Gogalbi, Finally

Di salah satu tanjakan di daerah MT. Haryono Balikpapan, ada satu tempat makan yang kalo malam hari selalu terlihat remang-remang romantis dari jalanan. Suami saya beberapa kali pernah nyeletuk kalo suatu hari nanti kami harus menyambangi tempat yang terlihat ‘amat mengundang’ tersebut.

Kesempatan itu akhirnya datang beberapa hari yang lalu. Kebetulan, ibu saya sedang berkunjung ke Balikpapan. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua XD, kami pun berencana membawa nyokap makan malam di sana.

Dari rumah kami berangkat jam tujuh malam. Cocoklah untuk jam makan malam kan? Tapi tak dinyana, sesampainya di resto, parkiran di dalam dan bahu jalan, penuh. Mungkin emang belum rezeki kali ya?

Selang dua hari, suami saya kembali mengajak makan malam di sana. Kami berangkat terpisah. Saya menemani nyokap ke pelabuhan feri Kariangau, suami melayat salah satu kawan yang kebetulan berkampung halaman sama dengan kami.

Long story short, karena perjalanan pulang dan pergi ke pelabuhan Kariangau memakan waktu sekitar satu jam, maka saat jarum jam berhenti di jam empat sore, saya menghubungi suami agar kami bertemu di tempat makan tersebut sekitar jam enam sore. Apalagi dari pelabuhan saya harus mampir dulu di spbu untuk isi bensin, karena tangki udah nyaris kandas.

Saya enggak nyangka kalo perjalanan ke pelabuhan feri Kariangau ternyata lumayan jauh. Dan enggak nyangka kalo ternyata di sepanjang jalan sekitar 11 kilometer (kalo pergi-pulang totalnya 21 km) itu, tiada nampak satu pun tanda-tanda kehidupan dari spbu. XD Ampun dj lah pokoknya. XD Ayo dong para investor yang bingung duitnya mau dikemanain, bikin spbu noh di sono. πŸ˜€Β  Jalanan udah mulus beraspal lho. πŸ˜€

Kariangau sore itu tampak lengang. Ada 16 kapal yang siap membawa penumpang berkelana ke Penajam, Mamuju, dan Palu. Beberapa orang duduk bersila di ruang tunggu. Truk-truk tangki pertamina nongkrong manis di parkiran. Lagi-lagi saya enggak nyangka kalo pelabuhan feri ini ternyata bersih sekali. Enggak ada ekspektasi macem-macem sih sebetulnya, apalagi ini kunjungan perdana saya ke sana. Cuma kaget aja gitu ngeliat pelabuhan bersih. πŸ™‚

Petugasnya juga ramah-ramah. Salah satu bahkan cukup lama ngobrol dengan nyokap. XD Sejak saya beranjak dari sisi nyokap untuk berkeliling sembari mempelajari situasi (baca: jeprat-jepret πŸ˜€ ), hingga kembali ke sisi nyokap, mereka berdua belum kelar ngobrol. XD XD XD XD XD

Nyokap emang paling bisa ngobrol berjam-jam. Kayak ibunya Vivi dalam bukunya Mother Keder Emakku Ajaib Bener. Udah baca bukunya? πŸ˜€

Some might find it quite annoying, some might find it sweet. Tapi itulah nyokap. Dan hal itu tak membuatnya menjadi kurang manusia. πŸ™‚

*

Perjalanan pulang justru lebih cepat dari pergi. Menurut ibu saya, itu karena sewaktu pergi tadi kami masih dalam moda ‘meraba-raba’. Bertanya-tanya ini dimana itu dimana, apakah masih jauh, kenapa enggak ketemu-ketemu, dlst. Kami memang sempat berhenti di salah satu warehouse milik perusahaan oil & gas, sewaktu jalanan yang dilalui rasanya udah berkilo-kilo tapi si pelabuhan tetap belum terlihat.

β€œMasih sekitar lima kilometer lagi dari sini. Nanti ada tanda-tandanya koq,” jelas petugas sekuriti warehouse yang sore itu tak mengenakan atasan sama sekali. Mungkin saking panasnya hari, ia kegerahan dan merasa perlu buka baju.

