Anak Introvert

Hingga usia sekitar enam belas tahun, saya masih rajin mau ikut ke pesta atau ke acara-acara sosialisasi nemenin orang tua. Sampai di satu titik, saya akhirnya mulai males banget pergi ke acara-acara yang temanya adalah ketemu dengan orang banyak, dan tercetuslah bahwasanya (kemungkinan besar) saya termasuk kategori anak introvert. πŸ˜€

Maka, hari-hari bersahabat dengan buku-buku, menulis jurnal harian, menonton film berjam-jam, denger lagu sambil jingkrak-jingkrak sendirian, hingga lelah bertegur sapa maupun berbasa-basi dengan sesama, pun datanglah πŸ˜€

Saya ingat, satu waktu bapak saya pernah meminta saya pergi ke rumah salah satu tetangga kami di Medan untuk menolong mereka menyiapkan pesta. Tapi saya menolak. Saya memilih membaca buku di kamar. Waktu itu, membaca buku cerita nampaknya lebih penting daripada nolongin orang nyiapin pesta.

Kemudian saya ingat, setelah di Balikpapan, beberapa kali kawan-kawan pernah mengajak untuk ikutan berbagai kegiatan sosialisasi positif; seperti ikut ibadah Paskah, kumpul-kumpul di acara perkemahan anak-anak, dlst. Namun saya juga menolak. Hal itu saya lakukan karena saya takut jika ketemu orang-orang, saya lagi-lagi akan ditanyai: kapan punya anak. Sehingga, waktu itu, membaca buku-buku maupun menonton film dan berteman dengan tokoh-tokoh di dalamnya lebih masuk akal daripada ketemu orang-orang dan ditanyai macam-macam yang ujungnya hanya akan membuat saya sedih dan marah.

Kemudian, seperti yang pernah saya tuliskan di postingan Catatan 17 Agustus… saya keluar dari beberapa komunitas yang pernah saya ikuti dan menutup diri selama bertahun-tahun.

Saya tak tau ternyata menutup diri dari orang-orang itu sangat berbahaya bagi jiwa. Namun sekarang, Tuhan Yesus telah menyelamatkan saya dan menarik saya keluar dari lubang yang sangat gelap itu.

Dan seperti yang pernah saya tuliskan dalam postinganΒ Sebulan Belakangan Ini, sekarang saya sudah sadar bahwasanya orang-orang yang bertanya-tanya itu tidak salah. Sayalah yang bermasalah. Sekarang, kalo ada yang tanya-tanya soal anak, saya jawab dengan tenang: doain aja. πŸ˜€ Saya sudah berdamai dengan pertanyaan itu, karena saya sudah berdamai dengan Tuhan Yesus, sehingga saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri. πŸ™‚

Jadi sekarang, sudah hampir genap setahun saya berhenti nonton film bioskop dan film-film di manapun itu, dan berhenti membaca buku-buku maupun mendengar lagu-lagu yang tidak membangun jiwa.

Awalnya memang sulit ya, melepaskan hal-hal yang selama ini telah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Namun, Tuhan memberi konfirmasi di hati saya beberapa kali hingga membuat saya berpikir: jika hal itu memang tidak membangun kehidupan dan tidak berguna bagi jiwa, bukanlah lebih baik dilepaskan? Dan karena sekarang saya mau hidup saya dipimpin Tuhan, maka sungguh tidak konsisten jika saya tetap membaca, menonton, maupun mendengarkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dihidupi Yesus. So i quit.

Tubuh kita berasal dari Tuhan. Karena itu, mata, mulut, telinga, tangan, kaki, dan pikiran kita gunakan untuk memuliakan Tuhan, dan biasakan untuk melakukan hal-hal baik yang bermanfaat untuk menolong diri kita dan menolong orang lain ke arah yang lebih positif.

Nah, sebagai gantinya, sekarang saya sudah mulai mengisi hari dengan bertemu kawan-kawan. Mereka manusia nyata, lebih nyata daripada karakter-karakter dalam buku maupun film, dan mereka menghadapi pergumulan yang nyata. Merekalah yang perlu ditolong, perlu diberi semangat, dan perlu didoakan.

Atas dasar kesadaran itu, saya mendorong adik saya yang masih remaja, yang keknya juga ada bibit-bibit introvert, agar rajin bersosialisasi ketemu orang. πŸ˜€ Begitu banyak kesempatan terbuka kalo kita rajin ketemu orang. Salah satu contohnya waktu saya ke Tanah Grogot bulan Mei lalu.

Waktu itu, selain ingin mengunjungi sodara yang di Grogot, saya juga ingin mengunjungi sodara saya yang lain yang juga tinggal di daerah situ, tapi saya tak tau alamatnya. πŸ˜€ Saya sudah hubungi melalui dua nomor telponnya, tapi satu pun tak ada yang aktif. πŸ˜€

Akhirnya, setelah berjumpa dengan sodara saya yang di Grogot itu, saya ceritalah ke dia bahwa saya punya sodara lain yang juga tinggal di daerah situ. Lalu dia tanya alamatnya dimana. Tentu saja saya tak tau. πŸ˜€

Nah, rupanya, sodara saya ini aktif di komunitas Batak di Grogot, jadi dia punya banyak kenalan. Kemudian dia tanya saya hal-hal detil tentang sodara saya yang saya tidak tau alamatnya tadi. (Untuk selanjutnya, kita sebut saja sodara saya yang di Grogot ini Sodara A, dan sodara yang saya tak tau alamatnya tadi sebagai Sodara B).

Setelah bertelepon kesana-kemari, akhirnya didapatlah satu kesimpulan: ternyata Sodara A dan Sodara B masih dalam satu lingkaran pergaulan di daerah Grogot! Luar biasa ya Tuhan itu! πŸ˜€ Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. πŸ™‚

Hebatnya lagi, ternyata di hari yang sama sewaktu saya datang berkunjung itu, akan diadakan ibadah bulanan di rumah Sodara B, yang mana juga akan dihadiri oleh Sodara A! Amazing, right? πŸ˜€ πŸ˜€ (belum pusing bacanya, kan? πŸ˜€ πŸ˜€ )

Singkat cerita, saya pun akhirnya berjumpa dengan Sodara B berkat pertolongan Sodara A, karena dia rajin bersosialiasi. πŸ™‚

Fyi, perjalanan ke Grogot itu sekitar empat jam dari Balikpapan kalo naik feri lalu disambung dengan jalan darat.

**

Nah, kembali ke cerita saya tentang mendorong adik yang masih remaja itu agar rajin bersosialisasi. Awalnya adik saya menolak, tapi sekarang dia udah ada kesadaran mau ikut kegiatan remaja di gereja. Thank God πŸ™‚ Maka, hari Sabtu lalu saya ikut mengantarnya ibadah remaja. Sambungan cerita ini akan saya tuliskan dalam postingan berikutnya yaa… πŸ˜€ Nantikan! πŸ˜€ πŸ˜€

 

 

 

Advertisements

5 comments

  1. Introvert memang merugikan diri sendiri. Saya juga pernah merasakan akibat buruknya.

    Sukses selalu.

    Like

    1. Tiap kepribadian pasti ada sisi positif & negatifnya ya pak alris. Kalo kata kawan saya, hidup itu emang perlu proses sampai akhirnya muncul kesadaran untuk berbenah diri menjadi pribadi yg semakin baik 😁

      Makasih udah mampir pak. Sukses juga buat bapak πŸ™

      Like

  2. Setuju banget Mbak Messa!
    aku dulu juga ngerasa diem di rumah terus nonton atau baca buku itu bukan sesuatu yang stressful atau bikin depresi, malah lebih enak sementara kalau ketemu sama orang malah capek LOL.

    aku suka banget dengan kata-katamu ini, “Bener mbak nia, kita membutuhkan sesama manusia lainnya utk bertahan hidup πŸ˜‰”
    Jadi meski introvert, kita tetep nggak boleh bodo amat ya… ❀

    Like

    1. Makasih udah baca ya mbak nia πŸ˜„ iya mbak, ada saatnya nanti muncul kesadaran bahwa terlalu sedikit ketemu orang ternyata sangat tidak baik buat kesehatan jiwa 😁 dan ternyata semua bisa dipelajari, termasuk bersosialisasi dan small talk 😁😁 tinggal kitanya aja apakah ada kemauan atau tidak πŸ˜‰

      dan sekarang aku sadar bahwasanya yang mengubah hati manusia itu cuma Tuhan saja πŸ™‚ luar biasa ya πŸ™‚

      Mari kita2 sama belajar bergaul ya mbak πŸ™‚

      Like

  3. […] Hidup dalam Roh Kudus. Itulah tema ibadah remaja yang diikuti oleh adik saya dan saya sendiri, seperti yang saya ceritakan dalam postingan Anak Introvert. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: