Lo Yakin Udah Siap Nikah?

Kalo ditanya tujuan nikah buat apa, seringkali jawabannya adalah untuk meraih kebahagiaan. Padahal kalo diliat-liat nih ya (maksudnya setelah terjun langsung ke tekape a.k.a setelah dijalani πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…) justru setelah menikah semakin banyak masalah mengantre untuk dihadapi. 😁

Tapi, kalo semakin banyak masalah makin membuat lo seneng-seneng bahagia, ya monggo aja. It’s your call dude. πŸ˜„

Seperti yang pernah saya singgung sedikit di postingan memang jodoh, pernikahan sesungguhnya dimulai setelah pestanya usai, sedangkan menikah itu cuma sebentar. Upacara, tukar cincin (kalo butuh), tanda tangan hitam di atas putih, resepsi (kalo butuh), kelar.

Ketika saya hendak menikah sekitar satu dekade yang lalu, kebaya yang akan saya kenakan pada saat upacara baru dijahit sekitar tiga minggu sebelum hari H. Soalnya saya bukan tipe orang yang ambil pusing tentang baju kayak apa yang mesti dipakai, daftar lagu apa yang akan diputar di resepsi, jenis bunga apa yang mesti ada, cincinnya mesti gimana, foto-foto pre-wedding, dlst.

Kalaulah saat itu boleh menikah mengenakan blus dan celana jeans, saya akan memilih opsi tersebut. 😁😁😁

Buat saya, cincin, bunga, foto, dan kawan-kawannya, hanyalah ornamen. Hiasan. Ada, sukur; gak ada, ya gak dicari. Tapi kan enggak semua orang kayak saya toh? Kalo semua orang kek saya, nanti jasa wedding photographer, tukang bunga, tukang jahit enggak laku. 😁 Waktu itu pacar saya nawarin bikin foto pranikah. Tapi saya bilang enggak perlu. Karena setelah menikah kami pasti akan punya sangat banyak foto berdua. Dan nyatanya memang begitu. 😁

 

Yang terutama adalah mempertahankan pernikahan dalam susah maupun senang, hingga maut memisahkan.Β Dan mempertahankan pernikahan itu setidaknya butuh untuk….

  • siap mengalah
    Pacar kamu susah bangun pagi. Hanya satu itu kekurangannya. Masa iya dilepas sementara di poin lain menang banyak: rajin menabung, baik hati, ramah, suka menolong, suaranya bagus pas nyanyik di kamar mandi 😁😁, dlst? Udahlah terima aja. πŸ˜‰
  • siap berantem
    Realistis ajalah. Selama pacaran udah sering berantem kan? Apalagi kalo udah nikah. 😁😁 (yang udah nikah mah udah pada kenyang berantem kali ya? 😁😁😁😁 ) Beda kepala pasti beda pendapat. Bahkan bisa jadi beda pendapat dalam segala aspek. 😁😁
  • siap berdamai
    Ga usah kelamaan berantemnya. Kalo pasangan kamu udah mau nawarin makanan kesukaan or cipika cipiki lagi, nah itu artinya marahnya udah reda. 😁😁
  • siap kompromi
    Pernikahan bukan ajang menang-kalah ya, melainkan kerjasama.
    Hari ini date night makan makanan favorit lo, next date night ya makanan favorit pasangan elu lah. Dua-duanya seneng.

Selain itu, sebelum menikah coba dicek dulu:

  • apa kalian berbicara dalam bahasa kasih yang sama atau tidak?

Ini paling penting menurut saya. Bahasa kasih tiap orang beda-beda.Β Ada orang yang bahasa kasihnya adalah suka mendengarkan gombalan dari pasangannya. πŸ˜€ Ada yang suka dikasih hadiah, ada yang suka duduk-duduk berdua aja bareng pasangannya ngobrol ngalor ngidul, ada yang suka pegangan tangan, dlst.

