Cara Menemukan Tempat Makan Enak (Kalo Kamu Lagi Traveling)

Baca review atau ulasan di mesin pencari dengan kata kunci, ‘tempat makan enak di Samosir’, ‘tempat makan enak di Jogja’, atau ‘tempat makan enak di Bandung’, misalnya, sah-sah aja sih sebenernya, tapi saya enggak pernah melakukan opsi ini.

Ngintip akun media sosial food curator atau kurator makanan pernah saya lakukan beberapa kali sampai akhirnya satu waktu saya keracunan makanan dari salah satu tempat makan yang dipromosikan oleh sang kurator di akun medsosnya. Mungkin waktu itu saya lagi apes aja makanya sampe mesti nginap satu malam di rumah sakit. Tapi setelah kejadian itu saya kapok dan enggak pernah mau dengar lagi apa pun yang dipromosikan si kurator di akun medsosnya. πŸ˜€ (ho oh, selain gak tegaan, daku anaknya kapokan juga πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ ) #lemparpisangkapok #kalogakadapisangkapokpisangkepokpunjadi πŸ˜€ πŸ˜€

Jadi yang paling efektif menurut pengalaman saya…

  • Dengerin rekomendasi orang lokal. Entah itu supir, pemandu, temen, atau sodara kamu yang tinggal di kota destinasi. Tambah afdol kalo mereka yang kamu tanyain itu emang suka nyobain makanan juga.

  • Yang tempatnya rame. Biasanya makanannya enak juga. Tapi tempat sepi belum tentu enggak enak lho. Saya dan suami pernah masuk ke satu resto yang sepi di Tangerang. Awalnya kami ragu saking sepinya. Tapi setelah melihat daftar menu yang koq keknya oke, kami pun masuk dan memesan salad jamur serta pancake coklatnya yang olalaa… enak banget! Jadi jangan terkecoh kalo sepi. You might find a gem. πŸ™‚

  • Yang berasap. Ini paling cocok kalo dipraktekin di daerah dingin macam Samosir dan sekitarnya. πŸ˜€

Jadi gini ceritanya… (para pembaca dimohon gelar tikar ama nyiapin krupuk buat ngemilΒ karena ceritanya panjang…Β πŸ˜€ πŸ˜€ )

Rasanya baru sekejap berkeliling di Bakkara, tau-tau hari udah gelap dan perut kami udah keroncongan. Terakhir kali kami ketemu makanan berat adalah sewaktu rehat siang di Pangururan sekitar jam satu. Apalagi jika berada di daerah dingin perut cepat sekali rasanya lapar. Energi habis untuk menjaga tubuh tetap hangat. Pertanyaan ‘makan di mana kita’ akhirnya muncul. Kami pun berdebat apakah hendak mencari makan di Dolok Sanggul, atau cari tempat makan lokal di Bakkara.

Tapi masalahnya adalah, itu kali pertama kami ke Bakkara dan tiada saudara maupun keluarga yang bisa dimintai pendapat ‘di mana tempat makan paling rekomended di Bakkara’. Supir kami pun bukan orang lokal. πŸ˜€ Mau nyari di gugel, duh, plis deh, masa apa-apa pake gugel? Manja amat. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Trus gimana dong?

Bapak saya, yang juga pencinta makanan itu, punya jawaban canggih:

β€œTadi sewaktu kita melewati jalanan… ada kulihat satu warung namartimus… aku yakin masakan mereka enak…” ujar beliau.

Warung namartimus adalah warung sangat sederhana yang cara masaknya menggunakan kayu sehingga berasap.

Kalo orangtua ngasih pendapat, biasanya jarang meleset. Paling-paling kalau pun keliru, itu kemungkinan karena salah ucap istilah, seperti yang terjadi di insiden es cendol. πŸ˜€ Atau barangkali cara penyampaiannya yang enggak cocok ke kita anak-anak muda, tapi biasanya pesennya bener. πŸ˜€ Apalagi orangtua sudah lebih lama mengecap asam garam di dunia persilatan ini. πŸ˜€ Jadi tentu pengalaman mereka udah lebih banyak dari kita sehingga layak didengarkan. πŸ˜€

Maka sewaktu hari benar-benar udah gelap pekat, kami pun menepi di dekat warung yang dimaksud bapak. Setelah masuk, kami memesan satu-satunya menu yang tersedia, yakni ikan nila bakar yang kalau menurut kakak yang menyatat pesanan kami malam itu, β€œIkannya kecil-kecil…..”

Bagi kami yang udah kelaparan, ukuran ikan bukan lagi masalah. Kami akan menyantap entah sebesar apa pun ukuran ikan yang akan disuguhkan. πŸ˜€ Dan benar saja, begitu ikannya muncul (yang mana kalau menurut kami ikannya bukanlah kecil-kecil, melainkan besar-besar πŸ˜€ ), air liur saya langsung terbit melihat betapa seksinya ia dengan jejak kehitaman berkat proses pemanggangan, serta sambal tombur yang dibalur di atasnya. Saya pun serta merta mengambil irisan jeruk nipis yang disediakan dan meneteskannya di seluruh ikan, dan segera menyantapnya. Maknyus! πŸ˜€

(foto ikan nila bakar tombur di atas cuma ilustrasi. berhubung malam itu pencahayaan di warung tidak mendukung kamera henpon untuk mengabadikan si ikan, maka kamera yang saya gunakan untuk menangkap gambar adalah mata saya, sehingga tak ada foto ikan bakar yang bisa diaplot di sini. πŸ˜€ )

Jadi bapak saya benar, ikannya enak. Bahkan enak banget kalo menurut saya. πŸ˜€ Sangat beda dengan makanan yang kami santap di Pangururan beberapa jam sebelumnya yang disajikan dingin. Manalah hari pun dingin, disuguhi makanan dingin pula, jadinya dingin kuadrat. πŸ˜€ πŸ˜€

Karena kami terkesan dengan warung namartimus pilihan bapak di malam sebelumnya, maka keesokannya ketika tiba di Samosir, kami pun mencari warung namartimus lainnya untuk makan siang. Eh ketemu, dan masakannya enak pula!! πŸ˜€ πŸ˜€ Tapi siang itu di Samosir saya tidak memesan ikan bakar, melainkan babi panggang yang rasanya enak banget! πŸ˜€

  • Yang beraroma harum. Seperti lumpia Malioboro di Jogja.
  • Resto penginapan. Kalo penginapan kamu ada restonya, cobalah makan di sana. Beberapa kali saya pernah makan siang atau malam di penginapan dan masakan mereka selalu menyenangkan saat disantap. Karena biasanya juru masak penginapan memang adalah orang-orang yang handal memasak. Kadang orang ragu atau langsung berasumsi jika makanan di penginapan itu mahal. Padahal belum tentu. Dan kalau mau itung-itungan, biaya transport yang dikeluarin untuk makan di luar penginapan malah bisa jadi sama dengan biaya makan di penginapan.

  • Rumah sendiri. Buat saya yang anak perantauan, pulang kampung ke rumah orangtua judulnya adalah traveling. πŸ˜€ Dan apa pun yang dimasak oleh ibu, buat saya selalu enak. πŸ˜€

Beberapa tahun lalu keluarga besar kami berlibur dan berkumpul merayakan akhir tahun bersama orangtua kami. Satu waktu, adik saya yang paling jangkung menyadari bahwa sejak pagi sampe malem, ibu selalu ia jumpai sedang sibuk β€˜berkarya’ di dapur.

So my brother asked why she always looked so busy in the kitchen from early in the morning sampe malem.

Ibu bilang, β€œKalo mama enggak masak, kita mau makan apa, nak? Kita mesti makan tiga kali dalam sehari. Pagi siang malam.”

At that time, i don’t really know how my mum manage it (perhaps becoz at that time i don’t really love cooking so i didn’t pay much attention on how she did it), but ibu saya cepat sekali memasak. Macam sim salabim. Dalam waktu kira-kira satu jam, tau-tau udah kelar aja tuh masak lauk, sayur, ama nasi. Kami anak-anaknya ya palingan cuma bantu ngerecokin dan bantu ngabisin makanan. 😁😁😁😁

Kalo kamu pernah lihat Jamie Oliver’s 15 Minute Meals, yakni acara memasak dari yang tadinya nihil or mentah, trus sim salabim lima belas menit kemudian udah kelar aja tuh makanan buat disantap oleh dia dan kru-krunya dia, nah kira-kira kek gitulah ibu saya masak. 😁😁 (tapi beliau gak pake acara ngobrol-ngobrol or jelasin ini ina inu ke kamera macam si Jamie ya) 😁😁

Pokoknya ibu kalo masak udah kayak enggak pake mikir lagi gitu. Tangannya udah otomatis ngeracik ini, bikin itu, tambahkan anu, potong cabe, masukin kecap, bla bla bla, dan voila, hasilnya seringkali enak serius. 😁😁😁

 

 

 

 

 

Advertisements

13 thoughts on “Cara Menemukan Tempat Makan Enak (Kalo Kamu Lagi Traveling)”

    1. Oiyakah mbaak? Kenapa ya? Mungkin karna menunya dikit, mereka masaknya jadi fokus gimana supaya makanannya unforgettable ya 😁

      Like

  1. Kadang enak menurut versi org blm tentu jg mnrt kita,dulu pernah diajakin atasan paa ke bandung lunch makan nasi pecel yg katanya hits bgt, pas nyoba?saya dan temen saling pandang, enak apaan..kuahnya aja rasanya kemanisan,tp bos saya lahap makannya.alhasil kita ga bs ngabisin makannya. Btw kl mamak2 emang selalu pny insting masak pake hati ga liat resep lagi,krn itu rutinitas harian..yg semakin lama semakin ngelatih kehandalan ngolah makanan…

    Like

  2. Untuk masalah enak atau ga enak sih sebenernya selera, tapii kalau di rekomendasiin gini kayaknya kebawa sugesti jadi nikmatnya meningkat 20.7% ehehehe. Ibunya pinter masak yah, kalo Messa sendiri jago ga nih? Biasanya keahlian ortu itu turun ke anaknya loh πŸ˜€

    Like

    1. Iya bener, emang balik lagi soal selera. Bahkan kadang kalo temen kita yg sering satu selera dgn kita pun bisa meleset juga pas kita coba di lidah sendiri 😁 Atau mungkin bisa jadi waktu temen kita nyobain, tukang masaknya lagi masak dgn benar. Nah giliran kita yg nyobain, tukang masaknya sedang flu atau enggak fit. πŸ˜„πŸ˜„ jadi rasanya nano2 πŸ˜„

      Kalo saya mah jago abisin makanan aja πŸ˜„πŸ˜„

      Like

  3. Aku juga mikirnya kalau tempatnya rame pasti enak, antrian panjangpun dijabanin πŸ˜€ . Foto ikan bakarnya bikin pengen deh, ditempatku sini daging yg murah, ikan muahalnya bukan main, pdhl dulu di tanah air setiap hari makan ada menu ikannya mulud πŸ˜‰ .

    Like

    1. tapi kalo terlalu rame ujung-ujungnya suka males nunggu kak πŸ˜€

      waaah… enak dong kak daging murah πŸ˜€ apalagi kalo daging merah yaa πŸ˜€

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s