Catatan Sederhana tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari yang lalu saya telponan dengan seseorang. Lalu, saya lupa entah bagaimana awalnya, orang yang bertelepon dengan saya itu jadi membandingkan gaya berpakaian saya dengan orang lain, dan menyarankan agar saya memperbaiki gaya berpakaian saya.

Pertama-tama, saran orang yang bertelepon tersebut saya iyain, walaupun sebetulnya saya kurang setuju dengan pendapat beliau. Namun, karena saya merasa bahwa saya juga perlu mengungkapkan pendapat saya secara baik-baik, maka yang saya lakukan selanjutnya adalah: berbicara. Dengan lembut dan sedikit guyon pastinya. 🙂

Saya sampaikan bahwa tindakan membandingkan seseorang dengan orang lain dapat menimbulkan akar pahit dan luka batin dalam diri seseorang. Akar pahit dan luka batin jika dibiarkan berkembang dan tidak disembuhkan, akibatnya mengerikan. Hal itu sama seperti yang terjadi pada seseorang yang memendam kemarahan dalam jangka waktu yang lama, yang mengakibatkan si bolis gampang memasuki dan menguasai orang tersebut. (saya pernah menulis hal ini dalam The Danger of Anger)

Mungkin kita pikir melakukan pembandingan-pembandingan tersebut adalah hal lumrah dan biasa saja, karena mungkin emang udah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat. Tapi seringkali kita kan enggak pernah tau ya seperti apa karakter maupun kepribadian dari orang-orang yang mendengar pembandingan-pembandingan tersebut.

Seperti saya dan adik-adik saya, misalnya. Walaupun kami bersaudara dari ayah dan ibu yang sama, namun kami masing-masing berbeda. Tuhan telah menciptakan tiap manusia dengan keunikannya sendiri. Anak yang satu beda dengan anak yang lain.

Anak yang satu memiliki kecenderungan menyenangi alam, sedangkan anak yang lain menyenangi hitungan. Anak yang satu senang memakai perhiasan, sedangkan anak yang lain menyukai bahasa. Anak yang satu senang dengan perawatan rambut, wajah dan kuku, sedangkan anak yang lain senang membaca. Masih banyak lagi contoh lainnya kalau mau diterusin.

Adik saya ada yang senang mengutak-atik peralatan elektronik sedari kecil. Mungkin saking penasarannya dia tentang ada apa aja di balik sebuah radio jaman dulu, misalnya. 🙂 Sedangkan saya, dari kecil sangat senang dengan tulis menulis dan membaca. Mungkin memang Tuhan sendirilah yang meletakkan kecenderungan untuk menyenangi hal-hal spesifik dalam tiap diri manusia. Dan tentunya kecenderungan spesifik tersebut adalah yang baik dan positif ya.

**

Balik lagi ke hal membanding-bandingkan tadi. Jadi mungkin saking udah lazimnya aktifitas membanding-bandingkan ini, kita sendiri mungkin juga secara tidak sadar pernah membanding-bandingkan seseorang dengan orang lain, atau diri kita dengan orang lain.

Mungkin kita pernah dengar kalimat-kalimat seperti ini:

“Kamu koq kek anak perempuan sih pake nangis? Anak laki-laki enggak boleh nangis. Mesti kuat…”

“Kamu lihat dong kakakmu itu, tekun belajar. Kamu juga harus gitu ya…”

Dan seakan belum cukup membanding-bandingkan, saat anak-anak mendapat tekanan atau tuntutan dari lingkungan sekolahnya atau dibully oleh lingkungan permainannya, dan ingin bercerita tentang masalahnya ke orangtua atau kepada kita, eh kita malah bilang, “Masa kek gitu aja mesti diceritain? Masa kek gitu aja enggak bisa kamu selesaikan sendiri?”

Akhirnya anak kehilangan kepercayaan kepada keluarganya sendiri. Nah, kalo kepada keluarga sendiri anak udah enggak percaya, lalu kemana lagi dia mau mencari sesuatu yang dia percayai bisa melindunginya?

Semakin sering seseorang menerima pembandingan-pembandingan, dan semakin sering berbagai tekanan menerpa tanpa ada penyelesaian, semakin tertekanlah jiwanya. Lalu seseorang ini memutuskan untuk berkeluarga dan akhirnya memiliki anak-anak sendiri. Namun, karna dia sendiri pun belum menyelesaikan masalah yang berkenaan dengan keadaan jiwanya yang tertekan tadi, alhasil, ia pun melakukan hal serupa ke anak-anaknya, sehingga lingkaran mengerikan itu pun terus terjadi.

Jadi masuk akal kan, kalo di jaman ini semakin banyak orang mengalami gangguan kesehatan mental? Baik anak-anak maupun orang dewasa. Dan memang benarlah teori yang mengatakan bahwa gangguan mental disebabkan oleh: tidak adanya cinta kasih yang wajar, tidak adanya komunikasi yang beres, dan tidak adanya identitas diri yang benar.

Lantas solusinya seperti apa? Sederhana saja sebetulnya: hadirkan Tuhan dalam kehidupan kita, dengan sepenuh hati, segenap jiwa raga kita. Pendek kata, kita mesti berkemauan keras untuk menghadirkan Tuhan.

Tuhan adalah KASIH. Maka jika kita hidup di dalam Tuhan, dan Tuhan ada di dalam kita, kita pun akan hidup di dalam kasih, dan ada kepedulian. Jika ada kasih di dalam kita, kita akan lebih berperasaan dalam menghadapi orang-orang di dunia ini.

Jika ada kasih di dalam kita, kita akan mampu mendengarkan orang-orang menceritakan keluh kesahnya dan permasalahannya, dan kita akan mampu mengungkapkan pendapat kita dengan lembut, instead of hanya menyimpan segalanya (entah itu yang membuat kita senang maupun sedih) dalam hati kita.

Cara menghadirkan Tuhan adalah dengan mendengar firman Tuhan, membaca dan membagikannya kepada orang lain. Setelah dibaca, tentu kita mesti belajar untuk menerapkannya dalam hidup sehari-hari. Kadang kita gagal, kadang berhasil. Namun kita mesti terus belajar untuk menerapkan firman Tuhan dalam hidup kita. Cara lainnya menghadirkan Tuhan adalah dengan menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan.

**

Kelemahan manusia salah satunya adalah memang suka membandingkan dan kurang bersyukur. Namun jika ada kasih di dalam kita, kita akan semakin memahami orang lain, dan mampu menghargai orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihan di dalam dirinya.

Dan manusia tidak dapat hidup dari uang saja. Kita punya akal budi, punya perasaan, punya jiwa, punya emosi yang lengkap, dlst. Kita juga membutuhkan kepedulian, perhatian, kasih sayang yang wajar dari orang-orang yang kita kenal sebagai keluarga.

Namun, walaupun kita tidak mendapat kasih sayang yang wajar tersebut, ingatlah, ada Tuhan kita yang selalu mau dekat kepada kita jika kita mau mendekat kepadaNya.

Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan,” kata Yesus dalam Matius 11:28-29.

 

 

 

 

 

Advertisements

2 comments

  1. Dengan lembut dan sedikit guyon— yep akupun juga pake cara itu seringnya, unt menyampaikan pendapatku.

    Like

    1. sama dong kita mbak Tyke 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: