Rahasia

Seseorang memberi saya buku The Secret pada awal tahun 2009 untuk dibaca. (ya iyalah masa buat dijual πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ ) Tapi begitu membacanya beberapa lembar, saya langsung meletakkannya karena buku ini bikin ngantuk. Tahun 2014 saya mencoba membaca lagi dan ternyata sama saja, tetap bikin ngantuk. Alhasil, saya pun langsung meletakkannya begitu membaca beberapa lembar halaman pertama.

Hingga beberapa hari yang lalu, sewaktu saya sedang mencari referensi tentang uang dan kemandirian finansial, judul buku yang ditulis Rhonda Byrne ini tiba-tiba muncul di benak. Akhirnya saya menariknya dari tumpukan buku ‘yang tak bisa selesai dibaca’ dan membuka halamannya secara acak. Halaman 197. Isinya begini:

β€œBanyak orang merasa dirinya sebagai korban, dan mereka menunjuk peristiwa-peristiwa di masa lalu, mungkin dibesarkan oleh orangtua yang tidak berfungsi dengan baik……….. Orangtua saya pecandu alkohol. Ayah saya melecehkan. Ibu saya bercerai ketika saya berusia enam tahun…. Maksud saya, itulah kisah dari hampir setiap orang dalam bentuk sedikit berbeda.

Pertanyaan sesungguhnya adalah, apa yang akan Anda lakukan sekarang? Apa yang Anda pilih sekarang? Karena Anda bisa berfokus pada masa lalu, atau Anda bisa berfokus pada apa yang Anda inginkan. Dan ketika orang mulai berfokus pada apa yang mereka inginkan, apa yang tidak mereka inginkan akan runtuh, apa yang mereka inginkan akan mengembang dan bagian yang tidak diinginkan menghilang.

Seseorang yang mempertahankan pikirannya pada sisi gelap kehidupan, yang terus-menerus menghidupi kembali kemalangan dan kekecewaan masa lalu, sebenarnya berdoa untuk kemalangan dan kekecewaan yang sama di masa depan. Jika Anda tidak melihat apa pun selain kemalangan di masa depan, Anda berdoa untuk kemalangan serupa, dan pasti Anda akan mendapatkannya.”

Super sekali, ya? πŸ˜€ Seketika kalimat-kalimat tersebut memerangkap saya dan saya pun memutuskan membaca The Secret dari awal.

Delapan tahun adalah lamanya waktu yang diperlukan hingga saya memiliki ‘koneksi’ dengan buku ini. Lumayan lama juga ya bok? Kenapa baru sekarang? Apa mungkin karena dulu belum sedewasa sekarang (yaelah πŸ˜€ ), atau mungkin karena dulu belum banyak makan asam garam? πŸ˜€ Entahlah, yang jelas, sekarang buku ini ‘berbicara’ kepada saya. πŸ™‚

Tahun 2008 saya pengen banget memperdalam fotografi dan pengen banget jadi fotografer profesional. Saya pun bercerita kepada salah satu kawan, yang ternyata memiliki kenalan fotografer senior Indonesia yang udah lama wara-wiri di dunia foto. Saya kemudian berkenalan, berguru kepada beliau, dan akhirnya tahu sedikit tentang seluk-beluk perfotoan.

Kemudian saya pengen menikah, dan meminta kepada Tuhan agar dipertemukan dengan laki-laki yang sesuai dengan kriteria yang saya inginkan menjadi suami. Ketemu, dan kami pun menikah. Setelahnya, saya juga ingin mengerti lebih dalam tentang pernikahan melalui buku dan meminta kepada Tuhan agar saya menemukannya di toko buku langganan.

Ini ceritanya lucu. Atau agak aneh sebetulnya. πŸ˜€

Karena tidak menemukan buku yang saya inginkan di bagian ‘buku pernikahan’, saya pun berjalan ke lorong lain. Siapa tau ada nyempil di situ. Begitu pikir saya. Waktu itu saya sedang berjalan di lorong buku masakan.

Tiba-tiba salah satu buku jatuh dari rak teratas. Saya pun memungut buku masakan yang jatuh tersebut lalu mengembalikannya ke rak. Saya jalan lagi. Tiba-tiba bukunya kembali jatuh. Saya berbalik dan menemukan buku yang barusan saya kembalikan ke rak sudah terbujur di lantai.

Saya periksa rak buku enggak ada yang salah. Susunannya rapi, enggak terlalu padat. Jadi mestinya aman dan enggak ada insiden buku jatuh. Saya pun mengembalikan si buku lagi dan ia kembali jatuh.

Saat memungut si buku untuk ketiga kalinya, saya teringat dengan misi saya datang ke toko buku: saya hendak mencari buku pernikahan. Tidak seperti dua aksi sebelumnya di mana saya hanya membungkuk untuk mengambil si buku jatuh, di kali ketiga ini saya berjongkok memungutnya sambil menelusuri buku-buku di rak paling bawah dan…. di sanalah saya temukan buku yang saya cari.

Terakhir adalah kejadian yang sudah saya singgung di awal tadi, yakni mencari referensi soal uang dan kemandirian finansial. Tiba-tiba saja beberapa blog yang saya ikuti membahas seputar uang dan tiba-tiba saja judul buku The Secret muncul di benak. Aneh bin Lucu, kan? Koq bisa? Padahal saya enggak minta secara spesifik ke mereka lho.

Saya memang tidak minta secara spesifik ke blogger-blogger tersebut, tapi kalau menurut buku The Secret, saya memintanya secara spesifik ke Semesta dan Semesta memberi jawaban kepada saya melalui blog dan buku. Begitu pun sewaktu saya pengen memperdalam fotografi, pengen menikah, pengen buku tentang pernikahan, serta sederetan kepengenan lainnya yang telah terwujud (akan terlalu panjang daftarnya kalau saya tuliskan di sini), saya memintanya secara spesifik ke Semesta dan Semesta memberi jawabnya kepada saya.

Selama ini mungkin kita menyebut, menganggap, atau menamai kejadian-kejadian tersebut sebagai kebetulan, tapi sebenarnya tidak. Dan disadari atau tidak, selama ini sebetulnya kita hidup di dalamnya, yakni hukum tarik-menarik, yang kalau menurut The Secret adalah rahasia besar kehidupan:

Segala sesuatu yang datang ke hidup kita sebenarnya ditarik oleh kita sendiri ke dalam hidup kita. Dan segala sesuatu itu tertarik ke kita oleh citra-citra yang kita pelihara dalam benak, yaitu apa yang kita pikirkan. Apa pun yang berlangsung dalam benak, kita menariknya ke diri kita.

Kalo dipikir-pikir, bener juga, kan? Diri kitalah sebetulnya yang menentukan jalan hidup kita, dan mau jadi apa kita. Bukan orang lain. Pilihan selalu ada, dan kita selalu bebas memilih, menentukan jalan yang mana.

Ambil contoh begini, ada dua orang dengan latar pendikan yang sama ingin bekerja agar bisa menghidupi diri. Sebut saja A dan B. Mereka kemudian mendapat pekerjaan sebagai admin dan mulai bekerja. Setelah beberapa tahun, A tetap pada posisinya semula dan si B sudah membeli perusahaan tempat mereka bernaung tersebut dan serta merta menjadi pemiliknya. Kenapa bisa? Apa yang membedakan?

Dari awal, meskipun A tahu bayarannya tidak begitu bagus, ia tetap bekerja sambil mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Sementara si B tidak mempersoalkan berapa bayarannya dan tetap bekerja penuh daya dan bersyukur, serta bercita-cita ingin memiliki perusahaan tersebut suatu saat nanti. B pun menabung dan menabung, sementara A selalu bingung entah kemana ia habiskan gaji yang diterima tiap bulan. Itulah yang membedakan: cara berpikir.

Pikiran kita adalah penyebab utama dari segala sesuatu. Ia adalah tempat paling luar biasa, tempat segala sesuatunya dibuahi, dan karenanya kita bisa menjadi apa pun yang kita inginkan.

