Bedanya Kelas Ekonomi dan Eksekutif

Cekikikan dan harumnya aroma makanan sukses membangunkanku yang lelap tertidur sejak dari stasiun Bekasi.

Mataku mencari asal suara cekikian tanpa henti itu.

Ah, ternyata sekelompok ibu-ibu manis berpakaian hitam dengan selendang merah jambu. Kami sama-sama naik dari Gambir tadi. Dugaanku mereka ikut demo Palestina atau arisan ke Tanah Abang.

Mereka nonstop berbicara dalam bahasa Sunda yang satu pun tak kumengerti artinya. 😁 Entah apa yang dibahas yang membuat mereka cekikikan melulu. Mungkin kalo aku ngerti apa yang diobrolin, aku pun bakalan ketawa haha hihi. 😁 Dan asal aroma makanan harum itu adalah mie instan seduh yang juga dinikmati ibu-ibu manis tersebut. Sungguh menggoda!

Petang menjelang, awan hitam menggelantung di bebukitan. Sebagian lampu-lampu rumah penduduk telah menyala. Tampak hangat dan mungkin keadaannya beda dengan keadaan di kereta yang semakin dingin.

Untuk menghangatkan tubuh, aku tergoda memesan mie instan seperti yang disantap ibu-ibu manis tadi. Tapi takutnya malah kekenyangan dan melewatkan makan malam di Bandung. Akhirnya crackers yang kubeli di Gambir saja kugigiti.

Penasaran dengan bedanya kereta kelas ekonomi dan eksekutif, sebelum berangkat tadi aku bertanya kepada dua penumpang belia yang duduk semeja denganku di salah satu resto fastfood. Tebakanku mereka kakak beradik.

Sebetulnya udah kutanya juga ke mas-mas kasir minimarket tempatku membeli crackers tadi, tapi pria itu tak tahu bagaimana kondisi kereta ekonomi. Kucoba mengorek siapa tau dia pernah dengar kawan-kawannya bercerita. Jawabnya tetap nihil. Dia bilang dia tinggal di Jakarta dan tak pernah naik kereta.

“Pada mau kemana nih?” Aku menyapa kedua pemuda belia tersebut. Mereka menoleh dan menjawab, β€œKe Bandung….”

β€œEkonomi atau eksekutif?”

β€œEksekutif…”

β€œBedanya eksekutif dan ekonomi apa ya?”

β€œCuma beda di tempat kakinya aja koq… kalo eksekutif lebih luas… selebihnya sama-sama nyaman…” jelas pemuda yang lebih tua yang kuduga adalah si kakak.

Setelah kereta melaju akhirnya aku tau bahwa kursi di kelas ekonomi tak bisa dinaikturunin. Sedangkan di kelas eksekutif, bisa.

One thing for sure, baik di kereta maupun di pesawat, entah itu kelas ekonomi maupun eksekutif, urusan kamar kecil a.k.a toilet itu agak-agak challenging ya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Cuma emang yang paling bergoyang ya dalam keretalah. Goyang dombret beneran. 😁😁

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa aku bisa menyimpulkan kedua pemuda tadi masih belia. Itu karena di wajah mereka belum nampak gurat-gurat kehidupan sebagaimana yang sering muncul di wajah-wajah manusia berusia 30 tahun keatas. 😁😁😁

Nah, sekarang coba cek wajah kalian. Apakah sudah nampak gurat-gurat kehidupan di sana? Kalo udah, ya selamat! Kalo belum, saya sarankan sering-seringlah naik kereta! 😁

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Bedanya Kelas Ekonomi dan Eksekutif”

  1. Aku lebih suka kelas bisnis ketimbang eksekutif, ruang kaki tidak terganggu oleh pijakan kaki yang untuk kaki saya malah posisinya nanggung.

    Kalau ekonomi ya repotnya terlalu tegak kursinya, benar bisa tidur setengah berdiri jadinya. Ahahaa

    Gurat kehidupan keknya bisa disamarkan oleh perawatan *dikeplak

    Like

  2. Kereta ekonomi sekarang udah semakin nyaman. Tapi saya masih menganggap harga makanan di restorasi kereta itu overpriced.

    Btw gurat-gurat kehidupan ini bikin ketawa.. *langsung face lift*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s