Lumpia Malioboro

Karena satu dan lain hal, rencana semula mampir ke Mirota, yang ternyata udah sekitar dua tahun berganti nama menjadi Hamzah Batik, terpaksa berganti.

Hari mendung, agak gerimis. Saya berjalan kaki menyusuri jalanan Malioboro yang terkenal itu. Melewati pasar Beringharjo, kuda, becak, penjual batik dan oleh-oleh tumpah ruah.

Di dekat hotel Mutiara langkah terhenti gara-gara harumnya aroma yang cukup tajam (yang saya yakini adalah aroma gorengan), menggoda penciuman.

Ternyata benar.

Tak jauh dari tempat saya berhenti terdapat gerobak kaki lima menjajakan lumpia dengan dua pilihan, yakni ayam atau spesial. Yang ayam berisi sayur dan ayam, sedangkan yang spesial berisi sayur, ayam, plus telur puyuh.

“Harum amat lumpia gorengnya….” saya menyapa mas-mas yang sedang sibuk menggoreng lumpia di dalam kuali lebar.

“Iya… minyaknya baru terus makanya harum… Ini ada lima jirigen minyak baru….” jelasnya sukarela sambil menatap ke arah minyak-minyak dalam jirigen di dekat kakinya.

Berhubung cuma nambah lima ratus perak buat dapetin yang spesial, pilihan saya pun jatuh kepada yang spesial. Saya pesen satu. Pengen nyoba dulu. Kalo misalnya gak cocok di lidah biar gak mubazir. Ntar kalo cocok bisa nambah lagi.

“Makan sini atau bungkus?” tanya si abang sembari tangannya sibuk mengaduk penggorengan.

“Makan sini….”

“Duduk dulu ya….”

Saya melihat sekeliling dan memilih duduk di dekat si abang agar leluasa menyaksikan dia beraksi, sekaligus agar lebih dekat dengan aroma gorengan yang harum banget itu.

Enggak nunggu lama, ia menyerahkan piring kecil berisi lumpia, acar timun (kalo gak salah), rawit tiga biji, dan di atas lumpia ada semacam sambal putih yang juga harum, yang ternyata adalah campuran dari bawang putih dan bengkoang mentah.

Garamnya gak banyak, sayurannya seger, bumbunya mantep, kriuknya pas. Sedap! Cocok banget dikunyah pas dingin-dingin gerimis.

Dua perempuan berjalan melewati gerobak sambil memerhatikan kami para pengunjung yang duduk menikmati lumpia hangat.

Setelah ngobrol sejenak, mereka akhirnya memutuskan membeli beberapa biji lumpia ayam untuk dibungkus.

Rasa emang berbicara. Makin lama, antrean yang beli makin rame. Enak, seger, dan terjangkau, pasti dicari orang.

Advertisements

5 thoughts on “Lumpia Malioboro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s