Bermalam di Pelukan Sang Naga

Disclaimer:

  • ini bukan cerita dewasa malam jumat
  • mudah-mudahan judulnya enggak bikin kamu eneg
  • halah
  • selamat membaca

 

Sejarah adalah milik mereka yang mencatatnya. Demikian kata pepatah. Dengan peradaban yang telah berusia lebih dari 5000 tahun, dan yang sering mengklaim bahwa mereka adalah permulaan dari berbagai hal, Tiongkok atau Cina adalah salah satu yang memiliki catatan atau dokumentasi terbaik di dunia. Mulai dari cara mengawetkan makanan, bercocok tanam, hingga resep masakan yang akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Dan karena sekitar delapan puluh persen barang-barang yang saya jumpai sehari-hari di Indonesia adalah MADE in CHINA, wajar kalau saya penasaran bagaimana keseharian mereka, kan? Bisa sih dibaca lewat buku atau film. Banyak malah. Tapi tentu lebih afdol kalau bisa merasakan dan melihat langsung dengan mata kepala.

Pernah singgah di Hongkong dan Makau, tapi tetap saja saya masih penasaran pengen menginjakkan kaki di mainland. πŸ˜€ Dan lagi, ada pula pepatah terkenal lain berbunyi, β€œKejarlah ilmu hingga ke negeri Cina.” Apa nggak bikin orang makin penasaran tuh? Kenapa mesti jauh-jauh ke negeri Cina?

Itulah sebabnya saya refleks membelalak sewaktu pemandu wisata kami dari Hanoi berkata bahwa dari Ha Long Bay kami bisa menuju Cina. Serius nih?

Tapi tak sampai lima menit, pemandu laki-laki yang mengaku pulang ke rumah tiap dua minggu sekali itu langsung menambahkan kalimat, β€œ…. tapi kita mesti berenang… dan berisiko ditembaki penjaga perbatasan karena memasuki daerah mereka dengan ilegal….” Lenyap sudah impian menginjakkan kaki di daratan Cina. πŸ˜€ Ternyata dia cuma bercanda atau otaknya korslet sejenak. Barangkali gara-gara haus belaian istri yang mungkin udah lebih dari seminggu tak ditemuinya…

Dari pelabuhan (yang memang cuma sepelemparan kolor kalau mau ke daratan Cina jika dilihat dari googlemap), perahu kecil yang mengantarkan rombongan kami yang berasal dari berbagai negara itu tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di kapal induk (kalau boleh saya menyebutnya πŸ˜€ ), yakni kapal bertingkat yang akan kami gunakan untuk berkeliling sekaligus bermalam di teluk Ha Long atau teluk naga nyungsep (meminjam istilah ponakan saya). πŸ˜€

Persinggahan pertama adalah Hang Sung Sot, salah satu gua yang berada di bukit-bukit kapur. Tapi sebelum memulai petualangan, lagi-lagi pemandu kami si Bang Toyib itu bikin kami cengengesan. Dia mewanti-wanti agar nantinya kami tak kaget apabila menjumpai banyak batuan yang bentuknya menyerupai alat kelamin pria…. Dimulai dari bukit yang menjulang gagah ini…

mirip gak menurut kamu?

 

Saya enggak begitu mendengarkan penjelasan pemandu kami tentang detil gua yang keindahannya bikin saya tercengang ini. Saya sempat bertanya kapan guanya ditemukan dan sejak kapan dibuka kepada umum. Dia memberi jawaban, tapi saya lupa jawabannya. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Maapkanlah. Saya betul-betul lupa saking terpesonanya, ditambah efek pencahayaan spektakuler membuat saya tak bisa konsentrasi dengan penjelasannya. Rasanya seperti melihat mahakarya di galeri seni. πŸ˜€

Tempat lain yang kami singgahi adalah peternakan mutiara. Ternyata sebuah mutiara itu bisa diperoleh setelah bertahun-tahun dierami tiram sodara-sodara. πŸ˜€ Pengunjung diminta memilih salah satu tiram dan menyerahkannya kepada petugas untuk dibedah. Beruntung, tiram yang saya pilih memiliki mutiara cantik di dalamnya.

mutiaranya yang bulat kecil putih di tengah

 

Saya pikir karena berhasil menemukan tiram yang ada mutiaranya, maka itu mutiara bisa dibawa pulang dengan cuma-cuma buat kenang-kenangan. Eh, taunya enggak. Mesti beli coy. Mihil pulak. Berjuta-juta kakak. Hahahhh…. Mending beli saus tiram deh biar bisa dipake buat masak nasi goreng. Hahahahahahah….

Setelah matahari terbenam, kapal kami merapat pada salah satu ceruk di balik salah satu bukit kapur. Mungkin dimaksudkan agar kapal kami tak terlampau terpapar angin malam yang dingin menggigit.

 

Malamnya saya tidur pulas di pelukan sang naga, dan bermimpi mengunyah baklava di Beijing.

 

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Bermalam di Pelukan Sang Naga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s