Mencari Jalan Keluar

Sewaktu dirundung masalah, pastilah kita selalu berusaha mencari jalan keluar ya? Saya yakin, enggak ada orang yang senang terus menerus dibelit masalah.

Masalah adalah jarak antara harapan dan kenyataan. Dan kalo gak hati-hati mencari jalan keluar, bisa jadi sewaktu jalan A yang dipilih, bukannya setitik cahaya yang terlihat, melainkan kita malah terperosok makin jauh ke dalam hutan belukar yang makin gelap. Jadi, mencari jalan keluar pun ada seninya juga. πŸ™‚

Sebaiknya, jika mencari jalan keluar, bertanyalah kepada Tuhan. Kenapa? Karena Tuhan pencipta kita, hanya Dia yang paling tahu jalan mana yang terbaik buat kita. Jika ingin mengetahui tujuan diciptakannya suatu benda, bacalah buku panduannya dan tanyakanlah kepada penciptanya, bukan kepada bendanya. πŸ™‚

Carilah apa yang Tuhan inginkan bagi hidup kita; bukan apa yang kita inginkan bagi hidup kita. Kenapa? Karena kita diciptakan hanya untuk satu tujuan, yaitu: takut kepada Tuhan, dan menaati segala perintahNya.

Orang taat adalah orang yang mampu bersyukur menerima kenyataan dan keadaan. Jadi, saya pikir, ketika kita berusaha sekuat tenaga mengejar hal-hal yang kita inginkan (alih-alih mencari apa yang Tuhan inginkan bagi hidup kita), disinilah muncul stres; karena kita mencari solusi maupun penyelesaian diluar Tuhan.

Ada satu ilustrasi kartun yang paling saya ingat tentang banjir. Lebih kurang diceritakan, ada seseorang yang naik ke atap rumah karena daerahnya diterjang banjir. Ia berdoa kepada Tuhan agar diselamatkan. Namun, bolak-balik regu penyelamat datang hendak menyelamatkan orang ini, ia bergeming melewatkan kesempatan dan akhirnya meninggal. Ketika bertemu Tuhan, ia bertanya mengapa Tuhan tak kunjung datang menyelamatkannya. Tuhan menjawab, β€œAnakku, bolak-balik kukirim regu penyelamat untuk menyelamatkanmu, tapi kau menolaknya.”

Jadi bagaimana kita tahu bahwa jalan keluar yang kita ambil adalah jalan yang diinginkan Tuhan? Bertanyalah dan minta kepada Tuhan dengan rendah hati. Charles Stanley, dalam bukunya Cara Mendengarkan Suara Tuhan, menguraikan kepada kita tentang bagaimana mengenali suara Tuhan:

  1. Konsisten dengan firman Tuhan. Contohnya, jika kita berdoa untuk membuat keputusan tentang suatu hubungan, maka apa yang kita dengar dalam doa mestilah konsisten dengan firman Tuhan. Jika tidak sesuai firman Tuhan, maka jawaban yang kita dengar bukan dari Tuhan.
  2. Bertentangan dengan kearifan manusia. Yesus biasanya melakukan apa yang bertentangan dengan harapan kebanyakan orang. Seperti itu pula yang terjadi pada Abraham ketika Tuhan meminta mengorbankan putranya. Jika kita merasa apa yang kita dengar dari Tuhan tampaknya masuk akal dan rasional, selidikilah dengan firman Tuhan dan berdoa.
  3. Tuhan tidak pernah menyuruh kita untuk melakukan sesuatu yang hanya memuaskan naluri jasmani seketika. Jika yang kita dengar mendesak kita untuk berbuat sesuka hati kita, melupakan orang lain, maka suara itu bukan dari Tuhan. Tuhan memanggil kita untuk selalu menjadi manfaat bagi orang lain dan bagi kita sendiri.
  4. Tuhan selalu ingin agar kita membangun hubungan denganNya dan membantu kita bertumbuh lebih dekat denganNya.
  5. Bila Tuhan berbicara, Dia tidak hanya memperhatikan kepentingan kita saja, tetapi juga berbicara tentang mengasihi saudara-saudara kita, tentang memikul beban satu sama lain, membesarkan hati sesama, dan tidak menyebabkan orang lain tersandung/berdosa.
  6. Berpikir panjang, sabar menantikan waktunya Tuhan, dan tidak bertindak buru-buru dalam situasi tertentu. Mendahului Tuhan adalah kekeliruan besar dan akibatnya selalu pahit.
  7. Tuhan selalu menyuruh kita memikirkan dan memerhatikan dampak yang timbul kemudian akibat tindakan kita. Bila Tuhan berbicara, Ia akan membuat masing-masing kita bertanya: Jika saya membuat keputusan ini, apa yang akan terjadi dengan keluarga saya, pekerjaan saya, dan langkah saya dengan Tuhan? Tuhan bukan hanya Tuhan untuk masa sekarang, Dia juga Tuhan untuk masa depan.

Orang paling malang adalah orang yang tidak bisa melihat kesempatan dan tidak bisa menggunakan kesempatan tersebut, seperti orang yang diterjang banjir tadi. Kenapa ia sampai sebegitu ‘butanya’ tak mampu melihat kesempatan baik yang datang untuk menyelamatkannya? Berikut ini beberapa penghalang yang membuat kita tak mampu mendengar dan memahami suara Tuhan:

  1. Kita tidak mengenal Tuhan. Kesombongan menghalangi kita mengenal Tuhan. Itulah pentingnya mempelajari firman Tuhan setiap hari dengan rendah hati, dan berdoa agar kita semakin mengenalNya.
  2. Citra diri yang kabur. Kita harus melihat diri kita sebagaimana Tuhan melihat kita, yaitu sebagai anak-anak yang memerlukan bimbingan, yang memerlukan Tuhan berbicara kepada kita setiap harinya. Jika hubungan kita baik dengan Tuhan, maka akan tercipta komunikasi dua arah yang menyenangkan.
  3. Rasa bersalah yang tidak pada tempatnya. Jika Tuhan telah mengampuni kita, ingatlah, masalahnya sudah selesai dan Tuhan tak lagi mengingat-ingat kesalahan kita. Jika ada suara-suara yang mengingatkan kita pada kesalahan di masa lampau, itu bukan suara Tuhan.
  4. Berbagai kesibukan. Di tengah hiruk pikuknya suara masyarakat, mudah bagi kita kehilangan suara Tuhan yang hening dan lembut. Mintalah bimbingan Tuhan agar kita belajar semakin peka mendengarkan suaraNya di tengah kesibukan.
  5. Tidak percaya. Banyak orang tidak benar-benar percaya bahwa Tuhan masih berbicara sekarang ini. Padahal Tuhan sering berbicara melalui keadaan sekeliling kita, melalui orang lain; terutama melalui orang yang tinggal dengan kita, karena merekalah yang mendoakan kita setiap harinya.
  6. Amarah yang terarah kepada Tuhan. Bila kita marah/sakit hati/sedih kepada seseorang, kita tidak mungkin dapat mendengar kata-kata yang ia ucapkan. Kemarahan menghambat telinga kita mendengar suara Tuhan. Setelah tenang, barulah kita dapat berbicara kepadaNya dan mendengar jawabanNya yang penuh belas kasihan.
  7. Dosa yang dipertahankan. Artinya, kita mengetahui adanya dosa namun belum membereskan dosa itu. Atau barangkali, kita tidak menyadari bahwa kita menyembunyikannya. Bereskan dulu dosa kita, agar tidak menghalangi pandangan, tidak menutupi pikiran, dan tidak menutupi telinga kita kepada Tuhan.
  8. Roh pemberontak. Pemberontakan menyatakan kepada Tuhan bahwa kita menolak melakukan perintahNya. Pemberontakan menghalangi suara Tuhan memasuki hati kita.
  9. Menolak utusan Tuhan. Tuhan berbicara kepada kita bukan hanya melalui orang-orang yang kurang kita senangi, namun juga melalui keadaan sekeliling kita yang tak terelakkan. Terkadang karena pemberontakan kita terhadap Tuhan, Dia terpaksa menarik perhatian kita dengan cara yang keras. Tuhan tidaklah kejam, namun Dia akan melakukan apa yang harus dilakukanNya guna membina watak yang saleh.
  10. Tidak terlatih untuk mendengar. Mendengarkan Tuhan bukan suatu kemampuan yang langsung kita peroleh begitu kita lahir ke dunia. Kita mesti melatih diri untuk mendengarkan. Dengan rendah hati, ajukan pertanyaan: Tuhan, apa yang ingin Kau katakan kepadaku?

Masalah menjadi semakin berat jika terlalu lama disimpan atau dibawa dalam hati. Karenanya, cara terbaik untuk meredakannya adalah mengungkapkannya kepada orang lain, bukan menyimpannya dalam hati. Karena masalah atau kesedihan yang tersembunyi akan mencekik jiwa, tetapi saat kita membaginya kepada teman yang bijaksana (yang simpatik dan tepercaya, yang kita kenal dan mengenal kita, yang mau mendengarkan dan memahami dan penuh kasih, dan yang menghibur kita dengan hati-hati), maka perasaan sedih akan memudar.

Namun apabila kita sudah telanjur stres, lakukanlah:

  1. Menjadikan Yesus Kristus sebagai Tuhan dari kehidupan kita di dalam setiap situasi, dan mempersilakanNya menjadi penguasa setiap komponen hidup kita.
  2. Periksa diri sendiri, situasi masalah kita. Akui setiap dosa. Selidiki cara kita hidup dan dasar pemikiran kita selama ini. Ketika Tuhan menunjukkan dosa-dosa kita, kita harus mengakuinya kepada Tuhan dan mohon pengampunanNya.
  3. Menyerahkan diri kepada Tuhan sambil mohon agar kehendakNya lebih diutamakan daripada kehendak pribadi. Kesampingkan keinginan dan kesenangan, kemudian pikul salib setiap hari dan mendekat padaNya.
  4. Mohon Tuhan membimbing kita dalam semua keputusan dan rencana kita.
  5. Bersyukur kepada Tuhan untuk semua hal yang telah dilakukanNya, dan untuk hal yang akan dilakukanNya di masa yang akan datang.
  6. Berdoa untuk setiap situasi. Beritahu Tuhan kebutuhan kita dan ingatlah berterima kasih padaNya atas jawabanNya.
  7. Berdamai dengan Tuhan mengenai apapun yang dikehendakinya kita perbuat. Dengan kata lain, mematuhi Tuhan dan ramah kepadaNya. Jika kita telah berdamai dengan Tuhan, barulah kita mampu berdamai dengan diri sendiri, dan berdamai dengan orang lain.

 

Selamat menemukan jalan keluar! πŸ™‚

 

 

 

 

 

 

* bacalah buku Cara Mendengarkan Suara Tuhan yang ditulis oleh Charles Stanley, dan buku Tuhan Penguasa Dunia Perniagaan yang ditulis oleh Myron Rush.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Mencari Jalan Keluar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s