi, apakah telah memberi perhatian yang seimbang kepada anak? Tidak cuma menuntut anak harus begini, anak harus begitu. Anak-anak tidak melihat kata-kata, mereka melihat perbuatan. πŸ™‚

 

 

 

 

 

Buku Bagus dari Almira Bastari: Resign

Dua malam yang lalu, niat saya cuma pengen baca buku buat pengantar tidur karna saya emang udah ngantuk banget. Cara ini seringkali jitu membikin saya makin cepat menutup mata.

Maka sambil duduk bersandar di kepala tempat tidur, saya pun membuka lembar demi lembar buku Resign yang ditulis Almira Bastari dan mulai berkelana di dunia Alranita, Carlo, Karen, Andre, serta… bos mereka bujang lapuk arogan tapi ganteng banget kek bintang film: Pak Tigran.

Saya lupa gimana awalnya buku ini masuk radar saya. Yang pasti, tahu-tahu udah nangkring aja tuh di rak buku. 😁😁😁

Nah setelah dibaca, bukannya makin ngantuk, saya malah makin melek hingga sekitar jam setengah dua belas malam sejak dari jam setengah sepuluh. Akhirnya karena mesti istirahat berhubung mesti bangun pagi banget, saya terpaksa menyisihkan buku bersampul kuning ini. Kalo enggak, bisa-bisa saya tamatkan malam itu juga! 😁😁😁

Belum pernah ada buku yang bikin saya malah melek akibat kantuk luar biasa. So yes, this book is an exception. Eh, ralat ding, ada satu lagi, yakni Critical Eleven-nya kak Ika Natassa yang fenomenal itu. 😁😁😁

Cara berceritanya luwes banget. Saya sebagai pembaca seakan ikut masuk dalam tiap pembicaraan para tokoh. Eh, maksud saya, dalam tiap gosip yang dilemparkan para cungpret.

Apa itu cungpret? Baca aja bukunya biar tau. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

**

Adek saya yang nomor dua, yang paling jangkung, pernah bilang, β€œFilm bagus adalah film yang bolak-balik dibicarakan setelah filmnya kelar.” Buku bagus pun saya yakin kurang lebih kek gitu juga, seperti buku yang satu ini. Bacaan berfaedah dan sangat menghibur dari awal sampai habis, yang cocok dibaca oleh kalian yang entah udah pernah (bolak-balik) resign atau masih setia jadi anak kantoran, suka humor, dan suka drama kantor tentunya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ #tobatlomes

Bukunya genre metropop, btw.

Dan tiap kali baca buku, saya suka ngecek siapa nama editornya. Karena saya yakin, buku keren itu enggak lepas dari peran editor yang sudah pasti juga keren banget yekan? 😎😎😎

Seperti buku Critical Eleven yang dieditori Rosi L Simamora, editor buku ini pun punya nama berbau Batak: Claudia Von Nasution. Apakah gara-gara nama editornya berbau Batak maka kedua buku ini jadi hip? Entahlah. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ #janganterlaluseriuswoy

Yang jelas, kalo gak menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2018, buku ini saya ramal bakalan jadi Book of The Year versi Anugerah Pembaca Indonesia. 😁😁😁😁

 

Satu hal yang menjadi kekurangan buku ini adalah….

 

 

 

 

 

 

 

kenapa harus tamat? 😁😁😁😁 #sungguhkutakrela

 

 

 

 

Becoming Like Jesus

Udah ribuan kali saya menggarami ikan dari mulai kecil disuruh-suruh mamak di dapurnya hingga sekarang di dapur sendiri. Setelah digarami, terbukti bahwa ikan memang tahan dibiarkan di kulkas bagian bawah (bukan di bagian freezer) selama beberapa hari sebelum diolah, tanpa membusuk. (meski begitu, paling baik memang sehabis diasamgaram langsung diolah secepatnya).

Menurut buku Becoming Like Jesus (Menjadi Serupa Yesus), yakni buku yang membahas tentang sembilan buah roh, orang kristen juga mesti hidup seperti garam yang bertujuan mencegah pembusukan dan kerusakan. Sang penulis, Christopher J. H. Wright, menempatkan pembahasan tentang β€˜garam’ ini pada bab buah roh yang keenam, yaitu kebaikan.

I must confess that menjadi kristen itu bukan jalan hidup yang gampang. Karena sebagai kristen, sesungguhnya hidup adalah penyangkalan diri, mematikan β€˜keakuan’ maupun kepentingan diri sendiri, mematikan hawa nafsu, dlst. Intinya, hidup ini bukan lagi tentang diri kita pribadi, melainkan tentang kristus. Berat, kan?

Lantas seperti apa kristus sesungguhnya? Ketika kita memberi makan orang lapar, memberi minum kepada mereka yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada mereka yang membutuhkan pakaian, merawat orang sakit, serta mengunjungi orang-orang dipenjara, maka itulah hidup untuk kristus.

Pada hakikatnya menjadi orang kristen memang harus seperti kristus. But maybe that’s impossi(n)ble karena kita makhluk berdosa. Tak ada satu pun manusia yang benar di muka bumi ini. Semua berdosa, dan dosa menghalangi kita mengenal Tuhan yang sejati, serta menghalangi kita menjalani hidup yang berkenan di mata Tuhan.

Tapi biar bagaimanapun, meski berdosa, orang kristen mesti berusaha hidup seperti kristus yang hidup untuk sesama manusia melampaui segala rintangan dan perbedaan. Buku Becoming Like Jesus mengajak kita hidup serupa kristus dengan menumbuhkan kesembilan buah roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, serta penguasaan diri.

 

 

 

Mereka yang Mencintai Sepenuh Hati

Saya pikir, sebagian manusia di bumi ini sedikitnya menghabiskan enam belas tahun masa hidupnya berhadapan dengan guru. Enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sekolah menengah pertama, tiga tahun sekolah menengah atas, empat tahun masa kuliah. Ada guru bahasa, guru agama, olahraga, guru kesenian, kimia, sosiologi, ekonomi, fisika, biologi, dlst. Kalau ditotal, setidaknya ada sekitar lima puluhan guru yang pernah dikenal tiap satu orang murid.

Dari lima puluh itu, pasti ada lah ya satu dua guru yang pernah meninggalkan kesan di hati sampe nemplok ke mana-mana. πŸ˜€ Kalo pinjem istilah anak sekarang, guru-guru yang bikin baper atau bikin emo. (silakan gugel kalo enggak tau arti emo) πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ *anak-anak sekarang emang ekspresif banget bikin istilah yaΒ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚Β beda banget sama generasi 90-an yang cenderung menahan diri kalo di depan, tapi memberontak di belakang… πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚Β apaan sih mes?Β πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Okelah, sampai mana tadi kita? 😁 Ah iya, guru-guru yang meninggalkan kesan di hati… Seperti misalnya guru killer yang pernah saya tulis di sini, guru yang bikin ngantuk, guru yang membully murid, guru iseng, dan guru yang berani hidup. Selain mereka ini, ada pula guru-guru kesayangan seperti Mister Kobayashi-nya Totto-chan, yakni guru yang mencintai murid-muridnya sepenuh hati.

Menurut saya sangat beda ya antara sekadar mengajar atau cinta anak. Mungkin yang membedakan adalah motivasinya, apakah sekadar jadi pengajar karena itu satu-satunya hal yang dia tahu dan tidak ada pilihan lain untuk menafkahi hidup, atau memang karena cinta anak-anak. Karena kalau sebagai guru ala kadarnya, maka aktifitasnya cuma: datang ke sekolah, ngajar, ngasih ujian, koreksi ujian, ngajar lagi, pulang, begitu bolak-balik. Sedangkan mereka-mereka yang sepenuh hati mencintai murid, biasanya mau mendengar keluh kesah murid, membolehkan murid bertanya apa saja yang mengganjal pikirannya, suka ngebanyol, enggak bikin jarak, langkahnya ringan kayak kupu-kupu seolah tak ada beban, santai, ramah, dan memperlakukan murid sebagai teman. Alih-alih menghakimi, mereka melakukan pendekatan personal bila murid bermasalah.

Saya ingat bagaimana guru matematika saya di SMU bertanya empat mata, sewaktu tahu bahwa saya memilih jurusan sosial instead of IPA, yang dipilih oleh sekitar 80% murid.

β€œKenapa kamu pilih sosial, Mes? Kamu mampu koq ke IPA…” ujar beliau lembut, dengan air muka menyiratkan kekuatiran. Saya mantap memilih jurusan sosial karena terpesona dengan perilaku manusia yang sangat kompleks, dan penasaran dengan penjelasan maupun alasan di balik tiap tindakan yang diambil olehnya. Saya percaya itulah panggilan hidup saya, tapi juga menghargai beliau yang sudah mau repot-repot bertanya dan terang-terangan menunjukkan kekuatirannya, dan juga percaya dengan kemampuan anak didiknya.

Mengingat tindakan beliau ini, menurut saya penting banget ya bagi anak mengetahui bahwa orangtua, selaku entitas terdekat, memercayai pilihan-pilihan mereka. Karena hal ini sangat memengaruhi kepercayaan diri anak kelak.

Nah, saking sayangnya dengan guru-guru yang sepenuh hati mencintai muridnya ini, saya bersama kawan-kawan sekelas pernah bikin pesta ulang tahun kejutan untuk salah satu guru kami yang paling baik, ramah, dan paling perhatian. Dan lucunya, gara-gara tindakan kami ini, beberapa guru lain malah cemburu. πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ Ada-ada aja ya? Bukannya mikir gitu kenapa teman sejawat mereka sampe bisa dibikinin pesta ulang tahun oleh murid-muridnya, tapi untuk mereka (para guru yang seringkali pasang muka jam dua belas), sedikit pun kami tak tergerak bikin pesta ultah. (jangankan tergerak, nyari info kapan ultahnya aja kami enggak tertarikΒ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ ).

Guru-guru yang mencintai murid sepenuh hati ini juga adalah mereka yang tak menyerah mencari cara agar kelasnya menyenangkan, bukan hanya bagi murid, tetapi juga bagi guru. Contohnya seperti Timothy D. Walker, yang nulis buku Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia). Beliau sendiri tadinya guru Amerika yang mengajar di Massachusetts, yang kemudian gara-gara suntuk dengan kegiatan mengajarnya akhirnya pindah ke Helsinki karena berhasil diyakinkan oleh istrinya yang orang Finlandia bahwa, sistem pendidikan di Finlandia berbeda. Pengalamannya mengajar itulah dia tuangkan menjadi 33 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan.

Saya sendiri tertarik membaca buku ini karena potongan blurbnya bilang, β€œbagaimana pendidikan Finlandia yang jam pelajarannya pendek, PR-nya tidak banyak, dan ujiannya tak begitu terstandardisasi, dapat β€œmencetak” siswa-siswa dengan prestasi yang sangat baik.” Aneh, kan? Koq bisa?

Salah satu dari 33 strateginya adalah: tiap satu jam pelajaran (45 menit), guru dan siswa memiliki jam istirahat selama 15 menit. Gile gak tuh? Kenapa mesti istirahat coba? Sementara seingat saya waktu zaman sekolah, kami baru bisa istirahat setelah 3 jam pelajaran (3×45 menit). Misalnya masuk sekolah jam 07.30, maka waktu keluar main alias istirahat di jam 09.45. Itu pun cuma 15 menit. Jadi sekali lagi, gile gak tuh strategi orang Finlandia tadi? *jadi pengen sekolah lagi euy, tapi di Finlandia yaΒ πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Buku ini boleh banget deh dibaca oleh para guru, orangtua, maupun mereka-mereka yang mencintai dunia pendidikan. Dan sebaiknya pastikan baca bagian ‘Kata Pengantar’, karena di situ dijelaskan 5 unsur penting yang membuat siswa Finlandia lebih baik daripada teman sebaya mereka di penjuru dunia lain. πŸ˜‰

 

 

 

Baca ini Sebelum Nonton Warkop DKI Reborn Part 2

Tanpa fans atau penggemar, suatu brand bukanlah apa-apa. Taylor Swift tahu betul itu hingga ia mendedikasikan video lagu ‘New Romantics’ khusus untuk para penggemarnya.

“The fans are the best part of this tour. They’re the reason the shows are incredible. And I know these fans out there are just… all in,” ujarnya di awal video.

All in’ sendiri (menurut salah satu kamus online yang saya intip) artinya adalah: to be totally committed to something.

Ditambah dengan hadirnya media sosial yang semakin mempermudah penggemar membagikan entah berita apa pun itu tentang brand yang mereka gemari tadi, keberadaan fans memang tidak main-main. Mereka menentukan hidup mati suatu brand.

Mungkin masih segar dalam ingatan kita sewaktu video insiden Dian Sastro dicolek fansnya tanpa sepengetahuan dia, menjadi viral di masyarakat hanya dalam hitungan detik. Dan bukan hanya viral, gara-gara insiden tersebut doi malah jadi bulan-bulanan oleh netizen. Kasian banget. 😦 Coba kalo para perundung ini berada dalam posisi Dian, bisa jadi mereka bakal melakukan hal yang sama…..

Kemungkinan insiden tersebutlah yang menjadi salah satu penyebab mengapa film Kartini yang ia perankan tidak begitu meledak di pasaran. Padahal film Habibie, yang bergenre sama seperti Kartini yaitu biopic (biographical movie), dan yang dibesut oleh sutradara yang sama yakni Hanung Bramantyo, hasilnya sangat menggembirakan.

Makanya pas kemarin-kemarin ada berita tentang Tora Sudiro yang terjerat kasus narkoba, saya sempat was-was juga apakah bakal berpengaruh besar kepada film Warkop DKI Reborn Part 2 yang waktu peluncurannya tinggal menunggu hari.

Bagi penggemar film kayak saya, tak ada yang saya harapkan selain film-film yang diputar di layar lebar atau entah di mana pun itu, hasilnya bisa diterima pasar dengan baik dan masyarakat terhibur. Angka-angka tidak bohong. Makin banyak yang nonton tentu makin baik, kan? Industri film nasional bisa terus berputar dan seniman lokal makin bersinar di negeri sendiri.

Dan sebagai penggemar berat Warkop DKI, tak ada yang saya harapkan selain film ini juga bisa diterima di hati masyarakat sebagaimana episode pertamanya yang meraup sekitar 6.8 juta penonton, hingga ditahbiskan sebagai film Indonesia paling laris sepanjang masa. *terharu πŸ™‚ Untunglah kekuatiran saya tak terjadi. Melihat antrian yang berkelok-kelok di loket bioskop semalam, terbukti bahwa masyarakat masih sangat antusias menyaksikan kekonyolan demi kekonyolan yang dilakonkan Tora Sudiro cs. 😁

Adegan epik macam pesawat terbang yang mundur gara-gara sikat gigi ketinggalan atau bersembunyi di poster Khong Guan memang tidak ditemukan lagi dalam sekuel ini. Namun ada begitu banyak adegan yang tidak kalah epik yang bikin muka saya pegal karena ketawa melulu, bikin perut saya sakit akibat cekikikan, dan yang bikin saya pengen makan soto sehabis nonton. 😁

Betul, soto! Makanan yang amat membumi dan bisa dengan mudah ditemukan di seluruh penjuru Indonesia: soto! 😁😁

foto: ameliacatering.net

Kalo hari ini belum ada rencana apa-apa, buruan deh tonton ini film di bioskop. 😁 Saya yakin, abis nonton kamu pasti pengen langsung ngunyah soto. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† Dan, sebelum nonton, harap diingat, ini film komedi, bukan drama psikologi. πŸ˜† Jadi jangan terlalu serius. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Udah dulu ah, saya mau nyari soto. Soto mana soto? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

 

 

Rahasia

Seseorang memberi saya buku The Secret pada awal tahun 2009 untuk dibaca. (ya iyalah masa buat dijual πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ ) Tapi begitu membacanya beberapa lembar, saya langsung meletakkannya karena buku ini bikin ngantuk. Tahun 2014 saya mencoba membaca lagi dan ternyata sama saja, tetap bikin ngantuk. Alhasil, saya pun langsung meletakkannya begitu membaca beberapa lembar halaman pertama.

Hingga beberapa hari yang lalu, sewaktu saya sedang mencari referensi tentang uang dan kemandirian finansial, judul buku yang ditulis Rhonda Byrne ini tiba-tiba muncul di benak. Akhirnya saya menariknya dari tumpukan buku ‘yang tak bisa selesai dibaca’ dan membuka halamannya secara acak. Halaman 197. Isinya begini:

β€œBanyak orang merasa dirinya sebagai korban, dan mereka menunjuk peristiwa-peristiwa di masa lalu, mungkin dibesarkan oleh orangtua yang tidak berfungsi dengan baik……….. Orangtua saya pecandu alkohol. Ayah saya melecehkan. Ibu saya bercerai ketika saya berusia enam tahun…. Maksud saya, itulah kisah dari hampir setiap orang dalam bentuk sedikit berbeda.

Pertanyaan sesungguhnya adalah, apa yang akan Anda lakukan sekarang? Apa yang Anda pilih sekarang? Karena Anda bisa berfokus pada masa lalu, atau Anda bisa berfokus pada apa yang Anda inginkan. Dan ketika orang mulai berfokus pada apa yang mereka inginkan, apa yang tidak mereka inginkan akan runtuh, apa yang mereka inginkan akan mengembang dan bagian yang tidak diinginkan menghilang.

Seseorang yang mempertahankan pikirannya pada sisi gelap kehidupan, yang terus-menerus menghidupi kembali kemalangan dan kekecewaan masa lalu, sebenarnya berdoa untuk kemalangan dan kekecewaan yang sama di masa depan. Jika Anda tidak melihat apa pun selain kemalangan di masa depan, Anda berdoa untuk kemalangan serupa, dan pasti Anda akan mendapatkannya.”

Super sekali, ya? πŸ˜€ Seketika kalimat-kalimat tersebut memerangkap saya dan saya pun memutuskan membaca The Secret dari awal.

Delapan tahun adalah lamanya waktu yang diperlukan hingga saya memiliki ‘koneksi’ dengan buku ini. Lumayan lama juga ya bok? Kenapa baru sekarang? Apa mungkin karena dulu belum sedewasa sekarang (yaelah πŸ˜€ ), atau mungkin karena dulu belum banyak makan asam garam? πŸ˜€ Entahlah, yang jelas, sekarang buku ini ‘berbicara’ kepada saya. πŸ™‚

Tahun 2008 saya pengen banget memperdalam fotografi dan pengen banget jadi fotografer profesional. Saya pun bercerita kepada salah satu kawan, yang ternyata memiliki kenalan fotografer senior Indonesia yang udah lama wara-wiri di dunia foto. Saya kemudian berkenalan, berguru kepada beliau, dan akhirnya tahu sedikit tentang seluk-beluk perfotoan.

Kemudian saya pengen menikah, dan meminta kepada Tuhan agar dipertemukan dengan laki-laki yang sesuai dengan kriteria yang saya inginkan menjadi suami. Ketemu, dan kami pun menikah. Setelahnya, saya juga ingin mengerti lebih dalam tentang pernikahan melalui buku dan meminta kepada Tuhan agar saya menemukannya di toko buku langganan.

Ini ceritanya lucu. Atau agak aneh sebetulnya. πŸ˜€

Karena tidak menemukan buku yang saya inginkan di bagian ‘buku pernikahan’, saya pun berjalan ke lorong lain. Siapa tau ada nyempil di situ. Begitu pikir saya. Waktu itu saya sedang berjalan di lorong buku masakan.

Tiba-tiba salah satu buku jatuh dari rak teratas. Saya pun memungut buku masakan yang jatuh tersebut lalu mengembalikannya ke rak. Saya jalan lagi. Tiba-tiba bukunya kembali jatuh. Saya berbalik dan menemukan buku yang barusan saya kembalikan ke rak sudah terbujur di lantai.

Saya periksa rak buku enggak ada yang salah. Susunannya rapi, enggak terlalu padat. Jadi mestinya aman dan enggak ada insiden buku jatuh. Saya pun mengembalikan si buku lagi dan ia kembali jatuh.

Saat memungut si buku untuk ketiga kalinya, saya teringat dengan misi saya datang ke toko buku: saya hendak mencari buku pernikahan. Tidak seperti dua aksi sebelumnya di mana saya hanya membungkuk untuk mengambil si buku jatuh, di kali ketiga ini saya berjongkok memungutnya sambil menelusuri buku-buku di rak paling bawah dan…. di sanalah saya temukan buku yang saya cari.

Terakhir adalah kejadian yang sudah saya singgung di awal tadi, yakni mencari referensi soal uang dan kemandirian finansial. Tiba-tiba saja beberapa blog yang saya ikuti membahas seputar uang dan tiba-tiba saja judul buku The Secret muncul di benak. Aneh bin Lucu, kan? Koq bisa? Padahal saya enggak minta secara spesifik ke mereka lho.

Saya memang tidak minta secara spesifik ke blogger-blogger tersebut, tapi kalau menurut buku The Secret, saya memintanya secara spesifik ke Semesta dan Semesta memberi jawaban kepada saya melalui blog dan buku. Begitu pun sewaktu saya pengen memperdalam fotografi, pengen menikah, pengen buku tentang pernikahan, serta sederetan kepengenan lainnya yang telah terwujud (akan terlalu panjang daftarnya kalau saya tuliskan di sini), saya memintanya secara spesifik ke Semesta dan Semesta memberi jawabnya kepada saya.

Selama ini mungkin kita menyebut, menganggap, atau menamai kejadian-kejadian tersebut sebagai kebetulan, tapi sebenarnya tidak. Dan disadari atau tidak, selama ini sebetulnya kita hidup di dalamnya, yakni hukum tarik-menarik, yang kalau menurut The Secret adalah rahasia besar kehidupan:

Segala sesuatu yang datang ke hidup kita sebenarnya ditarik oleh kita sendiri ke dalam hidup kita. Dan segala sesuatu itu tertarik ke kita oleh citra-citra yang kita pelihara dalam benak, yaitu apa yang kita pikirkan. Apa pun yang berlangsung dalam benak, kita menariknya ke diri kita.

Kalo dipikir-pikir, bener juga, kan? Diri kitalah sebetulnya yang menentukan jalan hidup kita, dan mau jadi apa kita. Bukan orang lain. Pilihan selalu ada, dan kita selalu bebas memilih, menentukan jalan yang mana.

Ambil contoh begini, ada dua orang dengan latar pendikan yang sama ingin bekerja agar bisa menghidupi diri. Sebut saja A dan B. Mereka kemudian mendapat pekerjaan sebagai admin dan mulai bekerja. Setelah beberapa tahun, A tetap pada posisinya semula dan si B sudah membeli perusahaan tempat mereka bernaung tersebut dan serta merta menjadi pemiliknya. Kenapa bisa? Apa yang membedakan?

Dari awal, meskipun A tahu bayarannya tidak begitu bagus, ia tetap bekerja sambil mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Sementara si B tidak mempersoalkan berapa bayarannya dan tetap bekerja penuh daya dan bersyukur, serta bercita-cita ingin memiliki perusahaan tersebut suatu saat nanti. B pun menabung dan menabung, sementara A selalu bingung entah kemana ia habiskan gaji yang diterima tiap bulan. Itulah yang membedakan: cara berpikir.

Pikiran kita adalah penyebab utama dari segala sesuatu. Ia adalah tempat paling luar biasa, tempat segala sesuatunya dibuahi, dan karenanya kita bisa menjadi apa pun yang kita inginkan.

Dalam kasus si A, sebetulnya dia bisa memilih keluar dari situ dan mencari pekerjaan lain yang bayarannya lebih bagus, kan? Tapi kenapa dia memilih tinggal dan tetap bekerja? A menjawab: tidak ada pekerjaan persis seperti yang saya mau dengan bayaran persis seperti yang saya mau; uang saya belum cukup untuk bertahan hidup selama beberapa bulan hingga saya dapat pekerjaan baru.

Dan, coba tebak, menurut buku The Secret, apa yang kamu ucap, itulah yang akan terjadi: sampai kapan pun tidak akan pernah ada pekerjaan persis seperti yang si A mau dengan bayaran persis seperti yang ia mau; sampai kapan pun uangnya tidak akan pernah cukup. Kenapa? Karena ia memintanya, maka Semesta mendengarkan dan memberi jawaban. Semakin A mengeluh, maka semakin banyak situasi yang muncul membuatnya mengeluh. Sementara untuk kasus si B, Semesta juga persis memberi apa yang paling ia inginkan.

Begitulah cara kerja hukum tarik-menarik. Seperti cermin. Ia hanya memantulkan apa yang ada di hadapannya. Apa yang datang kepada kita adalah hasil dari apa yang telah kita perbuat.

Dan setelah diingat-ingat lagi, di tahun 2014 ternyata saya pernah menulis perihal yang mirip-mirip kek gini dalam You Create Your Own Problem dan Apa Ini (tentang keponakan saya yang bikin gemes itu) πŸ˜€ Hanya saja, waktu itu saya tidak tahu kalau namanya hukum tarik-menarik, karena selama ini saya mengetahuinya sebagai hukum sebab-akibat, tabur-tuai, atau karma. Ternyata maknanya sama.

Lalu bagaimana dengan kasus dua orang yang memiliki permintaan yang sama namun yang satu terwujud dan yang lainnya tidak terwujud? Buku ini menjelaskan bahwa:

agar keinginan terwujud, kita mesti benar-benar menginginkannya dan mesti fokus. Fokus di sini artinya bukan cuma melotot enggak jelas ya, melainkan kita mesti bertindak, berbicara dan berpikir seakan-akan telah menerima keinginan tersebut sekarang juga.

Pendek kata, mesti percaya. Karena kalau ragu sedikit saja, then it will never happen.

Fokus ini sangat mirip dengan definisi iman menurut alkitab Ibrani 11:1, β€œyakin sungguh-sungguh pada hal-hal yang diharapkan, mempunyai kepastian akan hal-hal yang tidak dilihat.”

Yesus pernah berkata dalam alkitab Matius 17:20, bahwa jika kita memiliki iman sebesar biji sesawi yang kecil banget itu, kita bisa memindahkan gunung dan tidak ada yang mustahil bagi kita.

Dalam alkitab Lukas 11:9, Yesus juga menjelaskan tentang permintaan yang akhirnya dikabulkan,

β€œTetapi justru karena engkau tidak merasa malu untuk minta kepadanya terus-menerus, maka ia akan bangun juga dan memberikan kepadamu apa yang engkau perlukan. Jadi, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka kalian akan diberi; carilah, maka kalian akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan untukmu. Karena orang yang minta akan menerima; orang yang mencari akan mendapat; dan orang yang mengetuk, akan dibukakan pintu.”

Dan ada satu lagi syaratnya agar keinginan terwujud: kita harus senang, gembira, bersemangat, bersyukur dan bahagia.

Coba ingat-ingat, adakah dari tiap impian yang pernah terwujud dalam hidup membuatmu sedih? Saya yakin enggak ada. Setiap impian kamu pastinya membuat senang, kan?

Maka ketika kita fokus, percaya dan senang, hukum tarik-menarik akan dengan sangat kuat menggerakkan situasi, orang, dan peristiwa kepada kita untuk menerimanya.

Keren banget, kan? Pokoknya buku ini sangat menginspirasi dan quotable banget. πŸ˜€ Contohnya seperti:

  • Hukum tarik-menarik tidak mempersoalkan apakah Anda memandang sesuatu sebagai baik atau buruk, atau apakah Anda tidak menginginkannya atau menginginkannya. Ia hanya merespons pikiran Anda. Jadi, jika Anda terus memandangi tumpukan utang, merasa susah karenanya, itulah sinyal yang Anda kirim ke Semesta. Dan Anda hanya mengukuhkan keadaan ini bagi diri sendiri. Anda merasakannya di setiap keberadaan Anda, dan itulah yang akan Anda dapatkan dalam jumlah yang lebih banyak lagi.
  • Segala sesuatu adalah energi.
  • Jika Anda memulai hari dengan baik dan berada dalam perasaan bahagia, menurut hukum tarik-menarik (selama Anda tidak membolehkan sesuatu mengubah suasana hati), Anda akan melanjutkan dengan menarik lebih banyak situasi dan orang yang memelihara perasaan bahagia itu.
  • Sebenarnya Semesta telah menjawab Anda di sepanjang hidup Anda, tetapi Anda tidak dapat menerima jawaban kecuali jika Anda sadar. Sadari segala sesuatu di sekitar Anda karena Anda sedang menerima jawaban pertanyaan Anda di setiap saat. Saluran tempat jawaban-jawaban itu datang tidaklah terbatas. Saluran tersebut dapat dikirim dalam bentuk judul artikel koran yang menarik perhatian Anda, atau kebetulan mendengar seseorang bicara, atau lagu di radio, atau tulisan pada truk yang lewat, atau menerima ilham yang muncul tiba-tiba. Ingatlah untuk mengingat dan menjadi sadar.
  • Anda mempunyai pilihan, dan apa pun yang Anda pilih akan menjadi pengalaman hidup Anda.
  • Tidak ada yang dapat datang ke pengalaman Anda kecuali jika Anda memanggilnya melalui pikiran yang terus-menerus.
  • Dan lain seterusnya. πŸ˜€

Kalo pengen tau lebih banyak, buruan beli bukunya. πŸ˜€

Lantas apakah saya menemukan jawaban tentang uang dan kemandirian finansial di buku ini? Tentu. Menurut buku ini, untuk menarik uang, kita harus berfokus pada kekayaan. Mustahil untuk mendatangkan lebih banyak uang ke dalam hidup kita jika kita berpikir dan merasa tidak mempunyai cukup uang. Bila kita fokus pada ketidakcukupan uang, maka hukum tarik-menarik akan menciptakan lebih banyak situasi ketika kita tidak memiliki cukup uang. Maka untuk mendatangkannya, kita harus berfokus pada kelimpahan uang.

Dan gara-gara memikirkan tentang uang dan kemandirian finansial, saya pun teringat sama satu rumus atau kunci dari para penasehat keuangan agar kondisi keuangan tetap sehat:

investasi: minimal 10-30% dari gaji atau pendapatan bulanan

cicilan utang: maksimal 30 % dari gaji atau pendapatan bulanan

dana darurat: 6-9 x pengeluaran rutin per bulan

Ada yang pernah menjalankan rumus di atas? πŸ˜€

Btw, apa yang paling kamu inginkan sekarang?

 

 

 

* ada beberapa hal yang saya tidak sependapat dengan isi buku The Secret. salah satunya yang paling mendasar adalah bagian yang mengatakan bahwa manusia adalah tuhan penguasa semesta. di sini saya tidak setuju. karena jika manusia adalah penguasa semesta, tentunya manusia bisa mengendalikan seluruh kehidupannya dari awal sampai akhir. nyatanya tidak. begitu banyak kejadian dialami manusia di luar kendali kita. karena itulah saya tidak setuju, dan penguasa semesta hanya ada satu, dialah Tuhan yang saya kenal dalam Kristus Yesus.