It’s important to recognize your pacar’s bahasa kasih supaya komunikasi ke depannya lancar dan kalian masing-masing akan merasa dihargai. Kalo lo enggak tau jenis bahasa kasih pacar lo, tanya dengan sopan. πŸ˜„ Pasti lo dikasitau. Dan kalo lo ditanya, jawab dengan sopan juga. Kalo lo belum tau apa bahasa kasih lo, coba cek 5 bahasa kasih dalam percintaan.

Jika kebutuhannya untuk dikasihi tidak terpenuhi, kemungkinan pacar lo akan menarik diri dan menjauh, dan bukan tak mungkin dia mundur atau keluar dari hubungan.

Selain bahasa kasih, perempuan dan laki-laki pun bicara dalam bahasa berbeda. Kadang kalo cowok denger ceweknya ngomong gini:

β€œwiiih, tasnya bagus banget…”

Di kepala si cowok, ceweknya pasti mau beli. Maka si cowok bilang:

“ya udah beli aja.”

Padahal si cewek emang murni cuma muji doang, bukannya pengen dibawa pulang beneran itu tas.

Sementara itu, dalam satu percakapan lain:

cowok: kemarin plastik bungkus pohon rambutan udah dilepas sebelum ditanam?
cewek: belum. karena yang tanaman lain ditanam bersama bungkus plastiknya, jadi ya kupikir sama aja perlakuannya.
cowok: kalau tanaman buah plastiknya mesti dibuka. kalo enggak, ya apa gunanya ditanam di tanah. nanti akarnya enggak berkembang.

Mungkin untuk si cowok pernyataan itu biasa aja atau netral. Tapi, untuk sebagian cewek, itu artinya dirinya tidak becus.

Akhirnya si cewek pun menjawab:

kapan-kapan, kalau ada acara tanam-menanam, sebelum ditanam, kamu kasitau saya. karena kamu yang paling tau caranya.”

Komunikasi memang sangat challenging ya. Ada seninya. πŸ˜€ Well, hampir segala macam aspek memang ada seninya sih. πŸ˜€

  • soal breadwinner, pencari nafkah

Lingkungan kita umumnya masih lebih menghargai orang bekerja yang menghasilkan duit lebih banyak. Kalo pasangan lo merasa hidupnya lebih berharga dengan bisa bekerja menghasilkan uang, silakan saja. Ini akan kembali ke poin siap kompromi tadi. Bicarakan semua secara terbuka, dengan sopan tentunya. πŸ˜„

Terakhir, yang juga tak kalah penting:

  • bagaimana kondisi kesehatan mental/jiwanya?

Barangkali karena secara kasat mata memang tidak kelihatan dari luar, masalah kejiwaan ini mungkin jarang diperhatikan pasangan-pasangan yang mau nikah ya?

Seperti yang pernah saya sebut dalam postingan permainan telepon, semua orang kelihatannya memang baik dari luar. Tapi di dalam hati, jiwa dan pikirannya, hanya orang tersebutlah yang paling tau. Ganteng-ganteng atau cantik-cantik tapi psikopat kan berabe ya?

Pacar lo dan lo sendiri pastinya berasal dari latar belakang keluarga berbeda. Anak-anak yang sedari kecil tidak leluasa bercerita secara terbuka kepada orangtuanya rentan mengalami gangguan kejiwaan. Karena perasaan-perasaan yang seharusnya diluapkan, justru ditekan karena tidak adanya tempat penyaluran.

Seseorang cenderung membuka diri jika mereka yakin bahwa pikiran dan perasaan mereka tidak akan dicela atau dikecam.

Jadi masa pacaran sebelum menikah itu emang penting banget ya. Kalo emang lo dan pacar lo ada waktu buat pacaran, mending dilamain untuk saling mengenal, supaya fondasi hubungan kalian kokoh. Trus, selama pacaran ya blak-blakan ajalah. Pahit manis dikeluarin, supaya terbuka dari awal. Karena hidup pun emang bukan cuma yang manis-manis aja kan? Kadang kita jalani yang pahit, agar mampu menghargai yang manis.

**

Memutuskan menikah sebaiknya bukan karena kata orang harus nikah, karena ikut-ikutan orang lain, karena didesak keluarga, atau karena takut kesepian, dlst. Di luar sana ada begitu banyak pasangan merasa kesepian justru setelah menikah. Jadi menikah bukanlah jaminan agar tak kesepian.

Menikah karena pengen punya anak? Lo bisa punya anak tanpa menikah. Salah satunya dengan mengadopsi anak-anak tak beribu-bapa.

Menikahlah karena lo ingin menikah, dan karena lo ingin menghabiskan sisa hidupmu bersama pasanganmu.

Kalo lo cuma ingin ada seseorang masak untukmu, nyuci kainmu, bersihin rumahmu, dlst; barangkali bukan istri atau suami yang kalian butuh, melainkan asisten rumah tangga, koki, atau tukang bersih-bersih rumah.

And remember, pasanganmu itu bukan superman atau wonder woman yang punya kekuatan super untuk menyelesaikan semua masalahmu. Bahkan superman aja punya kelemahan sama batu kripton. Jika ada masalah yang tak dapat diselesaikan berdua, cari bantuan profesional atau orang lain yang mumpuni dan bisa dipercaya.

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Lo Yakin Udah Siap Nikah?”

  1. Aku kok merasa bahwa society gives us better preparation for ujian nasional atau UMPTN (or probably it was Sipenmaru on your time? Qiqiqi); rather than doing a better job at preparing the youth on how to be ready to be married. (ngemeng epe aku ini jam 2 pagi…. lol sorry)

    Liked by 1 person

    1. Hahahhh… dulu pun waktu aku mau nikah dan kutanya ibuku resep pernikahan langgeng, beliau jawab, β€œnanti kau belajar di dalam.” 😁😁 emang learning by doing sih ya 😁😁 dan mungkin perlu ada workshop atau sering2 bikin seminar persiapan pernikahan kali ya untuk adik2 kita 😁😁 supaya setidaknya mereka punya gambaran bahwa marriage is not all about unicorns and rainbows, and the juggle is real πŸ˜„

      Di jamanku udah umptn koq mbak 😁😁😁

      Liked by 1 person

  2. Wow, this posting is so real. πŸ™‚
    Setuju setuju setuju sama semua yang kamu tulis. πŸ™‚ i just want to add 1 more: to grow up together. Karena manusia itu bisa berubah, and it’s fine to change, because change is the only constant, but for couples, they have to change together, grow up together. Kalau mereka grow apart, vision mereka berubah, then it’s gonna end badly. 😦

    Liked by 1 person

  3. hai messa, intinya sih menikah lah kalau emang udah siap secara mental terutama, jangan krn ikut2an ,apalagi skrg byk wacana nikah muda dr pada pacaran? ok2 aja sih tapi yakin ga diusia segitu udah matang ngelola emosinya, gemas jg pernah baca email seseorang pgn buru2 dihalalin pacarnya karena liat temen2nya udah nikah dan ditanyain keluarga mulu, wah kalo alasannya gini sih..bisa2 selepas nikah..dadah bay-bay, ngurus proses pernikahan sih bisa lah semua orang, ngejalanin selepas menikah ini,tantangannya ga dikit..setuju lah sm tulisan kamu

    Liked by 1 person

    1. kematangan mengelola emosi memang enggak bisa diukur dari usia ya mbak. Karena balik lagi kepada seseorang tadi berasal dari latar belakang keluarga yang seperti apa. Kalo anak dibesarkan dalam lingkungan yg berorangtuakan emosi matang dalam mengelola keluarganya, maka ada kemungkinan si anak pun akan tumbuh menjadi seseorang yg emosinya juga matang meski usia masih belia. 😊

      Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s