et cetera

Pulang

1 januari 2018, pagi pertama di tahun baru, saya dan suami ngobrol di satu kedai di lantai paling bawah penginapan tempat kami berkumpul dengan keluarga besar untuk merayakan pergantian tahun.

Beberapa jam sebelumnya, tepat setelah beberapa menit menyaksikan kembang api pertanda jam 00.00 dari jendela lebar di tempat kami berkumpul, saya langsung menelepon orangtua, bermaksud mengucapkan selamat tahun baru.

Pada percobaan pertama, telepon saya masuk namun tidak diangkat. Kali kedua, juga tidak diangkat. Saya coba sekali lagi, tetap tidak diangkat. Saya menyerah. Mungkin orangtua saya juga sedang merayakan pergantian tahun bersama keluarga besar kami yang lain di seberang lautan sana.

Di kedai pagi itu, kembali saya menelepon orangtua. Pada dering ketiga, telepon diangkat. My mum. Lega mendengar suaranya. Lantas saya ucapkan selamat tahun baru dan bertanya kabar.

“Ompung sudah semakin lemah… Don’t you wanna come and see her?” tanya beliau.

At first, i was hesitated. Di satu sisi pengen lihat ompung, di sisi lain mesti realistis tentang beberapa hal.

Beberapa bulan lalu sewaktu mudik, saya juga mengunjungi ompung. Waktu itu (meski sudah sangat tua dan kerap mengulang pertanyaan yang sama), ompung masih bisa diajak ngobrol, makan biskuit bareng, dan foto-foto bareng. Wefie, kalo kata anak jaman now.

Semangat hidupnya tiada duanya. Tiap kali saya datang berkunjung, ompung selalu menyanyikan lagu rohani favoritnya. 😀

Namun, tak seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana ompung langsung mengenali saya tiap kali muncul di pintu rumahnya, mudik kemarin ompung tak lagi mengenali saya.

“Kau siapa?” tanya ompung. Saya bilang bahwa saya adalah anak si Anu, yang tak lain tak bukan adalah anaknya sendiri. 😀

Ompung tertawa ketika akhirnya menyadari bahwa orangtua saya adalah anaknya. 😀 😀 Beliau juga bertanya saya tinggal di mana, dan bagaimana saya bisa tiba di rumahnya.

“Perjalanan panjang ya…? Tahu-tahu tiba di rumah ompung…” ujar ompung sehabis saya beritahu bahwa saya datang dari Balikpapan di Kalimantan Timur.

Ompung adalah sebutan untuk orangtua dari orangtuanya kita dalam bahasa Batak.

It was my husband who convinced me to visit ompung. “Mumpung ompung masih hidup…” katanya. Seratus persen saya setuju. Karena kalau ompung sudah pergi, maka datang tak ada gunanya.

So in january the 3rd, saya pulang ke kampung halaman dengan pesawat paling pagi. Malam kedua saya di sana, ompung pergi.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

 

 

January the 7th, jam tiga pagi saya terbangun dan mendengar suara babi menguik di luar rumah. Kru katering bersiap menyembelih untuk keperluan acara adat ompung.

Beberapa orang tidur berjejer di dekat peti jenazah ompung. Penempatan peti itu sendiri menurut saya agak mengganggu lalu lintas orang keluar masuk. Pengen protes soal letak, tapi saya orang pendatang. Sehingga tak etis rasanya memprotes adat setempat yang berlaku.

Belakangan, pertanyaan “Kenapa petinya mesti menghadap pegunungan?” akhirnya terjawab. Menurut adat setempat, arah kepala jenazah mestilah menghadap gunung Pusuk Buhit yang konon dipercaya orang Batak sebagai tempat asal muasal leluhurnya.

Dalam hal-hal kek ginilah kekristenan dan hukum adat sering berbenturan, dan karena hal-hal kek ginilah saya sempat alergi adat Batak.

Jika telah menjadi kristen, yang notabene memercayai Kristus sebagai Juru Selamat manusia, kenapa arah kepala jenazah mesti dipermasalahkan mau menghadap utara, timur, selatan, atau barat? Rasanya seperti mundur ke zaman batu.

Kekristenan menurut saya lebih dari sekadar mempersoalkan makanan mana yang boleh dan tidak boleh dimakan; apakah boleh memakai ulos atau tidak; atau mau diletakkan di sebelah mana peti jenazah; dlst.

Intinya, kekristenan lebih dari sekadar mempersoalkan hal-hal lahiriah dan hadir untuk menyederhanakan yang ribet.

When i was very young, perhaps around SMP, saya pernah menghadiri acara adat orang meninggal dan menemukan beberapa hal yang saat itu enggak masuk akal buat saya. Salah satunya adalah: mereka berpesta, manortor (menari), memberi ulos, dll, di luar rumah, dan peti jenazah teronggok di dalam rumah. Pertanyaan saya waktu itu: sebenernya orang-orang ini merayakan apa sih? Toh orangnya udah meninggal, sama sekali udah enggak tahu apa-apa lagi.

Fyi, seringkali lamanya waktu yang dihabiskan dan meriahnya acara adat orang meninggal itu hampir sama seperti pesta adat pernikahan. Semakin besar keluarga, maka semakin lama acaranya selesai.

Karena kepikiran, satu waktu saya bertanya ke orangtua saya untuk apa semua pesta itu dilakukan hingga berjam-jam? Bukankah orangnya udah meninggal dan tak tahu apa pun lagi? Orang lagi berduka kenapa malah pesta meriah?

Jawab mereka: adat itu bukan untuk si almarhum, melainkan untuk orang-orang yang datang melayat, yang mengasihi si almarhum, untuk kerabat, dst.

Okelah, jawabannya masuk akal. But still, ada hal lain yang masih mengganjal macam serat daging yang tertinggal di sela gigi.

Jika Cina punya China Dream, dan Amerika Serikat punya American Dream, maka orang Batak juga punya Batak Dream. Yaitu: hamoraon, hasangapon, dohot hagabeon. Kaya, terpandang, terhormat, sempurna.

Maka demi mewujudkan Batak Dream, demi gengsi dan nama baik, tak jarang orang Batak rela ‘tutup mata’ mengeluarkan kocek besar untuk melangsungkan pesta meriah. Padahal kalau buat saya pribadi mah, daripada sampe mesti berutang sana-sini demi memuaskan ego dan membuat orang lain terkesan, mari menjadi realistis.

Saya ingat koq pernah menyebut bahwa kalau bukan saya yang melestarikan budaya Batak lantas siapa lagi? Tapi seiring waktu berjalan, beberapa hal juga ikut berubah.

Mungkin dahulu nenek moyang Batak bikin acara adat segitu ribet dan lama karena masih relevan dengan keadaan pada zaman ratusan tahun silam. Lah kalo sekarang? Pesta hingga berjam-jam dengan segala keribetannya rasanya tak relevan lagi di era sekarang ini.

Adat istiadat adalah buatan manusia. Tentunya bisa ditambahi atau dikurangi, dan disesuaikan dengan zaman. Mungkin caranya yang perlu diubah, sedangkan esensinya tetap sama. Yakni, menghormati para tamu yang datang.

Jadi menurut saya, instead of dancing and giving ulos for about five hours, setelah kebaktian, makan bersama handai tolan yang datang untuk menghormati keluarga yang berduka, lalu disambung sepatah dua patah kata-kata penghiburan, doa bersama, dan akhirnya ditutup dengan penguburan. Apabila ada kerabat yang ingin memberi ulos sebagai tanda holong (kasih), cukup satu atau dua sebagai perwakilan.

Dan yang terpenting menurut saya adalah keyakinan serta niat awal menyelenggarakan pesta. Jika niat dan keyakinan sejak awal adalah untuk kebaikan, maka mau pakai adat Batak atau tidak, acara akan berlangsung lancar dan semua akan baik-baik saja.

 

 

Advertisements

7 thoughts on “Pulang

  1. Turut berduka Messa…opungku pun berpukang tgl 4 januari kemaren…aku pahompu panggoaran..maka di acara adat saur matua itu aku bolak balim nerima ulos…walau lelah tapi yaa dinikmatin aja…dikubur pun di samosir..Limbong sianjur mula2

    Like

    • waah… berarti deketan kita kemarin di samosir… mengenai adat itu, kalo secara pribadi aku memang enggak setuju pake2 acara adat. tapi kan ompung bukan hanya milikku seorang ya… ada keluarga besar juga di sana… maka untuk kebaikan bersama, kuikutin aja acaranya. itung2 nambah pengalaman 😀

      turut berduka juga ya eda Jo.

      Like

  2. Turut berduka ya mba Messa.
    Kalo masalah adat, sebagai orang keturunan cina totok aku merasakan banget, mau nikahan atau kematian, semuanya ribet dan banyak aturannya. Sebagai generasi muda, memang segan ikut adat tapi daripada dipelototin orang tua ya akhirnya ikut juga (tentu dengan janji dalam hati, nanti mudah2an kalo pas giliran aku mau pesenin ga usah ribet2)

    Like

    • bener mbak Maya. untuk generasi milenial kek kita udah enggak cocok dan enggak masuk akal lagi rasanya acara adat berjam-jam yang semuanya hanyalah simbolisasi. jadi mending caranya disederhanakan, sedangkan tujuannya tetap sama.

      makasih buat ucapannya mbak Maya.

      Like

  3. Terbayang riweuhnya Da.. Kalo di Minahasa ga ada adat yang terlalu gimana. Cuma yang paling ga suka itu bagian minum2nya.. Habis ibadah duduk minta dikeluarin alkohol dan rokok. Dan itu bisa berkrat2 dan berslop2. Dan bener, biayanya bisa sama kayak pesta nikah.. Fiuhh..

    Turut berempati ya Eda atas berpulangnya Ompung. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. terpujilah nama Tuhan.

    Like

    • bener banget eda, biayanya itu bisa sama atau bahkan lebih mahal dari biaya nikahan. apalagi kalau orang yang meninggal udah tua banget.

      btw, makasih banyak empatinya ya eda. God bless you!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s