Bosan

Saya pernah merasa sangat bosan di tempat kerja yang dulu. Rasanya semua hal yang saya lakukan tak ada gunanya. Saya merasa seperti robot yang diprogram orang lain, dan menjalani kehidupan hanya sebatas rutinitas semata, seakan tanpa tujuan.

Bangun pagi, siap-siap berangkat, lalu kerja. Di kantor ketemu kawan-kawan, makan siang, sosialisasi dikit, lalu pulang. Besoknya repeat. Hari-hari cuma nunggu kapan hari Jumat datang. Karna kalo udah Jumat, tentu esoknya weekend. Sabtu-Minggu, waktunya santai tidur atau leyeh-leyeh di rumah.

Lalu hari Minggu datang dan teringat esoknya Senin. Mendadak tubuh dan pikiran menjadi sangat tak bersemangat. Males banget rasanya. Kalo bisa tiap hari libur, tak perlu ngantor. πŸ™‚

Pernah merasa kek gitu? πŸ™‚

Urusan duit? Sebenarnya saya mah ikhlas mau digaji berapapun selama jumlahnya wajar dan cukup untuk hidup sehari-hari. Berhubung saat itu saya masih tinggal sama orangtua, biaya rumah enggak dipikirin. Yang penting, selama ada untuk makan, buat beli pakaian sesekali, jalan-jalan sesekali, i’m in. πŸ™‚

Waktu itu saya kerja hanya untuk menyenangkan hati orang-orang yang saya cintai, dan kerjaannya bukanlah sesuatu yang sangat saya sukai. Tapi masalahnya, saya melakukannya dengan setengah hati, dan tidak sungguh-sungguh. Makanya jadi berat. πŸ™‚

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan tidak tulus, hasilnya tidak akan membawa kebaikan, kan?

Saya waktu itu sering berpikir, “Seru kali ya kalo kita bisa mengerjakan hal yang kita sukai dan dibayar pula….” Lalu saya melihat kehidupan orang lain dan juga berpikir, “Ah, senang banget keknya kalo hidup kek si A ini ya.. mereka bisa melakukan hal-hal yang mereka sukai…”

Tentu saat itu yang saya lihat hanyalah permukaannya. Saya enggak tau perjuangan atau pergumulan seperti apa yang dihadapi orang-orang itu ketika mereka menjalani kehidupan ini.

Beberapa kawan yang lain sebenarnya ada juga yang bosan kek saya dan tidak sreg dengan kerjaannya. Namun, mereka tetap bekerja dan melakukan hal yang sama setiap harinya agar bisa memenuhi kebutuhan dari keluarga dan orang-orang yang sangat mereka cintai.

Bagi saya waktu itu, hal-hal kek gitu tidak masuk akal. Prinsip saya saat itu adalah: If you don’t like it, then leave it. Untuk apa melakukan hal-hal yang hanya membuat kita mengeluh dan mengomel? Begitu banyak hal di luar sana yang bisa dikerjakan dan menghasilkan uang kalo kita mau.

Begitulah kira-kira fase kehidupan saya sekitar usia 21-27. Rupanya, orangtua saya melihat hidup saya yang sangat tidak bersemangat itu, dan bapak saya berpesan agar saya bekerja sedaya saya dengan meminta pertolongan Tuhan, dan bersyukur kepada Tuhan.

Of course waktu itu saya tidak tau dan tidak ngerti maksud dari pesan bapak saya tersebut, karna yang penting waktu itu adalah: my way, my rules. Jadi, pesan beliau hanya masuk telinga kiri lalu keluar telinga kanan.

Sekarang, sekitar satu dekade kemudian, ketika hidup berjalan tidak seperti yang saya mau, dan tidak seperti saya inginkan, pendek kata, my life is not my way and not even my rules πŸ™‚ πŸ™‚ , Β satu-satunya yang saya lakukan adalah: bersyukur kepada Tuhan dan meminta pertolonganNya, dan bekerja sedaya saya dengan menggunakan segala sesuatu yang diberikan Tuhan yang ada pada saya, serta yang ada di sekitar saya. πŸ™‚ Persis kek disarankan bapak saya! πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ Luar biasa ya! Tuhan itu baik banget!

Contohnya seperti beberapa hari yang lalu, sewaktu saya mengalami hal yang tak diinginkan di siang hari. Lalu, Tuhan menyadarkan saya malam harinya melalui kucing liar yang suka datang ke rumah saya.

Malam itu, kucing ini datang ke rumah dan saya beri makan karna masih ada makanan di rumah saya untuk diberikan. Coba kalo enggak ada, mana mungkin saya beri dia makan, kan? πŸ™‚

Di situlah Tuhan menyadarkan saya bahwa: Yang terjadi pada saya di siang harinya adalah hal kecil dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesembuhan, kesehatan, dan pemulihan hidup yang telah Tuhan berikan untuk saya. πŸ™‚

Saya pun seketika bersyukur karna Tuhan masih mau membuka mata hati saya, dan menyadarkan saya. Saya juga kemudian bersyukur karena Tuhan masih memberi makanan buat si kucing untuk diberikan, lalu saya bersyukur untuk mata yang masih bisa melihat, untuk mulut yang masih bisa berbicara, dst…

Baru sekarang saya benar-benar mengerti bahwa ada kuasa yang luar biasa memerdekakan kita, yang membuat hati kita bahagia dan mampu mengubah muka manyun menjadi senyum, ketika kita mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. πŸ™‚

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, “Why can’t i see those things when i was at my younger age?” Itu mungkin disebabkan karena:

  1. saat itu, pengalaman hidup saya belum sampai pada pemahaman bahwa yang terpenting dalam hidup ini bukanlah diri saya, melainkan Tuhan.
  2. mungkin Tuhan memang membiarkan semua itu terjadi dalam hidup saya agar saya bertumbuh mencariNya, sehingga saya boleh hidup untuk menggenapi tujuanNya dalam hidup saya.

 

Ngomong-ngomong, pernahkah kalian merasa sangat bosan, kesepian, atau sedang mengalami hal-hal yang kurang mengenakkan?

Saya mengajak kalian untuk menuliskan hal-hal baik yang kalian terima dari pagi hari hingga malam nanti dan berterima kasih kepada Tuhan. Gini contohnya:

  • terima kasih Tuhan, karna pagi ini kami masih boleh bangun pagi.
  • terima kasih Tuhan, karna Engkau masih memberi kami nafas kehidupan.
  • terima kasih Tuhan, karna kami masih bisa memberi makan anjing kami dan dia masih boleh bernafas dan hidup di pagi hari ini.
  • terima kasih Tuhan, karna kami masih bisa memasak.
  • terima kasih Tuhan, karna kami masih bisa mencuci.
  • terima kasih Tuhan, karna mata kami masih bisa melihat.
  • terima kasih Tuhan, karna tangan kami masih bisa digunakan.
  • terima kasih Tuhan, karna blog saya masih ada yang baca.
  • terima kasih Tuhan, karna listrik kami nyala.
  • dst… lanjutkan πŸ™‚

 

 

Ketika kita berterima kasih kepada Tuhan, itu akan membantu kita memaafkan situasi yang mungkin kurang mengenakkan, dan membuat kita menjadi tabah menjalani kehidupan ini. πŸ™‚

 

 

 

 

 

Advertisements

2 comments

  1. terimakasih yASWT, kami masih di beri kehidupan yang layak..
    bersyukur..
    biasanya kalau bosan minum kopi atau cokelat sajah saya kak

    Like

    1. Minum cokelat atau kopi pasti langsung hilang penat ya πŸ˜€ makasih banyak udah mampir disini ya πŸ™‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: