When in Medan, Eat Like Medanese

“Hari ini jalan kemana kita?” pagi itu bapak bertanya kepada saya yang baru saja bangun dari tidur.

“Kemana ya?” saya balik bertanya. Saya enggak ada ide. Atau tepatnya belum ada ide. Karena, jujur, sebangun tidur langsung ditodong pertanyaan mahapenting kek gitu saya belum mampu jawab karena kesadaran saya belum terkumpul sepenuhnya. ๐Ÿ˜€

Sehabis sarapan dan mandi, barulah saya mampu berpikir agak serius hendak kemana kami jalan hari itu. ๐Ÿ˜€

Beberapa hari sebelumnya, sewaktu mandi di kamar mandi (ya iyalah di kamar mandi, masa di ruang tamu? ๐Ÿ˜€ ), momen sewaktu salah satu tante saya membawa kami makan-makan di salah satu resto di dekat pasar yang kalau tidak salah berada di dekat Thamrin Plaza, tiba-tiba berkelebat di benak saya. Nama kwetiau belacan dan mie kangkung belacan pun ikut berkelebat juga. Tapi saya tidak ingat nama pasarnya.

“Gimana kalau kita minum es cendol di Pasar Rame?” bapak memberi masukan. Beliau juga salah satu petualang kuliner. Maka kalau bapak ada rekomendasi, biasanya rasanya pun bisa dipercaya. ๐Ÿ˜€

“Pasar Rame? Yang di sebelah mana itu, pa?” sambar saya. Harap maklum, mantan anak Medan udah banyak lupa di mana letak ini-itu di kota metropolitan nan ramai ini. ๐Ÿ˜€

“Dekat Thamrin Plaza,” jawab bapak.

Jeng jeng! Koq bisa jadi agak-agak sinkron gini ya dengan memoriku kemaren dulu?ย Saya membatin.

Saya pun menceritakan momen traktiran tersebut kepada orangtua saya dan akhirnya kami bersepakat jalan-jalan ke pasar yang ternyata bernama Pasar Rame itu. Sebenarnya secara resmi tertulis Pasar Ramai. Tapi di mulut anak Medan, ‘ai’ berubah menjadi ‘e’. ๐Ÿ˜€ Jangan tanya kenapa. ๐Ÿ˜„

Menurut ibu saya, resto yang saya maksud udah tutup dan udah diganti sama toko kain. “Tapi di dalam Pasar Rame masih ada yang jualan kwetiau belacan koq,” ujar ibu memberi harapan.

Sesampai di pasar, kami mengambil tempat duduk di tempat penjual kwetiau belacan dan memesan kwetiau serta cendol yang dimaksud bapak tadi. Penjual cendolnya tidak berada di tempat yang sama dengan si penjual kwetiau, tapi bisa dipesan dan diantar ke tempat di mana kami duduk.

Penampakan awalnya memang menjanjikan. Tapi kenapa kwetiaunya agak berkuah? Seingat saya kwetiau belacan tak berkuah. Dan setelah dikunyah, makin lama rasanya makin eneg. ๐Ÿ˜ Saya pun bertanya-tanya. Apa mungkin saya yang lupa antara mie kangkung belacan atau kwetiau belacan? Soale emang udah lama banget sih rentang waktu antara traktiran tante dan sekarang. ๐Ÿ˜€ Besar kemungkinan saya lupa namanya. ๐Ÿ˜€ Tapi saya ingat rasanya enak banget. Itu sebabnya saya ingat. ๐Ÿ˜€ Umumnya cuma dua jenis momen yang paling diingat manusia. Yakni yang paling enak, dan yang paling enggak enak. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Cendolnya pun tidak seperti yang diharapkan bapak. Masa satu mangkok isinya cuma cendol hijau? ๐Ÿค”๐Ÿค”

Selidik punya selidik, ternyata es cendol yang bapak maksud adalah adalah es campur berisikan cendol, cincau hitam, tape ubi/singkong, dll. Jadi bapak salah ucap. Mestinya nyebutnya es campur, bukan es cendol. ๐Ÿ˜€

Rasanya pun manis banget. Manis banget tapi abis! Gimana sih?? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Abisnya Medan panas tenan bok. Jadinya kuembat sampe ludes. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

*

Selagi menunggu orangtua saya kelar dengan makanannya, saya ‘cuci mata’ ke toko sebelah melihat berbagai macam kue dan camilan terbungkus rapi serta disusun menarik mata.

yakinlah, kue-kue ini semuanya enak! ๐Ÿ˜€

 

Dan Pasar Rame ternyata adalah bandar manisan tertua di kota Medan! ๐Ÿ˜Š

Dari Pasar Rame kami berjalan kaki ke Thamrin Plaza yang letaknya bersebelahan dan membeli beberapa potong kue pukis yang konternya berada di lantai paling dasar. Seingat saya, toko pukis ini dulunya juga langganan kami kalo ke sana, dan ternyata masih ada. Rasanya pun masih tetep enaak!! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Pulangnya, kami berjalan ke arah resto yang saya ingat sebagai resto tempat tante mentraktir kami dulu. Berhubung masih agak kecewa dengan kwetiau belacan di Pasar Rame tadi, saya berharap-harap, kali aja kalo saya lewat di depan situ tokonya tiba-tiba berubah menjadi resto kwetiau belacan fenomenal tersebut. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Eh, ternyata enggak. Beneran udah ganti. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Di hari lainnya kami mampir di Ramadhan Fair yang berlokasi di areal Mesjid Raya Medan. Niatnya mau berburu hidangan buka puasa seperti kolak, kacang hijau, dkk; tapi yang ada malah ketemu sama kerak telor Betawi. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Beberapa tahun lalu, pacar saya pernah memesan kerak telor buat kami berdua dan saya kurang suka karena rasanya aneh. Mungkin karena waktu itu masih dalam masa pedekate, seenak apa pun makanan rasanya jadi aneh dan enggak jelas. #yakali ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Sejak itu saya kapok sama kerak telor. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ (tapi sama pacar waktu itu saya bilang rasanya enak. biar hatinya seneng ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„)

Adalah ibu saya yang pertama kali memesan kerak telor ini di Ramadhan Fair. Sewaktu si kerak telor akhirnya terhidang di meja, saya menyicipnya sedikit dan ternyata….. rasanya enaaak!! ๐Ÿ˜„ Serundeng kelapanya terasa banget! ๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹ Saya pun memesan satu lagi buat diembat sendiri. ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Sehari sebelum saya pulang, ibu mengajak sarapan mie pangsit di pasar yang juga ada embel-embel ‘ramai’, yakni Pasar Sukaramai. Pasarnya agak semrawut tapi mie pangsitnya enak. ๐Ÿ˜ Persis di dekat toko penjual mie pangsit ini ada penjual kue-kue tradisional yang belakangan udah semakin jarang saya temukan.

Sebetulnya masih ada lontong, nasi uduk, lupis, cenil, serta berbagai gorengan yang bisa diperoleh hanya dalam radius beberapa meter saja dengan berjalan kaki pagi-pagi dari rumah orangtua saya jika hendak berburu sarapan. Dan jika dipesan kesemuanya, katakanlah masing-masing satu porsi, cukup dengan membayar sekitar dua puluh dua ribu ‘saja’. Astaga!! ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Sungguh saya pengen pindah ke Medan aja kalo inget betapa mudahnya dapet makanan dengan harga terjangkau kayak begini dan enak pula, dan dekat orangtua juga! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Tapi berhubung kecepatan jari-jari tangan saya menjepret tidak berbanding lurus dengan kecepatan mulut saya ngunyah makanan, maka monmaap foto lontong beserta kawan-kawannya enggak ada. ๐Ÿ˜

 

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “When in Medan, Eat Like Medanese”

  1. saya paling doyan sama kerak telor, enak gurih-gurih gitu, btw itu ada manisan ko bentuknya kaya jengkol, itu manisan buah apa ya> apa jangan-jangan beneran jengkol.heee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s