Ego

Sewaktu berinteraksi dengan orang lain, kadang kita enggak tahu apa yang bisa membuatnya marah, sedih atau senang, kan? Kadang, apa yang lucu bagi kita bisa jadi tak lucu bagi orang lain. Apa yang luar biasa bagi kita bisa jadi biasa-biasa saja bagi orang lain.

Kawan saya pernah numpang tinggal di rumah seorang kerabatnya selama beberapa bulan. Karena kerabatnya tak mau menerima uang bulanan semacam pengganti uang kost, maka untuk membalas kebaikan tuan rumah, ia pun tahu diri bantu bersih-bersih di rumahnya.

Sebelum memulai bersih-bersih, biasanya kawan saya ini bertanya kepada tuan rumah apakah ia berkenan rumahnya dibersihkan atau tidak. Hal itu dia lakukan karena tahu bahwa kerabatnya tersebut tipe orang yang suka beberes dan bersih-bersih dengan tangannya sendiri.

Suatu hari, sebelum memulai acara bersih-bersih, kawan saya seperti biasa bertanya kepada kerabatnya. Di luar dugaan, kerabatnya menjawab dengan nada tinggi dan terdengar tak sabaran, β€œBersihkan sajalah kalau mau kau bersihkan! Enggak usah tanya-tanya!”

Kawan saya kaget menerima jawaban tersebut. Padahal maksud dia kan baik, siapa tahu saat itu kerabatnya lagi pengen ngebersihin rumahnya sendiri. Daripada salah langkah, mending tanya baik-baik dulu, kan? Kawan saya ini memang tipe orang yang suka bertanya dan senang jika diberi pilihan. Dia tidak suka orang lain mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.

Setelah kejadian tersebut, tiap kali hendak bersih-bersih, kawan saya tak pernah lagi bertanya kepada kerabatnya apakah rumahnya mau dibersihkan atau tidak. Kapok katanya. Dia memang agak sedih sewaktu menerima jawaban tersebut. Tapi setidaknya, ia semakin mengenal kerabatnya dan tahu hal apa yang bisa membuatnya marah.

Ketika seseorang marah gara-gara ucapan maupun perbuatan kita, kemungkinan besar kita telah menyinggung atau melukai konsep dirinya. Ego. Tapi kalo kita pengen ego kita dihargai, hargai dulu dong ego orang lain. Masa cuma ego kita sendiri yang mau disenangkan? Itu mah namanya egois. Betul kan yang saya katakan? πŸ™‚

Adakah yang menyenangkan egomu hari ini kawan? πŸ™‚

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Ego

  1. Susah juga sih menghadapi orang yang cuma mau menang dhewe. Type orang macam ini sesekali boleh juga diberi kata-kata agak keras (kasar) biar dia juga sadar.

    Tinggal di rumah kerabat serba salah. Mau bayar kerabat gak mau, gak bayar rasa gak ada terima kasih dan empati. Sudahlah, mending kost / ngontrak aja kalo masih mampu, hehehe…

    Liked by 1 person

  2. Dari contoh di atas sepertinya kerabat temen kamu kesal karena temen kamu itu selalu tanya sebelum bersih-bersih. Aku sih lihatnya bukan ego tapi cara pandang dia. Kok masih basa basi tanya dulu sebelum bersih-bersih πŸ˜‰

    Like

    1. cara pandang bukankah bagian dari ego? kalo pun misalnya kesal, kan bisa jawab baik2 enggak perlu kasar. soale dia tanya baik-baik lho mbak. πŸ™‚ dan kalo emang basa-basi (biasanya basa-basi ucapan yang tidak begitu penting ya), mestinya dia gak perlu sedih πŸ˜‰

      Like

  3. Setuju sama Ko Arman dan Mba Yo..hihi.. Kalo nanya sekali sih ok, tapi kalo berkali2 ya aneh sih. Memang tipikal orang beda2 kan ya. Namanya manusia, pasti menajamkan sesamanya πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s