Memulihkan Kebahagiaan

Bulan dan tahun boleh berganti, bahkan milenium pun ikut berganti. Namun satu hal yang saya amati, pencarian manusia akan kebahagiaan seakan tak pernah berhenti. “Yang penting happy,” begitu orang sering bilang.

‘Me time’ yang sering didengung-dengungkan perempuan pun adalah salah satu cara untuk meraih kebahagiaan diri sendiri agar tetap waras. (perempuan yang udah berumahtangga dan punya anak pasti tau banget pentingnya ‘me time’ ini. karena istri yang bahagia biasanya akan menghasilkan keluarga bahagia pula). Buku-buku yang membantu manusia menemukan formula kebahagiaan pun ada saja muncul. Salah duanya adalah Hector and The Search for Hapiness milik Francois Lelord, dan The Geography of Bliss Eric Weiner.

Ada kawan beberapa waktu lalu kena musibah. Kejadiannya malam hari, sendiri pula. Kejadian itu menurut dia membajak amygdala-nya, yakni gudang emosi manusia. Sejak itu, semacam ada yang ikut tercerabut dari dirinya, yang membuatnya semakin waspada kemanapun melangkah. Dia tak bisa mendifinisikan hal apa yang hilang tersebut. Menurut saya itu adalah kebahagiaannya, atau hal yang dia anggap sebagai sumber kebahagiaannya.

Berbagai macam cara dia lakukan untuk mengembalikan diri ke jalur yang benar, memulihkan kebahagiannya. Mulai dari berdoa hingga mendatangkan anggota keluarga kesayangan sudah dilakukan. Namun entah mengapa masih ada celah kosong dalam jiwanya, yang membuatnya menjadi semakin pemurung, dan sering menangis hanya karena hal (yang menurut saya) agak remeh.

Saya pun mencoba memahami penderitaan yang dialami kawan saya ini dengan mencoba ‘memakai sepatunya’. Hanya karena saya tak pernah mengalaminya, bukan berarti orang lain di luar sana juga tak pernah mengalaminya, kan? Tapi memang seringkali sulit untuk memahami apa yang dialami orang lain, yang kita sendiri tak pernah mengalaminya. Tingkat kesulitannya barangkali sama seperti bagaimana memberitahu seseorang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu.

Ada yang bilang happiness is a state of mind (terjemahannya dalam bahasa Indonesia silakan intip di google translate ya. 😁 ) Saya sendiri pernah membahas hal ini dalam happiness is not the same for everyone. Ada pula yang berpendapat kunci bahagia sejati terletak pada kesetiaan iman kepada Tuhan.

Dalam pencarian memulihkan kebahagiaannya, kawan saya tadi menemukan satu quote yang membuatnya tertegun.

semua ketidakbahagiaan dan kesedihan di dalam dunia ini bersumber dari mengharapkan kebahagiaan untuk diri sendiri. semua kebahagiaan dan sukacita di dunia ini bersumber dari mengharapkan orang lain bahagia.

Hmmm…. Kedengarannya ironis ya? Terlampau keras mengusahakan kebahagiaan bagi diri sendiri ternyata malah mendatangkan ketidakbahagiaan.

Lantas karena dalam renungan yang ia baca selama dua hari berturut-turut pun masih berbicara tentang tidak mementingkan diri sendiri, maka ia berkesimpulan bahwa untuk memulihkan keadaannya ia harus lebih peduli sesama, tidak hanya fokus kepada diri sendiri. Kebahagiaan akan didapat justru pada saat kita mengingat dan melayani orang lain.

Kalian setuju dengan kesimpulan ini? Btw, adakah yang membuatmu bahagia hari ini?

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Memulihkan Kebahagiaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s