Dalam kasus si A, sebetulnya dia bisa memilih keluar dari situ dan mencari pekerjaan lain yang bayarannya lebih bagus, kan? Tapi kenapa dia memilih tinggal dan tetap bekerja? A menjawab: tidak ada pekerjaan persis seperti yang saya mau dengan bayaran persis seperti yang saya mau; uang saya belum cukup untuk bertahan hidup selama beberapa bulan hingga saya dapat pekerjaan baru.

Dan, coba tebak, menurut buku The Secret, apa yang kamu ucap, itulah yang akan terjadi: sampai kapan pun tidak akan pernah ada pekerjaan persis seperti yang si A mau dengan bayaran persis seperti yang ia mau; sampai kapan pun uangnya tidak akan pernah cukup. Kenapa? Karena ia memintanya, maka Semesta mendengarkan dan memberi jawaban. Semakin A mengeluh, maka semakin banyak situasi yang muncul membuatnya mengeluh. Sementara untuk kasus si B, Semesta juga persis memberi apa yang paling ia inginkan.

Begitulah cara kerja hukum tarik-menarik. Seperti cermin. Ia hanya memantulkan apa yang ada di hadapannya. Apa yang datang kepada kita adalah hasil dari apa yang telah kita perbuat.

Dan setelah diingat-ingat lagi, di tahun 2014 ternyata saya pernah menulis perihal yang mirip-mirip kek gini dalam You Create Your Own Problem dan Apa Ini (tentang keponakan saya yang bikin gemes itu) πŸ˜€ Hanya saja, waktu itu saya tidak tahu kalau namanya hukum tarik-menarik, karena selama ini saya mengetahuinya sebagai hukum sebab-akibat, tabur-tuai, atau karma. Ternyata maknanya sama.

Lalu bagaimana dengan kasus dua orang yang memiliki permintaan yang sama namun yang satu terwujud dan yang lainnya tidak terwujud? Buku ini menjelaskan bahwa:

agar keinginan terwujud, kita mesti benar-benar menginginkannya dan mesti fokus. Fokus di sini artinya bukan cuma melotot enggak jelas ya, melainkan kita mesti bertindak, berbicara dan berpikir seakan-akan telah menerima keinginan tersebut sekarang juga.

Pendek kata, mesti percaya. Karena kalau ragu sedikit saja, then it will never happen.

Fokus ini sangat mirip dengan definisi iman menurut alkitab Ibrani 11:1, β€œyakin sungguh-sungguh pada hal-hal yang diharapkan, mempunyai kepastian akan hal-hal yang tidak dilihat.”

Yesus pernah berkata dalam alkitab Matius 17:20, bahwa jika kita memiliki iman sebesar biji sesawi yang kecil banget itu, kita bisa memindahkan gunung dan tidak ada yang mustahil bagi kita.

Dalam alkitab Lukas 11:9, Yesus juga menjelaskan tentang permintaan yang akhirnya dikabulkan,

β€œTetapi justru karena engkau tidak merasa malu untuk minta kepadanya terus-menerus, maka ia akan bangun juga dan memberikan kepadamu apa yang engkau perlukan. Jadi, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka kalian akan diberi; carilah, maka kalian akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan untukmu. Karena orang yang minta akan menerima; orang yang mencari akan mendapat; dan orang yang mengetuk, akan dibukakan pintu.”

Dan ada satu lagi syaratnya agar keinginan terwujud: kita harus senang, gembira, bersemangat, bersyukur dan bahagia.

Coba ingat-ingat, adakah dari tiap impian yang pernah terwujud dalam hidup membuatmu sedih? Saya yakin enggak ada. Setiap impian kamu pastinya membuat senang, kan?

Maka ketika kita fokus, percaya dan senang, hukum tarik-menarik akan dengan sangat kuat menggerakkan situasi, orang, dan peristiwa kepada kita untuk menerimanya.

