Mereka yang Mencintai Sepenuh Hati

Saya pikir, sebagian manusia di bumi ini sedikitnya menghabiskan enam belas tahun masa hidupnya berhadapan dengan guru. Enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sekolah menengah pertama, tiga tahun sekolah menengah atas, empat tahun masa kuliah. Ada guru bahasa, guru agama, olahraga, guru kesenian, kimia, sosiologi, ekonomi, fisika, biologi, dlst. Kalau ditotal, setidaknya ada sekitar lima puluhan guru yang pernah dikenal tiap satu orang murid.

Dari lima puluh itu, pasti ada lah ya satu dua guru yang pernah meninggalkan kesan di hati sampe nemplok ke mana-mana. πŸ˜€ Kalo pinjem istilah anak sekarang, guru-guru yang bikin baper atau bikin emo. (silakan gugel kalo enggak tau arti emo) πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ *anak-anak sekarang emang ekspresif banget bikin istilah yaΒ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚Β beda banget sama generasi 90-an yang cenderung menahan diri kalo di depan, tapi memberontak di belakang… πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚Β apaan sih mes?Β πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Okelah, sampai mana tadi kita? 😁 Ah iya, guru-guru yang meninggalkan kesan di hati… Seperti misalnya guru killer yang pernah saya tulis di sini, guru yang bikin ngantuk, guru yang membully murid, guru iseng, dan guru yang berani hidup. Selain mereka ini, ada pula guru-guru kesayangan seperti Mister Kobayashi-nya Totto-chan, yakni guru yang mencintai murid-muridnya sepenuh hati.

Menurut saya sangat beda ya antara sekadar mengajar atau cinta anak. Mungkin yang membedakan adalah motivasinya, apakah sekadar jadi pengajar karena itu satu-satunya hal yang dia tahu dan tidak ada pilihan lain untuk menafkahi hidup, atau memang karena cinta anak-anak. Karena kalau sebagai guru ala kadarnya, maka aktifitasnya cuma: datang ke sekolah, ngajar, ngasih ujian, koreksi ujian, ngajar lagi, pulang, begitu bolak-balik. Sedangkan mereka-mereka yang sepenuh hati mencintai murid, biasanya mau mendengar keluh kesah murid, membolehkan murid bertanya apa saja yang mengganjal pikirannya, suka ngebanyol, enggak bikin jarak, langkahnya ringan kayak kupu-kupu seolah tak ada beban, santai, ramah, dan memperlakukan murid sebagai teman. Alih-alih menghakimi, mereka melakukan pendekatan personal bila murid bermasalah.

Saya ingat bagaimana guru matematika saya di SMU bertanya empat mata, sewaktu tahu bahwa saya memilih jurusan sosial instead of IPA, yang dipilih oleh sekitar 80% murid.

β€œKenapa kamu pilih sosial, Mes? Kamu mampu koq ke IPA…” ujar beliau lembut, dengan air muka menyiratkan kekuatiran. Saya mantap memilih jurusan sosial karena terpesona dengan perilaku manusia yang sangat kompleks, dan penasaran dengan penjelasan maupun alasan di balik tiap tindakan yang diambil olehnya. Saya percaya itulah panggilan hidup saya, tapi juga menghargai beliau yang sudah mau repot-repot bertanya dan terang-terangan menunjukkan kekuatirannya, dan juga percaya dengan kemampuan anak didiknya.

Mengingat tindakan beliau ini, menurut saya penting banget ya bagi anak mengetahui bahwa orangtua, selaku entitas terdekat, memercayai pilihan-pilihan mereka. Karena hal ini sangat memengaruhi kepercayaan diri anak kelak.

Nah, saking sayangnya dengan guru-guru yang sepenuh hati mencintai muridnya ini, saya bersama kawan-kawan sekelas pernah bikin pesta ulang tahun kejutan untuk salah satu guru kami yang paling baik, ramah, dan paling perhatian. Dan lucunya, gara-gara tindakan kami ini, beberapa guru lain malah cemburu. πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ Ada-ada aja ya? Bukannya mikir gitu kenapa teman sejawat mereka sampe bisa dibikinin pesta ulang tahun oleh murid-muridnya, tapi untuk mereka (para guru yang seringkali pasang muka jam dua belas), sedikit pun kami tak tergerak bikin pesta ultah. (jangankan tergerak, nyari info kapan ultahnya aja kami enggak tertarikΒ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ ).

Guru-guru yang mencintai murid sepenuh hati ini juga adalah mereka yang tak menyerah mencari cara agar kelasnya menyenangkan, bukan hanya bagi murid, tetapi juga bagi guru. Contohnya seperti Timothy D. Walker, yang nulis buku Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia). Beliau sendiri tadinya guru Amerika yang mengajar di Massachusetts, yang kemudian gara-gara suntuk dengan kegiatan mengajarnya akhirnya pindah ke Helsinki karena berhasil diyakinkan oleh istrinya yang orang Finlandia bahwa, sistem pendidikan di Finlandia berbeda. Pengalamannya mengajar itulah dia tuangkan menjadi 33 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan.

Saya sendiri tertarik membaca buku ini karena potongan blurbnya bilang, β€œbagaimana pendidikan Finlandia yang jam pelajarannya pendek, PR-nya tidak banyak, dan ujiannya tak begitu terstandardisasi, dapat β€œmencetak” siswa-siswa dengan prestasi yang sangat baik.” Aneh, kan? Koq bisa?

Salah satu dari 33 strateginya adalah: tiap satu jam pelajaran (45 menit), guru dan siswa memiliki jam istirahat selama 15 menit. Gile gak tuh? Kenapa mesti istirahat coba? Sementara seingat saya waktu zaman sekolah, kami baru bisa istirahat setelah 3 jam pelajaran (3×45 menit). Misalnya masuk sekolah jam 07.30, maka waktu keluar main alias istirahat di jam 09.45. Itu pun cuma 15 menit. Jadi sekali lagi, gile gak tuh strategi orang Finlandia tadi? *jadi pengen sekolah lagi euy, tapi di Finlandia yaΒ πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Buku ini boleh banget deh dibaca oleh para guru, orangtua, maupun mereka-mereka yang mencintai dunia pendidikan. Dan sebaiknya pastikan baca bagian ‘Kata Pengantar’, karena di situ dijelaskan 5 unsur penting yang membuat siswa Finlandia lebih baik daripada teman sebaya mereka di penjuru dunia lain. πŸ˜‰

 

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Mereka yang Mencintai Sepenuh Hati

  1. Finlandia emang keren. Pasti ada metode yang sesuai untuk diterapkan di Indonesia bila belajar dari Finlandia ini. Kenapa pejabat terkait tak ada yang mempelajari ke Finlandia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s