The Real Superpower

Acara Garage Sale yang dimotori oleh kawan-kawan perempuan saya yang sebagian besar telah bergelar ‘ibu’ itu bolehlah terbilang sukses. Dalam dua hari bisa terkumpul dana yang nantinya akan disumbang kepada pihak yang membutuhkan.

Kalau kalian lihat bagaimana effort mereka berhimpun untuk menyukseskan acara tersebut, mungkin kalian akan ikut takjub seperti saya. Di sela berbagai kesibukan, perempuan-perempuan hebat ini mau memberi waktu untuk ikut ambil bagian meski kadang ada yang mendadak sakit atau sedang berada di luar kota sehingga terpaksa tak ikut sumbang ide saat meeting. Kadang mereka datang telat karena anak sakit, karena anak mesti dijemput dari sekolah, karena anak mau diantar les, dlst. Ngurusin anak memang menjadi prioritas ibu-ibu luar biasa ini.

‘Rempongnya’ ngurus anak itu mungkin seperti gambaran seorang ibu dengan tiga anaknya yang pernah saya saksikan di salah satu toilet perempuan dalam mall:

Anak 1: balita tidur nyenyak dalam stroller.

Anak 2: balita mau pipis.

Anak 3: balita mau boker.

“Kalo udah punya anak mesti bawa plastik ke mana-mana,” katanya sembari menolong anak nomor 2 untuk pipis. Ia terlihat santai dan tenang, dan sangat menguasai perannya mengurus anak meski anak nomor 3 terlihat sangat tak sabaran agar bisa segera boker.

Pertanyaan “bapaknya di mana, kenapa cuma ibu ini doang yang kebagian rempong ngurusin anak,” sempat muncul di kepala saya. Tapi secepat itu muncul, secepat itu pula ia lenyap. Itu bukan urusan saya. Mungkin ia bersama pasangannya udah kompromi mengenai siapa yang akan mengurus anak di hari libur itu.

Namun ada kalanya rutinitas mengurus anak mendatangkan kejenuhan, apalagi jika kebutuhan untuk dihargai tidak diperoleh si ibu dari keluarganya. Seperti yang dialami Nina, perempuan berusia tiga puluhan dengan dua anak dan satu suami. Oh, kadang ia merasa memiliki tiga anak, karena suaminya kerap berkelakuan seperti anak-anak.

Seakan telah diprogram secara otomatis, pagi-pagi sekali Nina bangun kemudian melakukan sederet aktivitas rumah tangga. Membereskan rumah, mencuci pakaian, menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anaknya, hingga memanggang kue untuk dijual.

Suatu siang, sepulangnya ia dari makan siang bersama sahabatnya, Nina mendapati rumahnya berantakan disebabkan suami dan anak-anak telah pulang dan kue yang rencananya akan dijual telah tercabik. Nina marah besar.

Merasa diabaikan dan tak dihargai suami beserta anak-anaknya, emosi yang ditahan selama ini pun ia muntahkan, dan memilih hengkang ke rumah sahabat yang menraktirnya makan siang tadi.

Sahabat Nina mendukung keputusannya tersebut. Karena ia pun merasa Nina telah kehilangan jati dirinya dan telah berubah menjadi sosok yang tak ia kenali lagi. Berpakaian seadanya, tanpa lipstik dan bedak menghiasi wajah, serta rambut tak disisir.

“Ke mana perginya Nina yang cerdas, enerjik, dan suka bertualang itu?” tanya sahabatnya. Pernikahan memang bisa mengubah orang, kan?

Di rumah, anak-anak beserta suaminya merasa sangat kehilangan Nina. “Mungkin ibu sedang mengalami krisis paruh baya,” kata anaknya yang satu, saat menyadari bahwa ibu mereka benar-benar pergi.

Tanpa ibu, hidup rasanya memang hambar. Beberapa keluarga yang saya kenal seperti kehilangan arah setelah ditinggal pergi sang ibu. Tak sanggup membesarkan anak seorang diri, terpaksa sang ayah menitipkan sebagian anak kepada orangtuanya nun jauh di mata, sebagian lagi kepada sanak keluarga. Beberapa dekade kemudian barulah anak-anak ini bertemu. Masing-masing tak ingat seperti apa rupanya, karena zaman dulu belum ada teknologi bertukar foto seperti jaman now.

Sebagai solusi untuk masalah rumah tangga Nina, ia dan suaminya berbincang ditemani secangkir kopi enak dan bersepakat untuk bersama-sama mengurus anak. Nina pun akhirnya terjun kembali secara profesional di bidang yang memang sudah lama ia minati. Well, there’s nothing a good cup of coffee can’t fix, right? 😉

Di hari H, kawan-kawan perempuan yang sebagian besar telah bergelar ‘ibu’ tadi turun tangan menyumbangkan berbagai talenta mereka agar acara berjalan lancar. Tak ada yang bisa berdiri sendiri, yang satu bergantung pada yang lain. Saling mengisi, menguatkan, menghibur. That’s the real superpower of ibu-ibu ngumpul. 😉

Advertisements

4 thoughts on “The Real Superpower

  1. Selalu berasa keren liat Ibuk2 yg tenang ngadepin anak. Masih belum ketemu rumusnya nih. Bawaan tuh pen sentil aja kalo pas anaknya lagi betingkah.. huhu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s