 

 

La La Land: Awal yang Baik

Sabtu kemarin saya berkesempatan menyaksikan film yang lagi hangat-hangatnya dibicarakan saat ini: La La Land. Awalnya sih pengen ngecengin Arrival yang kabarnya bikin pusing banyak penonton. 😁 Saking pusingnya sampai ada yang memilih keluar dari bioskop. Ada juga yang bilang bahwa filmnya mesti diikuti dari awal. Karena kalo sampe kelewatan di awal, maka penonton enggak bakalan ngerti filmnya secara utuh, dan berpeluang besar bikin penonton bertanya, “Ini film apaan sih?” 😁

Nah, pas ngecek jadwal film yang lagi diputar di bioskop lokal, mata saya tak sengaja melihat judul ‘La La Land’ yang terdengar lucu di telinga itu.

Pengetahuan saya tentang film ini nyaris nihil. Paling yang saya ketahui adalah ia memenangi 7 kategori di ajang penghargaan Golden Globe baru-baru ini.

Setelah melihat, membaca, dan menimbang sinopsisnya, akhirnya saya memutuskan untuk menyaksikan drama musikal ini. Pilihan yang cukup berisiko memang, karena saya baru patah hati dibikin ‘Ini Kisah Tiga Dara‘, film musikal besutan Nia Dinata. But hey, life is like a movie, right? Film mana pun yang ditonton pasti berisiko. Entah itu berisiko bikin pusing, sedih, ketawa, atau gabungan dari semuanya.

Dan film ini, ya ampun, keren abis. Keren abis pake banget.

Ceritanya sebetulnya sederhana dan mungkin sangat biasa ditemukan di sekitar kita. Tentang sepasang manusia yang berusaha mewujudkan impiannya di tengah keriuhan kota besar.

Namun oleh sutradara Damien Chazelle, entah bagaimana kesederhanaan ceritanya mampu diramu menjadi suguhan cantik yang saya yakin akan diingat banyak orang sepanjang masa.

Saya bahkan masih bisa mengingat bagaimana kedua tokoh utamanya berdansa di langit ketujuh, parade lagu keren yang bolak-balik bikin saya tepuk tangan tanpa suara, atau tari-tarian penuh semangat di tengah kemacetan yang, membuat saya pengen menari saat itu juga. 😁😁

Itu sebabnya, saya percaya ‘La La Land’ adalah awal yang baik di tahun ini, dan akan membawa kita pada kebaikan-kebaikan berikutnya. Karena pepatah mengatakan: apa yang kita rasakan pada awal hari akan menentukan mood kita seharian. Jika di awal kita terpapar oleh hal-hal yang baik dan positif, alhasil mood kita pun akan baik sepanjang tahun. πŸ˜ƒ

Dan melalui film ini saya diingatkan bahwasanya menjadi luar biasa tidaklah harus rumit.

Film ini sangat saya rekomendasi ditonton oleh kamu-kamu yang sedang bertikai. Coba deh tonton film ini bareng rival kamu. 😁 Bisa dijamin, pada akhirnya kalian bakalan saling tatap penuh kehangatan kayak Mia dan Sebastian, dan saling mengucapkan “selamat sukses” tanpa kata-kata. 😁

la la land

Buat pencinta musik, enggak usah ngaku-ngaku sebagai pencinta musik kalo kamu belum menonton film ini. 😁

Dan terakhir, film ini sangat saya rekomendasi ditonton oleh para jomblo di seluruh dunia. Khususnya para jomblo yang sering terjebak kemacetan lalu lintas. Saran saya, mulai sekarang selalu siap-siap pasang mata pasang telinga, dan pertajam memori. Siapa tau di tengah kemacetan luar biasa itu, kamu ketemu your other half….

 

 

 

 

foto-foto bukan milik saya. semua hasil screen capture, tapi lupa nyatat linknya. foto ‘sukses selalu kawan’ diedit oleh saya.

Buku Baik Laris Manis

Awal tahun udah banyak aja kabar-kabar seru di negeri tercinta Indonesia. Mulai dari Fitsa Hats, daftar buku terbaik 2016 versi Rolling Stone, hingga artikel “Mengapa Buku Indonesia (yang Baik), Tidak Terjual (dengan Baik)”, yang ditulis oleh Aan Mansyur, penulis buku Tidak Ada New York Hari Ini.

Saya enggak akan membahas definisi buku yang ‘baik’, karena interpretasi tiap pembaca mengenai buku ‘baik’ tentunya berbeda-beda. Seperti halnya tidak ada foto bagus atau jelek, maka sebenarnya tidak ada buku yang baik atau jelek, yang ada hanyalah buku yang tidak sesuai dengan selera atau ekspektasi pembaca, sehingga pembaca melabelinya dengan: jelek atau tidak baik.

Yang ingin saya bahas adalah mengapa penjualan buku-buku ‘baik’ tersebut tidak ikut ‘baik’ seperti reputasinya.

Menilik daftar buku terbaik tahun 2016 versi Rolling Stone, menurut saya (karena telah membaca beberapa di antaranya), buku-buku ini isinya cenderung ‘berat’, meskipun ada beberapa cerita yang bikin tertawa hahahihi… 😁😁

Di zaman yang juga berat seperti sekarang ini, setelah seharian penuh bertempur di medan perjuangan berat seperti menghadapi klien cerewet, bos cerewet, pacar cerewet dan lain seterusnya yang juga cerewet, maka di akhir hari atau di jam istirahat, menurut pengamatan saya, yang paling dibutuhkan manusia adalah hiburan segar yang bisa bikin ketawa, alih-alih menjejali diri dengan bacaan ‘berat’ yang bikin kening mengernyit.

Lihatlah film-film yang laris di pasaran saat ini, yang notabene jumlah penontonnya menembus angka 1.000.000: Cek Toko Sebelah, Warkop DKI Reborn, My Stupid Boss, dlst, semuanya kental dengan aroma komedi.

Buku-buku bergenre roman asmara pun sepertinya tak pernah kehilangan penggemar, karena manusia memang selalu membutuhkan bumbu asmara sepanjang hidup.

Tengoklah buku Critical Eleven kak Ika Natassa yang, terakhir kali saya cek, kalau tak salah sudah bertengger pada cetakan ke-15 dalam kurun waktu satu tahun. Bahkan filmnya pun bakalan tayang sebentar lagi (jangan-jangan tayangnya pas menyambut Valentine juga nih? Siapa tahu mau bersanding dengan Fifty Shades Darker yang kabarnya bakal tayang di bulan Februari 2017 penuh cinta…? Oiya, film ini juga diangkat dari buku laris penulis E.L. James).

Sementara buku-buku yang masuk dalam daftar buku terbaik versi Rolling Stone di atas tadi, justru tidak kedengaran gaungnya, dan tidak pernah masuk dalam daftar “buku terlaris”. Kecuali mungkin buku Raden Mandasia yang suaranya lumayan terdengar berkat kasak-kusuk di media sosial.

Buku Raden Mandasia pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016

 

Oleh karenanya, jika ingin bukumu laris manis:

β€’ Tulislah buku yang bisa membuat orang tertawa bahagia.

β€’ Tulislah buku bergenre roman asmara yang happy ending.

β€’ Bertemanlah dengan para penulis buku laris dan minta kiatnya agar buku kamu laris.

β€’ Bertemanlah dengan para penulis buku laris agar mereka juga berkenan mempromosikan buku kamu kepada para penggemarnya. Misalnya seperti Ika Natassa dan Tere Liye.

β€’ Kerja sama dengan berbagai instansi agar buku kamu menjadi buku yang wajib dibeli tiap anggotanya. Lumayan banget kan, kalo misalnya buku kamu dibeli satu instansi yang jumlah membernya mencapai 50.000 orang?

β€’ Turunkan harga buku? Ah, menurut saya harga buku tidak terlampau berpengaruh. Karena meskipun ada buku-buku yang harganya di luar budget pembaca (baca: mahal), namun jika pembaca terlanjur suka dengan buku yang dibaca, maka harga menjadi nomor sekian. Dan ada buku-buku yang menurut saya murah banget, namun tetap tak laku di pasaran. Jadi yang terpenting adalah isi buku menyentuh hati pembaca.

Lantas mungkin muncul pertanyaan baru dari kamu, “Bagaimana jika selama dalam proses meningkatkan penjualan buku, sebagai penulis saya dituntut harus mengorbankan idealisme dan ciri khas yang telah saya bangun selama ini?”

Saya tanya lagi: mana lebih penting, idealisme kamu atau dapur kamu bisa tetap ngebul?

Jika kamu memilih yang kedua, mungkin dalam prosesnya, kamu hanya perlu mengubah idealisme tanpa harus mengorbankan integritas, tentunya.

Pasar buku-buku ‘baik’ yang cenderung ‘berat’ atau serius tadi memang ada dan tetap selalu ada, namun mungkin jumlahnya belumlah sebesar pasar peminat buku-buku ‘tidak berat’.

Dan bagi kamu para pembaca maupun penulis buku-buku ‘baik’ yang selama ini cuma membaca buku-buku ‘berat’ atau ‘serius’ atau buku-buku yang sering diplesetin orang sebagai buku ‘sakit jiwa’, atau buku-buku dengan penceritaan dari sudut pandang tak biasa, mulai sekarang mungkin kamu bisa membaca buku dari berbagai macam genre agar hidup makin berwarna dan makin kaya.

Misalnya seperti buku Lost & Found dari lini Metropop terbitan Gramedia:

atau buku bergenre manajemen seperti Self Driving-nya Rhenald Kasali:

atau buku It’s All in Your Head dari Suzanne O’Sullivan untuk genre psikologi.

Juga ketika bepergian ke negeri lain, untuk mengetahui sedikit banyak mengenai negeri yang didatangi, kamu bisa membaca buku karya penulis lokal seperti Corridor-nya Alfian Sa’at di Singapura. Karena bagaimanapun, karya sastra suatu negeri sedikit banyak pasti dipengaruhi oleh keadaan negerinya.

buku baik laris manis

Saya percaya, dengan membaca berbagai macam jenis buku, kamu akan semakin memahami dan mengenal berbagai macam karakter serta permasalahan manusia. Sehingga alih-alih mencari kambing hitam untuk disalahkan atas jebloknya penjualan buku, kamu bisa membantu mencarikan solusi yang paling tepat.