Komunitas

Masuk komunitas itu berisiko. Berisiko perpecahan, sakit hati, kekecewaan, dlst. Entah itu dalam komunitas terkecil seperti keluarga, komunitas marga, komunitas hobi, dlst.

Tapi di luar semua yang berisiko kurang enak tadi, kita juga sering ketawa-ketiwi bareng menertawakan hal remeh, makan-makan bareng, foto-foto bareng, nyanyi bareng, dlst.

Seperti yang pernah saya tulis dalam postingan Catatan 17 Agustus, saya pernah meninggalkan beberapa komunitas yang saya ikuti dikarenakan ada saja orang-orang yang tidak mengekang perbuatan maupun ucapannya.

Tapi, tindakan saya yang keluar meninggalkan komunitas itu pun juga adalah tindakan yang kurang bisa mengekang perbuatan dan menandakan pribadi yang belum dewasa. Jadi sebetulnya, saya dan mereka sama-sama kurang mampu mengekang diri. Tapi semua itu sudah berlalu, dan terjadi sebelum saya menyadari betapa keliru tindakan saya selama ini.

Itulah serunya masuk komunitas yang terdiri dari berbagai macam manusia, yang berasal dari latar belakang keluarga berbeda-beda. Selalu ada suka duka. Seperti kehidupan.

Saya pernah memiliki hubungan yang sulit dengan salah satu keluarga saya selama bertahun-tahun. Sejak kecil, hingga sekitar dua tahun yang lalu, tiap kali kami berbicara, kami pasti berakhir dengan adu mulut adu pendapat. Melelahkan memang.

Menjelang akhir tahun 2016, saya bertemu kembali dengan keluarga saya ini. Waktu itu ada pesta di Sumatra. Kami pergi bersama.

Selama di Sumatra, kami melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan selama bertahun-tahun: bercakap-cakap dari hati ke hati.

Karena sudah lelah berdebat selama bertahun-tahun, waktu itu saya bertekad untuk tidak menyela apa pun yang akan beliau utarakan. Karena jika saya menyela atau mengutarakan pendapat, kami pasti akan berantem lagi.

Apa gunanya saya mempertahankan pendapat jika ujung-ujungnya hanya membuat kami bertengkar? Saya hanya ingin hubungan kami membaik.

Beliau pun menceritakan kehidupan masa kecilnya hingga masa di mana kami akhirnya berjumpa. Saya mendengarkan saja.

Saya akhirnya memahami mengapa beliau bertindak seperti itu selama bertahun-tahun dalam hubungan kami sebagai keluarga.

Saya percaya, Tuhan Yesus memampukan saya dengan tekad yang kuat untuk menerima beliau apa adanya, dan memulihkan hubungan kami yang rusak.

Komunitas tidak dibangun di atas kenyamanan. Misalnya, kita akan bertemu dengan kawan-kawan hanya kalau kita lagi pengen, hanya kalau mood kita lagi bagus, hanya kalau kawan-kawan kita baik, hanya kalau keadaan mudah, dlst. Melainkan dibangun berdasarkan keyakinan bahwa kita membutuhkannya untuk kesehatan rohani (*).

Dengan tekad yang kuat, bertumbuhlah di dalam Tuhan dan berusahalah hidup rukun dengan semua orang dengan rendah hati.

 

 

 

 

 

 

(*) bacalah bab 19 tentang Mengembangkan Komunitas, dari buku The Purpose Driven Life (Untuk Apa Aku Ada di Dunia Ini) yang ditulis oleh Rick Warren.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s