Keren banget, kan? Pokoknya buku ini sangat menginspirasi dan quotable banget. πŸ˜€ Contohnya seperti:

  • Hukum tarik-menarik tidak mempersoalkan apakah Anda memandang sesuatu sebagai baik atau buruk, atau apakah Anda tidak menginginkannya atau menginginkannya. Ia hanya merespons pikiran Anda. Jadi, jika Anda terus memandangi tumpukan utang, merasa susah karenanya, itulah sinyal yang Anda kirim ke Semesta. Dan Anda hanya mengukuhkan keadaan ini bagi diri sendiri. Anda merasakannya di setiap keberadaan Anda, dan itulah yang akan Anda dapatkan dalam jumlah yang lebih banyak lagi.
  • Segala sesuatu adalah energi.
  • Jika Anda memulai hari dengan baik dan berada dalam perasaan bahagia, menurut hukum tarik-menarik (selama Anda tidak membolehkan sesuatu mengubah suasana hati), Anda akan melanjutkan dengan menarik lebih banyak situasi dan orang yang memelihara perasaan bahagia itu.
  • Sebenarnya Semesta telah menjawab Anda di sepanjang hidup Anda, tetapi Anda tidak dapat menerima jawaban kecuali jika Anda sadar. Sadari segala sesuatu di sekitar Anda karena Anda sedang menerima jawaban pertanyaan Anda di setiap saat. Saluran tempat jawaban-jawaban itu datang tidaklah terbatas. Saluran tersebut dapat dikirim dalam bentuk judul artikel koran yang menarik perhatian Anda, atau kebetulan mendengar seseorang bicara, atau lagu di radio, atau tulisan pada truk yang lewat, atau menerima ilham yang muncul tiba-tiba. Ingatlah untuk mengingat dan menjadi sadar.
  • Anda mempunyai pilihan, dan apa pun yang Anda pilih akan menjadi pengalaman hidup Anda.
  • Tidak ada yang dapat datang ke pengalaman Anda kecuali jika Anda memanggilnya melalui pikiran yang terus-menerus.
  • Dan lain seterusnya. πŸ˜€

Kalo pengen tau lebih banyak, buruan beli bukunya. πŸ˜€

Lantas apakah saya menemukan jawaban tentang uang dan kemandirian finansial di buku ini? Tentu. Menurut buku ini, untuk menarik uang, kita harus berfokus pada kekayaan. Mustahil untuk mendatangkan lebih banyak uang ke dalam hidup kita jika kita berpikir dan merasa tidak mempunyai cukup uang. Bila kita fokus pada ketidakcukupan uang, maka hukum tarik-menarik akan menciptakan lebih banyak situasi ketika kita tidak memiliki cukup uang. Maka untuk mendatangkannya, kita harus berfokus pada kelimpahan uang.

Dan gara-gara memikirkan tentang uang dan kemandirian finansial, saya pun teringat sama satu rumus atau kunci dari para penasehat keuangan agar kondisi keuangan tetap sehat:

investasi: minimal 10-30% dari gaji atau pendapatan bulanan

cicilan utang: maksimal 30 % dari gaji atau pendapatan bulanan

dana darurat: 6-9 x pengeluaran rutin per bulan

Ada yang pernah menjalankan rumus di atas? πŸ˜€

Btw, apa yang paling kamu inginkan sekarang?

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Rahasia

  1. coklatcaca says:

    Mbaa Messa.. selalu suka dgn tulisan mba, dan terima kasih yaa, tulisannya kali ini bikin sadar kalau selama ini sy fokusnya hanya pd kekurangan, bukan pd apa yg sy inginkan. Huhhhuhuhu

    Like

  2. alrisblog says:

    Saya membeli buku itu tahun 2008 di Palembang (kebiasaan saya menuliskan tanggal pembelian, harga buku, lokasi dibeli dan tandatangan pada halaman kedua buku yang dibeli). Saat itu baca beberapa halaman, sampai saat ini juga belum tamat membacanya. Mungkin akan saya tamatkan membacanya, mumpung lagi banyak waktu, hehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s