Saya sengaja enggak pakai googlemap atau bantuan semacamnya agar tak terlalu bergantung kepada gadget. Bagaimanapun, kalau enggak perlu-perlu amat, interaksi dengan manusia tetap pilihan terbaik daripada menunduk memelototi henpon pintar.

*

Urusan selanjutnya adalah mencari spbu. Di Balikpapan kota minyak tercinta ini ada satu spbu yang letaknya sebetulnya strategis karena lumayan ramai dilewati kendaraan, dan dekat daerah perkantoran serta pemukiman. Tapi yang bikin saya heran adalah, mengapa antriannya tak pernah tumpah ruah hingga ke bahu jalan seperti yang sering terjadi di spbu lain? Padahal mereka punya segala jenis bahan bakar yang dicari konsumen. Berhubung spbu tersebut adalah yang terdekat dengan rute yang saya lalui, saya pun menemukan jawabnya sore itu.

Menurut pengamatan saya, desain pintu masuk dan keluar, serta letak tembok belakang dan mesin spbu yang terlalu dekat membuat flownya enggak enak, enggak cocok dengan kebutuhan masyarakat.

Trus, letak tutup tangki tiap mobil kan beda-beda ya. Nah, kalo kebetulan tutup tangki mobil di sebelah kiri, dan jenis bahan bakar yang kita butuh cuma bisa diisi dari sisi kanan oleh mas-mas atau mbak-mbak petugas spbu-nya, alamat ‘bola-bola’ dah tuh. (‘bola-bola’ adalah istilah anak Balikpapan yang artinya: kacau πŸ˜€ ) Pengemudi tak leluasa memutar kendaraan.

Sedangkan di spbu yang antriannya sering tumpah-ruah hingga ke bahu jalan, desain mereka biasanya kek gini:

Flownya lebih enak.

Setelah sempat antri beberapa menit dan menyaksikan kehebohan mobil lain yang tutup tangkinya sama-sama di sebelah kiri seperti mobil saya, saya pun memilih segera cabut dari sana dan memacu mobil menuju spbu yang letaknya agak jauh namun flownya enak dan enggak bikin dongkol. πŸ˜€

*

Jam lima lebih sedikit saya dan nyokap akhirnya tiba di Gogalbi. Itu dia nama restonya. Lucu ya? Sekilas terdengar seperti ‘jogalmi’ dalam bahasa batak. Artinya kurang lebih: kamu keras kepala. XD

Cek punya cek, spesialisasi mereka ternyata daging panggang sodara-sodara. Lantas apakah dagingnya keras seperti si jogalmi tadi? πŸ˜€

Masih ada waktu sekitar satu jam dari janji temu kami jam enam sore dengan suami. Saya pun memanfaatkan waktu kosong ini untuk berkeliling (baca: jeprat-jepret πŸ˜€ ). Mungkin karena restonya satu lokasi dengan Primafit Sports & Wellness, lahan parkir jadinya terbatas. Di satu sisi pengunjung pengen nongkrong plus makan-makan, di sisi lain ada pengunjung yang pengen olahraga doang.

Bagi pengunjung yang males cari parkiran, sangat saya sarankan untuk pake gojek atau grab aja kalo pengen dateng ke Gogalbi. (inilah salah satu alasan penting kenapa masyarakat sangat butuh transportasi berbasis aplikasi wahai para pemangku kebijakan. begitu banyak urusan hidup dimudahkan, masalah terpecahkan, dengan kehadiran mereka. so please biarkan mereka tetap beroperasi di balikpapan)

The food was awesome! Tahu rebus, prime beef dan sirloin-nya recommended banget! Tadinya saya pikir kami akan disuguhi potongan daging macam steak ala barat gitu, tebal dan gede. Ternyata daging panggang ala Korea beda. Dagingnya diiris tipis-tipis, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk mateng dan empuk.

Cocolkan ke cabe merah dan bawang putih serta kecap, rasanya sangat pas di lidah kami. Dimakan pake selada juga cocok banget. Manisnya daging sapi berbalut selada hijau segar, nyaam… meleleh di mulut… πŸ˜€ Setelah nyaris seharian berkutat di jalanan, berpanas ria mencari pelabuhan, mewah banget rasanya bisa kumpul dan makan semeja bersama keluarga.

Kamu udah kumpul bareng keluarga belum hari ini? πŸ™‚

Advertisements

2 thoughts on “Gogalbi, Finally

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s