Penghibur(an)

Apa yang ada di benak kita jika mendengar kata penghiburan?

Orang Batak memiliki tradisi memberi penghiburan kepada keluarga yang sedang berduka. Nama tradisi ini adalah mangapuli. Nantinya akan ada ibadah penghiburan, makan bersama (yang biasanya disiapkan oleh tamu yang datang), lalu disambung dengan memberi hata togar-togar, yaitu semacam dukungan moral kepada keluarga yang sedang berduka, agar mereka tabah.

Orang yang lagi sedih atau marah, atau yang lagi banyak pikiran, dan yang pikirannya kacau serta stres, cenderung ingin melepaskan kepenatan dengan menghibur diri melalui makanan, film, musik, buku, traveling, belanja, maupun melalui hal-hal lain yang mereka senangi. Namun, jika hal-hal tadi benar-benar mampu menghibur, mengapa setelah melakukan hal-hal yang disenangi tadi, kekosongan dan kehampaan tetap menggelayuti jiwa?

Itu karena semua hiburan tadi bersifat menyenangkan hati untuk sementara. Penghiburan adalah penyertaan, dan ajakan untuk mendampingi seseorang. Karena kita berasal dari Tuhan, maka penghiburan yang sejati dan benar-benar mampu mengisi kekosongan jiwa hanya didapat dari Tuhan. Caranya yaitu dengan mendengar firman Tuhan, membaca dan merenungkannya, mempelajarinya, dan mencerna firman itu dalam hati disertai doa, agar Tuhan berkenan mengajar tentang diriNya kepada kita.

Empat puluh hari setelah Yesus bangkit dari kematianNya, Ia naik ke surga. Hari itu diperingati sebagai Hari Kenaikan. Lalu, sepuluh hari setelahnya, atau hari kelima puluh setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus atau Penghibur, yaitu Penolong yang Ia janjikan, turun kepada kita untuk mengajar segalanya dan mengingatkan kita tentang semua yang telah Yesus beritahukan sebelumnya. Hari turunnya Roh Kudus itu diperingati sebagai hari Pentakosta.

Hidup dalam Roh Kudus. Itulah tema ibadah remaja yang diikuti oleh adik saya dan saya sendiri, seperti yang saya ceritakan dalam postingan Anak Introvert.

Ketika Tuhan menciptakan kita, Ia memberi kita akal budi dan memberi kita pilihan apakah mau hidup menurut Roh Kudus-Nya, atau mau hidup menurut hawa nafsu kita sendiri, yang sering disebut sebagai hidup menurut ‘daging’.

Keinginan daging atau tabiat manusia tadi nyata dalam bentuk: perbuatan-perbuatan yang cabul, kotor dan tidak pantas; dalam penyembahan berhala, keserakahan, dan ilmu guna-guna; dalam bermusuh-musuhan, berkelahi, benci, cemburu, lekas marah, dan mementingkan diri sendiri; perkataan kotor, berbohong, perpecahan dan berpihak-pihak, serta iri hati, bermabuk-mabukan, berpesta pora, dan lain sebagainya.

Orang yang hidup menurut daging ini contohnya adalah Adam dan Hawa yang ingin hidup untuk memuaskan keinginan mereka yang tak terkendali. Padahal Tuhan sudah ingatin agar mereka tidak memakan buah dari pohon yang memberi pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. β€œPada hari kamu memakannya, kamu akan mati…” demikian Tuhan berfirman.

Namun mereka berdua termakan bujuk rayu dan kebohongan iblis karena tidak tahu bahwa maksud dari ‘mati’ adalah: jiwa mereka mati karena terlepas dari Tuhan. Jadi, orang yang hidupnya diluar Tuhan, jiwanya mati; sehingga mereka akan cenderung melakukan hal-hal menurut keinginan daging seperti yang udah saya tulis di atas. Sedih banget ya? 😦

penghiburan

Lantas bagaimana ciri orang yang hidup dalam Roh Kudus? Salah satu contohnya, jika mereka ada keinginan, hal itu bisa dikendalikan. Lalu mereka mampu memaafkan, sabar, dan mampu melihat kelebihan orang lain, serta mampu melihat kekurangan diri sendiri. Roh Kudus selalu menuntun seseorang kepada Yesus, dan percaya kepada Yesus, karena Roh Kudus selalu sejalan dengan ajaran Yesus.

orang yang dipimpin Roh Allah

Dan yang terpenting, orang yang hidup dalam Roh Kudus melakukan tindakan kasih.

Usai memaparkan firman tentang Roh Kudus seperti yang udah saya tulis di atas tadi, pembawa firman pun membuka sesi diskusi dan tanya jawab. Anak-anak muda yang hadir keknya antusias banget soal tema Roh Kudus karena nampak ada banyak tangan teracung ke udara pertanda ingin mengajukan pertanyaan. πŸ™‚

Beberapa pertanyaan ada yang diluar tema. Lalu ada juga anak muda yang cuma ingin memberi semangat kepada teman-temannya untuk tetap semangat hidup bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan. Luar biasa ya! πŸ™‚

Pembawa firman menjawab berbagai pertanyaan (yang hampir semuanya terdengar kritis) dengan elegan dan tenang. πŸ˜€ Bicara tentang kritis, saya teringat pada Tomas, murid Yesus yang harus melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri bahwa Yesus benar-benar udah bangkit. Tomas adalah contoh murid yang mewakili orang-orang kritis dan selektif, serta tidak mudah terombang-ambing isu. Tomas mengandalkan akal sehat, rasionalitas, fakta, dan realita.

