Kritis Kebablasan

Didasari kesadaran bahwasanya jagat raya maha luas ini tidak berputar di sekitar saya, maka saya mengucapkan selamat tinggal kepada kritik. Well, enggak 100% persen sih, karena dalam darah Batak sendiri keknya emang udah ada bibit-bibit kritis dari sononya. 😁😁😁

Keknya semua berawal dari medsos yang pernah saya tulis bulan April lalu. Sekali lagi, seperti yang pernah saya tulis di medsoswalking, saya yakin banyak orang yang hatinya terluka pas baca-baca beberapa (atau mungkin semua 😁) tulisan di blog ini yang bernada kritis (kebablasan). Karena sekarang saya sendiri yang geleng kepala bacanya. And i’m not proud of it.

Sampe akhirnya saya baca satu buku yang membahas tentang β€˜dealing with people’ yang mengatakan bahwa orang-orang kritis adalah orang yang paling tak bahagia.

I was like: 😲😲😲

Seriously?

Nama Najwa Shihab pun melintas di kepala.

Satu waktu Najwa pernah diundang ke acara Teka-teki Sulit Waktu Indonesia Bercanda di NET TV. Sewaktu jawaban yang muncul di layar tak sesuai dengan yang dia sebut, Najwa kurang lebih berkomentar, “Keknya udah dituker nih jawabannya……”

Penonton tertawa, saya juga.

Nabila, co-host Cak Lontong, menanggapi komentar Najwa, β€œOrang kritis bawaannya curiga dan negatif thinking melulu ya?”

Bam! Saya tertampar sodara. 😭

Setelahnya, saya coba membaca beberapa media online yang terkenal kritis yang dulu sering saya sambangi. Mau ngetes apakah saya masih antusias seperti dulu. Ternyata baru beberapa detik membaca saya eneg. Bawaan pengen cepet-cepet nutup itu portal.

Saya coba lagi baca buku-buku ‘berat’ bermuatan sejarah yang membahas kejadian tak mengenakkan maupun ketidakadilan di masa lampau. Lagi-lagi saya merasa eneg. Which is tahun-tahun lalu buku-buku kek gini cepat banget saya lahap. Sekarang saya malah bertanya, β€œKenapa orang masih baca buku-buku kek gini?”

I mean, dude, it’s over. Itu sudah berlalu and we’re not living in the past. Kita sekarang berada di sini, di masa kini. Kenapa tak baca atau dengar buku-buku maupun cerita yang bertutur tentang kasih, sukacita, dan kebaikan?

Kalau alasan membaca buku-buku ‘berat’ tadi adalah untuk bercermin dan agar tidak ikut-ikutan melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang-orang di zaman lampau itu ya monggo aja. Cuma sebaiknya cukup sekadar tau. Gak usah dibahas panjang kali lebar kali tinggi. πŸ˜‰ Rasanya seakan menggarami dan memberi cuka pada luka.

Jadi sekarang, untuk berita-berita saya cuma baca satu media yang ngakunya memihak hati nurani rakyat dan jernih melihat dunia. Itu pun sering cuma baca judulnya doang. Karena lebih dari 80% berita yang belakangan berseliweran di sana cenderung mengabarkan korupsi, perang, korupsi, perang, kawin, cerai, korupsi, repeat.

Well, wajarlah ya, karena manusia memang selalu haus β€˜drama’. Emang udah dari sononya begitu. Makanya berita yang laku dan cepat mendatangkan iklan ya berita-berita kek gitu. Jadi cukup sekadar tahu saja kabar-kabar yang sedang terjadi di jagat raya.

**

Kalo dulu rasanya bangga atau seneng kalo bisa mengkritik sesuatu atau seseorang, maka sekarang…. mikir dulu berkali-kali…. Karena kritik biasanya bermuatan ekspektasi, maka sekarang sebelum mengkritik seseorang atau sesuatu, saya ngaca dulu ke diri sendiri, apakah mampu menerapkan kritik yang saya lemparkan itu.

Itu sebabnya kemarin waktu pesawat saya pergi dan pulang ditunda 3 jam, saya tak lagi protes atau mempertanyakan ini-itu kepada staf maskapai penerbangan. Kalo dulu mah saya datangi stafnya sambil pasang muka jam dua belas dan koar-koar tentang hak dan kewajiban penumpang. 😁

Sekarang, saya tertawa saja dan menyambung baca buku Travel Young-nya Alanda Kariza. Rasanya lebih bermanfaat dan sukur-sukur saya bisa tetap young. 😁😁

And here i am now. Survive and alive, writing for you. That’s all that matters. πŸ˜„

Punya sikap kritis memang perlu ya. Yakni tidak gampang percaya dan rasa ingin tahu yang tajam. Tapi ada baiknya pisahkan dulu mana kritik yang berguna dan mana kritik yang cuma ngotor-ngotorin lini masa or time line media sosial yang cenderung bikin orang yang membaca jadi berdosa. 😁

Jika menjadi kritis malah menjauhkan atau bahkan membuat kita kehilangan Tuhan, keluarga serta teman, apa iya sikap ini masih tetep dipertahankan?

 

 

 

Advertisements

10 thoughts on “Kritis Kebablasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s