Airbnb dan Semerbak Bawang Putih yang Menyertainya

Aroma bawang putih menyerbu indra penciuman begitu pintu apartemen yang terletak di lantai dua belas itu terbuka lebar. Di bawah tadi kami sempat kesasar, gara-gara sopir taksi menurunkan kami di gedung yang salah. Untungnya ada seorang warga keturunan Filipina mau menyempatkan diri menolong kami mencari gedung apartemen yang benar. Saya sebut menyempatkan diri karena saat itu dia persis hendak berangkat ke tempat kerja. Sebetulnya bisa saja dia mengabaikan kami dan berkata, “tidak tahu” atau “maaf, saya sedang buru-buru” sewaktu kami menunjukkan screen capture alamat apartemen tersebut, kan? Tapi dia memilih mau ikut repot berjalan kaki dari gedung apartemen yang satu ke gedung apartemen yang lain, hingga akhirnya yang kami cari ketemu.

Perempuan berambut hitam yang panjangnya nyaris mencapai pinggang muncul dari balik pintu yang terbuka. Ia mengaku sebagai ibu dari pemilik apartemen yang akan kami inapi, dan sedang berkunjung ke Singapura dari India. Ini akan menjadi pengalaman menginap kami yang kedua via airbnb. Pengalaman pertama kami sukses berat dan kami senang dengan pelayanan host a.k.a tuan rumah kami di Indonesia.

Di airbnb yang pertama itu host kami menyediakan gelas, piring, sendok, garpu, panci dan penggorengan untuk memasak ringan pada kompor elektrik. Ada pula mesin cuci lengkap dengan sabunnya. Microwave, kulkas, rak piring mini serta sabun cuci piring pun tak ketinggalan. Selain itu ada stok kantongan plastik bersih dan air minum di dispenser. Bahkan setrikaan dan cemilan macam kerupuk serta mie instan pun ada! 😀

Cahaya matahari yang melimpah sepanjang hari memberi nilai tambah bagi apartemen yang berada di salah satu sudut tersibuk di Jakarta itu. Kamar mandi dan seprai tempat tidur bersih, bantal harum tanpa bau pomade. Pokoknya serasa nginap di rumah sendiri. 😀

Meskipun pada akhirnya kami tak memakai semua fasilitas yang disediakan, ada rasa senang tertinggal di sudut hati. Rasa senang yang muncul karena mengetahui bahwa tuan rumah kami benar-benar memikirkan kenyamanan tamu. Itu saja sebetulnya yang paling penting dalam bisnis hospitality, kan? Tamu mendapat pengalaman menginap melebihi dari apa yang ditawarkan dalam brosur, melebihi dari yang tertera pada info di website, melebihi ekspektasi.

Kami pun dengan senang hati memberi lima bintang kepada tuan rumah yang ternyata memiliki moto: being the second best will never be remembered. Ah… Pantas saja apartemennya tak pernah sepi pengunjung…

Begitu sesi basa-basi dan perkenalan selesai, si ibu menjelaskan letak dapur, kamar tidur, kamar mandi serta letak ini-itu dan mengantar kami ke kamar yang terletak di sudut. Ia pun tak lupa memberi password wifi. Setelah beliau pergi dan koper saya letakkan di lantai, saya langsung mencoba wifinya dan berseluncur ke gugel serta merta mengetik pertanyaan yang paling ingin saya ketahui jawabannya:

“mengapa rumah orang India selalu beraroma bawang putih?”

Karena seingat saya, sewaktu tinggal di Oman dan bertetangga dengan orang India, dalam radius beberapa meter dari pintu rumahnya, aroma bawang putih yang tajam juga begitu menusuk hidung. Jadi, kenapa?

Inilah jawaban teratas dari mbah gugel:

“karena mereka langsung mengunyah bawang putih mentah-mentah…”

Of course our host didn’t mention about this garlic thing on their airbnb site. 😀

Well, meskipun secara keseluruhan pengalaman menginap di airbnb kedua ini tak semenarik apartemen airbnb pertama di Jakarta tadi, ada satu hal baik dari mereka yang menurut saya patut ditiru dan diacungi jempol. Mereka menggunakan listrik seperlunya saja. Lampu dapur dimatikan kalau sedang tak dipakai. Lampu kamar mandi pun begitu. Televisi juga dimatikan kalau tak ada yang nonton. Benar-benar hemat energi.

Kebiasaan mereka saya adopsi setelah pulang ke Indonesia. Yang dulunya suka meninggalkan lampu kamar menyala, sekarang saya matikan kalau enggak butuh banget.

Nah, bicara soal listrik, saya baru tahu kalau ternyata sekarang untuk menambah daya bisa dilakukan hanya melalui telepon ke PLN 123. Bahkan hari Minggu pun mereka tetap nerima telepon selama 24 jam! Keren banget, ya? Saya cuma ditanyai nama, besaran daya yang diinginkan, nomor ktp, alamat, tujuan penggunaan, serta besaran voucher listrik yang diinginkan untuk diisi (karena kami menggunakan sistem prabayar). Setelahnya saya diberitahu besar biaya yang harus dibayar (bisa bayar melalui atm). Saya pun enggak perlu datang ke kantor pelayanan PLN untuk mengurus dokumen-dokumen penambahan daya. Esok harinya petugas PLN sendiri yang mendatangi rumah. Tak sampai lima menit, simsalabim, urusan penambahan daya selesai. Bangga banget rasanya jadi penduduk Indonesia kalau semua urusan bisa dimudahkan kayak gini. 😀

Kembali ke soal airbnb tadi… Sekarang, tiap kali melihat lampu, entah itu dalam keadaan mati atau nyala, saya teringat keluarga India host kami tersebut, dan semerbak bawang putih yang menyertainya…

 

Btw, ada yang pernah ngunyah bawang putih mentah-mentah? 😀

 

 

 

Advertisements

14 thoughts on “Airbnb dan Semerbak Bawang Putih yang Menyertainya

  1. Wah unik juga ya! Aku malah ga tau kalau rumah orang India biasanya bau bawang putih hihi. Dulu pas ngekos sih sempet tetanggaan kamarnya dg temen2 India tapi ga kecium bawang putih sih, cuma kadang wangi dupa aja. Menarik!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s