Namun, setelah Tomas melihat langsung bahwa Yesus benar-benar sudah bangkit menaklukkan kematian, dan setelah ia mencucukkan sendiri jarinya ke luka di tubuh Yesus bekas dipaku, dan ke luka di lambung-Nya bekas ditombak, Tomas pun akhirnya percaya sepenuhnya. πŸ™‚ Menurut sejarah gereja, Tomas menjadi pemberita injil sampai ke daerah India dan ia meninggal di sana.

Salah satu pertanyaan kritis itu datang dari anak muda yang bertanya tentang pengusiran roh jahat. Nah, sang pembawa firman menjawabnya dengan sederhana dan rendah hati saja. Beliau bilang, β€œUsir melalui doa, misalnya yaitu: Tuhan, pengetahuan hambaMu terbatas. Tolong sembuhkan menurut pengetahuanMu. RohMu yang kudus lebih berharga dari apapun. Kasihanilah kami….”

Simpel sekali dan rendah hati sekali doanya ya? πŸ™‚

Ketika anak muda itu bertanya lagi soal roh jahat dan kerasukan, pembawa firman menyarankannya dengan elok agar si anak muda ini membatasinya dengan berkata, β€œAbaikan saja soal hal-hal itu. Karena semakin kita pikirkan, dia bisa datang kepada kita. Jadi mari kita urus yang menjadi tanggung jawab kita. Orang kerasukan beda tipis dengan sakit jiwa….”

Ada benarnya jawaban beliau. πŸ™‚ Daripada ngurusin yang bukan-bukan, apalagi yang sama sekali bukan urusan kita, keknya emang lebih baik kita fokus kepada hal-hal yang menjadi tanggung jawab kita lah ya? πŸ™‚

Lalu ada yang bertanya kenapa kita berdoa mesti lipat tangan, tutup mata, tunduk kepala? Jawabnya: karna itu adalah tanda kepasrahan kita kepada Tuhan. πŸ™‚

Satu ronde lagi sebelum diskusi ditutup, ada yang bertanya soal menghujat Roh Kudus. Pertanyaan ini udah lama ingin saya ketahui jawabannya. Sehingga, saya otomatis menoleh kepada sosok anak muda yang mengajukan pertanyaan tersebut.

Ternyata, yang bertanya adalah anak muda yang tadi bertanya soal pengusiran roh jahat, dan soal kerasukan. Astaga! πŸ˜€ Tak disangka tak diduga, Tuhan memakai anak muda tersebut untuk menjadi corong suara hati saya. πŸ˜€ Luar biasa!

Menurut pembawa firman, menghujat Roh Kudus adalah menantang Tuhan secara sengaja dan sadar. Contohnya adalah Firaun yang menolak dan mengeraskan hati untuk melepaskan bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Namun, selama kita masih ada keinginan berdoa, masih ada keinginan bertobat, dan masih ada keinginan kembali kepada Yesus, itu berarti kita tidak menghujat Roh Kudus. Orang yang menghujat Roh Kudus tidak ada lagi jalan kembali kepada Yesus.

Pada akhir sesi diskusi, pembawa firman mengingatkan para anak muda agar menjadi dewasa dengan cara mengurangi berbagai tuntutan dan banyak bersyukur, kemudian selalu menjaga ucapan, melakukan firman, dan beriman hanya kepada Yesus. Selama kita hidup di dunia ini, kita berjuang melawan keinginan daging dan berjuang meneladani Yesus yang senantiasa hidup dengan rendah hati.

Sehabis ibadah, ada sesi foto keluarga. Cuman adik saya aja yang ikut difoto. Saya sendiri, karena udah merasa bukan remaja lagi, melipir keluar. πŸ˜€ πŸ˜€ Sebelum pulang, panitia membagikan ransum berupa bihun goreng lengkap pake sambal kepada tiap peserta yang datang. πŸ™‚ Ah, seneng bangetlah pokoknya. Jiwa dikasi makan, perut pun dikasi makan. Tuhan Maha Baik. πŸ™‚

Terima kasih banyak ya buat pembaca setia yang udah menanti postingan sambungan Anak Introvert ini. πŸ™‚ Kiranya Tuhan memberkati kalian semua! πŸ™‚

Marilah mulai sekarang dan seterusnya kita hidup dalam Roh Kudus. πŸ™‚ Btw, ada yang pernah ikut ibadah remaja? πŸ™‚

 

 

 

 

 

Bacalah: Yohanes 20:24-31, Roma 8:9-11, Kolose 3:5-11, 1 Korintus 12:3, 1 Yohanes 4:1, Yohanes 14:26.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: