The Danger of Anger

Kamis malam lalu saya ikut ibadah Memperingati Penderitaan Tuhan Yesus. Dan khotbah yang dibawakan oleh pendeta diambil dari Lukas 22:1-6. Pak pendeta khusus membahas soal Yudas Iskariot, murid Yesus, yang mengkhianati Yesus. Ternyata Yudas adalah bendahara perkumpulan mereka, dan adalah seorang dengan kepribadian introvert yang tertutup.

Mungkin karena didorong oleh cinta uang, dan didorong kekecewaannya kepada Yesus karena Yesus tidak bertujuan melepaskan orang Yahudi dari kekaisaran Romawi saat itu, atau karena ia orang Yudea sehingga menganggap Yesus yang adalah orang Galilea tidak pantas sebagai pemimpin, maka kesemua faktor tadi membuat ia mudah dimasuki si jahat atau si bolis. Bolis dalam bahasa Batak artinya iblis.

Akibatnya fatal. Yudas tidak menyangka bahwa ternyata Yesus diserahkan untuk dibunuh. Setelahnya, ia menyesal. Namun karena ia telah menjual jiwanya kepada bolis, ia tidak memilih kembali kepada Tuhan. Yudas memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Tragis.

Di dalam Alkitab ada beberapa tokoh lain yang juga mengalami akhir hidup yang tragis karena memelihara kebencian dalam hidupnya sehingga Roh Tuhan pergi meninggalkan mereka. Seperti Raja Saul. Pada mulanya ia diurapi Tuhan. Namun seiring saking bencinya ia kepada Daud, perlahan-lahan ia mengundang bolis masuk ke dalam dirinya, hingga satu kali ia mengadakan pemanggilan arwah, dan akhirnya Tuhan pergi meninggalkan dia.

Kain juga karena dikuasai kemarahan kepada adiknya, Habel, sehingga dengan tega ia mengambil nyawa adiknya. (Kejadian 4:6-7)

Musa pun pernah marah kepada umat Israel di mata air Meriba. Saat itu mereka baru keluar dari perbudakan di Mesir, dan terus menerus mengomel kepada Musa karena mereka kehausan. Sambil marah, Musa mengayunkan tongkatnya pada bukit batu. Bukit batu mengeluarkan air, namun Tuhan tidak senang akan perbuatan Musa. Dalam Ulangan 32:51-52, perbuatan Musa yang marah tersebut sama dengan tidak menghormati Tuhan, dan berakibat ia tidak akan memimpin umat Israel masuk ke negeri yang dijanjikan Tuhan. (Bilangan 20:10-13)

Memang seringkali akar dari banyak masalah yang terjadi adalah harapan-harapan yang kandas. Dan jika tidak segera diatasi, hal itu akan berkembang menjadi kekecewaan, kebencian, sakit hati, amarah dan kepahitan. Sakit hati, kepahitan, kekecewaan, maupun kemarahan, adalah ladang subur bertumbuhnya si bolis.

Jika kita memelihara kebencian, kemarahan, kekecewaan, maka berhati-hatilah, si bolis akan mudah memasuki dan menguasai kita. Orang yang marah pikirannya gelap, tak mampu berpikir jernih, tak memakai akal sehat, dan tak mampu memikirkan kebaikan, melainkan hanya memikirkan bagaimana agar terjadi kekacauan, perpecahan, iri, dengki, dlst, karena ia dikuasai bolis. (Galatia 5:19-21)

Oleh karenanya, jika marah, marahlah sebentar saja agar iblis tak dapat berkuasa. (Efesus 4:26-27) Redakan amarah sebelum matahari tenggelam, kata pepatah.

Undanglah Roh Kudus, yaitu Roh Tuhan, agar bekerja dalam hidup kita untuk menghasilkan buah roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. (Galatia 5:22-23) Karena hanya ketika bersatu dengan Tuhanlah kita mampu melawan si bolis.

Mungkin kita tidak dapat mencegah orang lain mengucapkan maupun berbuat hal-hal yang tidak kita kehendaki, namun ingatlah bahwa kita pun punya kekurangan, dan kita harus belajar menguasai emosi. Jadikan Tuhan penguasa hidup kita, agar perbuatan kita tidak bergantung kepada respon orang lain, tetapi bergantung kepada Tuhan, yaitu sumber kasih.

Ingat kaidah kencana: perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. (Matius 7:12) Jika kita ingin dihormati, maka terlebih dahulu hormati orang lain. Teladanilah Yesus yang meskipun dihina, direndahkan, dilecehkan, dan dilempari menjelang ia disalib, namun IA tidak membalas mereka. Yesus cuma berdoa: Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tau apa yang mereka perbuat.

Untuk orang-orang yang sulit (misalnya seperti egois, pemarah, cemburuan, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang seringkali menyulitkan untuk berkomunikasi hingga membuat frustrasi), kita boleh mendoakan mereka, dan ingatlah bahwa rasa frustrasi seperti itulah yang setiap hari harus dihadapi Tuhan dengan kita masing-masing. Mungkin salah satunya termasuk kita.

Segala harapan dan rencana orang lain seringkali kandas saat berhadapan dengan karakter kita, sama seperti harapan dan rencana kita seringkali kandas saat berhadapan dengan karakter mereka. Kesadaran diri hendaknya mendorong kita untuk berusaha menunjukkan kesabaran dan penerimaan terhadap orang lain, sama seperti yang ditunjukkan Tuhan terhadap kita setiap hari.

Semakin kita kurangi tuntutan dan komplain, semakin kita bahagia. Kebahagiaan adalah gabungan dari rasa ikhlas dan hati yang bersyukur.

Dan jika kita ingin berumur panjang dan menikmati yang baik, marilah kita menghormati Tuhan dengan cara: tidak mengeluarkan kata-kata yang jahat, tidak suka tipu muslihat, menjauhi yang jahat, melakukan yang baik, dan mengusahakan perdamaian dengan sekuat tenaga. (Mazmur 34:12-15).

Oiya, di bawah ini ada beberapa kutipan tentang marah yang saya dapat dari Amsal. Semoga menginspirasi dan semoga membuat kita lambat untuk marah. πŸ™‚

 

“Tidak cepat marah lebih baik daripada mempunyai kuasa:

menguasai diri lebih baik daripada menaklukkan kota. (Amsal 16:32)”

—-

 

“Hanya orang bodohlah yang suka bertengkar;

sikap yang terpuji ialah menjauhi pertengkaran. (Amsal 20:3)”

—-

 

“Orang bijaksana dapat menahan kemarahannya.

Ia terpuji karena tidak menghiraukan kesalahan orang terhadapnya. (Amsal 19:11)”

 

 

 

 

 

Advertisements

2 comments

  1. […] apakah kisah Petrus berakhir di situ? Tentunya tidak sodara-sodara. πŸ™‚ Petrus tidak seperti Yudas (rasul Yesus yang mengkhianati Yesus), yang karena sedih dan menyesal memilih mengakhiri hidupnya […]

    Like

  2. […] Saya sampaikan bahwa tindakan membandingkan seseorang dengan orang lain dapat menimbulkan akar pahit dan luka batin dalam diri seseorang. Akar pahit dan luka batin jika dibiarkan berkembang dan tidak disembuhkan, akibatnya mengerikan. Hal itu sama seperti yang terjadi pada seseorang yang memendam kemarahan dalam jangka waktu yang lama, yang mengakibatkan si bolis gampang memasuki dan menguasai orang tersebut. (saya pernah menulis hal ini dalam The Danger of Anger) […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: